Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: 1- Dalil Turunnya Surah Muhammad Sebelum Perang Badar 2- Hukum Budak Wanita yang Menikah Jika Berzina

July 04, 2013
5180

** (Seri Jawaban Al-Alim Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau)**

Kepada Murat Eroğlu

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Saya memiliki pertanyaan berikut:

Pertanyaan dalam bahasa Turki: esselamun aleykum bir sualim olacaktı.Muhammed suresi 4 ayetin bedir savaşından önce indiğini söylüyor ennebhani r a bunun delili nedir.cumhur bedirden sonra olduğunu söylüyor bunu izah ederseniz sevinirim.evli köleye uygulanacak had recm idir.

Telah saya kirimkan kepada penerjemah dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab:

Assalamu’alaikum. Saya memiliki pertanyaan berikut: Syekh An-Nabhani radhiyallahu 'anhu mengatakan: Sesungguhnya ayat keempat dari surah Muhammad turun sebelum Perang Badar. Apa dalilnya? Sebab jumhur (mayoritas ulama) mengatakan bahwa ayat tersebut turun setelah Perang Badar. Saya akan sangat senang jika Anda menjelaskannya. Jika seorang budak wanita yang sudah menikah berzina, apakah hukumannya dirajam?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pertanyaan Anda dalam bahasa Turki telah sampai kepada saya, dan setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, berikut adalah jawabannya. Jawaban ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki sebagai berikut:

Pertama: Ayat yang Anda tanyakan terdapat dalam surah Muhammad saw.:

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." (QS Muhammad [47]: 4)

Turunnya surah Muhammad saw. adalah sebelum Perang Badar. Dalilnya adalah sebagai berikut:

  1. Rasulullah saw. memberikan keputusan hukum mengenai tawanan pada hari Perang Badar. Ini berarti hukum mengenai tawanan sudah turun sebelumnya, karena Rasulullah saw. tidak menetapkan hukum tanpa wahyu.
  2. Tidak ada dalam Al-Qur’an al-Karim hukum mengenai tawanan perang kecuali dalam surah Muhammad saw. yaitu: (sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan). Ini berarti ayat ini turun sebelum Perang Badar, di mana pada perang tersebut tawanan mulai diambil.
  3. Ayat: (Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka... hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka...). Ayat ini dimulai dengan lafaz (فإذا) yang diikuti oleh kata kerja bentuk lampau لقيتم, yang bermakna pertemuan (pertempuran) tersebut belum terjadi. Ini berarti hukum dalam ayat tersebut turun sebelum adanya peperangan. Ayat tersebut menjelaskan hukum tawanan saat terjadi peperangan, dan tidak pernah terjadi peperangan yang di dalamnya terdapat tawanan yang membutuhkan hukum kecuali Perang Badar.
  4. Begitu pula firman Allah Swt.: (Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka) merupakan penjelasan hukum mengenai waktu terjadinya penawanan dalam peperangan, yaitu setelah al-itskhan (melumpuhkan musuh secara besar-besaran). Maka ayat ini turun sebelum Perang Badar, karena peristiwa al-itskhan pertama kali terjadi pada Perang Badar. Dengan demikian, penjelasan bahwa penawanan hanya dilakukan setelah al-itskhan merupakan penjelasan bagi hukum baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
  5. Oleh karena itu, manthuq (makna tersurat) ayat menunjukkan bahwa ia turun sebelum terjadinya peperangan. Ayat tersebut turun untuk menjelaskan hukum tawanan sebelum perang terjadi dan sebelum terjadinya al-itskhan, yaitu pada bagian {فإذا لقيتم} dan {حتى إذا أثخنتموهم}. Meskipun terdapat riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa surah Muhammad turun setelah Badar, namun ayat Al-Qur'an lebih diunggulkan (tarjih) di atas hadis selama keduanya tidak dapat dikompromikan (jam'u). Karena kompromi tidak mungkin dilakukan—sebab riwayat-riwayat tersebut menyatakan hukum tawanan turun setelah Badar, sedangkan ayat menunjukkan hukum tawanan turun sebelum Badar—maka digunakanlah metode tarjih. Ayat tersebut diunggulkan atas hadis-hadis yang menyelisihinya.

Hal ini dipertegas dan dikuatkan oleh fakta bahwa tidak ada hukum tawanan kecuali dalam surah Muhammad, dan tidak ada peperangan yang memerlukan hukum tawanan kecuali Badar. Selain itu, Rasulullah saw. telah memutuskan hukum bagi tawanan Badar, padahal beliau saw. tidak menetapkan hukum kecuali berdasarkan wahyu.

Kedua: Adapun hukum bagi budak wanita yang sudah menikah jika ia berzina, maka hukumannya adalah lima puluh kali cambukan. Dalilnya adalah firman Allah Swt.:

فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Dan apabila mereka telah menjaga diri dengan menikah, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh azab (hukuman) dari penyiksaan (hukuman) bagi wanita-wanita merdeka (yang belum menikah). (Kebolehan mengawini budak) itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa [4]: 25)

Makna "separuh dari azab (hukuman) bagi wanita-wanita merdeka" adalah separuh dari had wanita merdeka yang berzina dalam keadaan belum menikah. Maka kata al-muhshanat di sini bermakna wanita merdeka yang belum menikah (gadis), yang jika berzina hukumannya adalah seratus kali cambuk, sehingga separuhnya adalah lima puluh. Al-muhshanat di sini bukan bermakna wanita merdeka yang sudah menikah, karena hukumannya dalam kasus itu adalah rajam, dan rajam tidak dapat dibagi dua. Adanya redaksi "separuh dari azab bagi wanita-wanita merdeka" merupakan qarinah (indikasi) bahwa yang dimaksud dengan separuh tersebut adalah hukuman bagi wanita merdeka yang belum menikah jika berzina, yaitu separuh dari seratus adalah "lima puluh kali cambuk". Artinya, Daulah Khilafah menjatuhkan sanksi hukum kepada mereka sebanyak lima puluh kali cambuk. Perlu disadari bahwa hukum hudud ditegakkan oleh negara, bukan oleh individu; ini adalah perkara penting yang harus dipahami.

Namun, pertanyaan Anda mengenai budak wanita yang sudah menikah jika berzina menarik perhatian saya. Saat ini sudah tidak ada lagi hamba sahaya (budak), lantas mengapa Anda bertanya?

Saya khawatir yang Anda maksud dengan hamba sahaya (jariyah) adalah pelayan atau asisten rumah tangga yang berstatus wanita merdeka. Mereka ini tidak termasuk kategori milkul yamin (budak), sehingga tidak berlaku bagi mereka hukum "separuh dari hukuman wanita merdeka". Sebaliknya, pelayan yang merdeka mengikuti hukum wanita merdeka pada umumnya. Anda harus memahami hal ini dengan baik. Artinya, hukum yang disebutkan dalam ayat tersebut hanya berlaku bagi hamba sahaya (milkul yamin), yang saat ini sudah tidak ada lagi. Adapun para pelayan/asisten rumah tangga, mereka adalah wanita-wanita merdeka.

Terjemahan jawaban ke dalam bahasa Turki:

"cevap:

Aleykum esselam ve rehmetullah ve berkatuh

Türkçe olarak gönderdiğin sorular bana geldi, Arabçaya çevirildikten sonra sana cevabları veriyorum. Aşağıdaki şekilde cevap Türkçeye çevirildi:

Birinci sorunun cevabı : Muhammed suresinde geçen ayet:

(فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ)

"Eğer kafirlerle karşılaşmışsanız boyunlarını vurun, onları iyice vurup sindirince (onlardan çok kimseyi öldürdükten sonra) onlardan esir alın. Bu esirler ondan sonra ya onlara minnet gösterilerek bırakırılır, ya da fidya ile bırakılır. Ta harp ağırlıklarını bırakınca kadar böyle davranın. Allah isteseydi onlardan intikam alırdı. Fakat Allah savaşla birbirinizle sizi denemek ister. Nitekim Allah kendi yolunda savaşanların yaptıkları işleri boşa çıkartmaz". (Muhammed 4)

Muhammed s.a.s suresi Bedir savaşından önce nazil oldu, bunun delili şöyledir:

1. Bedir gününde Resulullah s.a.s esirler hakkında hüküm verdi. Bunun manası esirler hakkındaki hüküm daha önce nazil oldu. Zira resulullah s.a.s vahy olmaksızın hüküm vermez.

2. Kura'n- i kerim'de esirlerle ilgili hüküm Muhammed suresi dışında başka yerde geçmez. "Bu esirler ondan sonra ya onlara minnet gösterilerek bırakırılır, ya da fidya ile bırakılır".

3. Bu ayet:

(فإذا لقيتم الذين كفروا فضرب الرقاب حتى إذا أثخنتموهم فشدوا الوثاق فإما مناً بعد وإما فداءً)

(Eğer kafirlerle karşılaşmışsanız boyunlarını vurun, onları iyice vurup sindirince (onlardan çok kimseyi öldürdükten sonra) onlardan esir alın. Bu esirler ondan sonra ya onlara minnet gösterilerek bırakırılır, ya da fidya ile bırakılır).

(فإذا) (eğer) lafzıyla başladı ve arkasında "لقيتم" "karşılaştınız" geçmiş zaman ifadesi geçti; bunun manası karşılaşma dahagerçekleşmedi. Başka ifadeyle ayette geçen hüküm savaş başlamdan önce nazil olmuştu. Işte bu ayet savaş gerçekleşirse esirlerin hükmünü belirtiyor. Oysa esirler ancak Bedir'de alındı ve hüküm verme ihtiyacı hiss edildi.

4. Allah- u tealanın şu sözü:

(حتى إذا أثخنتموهم فشدوا الوثاق)

"onları iyice vurup sindirince (onlardan çok kimseyi öldürdükten sonra)"

Savaşta esir alma zamanını tayin eden hükmün beyanıdır, bu ise; çok öldürma hasıl olduktan sonra. Bu nedenle bu ayet Bedir'den önce nazil olmuş olmalıdır. Zira çok öldürme konusu ilk defa Bedir'de hasıl olmuştu. Esir alma meselesi ancak çok öldürme olayı hasıl olacağına dair açıklama daha olmamış bir konu için yeni bir hükmün beyanı olur.

5. Buna binaen; ayetin mantuku kendisinin savaş olmadan önce nazil olduğunu gösterir. Yinede "eğer karşılaşmışsanız" ve "Onları iyice vurup sindirince" (çok öldürme olayı) ifadeleri bu ayetin savaş olmadan önce esirlerle ilgili hükmü belirterek nazil olduğunu gösterir. Orada bazı rivayetler Muhammed suresinin Bedir'den sonra nazil olduğu gösteriyor. Eğer ayet ve hadis arasında bağdaştırma mümkün olmasa ayet hadise tercih edilir. Evla olan onların arasında bağdıştırmayı gerçekleştirmektir. Fakat; rivayetler: esirlerin hükmü Bedir'den sonra nazil oldu. Ama ayet: esirlerin hükmü Bedir'den önce nazil oldu. Mademki bağdıştırma mümkün değil, ayet hadise tercih edilir.

Bu tercihi pekiştiren ve kuvvetlebdiren husus ise, esirlerin hükmü yalnız Muhammed suresinde geçmesi ve esirler hükmü göstermek için ihtiyacı hiss ettiren savaş Bedir'den başka savaş bulunmamasıdır. Resulullah s.a.s'in ancak Bedir'deki esirler hakkında hüküm vermesi ve vahy olmaksızın hüküm vermemesidir.

Ikinci sorunun cevabı: evli olan cariye zina ederse onun cezası elli kırpçtır. Bunun delili Allahın şu sözü:

(فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

"Evlendikten sonra Cariyeler bir fuhuş yaparlarsa onlara hür olan kadınlara verilen cezanın yarısı verin. Bu (cariye ile evlenme) içinizden sıkıntıya düşmekten korkanlar içindir. (cariye ile evlenmeyip) sabrederseniz sizin için daha hayırlıdır. Allah mağfiret ve rehmet sahibidir". (Nisa 25)

Hür olan kadın evli olmayıp zina ederse kendisine yüz kırpaç vurulur. Cariye olan kadın evlenirse ve zina ederse bunun yarısı ceza alır. Bunun yarısı elli kırpaçtır. ayette "muhsan" kadın geçti; bunun manası evli olan hür kadın değil evli olmıyan hür kadındır. Zira ayette "muhsan olan hür kadın" ifadesi evli olmıyan hür kadının cezasının yarısı olduğuna dair bir karinedir. Çünkü hür olan evlendikten sonra zina yaparsa onun cezası recim etmektir, taşlamaktır. Hilafet devleti evli olan cariye zina ederse ona elli kırpaç cezası verir. Nitekim cezaları uygulayan fertler değil devlettir. Bu husus idrak edilmelidir.

Evli olan cariye zina ederse diye senin sorduğun soru benim dikkatimi çekti! Şu anda cariyeler bulunmadığı halde niye soruyorsun? Korkarımki; hür olan hizmetçi kadınları kast edersin! Bunlar ise cariye sayılmaz, "mülk-ülyemin" veya köleler sayılmaz. Zina eden evli olan Cariyelere verilen hüküm onlara uygulanmaz. Daha doğrusu hür olan hizmetçinin hükmü hür olan kadınların hükmüdür. Bunu iyice idrak etmek gerekir. Yukarıdaki hüküm yalnız mülk-ülyemin olan cariyelere uygalanır. Bu sınıf insanlar şu anda bulunmuyor. Hizmetçiler ise hür kadınlardır".

Saudara Kalian, Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

Link jawaban dari halaman Amir di Facebook

Link jawaban dari situs Amir

Link jawaban dari halaman Amir di Google Plus

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda