Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: Konsentrasi Pasukan Turki di Perbatasan Suriah

September 04, 2015
2283

Jawab Pertanyaan

Konsentrasi Pasukan Turki di Perbatasan Suriah

Pertanyaan:

Presiden Turki menyatakan penolakan kerasnya terhadap perubahan demografis apa pun di dalam wilayah Suriah. Hal ini disampaikan dalam pidato di sela-sela partisipasinya dalam acara buka puasa di Istana Kepresidenan yang diadakan bagi para duta besar negara asing yang bertugas di Ankara pada Kamis malam, 09/07/2015, sebagaimana dikutip oleh situs Haber 7... Beliau merujuk pada pernyataan sebelumnya yang dikutip oleh kantor berita Anadolu pada 26/06/2015 yang berbunyi, "Kami tidak akan pernah membiarkan pembentukan sebuah negara di utara Suriah di perbatasan selatan kami, dan perjuangan kami di jalan ini akan terus berlanjut berapapun biayanya." Ia juga mengatakan, "Apa yang sedang terjadi di Suriah dan Irak adalah upaya untuk memproduksi ulang sistem Sykes-Picot baru di kawasan ini dan bertujuan untuk memprovokasi opini publik internal terhadap Turki." Hal ini diikuti dengan pemberitaan media mengenai penguatan kemampuan pertahanan Turki, dan sebagainya. Pertanyaannya adalah: Apa fakta dari apa yang sedang terjadi? Apakah ini benar-benar untuk intervensi militer Turki di utara Suriah? Ataukah untuk tujuan lain? Dan bagaimana sebenarnya posisi Amerika terkait intervensi militer tersebut?

Jawaban:

Agar jawabannya menjadi jelas, mari kita tinjau hal-hal berikut:

  1. Presiden Turki menyatakan: "Kami tidak akan pernah membiarkan pembentukan sebuah negara di utara Suriah di perbatasan selatan kami, dan perjuangan kami di jalan ini akan terus berlanjut berapapun biayanya." Ia juga berkata, "Apa yang sedang terjadi di Suriah dan Irak adalah upaya untuk memproduksi ulang sistem Sykes-Picot baru di kawasan ini dan bertujuan untuk memprovokasi opini publik internal terhadap Turki." (Anadolu Agency, 26/06/2015). Setelah itu, pada 02/07/2015, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan kepada Kanal 7: "Kami telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi perbatasan, dan ada perintah untuk bergerak jika muncul kondisi yang mengancam keamanan negara." Ia juga menambahkan bahwa tidak boleh ada yang membayangkan bahwa Turki akan masuk besok atau dalam waktu dekat. Ia menegaskan hal serupa pada 03/07/2015 dalam sebuah wawancara dengan televisi Konya, dengan mengatakan: "Tidak benar mengharapkan Turki akan segera melakukan intervensi di Suriah secara nyata, namun Turki dalam posisi siap menghadapi ancaman potensial dari pihak Suriah, dan mengikuti dengan cermat semua perkembangan." Ia berkata: "Agar tidak ada yang merasa khawatir, kita tidak sedang terseret ke dalam sebuah petualangan."

  2. Demikianlah, pernyataan-pernyataan tersebut terkadang riuh dengan kabar intervensi, namun di lain waktu justru menjauhkan kemungkinan intervensi tersebut. Hal ini diikuti dengan pola yang sama, yaitu kontradiksi antara pernyataan dan bantahan. Surat kabar Turki Hürriyet pada 05/07/2015 memuat berita bahwa "Staf Umum memanggil para komandan unit perbatasan dan komandan dua brigade komando di provinsi Bolu dan Kayseri untuk membahas kemungkinan operasi menyusul perkembangan terakhir di perbatasan Turki-Suriah." Namun, Staf Umum membantah berita ini. Kantor berita Anadolu mengutip sumber-sumber militer pada 06/07/2015 yang menyatakan bahwa "Klaim yang mengatakan pemanggilan komandan unit perbatasan dan komando (pasukan khusus) ke markas Staf Umum terkait perkembangan di sisi Suriah dari perbatasan tidak mencerminkan kenyataan. Tidak ada pertemuan yang diadakan sebagaimana disebutkan dalam klaim tersebut, dan tidak ada rencana mengenai hal itu."

  3. Pernyataan-pernyataan yang kontradiktif namun bernada "sportif" ini dibarengi dengan pergerakan militer. Media massa memberitakan kabar mengenai konsentrasi pasukan Turki di perbatasan dengan Suriah, bahwa Turki telah mengerahkan lebih dari 400 kendaraan pengangkut personel lapis baja, selain peran angkatan udara untuk mendukung intervensi semacam ini. Dilaporkan ada sekitar 54 ribu tentara yang dikerahkan di sepanjang perbatasannya dengan Suriah, dan Turki telah memperkuat kemampuan pertahanannya di sepanjang perbatasan melalui pengerahan tank, rudal antipesawat, dan pasukan setelah pertempuran meningkat di utara kota Aleppo. Tidak hanya itu, pembesaran penyebaran berita ini sampai pada taraf seolah-olah intervensi sudah di ambang pintu, bukan sekadar rencana! Beberapa media mulai membocorkan berita—yang mungkin disiapkan oleh pihak resmi—terkait rencana masa depan Turki. Surat kabar Turki Yeni Şafak menyebutkan pada 28/06/2015 bahwa "Staf Umum Turki telah menyusun rencana militer untuk intervensi di Suriah dengan tujuan mencegah pembentukan negara Kurdi di utara Suriah atau memaksakannya sebagai fakta di lapangan (de facto). Rencana ini mencakup pembentukan zona penyangga sedalam 28-33 km dan membentang dari Karkamis ke Oncupinar sepanjang 110 km. Rencana tersebut juga mencakup pengiriman 18 ribu tentara ke Suriah selama dua tahun setelah mendapatkan dukungan masyarakat internasional. Jika tidak mendapatkan persetujuan internasional, Turki akan bergerak sendiri untuk membentuk zona penyangga seperti yang dilakukan Israel di Lebanon Selatan."

  4. Bagi siapa pun yang merenungkan berita-berita ini dan hal-hal lain yang beredar, akan tampak jelas bahwa hal itu lebih dekat untuk tujuan domestik daripada tujuan intervensi yang sebenarnya, karena alasan-alasan berikut:

    a. Kemajuan etnis Kurdi di utara Suriah—yang coba dikesankan oleh pemerintah Turki bahwa persiapan militer yang sedang berlangsung adalah untuk mencegahnya—justru kemajuan ini sebelumnya telah dibantu oleh pemerintah Turki sendiri ketika mereka mengizinkan pasukan Peshmerga memasuki Ain al-Arab (Kobane) melalui wilayah Turki untuk membantu Kurdi bertempur di sana... Begitu juga terkait wilayah Tal Abyad, surat kabar Habertürk (04/07/2015) mengutip salah satu jurnalisnya yang bertemu dengan pejabat senior Turki: "Kemarin kami dan sekelompok jurnalis berada dalam pertemuan dengan pejabat tinggi di pemerintahan Turki, dan ia menegaskan kepada kami bahwa pemerintah sama sekali tidak akan menjadikan Partai Persatuan Demokratik (PYD) sebagai target." Pejabat tersebut menunjukkan bahwa "Kemungkinan kendali Partai Persatuan Demokratik atas wilayah yang menghubungkan Afrin dan Kobane, yang berarti pembentukan koridor Kurdi di perbatasan Turki, adalah hal yang tidak mungkin terjadi pada tahap saat ini." Ia berkata: "Kendalinya Partai Persatuan Demokratik atas Tal Abyad adalah untuk kepentingan Turki, namun jika wilayah-wilayah yang dikendalikan partai tersebut diperlakukan dengan prinsip penaklukan (futuhat), maka ini akan menciptakan banyak konflik dan masalah di kawasan dalam jangka menengah dan panjang." Artinya, masalah antara pemerintah Turki dan Kurdi di utara Suriah tidak dalam kondisi "panas" yang memerlukan perang militer.

    b. Amerika Serikat belum mengambil keputusan untuk melakukan intervensi militer darat hingga saat ini. Amerika masih mencari agen (antek) berikutnya untuk menggantikan agen Bashar saat ini, sementara orang-orang yang ikhlas di Suriah telah menggagalkan upayanya sejauh ini. Kita memohon kepada Allah agar upaya-upaya ikhlas tersebut terus berlanjut dalam menggagalkan rencana-rencana itu... Kenyataan menunjukkan bahwa teriakan Erdogan dan pemerintahannya tetap sekadar kebisingan tanpa efektivitas kecuali jika Amerika setuju (atau memerintahkannya), dan bukti-bukti mengenai hal ini sangat banyak:

    • Penguasa di Turki telah berulang kali menuntut pembentukan zona aman atau zona keamanan di dalam Suriah, namun Amerika menolaknya. Davutoglu menyebutkan pada Oktober 2014 bahwa memungkinkan untuk membangun zona penyangga dengan mengambil jalur darat M4. Jalur ini dimulai dari perbatasan Latakia hingga Al-Hasakah dengan panjang 720 km dan kedalaman sekitar 70 km, yang mencakup sepertiga wilayah Suriah. Amerika menolak hal itu, maka tidak dilaksanakan... Baru-baru ini, pembicaraan kembali muncul bahwa Turki sedang menjajaki pembentukan wilayah keamanan dalam bentuk kantong-kantong (enclave), dan kantong pertama membentang antara Jarabulus dan Ain al-Arab. Laporan lokal menyebutkan bahwa Presiden Turki Erdogan sedang mempertimbangkan pembentukan zona penyangga di perbatasan menyusul kendali Uni Patriotik Kurdistan atas wilayah perbatasan dengan Turki. Maka jawaban Amerika datang melalui lisan juru bicara Gedung Putih, John Kirby, yang menyatakan: "Pentagon, militer Amerika, atau koalisi tidak merasa butuh saat ini untuk membentuk zona penyangga, dan hal itu memiliki kesulitan. Namun kami memahami kekhawatiran Turki terhadap perbatasannya." (Reuters, 30/06/2015)... Pemerintah Turki mencoba menghindari rasa malu akibat jawaban Amerika yang menolak secara tegas tersebut. Ibrahim Kalin, asisten Perdana Menteri Turki, mengatakan pada 30/06/2015: "Menafsirkan langkah-langkah yang kami ambil terkait keamanan perbatasan seolah-olah Turki akan ikut serta dalam perang adalah hal yang tidak logis." Ia berkata: "Kami tidak pernah mengatakan pada suatu waktu bahwa kami menginginkan zona penyangga, melainkan kami katakan kami menginginkan wilayah aman yang dilarang bagi penerbangan. Maka harus dibentuk zona aman." (Anadolu, 30/06/2015). Meskipun demikian, baik zona aman maupun zona penyangga tidak terwujud hingga saat ini karena Amerika tidak setuju!

    • Begitu pula pernyataan Erdogan yang terkenal bahwa ia tidak akan membiarkan terulangnya "Hama kedua." Hal itu sudah berlangsung sangat lama hingga hampir terlupakan! Padahal rezim Bashar yang kriminal telah melakukan "Hama kedua, ketiga, dan keempat" di setiap kota dan desa, dan ia terus melakukan pembunuhan dan penghancuran dengan lampu hijau Amerika, dukungan Rusia, serta intervensi langsung Iran bersama partainya di Lebanon... Meskipun semua ini terjadi, Erdogan dan rezimnya tidak melakukan apa-apa karena kehendaknya tergadai oleh kehendak Amerika yang tidak mengizinkannya melaksanakan pernyataannya. Pernyataan-pernyataan itu tetap menjadi debu yang diterbangkan angin, tanpa ada kepulan debu dari derap langkah kuda Allah yang pemiliknya berseru "naiklah" dan "berharaplah kepada Allah" untuk mengembalikan kejayaan Al-Mu'tashim di Amorium (Ankara hari ini) dan kejayaan Al-Fatih di Konstantinopel (Istanbul hari ini)...!

  5. Demikianlah, konsentrasi militer tersebut tidak dimaksudkan untuk intervensi militer nyata di Suriah kecuali jika Amerika setuju ketika kepentingannya menghendaki hal itu... Kemungkinan besarnya adalah bahwa pengerahan pasukan tersebut ditujukan untuk opini publik domestik karena pertimbangan-pertimbangan berikut:

    a. Pernyataan Perdana Menteri Turki yang disebutkan sebelumnya secara eksplisit menunjukkan bahwa Turki tidak dalam proses intervensi di Suriah, dan menganggap intervensi tersebut sebagai sebuah petualangan. Namun Turki siap menghadapi ancaman potensial jika datang dari Suriah, artinya ia ingin mempertahankan perbatasannya dan bukan untuk menembus perbatasan Sykes-Picot yang dijaganya, sebagaimana disebutkan oleh presidennya, Erdogan.

    b. Ada suara-suara di dalam negeri yang cukup mencolok yang mulai khawatir akan pembentukan entitas Kurdi di Suriah. Suara-suara ini melihat bahwa hal ini akan mendorong Partai Pekerja Kurdistan (PKK) untuk kembali melakukan aksi militer terhadap Turki setelah operasinya berhenti sejak Maret 2013 ketika pemimpin partai tersebut, Ocalan, menyerukan dari penjara untuk menghentikan pertempuran dan menarik elemen-elemen bersenjata partainya ke luar Turki serta memulai proses perdamaian... Oleh karena itu, konsentrasi militer ini membantu membungkam suara-suara tersebut dan menenangkannya.

    c. Setelah Erdogan kehilangan mayoritas dalam pemilu dan meningkatnya suara oposisi yang mengecam posisi Erdogan yang goyah di Suriah, ditambah lagi kemungkinan pemilu dini merupakan hal yang mungkin terjadi jika Davutoglu tidak mampu membentuk pemerintahan dalam waktu hukum yang ditentukan. Semua ini mendorong Erdogan dan pemerintah Turki untuk melakukan manuver "unjuk kekuatan" bahwa pemerintah peduli dengan keamanannya dan masih kuat, dengan asumsi bahwa ini akan mengembalikan dukungan opini publik kepada mereka...

Ringkasnya, tindakan dan pengerahan pasukan ini ditujukan untuk memenangkan opini publik internal dan menenangkannya lebih daripada tujuan untuk intervensi militer nyata di utara Suriah. Namun, pasukan ini akan benar-benar dikerahkan untuk intervensi di Suriah jika Amerika melihat bahwa hal tersebut demi kepentingan rencana-rencananya di Suriah... Kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa agar menggagalkan rencana-rencana Amerika dan antek-anteknya, serta mengembalikan mereka ke belakang dalam keadaan merugi tanpa mendapatkan kebaikan apa pun.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda