Silsilah Jawaban Al-Alim Al-Jalil Atha bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Halaman Facebook Beliau "Fikihi"
Jawaban Pertanyaan
Kepada Abu Sarah
Pertanyaan:
Assalamu alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Our shaikh who is glorified by Allah, we want to ask you
In the book an-Nizham al-Islam it is written that Islam is a religion revealed to the Prophet Muhammad to regulate human relations with Allah, human relations with themselves, and human relations with fellow humans.
What I ask: is Islam only revealed to the Prophet Muhammad, and not to the previous prophets? So, what was the religion of the previous prophets?
I thank you for your answer, and may Allah reward you with great rewards.
wassalamu alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu.
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Syaikh kami, semoga Allah memuliakan Anda, kami ingin bertanya kepada Anda.
Disebutkan dalam kitab Nizhamul Islam bahwa Islam adalah din yang diturunkan Allah kepada junjungan kita Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia lainnya.
Pertanyaan saya adalah: Apakah Islam hanya diturunkan kepada junjungan kita Muhammad saja dan tidak kepada para nabi terdahulu? Lalu, apakah agama para nabi terdahulu itu?
Saya berterima kasih atas jawaban Anda, dan saya memohon kepada Allah agar membalas Anda dengan balasan yang terbaik.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Jawaban:
Walaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu,
Anda merujuk dalam pertanyaan Anda pada apa yang tercantum di awal pembahasan "Nizhamul Islam" dalam kitab (Nizhamul Islam) mengenai definisi Islam sebagai berikut:
"Islam adalah din yang diturunkan Allah kepada junjungan kita Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia lainnya. Hubungan manusia dengan Penciptanya mencakup perkara akidah dan ibadah; hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup perkara akhlak, makanan, dan pakaian; sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya mencakup perkara muamalah dan sanksi (uqubat)." Selesai.
Kata "Islam" dan derivasinya dari akar katanya digunakan dalam teks-teks syariat dengan makna bahasa (al-haqiqah al-lughawiyyah) dan juga digunakan dengan makna terminologis (al-haqiqah asy-syar'iyyah). Adapun makna bahasa dari kata Islam adalah berserah diri (al-istislam), tunduk patuh (al-inqiyad), dan tulus/ikhlas (al-ikhlas). Sedangkan makna istilahnya adalah penggunaan lafaz Islam sebagai nama khusus bagi din yang diturunkan Allah SWT kepada junjungan kita Muhammad ﷺ secara khusus, sebagaimana definisi yang dikutip dari kitab Nizhamul Islam di atas. Berikut penjelasannya:
Pertama: Makna Bahasa (Hakikat Lughawi) untuk Lafaz Islam:
1- Makna bahasa kata Islam disebutkan dalam kamus-kamus bahasa sebagai berikut:
a- [Lisan al-Arab (12/289)]:
"Islam dan istislam berarti ketundukan (al-inqiyad). Islam dalam syariat adalah menampakkan ketundukan, menampakkan syariat, dan komitmen terhadap apa yang dibawa oleh Nabi... Adapun Islam, Abu Bakar Muhammad bin Basysyar berkata: Dikatakan si fulan adalah muslim, dan dalam hal ini ada dua pendapat; salah satunya adalah dia yang berserah diri (al-mustaslim) terhadap perintah Allah, dan yang kedua adalah dia yang memurnikan (al-mukhlish) ibadah hanya bagi Allah, diambil dari ucapan mereka sallama asy-syai' li fulan yang artinya memurnikannya... Dan dalam hadis: Tidak ada seorang manusia pun kecuali bersamanya ada setan. Dikatakan: Dan bersamamu juga? Beliau menjawab: Ya, namun Allah membantuku atasnya sehingga ia aslama. Dalam satu riwayat: sehingga ia aslama artinya ia tunduk patuh (inqiyada) dan berhenti dari membisikiku..."
b- [Al-Muhith fi al-Lughah (2/265)]:
"Al-Islam adalah: berserah diri (al-istislam) terhadap perintah Allah dan tunduk patuh (al-inqiyad) untuk menaati-Nya. Mereka berkata: Sallamna lillahi rabbina, artinya: kami berserah diri kepada-Nya dan kami berislam. As-Salam juga berarti al-Islam. Dan al-muslim adalah: orang yang berserah diri (al-mustaslim)..."
Jadi, Islam secara bahasa adalah berserah diri, tunduk patuh, dan ikhlas. Dalam kaitannya dengan Allah SWT, Islam berarti tunduk patuh, merendahkan diri, dan berserah diri kepada Allah, serta bermakna tulus/ikhlas kepada-Nya SWT.
2- Penggunaan teks-teks syariat terhadap kata Islam dengan makna bahasa:
Teks-teks syariat telah menggunakan kata Islam, derivasinya, dan akar katanya di berbagai tempat dengan makna bahasa yang disebutkan di atas. Kami sebutkan dua contoh dari teks-teks syariat tersebut sebagai perumpamaan:
a- Firman Allah SWT:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ * رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ * رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ * إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ * وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ * أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ * تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam'. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam'. Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya'. Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS al-Baqarah [2]: 127-134)
Semua lafaz dalam ayat-ayat ini yang berkaitan dengan akar kata Islam (muslimaini, muslimah, aslim, aslamtu, muslimun, muslimun), adalah dengan makna bahasa bagi lafaz Islam, yaitu berserah diri, ketundukan, dan keikhlasan kepada Allah SWT. Hal ini diperjelas oleh apa yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir mengenai makna ayat-ayat ini. Saya nukilkan tafsir ringkas dari Tafsir an-Nasafi:
[Tafsir an-Nasafi (1/76)]:
"﴿رَبَّنَا واجعلنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ﴾ artinya orang-orang yang memurnikan wajah-wajah kami bagi-Mu, dari firman-Nya: ﴿أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ﴾ atau orang-orang yang berserah diri, dikatakan aslama lahu dan istaslama jika ia tunduk dan patuh. Maknanya adalah: tambahkanlah keikhlasan dan kepatuhan kami kepada-Mu. ﴿وَمِن ذُرّيَّتِنَا﴾ dan jadikanlah dari keturunan kami ﴿أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ﴾... ﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ﴾ patuhlah, atau taatlah, atau murnikanlah agamamu bagi Allah. ﴿قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ artinya aku telah ikhlas atau aku telah tunduk... ﴿فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾ maka janganlah kematian menjemput kalian kecuali dalam keadaan kalian tetap teguh di atas Islam... ﴿وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾ bagi Allah kami ikhlas..." Selesai.
b- Firman Allah SWT:
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia: 'Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku'. Mereka menjawab: 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)'." (QS al-Ma'idah [5]: 111)
Jelas dari ayat ini bahwa pembicaraannya adalah tentang kaum Hawariyyun, pengikut Nabi Isa AS, dan bahwa mereka berkata bahwa mereka adalah orang-orang muslim, artinya orang-orang yang berserah diri dan tunduk patuh pada perintah Allah serta ikhlas kepada-Nya. Dalam Tafsir an-Nasafi mengenai ayat ini disebutkan:
[Tafsir an-Nasafi (1/314)]:
"﴿وَإِذْ أَوْحَيْتُ﴾ Aku ilhamkan ﴿إِلَى الْحَوَارِيِّينَ﴾ orang-orang khusus atau pilihan ﴿أَنْ آمِنُوا﴾ yaitu berimanlah ﴿بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ﴾ artinya saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang ikhlas dari kalangan orang yang menyerahkan wajahnya."
Kedua: Penggunaan Istilah Islam (Hakikat Syar'iyyah):
1- Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, teks-teks syariat juga menggunakan kata Islam dengan makna terminologisnya, yaitu sebagai nama bagi din yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ. Kami berikan dua contoh untuk hal tersebut:
a- Firman Allah SWT:
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيناً
"Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS al-Ma'idah [5]: 3)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan mengenai ayat ini:
[Tafsir Ibnu Katsir (3/26)]:
"Firman-Nya: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِيناً﴾ ini adalah nikmat Allah yang terbesar bagi umat ini, di mana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama lain selainnya, tidak pula membutuhkan nabi lain selain nabi mereka ﷺ. Oleh karena itu, Allah menjadikannya sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal kecuali apa yang ia halalkan, tidak ada yang haram kecuali apa yang ia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang ia syariatkan. Segala sesuatu yang ia kabarkan adalah benar dan jujur, tidak ada dusta maupun perselisihan di dalamnya, sebagaimana firman-Nya: ﴿وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلا﴾ artinya jujur dalam berita, dan adil dalam perintah serta larangan. Ketika Allah telah menyempurnakan agama bagi mereka, maka sempurnalah nikmat atas mereka... Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾ yaitu Islam, Allah mengabarkan kepada Nabi-Nya ﷺ dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan bagi mereka iman, sehingga mereka tidak membutuhkan tambahan selamanya. Allah telah menyempurnakannya maka tidak akan menguranginya selamanya. Allah telah meridhainya maka Dia tidak akan membencinya selamanya." Selesai.
Sangat jelas dari konteks ayat tersebut bahwa pembicaraannya adalah mengenai din yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi-Nya Muhammad, lalu Dia menyempurnakannya, menyelesaikannya, dan meridhainya bagi kaum muslimin.
b- Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
"Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadan."
Jelas dari hadis mulia ini bahwa pembicaraannya adalah mengenai din Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ, dan bahwa lima hal yang disebutkan itu adalah rukun-rukunnya, sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis lainnya.
2- Apa yang tercantum dalam kitab Nizhamul Islam pada teks yang dikutip di atas adalah mengenai Islam dalam makna terminologisnya (hakikat syar'i). Kitab tersebut berupaya mendefinisikan Islam sedemikian rupa sehingga tampak darinya cakupan syariat Islam terhadap seluruh aspek kehidupan. Definisi tersebut menyajikan bahwa Islam adalah din yang diturunkan kepada junjungan kita Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia lainnya. Dengan demikian, ia tidak meninggalkan satu pun kemungkinan hubungan bagi manusia melainkan telah mengaturnya dan menetapkan hukum-hukum baginya.
Ketiga: Islam dan Agama Para Nabi:
1- Islam dengan makna bahasanya dalam kaitannya dengan Allah SWT, yaitu ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, serta keikhlasan kepada-Nya, merupakan sifat bagi seluruh agama para nabi mulai dari Adam hingga nabi kita Muhammad ﷺ. Maka para nabi seluruhnya berada di atas Islam:
a- Disebutkan mengenai Ibrahim AS dalam Al-Qur'an:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam'." (QS al-Baqarah [2]: 131)
b- Disebutkan mengenai Ya’qub AS dan anak-anaknya:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ * أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْماعِيلَ وَإِسْحاقَ إِلهاً واحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam'. Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya'." (QS al-Baqarah [2]: 132-133)
c- Mengenai Yusuf AS:
تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
"Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS Yusuf [12]: 101)
d- Mengenai Musa AS dan para pengikutnya, serta para penyihir yang beriman kepadanya:
وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
"Berkata Musa: 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri'." (QS Yunus [10]: 72)
وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
"Dan kamu tidak membalas dendam kepada kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)'." (QS al-A'raf [7]: 126)
e- Mengenai Sulaiman AS:
فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ
"Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: 'Serupa inikah singgasanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku, kami telah diberikan pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri'." (QS an-Naml [27]: 42)
f- Mengenai Isa AS dan para penolongnya:
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
"Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah ia: 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?' Para Hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab: 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri'." (QS Ali 'Imran [3]: 52)
g- Mengenai Ahli Kitab:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ * وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ
"Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) kepadanya. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: 'Kami beriman kepadanya; sesungguhnya Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang berserah diri'." (QS al-Qashash [28]: 52-53)
Demikianlah bahwa Islam dalam arti berserah diri dan tunduk patuh kepada Allah SWT serta ikhlas kepada-Nya, merupakan sifat bagi agama seluruh para nabi.
Adapun dalam makna istilah syariat, maka ia sebagaimana yang tercantum dalam Nizhamul Islam:
"Islam adalah din yang diturunkan Allah kepada junjungan kita Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia lainnya. Hubungan manusia dengan Penciptanya mencakup perkara akidah dan ibadah; hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup perkara akhlak, makanan, dan pakaian; sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya mencakup perkara muamalah dan sanksi (uqubat)." Selesai. Dalil-dalil mengenai hal tersebut sangat banyak dan pasti (qath’i), dan telah kami jelaskan sebagiannya di atas.
Saya berharap jawaban ini memadai. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Saudara Kalian, Atha bin Khalil Abu al-Rashtah
08 Jumadil Akhir 1444 H 01/01/2023 M
Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya)