Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: Jin dan Hakikat Hubungan antara Jin dengan Manusia

December 18, 2013
11791

** (Seri Jawaban Al-Alim Atha' bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau)**

Kepada Salem Jaradat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Syaikhuna.

Sebagaimana diketahui bahwa dalil dalam akidah bisa berupa dalil aqli (akal) atau dalil naqli (nas).

Iman kepada jin ada karena adanya dalil naqli saja mengenai mereka, karena tidak adanya dalil material yang terindra yang bisa mengantarkan pada keimanan akan keberadaan mereka secara aqli.

Pertanyaannya: Bagaimana penjelasan di atas bisa sejalan dengan pernyataan para ulama tentang adanya al-mass (kesurupan), at-talabbus (kemasukan), atau interaksi fisik lainnya antara jin dan manusia?

Bagaimana pula benarnya pendapat mereka bahwa jin memiliki kaitan dengan hasad (dengki) serta penyakit atau krisis yang menimpa seseorang (seperti hambatan dalam pekerjaan, dan lain-lain)?

Terakhir, bagaimana menafsirkan ayat-ayat dan hadis-hadis yang mengandung lafaz al-mass dan semacamnya, jika tidak dipahami sebagaimana pemahaman para ulama tersebut?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

  1. Jin termasuk perkara gaib bagi kita, sehingga kita tidak bisa melihat mereka. Allah SWT berfirman:

    يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

    "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf [7]: 27)

    Yaitu Iblis dan kaumnya, dengan kata lain adalah jin, karena Iblis berasal dari golongan jin:

    إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ

    "...kecuali Iblis, dia adalah dari golongan jin." (QS. Al-Kahfi [18]: 50)

  2. Hubungan dasar kita dengan mereka adalah bahwa mereka mampu membisikkan was-was. Allah SWT berfirman:

    فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ

    "Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya." (QS. Al-A'raf [7]: 20)

    Dan Allah SWT berfirman:

    فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ

    "Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya." (QS. Taha [20]: 120)

    Setan di sini adalah Iblis, dan dia berasal dari golongan jin.

  3. Setan tidak memiliki kekuasaan yang bersifat memaksa (sulthan jabri) atas manusia, kecuali jika manusia itu mengikuti setan atas pilihannya sendiri. Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي

    "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku...'" (QS. Ibrahim [14]: 22)

    Allah SWT berfirman:

    إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

    "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr [15]: 42)

    Dan Allah SWT berfirman:

    فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ * إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْانٌ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

    "Apabila kamu membaca Al-Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (QS. An-Nahl [16]: 98-100)

  4. Setiap hubungan material (fisik) selain dari hubungan dasar yang telah dijelaskan Allah SWT ini memerlukan nas (dalil) khusus. Jika ditemukan nas mengenai kasus seperti itu, maka kita beriman pada kasus tersebut sesuai dengan bunyi nasnya.

    Misalnya, kekuasaan Sulaiman as atas jin serta perintah dan larangannya kepada mereka. Perkara ini telah disebutkan dalam nas, maka kita mengimaninya. Allah SWT berfirman dalam surat An-Naml tentang Sulaiman as:

    قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ * قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

    "Berkata Sulaiman: 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasana itu kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri'. Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: 'Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya'." (QS. An-Naml [27]: 38-39)

    Allah SWT juga berfirman:

    وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ * يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

    "Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (QS. Saba' [34]: 12-13)

  5. Rasulullah SAW senantiasa menangani setiap fakta material dalam koridor interaksi antarmanusia, selama tidak ada nas khusus melalui "wahyu" bahwa interaksi tersebut berkaitan dengan jin. Semua fakta diperlakukan seperti ini. Jika misalnya ditemukan seorang pria terbunuh, pikiran tidak boleh dialihkan bahwa jin yang membunuhnya kecuali jika ada nas mengenai hal itu. Begitu pula dalam kejadian pria yang terbunuh di Khaybar, penyelidikan difokuskan pada siapa yang membunuhnya dari kalangan manusia, dan tidak dialihkan kepada jin:

    Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah pergi ke Khaybar karena kesulitan yang menimpa mereka. Kemudian Muhayyishah datang dan mengabarkan bahwa Abdullah bin Sahl telah dibunuh dan dilemparkan ke dalam mata air atau sumur. Lalu ia mendatangi orang-orang Yahudi dan berkata: "Demi Allah, kalianlah yang telah membunuhnya." Mereka menjawab: "Demi Allah, kami tidak membunuhnya..." Kemudian masalah tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah mereka membayar diyat kawan kalian itu atau mereka mengumumkan perang." Lalu Rasulullah SAW menulis surat kepada mereka mengenai hal itu, dan mereka membalas: "Sesungguhnya kami demi Allah tidak membunuhnya..." Kisah ini sudah masyhur. Dan tindakan jin tidak dimasukkan ke dalam pembahasan kasus tersebut sedikit pun.

  6. Oleh karena itu, selama tidak ada nas yang menyebutkan adanya keterkaitan material jin dalam suatu kejadian, maka hubungan antara jin dan manusia tetaplah hubungan waswasah dan tidak melampauinya.

    Mengingat risalah Rasulullah SAW adalah penutup segala risalah dan wahyu telah terputus setelah beliau, maka tidak ada nas baru. Karena itu, tidak ada hubungan material antara kita dan jin, melainkan hanya waswasah. Sebagaimana yang telah kami sampaikan, tidak ada kekuasaan bagi bisikan jin atas seseorang kecuali jika orang tersebut menanggapi bisikan tersebut atas pilihannya sendiri.

    Demikian pula masalah-masalah material ditangani pada masa Khulafaur Rasyidin. Pikiran tidak dialihkan pada setiap fakta material—baik pembunuhan, pencurian, penipuan, atau kecurangan—kepada jin, melainkan kepada manusia. Karena hubungan jin adalah hubungan waswasah, kecuali jika ada nas khusus. Mengingat tidak ada nas khusus setelah Rasulullah SAW, maka semua fakta material berasal dari manusia dan bukan dari jin. Dunia mereka berbeda dengan dunia kita, dan hubungan mereka dengan kita hanyalah hubungan waswasah, tidak lebih.

    Berdasarkan hal ini, jika seseorang jatuh sakit, jin tidak ada kaitannya dalam masalah tersebut. Penyakit tersebut diobati sesuai dengan apa yang ada dalam Islam, yaitu dengan berobat (tadawi):

    Baik pengobatan itu bersifat fisik (materi), sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari jalur Usamah bin Syarik yang berkata: "Aku mendatangi Nabi SAW dan para sahabatnya seolah-olah di atas kepala mereka ada burung. Aku mengucapkan salam kemudian duduk. Lalu orang-orang Arab Badui datang dari sana-sini dan bertanya: 'Ya Rasulullah, apakah kami boleh berobat?' Beliau bersabda:

    تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

    'Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak meletakkan suatu penyakit melainkan Dia meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu masa tua (kematian).'" (HR. Abu Dawud)

    Atupun pengobatan dengan doa dan rukiah, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Muslim dari jalur Aisyah Ummul Mukminin ra: "Bahwa Rasulullah SAW merukiah dengan rukiah ini:

    أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ

    'Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia. Di tangan-Mulah kesembuhan, tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Engkau.'" (Atau doa-doa semacamnya dari Al-Qur'an atau As-Sunnah atau doa apa pun yang sejalan dengan keduanya).

    Adapun beralih kepada orang-orang yang mengeklaim memiliki hubungan material dengan jin untuk menyembuhkan orang sakit, maka hal itu adalah penipuan dan kecurangan dari para dukun (dajjal) yang menjerat orang-orang awam untuk memeras dan memakan harta mereka dengan cara yang batil.

  7. Adapun tafsir ayat yang di dalamnya terdapat kata al-mass, seolah-olah Anda memaksudkan surat Al-Baqarah ayat 275, yaitu:

    الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

    "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." Berikut adalah penjelasan mengenai tafsirnya:

    1. Allah telah membuat perumpamaan bagi pemakan riba seperti orang yang sempoyongan karena gila (ayan), dia berdiri dan jatuh, serta مضطرب (kacau/gemetar) dalam berjalan, berdiri, dan duduknya. Kegilaan telah merasukinya sepenuhnya, karena ia menganggap riba sama dengan jual beli, padahal Allah telah mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli.

    يَأْكُلُونَ الرِّبَا Yaitu mengambilnya, dan mencakup segala bentuk pemanfaatan darinya. Kata يَأْكُلُونَ digunakan dalam Al-Qur'an Al-Karim untuk menunjukkan celaan, seperti:

    إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا

    "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya..." (QS. An-Nisa [4]: 10)

    لَا يَقُومُونَ Yaitu pada hari kiamat.

    إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ Artinya mereka dibangkitkan dari kuburnya, berdiri seperti berdirinya orang yang sempoyongan karena gila di dunia. Hal itu merupakan kehinaan bagi mereka pada hari itu, dan merupakan qarinah (indikasi) atas larangan yang tegas terhadap riba yang pengharamannya ditegaskan berulang kali dalam ayat-ayat ini.

    مِنَ الْمَسِّ Yaitu kegilaan. Dikatakan: mussa ar-rajulu (pria itu disentuh), maka dia adalah mamsus jika dia gila. Sedangkan al-khabtu adalah memukul secara tidak beraturan.

    Terdapat riwayat-riwayat dalam menafsirkan إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ, dan yang paling kuat (rajih) di antaranya adalah bahwa manusia ketika tertimpa kegilaan, maka setan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadapnya melalui bisikan-bisikannya, sehingga setan membayangkan kepadanya banyak hal yang menyebabkan orang gila itu sempoyongan (yatakhabath).

    Adapun pendapat yang mengatakan bahwa setanlah yang membuatnya pingsan (ayan) atau yang menyebabkannya menjadi gila, maka ayat tersebut tidak menyatakan demikian. Allah SWT tidak berfirman (yatakhabathuhu asy-syaythanu bi al-mass), yang artinya setan menimpakan kegilaan kepadanya, melainkan ayatnya adalah يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ. Artinya setan mengacaukannya "karena" kegilaannya. Dengan kata lain, kegilaan itu sudah ada lebih dulu sebelum pengacauan oleh setan.

    Inilah yang paling kuat menurut saya dalam menafsirkan ayat tersebut. Jadi, perumpamaan pemakan riba adalah seperti orang yang dikacaukan oleh setan karena kegilaannya (min al-mass). Artinya kegilaan mendahului tindakan setan yang mengacaukan orang tersebut; orang tersebut gila karena suatu sebab, lalu setan mengacaukannya dengan bisikan dan khayalan-khayalannya.

    Jadi setan tidaklah membuat orang tersebut pingsan atau gila, jika tidak demikian tentu ayatnya akan berbunyi (alladzi yatakhabathuhu asy-syaythan bi al-mass), karena huruf Ba di sini berfaedah ilshaq (melekatkan), yakni dengan kegilaan (menyebabkannya gila). Perumpamaan ini adalah penggambaran sensorik yang mengerikan atas besarnya kejahatan para pemakan riba.

Saudaramu, Atha' bin Khalil Abu al-Rashtah

Tautan Jawaban dari Laman Facebook Amir

Tautan Jawaban dari Situs Web Amir

Tautan Jawaban dari Laman Google Plus Amir

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda