Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Menyuarakan Kebenaran

January 30, 2024
2403

Seri Jawaban Syekh Al-Alim Atha' bin Khalil Abu ar-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau "Fikhi"

Kepada Mustafa Ali Ibrahim

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah,

Saya memiliki pertanyaan:

Surah Yunus ayat 90:

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ

"Lalu Fir'aun dan bala tentaranya mengejar mereka." (QS. Yunus [10]: 90)

Dan Surah Thaha ayat 78:

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ

"Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka." (QS. Thaha [20]: 78)

Apakah ini berarti bahwa perintah penguasa dan perbuatan penguasa adalah satu hal yang sama, sehingga kita bisa mengatakan bahwa menentang perintahnya sama dengan menentang perbuatannya? Maksudnya, apakah mengatakan kalimat kebenaran di hadapan polisi atau para pembantunya sama seperti mengatakannya langsung di hadapannya sebagaimana hadis:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."

Terima kasih. Anda memiliki hak untuk mengubah redaksi pertanyaan, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh,

Pertama: Mengenai dua ayat yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu firman Allah SWT dalam Surah Yunus ayat 90:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً

"Dan Kami bawa Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir'aun dan bala tentaranya mengejar mereka, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka)." (QS. Yunus [10]: 90)

Serta firman Allah SWT dalam Surah Thaha ayat 78:

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ

"Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka." (QS. Thaha [20]: 78)

Sepertinya Anda mengisyaratkan adanya perbedaan makna yang diambil dari penggunaan huruf waw dan huruf ba pada lafaz (جنوده). Di mana Allah SWT berfirman pada ayat pertama: (فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ), sementara pada ayat kedua berfirman: (فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ). Makna atba'ahum adalah mengikuti dan menyusul hingga mendapati mereka, sesuai dengan apa yang disebutkan dalam kitab-kitab tafsir.

Namun pada ayat pertama (فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ), dipahami secara bahasa bahwa Fir’aun termasuk di antara orang-orang yang menyusul mereka. Artinya, pengejaran terhadap Musa 'alaihis salam dan Bani Israil diikuti langsung oleh Fir'aun—laknatullah 'alaih—. Dia berada di antara orang-orang yang mengikuti dan mengejar mereka. Hal ini karena huruf waw pada lafaz (وجنوده) di sini menunjukkan musyarakah (penyertaan/partisipasi), yakni keterlibatan Fir'aun dan tentaranya secara bersama-sama dalam mengejar Bani Israil.

Adapun ayat kedua (فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ), secara bahasa dapat dipahami bahwa Fir'aun menyertai tentaranya dan menemani mereka dalam pengejaran tersebut. Namun, secara bahasa juga dapat dipahami bahwa Fir'aun tidak ikut serta secara fisik bersama tentaranya dan tidak keluar bersama mereka, melainkan hanya meminta bantuan (ista'ana) mereka dalam pengejaran tersebut. Hal ini karena huruf ba dalam bahasa Arab bisa bermakna al-mushahabah (menemani) dan al-isti'anah (meminta bantuan). Maka kata (بجنوده) dalam ayat tersebut secara bahasa bisa bermakna al-mushahabah, sehingga Fir'aun menjadi pendamping tentaranya dalam mengejar Bani Israil; dan bisa juga bermakna al-isti'anah, yang berarti dia bisa jadi berada bersama mereka, atau bisa jadi dia meminta bantuan tentaranya untuk mengejar mereka tanpa dia sendiri ikut serta. Artinya, yang mengejar mereka adalah tentara Fir'aun tanpa kehadiran Fir'aun sendiri.

Penentuan salah satu dari dua makna tersebut (menemani atau meminta bantuan) menjadi jelas dengan menjamakkan (menggabungkan) kedua ayat tersebut:

Ayat pertama secara bahasa hanya memiliki satu makna, yaitu bahwa Fir’aun—laknatullah 'alaih—ikut serta, yakni menemani mereka dalam mengejar Musa 'alaihis salam. Ayat kedua secara bahasa mengandung kemungkinan makna al-mushahabah (menemani), yakni dia menemani mereka mengejar Musa 'alaihis salam, dan juga mengandung kemungkinan makna al-isti'anah (meminta bantuan), yakni dia menggunakan tentaranya untuk mengejar Musa 'alaihis salam tanpa Fir’aun sendiri menyertainya. Karena makna kedua ayat ini tidak bertentangan, maka makna dari penggabungan kedua ayat tersebut adalah bahwa Fir'aun berada bersama tentaranya dalam mengejar Musa 'alaihis salam. Artinya, huruf ba pada (بجنوده) di sini memberikan makna al-mushahabah, yaitu dia menemani tentaranya dalam mengejar Musa 'alaihis salam. Demikianlah penjelasan mengenai makna kedua ayat tersebut.

Kedua: Adapun hadis syarif yang disebutkan dalam pertanyaan, telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

"Sesungguhnya di antara jihad yang paling besar adalah kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zalim."

Abu Isa berkata: "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abu Umamah, dan ini adalah hadis hasan gharib dari jalur ini." Dalam Al-Mu'jam al-Kabir karya At-Thabrani dari Abu Umamah, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْجِهَادِ إِلَى اللهِ كَلِمَةُ حَقٍّ تُقَالُ لإِمَامٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling dicintai Allah adalah kalimat kebenaran yang diucapkan kepada imam yang zalim."

Dalam riwayat lain milik At-Thabrani dari Abu Umamah, ada seorang pria yang bertanya saat berada di dekat Jumrah: "Wahai Rasulullah, jihad apa yang paling utama?" Beliau bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."

Disebutkan dalam kitab 'Aunul Ma'bud dalam syarah hadis ini sebagai berikut: [... Dari Abu Sa'id al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Jihad yang paling utama adalah kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zalim atau pemimpin yang zalim. Penulis 'Aunul Ma'bud berkata:

(أَفْضَل الْجِهَاد): Maksudnya termasuk di antara yang paling utama berdasarkan riwayat At-Tirmidzi: "Sesungguhnya di antara jihad yang paling besar", dan dalam riwayat Ibnu Majah: "kalimat kebenaran" (kalimatu haqq). Yang dimaksud dengan kalimat adalah apa yang memberikan faedah berupa amrun bil ma'ruf atau nahyun 'anil munkar, baik berupa ucapan maupun yang semakna dengannya seperti tulisan dan semisalnya.

(عِنْد سُلْطَان جَائِر): Yakni yang zalim. Perbuatan itu menjadi jihad yang paling utama karena orang yang berjihad melawan musuh (di medan perang) berada di antara harap dan cemas, dia tidak tahu apakah dia akan menang atau dikalahkan. Sedangkan orang yang berada di hadapan penguasa, ia berada dalam genggaman kekuasaannya. Jika ia menyuarakan kebenaran dan memerintahkannya pada kemakrufan, maka ia telah merelakan dirinya pada kebinasaan dan menjadikan dirinya sasaran kehancuran. Maka hal itu menjadi jenis jihad yang paling utama karena besarnya rasa takut yang harus dikalahkan. Demikian dikatakan oleh Al-Khaththabi dan selainnya.

(أَوْ أَمِير جَائِر): Nampaknya ini adalah keraguan dari perawi].

Dari hadis syarif ini dipahami bahwa jihad yang paling utama adalah mengucapkan kalimat kebenaran di hadapan sultan (penguasa) yang zalim, bukan di hadapan para pengikutnya. Yang dimaksud dengan sultan jair adalah pemimpin yang zalim, baik dia seorang presiden, raja, perdana menteri, maupun gubernur (wali). Dia haruslah seseorang yang memiliki otoritas (sulthan) dan kepemimpinan pemerintahan agar keutamaan dalam menyuarakan kebenaran di hadapannya ini terpenuhi.

Namun, ini tidak berarti tidak ada keutamaan dalam menyuarakan kalimat kebenaran di hadapan para pengikut penguasa yang zalim. Menyuarakan kebenaran secara terang-terangan (al-jahru bi kalimatil haqq) senantiasa mengandung kebaikan dan keutamaan. Akan tetapi, keutamaan khusus yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam hadis yang sedang kita bahas adalah keutamaan yang berkaitan dengan pemegang kekuasaan (shahibus sulthan), yaitu penguasa itu sendiri. Hal ini dikarenakan pentingnya menyuarakan kebenaran di hadapannya, serta adanya risiko, keberanian, dan kekuatan yang besar di dalamnya, sebagaimana disebutkan oleh sebagian pensyarah hadis: [... Al-Khaththabi berkata: "Hanya saja hal itu menjadi jihad yang paling utama karena orang yang berjihad melawan musuh berada di antara harap dan cemas, ia tidak tahu apakah akan menang atau dikalahkan. Sedangkan orang yang berada di hadapan penguasa, ia terancam di tangannya. Maka jika ia mengatakan kebenaran dan memerintahkannya pada kemakrufan, ia telah merelakan dirinya pada maut dan menjadikan dirinya sasaran kehancuran. Maka hal itu menjadi jenis jihad yang paling utama karena besarnya ketakutan yang mendominasi. Al-Muzhhir berkata: Hal itu menjadi yang paling utama karena kezaliman penguasa merembet ke seluruh orang yang berada di bawah kepemimpinannya yang berjumlah sangat besar. Maka jika ia melarangnya dari kezaliman, ia telah menyampaikan manfaat kepada orang banyak, berbeda dengan membunuh seorang kafir..."].

Jadi, seluruh pembicaraan ini adalah tentang pemegang kekuasaan yang zalim itu sendiri, bukan tentang pengikut, pembantu, maupun tentaranya.

Saudaramu, Atha' bin Khalil Abu ar-Rashtah

17 Rajab 1445 H 29 Januari 2024 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): Facebook

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda