Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: Pertemuan Trump-Putin di Alaska

August 24, 2025
2515

Jawab Pertanyaan

Pertanyaan:

Presiden Amerika Serikat, Trump, dan Presiden Rusia, Putin, mengadakan pertemuan di Alaska pada 16/8/2025. Apakah telah terjadi kesepakatan di antara keduanya mengenai isu-isu mendasar? Apa dampak pertemuan ini terhadap hubungan kedua negara, terhadap Ukraina, dan pengaruhnya secara internasional terhadap Eropa dan Tiongkok?

Jawaban: Untuk memperjelas jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kami akan meninjau hal-hal berikut:

  1. Hubungan antara Amerika dan Rusia selama tiga dekade terakhir telah berkembang dari hubungan antara dua negara adidaya yang mengendalikan nasib dunia sebelum runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, menjadi mundurnya Rusia dari kancah internasional dan keterpurukannya ke dalam diri sendiri, sementara Amerika memantau kedalaman keruntuhan Rusia dan berupaya mengambil alih wilayah-wilayah pengaruh Sovietnya. Kemudian, muncul upaya Presiden Rusia Putin untuk mengembalikan Rusia sebagai negara besar dengan posisi internasional, yang ditolak oleh Amerika. Sebagai indikator mendalamnya pertentangan antara tujuan kedua negara, pecahlah perang di Ukraina pada tahun 2022, di mana Rusia ingin meningkatkan posisi internasionalnya melalui kekuatan, sementara Amerika, melalui dukungannya kepada Ukraina, ingin menghapus Rusia dari daftar negara-negara adidaya. Kondisi ini terus berlanjut hingga akhir masa pemerintahan Biden. Ketika Trump terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat, ia mulai mengarahkan kembali kompas Amerika melawan Tiongkok dan mengumumkan keinginannya untuk meredakan ketegangan dengan Rusia. Ia menyatakan mampu mengakhiri perang di Ukraina dalam waktu 24 jam, dan bahwa perang ini bukanlah perangnya, melainkan perang Biden. Dengan demikian, Amerika di era Trump mulai berbelok dalam hubungannya dengan Rusia. Perubahan arah ini tampak jelas melalui penghinaan berulang kali yang dilontarkan Trump kepada Presiden Ukraina Zelensky, kritik kerasnya terhadap dukungan militer Amerika untuk Ukraina, dan tuntutannya agar negara-negara Eropa memikul tanggung jawab finansial dan militer di Ukraina.

  2. Perang Ukraina telah menyebabkan pelemahan posisi internasional Rusia. Militernya tampak tidak mampu mencapai tujuan cepat dan bernilai tinggi di Ukraina, hampir separuh armada lautnya di Laut Hitam hancur, dan pangkalan-pangkalan strategisnya di pedalaman Rusia diserang. Rusia juga kehilangan elemen-elemen penting dalam pasukan daratnya, baik peralatan maupun jenderal. Namun, Rusia belum kalah dan tetap mampu melakukan kemajuan di dalam Ukraina, meskipun digambarkan seperti creeping like ants (merayap pelan). Namun Rusia, yang mendapati dirinya berhadapan dengan kemampuan militer NATO, seolah-olah sedang berperang dengan negara-negara NATO, mulai menunjukkan kegelisahan sehingga terkadang muncul pernyataan dan persiapan nuklir ke permukaan. Hal ini sangat berbahaya dan tidak diinginkan oleh Amerika. Artinya, perang Ukraina telah menunjukkan risiko transisi menuju perang nuklir. Perang di Ukraina juga mendorong Presiden Rusia Putin untuk memperkuat kemitraan strategisnya dengan Tiongkok. Meskipun arah ini sudah diprediksi oleh Amerika, dan terlepas dari fakta bahwa Tiongkok tidak menyambut Rusia dengan kehangatan yang sama agar tidak kehilangan hubungan dagang utamanya dengan Amerika dan Eropa, namun pembagian dunia kembali menjadi sesuatu yang menyerupai dua kamp adalah hal terakhir yang diinginkan Amerika. Amerika sama sekali tidak ingin kekuatan ekonomi Tiongkok berintegrasi dengan kekuatan militer Rusia dalam satu kamp.

  3. Ketakutan Rusia akan kekalahan strategis yang direncanakan Amerika di medan Ukraina menjadi pendorong baginya untuk meningkatkan persenjataan rudal dan nuklir. Perjanjian nuklir dengan Amerika berada pada tingkat minimal setelah Amerika mundur pada tahun 2019 dari perjanjian rudal jarak menengah. Selain Rusia mengerahkan sistem rudal hipersonik dalam perangnya di Ukraina, ia juga memperkenalkan rudal "Oreshnik" yang sangat merusak pada tahun 2024. Akhirnya, sesaat sebelum pertemuan Putin dengan Trump, Rusia mengumumkan uji coba rudal nuklir dengan mesin nuklir, yang berarti memiliki jangkauan dan kecepatan yang tidak terbatas, di mana Amerika sebenarnya sudah mengetahui persiapan Rusia tersebut. Selain berbahaya bagi Amerika karena dapat membatalkan perisai rudalnya yang selama ini dibanggakan dan telah menghabiskan miliaran dolar, hal ini juga menegaskan kepada Amerika bahwa Rusia terus berlanjut dalam perlombaan militer strategis baru tidak peduli berapa pun biaya ekonominya. Hal ini mengharuskan Amerika untuk bersepakat dengan Rusia guna menghentikan kemajuannya dan menghindari perlombaan militer yang serupa dengan periode Perang Dingin.

  4. Rusia menghadapi kemungkinan kekalahan militer di Ukraina, karena citra tentaranya sebagai tentara negara adidaya hancur dan gagal mengalahkan tentara Ukraina. Perang tersebut menjadi seperti aksi serang dan mundur, yang berarti Rusia kehilangan keunggulan kekuatan yang menentukan, dan ini merusak posisi internasionalnya. Selain kelemahan militer yang nyata di Ukraina, Rusia juga jatuh di bawah serangkaian sanksi Barat yang mendalam yang hampir menghentikannya di ambang pintu keluar dari ekonomi global, dan memberlakukan isolasi internasional yang besar terhadapnya. Presiden Rusia bahkan tidak mampu bergerak bebas di luar negeri karena perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Akibatnya, Rusia mengerahkan seluruh energi ekonomi dan militernya untuk menjauhkan hantu kekalahan strategis dalam perang Ukraina, dan ekonominya menjadi war economy (ekonomi perang). Rusia melihat bahwa posisi internasionalnya ditentukan oleh perang di Ukraina, tetapi hantu kekalahan tidak pernah meninggalkannya. Ketakutan terbesarnya adalah jika keadaan berkembang ke arah intervensi NATO dan memaksakan konfrontasi langsung dengannya, sementara Rusia tidak mampu melakukannya kecuali dengan mengerahkan instrumen nuklirnya, namun penggunaan instrumen ini sangatlah berbahaya. Ketika Presiden Amerika Trump datang dan mulai mendekati Rusia serta memuji presidennya, Rusia menarik napas lega, karena hal itu merupakan perubahan arah Amerika dari rencana kekalahan strategis bagi Rusia. Mungkin Rusia berpikir untuk menerima tawaran Trump apa adanya guna membatasi pengurasan energinya, namun ia tetap memantau pintu yang dibuka oleh Trump bagi kembalinya Rusia ke kancah internasional dan merasa waswas jika pintu itu ditutup kembali, sementara ia ingin memasukinya.

  5. Ketika Amerika melihat Rusia ragu-ragu dan enggan menghentikan perang, serta muncul suara-suara di Barat bahwa Putin hanya memanfaatkan kecenderungan terbaru Trump dan keinginannya untuk menghentikan perang di Ukraina, maka Presiden Amerika mengumumkan pemberian tenggat waktu 50 hari kepada Rusia untuk menghentikan perang di Ukraina. Meskipun Rusia sangat terganggu dengan tenggat waktu ini dan meminta penjelasan, ia tetap saja menunda-nunda di dalam masa tenggat tersebut karena ingin memanfaatkannya hingga akhir. Hal ini mendorong Presiden Amerika untuk mengancam akan berbalik arah, yaitu menutup pintu dan kembali ke posisi pemerintahan Biden. Ia mengumumkan pemendekan durasi tersebut menjadi hanya 10 hari. Langkah ini dilihat oleh Rusia, melalui pernyataan Wakil Penasihat Keamanan Nasional dan mantan Presiden Medvedev, sebagai langkah menuju perang. Medvedev mengingatkan Amerika tentang "tangan nuklir mematikan" milik Rusia. Presiden Amerika pun beradu mulut dengannya dan memintanya untuk berhati-hati karena ia memasuki area yang sangat berbahaya. Dengan ancaman Amerika untuk berbalik arah kembali mendukung Ukraina dan memberlakukan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia yang mencakup siapa saja yang membeli minyak darinya, yaitu Tiongkok secara khusus, maka saat itulah lonceng berbunyi di Moskow bahwa keputusan harus segera diambil.

  6. Dengan demikian, Rusia melihat bahwa ia harus bergegas memberikan konsesi kepada Amerika. Ia tidak ingin momentum dukungan Amerika untuk Ukraina kembali, yang akan memaksakan pengurasan energi lebih lanjut baginya, dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Presiden Trump untuk melepaskan isolasi internasional darinya. Selain itu, Rusia memiliki keraguan terhadap Tiongkok; jika Tiongkok harus memilih antara mengambil keuntungan dari minyak Rusia yang murah dengan hubungan dagangnya dengan Amerika, maka Tiongkok pasti akan memilih yang terakhir karena manfaatnya yang lebih banyak. Ditambah lagi, tawaran perdamaian Trump memberikan Rusia apa yang diinginkannya, yaitu kesepakatan dengan Amerika sendirian seperti model Konferensi Yalta tahun 1945. Rusia tidak ingin melibatkan pihak lain dari Eropa atau Ukraina, melainkan menginginkan kesepakatan dengan Amerika yang kemudian disodorkan kepada pihak lain sebagai kenyataan yang sudah terjadi (fait accompli). Maka, Rusia berinisiatif meminta pertemuan dengan utusan Presiden Amerika Trump (Witkoff) untuk mengakhiri ide tenggat waktu yang diberikan kepada Rusia, dan ini tentu mengharuskannya melepaskan beberapa tuntutannya. Di ambang penetapan KTT antara kedua presiden dan selama periode persiapan yang singkat, kedua pihak menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk pertemuan ini. Benar saja, Trump menanggapi permintaan Rusia untuk mengirim utusan khususnya, Witkoff, ke Moskow. Trump berbicara tentang peluang, pertukaran wilayah, dan perbatasan antara Rusia dan Ukraina. Rusia pun berbicara tentang kejujuran Amerika: (Putin mengatakan bahwa Moskow sedang bekerja untuk menciptakan kondisi guna mewujudkan perdamaian, dan bahwa Amerika Serikat melakukan upaya jujur untuk menyelesaikan situasi terkait Ukraina. Putin menekankan pentingnya mencapai kesepakatan dengan Washington mengenai pembatasan senjata ofensif strategis. Al-Jazeera Net, 14/8/2025). Rusia juga setuju agar KTT diadakan di Alaska, yang berarti di wilayah Amerika, untuk menyenangkan Trump: (Trump berpendapat bahwa keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melakukan perjalanan ke Alaska guna mengadakan pertemuan dengannya adalah "tindakan yang mengandung banyak rasa hormat". RT, 12/8/2025).

  7. Namun, Amerika dari sudut pandang lain, setelah melihat keragu-raguan Rusia selama berbulan-bulan sejak Trump datang ke Gedung Putih, sama sekali tidak ingin KTT ini berlangsung tanpa konsesi dari Rusia. Trump mengatakan bahwa KTT ini bersifat "exploratory" (penjajakan), dan bahwa ia akan tahu sejak menit-menit pertama KTT apakah Putin serius untuk mengakhiri perang di Ukraina atau tidak. Ia memperingatkan tentang kegagalan KTT dan menetapkan peluang 25% bagi kemungkinan kegagalannya, serta mengancam Rusia dengan konsekuensi yang mengerikan: (Presiden AS Donald Trump, pada hari Rabu, mengancam rekannya dari Rusia Vladimir Putin dengan "konsekuensi mengerikan" jika ia menghalangi upaya mewujudkan perdamaian di Ukraina, mengisyaratkan kemungkinan pengenaan sanksi ekonomi jika pertemuan mereka yang dijadwalkan hari Jumat di Alaska gagal mencapai hasil nyata. Trump menjelaskan bahwa pertemuan dengan Putin akan menjadi "pendahuluan" untuk pertemuan kedua yang melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, mencatat bahwa penyelenggaraannya tergantung pada apa yang dihasilkan dari pertemuan Alaska. Arab 48, 14/8/2025). Kemudian Presiden AS Donald Trump menggambarkan KTT-nya dengan Vladimir Putin sebagai "high risks" (berisiko tinggi) sebelum menuju ke Anchorage, Alaska, untuk mengadakan pertemuan pertama mereka dalam tujuh tahun. Trump menyatakan keinginannya untuk melihat gencatan senjata "dengan sangat cepat". Independent Arabia, 15/8/2025). Trump juga mengatakan bahwa ia akan segera kembali dari Alaska ke Washington jika Putin tidak serius, (Presiden AS Donald Trump tiba di Pangkalan Angkatan Udara Elmendorf di Anchorage, Alaska, pada hari Jumat, dan Trump mengatakan bahwa jika KTT dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berjalan buruk, ia akan pergi. CNN Arabic, 15/8/2025). Pernyataan tentang meninggalkan pertemuan ini mengandung semacam penghinaan bagi Presiden Putin yang datang untuk menemui Trump di Amerika!

  8. Semua pernyataan tersebut membawa tekanan pada Rusia bahwa ia harus memberikan konsesi. Trump mengancamnya dengan konsekuensi mengerikan, sanksi, dan meninggalkan pertemuan. Artinya, pertemuan di antara mereka tidaklah setara sebagaimana pertemuan-pertemuan penting antara pemimpin Soviet dan Amerika di masa lalu. Ini bukan pertemuan dua raksasa, dan bahkan tidak mencapai level pertemuan puncak AS-Tiongkok. Di dalamnya terdapat pengukuhan atas kesombongan Amerika dan tuntutannya agar Rusia tunduk, serta penurunan status baru Rusia yang menerima semua kondisi, tenggat waktu, dan ancaman Amerika ini. Presidennya pun terbang ke Amerika untuk mengadakan pertemuan dengan Trump alih-alih di negara ketiga. Barangkali prosedur yang menyalahi protokol ketika Presiden Rusia Putin menerima tawaran Presiden Amerika untuk naik bersamanya di mobil pribadinya, meskipun ada mobil Putin yang menyertainya di setiap pertemuan internasionalnya, merupakan bukti ketundukan Rusia dan kebutuhannya akan kehangatan hubungan dengan Trump untuk mengurangi kerugian strategisnya. Hal yang menegaskan ini adalah meskipun terjadi pemutusan hubungan AS-Rusia secara besar-besaran yang dipaksakan oleh pemerintahan Biden, Presiden Rusia tetap berusaha merayu Trump. Yuri Ushakov, asisten Presiden Rusia, mengatakan: (Kerja sama antara Rusia dan Amerika Serikat memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan. Ia mencatat bahwa delegasi Rusia akan mencakup asisten presiden Yuri Ushakov, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, Menteri Keuangan Anton Siluanov, dan kepala Dana Investasi Langsung Rusia Kirill Dmitriev. RT, 14/8/2025). Ini adalah indikator kelemahan bagi Rusia yang pasti ditangkap oleh Amerika. Barangkali dalam pernyataan Presiden Rusia Putin setelah pertemuan tersebut terdapat hal yang menunjukkan kelemahan dan kedalaman kecemasan Rusia atas berlanjutnya ketegangan hubungan antara kedua negara: Presiden Rusia memulai pidatonya dalam konferensi pers dengan mengakui memburuknya hubungan AS-Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia berkata: ("Diketahui bahwa tidak ada KTT yang diadakan antara Rusia dan Amerika Serikat selama empat tahun, periode yang cukup lama. Periode ini sangat sulit bagi hubungan bilateral. Jujur saja, hubungan ini telah mencapai titik terendahnya sejak Perang Dingin. Saya percaya ini tidak bermanfaat bagi kedua negara kita dan seluruh dunia." Ia menambahkan: "Pertemuan tatap muka antara presiden kedua negara sudah lama dinantikan." Putin mengatakan: "Negosiasi diadakan dalam suasana rasa hormat yang konstruktif dan saling menghargai, serta bersifat komprehensif dan sangat bermanfaat." CNN Arabic, 16/8/2025).

  9. Kesimpulannya, dengan mencermati dan merenungkan jalannya pertemuan antara Trump dan Putin serta apa yang diliput oleh media massa, dapat dikatakan bahwa apa yang dibahas dalam pertemuan mereka adalah hal-hal berikut:

    a. Ukraina: Ini adalah topik yang paling menonjol, meskipun bukan satu-satunya, namun yang paling terkenal dan paling panas. Meskipun tuntutan keamanan Rusia sangat keras, yaitu menjauhkan Ukraina dari NATO dan tidak memiliki tentara kuat yang mengancam Rusia, namun sebuah kesepakatan yang jelas telah digariskan poin-poin besarnya dalam KTT tersebut. Salah satu aspeknya adalah komitmen Rusia di masa depan untuk tidak menyerang Ukraina: (Putin menegaskan bahwa ia setuju dengan perlunya menjamin keamanan Ukraina, ia berkata: "Saya setuju dengan (Presiden AS Donald) Trump tentang perlunya menjamin keamanan Ukraina, dan kami tentu saja siap untuk bekerja dalam hal itu." Ia menambahkan: "Saya berharap kesepakatan yang kami capai bersama akan berkontribusi pada pencapaian tujuan ini, dan membuka jalan menuju perdamaian di Ukraina." CNN Arabic, 16/8/2025). Hal yang juga menegaskan adanya kesepakatan adalah Presiden Amerika memberikan nilai 10 dari 10 untuk pertemuannya dengan Putin (Sky News, 16/8/2025). Amerika akan mendinginkan medan perang di Ukraina sebagai persiapan untuk menghentikannya. Hal ini mengharuskan komitmen Amerika untuk memperlambat dukungan militer Amerika dan Barat kepada tentara Ukraina secara bertahap, kemudian mengumumkan gencatan senjata yang mungkin dilakukan melalui KTT berikutnya yang mempertemukan kedua presiden dengan Presiden Ukraina Zelensky dalam beberapa minggu ke depan. Selanjutnya, solusi di Ukraina akan dijalankan di atas api kecil, dan mungkin selama bertahun-tahun. Artinya, Amerika menunda solusi akhir dan ingin mempercepat gencatan senjata, dan solusi akhir akan memakan waktu bertahun-tahun di mana selama itu Amerika akan memaksa Ukraina untuk memberikan konsesi atas wilayah dan perbatasan sebanding dengan konsesi Rusia kepada Amerika dalam berkas-berkas lainnya. Seolah-olah Amerika membuat Rusia "tergiur" dengan mengakui batas-batas kendali Rusia di Ukraina dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi Rusia dan memuaskan Amerika.

    b. Normalisasi Hubungan AS-Rusia: Proses ini, meskipun telah dimulai sejak pertemuan Istanbul pada April 2025, diperkirakan akan mendapatkan momentumnya. Kemungkinan besar momentum itu akan tampak nyata setelah pertemuan kedua antara kedua negara yang mungkin akan diikuti oleh Ukraina dengan tujuan mengumumkan gencatan senjata. Normalisasi hubungan dianggap sebagai kebutuhan mendesak bagi Amerika untuk membuka negosiasi dalam berkas-berkas strategis lainnya.

    c. Perlombaan Senjata dan Kekuatan Strategis: Sangat mungkin, mengingat kebutuhan kedua belah pihak, negosiasi persenjataan dan kekuatan strategis nuklir serta rudal akan segera dibuka. Kemungkinan besar Rusia saat ini menyetujui syarat Amerika sebelumnya agar Tiongkok bergabung dalam negosiasi ini, sehingga menjadi trilateral. Hal ini karena perjanjian Rusia-Amerika sebelumnya merupakan kelanjutan dari perjanjian antara dua raksasa militer sejak beberapa dekade, namun diputuskan oleh Amerika karena ingin menyertakan raksasa Tiongkok di dalamnya. Apalagi Tiongkok hari ini sedang melaksanakan program persenjataan nuklir yang akan menempatkannya di jajaran dua raksasa tersebut dalam waktu dekat, di mana program nuklirnya mengarah pada kepemilikan sekitar seribu hulu ledak nuklir pada tahun 2030. Artinya, Tiongkok telah melampaui kekuatan nuklir menengah seperti Inggris dan Prancis sejak beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, kemungkinan besar semua alasan rasa sungkan Rusia untuk mengundang Tiongkok berpartisipasi dalam negosiasi Rusia-Amerika mengenai senjata strategis telah hilang. Ini merupakan langkah Amerika dalam jalannya untuk membongkar aliansi Rusia-Tiongkok. Karena semua itu, kemungkinan besar harapan Amerika untuk membongkar aliansi Rusia dengan Tiongkok sangat besar, namun tanpa melakukannya secara langsung yang dapat melukai perasaan Rusia, melainkan dengan langkah-langkah pendekatan dengan Rusia untuk melemahkan aliansi Tiongkok-Rusia secara bertahap.

  10. Akhirnya, sungguh menyakitkan bahwa negara-negara kafir mengendalikan dunia, para pemimpinnya bertemu, berdiskusi, dan merencanakan... sementara umat Islam, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, dalam kondisi tidak memiliki pengaruh dalam peristiwa-peristiwa internasional. Bahkan pengendalian independen atas persoalan-persoalannya pun tidak berada dalam kemampuannya, melainkan dikelola oleh tangan-tangan kafir penjajah!!

Masalahnya adalah bahwa umat yang berjumlah hampir dua miliar ini adalah tubuh tanpa kepala. Khilafah yang menyatukannya tidak tegak, dan Khalifah yang memelihara urusannya, yang orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya, tidak ada! Walaupun demikian, Khilafah pasti kembali dengan izin Allah, berdasarkan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kabar gembira dari Rasul-Nya ﷺ. Akan tetapi, sunnatullah menetapkan bahwa malaikat tidak akan turun dari langit untuk menegakkan Khilafah bagi kita sementara umat hanya duduk diam dan tidak bekerja untuk menegakkannya. Sebaliknya, Allah menurunkan malaikat untuk membantu kita saat kita sedang bekerja. Sesungguhnya Hizbut Tahrir, sang pelopor yang tidak pernah mendustai pengikutnya, menyeru umat untuk bekerja bersamanya demi menegakkan Khilafah. Saat itulah Islam dan kaum Muslim akan mulia, sementara kekafiran dan kaum kafir akan hina.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

25 Safar 1447 H 19 Agustus 2025 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda