Pertanyaan Pertama:
Pada hari Senin, 30/03/2009, telah diselenggarakan KTT Arab ke-21. Alih-alih berlangsung selama dua hari sebagaimana yang dijadwalkan, konferensi tersebut menyelesaikan tugasnya pada hari yang sama. Jadi, apa yang ada di balik konferensi ini, dan sejauh mana efektivitas keputusan-keputusannya?
Jawaban:
Tidak ada apa-apa di balik konferensi ini. Demikian pula, tidak ada keputusan penting yang dihasilkan sehingga perlu dipertanyakan efektivitasnya. Agar gambaran ini menjadi lebih jelas, kami sampaikan hal-hal berikut:
Konferensi-konferensi tingkat tinggi (KTT) telah menjadi agenda rutin yang diadakan pada bulan Maret setiap tahunnya.
Negara-negara besar telah terbiasa mengeksploitasi KTT Arab untuk proyek-proyek mereka yang berkaitan dengan masalah Palestina, yang mereka sebut sebagai "Masalah Timur Tengah". Pada awal-awal KTT di tahun enam puluhan, negara-negara yang berpengaruh adalah Amerika Serikat dan Inggris. Namun, setelah pengaruh Inggris melemah, kekuatan yang paling berpengaruh dan menggerakkan konferensi-konferensi ini adalah Amerika Serikat.
Belakangan ini, kondisi Amerika sedang goyah dan kacau. Mereka memiliki prioritas-prioritas yang lebih mendesak daripada masalah Timur Tengah, terutama sejak dilanda krisis ekonomi, ditambah lagi dengan kebuntuan mereka di Irak dan Afghanistan. Oleh karena itu, Amerika memusatkan perhatiannya pada prioritas-prioritas tersebut.
Karena itulah, meskipun Netanyahu menyatakan secara terang-terangan bahwa ia tidak menginginkan proyek dua negara yang diserukan oleh Amerika, dan meskipun Amerika sebenarnya mampu menjatuhkannya dalam pemilu seperti yang dilakukan sebelumnya, namun Amerika membiarkan masalah tersebut dan tidak menyibukkan diri dengannya. Amerika cukup merasa puas dengan mengikutsertakan Barak sebagai upaya menjaga muka, seolah-olah Netanyahu tidak berkuasa sendirian secara penuh, melainkan ada Barak bersamanya yang menyerukan proyek Amerika! Padahal di saat yang sama, Amerika menyadari bahwa lemahnya suara yang diperoleh Barak tidak akan mampu mencegah Netanyahu menjalankan pandangan-pandangannya.
Semua ini menunjukkan bahwa Amerika tidak memasukkan solusi apa pun untuk masalah ini ke dalam agenda kerjanya, meskipun solusi yang remeh sekalipun. Artinya, Amerika membiarkan segala sesuatunya berjalan di kawasan tersebut tanpa campur tangan yang serius sampai mereka menyelesaikan prioritas-prioritasnya atau setidaknya membuat kemajuan di sana. Setelah itu, barulah Amerika akan beralih ke "Masalah Timur Tengah". Saat itu, Netanyahu atau siapa pun dari entitas Yahudi tidak akan mampu menghalangi Amerika, apalagi hidup dan matinya entitas Yahudi berada di tangan Amerika. Hingga Amerika mencapai kemajuan dalam prioritas-prioritasnya, ia membiarkan pergerakan dalam masalah Palestina kepada antek setianya, Husni Mubarak, untuk mengisi kekosongan tersebut sesuai kebutuhan, dan bukan melalui sebuah konferensi yang saat ini tidak ingin disibukkan oleh Amerika. Selama masa itu, Amerika mengirimkan utusan untuk memantau fakta yang sedang terjadi dan mengumpulkan informasi hingga datang "giliran" bagi masalah Timur Tengah.
- Oleh karena itu, Amerika membiarkan konferensi ini berjalan secara rutin. Artinya, para penguasa Arab berkumpul, makan, minum, saling tersenyum, saling "menyindir", dan berbicara tentang rekonsiliasi dengan kata-kata yang muluk namun bermakna ganda.
Oleh sebab itu, sebutan yang paling tepat untuk konferensi ini adalah konferensi hubungan masyarakat (public relations) di antara para penguasa Arab, sampai Amerika menyelesaikan prioritas-prioritasnya. Setelah itu, barulah akan diadakan konferensi-konferensi besar maupun kecil yang digerakkan oleh Amerika untuk mengambil keputusan yang melayani kepentingan-kepentingannya.
Pertanyaan Kedua:
Pada 23/03/2009, Presiden Republik Turki, Abdullah Gul, melakukan kunjungan ke Irak selama dua hari. Ini adalah kunjungan pertama seorang Presiden Turki dalam 33 tahun terakhir. Ia bertemu dengan Presiden Republik Irak, Talabani, dan Perdana Menteri Maliki, serta dengan Nechirvan Barzani, Perdana Menteri Wilayah Kurdistan. Hal ini membuat Barzani menyatakan: "Pertemuan Presiden Turki dengannya adalah pengakuan dari pihak Turki terhadap Wilayah Kurdistan." (25/3/2009, Turkish News TV). Selain itu, Talabani dalam konferensi pers bersama Presiden Turki menyatakan: "Partai Buruh Kurdistan (PKK) harus meletakkan senjata atau mereka harus pergi." (Radio Sawa, 23/3/2009). Apakah ini berarti keberadaan PKK Turki di Irak telah berakhir sebagai imbalan atas pengakuan Turki terhadap Wilayah Kurdistan Irak namun tetap dalam bingkai negara Irak? Lantas, apakah orang-orang Kurdi Irak telah putus asa terhadap janji-janji Amerika kepada mereka tentang sebuah negara merdeka yang terpisah dari Irak? Lalu, apakah kunjungan ini memiliki dimensi internasional atau hanya sebatas hubungan antara Irak dan Turki?
Jawaban:
Benar, janji-janji Amerika kepada orang-orang Kurdi Irak untuk mendirikan sebuah negara bagi mereka tidak pernah menjadi janji yang serius. Amerika menjanjikannya hanya untuk mengeksploitasi mereka guna memukul saudara-saudara mereka di Irak demi memudahkan pendudukan Irak. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Inggris saat menjanjikan Mahmoud Barzanji pada tahun 1919 untuk menyerang protektorat Utsmani di Sulaimaniyah dengan imbalan janji sebuah negara Kurdi. Mereka menyerangnya dan membunuh saudara-saudara Utsmani mereka di sana, serta mengusir siapa pun yang selamat. Kemudian Inggris mengingkari janjinya, bahkan membuang Mahmoud Barzanji ke koloninya di India. Demikian pula Inggris bersikeras dalam Perjanjian Sevres tahun 1920 dengan Daulah Utsmaniyah untuk memasukkan pasal yang berkaitan dengan pendirian negara Kurdi guna mengganggu Khalifah Muhammad Wahiduddin, karena delegasi Khalifah-lah yang bernegosiasi. Namun, setelah Inggris kemudian berhasil mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Republik dan Khilafah berakhir, serta perjanjian dilakukan dengan Republik Mustafa Kemal di Lausanne 1924, Inggris menolak memasukkan pasal negara Kurdi tersebut. Hal itu karena Inggris telah mencapai tujuannya, yaitu meruntuhkan Khilafah, sehingga eksploitasi semacam itu tidak lagi diperlukan. Inggris dahulu sering membangkitkan sentimen fanatisme nasionalisme (an-na’rah al-qawmiyah) Kurdi dan seluruh sentimen nasionalisme di kawasan tersebut, mengeksploitasi mereka yang dibangkitkan emosinya, serta menghasut mereka untuk melakukan pembangkangan dan pemberontakan terhadap Negara Islam demi mencapai tujuan-tujuannya. Setelah itu, Inggris membuang orang-orang yang telah bekerja sama dengannya atau mempekerjakan mereka sebagai antek-anteknya ketika mereka diangkat menjadi orang yang disebut sebagai penguasa dan pemimpin. Kemudian Amerika datang dan memainkan peran serta permainan yang sama, dan melakukan hal yang sama terhadap orang-orang yang bekerja sama dengannya. Yakni sekadar janji-janji yang dieksploitasi untuk melayani kepentingannya, sehingga jika kepentingannya telah tercapai, janji-janjinya pun hilang seolah-olah tidak pernah ada sebelumnya!
Tidak menutup kemungkinan bahwa Turki akan mengakui Wilayah Kurdistan secara resmi namun dalam bingkai negara Irak, tanpa menjadi negara sendiri, dengan syarat pengusiran PKK. Abdullah Gul menyatakan kepada para jurnalis setelah pertemuannya dengan Nechirvan Barzani: "Saya telah menyampaikan kepadanya secara terus terang bahwa organisasi teroris PKK dan kamp-kampnya berada di wilayah Anda. Maka Anda harus mengambil sikap yang jelas terhadapnya. Jika organisasi itu telah dilenyapkan, maka segala sesuatu antara kami dan Anda adalah mungkin. Karena Anda adalah tetangga dan kerabat kami." (Reuters, 25/3/2009). Gul sebelumnya telah bertemu dengan Talabani pada 17/3/2009 di Istanbul di sela-sela pertemuan Forum Air Dunia ke-5, dan di sana ia menyatakan kemustahilan berdirinya negara Kurdi, dan bahwa negara Kurdi itu hanyalah ada dalam syair-syair Kurdi. Ia pun menuntut PKK untuk meletakkan senjata.
Tampaknya para penguasa Wilayah Kurdistan ingin menanggapi tuntutan Turki sebagai imbalan atas pengakuan Turki terhadap mereka. Nechirvan Barzani berkata: "Kami ingin hubungan dengan Turki terjalin dengan baik, dan kami memahami kekhawatiran Turki." (CNN Amerika, 25/3/2009). Ia menambahkan: "Kami tidak menerima adanya serangan terhadap negara tetangga dari Irak atau dari wilayah Kurdistan." (CNN Amerika, 25/3/2009). Baru-baru ini telah diumumkan dari sumber-sumber di Kementerian Luar Negeri Turki bahwa Turki telah menerima permintaan Presiden Wilayah Kurdistan, Masoud Barzani, untuk mengunjungi Ankara. (CNN, 26/3/2009). Kunjungan ini berkaitan dengan topik yang sama, yaitu pengusiran PKK dari Wilayah Kurdistan sebagai imbalan atas pengakuan Turki terhadap wilayah tersebut di dalam negara Irak. Padahal, keberadaan PKK di Irak Utara sebelumnya berada di bawah perlindungan partai Barzani, "Partai Demokrat Kurdistan"!!
- Di samping itu, kunjungan Gul juga menyinggung penyelesaian masalah Kirkuk; sebab Turki menolak penggabungan Kirkuk ke Wilayah Kurdistan. Abdullah Gul telah bertemu dengan perwakilan Turkmen dan menegaskan kepada mereka bahwa Turki menolak penggabungan Kirkuk ke pihak mana pun. Ia tidak memfokuskan hal ini karena Kirkuk berada di urutan kedua bagi Turki. Di sisi lain, Turki mengetahui bahwa ada rintangan besar yang menghalangi penggabungan Kirkuk ke Kurdistan, dan Turki adalah salah satu rintangan tersebut.
Ada masalah-masalah lain yang dibahas seperti pengiriman minyak melalui Turki, perdagangan, dan penambahan kuantitas air, di mana kedua belah pihak menunjukkan bahwa mereka sepakat mengenainya.
- Adapun mengenai apakah kunjungan tersebut memiliki dimensi internasional, maka jawabannya adalah ya, dan inilah yang paling penting. Kunjungan Presiden Republik Turki ke Irak terjadi setelah keputusan Amerika terkait penarikan pasukan mereka secara bertahap dari Irak kecuali dari pusat-pusat sensitif. Amerika ingin agar peran mereka digantikan oleh negara-negara yang loyal kepadanya, sehingga tidak ada negara besar lain yang datang mengeksploitasi situasi dan menggantikan posisi Amerika atau bekerja untuk mengganggu pengaruhnya.
Dari sinilah muncul peran Iran melalui koordinasi dengan Amerika, dan Iran telah sepakat mengenainya. Hal itu dipuncaki dengan kunjungan Presiden Republik Iran ke Baghdad tahun lalu. Namun, Amerika tidak ingin bersandar pada satu negara saja, karena satu negara mungkin bisa menjalankan peran tertentu, namun tidak akan sanggup melakukan segala hal yang diminta Amerika darinya. Oleh karena itu, Amerika juga menginginkan peran bagi Turki dan Suriah. Inilah latar belakang kunjungan Gul ke Irak. Menyusul kunjungan Gul, Menteri Luar Negeri Suriah mengunjungi Irak dan bertemu dengan Talabani. Jadi, Amerika tidak mungkin mencapai semua yang diinginkannya tanpa melibatkan negara-negara tetangga. Hal ini berlaku untuk setiap negara. Kita melihat Amerika meminta bantuan Pakistan dan Iran yang bertetangga dengan Afghanistan untuk mencapai tujuannya di Afghanistan. Bahkan, Amerika meminta bantuan negara-negara yang pengaruhnya bercampur dengan pengaruh Inggris seperti Arab Saudi, untuk mempengaruhi para mujahidin di sana agar mau bernegosiasi. Konferensi Den Haag yang diadakan kemarin, 31/3/2009 mengenai Afghanistan, adalah bukti terkuat akan hal itu. Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar tujuh puluh negara, dan salah satu peserta yang paling menonjol adalah Iran, yang ketua delegasinya bertemu dengan utusan Amerika untuk Afghanistan, di mana pertemuan tersebut digambarkan berlangsung dengan ramah!
Amerika ingin mempertahankan pengaruhnya di Irak dan kedudukannya sebagai negara besar nomor satu di dunia setelah merasakan kepahitan kekalahan yang menimpanya di sana di tangan para pejuang perlawanan. Kekalahan tersebut nyaris menjatuhkan kedudukan internasionalnya dan menggesernya dari posisinya sebagai negara nomor satu di dunia. Meskipun demikian, kepercayaan terhadap Amerika sebagai negara besar pertama di dunia—yang dulu mengklaim bisa berbuat apa saja yang diinginkannya—telah terguncang.
Oleh karena itu, pesan Obama kepada Turki adalah bahwa Amerika ingin meminta bantuan Turki. Permintaan bantuan Amerika kepada Turki, atau lebih tepatnya penggunaan Turki oleh Amerika, bukan hanya terkait dengan situasi Irak, tetapi ada banyak masalah di mana Amerika ingin menggunakan Turki, seperti masalah Kaukasus, Rusia, dan masalah Timur Tengah. Karena alasan inilah, Presiden baru Amerika, Obama, mengumumkan bahwa ia akan segera mengunjungi Turki. Obama juga telah mengirimkan pesan lain kepada Iran agar dapat meminta bantuannya, bahkan menggunakannya dalam masalah Afghanistan di samping masalah Irak.
Pertanyaan Ketiga:
Sheikh Sharif Ahmed telah menjadi Presiden Somalia. Apakah ini berarti Mahkamah Islam telah kembali ke Somalia seperti dua tahun yang lalu? Jika demikian halnya, mengapa Gerakan Pemuda Mujahidin menentangnya, padahal mereka dulunya berasal dari Mahkamah Islam atau dekat dengannya? Jika Sheikh Sharif telah berubah dan Gerakan Pemuda Mujahidin menentangnya karena penyimpangannya, apakah itu berarti Gerakan Pemuda Mujahidin adalah gerakan yang jujur dan ikhlas?
Jawaban:
Benar bahwa Sheikh Sharif Ahmed hari ini tidaklah sama dengan yang dulu. Dahulu, ketika ia menjadi ketua Mahkamah Islam dan mencapai kekuasaan di Somalia, ia memerangi ambisi pihak luar di Somalia dari kalangan kaum kafir penjajah, dan menyerukan penerapan Syariat Islam. Namun, kesadaran politiknya lemah, sebagaimana kondisi mayoritas gerakan Islam bersenjata. Oleh karena itu, "orang-orang yang ikhlas" mengirimkan delegasi untuk menasehatinya agar tidak bernegosiasi dengan pemerintahan Abdullahi Yusuf karena pemerintah itu tunduk kepada Amerika. Ia juga dinasehati untuk tidak bernegosiasi dengan Amerika, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui antek-anteknya, atau di bawah naungan PBB, Liga Arab, maupun Uni Afrika. Sebab, semua itu tidak lepas dari campur tangan dan kendali tangan-tangan Amerika. Delegasi tersebut juga menasehatinya agar terus memusuhi kaum kafir penjajah. Namun, ia tidak mengambil nasehat itu sebagaimana mestinya, melainkan justru bernegosiasi dengan pemerintahan Abdullahi Yusuf di Khartoum di bawah naungan PBB, Liga Arab, dan Uni Afrika.
Itu terjadi saat ia masih berkuasa. Adapun setelah invasi Ethiopia dan keluarnya Sharif dari Somalia ke Kenya, kemudian ia sampai di Djibouti, ia menjadi ketua Gerakan Pembebasan Somalia faksi Djibouti setelah Mahkamah Islam terpecah menjadi dua faksi yang masing-masing menetap di Asmara dan Djibouti, padahal kedua negara tersebut loyal kepada Barat! Selama masa itu, Sheikh Sharif tenggelam dalam negosiasi langsung maupun tidak langsung, hingga masalahnya sampai pada titik ia memimpin pemerintahan di Somalia yang tidak jauh berbeda dengan pemerintahan Abdullahi Yusuf, dengan restu dari Amerika, Barat, dan para antek. Segalanya berjalan sebagai berikut:
Setelah keluarnya Sheikh Sharif dari Somalia menyusul kekalahan Mahkamah Islam di akhir tahun 2006 di hadapan pasukan Ethiopia—yang didorong oleh Amerika untuk menginvasi Somalia atas namanya—ketika ia pergi ke Kenya, ia bertemu dengan Duta Besar Amerika di Kenya dengan dihadiri oleh para pejabat dari agen intelijen Amerika (CIA).
Setelah Mahkamah Islam terbelah dan memiliki dua faksi, Sheikh Sharif Ahmed memimpin faksi Djibouti, dan negosiasi pun dimulai antara dirinya dengan pemerintahan Abdullahi Yusuf dan Ethiopia hingga tercapai Perjanjian Djibouti pada tanggal 26/10/2008.
Perjanjian tersebut datang di bawah pengawasan Amerika dan persetujuan Ethiopia. Hal itu karena tentara Ethiopia mengalami banyak kerugian dan ingin keluar namun tetap menjaga muka, yaitu melalui perjanjian yang mengatur hal tersebut. Oleh karena itu, setelah penandatanganan perjanjian, Ethiopia mulai mengeluarkan pernyataan tentang penarikan pasukannya.
Kantor berita AFP melaporkan pada 28/11/2008 bahwa Ethiopia akan menarik diri dari Somalia pada akhir tahun, melalui dua surat resmi kepada Uni Afrika dan PBB. Agen tersebut melaporkan bahwa Wahidi Bela, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ethiopia, mengatakan: "Kami telah sampai pada kesimpulan bahwa tidak tepat bagi Ethiopia untuk mempertahankan pasukannya di Somalia. Kami telah melakukan tugas kami dan kami bangga akan hal itu, namun harapan yang kami taruh pada komunitas internasional telah mengecewakan." Juru bicara Ethiopia ini sebelumnya telah berkomentar pada 24/11/2008 kepada kantor berita yang sama mengenai perjanjian di Djibouti dengan mengatakan: "Bahwa hal itu sejalan dengan posisi Ethiopia dan penarikan pasukannya secara teratur."
Ethiopia berkepentingan dengan urusan Somalia, bukan hanya sebagai tentara bayaran demi kepentingan Amerika, melainkan karena Somalia bertetangga dengannya dan ia menduduki wilayah Ogaden milik Somalia. Somalia pernah berperang dengan Ethiopia pada tahun 1977 dan 1978 untuk merebutnya kembali namun gagal. Maka Ethiopia menginginkan adanya pemerintahan di Somalia yang tidak mengancamnya dan tidak menuntut Ogaden kembali. Selain itu, Ethiopia juga melayani kepentingan Amerika di Tanduk Afrika. Amerikalah yang mengirim Ethiopia ke Somalia, dan Amerika pulalah yang memintanya menarik diri setelah perjanjian Djibouti pada 26/10/2008, ketika Amerika menemukan sosok yang dicarinya pada diri Sheikh Sharif.
- Amerika melihat bahwa Sheikh Sharif adalah sosok yang paling mampu menghadapi para mujahidin karena ia memiliki latar belakang Islam, sedangkan Ethiopia sebagai negara Afrika tidak dapat terus-menerus melawan kelompok Islamis. Maka yang terbaik bagi Amerika adalah menggunakan salah satu dari kalangan Islamis untuk menjalankan peran ini. Amerika pun mengerahkan para anteknya di Kenya dan Sudan untuk menarik hati Sharif, terutama Sudan. Pakar politik Hassan Makki berkata: "Pemerintah Sudan memberitahu Sharif bahwa ia tidak mungkin melampaui orang-orang Ethiopia, dan ia tidak mungkin berurusan dengan komunitas internasional seolah-olah mereka tidak ada. Oleh karena itu, ia mulai mendengarkan nasehat-nasehat ini, apalagi ia adalah lulusan dari lembaga pendidikan Sudan." Ia menambahkan: "Mediator Sudan telah memainkan peran besar dalam rekonsiliasi ini," yang ia maksud adalah pembicaraan di Djibouti.
Demikianlah Amerika berhasil menarik hati Sheikh Sharif sampai pada tingkat ia mulai memujinya. Dalam sebuah wawancara dengan Voice of America bagian Somalia pada 20/02/2009, ia menggambarkan kebijakan Amerika terhadap Somalia sebagai kebijakan yang positif sejak dimulainya negosiasi hingga sekarang. Ia berkata: "Kami berharap upaya-upaya tersebut terus berlanjut."!
- Setelah Sheikh Sharif menjadi Presiden Somalia dengan suara mayoritas dari parlemen yang ada pada masa Abdullahi Yusuf, langkah selanjutnya adalah memilih Perdana Menteri. Di sini pun peran Amerika muncul. Terpilihlah Omar Abdirashid Sharmarke yang tinggal di Amerika Serikat. Ia digambarkan sebagai sosok moderat menurut standar Amerika Serikat, telah menjabat beberapa posisi di PBB, dan merupakan duta besar Somalia di Washington pada masa pemerintahan Abdullahi Yusuf, serta putra dari mantan presiden Somalia.
Amerika sangat berhasrat untuk mengangkatnya sebagai perdana menteri karena ia sebelumnya tinggal di Amerika, dan juga karena ia tidak tercemar oleh perang saudara sebab ia jauh dari sana dan dari negaranya. Oleh karena itu, ia memiliki semacam penerimaan di kalangan masyarakat umum di Somalia.
Perlu dicatat bahwa sebagaimana kebiasaan negara-negara penjajah, jika mereka menemukan kepentingannya pada orang lain selain orang yang melayani mereka saat ini, maka mereka akan membuangnya seperti membuang biji kurma dan mendatangkan orang lain yang dapat mewujudkan kepentingan mereka dengan lebih baik. Maka Amerika mencampakkan Abdullahi Yusuf yang telah menjadi sosok yang "habis", dibenci, dan terbongkar pengkhianatannya terhadap Somalia. Ia terpaksa mengundurkan diri pada 29/12/2008 dan pergi dari Mogadishu ke tempat kelahirannya di Puntland, wilayah yang dipimpinnya sejak 1998 hingga 2004 ketika ia diumumkan sebagai presiden Somalia, lalu ia kemudian mengungsi ke Yaman.
- Amerika menyangka bahwa dengan keberhasilannya menempatkan Sheikh Sharif ke kursi kepresidenan—sosok dengan latar belakang Islam di Mahkamah yang memiliki opini umum selama masa kekuasaannya—serta dengan pengangkatan perdana menteri yang jauh dari perang saudara sehingga membuatnya diterima oleh khalayak umum, Amerika mengira telah berhasil menggenggam Somalia. Namun, sangkaan itu meleset karena terbongkarnya hakikat pemerintahan baru di Somalia. Ternyata pemerintahan ini tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, hanya saja ia mengenakan pakaian yang lebih indah dan menawan daripada pakaian pemerintahan sebelumnya.
Perbedaan antara kedua pemerintahan tersebut, jika kita berprasangka baik, adalah bahwa Abdullahi Yusuf melayani Amerika secara sadar, sedangkan Sheikh Sharif melayani Amerika karena ketidaktahuannya, seraya menyangka bahwa ia telah berbuat baik kepada Somalia! Kami sebenarnya menginginkan Sheikh Sharif tetap sebagaimana saat ia memulai, menjauh dari konspirasi kaum kafir penjajah. Semoga ia kembali ke jalannya yang semula, dengan izin Allah.
- Berdasarkan fakta yang terungkap dari pemerintahan ini, perlawanan kaum Muslim tetap berlanjut dengan sengit, dan yang paling menonjol di antaranya adalah Gerakan Pemuda Mujahidin (Harakat al-Shabaab al-Mujahideen).
Gerakan Pemuda Mujahidin telah memisahkan diri dari Mahkamah Islam, baik faksi Asmara maupun faksi Djibouti, setelah keduanya menandatangani Perjanjian Asmara pada September 2007. Mereka menuduh kedua faksi tersebut telah beraliansi dengan kaum sekuler dan meninggalkan jihad di jalan Allah.
Gerakan ini menyatakan ingin berjihad melawan Ethiopia dan Amerika untuk membebaskan seluruh wilayah Tanduk Afrika, serta ingin mendirikan pemerintahan Islam yang melampaui batas-batas nasionalisme yang sempit. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan bahwa Gerakan Pemuda adalah kelompok ekstremis dan penuh kekerasan yang beberapa anggotanya termasuk dalam organisasi Al-Qaeda (People's Daily China, 18/03/2008). Amerika Serikat juga telah menangkap mantan pemimpinnya, Ismail Arale, pada pertengahan 2007 di Djibouti dan memasukkannya ke penjara Guantanamo. Gerakan tersebut memilih Mukhtar Abdirahman "Abu Zubair" sebagai pemimpinnya dan Mukhtar Robow "Abu Mansour" sebagai juru bicara resminya (Al-Arabiya, 22/12/2007). Juru bicara resmi ini menanggapi Departemen Luar Negeri AS dengan mengatakan: "Hubungan kami dengan Al-Qaeda adalah hubungan seorang Muslim dengan saudaranya sesama Muslim, dan inti dari akidah seorang Muslim adalah al-wala' wal bara' (loyalitas dan berlepas diri), yakni menjauh dari kaum kafir serta menjalin hubungan dan mencintai seluruh kaum Muslim." Ia juga mengatakan bahwa gerakan tersebut: "Merasa senang dan bangga dengan keputusan Amerika Serikat yang memasukkannya ke dalam daftar teroris." Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh gerakan tersebut pada 05/04/2008 disebutkan: "Kami tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa kami tidak dijadikan sasaran karena kami orang Somalia, melainkan karena kami mengusung pemikiran jihad dengan konsepnya yang menyeluruh, yang tidak mengakui batas-batas imajiner maupun apa yang disebut sebagai 'legalitas internasional'."
Gerakan Pemuda Mujahidin telah berhasil menguasai banyak kota di Somalia, jauh melebihi kendali pemerintah. Tampak dari gerakan ini bahwa mereka memerangi kaum kafir penjajah dengan jujur dan ikhlas. Namun, titik kelemahannya adalah sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya tentang gerakan-gerakan Islam bersenjata, yaitu lemahnya kesadaran politik. Kami memohon kepada Allah SWT untuk gerakan ini agar terus istiqamah dalam sikapnya yang kuat melawan kaum kafir penjajah.
Meskipun demikian, gerakan ini jauh lebih sadar dibandingkan dengan Partai Islam (Hezb al-Islam) yang juga menentang pemerintahan Sheikh Sharif. Partai tersebut terdiri dari empat gerakan yang paling menonjol adalah: Gerakan Pembebasan Somalia faksi Asmara pimpinan Hassan Dahir Aweys, serta tiga gerakan lainnya yaitu Kamp Kamboni, Front Islam, dan Kamp Farouk. Situs Greeng pada 24/01/2009—sebuah situs yang dekat dengan Gerakan Pemuda Mujahidin—bertanya kepada Hassan Dahir Aweys tentang alasan keberadaannya di ibu kota Eritrea, Asmara. Ia menjawab bahwa mereka (Eritrea) telah menjadi bagi kami seperti Najasyi bagi kaum Muslim generasi awal!! Begitulah ia berkata!!
Kami memohon kepada Allah SWT bagi gerakan-gerakan Islam agar dikaruniai keikhlasan kepada-Nya, kejujuran terhadap Rasul-Nya ﷺ, dan kesadaran yang sempurna terhadap rencana-rencana serta konspirasi kaum kafir. Sesungguhnya mereka melakukan tipu daya terhadap Islam dan menyimpan kejahatan yang lebih besar daripada yang mereka tampakkan.
قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
"Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi." (QS Ali Imran [3]: 118)
Barangsiapa yang cenderung kepada mereka, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang nyata. Bukti-bukti mengenai hal tersebut sangatlah banyak dan tersebar luas.