Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Negosiasi antara Amerika dan Taliban

February 06, 2019
5634

Pertanyaan:

Sumber-sumber gerakan Taliban Afghanistan berbicara tentang kemajuan penting dalam negosiasi mereka yang berlangsung selama enam hari dengan utusan Amerika, Zalmay Khalilzad, di Doha. Disebutkan bahwa Amerika akan menarik pasukannya dalam waktu 18 bulan setelah kesepakatan selesai. Meskipun kesepakatan Doha tetap berupa draf yang diungkapkan melalui pernyataan di sana-sini dan belum mengikat hingga saat ini, dan putaran negosiasi lainnya akan diadakan pada tanggal 25 bulan ini (Februari 2019) sebagaimana disebutkan oleh Reuters pada 27/01/2019... namun pertanyaan utamanya tetap: Apakah gerakan Taliban, setelah bertahun-tahun melakukan jihad yang panjang, telah jatuh ke dalam perangkap Amerika? Bagaimana hal itu terjadi? Dan ke mana arah persoalan ini? Jazaakallaahu khayran.

Jawaban:

Di awal, saya ingin mengingatkan kembali jawaban pertanyaan sebelumnya yang berjudul "Strategi Amerika di Afghanistan" tertanggal 16/08/2017. Di sana kami telah menjelaskan bahwa Amerika bersama sekutu NATO-nya telah gagal mencapai kemenangan militer di Afghanistan, dan banyak wilayah Afghanistan yang secara efektif telah berada di bawah kendali gerakan Taliban. Kami juga menjelaskan ketidakmampuan pemerintah kaki tangan Afghanistan untuk terjun dalam perang Amerika tersebut, di mana mereka kesulitan mengendalikan ibu kota dan beberapa wilayah lainnya. Kami juga menyebutkan dalam jawaban pertanyaan tersebut bahwa Amerika di bawah kepemimpinan Trump sedang meninjau kembali kebijakannya di Afghanistan (peninjauan ini mengarah pada upaya mendinginkan medan perang Afghanistan secara signifikan, membatasi keberadaan Amerika di pangkalan militer untuk digunakan saat bahaya mengancam, serta menampakkan misinya seolah-olah melawan "ISIS"...).

Kami menambahkan: (Untuk mempermudah merayu Taliban agar menerima perundingan, Amerika kembali mengaktifkan peran Pakistan. Caranya dengan meminta kepemimpinan militer baru di Pakistan menunjukkan sikap yang lebih lunak dan simpatik kepada Taliban untuk mendorong mereka duduk dan bernegosiasi dengan pemerintah kaki tangan di Kabul, serta mengikutsertakan mereka dalam sistem politik Amerika di Afghanistan... Setelah Amerika menyadari terbatasnya pilihan mereka di Afghanistan dan kegagalan pilihan melalui India, Amerika pun menempuh jalur negosiasi dengan gerakan Taliban dengan harapan dapat mengintegrasikan mereka ke dalam pemerintahan Amerika di Afghanistan. Amerika menggunakan para kaki tangannya yang berkuasa di Pakistan untuk menyeret para pemimpin gerakan Taliban ke meja perundingan... Meskipun demikian, semua upaya tersebut telah gagal; Amerika tidak berhasil secara militer maupun politik dalam masalah Afghanistan). Selesai kutipan dari jawaban pertanyaan tersebut.

Namun, Amerika tidak berputus asa untuk mewujudkan hal ini dengan mengandalkan para kaki tangannya di kawasan, terutama karena penderitaan Amerika di Afghanistan secara militer dan finansial telah sangat mengganggu tidurnya... Dengan meninjau krisis Amerika di Afghanistan, menjadi jelas hal-hal berikut:

Pertama: Amerika menderita utang yang sangat besar yang mengancam ekonominya yang telah terpukul oleh krisis tahun 2008 dan dampaknya masih berlanjut. Amerika merasa telah menghabiskan dana untuk perang di Timur Tengah, yakni di negeri-negeri Islam, setara dengan tujuh triliun dolar namun tidak mendapatkan hasil apa pun, sebagaimana dikatakan oleh presidennya, Trump. Trump menulis di akun Twitter-nya pada 22/01/2017: "Setelah kita dengan bodohnya menghabiskan tujuh triliun dolar di Timur Tengah, sudah saatnya kita mulai membangun kembali negara kita." BBC pada 09/01/2016 mengutip majalah Forbes Amerika bahwa (perang di Afghanistan sejauh ini telah merugikan Amerika sekitar satu triliun 70 miliar dolar, di samping terbunuhnya lebih dari 2.400 tentara Amerika dan puluhan ribu lainnya luka-luka, cacat, serta mengalami gangguan permanen. Meskipun kerugian manusia dan finansial yang besar ini, Amerika gagal melenyapkan gerakan tersebut...).

Kedua: Setelah kegagalan Amerika melenyapkan gerakan tersebut secara militer, Amerika melihat bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyeret gerakan Taliban ke meja perundingan sebagai satu-satunya pilihan Amerika untuk keluar dari perang Afghanistan tanpa terlihat kalah... Pilihan ini menjadi strategi Amerika yang dijalankan di Afghanistan. Yang menegaskan betapa vitalnya pilihan ini bagi Amerika adalah penunjukan Zalmay Khalilzad oleh Departemen Luar Negeri Amerika pada 05/09/2018 sebagai utusannya ke Afghanistan dengan misi khusus: (Departemen Luar Negeri Amerika dalam pernyataan sebelumnya meringkas misi "Khalilzad" untuk mengoordinasikan dan mengarahkan upaya Amerika yang bertujuan memastikan "Taliban" duduk di meja perundingan... Kantor Berita Anadolu Turki 12/01/2019). Oleh karena itu, Amerika berjalan dengan satu pilihan saja, yaitu mendorong gerakan Taliban dan menekannya agar duduk di meja perundingan. Pandangan Amerika untuk keluar dari perang Afghanistan ini bukanlah hal baru. Amerika awalnya mencoba menciptakan jalur negosiasi antara Taliban dan rezim (Kabul), namun upaya tersebut gagal... Akhirnya, negosiasi bergeser menjadi langsung dengan Amerika, setelah sebelumnya Amerika menginginkannya antara gerakan Taliban dan rezim Afghanistan yang didirikannya, namun gerakan tersebut menolak karena menganggap pemerintah itu hanyalah boneka yang digerakkan oleh Amerika... Lalu Taliban setuju bernegosiasi dengan Amerika, padahal Amerikalah pendiri rezim tersebut!

Ketiga: Hal yang perlu diperhatikan dan direnungkan adalah bahwa demi meyakinkan gerakan Taliban untuk masuk ke dalam negosiasi damai, Amerika telah menyiapkan iklim bagi hal tersebut dengan caranya yang busuk. Amerika melakukan tindakan-tindakan internal di Afghanistan dan tindakan regional melalui para kaki tangannya maupun pihak lain di sekitar Afghanistan:

1- Fokus serangan udara Amerika tertuju pada para pemimpin gerakan Taliban, terutama mereka yang menolak negosiasi: (Pejabat Amerika mengatakan bahwa Amerika Serikat melancarkan serangan pesawat tak berawak pada hari Sabtu kemarin terhadap pemimpin gerakan Taliban Afghanistan, Akhtar Mansour... Departemen Pertahanan Amerika "Pentagon" menggambarkan Akhtar Mansour sebagai "penghalang perdamaian dan rekonsiliasi antara pemerintah Afghanistan dan Taliban"... Donia Al-Watan 22/05/2016). Artinya, penargetan terhadap dirinya adalah karena penolakannya terhadap negosiasi. Ini terjadi pada masa pemerintahan Obama, dan Amerika melanjutkan konteks yang sama selama pemerintahan Trump: (Misi NATO "Resolute Support" dalam pernyataan pers Rabu malam ini mengatakan: "Dua pemimpin Taliban tewas di provinsi Kapisa dalam serangan udara Amerika untuk mendukung pasukan keamanan khusus Afghanistan di provinsi Tagab pada 22 Juli". Kantor berita Sputnik Rusia 25/07/2018). Kejadian lainnya setelah itu, di mana seorang pemimpin Taliban lainnya tewas: (Kolonel Dave Butler, juru bicara pasukan Amerika di Afghanistan, mengatakan bahwa "kami dapat mengonfirmasi serangan udara Amerika yang dilakukan kemarin mengakibatkan tewasnya pemimpin Taliban, Mullah Manan", seraya menambahkan: "Kami sedang menuju solusi politik..." CNN Arab 02/12/2018).

2- Iran mengulurkan tangannya kepada gerakan Taliban, sehingga Taliban mengira mereka aman karena menganggap Iran sebagai "negara yang memusuhi Amerika". Beberapa pemimpin Taliban pun berlindung ke sana. Taliban tidak mengambil pelajaran bahwa operasi pembunuhan pemimpin mereka, Mullah Akhtar Mansour, saat ia kembali dari Iran dan berada di perbatasannya, kemungkinan besar dilakukan atas koordinasi Amerika-Iran. Taliban terus mempercayai Iran... Padahal Iran tidak mendorong mereka kecuali ke arah solusi politik Amerika: (Iran mengatakan bahwa perwakilan dari gerakan Taliban Afghanistan telah melakukan negosiasi dengan pejabat Iran di Teheran pada hari Minggu kemarin, saat Republik Islam tersebut berupaya mendorong pembicaraan damai di negara tetangga untuk membendung pengaruh kelompok Islam lainnya. Bahram Qasemi, juru bicara Kementerian Luar Negeri, menyatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan tersebut dilakukan dengan sepengetahuan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan bertujuan untuk menyusun kerangka negosiasi antara Taliban dan pemerintah Afghanistan... Euro News 31/12/2018).

3- Qatar membuka kantor untuk gerakan Taliban di Doha, sehingga Taliban mengira bahwa pengakuan Qatar terhadap mereka akan memperkuat posisi mereka. Namun, Qatar telah menyatakan secara terbuka bahwa kantor ini dibuka atas koordinasi dengan Amerika demi negosiasi dengan gerakan Taliban. Qatar mengatakan saat krisisnya dengan negara-negara "pemblokade": (Bahwa pernyataan mantan Direktur CIA David Petraeus sudah cukup ketika ia menyebutkan bahwa pertemuan Taliban dan Hamas di Doha dilakukan atas permintaan pemerintah Amerika, dan ini membuktikan bahwa Qatar tidak melakukan sesuatu yang disembunyikan, dan ini diketahui oleh semua orang bukan di belakang mereka... Selain itu, keberadaan Hamas dan Taliban di Doha adalah atas permintaan Amerika Serikat untuk menemukan jalan keluar bagi masalah Palestina dan Taliban) surat kabar Al-Sharq Qatar 04/07/2017. Jadi, Qatar memberi ilusi kepada Taliban bahwa mereka berada di pihaknya, mendukungnya, dan mengakuinya, sehingga Taliban jatuh ke dalam perangkap ini... Ketika tekanan terhadap Qatar dari negara-negara "pemblokade" semakin kuat, dan Qatar mulai memohon kepada pemerintahan Trump serta membayar uang demi melindungi rezimnya, Qatar—yang merupakan kaki tangan Inggris—semakin meningkatkan upayanya mengikuti keinginan Amerika untuk mendorong gerakan Taliban ke meja perundingan, dengan harapan pemerintahan Trump akan meringankan risiko dari Saudi terhadapnya... Begitulah Amerika menjadikan masalah pelayanannya dalam mendorong Taliban ke negosiasi damai sebagai ajang persaingan di antara negara-negara kecil yang saling bertikai di Teluk. Uni Emirat Arab bersaing dengan Qatar dengan menarik negosiasi ke kota Abu Dhabi, sementara Arab Saudi menariknya ke Jeddah... Reuters juga mengutip seorang komandan militer Taliban yang ikut serta dalam negosiasi, yang meminta namanya tidak disebutkan: (Kenyataannya, perselisihan antara Arab Saudi dan Qatar telah merusak proses perdamaian sepenuhnya. Ia melanjutkan dengan mengatakan: Orang-orang Saudi menekan kami tanpa perlu, demi mengumumkan gencatan senjata... Kantor berita Sputnik Rusia 14/01/2019). Dengan tarikan yang tampaknya kontradiktif dan berbeda ini, gerakan Taliban mendapati dirinya ditarik oleh tiga tali Teluk, yang secara lahiriah tampak bertentangan namun menuju satu arah: negosiasi dengan Amerika. Para kaki tangan Amerika di Arab Saudi bersaing dengan para kaki tangan Inggris di Emirat dan Qatar tentang siapa di antara mereka yang lebih dulu melayani Amerika dan mendapatkan ridhanya. Namun, di tengah persaingan dalam kebatilan ini, gerakan Taliban sedang dijebak dan arah pandangannya disatukan menuju negosiasi Amerika dan solusi politik. Inggris tidak menentang arah kebijakan Qatar ini karena dianggap sebagai pembelaan terhadap rezim Qatar, adapun Emirat, Inggris telah menempatkannya di garis depan bersama para kaki tangan Amerika untuk tujuan-tujuan lainnya.

4- Adapun Pakistan, yang merupakan faktor penentu utama bagi Taliban; setelah sebelumnya meninggalkan gerakan tersebut dan melancarkan pertempuran sengit melalui tentaranya melawan Taliban Pakistan, mereka mulai melembutkan suasana dengan gerakan tersebut dan meningkatkan kontak. Dengan datangnya Imran Khan sebagai Perdana Menteri Pakistan pada 25/07/2018, dan pernyataannya yang menampakkan kedekatan dengan gerakan Taliban Afghanistan, kondisi ini menciptakan kepercayaan lebih bagi gerakan Taliban kepadanya tanpa menyadari bahwa itu adalah perangkap yang dipasang untuk menjebak mereka dalam negosiasi Amerika... Dengan demikian, Taliban jatuh—atau menjatuhkan dirinya sendiri—ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, yaitu lubang pemerintah Pakistan yang tidak melaksanakan kecuali kebijakan Amerika: Pakistan mendukung Taliban pada tahun 1996 untuk memerintah Afghanistan, kemudian meninggalkannya saat serangan Bush Junior tahun 2001 dan setelahnya, bahkan berpartisipasi dalam serangan Amerika dengan mengejar Taliban di dalam wilayah Pakistan... Sekarang, ketika Amerika gagal melenyapkan gerakan Taliban dan memutuskan kembali ke negosiasi sebagai satu-satunya pilihan solusi demi menjaga pengaruhnya di Pakistan, Islamabad kembali membangun jembatan lamanya dengan gerakan Taliban, namun dengan satu tujuan: melaksanakan strategi baru Amerika dan menjaga pengaruh Amerika di Afghanistan. Taliban pun jatuh ke dalam lubang itu lagi! Padahal persoalannya sudah sangat jelas tanpa ada yang tersembunyi: (Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengungkapkan hari Senin ini bahwa Presiden Amerika, Donald Trump, meminta bantuannya dalam proses perdamaian Afghanistan. Saluran Geo TV Pakistan mengutip Khan yang mengatakan bahwa ia "menerima surat dari Presiden Amerika hari ini, yang isinya meminta Pakistan memainkan peran dalam pembicaraan damai Afghanistan, dan membantu membawa gerakan Taliban ke meja perundingan"... Sputnik Rusia 03/12/2018). Kemudian, dua hari setelah itu, Perdana Menteri Pakistan bertemu dengan utusan khusus Amerika Khalilzad di Islamabad, menegaskan langkah Pakistan dalam rencana Amerika di Afghanistan (Dari pihaknya, Imran mengatakan bahwa "Pakistan menginginkan penyelesaian politik demi perdamaian dan rekonsiliasi Afghanistan"... Masrawy 05/12/2018). Perdana Menteri Pakistan Imran Khan juga menegaskan pada hari Selasa ini, (bahwa negaranya akan melakukan segala yang mereka bisa untuk memajukan proses perdamaian Afghanistan, seraya mencatat bahwa negaranya telah berkontribusi dalam dialog antara gerakan Taliban dan Amerika Serikat di Abu Dhabi baru-baru ini... Youm7 18/12/2018). Imran juga telah membuka jati dirinya di akun Twitter-nya pada 19/11/2018 saat membela jasa-jasa Pakistan kepada Amerika dengan mengatakan: "... Pakistan memilih berpartisipasi dalam perang Amerika melawan terorisme, Pakistan menderita 75 ribu korban jiwa dalam perang ini, dan kehilangan ekonominya lebih dari 123 miliar dolar, sementara bantuan Amerika hanya 20 miliar dolar saja..." Begitu pula mantan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menegaskan pengkhianatan para penguasa Pakistan—dan ia termasuk di antaranya—ketika ia menulis pada 19/11/2018 di akun Twitter-nya: "Bahwa Pakistan masih menumpahkan darah demi Amerika karena kita menjalani perang yang bukan perang kita. Kita telah menyia-nyiakan nilai-nilai agama kita agar sesuai dengan kepentingan Amerika, dan kita telah menghancurkan jiwa toleransi kita dan menggantinya dengan fanatisme serta intoleransi." Tidak ada yang lebih jujur daripada perkataan ini: Pakistan menjalani perang yang bukan perangnya... menumpahkan darah putra-putra kaum Muslim demi Amerika... dan menyia-nyiakan nilai-nilai agama Islam demi melayani kepentingan Amerika... Peran Pakistan di Afghanistan menyerupai peran Turki dan penguasanya, Erdogan, di Suriah, serta jasa-jasanya kepada Amerika melalui tekanannya terhadap faksi-faksi bersenjata agar tunduk pada solusi Amerika, meskipun Amerika telah menghinanya berkali-kali!

5- Inilah kondisi lokal di dalam Afghanistan dan pergerakan regional dari para kaki tangan Amerika maupun pihak lain yang digunakan Amerika untuk mendorong gerakan Taliban dengan sangat kuat ke arah negosiasi dan solusi politik. Ke mana pun gerakan Taliban menghadapkan wajahnya—ke Pakistan, Iran, Arab Saudi, Qatar, atau Emirat—ia mendapati dirinya berjalan di atas rel negosiasi Amerika demi menjaga pengaruh Amerika di Afghanistan! Padahal, jika Taliban mau merenungkan betapa gigihnya Amerika mengejar negosiasi dengan mereka dan besarnya tekanan Amerika kepada para kaki tangannya agar mengerahkan segala daya upaya menggunakan cara-cara yang licik dan busuk untuk meyakinkan Taliban menerima negosiasi... seandainya mereka merenungkan dalamnya kebuntuan yang dialami Amerika secara militer dan finansial selama 17 tahun jihad heroik Taliban... seandainya mereka merenungkan desakan Amerika untuk bernegosiasi dengan Taliban padahal sebelumnya Amerika menganggap mereka sebagai teroris—sebagaimana kebiasaannya menuduh siapa pun yang melawan terorisme dan kesombongannya sebagai teroris... jika mereka merenungkan semua itu, mereka akan melihatnya sebagai pengumuman kekalahan Amerika di Afghanistan secara tidak resmi. Amerika ingin keluar sebelum kekalahan ini meruntuhkannya, sehingga boroknya terbongkar dan tersingkap bahwa ia adalah negara adidaya yang sedang runtuh... Seharusnya hal itu dimanfaatkan dan ditekan dengan kuat agar Amerika keluar dalam keadaan terhina dan kalah, bukan justru Taliban memberinya kesempatan "istirahat bagi pejuang" melalui negosiasi. Amerika itu tidak dapat dipercaya janjinya:

لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلّاً وَلَا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ

"Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak pula (mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. At-Taubah [9]: 10)

Amerika tidak akan ridha terhadap konsesi apa pun dari Taliban melalui negosiasi kecuali pengaruh Amerika tetap ada di Afghanistan, walaupun perwakilan Amerika tersenyum di hadapan Taliban, namun apa yang disembunyikan dalam dada mereka jauh lebih besar!!

6- Karena semua itu, sangat menyedihkan bahwa negosiasi Doha yang berlangsung selama enam hari tersebut menjadi pembuka bagi kemajuan dalam perundingan berdasarkan kesaksian dari gerakan Taliban sendiri:

a- (Dalam pembicaraan dengan Anadolu, pemimpin Taliban, Wahid Mujda, mengatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai pemahaman luas mengenai penarikan pasukan asing, dan agar Afghanistan tidak menjadi ancaman bagi wilayah mana pun di dunia. Ia menjelaskan bahwa gerakan tersebut di sisi lain berupaya memastikan proses perdamaian yang diusulkan mendapatkan perlindungan internasional. Ia menambahkan: "Kesepakatan belum diselesaikan di Doha karena beberapa masalah teknis dan perumusan kesepakatan"... Kantor Berita Anadolu 26/01/2019).

b- Kantor berita Reuters pada 26/01/2019 mengutip dari pejabat Taliban: "Bahwa mereka telah menyetujui beberapa poin dengan Washington untuk dimasukkan ke dalam kesepakatan akhir. Salah satu poin ini menegaskan keharusan penarikan pasukan asing dari Afghanistan dalam waktu 18 bulan sejak penandatanganan kesepakatan sebagai imbalan jaminan dari gerakan Taliban untuk tidak mengizinkan Al-Qaeda atau ISIS menggunakan wilayah Afghanistan melawan Amerika..." Jelas dari teks mengenai tidak mengizinkan Al-Qaeda dan ISIS... bahwa Amerika ingin memberikan posisi kepada Taliban dalam sistem di mana Amerika meminta jaminan kepada mereka untuk berdiri menghadapi organisasi lainnya. Jadi, Amerika ingin menggunakan mereka untuk tujuan ini juga.

7- Begitu pula, pernyataan para pejabat Amerika datang mengonfirmasi apa yang ada dalam pernyataan para pejabat Taliban:

a- (... Zalmay Khalilzad, perwakilan khusus Amerika, menulis di Twitter setelah enam hari pembicaraan dengan Taliban di Qatar: "Pertemuan yang berlangsung di sini jauh lebih produktif dibandingkan sebelumnya. Kami telah mencapai kemajuan besar dalam masalah-masalah vital." Deutsche Welle Arab 26/01/2019).

b- Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Amerika, Patrick Shanahan, pada 28/01/2019 mengenai pembicaraan damai dengan Taliban mengatakan ("Saya ingin katakan bahwa kesimpulan yang dicapai sangat menggembirakan"... Al-Hurra Amerika 28/01/2019).

8- Dengan demikian, draf kesepakatan Doha dianggap sebagai lubang besar pada tembok Taliban yang tadinya kokoh, kemudian mulai dilembutkan oleh pemerintah-pemerintah kaki tangan. Meskipun ada beberapa pernyataan hati-hati dari gerakan Taliban bahwa mereka tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Kabul, dan pernyataan Amerika yang serupa bahwa kesepakatan harus mencakup segalanya atau tidak sama sekali, namun dorongan kedua belah pihak untuk putaran negosiasi selanjutnya didasarkan pada momentum yang dihasilkan oleh negosiasi Doha dan dorongan kuat dari para kaki tangan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Amerika akhirnya, setelah 17 tahun perang, mulai melihat cahaya di ujung terowongan untuk keluar dari keterpurukannya di Afghanistan... kecuali jika arus orang-orang ikhlas di dalam Taliban bangkit dan menghancurkan kesepakatan ini serta menjadikannya sia-sia, lalu memadamkan cahaya yang dilihat Amerika sebagai jalan aman untuk keluar dari perang Afghanistan.

9- Oleh karena itu, wajib bagi gerakan Taliban dan seluruh mujahidin yang melawan penjajahan salibis Amerika dan NATO untuk tidak memberikan konsesi kepada Amerika dan rezim pengikutnya, tidak terlibat di dalamnya, serta tetap pada perlawanan mereka hingga Amerika terpaksa keluar dalam keadaan hina dan hancur. Perang adalah masalah kesabaran sesaat, karena Amerika tidak menerima negosiasi kecuali setelah ketidakmampuannya mematahkan kehendak para mujahidin. Hendaklah mereka waspada agar tidak jatuh ke dalam kubangan negosiasi, yang bagi Amerika dan Barat berarti pemberian konsesi dari pihak lawan agar mereka mendapatkan melalui negosiasi apa yang tidak bisa mereka dapatkan melalui perang, yaitu mengalahkan musuh di atas meja tanpa menumpahkan setetes darah pun atau mengeluarkan sepeser uang pun! Ini menurut konsep politik pragmatis mereka... Sesungguhnya Amerika adalah agresor kriminal yang harus dimintai pertanggungjawaban atas agresi dan kejahatannya. Mereka telah membunuh, melukai, meninggalkan orang-orang cacat, mengusir jutaan rakyat Afghanistan, dan menghancurkan negeri itu. Kejahatan mereka tidak terhitung dan menyamai kejahatan Uni Soviet yang telah runtuh di Afghanistan, bahkan lebih... Sebagaimana Uni Soviet diusir dalam keadaan terhina dan hancur, demikian pula nasib Amerika bisa menjadi seperti itu jika gerakan Taliban tetap teguh pada tujuan awal mereka memerangi Amerika dan bersabar di atasnya. Allah telah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang sabar dan teguh meskipun jumlah mereka lebih sedikit dari musuh. Allah Ta'ala berfirman:

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

"(Orang-orang) yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.' Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 249)

Mereka tidak boleh menerima untuk ikut serta dalam rezim kaki tangan yang ada di Afghanistan, melainkan harus meruntuhkannya dan menegakkan hukum Islam, Khilafah Rasyidah ala minhaj nubuwwah yang telah dikabarkan kedatangannya oleh Rasulullah ﷺ:

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

"Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti metode kenabian." (HR. Ahmad)

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

"Untuk (kemenangan) serupa ini hendaklah beramal orang-orang yang beramal." (QS. Ash-Shaffat [37]: 61)

01 Jumadil Akhir 1440 H 06/02/2019 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda