Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Perkembangan Politik Terbaru di Uzbekistan

September 06, 2015
2197

Pertanyaan:

Baru-baru ini, pada tanggal 27/08/2015, Asisten Sekretaris Negara AS untuk Urusan Asia Tengah mengunjungi Uzbekistan. Sebulan sebelumnya, tepatnya pada 27/07/2015, Komandan Komando Pusat Angkatan Bersenjata AS juga mengunjungi Uzbekistan. Dan lebih dari sebulan sebelum itu, yakni pada 12/06/2015, Sekretaris Jenderal PBB mengunjungi Uzbekistan... Apakah kunjungan yang bertubi-tubi ini merupakan bukti kepercayaan dan ketenangan atas kuatnya hubungan Amerika-Uzbekistan, ataukah ini merupakan bukti kelemahan dan ketidaktenangan sehingga Amerika mengintensifkan kunjungan ini untuk memperkuat hubungan karena khawatir Rusia akan memanfaatkan kelemahan tersebut untuk masuk ke Uzbekistan? Ini bagian pertama dari pertanyaan. Bagian kedua berkaitan dengan putri sang thaghiyah (diktator) dan Rusia; setelah tersiar kabar bahwa ia akan menggantikan ayahnya, kemudian masa jabatan sang diktator diperpanjang kembali sementara ia (putrinya) berada dalam tahanan rumah, apakah itu berarti ia memiliki hubungan dengan Rusia yang kemudian terungkap sehingga ia dikenakan tahanan rumah, atau ada alasan lain? Mohon maaf atas pertanyaan yang bercabang ini, dan saya sangat mengharapkan jawaban meskipun peristiwa di Timur Tengah saat ini jauh lebih panas, namun bagi kawasan tersebut hal ini memiliki kepentingan dan pengaruh yang besar. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan...

Jawaban:

Jangan khawatir, kami akan menjawab Anda insya Allah:

Pertama: Mengenai Kunjungan:

Untuk menjawab hal itu, mari kita tinjau kunjungan-kunjungan tersebut, tujuan yang diumumkan darinya, serta apa yang ada di balik tujuan tersebut:

  1. Daniel Rosenblum, Wakil Asisten Sekretaris Negara AS untuk Urusan Asia Tengah, saat kunjungannya ke ibu kota Uzbekistan, Tashkent, pada 27/08/2015 memberikan pernyataan pers yang menyebutkan: "Amerika Serikat meminta Uzbekistan untuk bergabung dengan koalisi internasional memerangi organisasi ISIS yang radikal." Ia juga mengatakan: "Koalisi yang dipimpin Amerika Serikat yang membombardir elemen-elemen ISIS di Suriah dan Irak memiliki unsur militer, selain upaya-upaya yang bertujuan menghentikan aliran dana bagi para teroris. Koalisi tersebut mengumpulkan informasi tentang pergerakan orang-orang melintasi perbatasan, dan upayanya mencakup lima atau enam jalur lainnya, dan Uzbekistan atau negara manapun dapat memilih untuk berkontribusi dalam satu atau lebih dari elemen-elemen tersebut." (Reuters, 27/08/2015)...
  • Amerika ingin merangkul Uzbekistan ke dalam aliansinya dengan dalih memerangi ISIS dan terorisme untuk mengikat Uzbekistan dengan Amerika secara lebih kuat dan menempatkannya di bawah kepemimpinannya. Amerika telah mencoba hal ini sebelumnya ketika menduduki Afghanistan, di mana Uzbekistan diposisikan di pihaknya dalam perang tersebut serta memfasilitasi pergerakan dan aksesnya ke Afghanistan dengan mendirikan pangkalan militer di sana untuk mengamankan pasokan militer. Kini, dengan dalih memerangi ISIS, Amerika ingin memperkuat hubungannya dengan Uzbekistan untuk memperkokoh pengaruhnya di sana dan menjadikannya di bawah kendali dalam aliansinya.
  1. Kantor Berita Resmi Uzbekistan pada 27/07/2015 mempublikasikan berita tentang kunjungan Komandan Komando Pusat Angkatan Bersenjata AS, Lloyd Austin, ke Uzbekistan, dan pertemuannya dengan Presiden Uzbekistan, Karimov, yang menyambutnya dengan mengatakan: "Dialog yang teratur di berbagai tingkat dan arah memberikan kesempatan bagi Uzbekistan dan Amerika Serikat untuk mengembangkan kerja sama multilateral yang saling menguntungkan." Kantor berita tersebut menambahkan: "Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa isu internasional, khususnya masalah kerja sama untuk mewujudkan keamanan dan stabilitas di kawasan, serta dilakukan pertukaran pandangan mengenai penyelesaian masalah Afghanistan melalui jalur damai"...
  • Hal ini menunjukkan bahwa Amerika sedang mencari metode baru untuk memperkuat pengaruhnya di Uzbekistan dengan kedok pengembangan kerja sama multilateral yang saling menguntungkan. Kerja sama ini tidak terbatas pada satu sisi, melainkan beragam sisi; berkaitan dengan kerja sama mendukung keberadaan Amerika di Afghanistan sebagaimana disebutkan, bergabungnya Uzbekistan dalam aliansi Amerika dalam perang di Suriah, serta penguatan keberadaan Amerika di kawasan Asia Tengah dengan menjadikan Uzbekistan sebagai pangkalan untuk menjangkau negara-negara tetangga di kawasan tersebut, yaitu Kazakhstan, Turkmenistan, Kirgizstan, dan Tajikistan. Kawasan ini sangat penting bagi Amerika karena kekayaan sumber dayanya yang melimpah... Der Spiegel Jerman menyebutkan dalam laporan korespondennya dari Tashkent pada 15/04/2015: "... Uzbekistan menikmati kekayaan yang melimpah dengan cadangan uranium dan gas alam yang besar, selain tambang emas. Selain itu, ia merupakan salah satu pengekspor kapas terbesar di dunia..." Juga, hal yang penting: dalam rangka menyaingi Rusia yang masih memiliki keberadaan dan pengaruh yang bervariasi di sana. Kemudian, wilayah ini bertetangga dengan Tiongkok, sehingga Amerika ingin mengepung Tiongkok dari arah ini dan menjadikan aktivitasnya di sana berada di bawah kendali.
  1. Kantor Berita Uzbekistan pada 13/06/2015 mempublikasikan berita tentang kunjungan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Presiden Uzbekistan, Karimov, memuji "pentingnya kunjungan Sekjen PBB saat ini ke negara-negara Asia Tengah, khususnya Uzbekistan, dengan tujuan meninjau situasi di kawasan secara dekat dan bertukar pandangan tentang isu-isu vital." Disebutkan pula bahwa Ban Ki-moon mencatat "pencapaian Uzbekistan dalam mewujudkan tujuan pembangunan milenium, menjamin supremasi hukum, melindungi hak asasi manusia, ibu dan anak, serta mengembangkan sistem pendidikan melalui reformasi sosial ekonomi yang bertujuan untuk kepentingan manusia." Ia juga menyinggung "peran Uzbekistan dalam mewujudkan keamanan di Afghanistan dan pentingnya penandatanganan program dukungan pembangunan PBB untuk tahun 2016-2020." Kantor berita tersebut menambahkan: "Dalam pembicaraan tersebut dibahas berbagai masalah terkait isu regional dan internasional serta cara-cara kerja sama Uzbekistan dengan PBB beserta badan-badan dan dana khususnya"...
  • Meskipun Ban Ki-moon menyinggung hak asasi manusia, ia mengatakannya dengan malu-malu tanpa penekanan. Radio PBB dalam situs webnya dengan judul "Ban Ki-moon di Uzbekistan" pada 12/06/2015 menyebutkan: (Sekjen PBB Ban Ki-moon bertemu di ibu kota Uzbekistan, Tashkent, dengan Presiden Islam Karimov, di mana ia mengatakan: "Perdamaian dan pembangunan tidak dapat dicapai tanpa hak asasi manusia..." Ban Ki-moon memuji Presiden Islam Karimov "atas komitmennya pada supremasi hukum, namun ia mengatakan bahwa hukum tertulis harus menjadi kenyataan dalam kehidupan masyarakat." Mr. Ban menegaskan "bahwa PBB siap membantu Uzbekistan dalam memperkuat dan melindungi kebebasan-kebebasan dasar").

Namun, ia lebih menonjolkan pujian dan sanjungan kepada Karimov dan pemerintahannya sebagaimana kami jelaskan di atas. Hal ini tidak aneh bagi seorang pengikut Amerika, karena sudah diketahui bahwa Sekretaris Jenderal PBB tunduk pada perintah Amerika dan menjalankan kebijakannya. Kunjungannya berada dalam kerangka untuk menarik Uzbekistan ke arah Amerika secara lebih kuat. Melalui kunjungan ini, ia memoles citra rezim Karimov, menutupi kejahatannya dan apa yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap apa yang disebut hak asasi manusia, serta memberkatinya atas pemilihannya kembali untuk periode baru. Amerika tidak merasa cukup dengan memoles citra sang diktator melalui kunjungan Moon, tetapi mendahuluinya dengan mengirimkan delegasi yudisial sebagaimana disebutkan oleh Kantor Berita Uzbekistan pada 04/06/2015: "Telah berlangsung pertemuan di Universitas Hukum Negeri Tashkent dengan anggota delegasi ahli hukum Amerika yang dipimpin oleh Mr. Jeremy Fogel, Direktur Pusat Yudisial Federal di Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut ditekankan bahwa di Uzbekistan, dalam kerangka pendalaman reformasi demokrasi dan pengembangan masyarakat sipil, sedang berlangsung reformasi mendasar dalam sistem yudisial hukum dan penyiapan kader untuk bidang ini." Semua itu dilakukan untuk memoles citra sang diktator seolah-olah ia memiliki peradilan dan hukum, bukan penindasan dan kebengisan!

Ucapan selamat dari Obama kepada si diktator Karimov juga belum lama berlalu. Ia mengucapkan selamat atas perpanjangan masa jabatannya selama lima tahun melalui pemilu palsu, gagal, dan penuh kebohongan yang berlangsung pada 29/03/2015. Saking "integritasnya", para pesaing sang diktator dalam pemilu justru mendoakan kemenangannya dalam kampanye mereka!! Meskipun demikian, Amerika maupun PBB tidak mengkritiknya, melainkan justru memberikan ucapan selamat! Bahkan sebulan sebelum pemilu, yakni pada Februari 2015, Washington setuju untuk memasok Uzbekistan dengan 300 kendaraan lapis baja, mengabaikan rekam jejak diktator Karimov dalam menggunakan kekuatan bersenjata melawan rakyat Uzbekistan... Semua ini menunjukkan bahwa Amerika maupun PBB tidak peduli dengan integritas dan keseriusan pemilu, melainkan yang penting bagi mereka adalah hasilnya menguntungkan kepentingan mereka, khususnya kepentingan Amerika. Ini juga menunjukkan bahwa Amerika menganggap Karimov sebagai pilar utamanya di kawasan tersebut, sehingga ia mengerahkan segala upaya agar Karimov tidak lepas dari genggamannya...

  1. Namun, ini tidak berarti bahwa Amerika merasa aman dari infiltrasi Rusia ke Uzbekistan. Rusia telah dan terus mencoba memperkuat hubungan dengan Uzbekistan dan menarik Karimov ke pihaknya. Meskipun Uzbekistan menarik diri dari "Perjanjian Keamanan Kolektif" (CSTO)—yang merupakan lengan militer-keamanan dari Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS)—pada pertengahan tahun 2012, namun ia tetap menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang pengaruh Rusia di dalamnya sudah dikenal luas. Organisasi ini baru saja mengadakan pertemuan pada 08/07/2015, di mana Putin bertemu pada 10/07/2015 dengan diktator Uzbekistan, Karimov. Pertemuan tersebut membahas status hubungan bilateral antara kedua negara, di mana Putin mengundang Karimov untuk melakukan kunjungan resmi ke Rusia, mengingat kedua negara merayakan peringatan ke-10 penandatanganan perjanjian hubungan aliansi di antara mereka pada tahun ini. Rusia dianggap sebagai salah satu mitra terpenting Uzbekistan di bidang perdagangan, ekonomi, dan investasi. Volume pertukaran perdagangan antara kedua negara terus meningkat, dan pada tahun 2014 angka ini melampaui 6 miliar dolar AS!

Penting untuk dicatat bahwa Presiden Rusia Putin telah mengunjungi Uzbekistan pada akhir tahun lalu, dan mengumumkan penghapusan utang Uzbekistan sebesar 860 juta dolar. Tidak menutup kemungkinan bahwa ini adalah langkah dalam upaya Rusia untuk masuk ke Uzbekistan. Karimov telah berkata kepada Putin selama kunjungan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam pernyataan Kremlin: "Rusia selalu hadir di Asia Tengah dan kepentingannya memainkan peran penting dalam mewujudkan stabilitas." (dpa, 11/12/2014). Upaya Rusia ini jelas bagi para pengamat. Kantor berita AFP saat melaporkan berita pemilu pada 29/03/2015 menyatakan: "Bantuan Amerika kepada Karimov terus berlanjut dan Rusia mencoba menariknya kembali, maka Putin pada bulan Desember melakukan kunjungan ke Tashkent mencoba meyakinkan Karimov untuk menggabungkan Uzbekistan ke dalam Uni Ekonomi Eurasia yang dipimpin oleh Moskow, namun Karimov menolak dengan alasan: bahwa ia ingin menjaga kemerdekaan negaranya jauh dari blok-blok politik." Demikianlah, Rusia tidak putus asa dalam upayanya mengembalikan Karimov ke pangkuannya, sehingga Rusia bekerja untuk memperkuat ikatan dengannya meskipun mengetahui kuatnya hubungan Karimov dengan Amerika.

  1. Tidak diragukan lagi bahwa Amerika menyadari tarik-menarik antara Rusia dan Uzbekistan tersebut. Namun, timbangan lebih condong secara kuat ke arah Amerika. Dapat dikatakan bahwa Amerika merasa tenang dengan kuatnya pengaruhnya di Uzbekistan, tetapi pada saat yang sama menyadari bahwa Rusia tidak akan melepaskan Uzbekistan dengan mudah. Oleh karena itu, kemungkinan besar kunjungan berturut-turut pejabat Amerika ke Uzbekistan adalah untuk mendukung sang diktator, mengokohkannya, memoles citranya, dan kemudian memberinya suntikan kekuatan yang terus meningkat, seolah-olah Amerika berkata kepadanya: jangan takut pada Rusia... karena kami ada di sekitarmu, di depanmu, dan di belakangmu. Semua itu dilakukan demi kelangsungan pengaruhnya di Uzbekistan dan menjaganya dari bahaya atau kerugian apapun yang mungkin datang dari pihak Rusia.

Kedua: Mengenai pertanyaan Anda tentang putri sang diktator dan hubungannya dengan Rusia yang menjadi alasan tahanan rumahnya...

Hal ini sangat kecil kemungkinannya karena perilakunya tidak memenuhi kualifikasi bagi Rusia untuk menjadikannya sandaran guna memasukkan pengaruh mereka ke Uzbekistan. Ia lebih dekat pada sifat ceroboh dan kerusakan moral daripada seorang ahli politik dan pemerintahan. Kemungkinan besar perilakunya yang liar dan keterlibatannya dalam korupsi itulah yang membuat ayahnya mengenakan tahanan rumah padanya karena khawatir kerusakannya akan berdampak buruk pada kekuasaannya. Skandal keuangannya telah melampaui Uzbekistan hingga ke Eropa dan Amerika, bahkan skandal tersebut menyebar luas seperti api di semak kering. AFP dalam beritanya yang kami kutip di atas saat meliput pemilu pada 29/03/2015 menyebutkan: "Bahwa penyelidikan telah dibuka karena hubungannya dengan kelompok kriminal dan pengusaha dari mitra-mitranya." Agensi tersebut menambahkan: "...Beberapa pengamat mengatakan: bahwa Karimova terlalu melebih-lebihkan kekuasaannya, dan tidak diketahui apakah presiden menjauhkannya dengan sengaja atau dengan terpaksa. Namun ia menganggap bahwa sikap putrinya dapat merusak stabilitas rezimnya, dan ia menempatkan kepentingan rezimnya di atas segalanya." Ia juga menambahkan, "Ia dituduh melakukan tindakan korupsi dan mulai dikejar oleh banyak lembaga peradilan Eropa atas tuduhan penggelapan 300 juta dolar dari perusahaan telekomunikasi Swedia, TeliaSonera, yang beroperasi di Asia Tengah." Demikian juga, juru bicara kantor kehakiman Swiss selama tuduhan korupsi terhadap putri diktator tersebut menolak untuk mengungkapkan nilai aset yang terkait dengan putri Karimov yang telah dibekukan oleh negaranya, namun ia menunjukkan bahwa nilainya kurang dari 640 juta dolar, nilai yang disebutkan oleh beberapa laporan pers.

Kesimpulannya adalah bahwa putri tersebut tenggelam dalam korupsi dan kecil kemungkinannya tahanan rumahnya disebabkan oleh hubungan dengan Rusia, melainkan karena skandalnya telah berbau busuk sehingga ayahnya yang diktator itu khawatir hal ini akan mempengaruhi takhtanya hingga jatuh. Maka ia memandang bahwa dengan membatasi ruang geraknya melalui tahanan rumah akan memperpanjang umur kekuasaannya...!

Sebagai penutup, kami melihat bahwa Amerika dan negara-negara Barat lainnya yang sering sesumbar tentang hak asasi manusia sama sekali tidak peduli terhadap pelanggaran rezim Karimov terhadap hak-hak tersebut dalam bentuk yang paling keji. Mereka juga tidak peduli dengan semua kaidah demokrasi yang mereka agung-agungkan, melainkan yang penting bagi mereka adalah pencapaian kepentingan mereka di sana. Amerika berupaya menjadikan rezim tersebut terikat erat dengannya sehingga tidak bimbang atau menjauh dari melanjutkan kerja sama, atau berbalik kembali kepada Rusia yang belum berputus asa dari melanjutkan upaya-upayanya untuk menarik Uzbekistan kembali ke pihaknya...

Sebagai akhir dari penutup, sesungguhnya penduduk Uzbekistan tetap berpegang teguh pada Islam mereka. Kezaliman dan kebengisan kaum Komunis terdahulu tidak mampu mematahkan tekad mereka, begitu pula para pengikut mereka setelahnya yang memakai baju sekularisme dan liberalisme... Sesungguhnya di Uzbekistan terdapat laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan maupun jual beli dari mengingat Allah, laki-laki yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya) sedikit pun. Mereka adalah laki-laki pengemban dakwah, yang bersungguh-sungguh dan gigih, yang menyambung malam dengan siang mereka dalam kerja keras yang tiada henti untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan mendirikan negara Khilafah Rasyidah. Kebengisan diktator Uzbekistan maupun pembantaiannya tidak akan melemahkan tekad mereka. Bahkan, tidak akan lama lagi dengan izin Allah, Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa akan mematahkan punggung sang diktator, punggung para pembantunya, dan para tuan penjajahnya. Kemudian Bukhara, Termez, dan Samarkand akan kembali bercahaya, dan Khilafah akan terbit menyinari Uzbekistan, Asia Tengah, dan seluruh negeri-negeri kaum Muslim.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda