Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Perbedaan antara Nabi dan Rasul ‘alaihimas salam

May 03, 2023
4234

Seri Jawaban Syekh al-Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir

Atas Pertanyaan dari Para Pengikut di Halaman Facebook Beliau "Fikri"

Jawaban Pertanyaan

Perbedaan antara Nabi dan Rasul ‘alaihimas salam

Kepada Om Qutibah Odah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Terdapat dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I pada pelajaran "Para Nabi dan Rasul" halaman 130 teks sebagai berikut:

"Maka nabi Musa adalah seorang Nabi karena kepadanya diwahyukan syariat, dan ia adalah seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya merupakan risalah baginya. Sedangkan Nabi Harun adalah seorang Nabi karena diwahyukan kepadanya syariat, namun ia bukan seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya untuk disampaikan kepada orang lain itu bukanlah risalah baginya, melainkan risalah bagi Musa."

Bagaimana cara kita menghubungkan antara apa yang disebutkan dalam kitab Asy-Syakhshiyyah tersebut dengan apa yang telah tetap dalam Al-Qur'an? Allah SWT berfirman:

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ

"Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan (dua Rasul) Tuhanmu'." (QS. Thaha [20]: 47)

فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami adalah utusan (Rasul) Tuhan semesta alam'." (QS. Asy-Syu'ara [26]: 16)

Di mana saya menemukan dalam semua kitab tafsir bahwa beliau (Harun) adalah seorang Rasul dan Nabi?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pertama: Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai perbedaan antara Nabi dan Rasul dalam beberapa pendapat, di antaranya:

  1. Nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu taklif (pembebanan hukum) namun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Jika ia diperintahkan untuk menyampaikannya, maka ia adalah seorang Rasul. Disebutkan dalam Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani:

    [Fath al-Bari karya Ibnu Hajar (11/112)]

    "...Lafadz kenabian (nubuwwah) dan kerasulan (risalah) berbeda dalam asal peletakannya. Nubuwwah berasal dari kata an-naba' yaitu berita. Maka Nabi menurut urf adalah orang yang diberi kabar (diwahyukan) dari sisi Allah tentang suatu perkara yang menuntut adanya taklif. Jika ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang lain maka ia adalah Rasul, namun jika tidak diperintahkan maka ia adalah Nabi bukan Rasul. Berdasarkan hal ini, setiap Rasul adalah Nabi, namun tidak setiap Nabi adalah Rasul. Sebab Nabi dan Rasul bersekutu dalam perkara yang umum yaitu an-naba' (berita), dan berpisah dalam hal risalah. Jika Anda mengatakan 'si fulan adalah Rasul', maka itu mencakup bahwa ia adalah Nabi dan Rasul. Namun jika Anda mengatakan 'si fulan adalah Nabi', maka itu tidak mengharuskan bahwa ia adalah seorang Rasul..."

  2. Rasul adalah orang yang diutus untuk menyampaikan wahyu dengan membawa kitab, sedangkan Nabi adalah orang yang diutus untuk menyampaikan wahyu secara mutlak (baik membawa kitab maupun tidak). Al-Aini menyebutkan dalam Al-Binayah Syarh al-Hidayah sebagai berikut: [Al-Binayah Syarh al-Hidayah (1/116)]

    "...Kemudian perbedaan antara Rasul dan Nabi adalah: Bahwa Rasul adalah orang yang diutus untuk menyampaikan wahyu dengan membawa kitab, sedangkan Nabi adalah orang yang diutus untuk menyampaikan wahyu secara mutlak, baik dengan kitab atau tanpa kitab, seperti Yusya’ ‘alaihis salam. Maka istilah Nabi lebih umum daripada Rasul. Demikian dikatakan oleh Syekh Qawamuddin al-Atrazi dalam Syarh-nya, dan ia mengikuti pemilik kitab An-Nihayah dalam hal tersebut di mana ia berkata: Rasul adalah Nabi yang bersamanya ada kitab, seperti Musa ‘alaihis salam. Sedangkan Nabi adalah orang yang mengabarkan dari Allah meskipun tidak bersamanya kitab, seperti Yusya’ ‘alaihis salam. Dari sinilah Nabi ﷺ bersabda: «Ulama umatku seperti para Nabi Bani Israil», dan beliau tidak bersabda: 'seperti para Rasul Bani Israil'. Syekh Akmaluddin rahimahullah juga mengikuti mereka dan membedakan keduanya seperti itu..."

  3. Bahwa (Rasul adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya, sedangkan Nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya syariat Rasul selainnya dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Maka Rasul adalah orang yang diperintahkan untuk menyampaikan syariatnya sendiri, sedangkan Nabi adalah orang yang diperintahkan untuk menyampaikan syariat orang lain). Inilah pendapat yang kami pilih dan kami jelaskan dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I halaman 35-38 (file word):

    ["Para Nabi dan Rasul: Nabi dan Rasul adalah dua lafadz yang berbeda, namun keduanya bertemu dalam hal diwahyukannya syariat kepada mereka berdua. Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa Rasul adalah orang yang diwahyukan kepadanya syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya, sedangkan Nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya syariat Rasul selainnya dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Maka Rasul adalah orang yang diperintahkan untuk menyampaikan syariatnya sendiri, sedangkan Nabi adalah orang yang diperintahkan untuk menyampaikan syariat orang lain. Al-Qadhi al-Baidhawi berkata dalam tafsir firman-Nya: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ 'Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi.' (QS. Al-Hajj [22]: 52). Rasul adalah orang yang diutus Allah SWT dengan syariat baru yang mengajak manusia kepadanya. Sedangkan Nabi adalah orang yang diutus Allah untuk mengukuhkan syariat sebelumnya. Maka Nabi Musa adalah seorang Nabi karena kepadanya diwahyukan syariat, dan ia adalah seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya merupakan risalah baginya. Sedangkan Nabi Harun adalah seorang Nabi karena diwahyukan kepadanya syariat, namun ia bukan seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya untuk disampaikan kepada orang lain itu bukanlah risalah baginya, melainkan risalah bagi Musa. Sedangkan Nabi Muhammad adalah seorang Nabi karena diwahyukan kepadanya syariat, dan ia adalah seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya adalah risalah baginya..."]

    Pendapat inilah yang paling akurat dan paling utama untuk dianggap benar... Hadits-hadits Nabi ﷺ menjelaskan realitas Nabi dan perbedaannya dengan Rasul... Misalnya, terdapat dalam hadits yang disepakati kesahihannya (muttafaq 'alaih) dari Abu Hazim, ia berkata: Aku duduk bersama Abu Hurairah selama lima tahun, lalu aku mendengarnya menyampaikan hadits dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

    كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكُورُونَ. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ؛ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

    "Bani Israil dahulu dipimpin urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, maka akan digantikan oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, namun akan ada para khalifah yang jumlahnya banyak." Para sahabat bertanya: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab: "Penuhilah baiat yang pertama, kemudian yang berikutnya; berikanlah hak mereka, karena sesungguhnya Allah akan memintai pertanggungjawaban mereka atas apa yang mereka pimpin."

    Jelas dari hadits ini bahwa para nabi Bani Israil dahulu mengurusi mereka dengan syariat Musa ‘alaihis salam sebagaimana yang diketahui, dan sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits itu sendiri di mana beliau menyerupakan tabiat kerja para khalifah dengan kerja para nabi Bani Israil, yakni dari sisi politik mengurusi rakyat. Sebagaimana para nabi Bani Israil dahulu mengurusi manusia dengan syariat Musa ‘alaihis salam, demikian pula para khalifah mengurusi kaum Muslim dengan syariat Muhammad ‘alaihis shalatu was salam... Ini berarti bahwa para nabi Bani Israil tidak membawa syariat baru, melainkan mengikuti syariat Musa ‘alaihis salam. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi adalah orang yang diberi wahyu dan menyampaikannya kepada manusia, namun ia tidak menyampaikan syariat baru melainkan menyampaikan syariat Rasul yang mendahuluinya... Dari sini juga dipahami bahwa Rasul adalah orang yang membawa syariat baru yang bisa diikuti oleh para nabi yang datang setelahnya, sebagaimana halnya para nabi Bani Israil terhadap Musa ‘alaihis salam... Maka hadits yang diisyaratkan di atas termasuk dalil atas hakikat perbedaan antara Nabi dan Rasul.

Kedua: Realitas Nabi Harun ‘alaihis salam:

  1. Sebagaimana yang kami sebutkan dalam kutipan teks di atas dari kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, kami katakan: ["Maka Nabi Musa adalah seorang Nabi karena kepadanya diwahyukan syariat, dan ia adalah seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya merupakan risalah baginya. Sedangkan Nabi Harun adalah seorang Nabi karena diwahyukan kepadanya syariat, namun ia bukan seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya untuk disampaikan kepada orang lain itu bukanlah risalah baginya, melainkan risalah bagi Musa."] Artinya, berdasarkan definisi yang lebih kuat menurut kami mengenai Rasul dan Nabi, kami menetapkan bahwa Harun ‘alaihis salam adalah seorang Nabi dan bukan seorang Rasul dengan pengertian ini, karena Harun ‘alaihis salam dalam perkara syariat adalah pengikut bagi Musa ‘alaihis salam, dan nash-nash syara’ memberikan kesaksian atas hal tersebut sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

  2. Mengenai dua ayat mulia yang Anda sebutkan dalam pertanyaan, mari kita cermati tafsirnya secara ringkas dari beberapa kitab tafsir:

    a- [Tafsir an-Nasafi (2/297)] فَأْتِيَاهُ "Maka datanglah kamu berdua kepadanya", yakni Firaun. فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ "dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu'" kepadamu... Maka keduanya mendatanginya dan menyampaikan risalah serta mengatakan kepadanya apa yang diperintahkan kepada mereka berdua. قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَا مُوسَى "(Firaun) berkata: 'Siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?'". Firaun mengkhitabi (berbicara) kepada keduanya, namun kemudian memanggil salah satunya karena Musa adalah yang pokok dalam kenabian dan Harun adalah pengikutnya...

    Disebutkan juga dalam [Tafsir an-Nasafi (2/464)]: فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ "Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami adalah utusan (Rasul) Tuhan semesta alam'." Kata الرسول tidak ditatsniyah-kan (dibentuk dual) sebagaimana ditatsniyah-kan dalam firman-Nya: إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ Sebab kata الرسول bisa bermakna al-mursal (orang yang diutus) dan bisa bermakna ar-risalah (pesan/tugas kerasulan). Maka di sana ia dijadikan bermakna al-mursal sehingga harus ditatsniyah-kan, sedangkan di sini ia dijadikan bermakna ar-risalah sehingga penyifatannya sama baik untuk tunggal, dual, maupun jamak. Atau karena keduanya bersatu dan bersepakat atas satu syariat yang sama sehingga seolah-olah keduanya adalah satu rasul. Atau maksudnya adalah setiap orang dari kami أَنْ أَرْسِلْ dengan makna 'utuslah', karena kata الرسول mengandung makna al-irsāl (pengutusan) dan di dalamnya terdapat makna perkataan: مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ "bersama kami Bani Israil", yakni biarkanlah mereka pergi bersama kami ke Palestina yang merupakan tempat tinggal mereka berdua. Maka keduanya mendatangi pintu Firaun namun tidak diizinkan masuk selama setahun sampai penjaga pintu berkata: "Sesungguhnya di sini ada seseorang yang mengaku bahwa ia adalah utusan Tuhan semesta alam". Firaun berkata: "Izinkan ia masuk, barangkali kita bisa menertawakannya". Lalu keduanya menyampaikan risalah kepadanya dan Firaun mengenali Musa...

    b- [Tafsir al-Qurthubi (13/93)] "...Firman-Nya: فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ Abu Ubaidah berkata: Rasul di sini bermakna risalah, dan takdir (perkiraan struktur kalimatnya) berdasarkan hal ini adalah 'kami membawa risalah Tuhan semesta alam'... Abu Ubaid berkata: Boleh jadi kata ar-rasul bermakna dual atau jamak, maka orang Arab berkata: 'Ini utusanku (rasuli) dan wakilku', 'Dua orang ini utusanku dan wakilku', dan 'Mereka ini utusanku dan wakilku'. Di antaranya adalah firman Allah SWT: فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي 'Sesungguhnya mereka itu adalah musuh-Ku'. Ada yang mengatakan: Maknanya adalah setiap orang dari kami adalah Rasul Tuhan semesta alam."

    c- Dengan mengkaji kedua ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan Harun ‘alaihis salam dengan lafadz pengutusan (al-irsāl) dan kerasulan (ar-risalah), menjadi jelas bahwa penyebutan beliau di sana dengan lafadz pengutusan selalu dibersamakan dengan Musa ‘alaihis salam, yakni sebagai pengikut baginya. Misalnya firman Allah SWT: ثُمَّ أَرْسَلْنَا مُوسَى وَأَخَاهُ هَارُونَ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ "Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata." (QS. Al-Mu’minun [23]: 45)

    وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَاناً فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءاً يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantu untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku." (QS. Al-Qashash [28]: 34)

    وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ * قَوْمَ فِرْعَوْنَ أَلَا يَتَّقُونَ * قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ * وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ * وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ * قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ * فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa: 'Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Firaun. Mengapa mereka tidak bertakwa?' Musa berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakanku. Dan sempit dadaku serta tidak lancar lidahku, maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku ada berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku'. Allah berfirman: 'Jangan sekali-kali (demikian), maka pergilah kamu berdua dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami (untuk menyeru mereka); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa yang mereka katakan). Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah: Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil bersama kami'." (QS. Asy-Syu'ara [26]: 10-17)

    اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي * اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَيِّناً لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى * قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى * قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى * فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى * إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى "Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicarakah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. Berkatalah mereka berdua: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas'. Allah berfirman: 'Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat'. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling'." (QS. Thaha [20]: 42-48)

    Jelas dari semua nash ini bahwa Harun ‘alaihis salam tidak disifati dengan risalah secara sendirian, melainkan pembicaraan di dalamnya dengan sifat ini adalah tentang Musa dan tentang beliau bersama-sama, yakni Harun ‘alaihis salam tidak berdiri sendiri dengan sifat risalah tersebut.

    d- Namun ketika pembicaraan dalam Al-Qur'an datang mengenai Harun ‘alaihis salam secara sendirian dan terpisah dalam penyifatan, beliau dinamai sebagai Nabi, bukan Rasul. Hal ini terjadi pada saat Al-Qur'an menetapkan bagi Musa ‘alaihis salam sifat Rasul dan Nabi secara bersamaan. Allah SWT berfirman: وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصاً وَكَانَ رَسُولاً نَبِيّاً * وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيّاً * وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيّاً "Dan ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Al-Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun, menjadi seorang nabi." (QS. Maryam [19]: 51-53)

    Musa ‘alaihis salam dikatakan tentangnya bahwa ia adalah رَسُولاً نَبِيّاً (Rasul lagi Nabi), sedangkan Harun ‘alaihis salam segera setelah itu Al-Qur'an tidak menetapkan baginya sifat risalah melainkan cukup dengan mensifatinya sebagai Nabi: أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيّاً (saudaranya Harun menjadi seorang Nabi). Hal ini menguatkan pemahaman yang kami ambil bahwa Musa ‘alaihis salam adalah Rasul dan Nabi karena syariat baru dikirimkan kepadanya dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya. Adapun Harun ‘alaihis salam, ia adalah Nabi dan bukan Rasul karena ia adalah pengikut bagi Musa ‘alaihis salam dan diperintahkan untuk menyampaikan risalah Musa ‘alaihis salam serta syariatnya tanpa ia sendiri membawa syariat baru yang independen. Terdapat dalam tafsir ayat-ayat ini dalam kitab Ibnu Katsir sebagai berikut:

    [Tafsir Ibnu Katsir (5/237)] "...Tatkala Allah SWT menyebutkan Ibrahim al-Khalil dan memujinya, Dia menyambungkannya dengan menyebutkan al-Kalim (Musa), seraya berfirman: وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصاً 'Dan ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Al-Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih...' وَكَانَ رَسُولا نَبِيّاً 'dan seorang rasul dan nabi', dihimpun bagi beliau dua sifat tersebut, karena beliau termasuk di antara para Rasul besar yang merupakan Ulul Azmi yang lima, yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, shalawat dan salam Allah atas mereka dan atas seluruh nabi... dan firman-Nya: وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيّاً yakni: Kami mengabulkan permintaannya dan syafaatnya bagi saudaranya, maka Kami menjadikannya seorang nabi, sebagaimana dikatakan dalam ayat yang lain: وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَاناً فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءاً يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ dan Allah berfirman: قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَى 'Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa', (QS. Thaha [20]: 36), dan firman-Nya: فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ * وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ Oleh karena itu, sebagian ulama salaf berkata: Tidak ada seorang pun yang memberi syafaat kepada orang lain di dunia dengan syafaat yang lebih agung daripada syafaat Musa bagi Harun agar menjadi seorang nabi. Allah SWT berfirman: وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيّاً Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, dari Ibnu Ulayyah, dari Dawud, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas berkata mengenai firman-Nya: وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيّاً ia berkata: Harun lebih tua daripada Musa, namun yang dimaksud adalah: Allah menganugerahkan kepadanya kenabiannya."

  3. Dari apa yang disebutkan di atas, menjadi jelas bahwa sesuai dengan definisi yang kami adopsi untuk Nabi dan Rasul, maka Musa ‘alaihis salam adalah seorang Nabi karena diwahyukan kepadanya syariat untuk disampaikan, dan ia adalah seorang Rasul karena diwahyukan kepadanya syariat bagi dirinya. Adapun Harun ‘alaihis salam, beliau adalah seorang Nabi karena diwahyukan kepadanya syariat, namun beliau bukan seorang Rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya untuk disampaikan bukanlah syariat baginya melainkan syariat bagi saudaranya, Musa ‘alaihis salam.

Inilah yang kami kuatkan dalam masalah ini dan merupakan pendapat yang diadopsi di sisi kami, wallahu a'lam wa ahkam.

Saudaramu, Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah

12 Syawal 1444 H 02 Mei 2023 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): Facebook

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda