Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: Akal atau Persepsi atau Berpikir

April 17, 2021
3754

Seri Jawaban Ulama Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Laman Facebook Beliau "Fikri"

Jawab Pertanyaan

Akal atau Persepsi atau Berpikir Kepada Atmani Atmani Atmani

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Syekh kami yang mulia. Apa perbedaan antara pendapat terdahulu (ara' sabiqah) dengan informasi terdahulu (ma’lumat sabiqah) dalam metode berpikir? Mengingat bahwa pemikiran, persepsi, atau akal tidak akan terwujud kecuali dengan empat komponen: fakta (waqi'), indra (hiss), informasi terdahulu (ma’lumat sabiqah), dan otak yang sehat untuk menghubungkan. Apa perbedaan antara pendapat terdahulu dan informasi terdahulu yang berkaitan dengan penafsiran fakta?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

  1. Sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan, akal, persepsi, atau berpikir adalah proses pemindahan pengindraan terhadap fakta melalui indra ke dalam otak disertai adanya informasi terdahulu yang digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Artinya, proses berpikir tidak akan sempurna hingga terpenuhi empat elemen: fakta, pengindraan terhadap fakta (indra), otak yang sehat untuk menghubungkan, dan informasi terdahulu mengenai fakta tersebut atau yang berkaitan dengannya.

  2. Agar proses berpikir terjadi pada manusia di bumi ini, Allah SWT telah membekali Adam as. dengan informasi terdahulu yang menafsirkan berbagai fakta yang ada di bumi yang menjadi objek pemikiran. Disebutkan dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Juz 3:

"Adapun firman Allah SWT:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

'Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.' (QS. Al-Baqarah [2]: 31)

Maka yang dimaksud di sini adalah nama-nama dari benda-benda, bukan bahasa. Artinya, Allah mengajarkan kepadanya hakikat benda-benda dan karakteristiknya, yakni memberinya informasi yang digunakannya untuk menilai benda-benda tersebut. Sebab, pengindraan terhadap fakta saja tidak cukup untuk menilainya dan memahami hakikatnya, melainkan harus ada informasi terdahulu yang digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Maka Allah SWT mengajarkan Adam nama-nama, yakni nama-nama dari benda, sehingga Dia memberinya informasi yang dengannya Adam mampu menilai benda-benda yang diindranya..." Selesai.

  1. Dari sinilah pemikiran muncul dan terus berlanjut sejak pemikiran pertama terjadi melalui pemberian informasi terdahulu oleh Allah kepada Adam. Kemudian Adam menggunakannya untuk menafsirkan fakta yang menjadi objek pemikiran bersama dua elemen lainnya yang ada padanya (otak dan indra). Kehidupan pun terus berlanjut dengan berbagai bidang pemikiran yang luas. Dengan demikian, pemahaman yang benar tentang bagaimana proses berpikir pertama kali terjadi pada manusia akan secara pasti menghantarkan pada keimanan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, gerakan-gerakan kafir yang mengingkari eksistensi Sang Pencipta mendefinisikan akal atau berpikir dengan menggugurkan elemen informasi terdahulu! Padahal, pemikiran tentang fakta tidak mungkin terjadi tanpa informasi terdahulu yang menafsirkan fakta tersebut, dan ini adalah perkara yang sangat jelas (ma’lum bi adh-dharurah). Namun, gerakan-gerakan kafir seperti kaum Komunis mengingkari informasi terdahulu agar tidak membawa mereka pada keimanan kepada Sang Pencipta yang telah membekali Adam as. dengan informasi terdahulu untuk membentuk pemikiran pertama dalam kehidupan ini, yang kemudian diikuti oleh proses berpikir selanjutnya. Hal ini karena pengindraan terhadap fakta bersama otak tidak akan menghasilkan pemikiran tanpa adanya informasi terdahulu untuk menafsirkan fakta yang menjadi objek pemikiran. Pengindraan terhadap fakta ditambah satu pengindraan lagi, ditambah sejuta pengindraan sekalipun, sebanyak apa pun jenis pengindraannya, hanya akan menghasilkan pengindraan saja, dan tidak akan pernah menghasilkan pemikiran sama sekali. Manusia harus memiliki informasi terdahulu yang digunakannya untuk menafsirkan fakta yang diindranya agar terjadi sebuah pemikiran. Oleh karena itu, rangkaian pemikiran—terutama pemikiran yang pertama—akan menghantarkan pada keimanan kepada Allah yang telah membekali Adam as. dengan informasi terdahulu.

  2. Itu mengenai informasi terdahulu (ma’lumat sabiqah). Adapun pendapat terdahulu (ara' sabiqah) adalah penilaian-penilaian terhadap fakta yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh manusia, baik karena ia sendiri yang melakukan proses berpikir dan menilai fakta tersebut, atau karena ia menerima penilaian itu dari orang lain melalui didikan, membaca, dan sebagainya. Jadi, pendapat terdahulu adalah hasil pemikiran (ide) tentang fakta.

  3. Dengan demikian, perbedaan antara informasi terdahulu dan pendapat terdahulu dapat diringkas dalam dua perbedaan utama:

Pertama: Pendapat terdahulu adalah pemikiran-pemikiran terdahulu pada manusia yang merupakan penilaian terhadap fakta yang sedang diteliti, baik secara menyeluruh maupun parsial. Sedangkan informasi terdahulu adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menafsirkan fakta tanpa harus memberikan penilaian terhadapnya, melainkan hanya untuk menjelaskannya saja; dan ia merupakan salah satu faktor berpikir yang tanpanya berpikir tidak akan terjadi.

Kedua: Pendapat terdahulu adalah penilaian yang sudah ada sebelumnya terhadap fakta yang ingin dipikirkan, dengan tujuan untuk menemukan penilaian yang benar menurut sudut pandang pemikir. Oleh karena itu, pendapat terdahulu tidak boleh digunakan dalam proses berpikir. Yang digunakan hanyalah informasi saja, sembari mencegah adanya pendapat terdahulu dalam proses tersebut dan mencegah intervensinya. Sebab, jika pendapat terdahulu digunakan, hal itu dapat menyebabkan kesalahan dalam persepsi, karena pendapat tersebut bisa mendominasi informasi sehingga menafsirkannya dengan tafsiran yang salah, lalu terjadilah kesalahan dalam persepsi. Oleh karena itu, harus diperhatikan pembedaan antara pendapat terdahulu dengan informasi, dan yang digunakan hanyalah informasi saja, sementara pendapat terdahulu harus dijauhkan dari fakta yang sedang diteliti. Disebutkan dalam kitab At-Tafkir halaman 21-23:

"Hanya saja, dalam definisinya harus dibedakan antara pendapat terdahulu (ara' sabiqah) tentang sesuatu dengan informasi terdahulu (ma'lumat sabiqah) tentangnya atau yang berkaitan dengannya. Hal yang mutlak ada dalam metode berpikir (thariqah aqliyyah) bukanlah keberadaan sebuah pendapat atau pendapat-pendapat terdahulu tentang fakta, melainkan keberadaan informasi terdahulu tentangnya atau yang berkaitan dengannya. Oleh karena itu, yang harus ada adalah informasi, bukan pendapat..."

  1. Berikut adalah dua contoh untuk memperjelas hal tersebut di atas:

a. Jika Anda memberikan kepada seseorang, siapa pun dia, sebuah buku berbahasa Suryani, sementara ia tidak memiliki informasi apa pun terkait bahasa Suryani, lalu kita biarkan indranya berinteraksi dengan tulisan tersebut melalui penglihatan dan perabaan, dan kita ulangi pengindraan ini sejuta kali, maka ia tidak akan mungkin bisa memahami satu kata pun sampai ia diberikan informasi tentang bahasa Suryani dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Baru setelah itu ia mulai bisa memikirkannya dan memahaminya. Tidak bisa dikatakan bahwa ini hanya khusus untuk bahasa saja yang merupakan konvensi manusia sehingga membutuhkan informasi mengenainya. Hal itu tidak bisa dikatakan demikian karena topiknya adalah proses intelektual (amaliyyah aqliyyah), dan proses tersebut adalah kerja akal, baik dalam menetapkan penilaian, memahami indikasi (dalalah), maupun memahami hakikat. Proses intelektual adalah satu proses yang sama dalam segala hal.

b. Jika Anda ingin meneliti suatu masalah politik untuk mencapai pendapat yang benar, misalnya masalah intervensi Turki dalam peristiwa di Libya dengan mengirimkan tentara bayaran serta mendukung Sarraj dan Pemerintahan Kesepakatan Nasional (Government of National Accord) dengan senjata dan intelijen. Jika terdapat pendapat terdahulu bahwa dukungan Erdogan terhadap pasukan Pemerintahan Kesepakatan Nasional adalah karena kecintaannya pada kaum Muslim dan perhatiannya pada rakyat Libya, serta karena ia mendukung gerakan-gerakan Islam bersenjata dan memberikan bantuan kepada mereka, dst. Maka pendapat ini adalah sebuah penilaian terhadap masalah yang ingin Anda teliti, bukan sekadar informasi terdahulu tentangnya. Ketepatan penelitian menuntut Anda untuk menanggalkan pendapat terdahulu ini dan mempelajari masalah tersebut di dalam bingkai dalil-dalil politik yang tersedia secara objektif. Dengan demikian, Anda akan sampai pada pendapat yang benar dalam masalah tersebut.

Semoga penjelasan ini mencukupi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saudara Kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

04 Ramadhan 1442 H 16 April 2021 M

Link Jawaban dari Laman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya) Link Jawaban dari Situs Web Amir (semoga Allah menjaganya)

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda