Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Tujuan Kunjungan Pejabat Militer AS Tingkat Tinggi ke Entitas Yahudi

March 11, 2023
2294

Pertanyaan:

Sada El-Balad mempublikasikan di situsnya pada hari Kamis, 9 Maret 2023: (Kementerian Pertahanan AS "Pentagon" mengumumkan pada hari Kamis bahwa Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, telah sepakat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk meningkatkan kerja sama dalam menghadapi agresi Iran...). Lokasi pertemuan dipindahkan dari Kementerian Pertahanan ke bandara Tel Aviv karena gelombang protes: (Kementerian Pertahanan AS "Pentagon" menyatakan bahwa pertemuan Austin dipindahkan dari Kementerian Pertahanan Israel ke dekat bandara Tel Aviv. Puluhan ribu orang melakukan protes di jalan-jalan kota Israel selama sembilan minggu berturut-turut pada hari Sabtu melawan rencana pemerintahan sayap kanan garis keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk merombak sistem peradilan... Reuters, 8/3/2023). Kunjungan Austin ini dilakukan setelah kunjungan mendadak (yang dilakukan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Mark Milley pada hari Jumat ke "Israel". Kantor Berita Anadolu, 4/3/2023). Apa tujuan dari kunjungan para pejabat militer AS berpangkat tinggi tersebut ke entitas Yahudi? Apakah hal ini berkaitan secara signifikan dengan perang Rusia di Ukraina? Ataukah untuk mendinginkan situasi di Palestina? Atau kunjungan ini berbeda dan memiliki tujuan lain? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Agar jawabannya menjadi jelas, kita tinjau hal-hal berikut:

Pertama: Sangat tidak mungkin kunjungan-kunjungan ini bertujuan untuk mencegah negara Yahudi agar tidak "berdamai" dengan Rusia dalam perangnya di Ukraina dan agar tidak mengambil posisi yang tidak memusuhi Rusia seperti Amerika. Hal ini untuk menghindari kemarahan Rusia yang mengizinkan negara Yahudi membom target-target di dalam Suriah tanpa hambatan dari sistem pertahanan udaranya di sana. Terlebih lagi, pemerintah entitas tersebut sedang tenggelam dalam pertempuran internal dengan pihak oposisi, sehingga ikut serta dengan negara-negara Barat dalam mendukung tentara Ukraina tidak dianggap sebagai prioritas bagi mereka. Oleh karena itu, kecil kemungkinan masalah Ukraina menjadi alasan kunjungan pejabat Amerika tersebut.

Demikian pula, sangat kecil kemungkinan kunjungan tersebut bertujuan untuk menenangkan situasi di Palestina. Meskipun situasi di sana sedang memanas, sensitif, dan menjadi topik utama kunjungan pejabat Amerika sebelumnya (Menteri Luar Negeri, Direktur CIA, dan Penasihat Keamanan Nasional), namun hal itu tidak mungkin menjadi alasan kunjungan pejabat militer selevel Ketua Kepala Staf dan Menteri Pertahanan. Meskipun situasinya sensitif, sifatnya bukanlah perang yang mengharuskan Amerika mengerahkan energi para pejabat militer seniornya.

Kedua: Namun nampaknya kunjungan tersebut memiliki motif lain, yang dapat dipahami dari faktor-faktor berikut:

  1. Netanyahu adalah teman dekat Partai Republik AS. Ia menentang Presiden Demokrat Obama ketika menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran pada tahun 2015 dan sangat mengganggu Obama, terutama pidatonya di Kongres AS yang menentang kesepakatan nuklir tersebut. Hubungannya dengan Amerika sangat mesra pada masa pemerintahan Trump, yang memberi penghargaan kepada Netanyahu dengan memindahkan kedutaannya ke Al-Quds (Yerusalem), mengakui aneksasi Dataran Tinggi Golan, dan memberinya "Kesepakatan Abad Ini" (Deal of the Century) di Tepi Barat, yang belum tuntas.

  2. Setelah Presiden Demokrat baru, Biden, menjabat, ia berupaya mendukung aliansi partai-partai "Lapid" dan "Bennett" dan berhasil. Akibatnya, Netanyahu kalah dalam pemilu Maret 2021 dan kekuasaan di entitas Yahudi diambil alih oleh aliansi baru partai Lapid dan Bennett. Namun keberhasilan ini tidak bertahan lama; Netanyahu bekerja sama dengan partai-partai sayap kanan garis keras dan memenangkan pemilu November 2022.

  3. Netanyahu bersikeras membentuk kabinet melalui aliansi dengan partai-partai sayap kanan garis keras dan mengabaikan keinginan pemerintahan Biden untuk membentuk pemerintahan yang mencakup kelompok yang setia kepada Biden (khususnya Lapid dan Gantz). Dengan diumumkannya sikap pemerintahan baru ini, kritik tajam dan tidak biasa dari Amerika mengalir deras, seperti keharusan mempertahankan solusi dua negara, penolakan untuk berurusan dengan menteri-menteri yang digambarkan sebagai garis keras di pemerintahannya, dan puncaknya adalah kritik terhadap kebijakan Netanyahu terkait perubahan status peradilan di entitas Yahudi. Isu-isu ini biasanya dianggap sebagai urusan dalam negeri, namun Amerika mengkritik kebijakannya secara terbuka dan mendorong partai-partai yang setia kepadanya untuk menentang langkah Netanyahu dalam mendominasi badan peradilan.

  4. Oposisi Yahudi tidak memberikan banyak waktu kepada Netanyahu. Protes luas menyebar dengan sangat cepat dan dengan kekuatan yang tidak biasa di entitas Yahudi. Perebutan kekuasaan muncul dalam bentuk yang menyerupai "patah tulang" (adu kekuatan yang sengit). Gambaran baru tercipta di entitas Yahudi yang belum pernah ada sebelumnya dalam skala sebesar ini: demonstrasi puluhan ribu orang melawan pemerintah dan langkah-langkahnya untuk menempatkan peradilan di bawah kendali pemerintah, pengepungan rumah pejabat pemerintah oleh pengunjuk rasa, penutupan jalan-jalan dan pembakaran ban, serta penggunaan gas air mata dan granat suara oleh polisi Yahudi terhadap sesama Yahudi. Keadaan terus berkembang; beberapa pejabat polisi menolak perintah untuk membubarkan demonstran dengan kekerasan, perselisihan antara pemerintah dan oposisi semakin memanas, kaum Yahudi terbelah menjadi dua kubu yang saling bertentangan, modal mulai melarikan diri dari entitas Yahudi, 50 perusahaan besar hengkang, dan perwira cadangan menyatakan ketidakmampuan mereka untuk mematuhi perintah pemerintah ini. Suasana sangat tegang antara pendukung pemerintah dan pendukung oposisi di semua tingkatan, dan posisi-posisi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Biden sangat berbau dukungan terhadap oposisi Yahudi melawan Netanyahu.

Ketiga: Menghadapi situasi yang mendekati kekacauan ini, Netanyahu mencoba menyatukan barisan Yahudi di belakangnya. Ia mulai menyiramkan minyak ke api yang sudah menyala di Palestina, dengan meningkatkan intensitas penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa dan melakukan pembantaian baru di Jenin dan Nablus. Netanyahu ingin menunjukkan kepada kaum Yahudi ketegasan sikapnya terhadap warga Palestina dengan harapan dapat menenangkan situasi internal sehingga memungkinkannya mengubah sistem peradilan untuk kepentingannya, yang akan menggugurkan semua tuduhan korupsi terhadapnya di pengadilan Yahudi—pedang yang telah tergantung di lehernya sejak lama. Namun hal itu tidak terjadi. Eskalasi dengan Palestina justru berbalik menyerangnya; pembantaian kamp Jenin segera dibalas dengan tewasnya delapan orang Yahudi di Al-Quds, dan pembantaian Nablus dibalas dengan operasi di Huwara dan Yerikho. Akibatnya, posisi Netanyahu semakin terjepit, terutama karena ia menghadapi peningkatan perlawanan oposisi di dalam entitas Yahudi, yang menuduhnya gagal dalam bidang keamanan dan bahwa kebijakannya menyebabkan kaum Yahudi terkena lebih banyak serangan Palestina. Di sini, Netanyahu harus mencari solusi lain.

Keempat: Berdasarkan hal tersebut, Netanyahu mulai mengubah rencananya dengan cepat ke arah menyerang Iran, menganggap hal itu sebagai cara untuk merapatkan barisan Yahudi di belakangnya dan menjamin kekuasaannya. Hal ini didorong oleh beberapa alasan utama, di antaranya:

  1. Sementara warga Palestina membalas serangan entitas Yahudi dengan serangan balasan, pemerintah negara-negara di sekitarnya tunduk dan tidak memberikan tanggapan yang efektif. Suriah tidak membalas serangan Yahudi, begitu pula Irak. Bahkan Iran, yang baru-baru ini terkena serangan drone di pabrik-pabrik militer di Isfahan dan menuduh entitas Yahudi, hanya membalas dua minggu kemudian dengan serangan drone yang lemah terhadap sebuah kapal milik orang Yahudi di Laut Arab yang tidak menyebabkan cedera, melainkan hanya kerusakan ringan pada kapal. Sebelum itu, Iran menuduh entitas Yahudi menyabotase fasilitas nuklir yang menurut mantan presiden menyebabkan kerugian sebesar 10 miliar dolar, namun Iran tidak membalas, dan seterusnya. Artinya, Netanyahu menilai bahwa tanggapan Iran terhadap serangan apa pun akan bersifat kecil, sehingga Netanyahu merasa akan memenangkan putaran tersebut sesuai dugaannya, dan ini mendorongnya untuk melanjutkan agresi.

  2. Dalam masalah nuklir Iran, Iran terus menghadapi kritik internasional yang besar dan berkelanjutan, serta negosiasi belum berhasil mengembalikan kesepakatan nuklir dengan kekuatan besar. Karena entitas Yahudi menyatakan tidak akan membiarkan Iran mencapai ambang batas nuklir, hal ini menjadi pembenaran besar baginya untuk melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam konteks ini, Iran dituduh oleh Barat telah melanggar garis merah dan meningkatkan tingkat pengayaan uranium: (Iran dapat memproduksi cukup bahan pembuat senjata untuk membuat satu bom nuklir hanya dalam waktu 12 hari, dan dapat memproduksi empat bom lagi dalam waktu sebulan menurut Institute for Science and International Security. Laporan lembaga tersebut menunjukkan bahwa rezim Iran dapat memperkaya cukup uranium untuk memproduksi total tujuh senjata nuklir dalam tiga bulan berdasarkan informasi yang diberikan oleh Badan Energi Atom Internasional. Al-Arabiya Net, 5/3/2023).

Kelima: Dengan mencermati, kita menemukan bahwa Netanyahu berfokus pada hal-hal ini dan memanfaatkannya dengan mencoba mengambil inisiatif melancarkan serangan kuat terhadap Iran yang akan menyatukan barisan Yahudi di sekitar pemerintahannya, serta mengakhiri kekacauan internal yang dapat melemahkan kekuasaannya jika ia menyerah padanya dan tidak melakukan tindakan besar di medan lain yang akan mengembalikan citra kekuatan dan kehebatannya serta mengubah peta politik domestik demi kepentingannya. Tampaknya niat dan rencana pemerintahan Netanyahu ini telah sampai ke Washington, yang kemudian bergegas mengambil langkah untuk mencegah pemerintahan Netanyahu melakukan tindakan tersebut. Kepentingan Amerika saat ini, menurut kepentingannya sendiri, diarahkan pada perang Rusia dengan Ukraina selain masalah Tiongkok. Amerika tidak ingin disibukkan dengan perang di kawasan antara Iran dan negara Yahudi. Amerika melihat bahwa Netanyahu, demi menyelesaikan masalah internalnya, berpikir serius untuk memicu perang dengan Iran sehingga memaksa Biden untuk melakukan intervensi, karena Amerika dalam banyak pernyataannya menyatakan berkomitmen terhadap keamanan negara Yahudi, sementara Amerika saat ini sedang sibuk dengan perang-perang lainnya.

Keenam: Oleh karena itu, kunjungan pejabat militer senior AS ke entitas Yahudi bertujuan untuk menghalangi Netanyahu dari perang ini agar tidak memojokkan Biden untuk melakukan intervensi di saat Amerika tidak ingin disibukkan oleh hal lain selain Tiongkok dan perang Rusia di Ukraina. Kunjungan-kunjungan ini dibarengi dengan dua faktor untuk mencapai kepentingan Amerika sebagaimana dijelaskan di atas:

Pertama: Amerika mendorong Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk melunakkan pernyataan-pernyataan nuklir terhadap Iran. Direktur lembaga ini mengunjungi Iran dan bertemu dengan pejabat senior Iran pada periode yang sama dengan kunjungan pejabat Amerika ke kawasan tersebut. Ia mengumumkan adanya kemajuan besar dan menyatakan: ("Bahwa Iran setuju untuk mengaktifkan kembali kamera pemantau di beberapa situs nuklir dan meningkatkan frekuensi inspeksi"... RT, 4/3/2023). Kemudian pernyataan Direktur IAEA yang sangat mencolok, menurut Al Jazeera Net, 5/3/2023: (Grossi mengatakan dalam kunjungannya ke Teheran kemarin, Sabtu, bahwa "setiap serangan militer terhadap fasilitas nuklir dilarang." Netanyahu membalasnya dengan mengatakan: "Rafael Grossi telah membuat pernyataan yang tidak pantas").

Kedua: Intensitas protes internal terhadap Netanyahu. Amerika, selain tidak ingin entitas Yahudi memicu perang melawan Iran saat ini, ia juga ingin Netanyahu tetap tenggelam dalam kekacauan internal dan agar gelombang protes tetap kuat dengan harapan situasi ini akan menggulingkan pemerintahan Netanyahu sehingga para antek Amerika, yaitu pendukung Partai Demokrat, kembali berkuasa di entitas Yahudi. Terutama karena Amerika memiliki pengaruh besar di dalam entitas Yahudi, baik di kalangan politik maupun militer.

Ketujuh: Tampaknya dari apa yang telah dikemukakan, Amerika kemungkinan besar akan berhasil mencegah Netanyahu memulai perang serangan terhadap Iran, apalagi entitas Yahudi terlalu pengecut untuk melakukan perang semacam itu tanpa dukungan Amerika.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (perjanjian) dengan Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia." (QS. Ali 'Imran [3]: 112)

Tali dari Allah telah terputus setelah nabi-nabi mereka, dan tali dari manusia adalah realitas mereka saat ini, ini dari satu sisi. Dari sisi lain, jika Netanyahu putus asa untuk melaksanakan serangan terhadap Iran, maka ia akan terus—dengan nasihat dari tuannya di Partai Republik AS—melakukan langkah ofensif lainnya yang dapat melemahkan momentum gerakan oposisi terhadapnya. Ia mungkin tidak menemukan pilihan lain selain kembali memanaskan situasi di Palestina atau melancarkan serangan ke Jalur Gaza atau Lebanon. Ia dihantui obsesi untuk tetap berkuasa dan tidak membayangkan akan meninggalkannya setelah mengumpulkan koalisi partai-partai sayap kanan dan sayap kanan religius Yahudi di sekelilingnya, yang lebih haus darah kaum Muslim daripada dirinya di mana pun. Hal ini mulai tampak; Sama News melaporkan pada Kamis, 9 Maret 2023: (Tiga warga Palestina syahid oleh peluru pasukan pendudukan yang membunuh mereka pagi ini di kota Jaba, distrik Jenin. Pasukan khusus Israel menyusup ke kota Jaba, selatan Jenin, dan melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang ditumpangi oleh empat pemuda, yang mengakibatkan tiga pemuda syahid... bala bantuan militer tiba di kota itu di tengah bentrokan dengan kelompok-kelompok perlawanan, sebelum pasukan tersebut ditarik mundur.) Demikian pula, France 24 melaporkan pada 10/3/2023: (Al-Quds AFP – Seorang warga Palestina tewas pada hari Jumat oleh peluru pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki, menurut pengumuman tentara Israel dan Kementerian Kesehatan Palestina. Ini terjadi sehari setelah hari baru dalam lingkaran kekerasan yang menewaskan empat warga Palestina, salah satunya adalah pelaku serangan bersenjata di Tel Aviv yang mengakibatkan tiga orang terluka... Seorang warga Palestina melepaskan tembakan pada hari Kamis di Jalan Dizengoff di pusat Tel Aviv dan melukai tiga orang, sebelum ia akhirnya tewas oleh peluru polisi. Sumber medis Israel menyebutkan bahwa kondisi salah satu korban luka saat ini "kritis"... Di sisi lain, polisi Israel mengatakan telah menangkap dua orang... salah satunya dari kota Ramla di selatan Tel Aviv dan yang lainnya dari kota Kseife di Negev (selatan), "dengan tuduhan mengangkut teroris" pelaku operasi Dizengoff...)

Jelas sekali bahwa negara Yahudi membunuh dan menangkap sementara ia merasa aman dari para penguasa Muslim di sekitarnya!

Kedelapan: Akhirnya, entitas ini yang hidup di kawasan seperti tumor ganas, tidak menemukan satu pun penguasa kawasan yang berusaha mencabutnya atau bahkan menjeranya, sebaliknya mereka justru berlomba-lomba untuk melakukan normalisasi dengannya! Oleh karena itu, ia terus berpikir secara permanen untuk melakukan ekspansi dan melenyapkan bahaya apa pun yang ia anggap mengancam keberadaannya. Dan bukan ia sendiri yang melenyapkannya, melainkan dengan kerja sama para penguasa tersebut atau dengan diamnya mereka! Sesungguhnya entitas ini berdiri di atas tanah Islam, tanah Palestina yang diberkati. Hubungan dengannya haruslah hubungan perang, maka normalisasi dengannya adalah kejahatan besar:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Mumtahanah [60]: 9)

Inilah hukum syara' yang wajib dilaksanakan. Hukum ini, meskipun para penguasa di negeri-negeri Muslim tidak ingin menerapkannya, atau tuan-tuan penjajah mereka tidak mengizinkan mereka untuk menerapkannya, namun umat ini adalah umat yang hidup yang tidak akan diam lama terhadap kezaliman. Jika ia terlihat tenang, itu hanyalah ketenangan singa sebelum menerkam. Ia akan memulai kembali kehidupan Islamnya, mendirikan Khilafah Rasyidah dengan izin Allah. Maka Khalifahnya akan menyatukan umat di belakangnya dan memimpin tentara Islam untuk menghinakan wajah kaum Yahudi, memasuki masjid sebagaimana kaum Muslim memasukinya pertama kali, dan menghancurkan apa saja yang dikuasai kaum Yahudi sehancur-hancurnya.

وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيباً

"Dan mereka bertanya, 'Kapan itu (akan terjadi)?' Katakanlah, 'Mungkin waktunya sudah dekat'." (QS. Al-Isra' [17]: 51)

18 Sya'ban 1444 H 10 Maret 2023 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda