Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Kudeta Militer di Mali

September 04, 2020
3254

Jawab Soal

Kudeta Militer di Mali

Pertanyaan:

Dewan Militer di Mali pada Kamis malam, 27/8/2020, mengumumkan pembebasan Presiden Ibrahim Boubacar Keïta, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Anadolu... Sebelumnya, pada malam hari tanggal 18/8/2020, telah diumumkan terjadinya kudeta militer di Mali terhadap Presiden Ibrahim Boubacar Keïta, di mana ia dan Perdana Menterinya, Boubou Cisse, ditangkap. Jadi, siapa di balik kudeta ini? Dan apakah ini ada hubungannya dengan konflik Amerika-Eropa?

Jawaban:

Agar gambaran menjadi jelas, kami akan meninjau hal-hal berikut:

1- Mari kita tengok kembali apa yang terjadi hari ini dengan apa yang terjadi delapan tahun lalu. Sebuah kudeta serupa terjadi pada 22/3/2012 ketika sekelompok perwira berpangkat rendah melakukan kudeta terhadap Presiden Amadou Toumani Toure, yang saat itu masa jabatan keduanya tinggal satu bulan lagi... Kami telah menjelaskan bahwa Amerika berada di balik kudeta tersebut dalam Jawab Soal yang kami keluarkan pada 24/3/2012: ["Semua yang kami sebutkan menunjukkan bahwa Amerika berada di balik kudeta yang terjadi di Mali untuk merambah ke negara Islam ini, membentangkan pengaruhnya, dan menggantikan Prancis sebagai penjajah lama yang masih menancapkan pengaruhnya di sana. Amerika ingin menggagalkan proses pemilu mendatang di Mali karena lingkungan politiknya berafiliasi dengan Prancis. Melalui kudeta ini, Amerika membalikkan keadaan terhadap para pemain dari kalangan antek-antek Prancis yang telah menyepakati permainan politik Prancis. Dengan demikian, Mali terhubung dengan Amerika melalui kendalinya atas gerakan 'militer'."] Hari ini, terjadi lagi para perwira berpangkat rendah, yang tertingginya adalah Kolonel, melakukan kudeta terhadap Presiden Boubacar Keïta, yang terpilih untuk pertama kalinya pada 15/8/2013 dan terpilih kembali untuk masa jabatan kedua pada 12/8/2018. Para tentara bergerak dari kamp Kati, yang berjarak 15 km dari ibu kota, yang merupakan kamp yang sama di mana para pelaku kudeta tahun 2012 bergerak. Prancis, setelah kudeta Maret 2012, berhasil mengeluarkan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk melakukan intervensi di Mali utara, yaitu resolusi nomor 2071 pada 23/9/2012 dan resolusi nomor 2085 pada 20/12/2012, demi melindungi penjajahannya dengan dalih memerangi Al-Qaeda dan kelompok-kelompok ekstremis! Maka dibentuklah pasukan internasional berkekuatan 15 ribu personel, terutama dari Prancis dan Eropa, serta pasukan Afrika di mana Prancis membentuk pasukan gabungan Afrika yang disebut Pasukan G5 Sahel, yang terdiri dari Mauritania, Mali, Niger, Burkina Faso, dan Chad, di mana pengaruh Prancis sangat kuat di sana. Prancis berhasil mengembalikan pengaruhnya kurang dari satu setengah tahun setelah kudeta 2012 dengan terpilihnya Ibrahim Boubacar Keïta pada 15/8/2013, yang kemudian terpilih kembali untuk kedua kalinya pada 12/8/2018! Meskipun Amerika tidak kuat di kalangan masyarakat seperti Prancis, namun Amerika memiliki pintu masuk ke militer yang memungkinkannya melakukan kudeta saat ini dengan cara yang lebih kuat dibandingkan kudeta pertamanya pada tahun 2012! Setelah jatuhnya kudeta pertamanya yang berakhir kurang dari satu setengah tahun setelah terjadi, Amerika mulai bekerja untuk mendapatkan agen-agen di lingkungan politik dan organisasi masyarakat sipil, bukan hanya militer, dalam upaya untuk memiliki dukungan massa guna mendukung kudeta saat ini...

2- Pemimpin kudeta baru, Kolonel Assimi Goïta, pada 19/8/2020 memperkenalkan dirinya sebagai ketua dari apa yang ia sebut sebagai "Komite Nasional untuk Penyelamatan Rakyat" di Mali. Ia tampil di televisi pada Selasa malam 18/8/2020 bersama sekelompok perwira yang melakukan kudeta. Para pelaku kudeta membawa Presiden Keïta, Perdana Menteri Cisse, serta menteri dan pejabat lainnya yang berjumlah 17 orang ke penjara. Kemudian, militer menampilkan Keïta di layar televisi untuk mengumumkan pengunduran dirinya dari kekuasaan demi militer. Ia mengatakan dalam pidatonya: ("Bahwa ia tidak ingin ada darah yang tertumpah demi bertahannya ia di kekuasaan"... Reuters, 19/8/2020). Kolonel Ismaël Wagué, juru bicara kelompok kudeta, mengatakan: ("..negara kita tenggelam dalam kekacauan, anarki, dan ketidakamanan, dan ini sebagian besar disebabkan oleh kesalahan orang-orang yang memikul tanggung jawab atas nasibnya"... Reuters, 19/8/2020). Kolonel Ismaël Wagué juga mengatakan: ("Kami akan membentuk dewan transisi yang memiliki presiden transisi, baik militer maupun sipil. Kami menjalin kontak dengan masyarakat sipil, partai-partai oposisi, mayoritas, dan semua orang untuk mencoba mengatur transisi.. Bahwa Komite Nasional yang dibentuk oleh dewan transisi terdiri dari 6 militer dan 18 sipil, dan ia akan berperan sebagai badan legislatif transisi, di mana ketua dewan akan dipilih oleh para anggotanya"... Al-Jazeera, 21/8/2020). Di sini tampak bahwa militer telah merancang kudeta bersama para politisi dan kelompok oposisi, termasuk apa yang disebut organisasi masyarakat sipil dari serikat pekerja dan asosiasi, yang kini melakukan aktivitas politik dan didanai serta dibeli loyalitasnya oleh negara-negara kolonialis. Tampak bahwa Amerika telah berhasil memenangkan banyak dari mereka untuk menjatuhkan Keïta sebelum ia menyelesaikan masa jabatan keduanya, dalam upaya Amerika untuk menjamin keberhasilan antek-anteknya di masa depan dengan fokus pada tentara dan memenangkan agen dari kalangan perwiranya.

3- Tampaknya Amerika kali ini mencoba agar kudetanya memiliki pilar-pilar kerakyatan. Oleh karena itu, Amerika menyiapkannya sejak awal Juni lalu, di mana meletus aksi protes yang diikuti oleh ribuan demonstran di jalan-jalan Bamako, ibu kota Mali, menuntut Presiden Keïta mundur dan menuduhnya serta pemerintahannya melakukan korupsi, nepotisme, lemahnya pelayanan publik, malpraktik dalam pemilu, ketidakmampuan kepemimpinan, dan kegagalan dalam memerangi apa yang mereka sebut ekstremisme dan terorisme. Partai-partai tertentu membentuk koalisi yang dikenal sebagai Koalisi 5 Juni atau M5. Nouhoum Togo, pemimpin Koalisi 5 Juni yang memimpin aksi protes, mengatakan: ("Bahwa ia bekerja sama dengan militer yang mengambil alih kekuasaan", dan ia menggambarkan sanksi kelompok ECOWAS sebagai "reaksi berlebihan yang disebabkan oleh kekhawatiran beberapa pemimpinnya bahwa kudeta tersebut akan menyebabkan kerusuhan politik di negara mereka". Ia juga "menyambut kudeta militer" tersebut dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang "datang untuk melengkapi perjalanan rakyat Mali dan aspirasi mereka menuju negara demokratis, sipil, dan sekuler"... Al-Jazeera, 21/8/2020). Tampaknya aksi protes di Mali tidaklah spontan, melainkan dipimpin oleh agen-agen yang mengemban ide-ide penjajah berupa demokrasi, sipil, dan sekuler. Mereka bersekutu dengan militer dan mendukung kudeta. Sebab, Amerika bertujuan menjadikan Mali sebagai titik awal dan pusat penularan kudeta di wilayah tersebut untuk menjatuhkan rezim-rezim yang berafiliasi dengan Prancis dan Inggris di Afrika Barat dan Tengah.

4- Kemudian utusan Amerika untuk wilayah Sahel, J. Peter Pham, menulis di akun Twitter-nya menyusul kudeta di Mali: ("Amerika Serikat menentang semua perubahan pemerintahan yang tidak konstitusional" dan mengatakan "bahwa Amerika Serikat telah menangguhkan semua aspek kerja sama dengan militer Mali sampai situasi politik menjadi jelas setelah perwira menggulingkan Presiden Ibrahim Keïta". Ia menambahkan "bahwa keputusan mengenai apakah apa yang terjadi baru-baru ini akan secara resmi disebut sebagai kudeta harus dikeluarkan setelah peninjauan hukum"... Reuters, 22/8/2020). Dari situ tampak bahwa Amerika tidak mengecam kudeta dan para pelakunya. Perkataannya melalui lisan utusannya tentang penolakan terhadap perubahan inkonstitusional adalah perkataan umum yang tidak ada hubungannya dengan kudeta ini. Bahkan Amerika mendukung kudeta Sisi di Mesir dan kudeta militer di Sudan dan tidak menganggap keduanya sebagai pelaku kudeta karena keduanya adalah buatannya. Demikian pula dalam kudeta Mali, Amerika mengatakan melalui utusannya bahwa ia akan melakukan peninjauan hukum untuk meneliti apakah apa yang terjadi itu kudeta atau bukan!! Hal ini menunjukkan bahwa ia berada di balik kudeta tersebut. Hal ini didukung oleh apa yang disebutkan oleh situs Al-Jazeera Qatar pada 21/8/2020: ("Dan Amerika memberikan pelatihan rutin kepada tentara Mali, termasuk beberapa perwira yang memimpin kudeta terhadap Keïta".) Jadi, mereka yang memimpin kudeta adalah orang-orang yang dilatih oleh Amerika dan dimenangkan sebagai agennya. Hal yang sama juga terjadi pada kudeta tahun 2012, dan kami telah menyebutkan hal itu dalam Jawab Soal yang kami keluarkan terkait hal ini pada 24/3/2012: ("Situs Al-Ashr pada 24/3/2012 mengutip dari sumber-sumber Amerika yang terpercaya bahwa seorang diplomat Amerika yang meminta namanya tidak disebutkan kepada pers menyatakan: 'Bahwa pemimpin kudeta, Kapten Amadou (Ahmadou) Haya Sanogo, telah dipilih di antara perwira elit oleh Kedutaan Besar Amerika untuk menerima pelatihan militer kontra-terorisme di Amerika Serikat'. Ia menambahkan bahwa 'Sanogo telah beberapa kali bepergian ke Amerika dalam misi khusus...'"). Amerika mengambil langkah yang sama seperti yang diambilnya pada tahun 2012 melalui kudeta untuk mengusir orang-orang Eropa dan menggantikan posisi mereka agar bisa memonopoli penjajahan negara tersebut. Namun kali ini, mungkin fokusnya lebih besar dari sebelumnya, karena Amerika mulai menemukan lingkungan politik di partai-partai politik dan organisasi masyarakat sipil sebagai tandingan bagi lingkungan politik yang loyal kepada Prancis.

5- Reaksi Prancis sebagai pemegang pengaruh di sana muncul dengan kecaman keras, seolah-olah mereka menjadi gila. Kepresidenan Prancis menyatakan: ("Bahwa kepala negara Macron mengikuti dengan seksama situasi ini dan mengecam upaya pemberontakan yang sedang berlangsung"... AFP, 18/8/2020). Menteri Luar Negeri Prancis Le Drian mengatakan: ("Bahwa Prancis mengutuk dengan istilah yang paling keras peristiwa berbahaya ini"... Al-Hurra, 19/8/2020). Macron pada 20/8/2020 saat pertemuannya dengan Kanselir Jerman Merkel untuk membahas perkembangan di Mali mengatakan: ("Prancis dan Jerman mengecam kudeta yang terjadi di Mali dan menginginkan negara tersebut kembali secepat mungkin ke pemerintahan sipil. Seharusnya tidak ada hal yang mengalihkan perhatian dari upaya menghadapi aksi kekerasan yang dilakukan oleh ekstremis Islam di wilayah Sahel", menurut perkataannya. Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan "Prancis akan melanjutkan operasi militernya di Mali melawan ekstremis meskipun presiden negara tersebut digulingkan dua hari lalu dalam sebuah kudeta militer"... Reuters, 20/8/2020). Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan betapa terganggunya Prancis oleh kudeta tersebut, yang menegaskan bahwa kudeta ini menargetkan pengaruhnya di sana. Prancis menjarah kekayaan Mali dan negara-negara tetangganya yang kaya akan sumber daya mineral yang sangat besar dan langka. Prancis menjadikannya sebagai lokasi strategis penting untuk melindungi pengaruhnya di Afrika Barat, karena negara tersebut bersama negara-negara Sahel membentuk satu kawasan, di mana jika pengaruhnya tercerabut dari satu negara maka "infeksinya" mungkin menular ke negara lain. Prancis berupaya mendukung keberadaan militernya yang berjumlah sekitar 5.100 tentara dengan pasukan Eropa, dan meminta bantuan Jerman di mana Jerman berpartisipasi bersama Prancis dengan pasukan berjumlah sekitar 1.100 tentara di bawah apa yang disebut Operasi Barkhane. Prancis juga meminta bantuan negara-negara Teluk, termasuk UEA, untuk mendanai pasukan gabungan Afrika. Inggris berpartisipasi dengan sekitar 250 tentara dan tiga helikopter. Uni Eropa berpartisipasi dengan sekitar 620 tentara. Sementara Amerika menolak mendukung pasukan Barkhane dengan dana dan peralatan, dan mengatakan bahwa mereka berkontribusi melalui informasi intelijen dan pengawasan berkat pesawat nirawaknya.

6- Uni Afrika dan organisasi ECOWAS mengecam kudeta tersebut. Moussa Faki Mahamat, ketua Komisi Uni Afrika, mengatakan di Twitter: "Saya mengutuk keras penangkapan Presiden Ibrahim Keïta, Perdana Menteri, dan anggota pemerintah Mali lainnya dan menyerukan pembebasan segera mereka". Kelompok Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) yang berjumlah 15 negara sepakat untuk menutup perbatasannya dengan Mali, menangguhkan semua aliran dana ke negara tersebut, dan mengeluarkan Mali dari semua badan pengambil keputusan di kelompok tersebut. Delegasi dari kelompok ini pada 22/8/2020 mengunjungi Mali dan bertemu dengan para pemimpin kudeta. Pertemuan tersebut diharapkan berlangsung selama satu setengah jam, namun hanya berlangsung selama 20 menit, yang menunjukkan kegagalan misi kelompok ini yang datang untuk meyakinkan para pemimpin kudeta agar mengembalikan Keïta dan pemerintahannya ke kekuasaan sebagaimana disebutkan oleh kantor berita. Namun para pemimpin kudeta menolak hal itu dan bersikeras pada kudeta mereka, serta menyatakan bahwa negosiasi dengan delegasi kelompok tersebut dapat dilakukan mengenai durasi masa transisi. Perlu diketahui bahwa Uni Afrika dan organisasi ECOWAS didominasi oleh agen-agen Eropa, khususnya di Afrika Barat.

7- Kesimpulannya adalah bahwa Amerika sedang bersaing dengan Eropa, khususnya Prancis dan Inggris, di Afrika, terutama di negara-negara Islam yang paling khusus, termasuk Mali. Mali adalah negara Islam yang diperebutkan oleh kaum kolonialis untuk membentangkan pengaruh agar mereka dapat menjarah kekayaannya, di mana Prancis saat ini menguasai porsi terbesar di sana. Kaum kolonialis juga memperebutkannya karena lokasi strategisnya di Afrika Barat yang membentuk satu kawasan dengan negara-negara Sahel. Penduduknya yang Muslim dibiarkan menderita kemiskinan, kekurangan, dan penyakit, sementara para penguasa antek menjamin apa yang diinginkan penjajah demi mendapatkan kursi kekuasaan yang miring dalam keadaan mereka yang hina. Mali adalah negara lemah yang rentan terhadap penjajahan karena tidak ada kekuatan kaum Muslim yang mampu melindunginya dari invasi kaum kolonialis. Mereka mengeluarkan resolusi untuk intervensi militer langsung dengan dalih-dalih yang lemah. Tidak ada kekuatan Islam seperti Daulah Khilafah Rasyidah yang dinanti-nanti dengan izin Allah untuk menghadang invasi mereka dan memberi mereka pelajaran yang tidak akan mereka lupakan. Maka, beramal untuk mewujudkan negara ini adalah termasuk kewajiban yang paling utama, karena di dalamnya terdapat kemuliaan, kemenangan, dan perlindungan dari setiap orang yang sombong lagi kafir... Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu laksana perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim)

13 Muharram Al-Haram 1442 H 1 September 2020 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda