Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab-Jawab Pertanyaan: Agresi Brutal Tiongkok di Turkistan Timur - Aktivitas Pengembangan Rudal di Anak Benua India

March 11, 2017
5294

Pertanyaan Pertama: (Al-Jazeera Net pada 2/3/2017 melaporkan berita tentang mobilisasi militer besar-besaran Tiongkok di dalam wilayah Turkistan Timur "Xinjiang", Tiongkok Barat. Dalam berita tersebut disebutkan, "Otoritas Tiongkok dua hari lalu mengerahkan lebih dari sepuluh ribu tentara di kota Urumqi, provinsi Xinjiang, wilayah barat laut negara itu yang dihuni oleh etnis Muslim Uighur dan telah mengalami ketegangan yang meningkat selama bertahun-tahun. Pasukan keamanan mengadakan parade militer yang diikuti oleh puluhan kendaraan lapis baja dan mobil antipeluru, yang bertepatan dengan penerbangan intensif helikopter. Parade militer ini dianggap sebagai yang terbesar di wilayah tersebut, yang selama tahun ini telah menyaksikan tiga parade serupa di wilayah Hotan, Kashgar, dan Aksu"). Apakah Tiongkok sedang mempersiapkan pembantaian baru di wilayah Muslim ini? Terima kasih.

Jawaban: Untuk mengungkap esensi dari niat Tiongkok terhadap Muslim di wilayah ini, perlu disebutkan ringkasan latar belakang konflik antara Tiongkok dan Muslim Uighur di wilayah tersebut:

  1. Konflik antara Tiongkok dan Muslim di wilayah ini bukanlah hal baru, terutama sejak tahun 1863. Turkistan Timur, yang merupakan ujung paling timur negeri-negeri Islam, telah mengalami berbagai kampanye pembantaian oleh Tiongkok. Lebih dari satu juta Muslim Uighur terbunuh dalam bentrokan yang terjadi pada tahun 1949 ketika rezim komunis Tiongkok di bawah pimpinan Mao Zedong berkuasa; di mana ia menghapus kemerdekaan wilayah tersebut, mencaploknya ke dalam Republik Rakyat Tiongkok, serta mengosongkan wilayah tersebut dari penduduk Muslimnya dan menyebarkan mereka ke wilayah pedalaman di Tiongkok. Namun, Muslim Uighur yang memiliki tekad kuat tidak menyerah kepada Tiongkok. Revolusi mereka pecah pada tahun 1933 dan 1944, serta berbagai intifadah yang terus berlanjut di wilayah tersebut melawan pendudukan Tiongkok, seperti yang terjadi pada tahun 2009.

  2. Islam adalah alasan utama kebencian mendalam Tiongkok terhadap Muslim Uighur. Masjid-masjid menjadi sasaran kebencian Tiongkok terhadap Islam; mereka menghancurkan sekitar 25 ribu masjid pada tahun 1949, dan hanya menyisakan sekitar 500 masjid di wilayah yang luas ini. Hari ini, setelah Tiongkok melepaskan separuh komunisnya (dalam hal ekonomi), pengejaran terhadap segala bentuk manifestasi religius, terutama di kalangan pemuda, tetap menjadi kebijakan nyata yang dijalankan Tiongkok di wilayah tersebut.

  3. Karena kekayaan alam, terutama minyak di wilayah yang oleh Tiongkok disebut Xinjiang—yang berarti "Koloni Baru"—Tiongkok sengaja mengosongkan wilayah tersebut dari penduduk asli Uighur dan mendorong mereka ke wilayah pedalaman Tiongkok. Di sisi lain, Tiongkok mendorong etnis Han untuk bermukim di sana, hingga hari ini etnis Uighur (10 juta jiwa) hanya mencakup 40% dari total populasi, dan konsentrasi mereka semakin bergeser ke wilayah selatan dan pedesaan. Wilayah ini ditandai dengan kemiskinan yang parah, terutama di wilayah selatan di mana konsentrasi Muslim berada, serta daerah pedesaan di mana etnis Han sangat sedikit atau bahkan tidak ada.

  4. Meskipun demikian, vitalitas Muslim di Turkistan Timur terus berlanjut sedemikian rupa sehingga memungkinkan kembalinya identitas Islam dalam kehidupan, terutama di pedesaan. Gejolak terus mengguncang wilayah tersebut dari waktu ke waktu, menjadikannya wilayah yang tidak stabil karena adanya ledakan-ledakan dan tindakan kekerasan terhadap negara serta keteguhan sikap untuk memisahkan diri dari Tiongkok. Hal ini menjadikannya titik terlemah negara dari dalam. Sebaliknya, Tiongkok memantau detail kehidupan Muslim Uighur, melarang media memantau operasi eksekusi dan penangkapan yang mereka lakukan dalam kegelapan yang dipaksakan di wilayah tersebut. Tiongkok juga melacak Muslim Uighur yang melarikan diri dan mulai bersuara di luar negeri. Dengan dalih "terorisme", Tiongkok berhasil menangkap banyak dari mereka melalui saluran keamanan internasional, terutama dari negara-negara Asia Tengah dan Pakistan.

  5. Karena Islam masih hidup di hati warga Uighur, hal itu menimbulkan ketakutan di hati para thaghut Tiongkok. Pejabat tinggi urusan agama Tiongkok, Wang Zuoan, direktur Administrasi Urusan Agama Tiongkok, mengatakan pada Konferensi Nasional Asosiasi Islam Tiongkok bahwa "pemikiran ekstremis kini menyusup ke wilayah-wilayah pedalaman." Presiden Xi Jinping juga mendesak Muslim Tiongkok untuk menolak "penyusupan" agama yang ilegal (Al-Masry Al-Youm, 29/11/2016, mengutip surat kabar resmi China Daily). Ketakutan ini dipertegas oleh laporan Russia Today pada 1/3/2017 bahwa "Tiongkok telah berulang kali memperingatkan bahwa kekuatan ekstremis dari luar berada di balik ide pelaksanaan operasi teroris di Xinjiang dan wilayah lain di negara tersebut, yang mendorong otoritas untuk melancarkan kampanye penyerbuan yang keras."

  6. Menghadapi semangat kaum Muslim yang terlihat dari pembangunan kembali ribuan masjid di wilayah tersebut dan penyebaran ide-ide Islam, Tiongkok mulai menerapkan kembali "Revolusi Kebudayaan" di wilayah tersebut, memperketat larangan terhadap simbol-simbol Islam, dan mempersiapkan kampanye teror baru terhadap Muslim. Bentuk kampanye ini sejauh ini adalah sebagai berikut:

    a- Penyitaan Paspor: BBC melaporkan pada 24/11/2016 bahwa "Otoritas Tiongkok meminta seluruh warga di wilayah Xinjiang yang berpenduduk mayoritas Muslim untuk menyerahkan paspor mereka kepada polisi... Koresponden BBC di Tiongkok, Stephen McDonell, mengatakan permintaan penyerahan paspor tersebut datang melalui pengumuman resmi polisi di internet. Kini setiap warga di Xinjiang wajib menyerahkan paspornya, kemudian polisi menyimpannya. Hal ini berarti mulai sekarang setiap warga wilayah tersebut harus mengajukan permohonan jika ingin bepergian...!"

    b- Mempersempit ruang gerak Muslim dalam ibadah: France 24 melaporkan pada 6/6/2016 bahwa "Otoritas Tiongkok mengeluarkan keputusan pada hari Senin yang melarang pegawai sektor publik dan pelajar untuk berpuasa Ramadhan di wilayah Muslim Xinjiang. Mereka juga mewajibkan restoran untuk tetap buka." Langkah ini telah diikuti pemerintah sejak 2015, sebagaimana dilaporkan i24 News pada 18/6/2015 bahwa "Otoritas Tiongkok melarang pegawai sipil, pelajar, dan guru di provinsi Xinjiang untuk berpuasa di bulan Ramadhan... dan bahwa 'restoran akan beroperasi dengan jam normal selama Ramadhan'. Pejabat di distrik Bole diberitahu bahwa 'selama Ramadhan jangan terlibat dalam puasa dan ritual keagamaan lainnya', menurut laporan yang diterbitkan di situs web pemerintah daerah setelah pertemuan minggu ini."

    c- Mengejar dan menangkap siapa saja yang menunjukkan identitas Islam: Di bawah judul "Tiongkok Mengejar Muslim.. Menetapkan Hadiah Uang bagi Siapa Saja yang Melaporkan Orang Berjanggut dan Bercadar", situs surat kabar Al-Diyar (23/2/2017) mengutip surat kabar lokal di Tiongkok yang menyebutkan bahwa "Tiongkok menetapkan hadiah sebesar dua ribu yuan (275 euro) bagi siapa saja yang melaporkan pemuda berjanggut atau wanita bercadar di provinsi Xinjiang... Surat kabar lokal Hotan Daily menyebutkan bahwa otoritas kota Hotan mengalokasikan dana sebesar 100 juta yuan (13,7 juta euro) untuk mendanai hadiah 'anti-terorisme'. Hadiah tersebut bisa mencapai 5 juta yuan jika berhasil mengungkap rencana serangan, atau bagi siapa saja yang 'memukul, membunuh, melukai, atau mengendalikan perusuh'."

  7. Berdasarkan semua hal tersebut, kampanye penindasan Tiongkok terhadap Muslim Uighur di Turkistan Timur "Provinsi Xinjiang" mungkin sedang dalam tahap persiapan dan eksekusi bisa terjadi kapan saja. Dalihnya adalah wilayah tersebut menyaksikan banyak tindakan kekerasan terhadap negara yang dapat digunakan Tiongkok sebagai alasan untuk melakukan kampanye menyeluruh, setelah mereka mengerahkan ribuan tentara, panser, mobil lapis baja, dan helikopter ke wilayah tersebut. (Sekretaris Partai Komunis di Xinjiang, Chen Quanguo, mengatakan bahwa pengerahan militer di wilayah tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan dan menstabilkan situasi setelah kerusuhan baru-baru ini di beberapa daerah selama tahun ini). (Al-Jazeera Net, 2/3/2017).

  8. Yang memilukan adalah bahwa tindakan brutal Tiongkok terhadap Muslim Uighur ini terjadi di depan mata jutaan Muslim di dunia tanpa mereka mampu menghentikannya. Hal ini dikarenakan jutaan Muslim terpecah-belah, tidak disatukan oleh Negara Umat, Negara Islam, Khilafah Rasyidah yang hilang, yang wajib bagi setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mengembalikannya. Dengan itu, akan ada seorang Khalifah, seorang Imam, yang mengurusi urusan umat dengan benar, yang menjadi perisai dan orang-orang berperang di belakangnya, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah ra. yang berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu laksana perisai (junnah), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung." (HR Bukhari)

Pada saat itulah, Tiongkok maupun selain Tiongkok tidak akan berani menyakiti seorang Muslim pun karena mereka sadar bahwa balasan yang setimpal akan menanti mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Mulia.


Pertanyaan Kedua: (Baru-baru ini terdapat serangkaian aktivitas peluncuran rudal di Anak Benua India. Pada 1 Maret 2017, India menguji sistem rudal pencegat canggih di Pulau Abdul Kalam (lepas pantai Odisha di Teluk Benggala). Awal tahun ini, Pakistan menguji sistem rudal Ababeel yang memiliki jangkauan hingga 2.200 km dan mampu membawa banyak hulu ledak. Apakah uji coba rudal ini merupakan bagian dari perlombaan senjata baru antara India dan Pakistan? Dan sejauh mana dampak regional dari uji coba ini?). Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban: Uji coba rudal di India dan Pakistan merupakan kelanjutan dari upaya kedua negara dalam mencapai ketahanan nuklir melalui pengembangan kemampuan untuk melakukan serangan balasan (Second Strike Capability). Untuk memahami hal ini dengan lebih baik, perlu dipahami ringkasan perlombaan senjata nuklir di Anak Benua India.

  1. Negara-negara berusaha memiliki senjata nuklir karena dua alasan mendasar; Pertama: Untuk melipatgandakan keunggulan militer konvensional. Misalnya Korea Utara, mereka menganggap senjata nuklir esensial untuk mengatasi keunggulan militer konvensional Korea Selatan dan mengganggu Amerika yang memiliki ribuan tentara di zona demiliterisasi Korea. Kedua: Untuk menghadapi negara-negara bersenjata nuklir. Misalnya, ketika Uni Soviet gagal memperluas payung nuklirnya ke Tiongkok selama Perang Korea, Tiongkok berusaha mendapatkan senjata nuklirnya sendiri. Hal ini mendorong India untuk melanjutkan program nuklirnya, yang kemudian memicu Pakistan untuk meluncurkan program nuklirnya pula. Dengan demikian, ketiga negara tersebut berusaha mencapai kondisi paritas nuklir satu sama lain guna mencegah kemungkinan serangan nuklir di antara mereka: Waltz, K. (1981). The Spread of Nuclear Weapons: More May Be Better: Introduction. The Adelphi Papers, 21(171), pp.383-425.

  2. Meskipun demikian, sekadar memiliki hulu ledak nuklir tidaklah cukup untuk menghalangi musuh nuklir dari tindakan perang. Agar tujuan pencegahan nuklir (Nuclear Deterrence) tercapai, negara pemilik hulu ledak nuklir harus memiliki kemampuan untuk melindungi persenjataan nuklirnya dari serangan apa pun. Kemampuan untuk meluncurkan hulu ledak nuklir dan mengenai target nuklir musuh disebut "Serangan Pertama" (First Strike), sedangkan kemampuan untuk menerima serangan pertama dan meluncurkan serangan nuklir balasan dikenal sebagai "Serangan Kedua" (Second Strike). Artinya, negara tersebut mampu bertahan hidup dari serangan pertama dan masih memiliki hulu ledak nuklir yang cukup untuk melakukan serangan balik. Inilah yang disebut dengan Triad Nuklir, yang terwujud ketika sebuah negara memiliki kapal selam yang mampu meluncurkan rudal nuklir, di mana kapal selam sulit dideteksi dan memiliki kemampuan untuk memberikan serangan balik yang melumpuhkan kekuatan udara.

  3. Pencegahan nuklir antara negara-negara nuklir bekerja dengan baik ketika kedua negara memiliki kemampuan Second Strike. Ini menjamin terjadinya kehancuran bersama bagi kedua belah pihak, dan ketakutan akan hal ini mencegah kedua belah pihak untuk melancarkan serangan pertama. Para ahli strategi nuklir menyebut kondisi ini sebagai Mutually Assured Destruction (MAD). Oleh karena itu, berbeda dengan senjata konvensional, nilai sebenarnya dari senjata nuklir adalah untuk mencegah musuh menggunakan senjata nuklirnya.

  4. Sejak India dan Pakistan memulai uji coba nuklir pada tahun 1998, para ilmuwan nuklir, ahli strategi, dan politisi telah berusaha menerapkan teori pencegahan nuklir tersebut di lapangan. Karena fenomena MAD, kedua belah pihak percaya bahwa "perdamaian nuklir" ada di anak benua tersebut. Inilah penggerak utama di balik perkembangan pesat teknologi rudal, pengecilan ukuran hulu ledak nuklir agar bisa dibawa oleh rudal, dan pengembangan sistem peluncuran. Di saat yang sama, perspektif pencegahan nuklir harus digunakan untuk memahami uji coba rudal baru-baru ini antara India dan Pakistan. Selama dekade terakhir, terdapat kemajuan dalam teknologi rudal untuk mengamankan opsi First Strike di kedua belah pihak. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan upaya yang lebih besar untuk mempertahankan opsi Second Strike. Perhatikan contoh berikut:

    a- Rudal Balistik yang Diluncurkan dari Kapal Selam (Submarine-Launched Ballistic Missile - SLBM): Pada 9 Januari 2017, Pakistan melakukan uji coba sukses rudal Babur-3 dari lokasi yang tidak disebutkan di Samudra Hindia, di mana rudal jelajah diluncurkan dari bawah air dengan jangkauan 450 km. Uji coba dilakukan di laut untuk menghindari deteksi. Militer Pakistan menyatakan bahwa uji coba rudal Babur-3 memberikan Islamabad kemampuan Second Strike: https://www.wsws.org/en/articles/2017/02/28/inpk-f28.html. Namun, Pakistan tidak memiliki kapal selam nuklir dan terpaksa membawa Babur-3 dalam kapal selam diesel-listrik yang memiliki kemampuan terbatas untuk berada di bawah air. Rudal Babur-3 Pakistan adalah respon terhadap sistem rudal India (K4) yang diluncurkan oleh kapal selam rudal balistik India (SLBM) yang diluncurkan pada Mei 2014, dengan jangkauan mencapai 3.000 km yang dapat menjangkau Pakistan dan Tiongkok. Dengan demikian, baik India maupun Pakistan kini memiliki kemampuan Second Strike.

    b- Kendaraan dengan Target Ganda (Multiple Independently Targetable Re-entry Vehicle - MIRV): India melakukan uji coba dua rudal berkemampuan nuklir pada Desember 2016 dan Januari 2017. Pertama adalah Agni-IV, rudal balistik darat-ke-darat yang merupakan evolusi cepat dari persenjataan nuklir. Kedua adalah Agni-V yang membawa banyak hulu ledak nuklir dengan jangkauan mencapai 5.000 km. Selain itu, pada Januari 2017, New Delhi menguji Agni-IV, sistem dengan jangkauan 4.000 km. Rudal Agni-V memberikan kemampuan untuk menghantam target nuklir yang berada di Tiongkok. Dan tahun ini, Pakistan menguji sistem rudal Ababeel yang memiliki kemampuan MIRV. Dalam pernyataan militer Pakistan disebutkan: "Operasi uji coba pertama rudal balistik darat-ke-darat Ababeel yang memiliki jangkauan 2.200 km dan mampu membawa banyak hulu ledak dengan menggunakan teknologi MIRV telah sukses dilakukan, rudal ini mampu menangani banyak target dengan presisi tinggi dan mengalahkan radar musuh": https://www.dawn.com/news/1310630. Rudal Ababeel Pakistan dirancang untuk menembus pertahanan rudal balistik perisai nuklir India. India juga secara aktif menguji rudal pencegat seperti Ashvin untuk menjatuhkan kemungkinan rudal nuklir Pakistan. Dengan menyebarkan teknologi MIRV, satu rudal nuklir dapat berubah menjadi beberapa rudal nuklir, yang membuatnya mampu melumpuhkan kemampuan rudal pencegat.

  5. Tidak diragukan lagi bahwa perlombaan senjata nuklir antara India dan Pakistan adalah untuk mempersiapkan opsi Second Strike yang akan mengubah keseimbangan nuklir dengan pesaing India (yakni Tiongkok), sementara Tiongkok hanya bekerja pada batas minimum dari masalah pencegahan nuklir. Pengembangan pesat teknologi MIRV dan kapal selam pembawa rudal oleh India telah menyemangati para pemimpinnya. Panglima Angkatan Darat India (Jenderal Bipin Rawat) menyatakan bahwa negaranya "siap untuk berperang di dua front" melawan Pakistan dan Tiongkok secara bersamaan: http://www.ibtimes.co.uk/india-prepared-two-front-war-pakistan-china-says-new-army-chief-1599031.

Uji coba rudal Agni-V India telah membuat Tiongkok marah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, menyatakan: "Dewan Keamanan PBB memiliki peraturan yang jelas mengenai apakah India dapat mengembangkan rudal balistik yang mampu membawa senjata nuklir," dan kementerian tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa ambisi India dengan Agni-V mungkin dimaksudkan untuk menghadapi Tiongkok: http://www.upi.com/Defense-News/2016/12/27/India-tests-Agni-V-ballistic-missile-tensions-with-China-rise/9001482862013/.

  1. Tidak mungkin India mengadopsi kebijakan provokatif ini tanpa dukungan Amerika melalui 123 Agreement yang ditandatangani pada tahun 2005, yang memungkinkannya mendapatkan pasokan bahan bakar nuklir yang stabil untuk reaktor sipilnya, sehingga bahan bakar nuklirnya dapat digunakan dalam program nuklir militer India. Administrasi Trump telah menunjukkan dengan jelas bahwa mereka ingin membangun kemajuan yang telah dicapai oleh administrasi AS sebelumnya terhadap India. Pada 8 Februari 2017, Menteri Pertahanan AS (Jenderal James Mattis) dalam percakapan telepon dengan rekannya dari India (Manohar Parrikar) memuji "kemajuan luar biasa" yang telah dicapai India dalam "tahun-tahun terakhir" dan merujuk pada "kerjasama bersama antara kedua negara di bidang pertahanan," serta mengatakan bahwa administrasi baru sangat antusias untuk "mempertahankan momentum dan membangun di atasnya": https://www.wsws.org/en/articles/2017/02/15/inus-f15.html.

Diharapkan Amerika akan terus memanfaatkan perlombaan senjata nuklir di anak benua ini untuk menyeret Tiongkok ke dalam perlombaan senjata nuklir. Tujuan Amerika dari hal tersebut adalah untuk mengalihkan Tiongkok dari aktivitas ekonomi ke aktivitas militer, agar Tiongkok lebih mudah runtuh, persis seperti yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Uni Soviet. Saat ini, Tiongkok masih mempertahankan tingkat pencegahan nuklir minimum dan menolak untuk terseret ke dalam perlombaan senjata nuklir.

12 Jumadil Akhir 1438 H 11 Maret 2017 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda