Pertanyaan:
(Hollande mendeskripsikan serangan udara Rusia di Aleppo sebagai "kejahatan perang") (BBC Arabic, 20-10-2016), hal itu terjadi setelah upacara pembukaan pusat kebudayaan agama Ortodoks Rusia di Paris tanpa kehadiran Putin pada 19-10-2016. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada 11-10-2016 telah mengumumkan bahwa Presiden Putin memutuskan untuk membatalkan kunjungan resminya ke Paris yang dijadwalkan pada tanggal 19 bulan ini. Hal ini terjadi setelah Presiden Prancis menyatakan keraguannya untuk menerima Putin di Paris, menyusul penggunaan veto oleh Rusia terhadap draf resolusi Prancis terkait Suriah yang menimbulkan ketegangan dalam hubungan kedua negara... Apa penyebab hal tersebut? Bagaimana pengaruhnya terhadap hubungan Rusia-Eropa? Dan apakah peristiwa-peristiwa ini akan menyebabkan perubahan pihak-pihak internasional yang berperan aktif dalam krisis Suriah? Dengan kata lain, apakah Uni Eropa akan memiliki peran dan peran Rusia akan surut? Jazakallahu khairan...
Jawaban:
Agar jelas penyebab hal itu, pengaruhnya, dan apakah akan berakibat pada perubahan pihak-pihak internasional yang berperan aktif... kita akan meninjau hal-hal berikut:
Pertama: Gagasan kemitraan internasional yang diaktifkan oleh pemerintahan Obama menghasilkan penugasan Rusia dengan sebuah tugas internasional (wazhifah dauliyyah) di Suriah. Inilah realitas yang ada di Washington, dan hal ini sering diungkapkan oleh beberapa politisi Rusia ketika mereka berbicara tentang keangkuhan Amerika dalam membahas masalah Suriah dengan Rusia. Amerikalah yang berada di balik penugasan Rusia dengan misi pembunuhan dan penghancuran di Suriah... demikian pula di balik penjauhan negara-negara Eropa, khususnya Inggris dan Prancis, dari campur tangan dalam penyelesaian krisis Suriah. Sementara itu, Rusia yakin bahwa tugas internasional ini secara otomatis akan mengubah Rusia menjadi negara yang berpengaruh di panggung internasional. Namun, Rusia selalu terkejut setiap kali Amerika menolak untuk melibatkannya dalam isu-isu lain. Bahkan dalam krisis Ukraina yang sangat sensitif bagi Rusia, Amerika berpandangan bahwa kerja samanya dengan Rusia di Suriah tidak akan mengarah pada pengakuan atas kepentingan Rusia di Ukraina; karena Suriah adalah satu masalah dan Ukraina adalah masalah lain.
Demikianlah Rusia menonjol secara internasional karena intervensinya di Suriah dan mengembalikan kekuatan militernya ke garis depan. Meskipun ada kritik dari beberapa politisi di Washington terhadap kebijakan kemitraan internasional ini—di mana terdapat dokumen dari lima puluh diplomat di Departemen Luar Negeri AS yang menuntut pemerintah untuk melakukan solusi sepihak bagi krisis Suriah, yaitu tanpa Rusia—namun pemanfaatan Rusia tetap merupakan kebijakan yang dijalankan di Washington. Kebijakan Amerika ini, dan penonjolan Rusia di arena internasional yang dihasilkannya, telah memicu kemarahan besar di Eropa Barat...
Kedua: Rusia melihat posisi internasionalnya semakin kuat karena Suriah, dan "jubah keagungan" telah kembali kepadanya melalui kekuatan militer serta pertemuan Kerry-Lavrov terkait Suriah. Dengan demikian, Rusia sepenuhnya mengikuti Amerika dalam mengisolasi Eropa dari Suriah. Rusia merasa senang dengan pembatasan krisis yang dilakukan Amerika hanya di antara mereka berdua, terutama karena Rusia adalah pihak yang masuk ke kawasan pengaruh Amerika atas penugasan dari Washington... Namun secara internasional, Rusia tampak seperti halnya Amerika yang tidak mempedulikan negara-negara besar di Eropa. Mungkin negara-negara Eropa mengharapkan Rusia tidak mengikuti jejak Washington, melainkan menjadi penolong bagi mereka dalam mematahkan hegemoni Amerika atas posisi internasional... Oleh karena itu, kepatuhan total Rusia kepada Amerika sangat menjengkelkan Eropa.
Ketiga: Amerika selama ini menjadi dinding utama dalam mengisolasi Eropa dari krisis Suriah dan membatasi persoalan tersebut hanya antara dirinya dan Rusia. Namun baru-baru ini, Eropa melihat adanya celah pada dinding ini yang mereka harapkan dapat menjadi jalan masuk ke dalam krisis Suriah melalui hal-hal berikut:
Selama bulan-bulan terakhir, Amerika mempercepat langkahnya untuk mencapai prestasi dalam penyelesaian krisis di Suriah demi meraih kesuksesan yang akan dicatat bagi Presiden Obama yang akan segera lengser, serta untuk mendukung kampanye Demokrat, Hillary Clinton, dalam pemilihan presiden AS. Maka terjadilah kesepakatan-kesepakatan antara Amerika dan Rusia, serta peningkatan pengeboman brutal Rusia terhadap kota Aleppo, yang terakhir adalah kesepakatan Amerika-Rusia untuk menghentikan permusuhan di Suriah pada 9-9-2016.
Rakyat Suriah menolak kesepakatan tersebut, artinya mereka menolak rencana Amerika. Hal ini diikuti oleh setiap revolusioner yang ikhlas, bahkan mereka yang masih memiliki sisa rasa malu tidak sanggup menanggung kehinaan dari kesepakatan itu sehingga mereka menolaknya. Penolakan tersebut mencapai puncaknya dengan penolakan kerja sama dengan pasukan khusus Amerika yang dimasukkan oleh Erdogan dalam operasi "Firat Kalkanı" (Perisai Efrat). Amerika melihat perlunya mengintensifkan pengeboman di Aleppo secara lebih brutal dengan harapan dapat memengaruhi rakyat Suriah dan para pejuangnya agar mau menerima rencana Amerika atau sebagian darinya, sehingga kesuksesan dapat dicatat bagi Obama sebelum akhir masa jabatannya... Dan karena Amerika menampakkan dirinya seolah berada di pihak oposisi, maka ia meningkatkan ketegangan dengan Rusia agar Amerika tampak seperti penentang pengeboman brutal Rusia... hingga muncul pengumuman Amerika tentang penghentian kerja sama dengan Rusia di Suriah...
Dengan demikian terjadilah aksi saling serang secara verbal antara Rusia dan Amerika yang mencapai puncaknya dalam pertemuan Sidang Umum di New York pada tanggal 20 dan 22-09-2016... Kebuntuan Amerika yang berulang di Suriah ini dan kecenderungan Amerika untuk melakukan "istirahat sejenak bagi pihak yang berdamai", yakni kegagalan penyelesaian Kerry-Lavrov dan pengumuman Amerika bahwa mereka sedang mencari opsi lain, merupakan celah yang dilihat Eropa pada dinding Amerika. Maka negara-negara Eropa di New York menyambut gembira berakhirnya format Kerry-Lavrov dalam pertemuan Sidang Umum, dan mereka mulai memanfaatkan hal ini dengan kuat agar memiliki peran di samping Amerika dalam krisis Suriah... Kemudian mereka mulai memperlebar jarak antara mereka dan Rusia dengan harapan dapat meyakinkan Amerika untuk menjauhkan Rusia dari Suriah. Inilah akar dari ketegangan baru antara Eropa dan Rusia.
Keempat: Sudah sewajarnya di hadapan iklim baru ini dan penglihatan Eropa terhadap celah di dinding Amerika, pernyataan dan inisiatif Eropa mulai muncul dalam upaya untuk masuk ke dalam krisis Suriah, dan Prancis berada di barisan terdepan, di antaranya:
Bersamaan dengan pengumuman resmi Amerika tentang berakhirnya kerja sama Amerika dengan Rusia di Suriah, Prancis segera maju ke depan. Diumumkanlah draf resolusi Prancis di Dewan Keamanan untuk memberlakukan penghentian permusuhan, dan Rusialah yang menjadi sasarannya. Prancis telah mempersiapkan draf ini dengan kunjungan Menteri Luar Negerinya, Ayrault, ke Moskow pada 5 dan 6-10-2016 untuk meyakinkan pihak Rusia akan draf tersebut... Draf Prancis itu menuntut zona larangan terbang di atas Aleppo, yang bertentangan dengan kesepahaman Amerika-Rusia sebelumnya mengenai perlunya melanjutkan lebih banyak pengeboman untuk menundukkan para pejuang. Oleh karena itu, Rusia merasa terjepit selama kunjungan Menteri Prancis tersebut; di satu sisi mereka mengatakan bahwa draf Prancis terlalu menyederhanakan masalah, dan di sisi lain mereka khawatir untuk menolaknya. Melanjutkan upaya Prancis untuk menyukseskan draf tersebut, Menteri Luar Negerinya juga mengunjungi Washington setelah Moskow untuk menjamin dukungan Amerika terhadap draf tersebut di Dewan Keamanan.
Rusia menggagalkan seluruh upaya Prancis dengan veto di Dewan Keamanan pada 8-10-2016... Maka berkobarlah ketegangan antara Rusia dan Prancis beserta negara-negara Eropa lainnya yang melihat Rusia sebagai dinding baru yang menghalangi mereka masuk ke dalam krisis Suriah. Seolah-olah Amerika sengaja menciptakan celah pada dindingnya dan memancing selera negara-negara Eropa setelah memastikan keteguhan Rusia pada tugas yang dipercayakan Amerika kepadanya.
Kunjungan Presiden Rusia Putin ke Paris yang dijadwalkan pada 19-10-2016 bertepatan dengan ketegangan dalam hubungan Rusia-Prancis ini. Meskipun itu adalah kunjungan pribadi untuk meresmikan pusat kebudayaan Rusia dan gereja Ortodoks, telah disepakati bahwa Presiden Prancis akan mendampingi Putin selama upacara pembukaan tersebut. Karena ketegangan itu, Presiden Prancis pada 10-10-2016 mengumumkan keraguannya untuk menerima Putin dalam kunjungan pribadinya tersebut, sementara Kremlin dari Moskow mengumumkan bahwa persiapan kunjungan Presiden Rusia tetap berjalan seperti biasa. Dengan demikian Rusia berada dalam posisi yang memalukan, di mana Prancis mengumumkan bahwa Presiden Prancis hanya akan membahas krisis Suriah dengan Putin selama kunjungan tersebut dan tidak akan mendampinginya dalam upacara pembukaan yang semula dijadwalkan sebagai bentuk kesopanan. (Pemimpin Prancis tersebut mengatakan bahwa ia tidak mempertimbangkan kemungkinan kunjungan mitranya dari Rusia ke Paris kecuali dengan tujuan semata-mata untuk membahas berkas Suriah. Ia berkata: "Saya tidak bermaksud mendampingi Putin selama upacara pembukaan pusat kebudayaan Rusia, tetapi saya siap untuk terus membahas masalah Suriah saja, dan inilah yang saya tegaskan kepada Presiden Rusia") (Russia Today, 11-10-2016). Rusia pun marah, dan pada 11-10-2016 diumumkan di Moskow tentang pembatalan kunjungan Presiden Rusia ke Paris. Dengan demikian, ketegangan Prancis-Rusia mencapai tingkat yang tinggi di antara kedua negara.
Eskalasi Prancis terus berlanjut: (Paris: Sebuah surat kabar lokal Prancis melaporkan bahwa Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan ia tidak berniat mengendurkan tekanan terhadap Rusia karena dukungannya kepada pemerintah Suriah dalam pertempurannya melawan oposisi, namun ia tetap siap bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas perang yang sedang berlangsung.) (Reuters Arabic, 16-10-2016)
(Presiden Prancis Francois Hollande dan Kanselir Jerman Angela Merkel mengkritik keras pada Kamis 20-10-2016 serangan udara yang dilancarkan oleh Rusia dan rezim Suriah di kota Aleppo dalam konferensi pers bersama setelah KTT Prancis-Jerman-Rusia di Berlin. Hollande menyebut serangan udara ini sebagai "kejahatan perang"... Sementara itu, Merkel menyebut serangan udara Rusia dan Suriah di Aleppo sebagai tindakan "tidak manusiawi"...) (BBC Arabic, 20-10-2016).
- Inilah penyebab meningkatnya ketegangan hubungan Prancis-Rusia hingga menjadi sorotan utama peristiwa, khususnya terkait krisis Suriah... Terlebih lagi Prancis, seperti halnya Rusia, tidak mahir dalam manuver politik, yang berarti ketegangan akan memicu ketegangan lebih lanjut dan dapat mencapai tingkat kekakuan dalam hubungan kedua negara...
Kelima: Adapun mengenai pengaruh ketegangan hubungan Rusia-Prancis terhadap hubungan Eropa secara umum dan dampak dari hubungan tersebut adalah sebagai berikut:
- Ketegangan Rusia-Prancis adalah ketegangan dalam hubungan Rusia dengan Eropa secara keseluruhan, terutama negara-negara Eropa yang berpengaruh seperti Inggris dan pada tingkat tertentu Jerman... Sikap Prancis dan keputusannya di Dewan Keamanan mewakili Uni Eropa, termasuk Inggris yang masih menjadi anggotanya. Bahkan Inggris mengoordinasikan kebijakannya dengan Prancis secara besar-besaran. Prancis dengan dorongan dan keberaniannya yang khas tanpa kesadaran bertindak sebagai ujung tombak bagi Uni Eropa dan Inggris khususnya dalam kebijakan internasional. Yang paling menunjukkan hal itu adalah cepatnya perubahan ketegangan Rusia-Prancis menjadi ketegangan Inggris dengan Rusia. "Segera setelah pemungutan suara di Dewan Keamanan, delegasi Inggris dalam pidatonya menegaskan dengan kuat bahwa veto Rusia merupakan 'aib' yang kita ketahui mengenai tindakan Rusia" (Al-Arabiya Net, 8-10-2016). Juga, Middle East Online pada 11-10-2016 menyebutkan, (Johnson mengatakan kepada parlemen, "Jika Rusia terus melanjutkan jalurnya yang sekarang, saya rasa negara besar ini berisiko menjadi negara paria," seraya menyerukan kelompok-kelompok anti-perang untuk memprotes di depan kedutaan Rusia. Ia melanjutkan, "Semua bukti yang ada menunjukkan tanggung jawab Rusia atas tindakan mengerikan ini" mengacu pada serangan terhadap konvoi bantuan kemanusiaan.) Rusia kemudian membalas keesokan harinya menurut Sputnik Rusia pada 12-10-2016, (Kementerian Pertahanan Rusia menganggap klaim Johnson sebagai akibat dari penyakit neuropsikiatri yang menyerang mereka yang menyimpan permusuhan terhadap orang lain. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, mengatakan bahwa klaim Johnson merupakan gejala dari "histeria anti-Rusia yang melekat pada beberapa pemimpin politik Inggris")... Kemudian pernyataan yang kami sebutkan tadi: (Hollande menyebut serangan udara ini sebagai "kejahatan perang"... Sementara itu, Merkel menyebut serangan udara Rusia dan Suriah di Aleppo sebagai tindakan "tidak manusiawi"..) (BBC Arabic, 20-10-2016).
Artinya, ketegangan dengan Rusia bergulir mencakup Uni Eropa, dan suara-suara di Eropa semakin keras menuntut penekanan terhadap Rusia dan pengenaan sanksi baru karena Suriah... Dengan demikian, Prancis, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya cenderung semakin mempertegang hubungan mereka dengan Rusia, menyatakan penolakan mereka terhadap Rusia dan kebijakannya. Semua itu dengan harapan agar negara-negara ini mendapatkan tempat dalam krisis Suriah sebagai isu internasional nomor satu. Tidak ada niat baik bagi kaum Muslim dalam niat negara-negara tersebut; bagi negara-negara Eropa, masalahnya bukanlah pembantaian yang dilakukan Rusia terhadap kaum Muslim di Suriah, karena sikap negara-negara ini selama enam tahun ditandai dengan banyak ketidakpedulian terhadap darah yang mengalir deras di Suriah. Melainkan masalahnya adalah agar negara-negara ini berpartisipasi sebagai negara besar dalam penyelesaian masalah Suriah...
Peristiwa-peristiwa di Uni Eropa telah dipercepat seiring dengan ketegangan dalam hubungan Prancis-Rusia. (Inggris dan Prancis menyerukan Uni Eropa untuk mengutuk kampanye udara Rusia di Suriah dan menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap Moskow... Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan bahwa tekanan terhadap Rusia harus kuat, menunjukkan bahwa sikap bersatu Uni Eropa memungkinkan kemajuan dalam menghentikan apa yang ia sebut sebagai pembantaian penduduk di Aleppo. Inggris dan Prancis ingin memberlakukan larangan perjalanan bagi dua puluh warga Suriah lainnya, serta menambahkan 12 orang Rusia ke dalam daftar sanksi yang mencakup dua ratus orang lainnya, termasuk tiga warga Iran, karena peran mereka dalam konflik yang sedang berlangsung di Suriah...) (Al-Jazeera, 17-10-2016)... Demikian pula isu sanksi keuangan mulai dipraktikkan tanpa mengeluarkan keputusan sanksi. (Jaringan berita Russia Today mengumumkan bahwa sebuah bank Inggris telah membekukan seluruh aset perbankan miliknya tanpa menjelaskan alasan di balik keputusan ini... Russia Today mengutip pemimpin redaksi Margarita Simonyan melalui akun Twitter-nya, "Mereka menutup seluruh aset kami di Inggris, seluruh aset! Dan keputusan itu tidak dapat ditinjau kembali"...) (Al-Jazeera, 17-10-2016)... (Para pemimpin Eropa membahas hubungan mereka dengan Rusia di Brussel pada Kamis 20-10-2016, dan salah satu opsi yang diajukan adalah pengenaan sanksi terhadap Moskow akibat tindakannya di Suriah...) (Reuters Arabic, 19-10-2016).
Jika ketegangan dalam hubungan Prancis dan Eropa dengan Rusia meningkat, maka pintu konflik antara Rusia dan Eropa akan semakin lebar, dan dampaknya mungkin muncul di Ukraina atau wilayah lain di Eropa Timur, serta negara-negara Eropa mungkin akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia... Penyebab meningkatnya ketegangan hubungan Rusia dengan Eropa sangat banyak dan tidak terbatas pada krisis Suriah meskipun signifikansi internasionalnya besar. Jika Rusia tidak segera bertindak bijaksana dalam menangani Eropa, maka ia akan menjadi pecundang terbesar dari memburuknya hubungan dengan Eropa. Di tengah penonjolannya dalam krisis Suriah, Rusia tidak menunjukkan kebijaksanaan yang cukup dalam hubungan internasionalnya. Pada saat dunia berbicara tentang kejahatan perang di Suriah, Rusia kembali dan meningkatkan intensitas pengebomannya di Aleppo. Hal itu bersumber dari pandangan politik Rusia yang picik; mereka merasa tenang hari ini dengan hubungan mereka dengan Amerika, dan mereka tahu bahwa ketegangan yang tampak dalam hubungan Rusia dengan Amerika mengenai Suriah tidaklah nyata. Di tengah ketegangan ini, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan penyelenggaraan pertemuan antara Kerry dan Lavrov di Lausanne, yang benar-benar dilaksanakan pada 15-10-2016 setelah melibatkan beberapa pengikut dan antek-antek demi menjaga muka karena sebelumnya telah mengumumkan penghentian pertemuan dengan Rusia, namun sekarang justru bertemu dengannya! Sementara itu, mereka menjauhkan Eropa dari kehadirannya!
Tampaknya Rusia telah menyadari kebuntuan yang menjeratnya. Amerika telah menjadikannya ujung tombak dalam pengeboman brutal, dan Eropa memanfaatkan ketegangan buatan antara Amerika dan Rusia ini dengan meningkatkan sikap menentang serangan brutal Rusia... Maka Rusia ingin meredakan tekanan Eropa ini dengan mulai berbicara tentang masalah gencatan senjata. (Rusia mengumumkan "gencatan senjata kemanusiaan" yang selama itu mereka menghentikan pengebomannya di kota Aleppo, Suriah. Rusia mengatakan akan menghentikan pengebomannya di kota Aleppo pada Kamis 20-10-2016 mendatang selama delapan jam, mulai pukul delapan pagi waktu setempat hingga pukul empat sore... Langkah ini dilakukan bersamaan dengan berita tentang tewasnya 14 orang dari satu keluarga dalam serangan udara di Aleppo...) (BBC Arabic, 17-10-2016)... Demikian pula Putin setuju untuk membahas masalah Suriah dengan orang-orang Eropa setelah sebelumnya menolaknya bersama Hollande. (Kepresidenan Prancis mengumumkan kemarin bahwa Presiden Prancis Francois Hollande, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Kanselir Jerman Angela Merkel akan mengadakan "pertemuan kerja" yang membahas krisis Suriah hari Rabu ini di Berlin...) (Kantor Berita, surat kabar Al-Khaleej, 19-10-2016)...
- Demikianlah, ketegangan yang terjadi dalam hubungan Prancis-Rusia telah terpantul pada negara-negara Uni Eropa, sehingga Rusia berada dalam posisi terjepit dengan Eropa dan ia mencoba mencari jalan keluar dari kebuntuan ini dengan bertemu Uni Eropa dan membahas krisis Suriah setelah sebelumnya menolak untuk membahasnya dengan Hollande, yang menyebabkan pembatalan kunjungan Putin dan meningkatnya eskalasi peristiwa melebihi sebelumnya...
Keenam: Adapun apakah akan dihasilkan dari peristiwa-peristiwa ini perubahan pada pihak-pihak regional atau internasional yang terkait dalam krisis Suriah... maka tidak diharapkan akan terjadi perubahan. Pihak-pihak internasional yang berpengaruh akan tetap sama, yakni Amerika dan para wakilnya: Rusia, Iran, Turki, dan Arab Saudi. Sedangkan Uni Eropa, nasibnya tidaklah signifikan. Buktinya adalah meskipun eskalasi nada bicara Eropa terhadap Rusia meningkat dan upayanya yang gigih untuk mendekati Amerika agar memiliki peran dalam krisis Suriah, namun Amerika justru mengundang pertemuan Lausanne pada 15-10-2016 dan menjauhkan Eropa dari kehadirannya. Rusia berada di samping Amerika dalam konferensi tersebut meskipun apa yang ditunjukkan Amerika berupa pemutusan hubungan dengan Rusia dan ketegangan hubungan..! Ketika Amerika menyadari bahwa Eropa merasa terganggu dengan hal ini, Amerika mengundang pertemuan pelipur lara pada 16-10-2016 dengan Eropa tanpa kehadiran pihak-pihak lain, berbincang-bincang sejenak dengan mereka, dan pertemuan itu berakhir sebagaimana ia dimulai...
- Oleh karena itu, kemungkinan besar peran internasional dalam krisis Suriah akan tetap terbatas pada Amerika, para wakilnya seperti Rusia, kemudian para pengikutnya.
Ini dari sisi pihak-pihak internasional dan regional. Mereka melakukan makar dan tipu daya, tetapi di Syam dan selain Syam terdapat laki-laki yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jujur kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tidak akan membiarkan Amerika, Rusia, dan para pengikutnya mewujudkan makar dan rencana jahat mereka untuk menetap di Syam. Sebaliknya, keadaan mereka—dengan izin Allah—akan seperti orang-orang sebelum mereka:
قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ
"Orang-orang sebelum mereka telah mengadakan tipu daya, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari." (QS. An-Nahl [16]: 26)
19 Muharram 1438 H 20-10-2016 M