Pertanyaan:
Pada 06/01/2018, Iran menuduh wilayah Kurdistan berada di balik demonstrasi protes di Iran, dan pada 07/01/2018, wilayah Kurdistan menanggapi dengan bantahan. Teramati dalam demonstrasi besar yang terjadi di wilayah Kurdistan, khususnya di provinsi Sulaymaniyah pada 19/12/2017, beredar kabar bahwa Iran berperan di dalamnya. Apakah dapat dikatakan bahwa protes di Iran pada 28/12/2017 adalah balasan dari wilayah Kurdistan dengan prinsip "satu sama"? Dengan kata lain:
- Apakah yang telah dan sedang terjadi di Iran serta yang terjadi di wilayah Kurdistan merupakan aksi dan reaksi?
- Apakah keduanya merupakan gerakan mandiri atau digerakkan oleh faktor luar?
- Jika digerakkan faktor luar, siapakah penggerak ini? Dan apakah protes-protes ini dimaksudkan untuk mengubah rezim di Kurdistan atau Iran? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawaban:
Kedua peristiwa tersebut bukanlah aksi dan reaksi. Tuduhan Iran terhadap Erbil hanyalah bentuk kegamangan politik akibat peristiwa yang bersifat internal. Erbil saat ini sedang disibukkan dengan krisisnya sendiri yang hampir menghancurkan keberadaannya, dan dalam kondisi saat ini tidak memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa di Iran! Kegamangan ini tampak jelas dari penyebaran tuduhan Iran ke berbagai pihak; pejabat Iran menyalahkan kekuatan asing. Gholamali Khoshroo, delegasi Iran untuk PBB, pada hari Jumat mengatakan: ("Teheran memiliki bukti kuat bahwa mereka 'para demonstran' jelas menerima arahan dari luar"... BBC Arabic, 07/01/2018). Oleh karena itu, tuduhan Iran terhadap Erbil adalah bagian dari kegamangan ini: (Sekretaris Dewan Kebijaksanaan Iran, Mohsen Rezaee, menyatakan kemarin 06/01/2018 bahwa detail skenario peristiwa di Iran direncanakan di Erbil, wilayah Kurdistan Irak... Russia Today, 07/01/2018). Pihak Kurdistan telah membantah tuduhan ini melalui Safeen Dizayee, juru bicara pemerintah wilayah Kurdistan (Sumber sebelumnya). Dengan demikian, masalahnya bukan aksi dan reaksi, melainkan masing-masing memiliki tujuan dan kondisinya sendiri. Namun, kedua peristiwa tersebut bermula secara mandiri (internal) kemudian dikelilingi oleh dorongan eksternal untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan Kurdistan dan Iran sesuai dengan alur peristiwa, penjelasannya sebagai berikut:
Pertama: Peristiwa di Kurdistan:
Berbagai kantor berita melaporkan bahwa pada 19/12/2017 telah meletus demonstrasi dari para guru dan pegawai di Sulaymaniyah yang tidak menerima gaji selama berbulan-bulan. Demonstrasi ini kemudian mencakup sektor massa yang luas di provinsi Sulaymaniyah, dan meluas ke daerah lain di wilayah Kurdistan termasuk bagian dari provinsi Erbil. Kecepatan keterlibatan massa dalam demonstrasi ini menunjukkan sempitnya hidup masyarakat akibat memburuknya urusan ekonomi wilayah Kurdistan setelah menyusutnya sumber daya minyak utama akibat kendali Baghdad atas provinsi Kirkuk dan tekanan lainnya dari Baghdad, khususnya penutupan bandara Erbil dan Sulaymaniyah bagi penerbangan luar negeri, yang menambah kesulitan perjalanan ke luar negeri karena penumpang terpaksa melalui bandara internasional Baghdad. Yang menambah parah keadaan adalah tuduhan terhadap individu pemerintah daerah dan orang-orang berpengaruh atas korupsi dan penguasaan kekayaan di wilayah tersebut. Demonstrasi menyebar seperti api di jerami kering, terutama di daerah-daerah yang merupakan basis pengaruh partai-partai Kurdi yang menentang Masoud Barzani dan Partai Demokrat Kurdistan (KDP)-nya. Faktor lain yang memperburuk kondisi kehidupan adalah pengungsian keluarga Kurdi dari Kirkuk dan tempat lain ke wilayah Kurdistan di bawah tekanan kekhawatiran akan gerakan lokal yang berlawanan. Semua ini menunjukkan bahwa gerakan-gerakan ini dimulai secara mandiri.
Ini adalah demonstrasi protes yang ditujukan terutama terhadap pemerintah Erbil yang dikuasai oleh Partai Demokrat Kurdistan (KDP), partai Barzani yang setelah pengunduran dirinya dari kursi kepresidenan wilayah tersebut, ia bersembunyi di balik keponakannya, Nechirvan Barzani. Hal ini dipahami dari beberapa aspek, di antaranya:
a. Bahwa demonstrasi meletus pertama kali di provinsi Sulaymaniyah, provinsi yang dikuasai oleh gerakan dan partai-partai penentang Masoud Barzani yang merupakan agen Inggris. Gerakan Perubahan (Gorran) berpusat di Sulaymaniyah, dan faksi kuat Talabani dalam Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK) juga berpusat di Sulaymaniyah. Partai-partai ini mampu memicu demonstrasi dan mengaturnya, meskipun tidak mampu mengendalikan jalannya demonstrasi secara total.
b. Pernyataan Nechirvan yang menyiratkan bahwa demonstrasi tersebut ditujukan terhadap pemerintahannya. (Perdana Menteri Wilayah Kurdistan Nechirvan Barzani memperingatkan adanya "konspirasi besar" yang sedang dirancang melawan wilayah tersebut dan itu lebih besar dari yang dibayangkan siapapun". Ia menunjukkan adanya "pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan di wilayah tersebut dan membelokkan demonstrasi dari jalurnya serta menyebarkan kekerasan". Ia menambahkan "Ada tangan-tangan tersembunyi yang mencoba menciptakan kekacauan di Kurdistan dan kami akan terus mencegahnya". Merujuk pada pihak-pihak yang tidak disebutkan namanya, "mendukung upaya menuju kekacauan tersebut namun otoritas keamanan di wilayah tersebut akan menghadapi kasus-kasus itu dengan tegas...", menjelaskan bahwa "kita menghadapi ancaman serius dan konspirasi yang lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapapun, apa yang terjadi di batas provinsi Sulaymaniyah adalah upaya untuk merusak keamanan dan stabilitas", menyerukan perlunya persatuan barisan dan kerja sama semua pihak untuk mengatasinya. Situs Basnews Kurdi, 21/12/2017). Dengan itu ia merujuk pada partai-partai Kurdi di Sulaymaniyah yang menentang referendum dengan keras, dan memiliki hubungan dengan Amerika serta pengikut mereka di ibu kota Baghdad dan Teheran. Di antara partai-partai yang memicu demonstrasi dan protes terhadap pemerintah Barzani adalah Gerakan Perubahan (Gorran) yang setelah memisahkan diri dari partai PUK menjadi kekuatan politik kedua dalam pemilu 2009 di Kurdistan. Menyusul protes tersebut, Gerakan Perubahan pimpinan Gorran dan Kelompok Islam Kurdistan mengundurkan diri dari pemerintah Erbil. Pemimpin Kelompok Islam, Yassin Hassan, mengatakan dalam wawancara dengan Al-Jazeera ("Setelah tembakan dilepaskan ke arah demonstran, Kelompok Islam dan Gerakan Perubahan memutuskan untuk mundur dari pemerintahan ini secara total, kami menuntut pemerintah untuk segera membubarkan diri dan membentuk pemerintah penyelamat nasional"... Al-Jazeera Net, 21/12/2017). Demikian pula BBC pada 26/12/2017 melaporkan posisi salah satu pemimpin Gerakan Perubahan, yaitu Yousif Mohammed, Ketua Parlemen wilayah Kurdistan Irak, di mana ia mengundurkan diri untuk memperlemah posisi pemerintah Erbil menghadapi protes. (Ketua Parlemen wilayah Kurdistan Irak mengumumkan pengunduran dirinya sebagai protes atas apa yang ia gambarkan sebagai kendali sekelompok orang dan kelompok tertentu atas otoritas legislatif. Yousif Mohammed mengkritik keras "monopoli kelompok tersebut terhadap politik, ekonomi, tanah, kekayaan, dan seluruh aspek kehidupan alih-alih pembagian yang adil di wilayah tersebut". Mohammed mengatakan bahwa posisi Amerika Serikat yang menolak referendum, yang terwakili dalam surat yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, adalah peluang emas dan bersejarah yang disia-siakan oleh pemerintah wilayah tersebut... BBC, 26/12/2017), dan ini merupakan isyarat keterikatan orang tersebut dan gerakannya (kepada AS).
Dengan demikian, dimulainya demonstrasi dari provinsi Sulaymaniyah yang dikuasai partai-partai penentang partai Barzani, partisipasi para pemimpin partai-partai ini dalam demonstrasi, penangkapan beberapa pemimpin tersebut oleh pasukan keamanan, kemudian mundurnya partai-partai tersebut dari pemerintahan Erbil untuk memperlemahnya, seruan mereka untuk membubarkan diri, dan pengunduran diri Ketua Parlemen beberapa bulan sebelum jadwal pemilu, serta ancaman pemerintah Abadi di Baghdad untuk campur tangan; semua itu menunjukkan bahwa permulaannya meskipun mandiri, namun dimensi kedua dengan dorongan eksternal telah mengelilingi dimensi mandiri tersebut untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan wilayah tersebut.
Dimensi kedua ini adalah hasil dari tekanan kelompok-kelompok lokal di Kurdistan yang menentang pengaruh Barzani, serta tekanan Baghdad untuk menjatuhkan pemerintahan Barzani di Erbil. Hal ini ditambah dengan apa yang terdengar di Turki, Iran, dan Baghdad tentang perlunya menghukum mereka yang bertanggung jawab atas petualangan referendum pemisahan diri Kurdistan. Semua partai dan rezim ini loyal kepada Amerika. Jika ditambahkan lagi dengan apa yang teramati dari kebijakan pemerintahan Trump di kawasan dengan slogan "America First", bahwa AS tidak lagi cukup hanya kebijakannya yang berlaku di daerah-daerah yang terdapat agen Inggris, melainkan beralih jika kepentingannya menuntut di beberapa daerah untuk menghukum mereka atau bahkan menghabisi mereka, sebagaimana yang terjadi dalam kampanye antikorupsi di Arab Saudi, dan sebagaimana yang terjadi hari ini terhadap pimpinan Kongres Rakyat di Sanaa setelah terbunuhnya Saleh. Oleh karena itu, Amerika mendorong agen-agen lokal dan regionalnya untuk memberikan lebih banyak tekanan pada pemerintahan Barzani guna menjatuhkannya dan mengakhiri hegemoni Inggris atas pemerintahan Erbil. Jika tidak bisa segera, maka AS menyiapkan kondisi melalui tekanan yang bertubi-tubi.
Inilah yang kemungkinan besar telah dan sedang terjadi di Kurdistan.
Kedua: Peristiwa di Iran
Demonstrasi yang meledak pada 28/12/2017 muncul sebagai protes terhadap kondisi ekonomi, situasi kehidupan masyarakat, tingginya pengangguran, angka kemiskinan, dan kenaikan harga. Laporan menyebutkan bahwa tingkat pengangguran sangat tinggi; Menteri Dalam Negeri Iran, Abdolreza Rahmani Fazli, dalam konferensi pers pada 01/10/2017 mengungkapkan bahwa "tingkat pengangguran saat ini melebihi 12%, sementara di beberapa kota Iran mencapai 60%, di antaranya Ahvaz (Arab), Kermanshah (Kurdi), dan Balochistan. Tingkat pengangguran di kalangan pemegang gelar sarjana dan lulusan universitas sangat tinggi"... Al-Arabiya, 02/10/2017). Laporan menunjukkan bahwa 21% lulusan universitas menganggur, dan 15 juta warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Ini berarti hasil dari penerapan sistem kapitalis berdampak negatif pada masyarakat umum di negara tersebut sebagaimana halnya di seluruh negeri yang menerapkan sistem Barat ini. Karena sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di Iran, terjadi distribusi kekayaan yang buruk dan penumpukan kekayaan di tangan orang kaya sementara banyak orang terhalang darinya, tidak adanya penanganan masalah kemiskinan, serta adanya bank-bank yang beroperasi dengan riba. Juga penerapan sistem pajak kapitalis yang tidak adil yang terkait dengan kebijakan dan rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF). Sebelum peristiwa baru-baru ini, delegasi dari IMF mengunjungi Teheran pada 18/12/2017 dan mereka selalu melakukan konsultasi tahunan dengan pemerintah Iran. Ketua delegasi Catriona Purfield menyampaikan kepada para pejabat Iran sebagai berikut: "Bahwa di tengah ketidakpastian ini dan meningkatnya risiko yang dihadapi sistem keuangan Iran, pemerintah harus mempercepat restrukturisasi dan rekapitalisasi bank serta lembaga kredit". Ia menambahkan "Harus segera dimulai peninjauan kualitas aset, penilaian pinjaman pihak terkait, dan penyusunan rencana aksi dengan kerangka waktu untuk rekapitalisasi bank serta menangani kredit macet". Ia juga menambahkan "Bahwa biaya rekapitalisasi bank dapat ditutup melalui penerbitan obligasi pemerintah jangka panjang"... Halaman resmi Al-Alam Iran, 19/12/2017). Pelaksanaan tuntutan ini oleh pemerintah mengakibatkan kenaikan harga, pengangguran, dan kemiskinan. Rakyat pun terjatuh dalam kesempitan hidup dan kemudian bangkit menentang rezim serta mengekspresikan penderitaan mereka dengan segala cara.
Begitulah protes-protes itu terjadi, dimulai di kota Masyhad, Iran timur, di mana seruan tersebut membawa slogan "Tidak untuk kenaikan harga", namun segera menyebar ke banyak kota yang mencapai 80 kota dan kota kecil, diikuti oleh ribuan pemuda dan kelas pekerja yang marah atas korupsi pejabat, pengangguran, dan kesenjangan yang semakin lebar antara si miskin dan si kaya. Ahmad Tavakoli, Ketua Dewan Pengawas "Transparansi dan Keadilan" Iran, menyatakan dalam wawancara dengan kantor berita Fars pada 30/12/2017: "Bahwa protes tersebut adalah hasil dari tiga faktor: Pertama; pengambilan kebijakan penyesuaian ekonomi yang keras dari IMF, Kedua; lemahnya pemerintah dan pejabat dalam menyelesaikan masalah ekonomi, dan terakhir; menghindari transparansi dan akuntabilitas atas keputusan yang diambil oleh pemerintah". Jika ditambahkan pada semua itu pengeluaran luar negeri Iran untuk milisi dan pendukungnya di Lebanon, Suriah, dan Yaman... maka hal itu menjadikan masalah ekonomi kian besar yang membebani pundak warga Iran sehingga mendorong mereka untuk protes, bahkan lebih dari itu menuduh rezim mengkhianati kehidupan rakyatnya (... "Banyak warga Iran menganggap bantuan pemerintah mereka kepada gerakan Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, rezim Assad di Suriah, dan Houthi di Yaman tidak perlu, bahkan itu adalah pengkhianatan"... Arabi 21: 01/01/2018). Semua ini menunjukkan bahwa dimulainya protes bersifat mandiri karena faktor ekonomi. Namun rezim menghadapinya dengan kekuatan sehingga jatuh korban tewas dan luka-luka (beberapa laporan menunjukkan peningkatan jumlah tahanan sejak dimulainya protes pada 28 Desember mencapai lebih dari 1700 tahanan... BBC Arabic, 07/01/2018).
Sebagaimana diketahui, setiap protes ekonomi jika penanganannya terlambat atau salah, apalagi jika dihadapi dengan kekerasan, maka akan dibarengi dengan protes politik. Inilah yang terjadi, di mana slogan-slogan ekonomi ditambahi slogan-slogan politik menentang rezim dan para pengelolanya, serta mengkritik keterlibatan rezim dalam perang-perang di kawasan dan pengeluaran miliaran dolar di sana. Protes mulai didominasi oleh kecenderungan politik yang menentang rezim dan serangan terhadap simbol serta pemimpin rezim. Di sinilah eksploitasi peristiwa tersebut dimulai oleh Eropa dan Amerika. Promosi atas protes tersebut muncul di media Eropa, khususnya Inggris seperti radio dan televisi Inggris. Di sisi lain, Presiden Prancis Macron dalam menanggapi pertanyaan surat kabar Al-Hayat tentang peristiwa Iran yang diterbitkan pada 04/01/2018 mengatakan: "Bahwa demonstrasi tersebut mencerminkan keterbukaan masyarakat sipil Iran dan ini membuat saya menghubungi Presiden Rouhani untuk mengingatkannya akan perlunya menghindari kekerasan dan membiarkan kebebasan berekspresi bagi warga negara. Kami akan menunggu Iran menunjukkan elemen keterbukaan yang diminta melalui tanggapan terhadap para demonstran agar kami dapat menilai jalannya berbagai hal, sebagai persiapan bagi kunjungan Menteri Luar Negeri Prancis Le Drian yang dijadwalkan ke Iran dan kemudian kunjungan saya ke negara ini, serta menyerukan untuk melanjutkan dialog permanen dengan Teheran". Namun, campur tangan Eropa dengan mengeksploitasi peristiwa tersebut tidak layak untuk diperhatikan karena dampaknya dari segi efektivitas hampir tidak ada.
Namun yang patut diperhatikan adalah masuknya Amerika ke dalam jalur ini. Presiden AS Trump mulai mencuit di halaman Twitter-nya, ia berkata dalam cuitannya pada 01/01/2018: "Rakyat Iran yang agung telah ditindas selama bertahun-tahun dan mereka haus akan makanan dan kebebasan. Kekayaan Iran dirampas, begitu pula hak asasi manusia, telah tiba saatnya untuk perubahan. Iran gagal di semua level meskipun ada kesepakatan mengerikan yang ditandatangani oleh pemerintahan Obama". Sekretaris Pers Gedung Putih menyatakan: ("Pemerintahan Trump merasa sangat prihatin atas laporan yang menyatakan bahwa rezim Iran memenjarakan ribuan orang karena berpartisipasi dalam protes damai", ia menambahkan "Kami tidak akan tinggal diam karena kediktatoran Iran menindas hak-hak dasar warga negaranya dan para pemimpin Iran akan memikul tanggung jawab atas setiap pelanggaran"... Surat kabar elektronik Iraq, 10/01/2018). Dengan demikian, banyak pejabat Amerika, dipimpin oleh Presiden Donald Trump, secara terang-terangan mendukung para demonstran Iran melawan pemerintah sejak hari pertama. (Nikki Haley, delegasi tetap Amerika di PBB, di depan Dewan Keamanan pada hari Jumat mengatakan bahwa Washington berdiri bersama mereka di Iran, "yang menuntut kebebasan bagi diri mereka sendiri, kemakmuran bagi keluarga mereka, dan martabat bagi bangsa mereka"... Seruan Washington untuk pertemuan Dewan Keamanan memicu kemarahan anggota dewan lainnya, termasuk Rusia, yang delegasinya menggambarkan protes Iran sebagai "urusan internal"... BBC Arabic, 07/01/2018). Seruan Washington untuk pertemuan Dewan Keamanan adalah bukti Amerika menunggangi gelombang demonstrasi. Karena kecepatannya, anggota Dewan Keamanan terkejut (Anggota Dewan Keamanan terkejut dengan seruan Haley untuk pertemuan mendesak Dewan Keamanan guna membahas protes di Iran, dan ia terpaksa melakukan tekanan terhadap penolakan Rusia atas pertemuan tersebut, sebagaimana dikatakan koresponden BBC Barbara Plett Usher... Delegasi AS untuk Dewan mengatakan bahwa Washington berdiri "tanpa ragu dengan mereka di Iran yang mencari kebebasan bagi diri mereka sendiri, kemakmuran bagi keluarga mereka, dan martabat bagi negara mereka"... BBC Arabic, 06/01/2018).
Di sini muncul pertanyaan: Apakah dukungan Amerika terhadap demonstrasi di Iran berarti AS bekerja untuk menjatuhkan rezim di Iran? Atau apakah AS memiliki tujuan lain yang ingin dicapai dari menunggangi gelombang demonstrasi di Iran? Untuk menjawab itu kami katakan sebagai berikut:
Adapun pendapat bahwa dukungan Amerika terhadap gerakan tersebut adalah untuk mengubah rezim, maka itu jauh dari kenyataan, terutama karena mereka mengatakannya dengan lisan mereka sendiri. Wakil Asisten Sekretaris Negara AS untuk urusan Irak dan Iran, Andrew Peek, mengatakan kepada surat kabar Al-Hayat yang diterbitkan pada 04/01/2018: (... kami hanya berbicara tentang melindungi para demonstran dan menghormati hak-hak mereka, dan pada akhirnya kami ingin melihat rezim mengubah perilakunya dalam lebih dari satu aspek, namun secara spesifik terhadap para demonstran" dan ia menekankan bahwa "Pemerintahan menginginkan perubahan perilaku rezim, bukan mengubah rezim di Iran..."). Amerika dan perannya dalam rezim tersebut sudah diketahui, kami telah menyebutkan hal itu dalam jawab-jawab pertanyaan sebelumnya pada 21/08/2013: (Bahwa peran Amerika dalam revolusi Iran sudah jelas sejak awal... dan semua tindakan politik di kawasan yang dilakukan oleh Iran semuanya terjadi dengan kesepakatan dan keharmonisan dengan proyek-proyek Amerika...). Kami juga mengatakan dalam jawab-jawab pertanyaan lainnya tertanggal 23/02/2017 (Begitulah, peran Iran di kawasan adalah kebijakan Amerika yang dirancang dengan matang, dan peran ini meluas serta menyusut sesuai dengan tuntutan kebijakan Amerika dan sesuai dengan kondisi). Oleh karena itu, dukungan yang dinyatakan Amerika terhadap demonstrasi protes bukanlah dalam rangka mengubah rezim saat ini.
6- Lalu mengapa Amerika menunggangi gelombang tersebut dan menjadikannya sebagai kesempatan? Hal itu karena dua hal penting:
Pertama: Mengalihkan pandangan dari Palestina dan pernyataan Trump tentang Yerusalem (Al-Quds), serta menyibukkan kawasan dengan isu Iran, sehingga Iran menjadi musuh nomor satu di kawasan. Dengan demikian fokus tertuju pada Iran dan berkurang atau menghilang dari entitas Yahudi yang merampas Palestina.
Kedua: Menciptakan pembenaran bagi bertahannya agen-agen Amerika di kawasan sebagai pengikut Amerika dengan dalih keberpihakan AS melawan Iran dan perlindungan Amerika bagi mereka dari bahaya Iran. Pernyataan Trump tentang Yerusalem sebagai ibu kota entitas Yahudi—orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman—pernyataan itu sebagaimana kami katakan dalam selebaran kami 07/12/2017 telah menampar wajah para agen Amerika. Yerusalem ada di hati dan pikiran umat Islam, dan diamnya para agen tersebut atas pernyataan Trump serta bertahannya mereka sebagai agen Amerika yang loyal dan bersahabat dengannya adalah aib besar bagi mereka. Maka pernyataan-pernyataan Trump yang meningkat terhadap Iran menjadi "jerami" tempat mereka bergantung untuk membenarkan loyalitas mereka kepada Amerika meskipun ada pernyataan Trump tentang Yerusalem; yaitu dengan mengatakan bahwa Trump berdiri menghadapi Iran, sang musuh bebuyutan! Itu adalah alasan yang lebih buruk daripada dosanya.
قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
"Semoga Allah membinasakan mereka; bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?" (QS Al-Munafiqun [63]: 4).
Inilah kemungkinan besar yang telah dan sedang terjadi di Iran berupa protes internal dan pernyataan eksternal, khususnya dari Amerika.
7- Sebagai penutup, sesungguhnya "permainan" negara-negara kafir penjajah terhadap nasib negeri-negeri Muslim tidak lain disebabkan oleh para penguasa Ruwaibidhah yang mengurusi urusannya, yang loyal kepada musuh-musuh Islam dan kaum Muslim, serta condong kepada mereka. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan hal itu dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
"Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Pada tahun-tahun itu pembohong dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang amanah dikhianati, dan Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya: 'Apakah Ruwaibidhah itu?' Beliau menjawab: 'Orang bodoh yang mengurusi urusan publik'." (HR Ahmad).
Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan ia berkata (ini adalah hadits dengan sanad yang sahih). Musibah umat ini ada pada para penguasanya... Namun ia adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, maka ia tidak akan diam dalam waktu lama atas kekuasaan diktator (mulkan jabriyah) oleh para Ruwaibidhah ini. Rasulullah ﷺ telah memberi kabar gembira tentang kembalinya Khilafah Rasyidah setelah kekuasaan diktator ini sebagaimana terdapat dalam Musnad Imam Ahmad dan At-Thayalisi dari Hudzaifah bin al-Yaman:
... ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ
"... kemudian akan ada kekuasaan diktator (Mulkan Jabriyah), ia akan tetap ada selama Allah menghendaki ia ada, kemudian Allah akan mengangkatnya jika Allah berkehendak mengangkatnya, kemudian akan ada Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian (Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah)." (HR Ahmad).
وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا
"Dan mereka berkata: 'Kapankah itu (akan terjadi)?' Katakanlah: 'Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat'." (QS Al-Isra [17]: 51).