Jawab-Soal
Pertanyaan Pertama: Haftar melakukan serangan mendadak ke wilayah Libya barat dan terus melanjutkannya... padahal front antara dirinya dan Sarraj sebelumnya relatif tenang. Apa yang baru sehingga serangan ini dimulai, terutama karena pemerintahan Sarraj di Libya barat adalah yang diakui secara internasional? Apa hasil dari serangan ini? Terima kasih.
Jawaban:
1- Jawaban atas hal ini dapat dipahami dari apa yang telah kami keluarkan pada 20/02/2019, yaitu sekitar 40 hari sebelum dimulainya serangan Haftar. Di dalamnya kami memberikan gambaran yang jelas mengenai jalannya berbagai peristiwa di Libya. Saya akan kutipkan sebagian isinya untuk Anda:
[Pertama: Setelah Haftar—agen Amerika—menguasai kota Benghazi, ia mulai menguasai Libya timur. Dengan berakhirnya konflik demi kemenangannya di kota Derna pada pertengahan 2018, Haftar telah mengencangkan cengkeramannya di Libya timur sepenuhnya. Dengan berpindahnya pertempuran ke wilayah Oil Crescent, eskalasi konflik di Libya antara agen-agen Amerika yang dipimpin oleh Haftar dan agen-agen Eropa yang dipimpin oleh Sarraj di Tripoli pun meningkat. Dengan keberhasilannya mengendalikan Oil Crescent, kekuatan militernya mulai mengungguli pemerintahan Sarraj. Namun, kekuatan militernya yang didukung oleh agen Amerika—Sisi—tidaklah cukup menentukan untuk memungkinkannya mengambil alih Libya barat, karena negara-negara Eropa sendiri menghalanginya dari Libya barat, begitu juga dengan kedekatan wilayah tersebut dengan Aljazair yang loyal kepada Eropa. Ketakutan terhadap Aljazair dan intervensinya ini tampak nyata dan tidak tersembunyi dalam pernyataan-pernyataan Haftar (Menteri Luar Negeri Libya, Taher Siala, pada hari Senin berlepas diri dari "pernyataan tidak bertanggung jawab" Marsekal Khalifa Haftar yang mengancam akan "memindahkan perang Libya ke Aljazair dalam sekejap..." Haftar sebelumnya menyatakan bahwa Aljazair "memanfaatkan situasi keamanan di Libya" dan bahwa "tentara Aljazair telah melintasi perbatasan Libya..." France 24, 10/09/2018).
Kedua: Fakta dukungan Mesir di bawah Sisi—dan Amerika di belakangnya—untuk Haftar inilah yang membuatnya menguasai Libya timur dan wilayah Oil Crescent. Sebaliknya, fakta yang direpresentasikan oleh pemerintahan Sarraj serta kesiapan Aljazair untuk mempertahankannya karena kedekatan geografis, ditambah dukungan negara-negara Eropa di belakangnya... kedua fakta yang saling berhadapan ini menciptakan semacam keseimbangan, meskipun bobot militer cenderung miring ke arah Haftar karena dukungan besar Amerika yang sejalan dengan visinya untuk solusi di Libya, yaitu membuka negosiasi setelah posisi Haftar menjadi sangat kuat atau hampir menentukan. Namun, dari sudut pandang konstelasi politik, bobotnya masih miring ke arah Sarraj. Pengaruh Eropa menjamin kendalinya atas ibu kota Tripoli, yang memiliki bobot konstelasi politik yang berafiliasi ke Eropa. Dengan demikian, Haftar tidak mampu merangsek maju dan mengambil alih ibu kota, juga tidak mampu membuka negosiasi serius dengan pemerintahan Sarraj agar keduanya muncul sebagai dua pihak yang setara... Kedua kebuntuan bagi kedua pihak yang berkonflik di Libya ini menciptakan kebuntuan yang tidak memungkinkan salah satu pihak mencapai kemenangan mutlak. Oleh karena itu, perpindahan pertempuran ke Libya selatan merupakan jalan keluar bagi Haftar agar ia dapat memperluas jangkauan kendali militernya, sehingga solusi dapat dijalankan dengan pengaruh Amerika yang lebih kuat daripada pengaruh Eropa. Inilah yang terjadi, di mana (pasukan Marsekal Khalifa Haftar pada hari Rabu meluncurkan operasi militer luas di selatan negara itu dengan tujuan "membersihkannya" dari kelompok bersenjata... menurut apa yang diumumkan oleh juru bicara Tentara Nasional Libya... France 24, 17/01/2019).
Kesimpulannya adalah bahwa Haftar, dengan dukungan militer besar yang disediakan Amerika untuknya, khususnya melalui Mesir, telah berhasil membelah Libya menjadi dua bagian. Ia menguasai sepenuhnya bagian timur, menguasai Oil Crescent yang merupakan urat nadi ekonomi Libya, dan berhasil melakukan penetrasi di bagian barat, dan kini Amerika mengarahkannya ke selatan untuk menambah kendali militer dan ekonomi. Demikianlah, di tengah kondisi kebuntuan akibat sulitnya menembus Libya barat karena ketakutan terhadap Aljazair dan dukungan besar Eropa terhadap pemerintahan Sarraj, Amerika mendorong Haftar untuk mencapai tujuan-tujuan lainnya, yaitu meningkatkan beban negara-negara Eropa dalam masalah migrasi, serta menyerang pengaruh Prancis di negara-negara tetangga mulai dari Chad...] Selesai kutipan.
Tampaknya Haftar memanfaatkan peristiwa di Aljazair dan kesibukan tentara Aljazair dalam menangani peristiwa tersebut, sehingga ia melakukan serangannya ke Libya barat. Serangan dimulai pada 04/04/2019, yaitu dua hari setelah puncak krisis dengan pengunduran diri Bouteflika! Hal ini memungkinkannya untuk merangsek maju menuju Tripoli secara mencolok...
2- Adapun apa hasil dari serangan ini, tidak diperkirakan bahwa Haftar akan menyelesaikan masalah ini dengan merebut Tripoli karena dua alasan:
Pertama, bahwa pihak yang sebelumnya menghalangi Haftar adalah Eropa dan Aljazair... Adapun Aljazair saat ini sedang sibuk dengan kondisi domestiknya, sedangkan Eropa masih mampu melakukan tekanan politik: (Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, pada hari Senin menyerukan gencatan senjata kemanusiaan di Libya dan kembali ke negosiasi... Sky News, 08/04/2019). Begitu juga Inggris yang mengajukan draf resolusi kepada Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran:
(Inggris mengajukan draf resolusi kepada Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera di Libya setelah pasukan yang setia kepada Marsekal Khalifa Haftar, orang kuat di Libya timur, melancarkan serangan untuk menguasai Tripoli, menurut teks draf yang diperoleh kantor berita AFP pada Selasa. Draf resolusi tersebut menyatakan bahwa serangan "Tentara Nasional Libya" yang dipimpin oleh Haftar "mengancam stabilitas di Libya dan prospek dialog politik yang disponsori PBB serta solusi politik menyeluruh bagi krisis tersebut"... AFP, 16/04/2019)... Jadi, Eropa akan mengerahkan segala tekanan politik untuk menghentikan kemajuan Haftar, bahkan intervensi militer jika diperlukan... (Juru bicara resmi Tentara Nasional Libya, Mayjen Ahmed Al-Mismari, menegaskan bahwa pilot-pilot asing menerbangkan pesawat-pesawat milik pasukan pemerintahan Al-Wifaq dalam serangan mereka terhadap posisi-posisi Libya... Al-Arabiya.net, 13/04/2019). Begitu juga, ("Kepala Kebijakan Luar Negeri Eropa, Federica Mogherini hari Selasa ini mendesak negara-negara Uni Eropa untuk mengirim kembali kapal-kapal perang ke Laut Mediterania guna memungkinkan operasi 'Sophia' memerangi penyelundupan senjata dan minyak di Libya..." kemudian ia menambahkan "Mogherini mengatakan bahwa 'serangan yang dilancarkan oleh (Marsekal Khalifa) Haftar ke Tripoli dapat berubah menjadi konflik permanen dengan senjata yang seharusnya tidak digunakan di Libya'"... situs Al-Madina, 17/04/2019). Selesai. Meskipun ia meminta pengiriman kembali kapal perang untuk mencegah penyelundupan senjata dan minyak, namun ia memasukkan masalah Haftar dan serangannya ke Tripoli ke dalam topik tersebut! Maka tidak tertutup kemungkinan kapal-kapal perang ini akan digunakan melawan serangan Haftar dengan cara-cara tidak langsung dengan dalih penyelundupan senjata dan minyak.
Kedua, bahwa Amerika yang mendukung Haftar, khususnya melalui Mesir di bawah Sisi, menyadari perhatian Eropa terhadap Libya, dan bahwa Eropa akan mengerahkan segala upaya untuk tidak membiarkan Libya lepas dari tangannya begitu saja akibat serangan-serangan Haftar, yang kemudian sebagaimana pepatah katakan, ia pulang hanya dengan membawa dirinya sendiri (tanpa hasil). Amerika menyadari bahwa Eropa akan melawan lepasnya Libya dari tangannya sepenuhnya dengan berbagai metodenya. Oleh karena itu, Amerika menyerukan solusi negosiasi (Kedutaan Besar AS di Libya mengeluarkan pernyataan hari Senin ini yang menegaskan kembali bahwa "tidak ada solusi militer untuk konflik di Libya" dan menekankan melalui akun resminya di Twitter bahwa "solusi politik adalah satu-satunya cara untuk menyatukan negara dan memberikan rencana guna menyediakan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Libya." Sputnik Arabic, 08/04/2019). Selesai... Namun, Amerika akan mengulur waktu dalam hal ini sampai posisi Haftar membaik dengan memperluas wilayah yang ia kuasai, sehingga posisi tawar menawarnya menjadi yang terkuat, dan kemudian bagian Amerika dari solusi negosiasi menjadi yang terkuat dan terkaya, sementara bagian Eropa—khususnya Inggris—relatif lebih kecil karena sebagian besar kelas politik adalah pengikut mereka... Berdasarkan hal ini, diperkirakan bahwa Haftar akan berhenti menguasai seluruh Tripoli dan wilayah-wilayah lain di dekatnya, kemudian negosiasi dimulai dengan Haftar berada dalam posisi kuat. Inilah yang tampak dari rencana-rencana Amerika. Rencana ini bisa saja gagal jika Aljazair mampu menyelesaikan masalahnya dengan cepat dan tentara Aljazair mulai mengancam Haftar bahkan langsung bertindak, meskipun jalannya berbagai peristiwa di Aljazair tidak menunjukkan penyelesaian yang cepat... Hal ini membuat solusi-solusi tersebut membutuhkan waktu...
3- Demikianlah kaum Muslimin dari kedua belah pihak—dari pemerintahan Sarraj dan tentara Haftar—saling membunuh, bukan untuk kemuliaan agama Allah dan bukan pula untuk kebangkitan hamba-hamba Allah, melainkan agar Amerika dan Eropa bisa tertawa terbahak-bahak melihat suatu kaum yang saling berperang demi kepentingan orang lain. Setelah mereka menjalankan perannya, pengabdian mereka diakhiri tanpa ada yang merasa kehilangan... Begitulah yang dilakukan kaum kafir penjajah terhadap para agennya. Namun mereka (para agen) tidak mengambil pelajaran, tidak merasa jera, tidak melihat tragedi mereka di dunia, dan tidak pula melihat kedudukan mereka yang sangat rendah di akhirat. Benarlah Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa:
وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلاً
"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya." (QS. Al-Isra [17]: 72)
Pertanyaan Kedua: Apa yang sebenarnya terjadi di Sudan? Bashir mengundurkan diri atau diberhentikan dan ditahan di tempat yang aman... lalu ia digantikan oleh Awad, dan sehari kemudian ia mundur... lalu digantikan oleh Al-Burhan... Komandan Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces) menyatakan bahwa ia tidak masuk ke Dewan Militer, namun keesokan harinya ia menjadi Wakil Ketua Dewan Militer! Oposisi menuntut pemerintahan sipil dengan otoritas penuh, namun Dewan Militer menjawab bahwa mereka akan membentuk pemerintahan sipil tetapi kedaulatan tetap berada di tangan Dewan Militer... Demikianlah berbagai pihak diliputi kebingungan! Jadi apa hakikat dari apa yang sedang terjadi? Terima kasih banyak.
Jawaban:
1- Saudaraku, seandainya Anda mengikuti apa yang kami keluarkan, niscaya gambaran tersebut akan menjadi jelas bagi Anda dan tidak akan ada kebingungan. Kami telah mengeluarkan rilis pada 04/03/2019, yaitu lebih dari satu bulan sebelum pemberhentian Bashir, dan bagian akhir dari rilis kami adalah sebagai berikut:
[Sebagai penutup, ada dua perkara yang patut untuk direnungkan dan diperhatikan dengan seksama:
Adapun yang pertama, hal pertama yang dipaksakan oleh Amerika kepada para agennya adalah pengerahan segala upaya untuk melayani kepentingannya. Bashir telah mengerahkan segala upaya untuk itu, bahkan ia telah mengkhianati sumpahnya dengan memisahkan Sudan Selatan... Hingga hari ini, Amerika masih mendukung Bashir; kontak-kontak Amerika dengannya dan dengan rezimnya sebagaimana telah kami jelaskan menunjukkan hal tersebut... Namun, jika protes terus berlanjut dan Bashir tidak mampu mengendalikannya dalam waktu dekat, maka ia akan jatuh di mata Amerika dan menjadi tidak mampu lagi melayani kepentingan Amerika. Saat itulah kemungkinan besar Amerika akan berusaha menggantinya. Barangkali pengaturan penarikan sebagian orang-orangnya dari pemerintahan untuk menunggangi gelombang oposisi—khususnya Partai Al-Mirghani yang loyal padanya—mungkin semua itu berjalan ke arah ini, yaitu menyiapkan alternatif. Karena setiap penggantian Bashir memerlukan adanya alternatif yang dapat diterima oleh rakyat. Amerika menggunakan gaya ini terhadap para agennya; mereka telah menggunakannya terhadap Mubarak ketika ia tidak mampu mengendalikan protes, Amerika memerintahkannya untuk pergi lalu ia mengundurkan diri dan menunjuk Tantawi beserta Dewan Militernya sebagai pengganti... Itu adalah gaya yang biasa dilakukan Amerika, hanya saja ia membutuhkan alternatif sebelum memerintahkan agennya untuk pergi. Ia khawatir jika penggantian dilakukan sebelum matangnya alternatif, maka orang-orang yang jujur dan ikhlas akan sampai ke tampuk kekuasaan, yang akan menjadi duri di tenggorokannya bahkan belati di dadanya. Dipertahankannya agennya, Bashar, hingga saat ini adalah bagian dari pintu ini...
Adapun perkara kedua, yang dikhawatirkan adalah darah para korban yang terbunuh dan terluka serta kerugian di jalan-jalan dan fasilitas umum akan sia-sia, dan protes tersebut pada akhirnya berujung pada pertukaran satu agen dengan agen lainnya, sementara konstitusi buatan manusia (ad-dustur al-wadhu'i) tetap tegak di negara tersebut, yang mencabut nyawa dan membebani hamba Allah... Inilah yang kami peringatkan, karena protes tersebut hingga hari ini tidak mengadopsi tuntutan Islam dan tidak menuntut penerapan hukum-hukum syariat dengan mengikuti kepemimpinan yang saleh dan jujur yang bekerja untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah Rasyidah... Dengan demikian, krisis politik akan tetap sama bahkan bisa lebih buruk, dan krisis ekonomi pun tetap sama bahkan mungkin lebih buruk. Firman Allah adalah kebenaran yang nyata:
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى * وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً
"Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (QS. Thaha [20]: 123-124)
Dan benarlah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana:
فَاعْتَبِرُوا يَاأُولِي الْأَبْصَارِ
"Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan." (QS. Al-Hasyr [59]: 2)] Selesai kutipan.
2- Apa yang telah dan sedang terjadi hampir menceritakan apa yang ada dalam rilis kami. Bashir tidak mampu mengakhiri protes, maka ia pun dibuang dan kesudahan urusannya adalah kerugian, kehinaan, dan kenistaan! Ia digantikan oleh Awad bin Auf pada hari Kamis, kemudian pada hari Jumat ia pun dibuang seolah-olah ia hanya datang sebagai jembatan penghubung! Selain itu, ia juga tidak diterima di jalanan. Kemudian didatangkanlah Abdel Fattah al-Burhan, (yang telah ditunjuk oleh Bashir pada Februari 2018 sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, dan pada 26 Februari 2019 Bashir memutuskan untuk menaikkan pangkat Letnan Jenderal Abdel Fattah menjadi Jenderal penuh serta menunjuknya sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Bersenjata pada saat itu... situs Sudan Today, 13/04/2019). Artinya, Bashir menunjuknya sebagai Inspektur Jenderal militer selama masa protes! Dialah yang bernegosiasi dengan para demonstran pada Jumat pagi 12/04/2019, dan menjadi Ketua Dewan Militer pada Jumat malam sesuai pengumuman Bin Auf yang mengundurkan diri dari kepemimpinan Dewan Militer setelah menjabat selama satu hari! Al-Burhan telah melakukan beberapa langkah untuk meredakan ketegangan. Ia (Ketua Dewan Militer Transisi Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, berusaha mendekati para demonstran dan mengumumkan dalam pernyataan pertamanya pembentukan dewan militer untuk mewakili kedaulatan negara, dan pemerintahan sipil yang "disepakati" untuk mengelola negara selama fase mendatang, membatalkan jam malam, dan membebaskan para narapidana... Khartoum - Al-Bayan, 14/04/2019). Kemudian ia menunjuk komandan Pasukan Dukungan Cepat, Mohamed Hamdan Daqlo, sebagai wakilnya. Yang aneh adalah bahwa Daqlo ini telah menyatakan pada hari Kamis 11/04/2019 bahwa ia tidak akan ikut serta dalam Dewan Militer, namun keesokan harinya ia menjadi Wakil Ketua Dewan Militer! Inilah yang ia nyatakan: "Saya ingin mengumumkan kepada seluruh rakyat Sudan bahwa saya selaku komandan Pasukan Dukungan Cepat telah menolak untuk berpartisipasi dalam Dewan Militer sejak tanggal 11 April 2019 dan kami akan tetap menjadi bagian dari angkatan bersenjata serta bekerja untuk persatuan negara, menghormati hak asasi manusia, dan melindungi rakyat Sudan"... RT, 12/04/2019). Namun keesokan harinya ia menjadi Wakil Ketua Dewan Militer! (Dewan Militer Transisi di Sudan pada Sabtu malam menunjuk komandan Pasukan Dukungan Cepat Mohamed Hamdan Daqlo sebagai Wakil Ketua Dewan Transisi... Al-Marsad, Minggu 14/04/2019). Perlu diketahui bahwa orang ini adalah salah satu pilar rezim Bashir, dan tampaknya ia masih menjadi pilar dalam rezim baru. Belum lewat sehari sejak penunjukannya, ia sudah bertemu dengan Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS dengan penuh keramahan dan sambutan hangat: (Wakil Ketua Dewan Militer Transisi, Jenderal Mohamed Hamdan Daqlo, bertemu hari Minggu ini di Istana Republik dengan Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS di Khartoum, Steven Koutsis. Menurut kantor berita Sudan "SUNA", Daqlo memberi tahu diplomat Amerika tersebut mengenai "situasi dan perkembangan di negara itu, alasan yang menyebabkan pembentukan Dewan Militer Transisi, dan langkah-langkah yang telah diambil untuk menjaga keamanan dan stabilitas Sudan." Menurut kantor berita tersebut, Kuasa Usaha AS menyambut baik peran Dewan Militer dalam mencapai stabilitas, dan menekankan perlunya kerja sama yang berkelanjutan antara kedua belah pihak guna memperkuat hubungan Sudan-Amerika... situs 24, 14/04/2019).
3- Untuk membantu menstabilkan situasi yang ada, Amerika telah mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sanksi: (Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mempertimbangkan cara-cara baru untuk menghapus nama Sudan dari daftar negara pendukung terorisme jika melihat perubahan mendasar dalam pemerintahannya dan komitmen untuk tidak mendukung terorisme... situs Al-Bayan mengutip Reuters, 17/04/2019).
Setelah itu, para agen Amerika berbondong-bondong mendukung situasi baru tersebut:
(Sisi menghubungi Ketua Dewan Militer di Sudan: Presiden Mesir menegaskan kepada Ketua Dewan Militer Transisi di Sudan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan tentang dukungan penuh Mesir bagi keamanan dan stabilitas Sudan... Arab World News, 16/04/2019). Selesai.
(MENA Youm7, 17/04/2019: Delegasi tingkat tinggi Mesir mengunjungi Khartoum untuk menegaskan dukungan terhadap pilihan rakyat Sudan: Delegasi tingkat tinggi Mesir melakukan kunjungan ke negara Sudan untuk menegaskan dukungan penuh Mesir... Youm7, 17/04/2019). Selesai.
(Abu Dhabi - Sky News Arabia: Dewan Menteri Saudi pada hari Selasa menegaskan dukungannya terhadap apa yang diputuskan oleh rakyat Sudan mengenai masa depan mereka dan apa yang telah diambil oleh Dewan Militer Transisi di Sudan, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Saudi "SPA"... situs Al-Watan, 16/04/2019). Selesai.
4- Kebijakan Amerika telah menjadi terang benderang bagi setiap orang yang memiliki mata. Amerika mengandalkan orang-orangnya di militer dan meminta mereka untuk melayani kepentingannya serta mendominasi situasi. Jika mereka tidak mampu, Amerika membuang mereka dan mendatangkan orang lain dari pengikutnya di militer. Meskipun banyak orang yang ikhlas di dalam militer kaum Muslimin, namun Amerika menemukan di dalam militer ini orang-orang yang tergiur oleh kesenangan dunia sehingga mengkhianati umatnya, dan tidak mempedulikan apa yang terjadi pada rekan-rekannya sebelumnya setelah peran mereka habis! Kebijakan Amerika menerima penunjukan pemerintahan sipil dalam pelayanannya, namun setelah itu ia akan menyingkirkannya dan mengembalikan agen-agennya di militer... Ia melakukan hal itu terhadap Mubarak; ketika terjadi protes dan ia tidak mampu menghadapinya, Amerika membuangnya lalu datanglah Dewan Militer Tantawi, kemudian pemerintahan sipil di bawah dominasi militer, dan setelah itu Sisi—salah satu orang Amerika di militer—kembali, yang berarti militer kembali lagi berkuasa... Amerika juga melakukan hal itu terhadap Nimeiry; ketika terjadi protes dan ia tidak mampu menghadapinya, Amerika membuangnya lalu datanglah Swar al-Dahab, kemudian al-Mahdi sebagai pemerintahan sipil di bawah dominasi militer, dan setelah itu Bashir—salah satu orang Amerika di militer—kembali, yang berarti militer kembali lagi...
Dan sekarang, Bashir tidak mampu menghadapi protes, maka Amerika membuangnya, lalu muncullah Al-Burhan dan Dewan Militernya serta wakilnya Daqlo. Al-Burhan menyatakan bahwa ia akan membentuk pemerintahan sipil tetapi kedaulatan tetap di tangan militer. Dengan demikian, warga sipil dilibatkan untuk jangka waktu tertentu, kemudian situasi akan kembali seperti semula!
Kebijakan ini hampir menjadi tradisi Barat terhadap para agennya... Hanya saja Eropa—khususnya Inggris—berusaha mencari celah hukum untuk hal tersebut, sementara Amerika tidak peduli dengan celah hukum!
5- Meskipun di dalam oposisi bercampur antara yang baik dan yang buruk, dan pengaruh Inggris di dalamnya sangat mencolok terutama dalam Asosiasi Profesional dan partai Sadiq al-Mahdi, namun pengaruh mereka tetap terbatas bahkan jika mereka masuk ke dalam pemerintahan sipil, selama kedaulatan aktual berada di tangan orang-orang Amerika di militer... Inilah, sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, hampir menjadi kebijakan Amerika yang diikuti di negeri-negeri kaum Muslimin. Ia tidak mementingkan pemilu yang bersih karena hasilnya tidak akan menguntungkannya, melainkan ia mengandalkan sejumlah pengikutnya di militer kaum Muslimin yang rela mengkhianati agama dan umatnya, dan pada akhirnya ketika peran mereka habis, mereka dibuang ke pinggir jalan. Dengan demikian mereka merugi di dunia setelah mereka merugi dalam agamanya.
6- Namun yang menyakitkan adalah bahwa di dalam militer ini terdapat banyak orang yang mencintai agama dan umatnya. Bagaimana mungkin mereka membiarkan para pengikut Amerika di militer ini, padahal mereka (agen Amerika) adalah yang paling rendah dan paling sedikit jumlahnya, ditambah lagi dengan orang-orang yang tertipu? Bagaimana mereka membiarkan agen-agen itu melakukan kerusakan di muka bumi, berjalan bersama Amerika? Padahal itu bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan mereka berkorban, terbunuh, dan terluka demi kepentingan pemimpin kejahatan—Amerika—dan negara-negara Barat lainnya? Bagaimana mungkin?! Padahal seandainya mereka menolong Allah dan agama-Nya, niscaya mereka akan menang di dunia dan akhirat, dan mereka akan menjadi seperti kaum Anshar yang mengingat Allah dan menolong-Nya, maka Allah pun mengingat dan menolong mereka. Ketika pemimpin mereka, Sa'ad bin Muadz, wafat, jenazahnya dihadiri oleh tujuh puluh ribu malaikat, dan Arsy berguncang karena kematiannya. Semua itu karena mereka menolong agama Allah. Maka untuk tujuan seperti inilah, wahai para tentara yang jujur, hendaknya kalian beramal, niscaya Allah akan memuliakan kalian dengan kemuliaan di dunia dan kemenangan di akhirat, dan itulah kemenangan yang agung... Adapun mereka yang mengkhianati umatnya dan menolong para gembong kekafiran—Amerika, Inggris, dan pengikut mereka—maka mereka adalah orang-orang yang merugi di akhirat, bahkan di dunia juga demikian. Setelah mereka menjalankan perannya, mereka akan dibuang ke pinggir jalan tanpa mendapatkan kebaikan apapun sebagaimana yang dilakukan terhadap rekan-rekan mereka sebelumnya, dan mereka akan menyesal di saat penyesalan tidak lagi berguna. Maka apakah mereka tidak segera memperbaiki urusan mereka jika mereka berakal?
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37)
11 Sya'ban 1440 H 17/04/2019 M