Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Solusi yang Diajukan untuk Masa Depan Pasca Perang di Gaza

March 23, 2024
3448

Pertanyaan:

Dengan berlanjutnya perang genosida yang dilancarkan oleh entitas Yahudi dengan dukungan Amerika dan Barat yang jahat terhadap penduduk Gaza selama lebih dari lima bulan, dan jumlah korbannya telah mencapai lebih dari seratus ribu antara syuhada dan luka-luka, di samping hancurnya sebagian besar bangunan, banyak pembicaraan mengenai proyek solusi pasca perang Gaza dan bagaimana urusan politik akan berakhir sesuai dengan rencana negara-negara imperialis, terutama Amerika. Lantas, apa yang diharapkan dari rencana dan solusi ini? Apakah diperkirakan Tepi Barat akan tetap seperti semula dan terjadi pendudukan militer di Gaza? Ataukah akan ada negara di Tepi Barat dan Gaza yang dilucuti senjatanya? Ataukah Tepi Barat tetap seperti semula dan Gaza berada di bawah administrasi internasional dan Arab, atau dengan pemerintahan mandiri seperti di Tepi Barat? Dan bagaimana solusi yang benar? Terima kasih.

Jawaban:

Sebagai permulaan dan sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kami akan memaparkan hal-hal berikut:

Pertama: Beberapa poin penting mengenai Palestina, Tanah yang Diberkati:

1- Telah diketahui bahwa Deklarasi Balfour dari Menteri Luar Negeri Inggris dalam suratnya tertanggal 2 November 1917 kepada Lord Rothschild, berisi dukungan pemerintah Inggris untuk mendirikan tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina. Janji ini terjadi pada hari-hari terakhir kekalahan Khilafah Utsmaniyah dalam Perang Dunia I karena pengkhianatan beberapa tokoh Arab dan Turki. Beberapa tahun sebelumnya, Herzl, delegasi dari asosiasi Zionis yang didukung oleh Inggris, telah mengajukan permohonan pada 18 Mei 1901 kepada Khalifah Utsmaniyah, mencoba memanfaatkan krisis keuangan yang dialami Khilafah saat itu dengan menawarkan sejumlah besar uang untuk menutupi defisit Khilafah sebagai imbalan atas pemberian tanah di Palestina. Namun, jawaban Khalifah Abdul Hamid dalam menanggapi Herzl adalah jawaban yang kuat dan bijaksana: "Aku tidak bisa melepaskan meski sejengkal tanah Palestina, karena ia bukan milik pribadiku, melainkan milik umat Islam. Rakyatku telah berjihad demi tanah ini dan menyiraminya dengan darah mereka... biarlah orang-orang Yahudi itu menyimpan jutaan uang mereka. Jika suatu hari negara Khilafah tercabik-cabik, saat itulah mereka bisa mengambil Palestina tanpa harga! Namun, selama aku masih hidup, hal itu tidak akan terjadi...". Khalifah memiliki penglihatan dan wawasan serta pandangan jauh ke depan, dan pandangannya terbukti benar. Palestina diberikan kepada Yahudi tanpa harga setelah runtuhnya Khilafah! Begitulah kisah perampasan Palestina, pengusiran penduduknya, dan pembantaian mereka dimulai. Apa yang diprediksi oleh Khalifah Abdul Hamid rahimahullah menjadi kenyataan. Penghapusan Khilafah (1342 H - 1924 M) yang dipimpin oleh Barat di bawah kepemimpinan Inggris saat itu bersama para pengkhianat Arab dan Turki, merupakan pendahuluan nyata bagi terciptanya entitas Yahudi yang cacat di Palestina.

2- Kemudian Amerika Serikat benar-benar masuk ke dalam arena setelah Perang Dunia II, dengan memberikan kontribusi efektif dalam dikeluarkannya Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 181 tentang pembagian Palestina pada November 1947. Amerika pun menjadi pesaing Inggris dan Eropa pada umumnya dalam mengadopsi Zionisme Yahudi. Biden mengatakan dalam pidatonya di Gedung Putih saat merayakan hari raya cahaya Yahudi (Hanukkah): "Tidak perlu menjadi seorang Yahudi untuk menjadi seorang Zionis, dan saya adalah seorang Zionis" (Asharq Al-Awsat, 12/12/2023). Ketika Presiden Amerika Biden mengunjungi Tel Aviv pada 18/10/2023 setelah operasi Badai Al-Aqsa, ia bertemu dengan para pejabat di sana dan berkata: "(Israel) harus kembali menjadi tempat yang aman bagi orang Yahudi. Jika tidak ada (Israel), kita akan berupaya untuk mendirikannya." Ia juga mengatakan bahwa ia "akan meminta paket bantuan yang belum pernah ada sebelumnya untuk (Israel) dari Kongres Amerika minggu ini... kami tidak akan tinggal diam tanpa melakukan apa pun, baik hari ini, besok, maupun selamanya..." (Al-Jazeera, 19/10/2023). Hal itu menunjukkan bahwa Amerikalah yang memimpin pertempuran, dan bahwa entitas Yahudi tidak dapat melanjutkan perang tanpa dukungan eksternal, terutama dukungan Amerika yang tidak terbatas. Entitas tersebut secara alami tidak mampu bertahan dengan sendirinya; entitas Yahudi sedang melukiskan kegagalannya sendiri. Mereka bukanlah orang yang ahli berperang kecuali dengan tali (perjanjian) dari manusia, sebagaimana firman Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia." (QS. Ali Imran [3]: 112)

Mereka telah memutuskan tali Allah, dan yang tersisa bagi mereka hanyalah tali manusia dari Amerika, Eropa, dan kaki tangan mereka dari para penguasa pengkhianat di negeri-negeri Muslim yang tidak melakukan apa pun menghadapi agresi brutal Yahudi. Bahkan, yang paling baik di antara mereka adalah yang hanya berdiri menghitung jumlah syuhada dan korban luka! Hal itu juga menunjukkan bahwa Amerika memandang entitas ini sebagai pangkalan utamanya untuk memerangi umat Islam guna menghalangi persatuan mereka dan tegaknya negara mereka, Daulah Khilafah.

3- Entitas Yahudi telah berkali-kali melancarkan agresi brutal terhadap Gaza setelah penarikannya pada 15/8/2005, hingga datanglah operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 yang mematahkan hidung musuh ketika para mujahidin menembus pertahanannya, membunuh ratusan tentaranya hingga sekitar 1.200 orang, dan menawan sejumlah tentara mereka. Musuh pun melakukan serangan balasan yang biadab dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Gaza, yang masih berlangsung hingga 5 bulan lebih. Mereka menghancurkan sebagian besar bangunannya, menargetkan rumah sakit, membunuh pasien dan melibas mereka hidup-hidup, serta sekolah-sekolah tempat penduduk Gaza mengungsi. Jumlah syuhada mencapai lebih dari 31 ribu, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan perempuan, sementara jumlah korban luka mencapai lebih dari 70 ribu. Musuh juga mengikuti kebijakan kelaparan dengan mencegah masuknya bantuan, makanan, air, dan bahan-bahan pokok bagi masyarakat untuk menekan mujahidin agar melepaskan tawanan yang mereka tahan. Perangnya benar-benar perang genosida dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini didorong oleh dukungan Barat, baik Amerika maupun Eropa beserta pengikutnya. Para pemimpin Barat berbondong-bondong mengunjungi entitas tersebut untuk menunjukkan dukungan mutlak bagi entitas Yahudi dalam perang genosida yang dilancarkannya terhadap Gaza.

4- Hal itu juga didorong oleh diamnya rezim-rezim di negeri Arab dan Islam. Alih-alih mengerahkan tentara untuk menolong penduduk Gaza, beberapa di antara mereka justru mengutuk serangan mujahidin dan melanjutkan hubungan mereka dengan entitas Yahudi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Negara-negara yang melakukan normalisasi terus melanjutkan normalisasinya, baik yang sudah lama maupun yang baru. Mereka tidak memutuskan hubungan, tidak meninggalkan pengkhianatan normalisasi, dan tidak membatalkan perjanjian serta kesepakatan dengan entitas Yahudi seperti Camp David dengan rezim Mesir, Wadi Araba dengan rezim Yordania, dan lainnya. Artinya, bahkan batas minimal status perang pun tidak mereka lakukan. Lebih dari itu, hubungan perdagangan dengan sejumlah negara ini tidak terpengaruh oleh agresi brutal entitas Yahudi. Menteri Transportasi Turki, Abdulkadir Uraloglu, pada 11/1/2024 mengakui bahwa "sekitar 701 kapal berangkat dari pelabuhan Turki ke (Israel) sejak 7 Oktober hingga 31 Desember 2023, yang berarti rata-rata sekitar 8 kapal per hari..." (Al-Jazeera, 11/1/2024). Bahkan, beberapa negara ini tidak hanya tidak mengumumkan pembelaan terhadap Gaza untuk membalas agresi, tetapi juga tidak mengumumkan perang terhadap entitas Yahudi demi membela tentara mereka sendiri. Entitas Yahudi telah menargetkan situs-situs Iran di Suriah dan membunuh banyak tentaranya, namun Iran tidak mengumumkan perang terhadap mereka!

5- Kemudian Amerika memfokuskan pernyataannya pada solusi dua negara, sembari tetap menjaga entitas Yahudi, membela semua tindakan biadabnya, dan memberikan dukungan kepadanya. Namun, Amerika takut kehilangan posisi moralnya yang tersisa—seolah-olah mereka memiliki moral! Presidennya, Biden, berkata: "Tidak ada jalan kembali ke status quo seperti pada 6 Oktober. Ini berarti memastikan bahwa Hamas tidak lagi mampu meneror (Israel)... Ini juga berarti bahwa ketika krisis ini berakhir, harus ada visi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya... dari sudut pandang kami, itu haruslah solusi dua negara dan itu berarti upaya terfokus dari semua pihak..." (Situs CNN Amerika, 25/10/2023). Dan pada 12/12/2023 ia berkata: "Ada kekhawatiran nyata di berbagai belahan dunia bahwa Amerika akan kehilangan posisi moralnya karena dukungan kita terhadap (Israel)..." (Al-Jazeera, 12/12/2023).

Namun ia menegaskan kebijakan Amerika dengan mengatakan: "Ia tidak akan pernah meninggalkan (Israel), dan membela (Israel) sangatlah penting. Tidak ada garis merah untuk menghentikan semua senjata darinya, sehingga mereka memiliki Iron Dome untuk melindungi mereka..." (Saluran MSNBC Amerika, 9/3/2024).

Demikianlah Amerika mendukung entitas Yahudi meskipun ada ketegangan dalam hubungan Biden dengan Netanyahu karena kedekatannya dengan Trump, rival Biden dalam pemilu.

6- Amerika juga berupaya membujuk entitas Yahudi agar menerima solusi dua negara dengan membuat rezim Saudi mengakui entitas Yahudi dan melakukan normalisasi dengannya. Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, dalam konferensi Davos mengatakan: "Arab Saudi mungkin akan menjalin hubungan damai dengan (Israel) jika krisis Palestina diselesaikan... Independent, 20/1/2024). Sebelumnya, Putra Mahkota rezim Saudi, Ibn Salman, pada 21/9/2023 dalam sebuah wawancara dengan jaringan Fox News Amerika berkata: "Setiap hari kami semakin dekat dengan normalisasi hubungan dengan (Israel)". Dan pada 26/9/2023, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menerima Duta Besar Saudi Naif al-Sudairi di kantornya di Ramallah, yang sebelumnya telah tiba di Tepi Barat melalui titik pemantauan Yahudi sebagai pendahuluan untuk normalisasi dengan entitas Yahudi dengan dalih sebagai duta besar luar biasa, berkuasa penuh, dan tidak menetap untuk Palestina, serta konsul jenderal di Yerusalem!

Kedua: Sekarang kami akan menjawab apa yang tercantum dalam pertanyaan mengenai perkiraan rencana Amerika dan entitas Yahudi setelah berakhirnya perang Gaza:

1- Menyerahkan Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina dalam kerangka solusi dua negara. Solusi ini dituntut oleh Amerika Serikat hanya di lisan, bukan perbuatan, sebagai permainan kata-kata. Biden menginginkannya tanpa senjata, artinya bukan negara yang berdaulat. (Presiden Amerika Joe Biden—kemarin Jumat—mengatakan bahwa ia telah membahas masalah solusi dua negara dengan Perdana Menteri (Israel) Benjamin Netanyahu, dan bahwa Netanyahu tidak keberatan dengan solusi ini. Biden menambahkan dalam pernyataannya kepada wartawan bahwa ada sejumlah pola untuk solusi dua negara, seraya menunjukkan bahwa beberapa negara di PBB tidak memiliki angkatan bersenjata sendiri... Al-Jazeera, 4/1/2024). Artinya, Biden merujuk pada negara dari pola-pola tersebut tanpa angkatan bersenjata! Meski demikian, entitas Yahudi bahkan tidak setuju dengan rencana Amerika ini. (Dalam sebuah konferensi pers yang dipantau oleh Anadolu, Netanyahu menekankan bahwa Tel Aviv "menolak keras pembentukan negara Palestina secara sepihak"... Anadolu, 18/2/2024). Bagaimanapun juga, solusi dua negara yang diusulkan oleh pemerintah Amerika tidak dapat dilaksanakan tanpa perintah serius dari Amerika. Pemerintah Biden tidak memberikan tekanan pada Netanyahu dan pemerintahannya karena pemilihan presiden Amerika yang akan datang, karena ia membutuhkan suara Yahudi dalam pemilu dan dana dari lobi Yahudi untuk kampanye pemilunya, terutama karena pesaingnya adalah Trump yang sangat mendukung entitas Yahudi. Adapun Eropa dan Inggris, mereka mengikuti langkah-langkah Amerika. Sedangkan tuntutan para penguasa di negeri-negeri Muslim akan solusi dua negara adalah pengkhianatan yang tidak lebih dari apa yang dikatakan Amerika dalam bentuk tanpa senjata dan tanpa kedaulatan, yang lebih mirip dengan pemerintahan mandiri (otonomi)!

2- Pendudukan kembali Jalur Gaza oleh entitas Yahudi. Menteri Keamanan Nasional, Ben Gvir, dan Menteri Keuangan Smotrich, adalah di antara yang paling antusias dengan rencana ini. Kedua menteri sayap kanan ekstrem ini berargumen bahwa warga sipil Yahudi serta tentara pendudukan harus berada di dalam Gaza, dan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan kendali atas Jalur Gaza. (Ben Gvir, yang memimpin salah satu partai nasionalis kecil dalam koalisi sayap kanan Netanyahu, mengatakan dalam sebuah konferensi bahwa kembalinya pemukim Yahudi dan tentara adalah satu-satunya cara untuk menjamin tidak terulangnya serangan dahsyat yang dilancarkan oleh pejuang Hamas terhadap (Israel) pada 7 Oktober... Reuters, 29/1/2024). Namun, baik Amerika maupun masyarakat Yahudi pada umumnya tidak mendukung pendapat ini. (Menteri Luar Negeri Amerika, Antony Blinken menegaskan, Rabu, bahwa (Israel) "tidak dapat menduduki" Jalur Gaza setelah berakhirnya perang yang sedang berkecamuk saat ini melawan gerakan Hamas. Ia menambahkan: "Sekarang, kenyataannya adalah mungkin diperlukan masa transisi tertentu pada akhir konflik... Kami tidak mengharapkan pendudukan kembali dan apa yang saya dengar dari para pemimpin (Israel) adalah bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menduduki kembali Gaza..." Al-Hurra, 8/11/2023). Hal itu karena pendudukan kembali secara militer atas Gaza akan menyebabkan beban biaya bagi entitas Yahudi serta kerugian militer dan ekonomi.

3- Berlanjutnya kendali Hamas atas Gaza. Amerika, Eropa, dan entitas Yahudi tidak menginginkan Hamas tetap berkuasa di Gaza, karena mereka percaya hal itu akan menyebabkan terulangnya serangan 7 Oktober. Blinken mengatakan kepada wartawan di Tokyo: "Hamas tidak bisa terus mengelola Gaza, karena hal itu hanya akan membuka jalan bagi terulangnya apa yang terjadi pada 7 Oktober... 8/11/2023). Gallant berkata: (Bahwa Hamas tidak akan mengendalikan Jalur Gaza setelah perang, dan bahwa Tel Aviv sedang mempersiapkan diri untuk mengendalikannya dari "entitas internasional"... Anadolu, 18/12/2023).

4- Pengalihan keamanan di Jalur Gaza dari tentara entitas Yahudi ke pasukan internasional. Di antara hal-hal yang menjadi bahan diskusi, terutama dari beberapa politisi Amerika, adalah adanya pasukan internasional di Gaza dari negara-negara Arab dan negara-negara lain. Hal ini muncul di media massa.

(Menurut surat kabar Wall Street Journal... meyakinkan negara-negara Arab yang telah menandatangani perjanjian damai atau normalisasi dengan (Israel) untuk menyediakan pasukan keamanan bagi Gaza atau mengawasinya, tetapi hal itu akan menuntut beberapa negara atau organisasi untuk memikul tanggung jawab administratif dan pengawasan keamanan. Surat kabar tersebut mengatakan bahwa beberapa tetangga Arab merasa ragu... Al-Hurra, 3/11/2023). Kemudian pembahasan tersebut berulang, di mana Russia Today mempublikasikan topik ini sekali lagi pada 4/12/2023 sebagai berikut: "Washington juga mendukung pengalihan keamanan di Jalur Gaza dari tentara (Israel) ke pasukan internasional, yang mungkin dibentuk oleh beberapa negara Arab. Namun (Israel) tidak menyetujui skenario pengerahan pasukan penjaga perdamaian PBB di zona konflik, karena mereka juga tidak percaya pada kemampuan organisasi internasional tersebut untuk melindungi kepentingan (Israel)".

5- Menyerahkan administrasi sipil di Gaza kepada warga Palestina tanpa penyatuan dengan Tepi Barat, namun entitas Yahudi akan bertanggung jawab atas keamanan sebagaimana yang terjadi di Tepi Barat. Al-Jazeera mempublikasikan pada 27/2/2024 bahwa pada 23 Februari 2024, Perdana Menteri entitas Yahudi Benjamin Netanyahu telah menyerahkan rencana "The Day After" untuk Gaza kepada kabinet keamanan dan politik. (Rencana yang dipaparkan oleh Benjamin Netanyahu kepada anggota pemerintahannya membawa banyak detail khusus mengenai masa depan Jalur Gaza. Di antara fitur terpentingnya di bidang keamanan adalah: (Israel) mempertahankan kebebasan tindakan militer dan keamanan di seluruh wilayah Jalur Gaza tanpa batas waktu, dengan mendirikan zona penyangga di dalam Jalur Gaza di sepanjang perbatasannya dengan Palestina yang diduduki tahun 1948. Selain itu, (Israel) melakukan demiliterisasi di Jalur Gaza dan melucuti kemampuan militer apa pun, kecuali yang diperlukan untuk menjaga keamanan publik...)

6- Dengan memperhatikan berbagai kemungkinan sebelumnya mengenai rencana Amerika dan Yahudi, maka yang paling kuat dari apa yang mereka rencanakan untuk dilaksanakan adalah yang disebutkan dalam poin (5) di atas tanpa Gaza bersatu dengan Tepi Barat. Sebaliknya, prosedur keamanan dan militer di keduanya serupa ((Israel) mempertahankan kebebasan tindakan militer dan keamanan di seluruh wilayah Jalur Gaza tanpa batas waktu...), apalagi orang-orang Yahudi melaksanakan rencana yang sama ini di Tepi Barat. Berita menyebutkan bahwa Netanyahu telah memaparkan rencana ini kepada para pejabat Amerika dan tampaknya mendapat persetujuan mereka. (Diklaim bahwa Netanyahu memastikan rencana yang disusunnya sejalan dengan rencana Amerika untuk solusi permanen di Timur Tengah, dan bahwa Amerika telah dikonsultasikan mengenai rencana tersebut melalui Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, anggota kabinet perang (Israel) yang memiliki hubungan dekat dengan Washington... NTV, 31/1/2024). Artinya, Amerika telah mengetahui rencana Netanyahu sebelumnya.

Adapun apa yang diulang-ulang oleh Biden mengenai solusi dua negara tidak jauh berbeda, bahkan sebagaimana tertuang dalam pernyataannya sebelumnya pada poin (1) yaitu (Biden menambahkan dalam pernyataannya kepada wartawan bahwa ada sejumlah pola untuk solusi dua negara, seraya menunjukkan bahwa beberapa negara di PBB tidak memiliki angkatan bersenjata sendiri... Al-Jazeera, 4/1/2024). Ia mengacu pada demiliterisasi, dan ia tidak keberatan jika solusi dua negara didahului oleh tahap transisi sementara sebagaimana dalam pernyataannya pada poin (2) (Sekarang, kenyataannya adalah mungkin diperlukan masa transisi tertentu pada akhir konflik... Al-Hurra, 8/11/2023).

Ketiga: Solusi Syar’i yang benar yang harus dilakukan:

1- Dari pengamatan terhadap hal-hal di atas, tampak dari rencana Amerika dan negara Yahudi bahwa mereka merencanakan untuk menjadikan Tepi Barat dan Gaza sebagai wilayah yang didemiliterisasi dan kedaulatan keamanan di keduanya berada di tangan Yahudi. Baik itu di bawah nama satu negara di keduanya, yaitu dengan menggabungkan keduanya meskipun hal ini dilakukan secara bertahap sebagaimana yang diinginkan Amerika—artinya Tepi Barat tetap terpisah dari Gaza dalam masa transisi kemudian setelah itu Gaza digabungkan ke Tepi Barat tanpa kekuatan militer—ataupun sebagaimana yang diinginkan oleh negara Yahudi agar Gaza sejak awal hingga akhir tetap terpisah dari Tepi Barat dan keduanya tanpa kekuatan militer, dengan kedaulatan aktual di keduanya berada di tangan entitas Yahudi. Jelas dari hal itu bahwa apa yang direncanakan oleh Amerika dan Yahudi adalah racun yang mematikan dan merupakan pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Meskipun tidak mengherankan jika entitas Yahudi dan Amerika merencanakan hal tersebut—karena mereka adalah musuh—namun yang aneh adalah tidak adanya inisiatif dari para penguasa di negeri-negeri Muslim, khususnya mereka yang berada di sekitar Palestina, untuk mengerahkan tentaranya guna menolong Gaza, penduduknya, Al-Aqsa dan sekitarnya, serta mencabut entitas Yahudi hingga ke akar-akarnya, dan kemudian mengembalikan Palestina seutuhnya kepada penduduknya. Bukankah siapa pun yang menduduki tanah kaum Muslim dan mengusir penduduknya darinya layak untuk diperangi oleh tentara kaum Muslim dan diusir sebagaimana mereka mengusir penduduknya?

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu." (QS. Al-Baqarah [2]: 191)

Bagaimana mungkin para penguasa itu tidak menyadari hal ini?! Namun mereka telah dikuasai oleh kesengsaraan mereka, sehingga mereka tunduk pada keinginan kafir imperialis, terutama Amerika. Mereka tidak menolak satu pun permintaannya demi menjaga kursi kekuasaan mereka yang bengkok.

قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُون

"Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimana mereka dapat dipalingkan?" (QS. At-Tawbah [9]: 30)

2- Perang ini telah menyingkap dua hal penting: Pertama, kelemahan dan kehinaan orang-orang Yahudi sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia." (QS. Ali Imran [3]: 112)

Mereka telah memutuskan tali Allah setelah para nabi mereka dan tidak ada lagi yang tersisa bagi mereka kecuali tali manusia, yaitu Amerika dan para pengikutnya. Kaum yang kondisinya seperti ini bukanlah ahli perang atau kemenangan. Kedua, pengkhianatan para penguasa di negeri-negeri Muslim. Mereka hanya menonton apa yang terjadi, dan yang paling baik di antara mereka adalah yang menghitung jumlah syuhada dan korban luka.

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

"Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Al-Baqarah [2]: 18)

Sudah seharusnya kedua hal ini mendorong orang-orang yang ikhlas dari kalangan ahlun nusrah di angkatan bersenjata kaum Muslim untuk mengumumkan mobilisasi umum guna menunaikan kewajiban dari Allah dengan memerangi Yahudi yang menduduki Palestina.

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللهِ مَا لَا يَرْجُونَ

"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar musuh itu. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan." (QS. An-Nisa [4]: 104)

Demikianlah kalian melenyapkan entitas mereka, karena mereka terlalu rendah di hadapan Allah untuk bisa menang dalam pertempuran. Dan setelah itu, janji Allah akan terpenuhi:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيراً

"Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai." (QS. Al-Isra [17]: 7)

Maka marilah menolong saudara-saudara kalian di Gaza. Jika rezim-rezim kekuasaan diktator (Mulkan Jabriyah) yang ada di negeri-negeri Muslim menghalangi kalian, maka tindaklah mereka dengan tegas. Tegakkanlah hukum Allah sebagai pengganti mereka, yaitu Khilafah berdasarkan manhaj kenabian, sebagai perwujudan dari kabar gembira Rasulullah ﷺ:

ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، ثُمَّ سَكَتَ

"Kemudian akan ada kekuasaan diktator (Mulkan Jabriyah) yang ada atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau diam." (HR Ahmad)

Pada saat itulah, Khalifah, para pembantunya, dan tentara Islam dari pangkat tertinggi hingga terendah akan berpindah dari satu kemenangan ke kemenangan lainnya. Mereka bertakbir dan umat bertakbir bersama mereka. Mereka kuat dengan Rabb mereka dan mulia dengan agama mereka, sehingga tidak ada musuh yang berani memiliki entitas di tanah Islam.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

12 Ramadhan 1445 H 22/03/2024 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda