Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Dua Malaikat Harut dan Marut dalam Surah Al-Baqarah

April 09, 2023
3229

Seri Jawaban Ulama Al-Jalil Ata bin Khalil Abu Al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengikut di Akun Facebook Beliau "Fiqhi"

Jawaban Pertanyaan

Dua Malaikat Harut dan Marut dalam Surah Al-Baqarah

Kepada Ustadhi Kamsokole

Pertanyaan:

Assalam alaykum warahmatullah wabarakatuh. Pertama, saya ingin menyampaikan doa dan selamat atas kerja keras Anda dalam mengembangkan dakwah ini. Pertanyaan saya adalah mengenai Surah Al-Baqarah ayat 102 (02: 102). Ayatnya panjang sehingga saya tidak akan mengulanginya, saya akan bertanya tentang elemen-elemen yang terkandung dalam ayat ini.

a) Harut dan Marut. Apakah mereka malaikat? Sebab mereka tampak keluar dari sifat-sifat kemalaikatan. Ada syekh lain yang mengatakan bahwa mereka adalah manusia yang penuh ilmu, berdasarkan analisis linguistik bahasa Arab. Dan jika mereka malaikat, bagaimana mereka berkomunikasi dengan manusia pada waktu itu?

b) Al-Qur'an menyatakan, setan mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada DUA MALAIKAT di Babilonia. Sekarang, apa yang mereka bawa atau apa yang diturunkan kepada Harut dan Marut?

c) Dan Harut serta Marut tidak mengajarkan kepada seseorang sampai mereka memberikan peringatan. Bahwa mereka hanyalah ujian kekafiran. Sekarang, haruskah kita katakan bahwa malaikat-malaikat ini telah diutus dari langit untuk membawa malapetaka sihir ini dan mengajarkannya kepada manusia?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama, saya ingin mendoakan Anda dan memberi selamat atas kesungguhan Anda dalam memajukan dakwah ini.

Pertanyaan saya adalah tentang ayat 102 dari surah Al-Baqarah. Karena ayatnya panjang, saya tidak akan menuliskannya kembali. Saya akan bertanya tentang hal-hal yang terkandung dalam ayat ini:

a- Apakah Harut dan Marut itu malaikat? Ataukah manusia dengan sifat-sifat malaikat? Ada sebagian syekh yang berpendapat sesuai dengan kaidah bahasa Arab bahwa keduanya adalah manusia yang memiliki banyak ilmu. Jika mereka memang malaikat, bagaimana mereka berinteraksi dengan manusia pada masa itu?

b- Ayat tersebut berbunyi:

وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ

"...tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil..." (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Apa yang dibawa oleh Harut dan Marut, atau apa yang diturunkan kepada keduanya?

c-

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

"...sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: 'Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'." (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Mungkinkah kita mengatakan bahwa kedua malaikat ini diutus dari langit untuk mengajarkan sihir kepada manusia?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda telah disebutkan dalam kitab [At-Taysir fi Ushul At-Tafsir – Tafsir Surah Al-Baqarah] pada ayat 101-103. Jika kitab tersebut tidak ada pada Anda, saya akan kutipkan di bawah ini:

[Kitab Tafsir Surah Al-Baqarah halaman 119-125 file Word:]

[Tafsir Firman Allah Ta'ala: (QS. Al-Baqarah [2]: 101-103)]

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ * وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ * وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: 'Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepada dirinya sendiri dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 101-103)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan dalam ayat-ayat ini hal-hal berikut:

  1. Kaum Yahudi menentang Rasulullah ﷺ dan mendebat beliau dengan Taurat. Mereka bertanya tentang roh, Ashabul Kahfi, dan Zulqarnain. Rasulullah ﷺ menjawab mereka dengan wahyu yang Allah turunkan berupa Al-Qur'an. Lebih dari itu, beliau membongkar sebagian apa yang mereka selewengkan dan mereka ubah, seperti pengubahan hukum rajam bagi pezina dan pengubahan sifat-sifat beliau ﷺ yang termaktub dalam Taurat. Kedatangan Rasulullah ﷺ adalah pembenaran atas kabar gembira yang ada dalam Taurat. Ketika mereka mendapati bahwa perdebatan dengan Taurat tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka berpaling darinya dan membuangnya ke belakang punggung mereka ﴿كأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾ (QS. Al-Baqarah: 101), yakni pembuangan mereka terhadap Taurat seolah-olah dilakukan oleh kaum yang tidak mengimaninya dan tidak mengetahui kebenaran sifat-sifat Rasulullah ﷺ yang ada di dalamnya. Ini adalah hiperbola (mubalaghah) dalam menggambarkan keberpalingan mereka dari dalil-dalil kenabian Rasulullah ﷺ yang ada dalam Taurat, padahal mereka sebenarnya mengetahuinya.

Setelah jelas kegagalan mereka dalam menentang Rasulullah ﷺ dengan menggunakan Taurat, mereka mulai mencari masalah-masalah lain dari sumber selain Taurat untuk mendebat Rasulullah ﷺ.

  1. Ketika Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya bahwa Sulaiman adalah seorang Nabi:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya; dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (QS. An-Nisa [4]: 163)

Kaum Yahudi berkata: "Sesungguhnya Sulaiman itu seorang tukang sihir dan bukan seorang nabi." Kemudian mereka mengumpulkan kitab-kitab yang ditulis oleh para tukang sihir dengan bantuan setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, yang tersebar di tangan mereka di kota Rasulullah ﷺ. Mereka berkata: "Inilah kitab-kitab yang digunakan Sulaiman untuk memerintah." Mereka mengikutinya dan menjadikannya bahan perdebatan dengan Rasulullah ﷺ ﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ﴾.

﴿مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ﴾ artinya apa yang dibaca atau dibisikkan oleh setan-setan kepada para tukang sihir agar mereka menuliskannya dalam kitab-kitab mereka ﴿يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً﴾ (QS. Al-An'am: 112). Sebelum Islam, setan-setan sering mencuri pendengaran dari langit dan mencampurnya dengan berbagai jenis kebohongan lalu membisikkannya kepada wali-wali mereka. "Maka sebagian penduduk langit mengabarkan kepada sebagian yang lain hingga berita itu sampai ke langit dunia, lalu jin mencuri pendengaran tersebut dan menyampaikannya kepada para wali mereka, lalu mereka dilempari (dengan bintang). Apa yang mereka bawa sesuai aslinya adalah benar, tetapi mereka menambah-nambahinya dengan kebohongan."[1]. Jin telah dilarang mencuri pendengaran setelah datangnya Islam ﴿وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَاباً رَصَداً﴾ (QS. Al-Jin: 9).

﴿عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ﴾ artinya pada masa kerajaan Sulaiman.

  1. Kitab-kitab sihir tersebut ditulis oleh para tukang sihir melalui dua jalan:
  • Pertama: Apa yang dibisikkan oleh setan-setan kepada mereka berupa sihir.
  • Kedua: Apa yang diajarkan oleh dua malaikat, Harut dan Marut, kepada manusia. Allah menurunkan keduanya di Babilonia untuk mengajarkan sihir kepada manusia sekaligus memperingatkan mereka agar tidak mengamalkannya, serta memberitahu bahwa keberadaan mereka adalah fitnah (ujian) dan cobaan bagi manusia ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ﴾. Allah menurunkan kebaikan dan keburukan di bumi ini untuk menguji hamba-hamba-Nya ﴿وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً﴾ (QS. Al-Anbiya: 35).

Pengajaran sihir kepada manusia adalah ujian bagi mereka. Siapa yang mempercayai sihir dan mengamalkannya, maka ia telah kafir. Dan siapa yang tidak mempercayainya serta tidak mengamalkannya, maka ia selamat.

إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

  1. Allah Subhanahu wa Ta'ala membebaskan Nabi-Nya, Sulaiman as., dari kebohongan dan fitnah Yahudi. Sulaiman as. tidaklah kafir, dan kata "kafir" di sini menunjukkan bahwa beliau bukan tukang sihir dan tidak percaya pada sihir, sehingga beliau bukan orang kafir. Beliau adalah Nabi Allah as. ﴿وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ﴾ artinya beliau bukan tukang sihir dan tidak beriman pada sihir sehingga menjadi kafir[2]. Makna ini dipilih karena kaum Yahudi menuduh Sulaiman as. melakukan sihir: "Ibnu Jarir meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab, ia berkata: Kaum Yahudi berkata: Lihatlah Muhammad, ia mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, ia menyebut Sulaiman bersama para nabi padahal ia hanyalah seorang tukang sihir yang menunggangi angin"[3]. Mereka tidak menuduhnya kafir secara eksplisit, maka Allah menjawab mereka ﴿وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ﴾ yakni Sulaiman tidak menyihir. Namun penggunaan majas kafar dalam ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang beriman pada sihir dan melakukan sihir maka ia menjadi kafir, sesuai dengan hubungan sebab-akibat (mussabbabiyah) dalam bahasa Arab sebagaimana telah disebutkan.

Demikianlah, Sulaiman tidak kafir, melainkan yang kafir adalah setan-setan ﴿وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ﴾.

  1. Sihir adalah menampakkan sesuatu tidak sesuai dengan hakikatnya melalui ilusi (penyamaran). Makna ini berasal dari firman Allah Ta'ala: ﴿سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ﴾ (QS. Al-A'raf: 116) dan ﴿يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى﴾ (QS. Thaha: 66). Artinya, tongkat tersebut secara hakiki tetaplah tongkat, namun tampak bagi penglihatan orang yang melihatnya sebagai ular yang merayap.

Dalam bahasa, Al-Jauhari berkata: As-Sihr adalah daya pikat, dan segala sesuatu yang sumbernya halus dan lembut disebut sihir. Dikatakan: "Aku menyihir anak itu" jika aku membujuknya. Sihir juga disebutkan dalam beberapa syair Arab dengan makna al-'adhah. Al-'adhah menurut orang Arab adalah kebohongan yang sangat besar dan penyamaran dusta. Seorang penyair berkata: "Aku berlindung kepada Tuhanku dari para wanita peniup (pada buhul-buhul)... dari kebohongan besar sang pembohong."

Orang Arab juga menggunakannya dalam makna ketersembunyiun, karena tukang sihir melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Adapun sihir itu sendiri adalah sebuah ilmu di mana pemiliknya mampu menyihir mata manusia sehingga mereka melihat sesuatu tidak sebagaimana hakikatnya. Artinya, hakikat benda tersebut tidak berubah menjadi hakikat baru lainnya, dalam arti ia tidak menghapus hakikat pertama. Oleh karena itu, jika seseorang memegang ular yang tampak dari tongkat tersebut, ia akan mendapatinya tetap sebagai tongkat. Jika dianalisis secara laboratorium, ia akan menemukan komponen yang sama dengan tongkat yang dilemparkan dan dikhayalkan kepada kita sebagai ular yang merayap. Karena itu, ketika para tukang sihir melemparkan tongkat mereka, mereka sendiri melihatnya sebagai tongkat, tetapi mereka menyihir mata orang-orang sehingga orang lain melihatnya sebagai ular. Namun, ketika Musa as. melemparkan tongkatnya, mereka (para tukang sihir) melihatnya sebagai ular yang nyata dan bukan lagi tongkat, lalu ular itu menelan tongkat-tongkat mereka sehingga menghapus hakikatnya secara total. Maka mereka sadar bahwa ini bukanlah sihir, karena sihir tidak menghapus hakikat benda. Mereka tahu bahwa apa yang terjadi bukanlah sihir, melainkan kebenaran dari Rabbul 'Alamin sebagaimana yang dikatakan Musa as., maka mereka pun beriman dan iman mereka sangat luar biasa.

  1. Firman Allah: ﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ﴾ dan firman-Nya: ﴿وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا﴾ menunjukkan bahwa sihir dilakukan dengan membacakan kata-kata kekafiran. Ini berarti sihir sebagai sebuah ilmu dilaksanakan dengan menggunakan lafaz-lafaz kekafiran dalam mantra atau prosedurnya. Adapun selain itu, tidaklah disebut sihir dengan makna yang dikenal dalam ayat ini, seperti menampakkan sesuatu tidak sesuai hakikatnya dengan sarana teknis (seperti sulap atau kecepatan tangan) atau penggunaan beberapa kata dengan lafaz yang bukan kekafiran untuk memasukkan ilusi kepada orang-orang (seperti yang dilakukan sebagian dukun yang berkedok syekh). Hal-hal semacam itu bukanlah sihir dalam makna yang dimaksud.

  2. Hukuman bagi tukang sihir—sebagaimana telah kami jelaskan—adalah hukuman bagi orang murtad, karena ia kafir menurut makna yang telah disebutkan sebelumnya. Para sahabat telah menghukum tukang sihir dengan hukuman mati. Hafshah Ummul Mukminin ra. memerintahkan untuk membunuh seorang tukang sihir wanita yang mengaku telah melakukan sihir.

Adapun riwayat mengenai pengingkaran Utsman ra. terhadap tindakan Hafshah, hal itu adalah pengingkaran terhadap tindakannya yang melakukan eksekusi tanpa izinnya padahal beliau adalah Khalifah kaum Muslimin, dan bukan mengingkari hukum bunuhnya. Tindakan serupa, yaitu membunuh tukang sihir, juga dilakukan pada masa Umar ra. Hal ini merupakan ijma' sahabat karena merupakan hukum penting yang dilakukan di hadapan mereka tanpa ada pengingkaran. Ahmad meriwayatkan dari Sufyan melalui jalan Jaz'u bin Muawiyah paman Ahnaf bin Qais, ia berkata: "Surat Umar datang kepada kami setahun sebelum wafatnya, isinya: Bunuhlah setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan."

Adapun apa yang kami sebutkan mengenai beberapa tindakan teknis tersembunyi yang digunakan untuk menipu orang jika tidak dijelaskan kepada mereka, serta praktik perdukunan para "syekh" palsu, maka pelakunya dijatuhi sanksi ta'zir sesuai dengan tingkat kerugian yang ditimbulkannya kepada orang yang ditipu. Diketahui bahwa hukuman ta'zir dalam Islam bisa mencapai hukuman mati tergantung pada jenis kejahatan yang dilakukan.

Namun, perbedaan antara hukuman mati had (karena murtad) dengan hukuman mati ta'zir adalah bahwa yang pertama (tukang sihir yang murtad) tidak disalatkan dan tidak dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin, sedangkan yang kedua adalah Muslim yang fasik atau pendosa sesuai jenis kejahatannya, ia tetap disalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin.

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

"...Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa orang-orang yang mempelajari sihir dan mengamalkannya mampu menciptakan masalah antara suami dan istri melalui perbuatan mereka, yang berujung pada perceraian atau perpisahan. Kemudian Allah menjelaskan perkara akidah yang sangat penting untuk menghilangkan pemahaman yang mungkin muncul bahwa tukang sihir memiliki kekuatan seperti Allah atau mampu melakukan sesuatu di luar kehendak Allah. Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di kerajaan Allah kecuali dengan izin-Nya, yakni bukan di luar kendali-Nya. Makna ini adalah makna Masyi'ah (kehendak) Allah atau yang disebut sebagai Iradah (keinginan) Allah. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di jagat raya Allah di luar kendali-Nya, yakni semuanya terjadi dengan izin-Nya, kehendak-Nya, atau keinginan-Nya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir [81]: 29)

Ini tidak berarti Allah ridha, karena Allah tidak ridha pada kekafiran dan kemaksiatan:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya..." (QS. Az-Zumar [39]: 7)

Melainkan ini adalah istilah yang memiliki makna tersebut dari hasil pengkajian (istiqra') teks-teks syara'. Kata "izin-Nya", "masyi'ah-Nya", atau "iradah-Nya" tidak ditafsirkan dari hakikat bahasanya (seperti mengizinkan, menginginkan, atau meridhai secara bahasa), melainkan ditafsirkan dengan indikasi terminologis (dalalah isthilahiyah) sebagaimana hakikat urf bagi para ahli bahasa, ahli fikih, ahli ushul, atau ilmu-ilmu lainnya.

Lafaz ﴿بإِذنِ اللهِ﴾ (dengan izin Allah) memiliki indikasi yang agung dalam konteks ini. Apa yang tampak dari perbuatan tukang sihir di hadapan orang-orang, seperti menyihir mata dan penampakan benda tidak sesuai hakikatnya, mungkin menimbulkan khayalan bahwa mereka bisa menciptakan seperti ciptaan Allah atau melakukan hal-hal yang tidak bisa dibatalkan oleh Allah. Maka Allah menegaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan izin-Nya, artinya bukan di luar kendali-Nya, melainkan dengan keinginan dan kehendak-Nya dalam makna ini, dan bahwa Allah mampu membatalkan sihir mereka. Tidak ada yang terjadi di kerajaan Allah secara terpaksa atau di luar kendali-Nya.

Di sini mungkin ada yang bertanya: Lalu mengapa Allah tidak membatalkan sihir mereka?!

Sesungguhnya Allah telah menjelaskan perbedaan antara kebaikan dan keburukan. Dia memberitahu kita bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan keburukan akan dibalas dengan keburukan. Kemudian Dia juga memberitahu kita bahwa Allah mampu menjadikan kita satu umat dalam kebaikan: ﴿وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ﴾ (QS. Hud: 118). Namun Allah, karena hikmah yang diketahui-Nya, membiarkan kita memilih apa yang kita inginkan baik keburukan maupun kebaikan, dan kita akan dibalas karenanya. Maka satu golongan masuk surga dan golongan lain masuk neraka: ﴿وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ﴾ (QS. As-Sajdah: 13). Oleh karena itu, tidak ada tempat untuk mempertanyakan mengapa Allah tidak membatalkan perbuatan jahat tukang sihir itu? Atau mengapa Allah tidak mendorong kita semua kepada kebaikan dalam setiap apa yang diperintahkan-Nya? Atau mengapa Allah tidak mencegah kita dari melakukan keburukan sehingga kita hanya berbuat baik saja? Allah telah menjelaskan kebaikan dan keburukan, dan membiarkan kita memilih. Itulah hikmah Allah: ﴿لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ﴾ (QS. Al-Anbiya: 23). Namun dalam semua kondisi, kita wajib meyakini bahwa di dalam kerajaan Allah tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara terpaksa atau di luar kendali-Nya, melainkan dengan izin, iradah, dan masyi'ah-Nya.

  1. ﴿وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾

Ini berarti bahwa segala sesuatu dalam sihir adalah keburukan. Ini adalah deskripsi tentang apa yang mereka pelajari, yaitu sihir ﴿يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ﴾. Deskripsi ini memiliki indikasi yang jelas bahwa apa yang mereka pelajari itu merugikan mereka dan tidak memberi manfaat. Sihir itu seluruhnya adalah keburukan dan kerugian, tidak ada manfaat di dalamnya.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang yang mengamalkan sihir dengan cara yang telah kami jelaskan sebelumnya, tidak akan mendapatkan bagian di akhirat karena ia telah kafir kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.

﴿اشْتَرَاهُ﴾ artinya membelinya. Di sini digunakan secara majas yang berarti menjadikannya sebagai profesi. Membeli sesuatu biasanya dilakukan untuk mendapatkan manfaat darinya baik dengan mengonsumsi barangnya atau mengambil penggantinya. Di sini, menjadikan sihir sebagai profesi yang menghasilkan pendapatan (manfaat menurut klaimnya) seolah-olah ia telah "membeli" sihir tersebut.

﴿وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾ adalah berita dalam makna perintah untuk meninggalkan, yakni dalam makna larangan tegas dari mempraktikkan sihir.

﴿وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾ artinya amat buruklah mereka menjual diri mereka sendiri, karena mereka menjerumuskan diri mereka dalam siksa Allah dan menukarnya dengan api neraka ﴿مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾. Maka pengganti yang disiapkan bagi mereka sebagai imbalan dari menjual diri mereka dan mengabdikan diri pada sihir adalah murka Allah, azab-Nya, dan neraka Jahanam. Benar-benar sebuah penjualan yang buruk dan merugikan.

﴿لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾ artinya andaikata mereka mengambil manfaat dari apa yang mereka ketahui. Sebab, orang yang mengetahui suatu ilmu namun tidak mengambil manfaat darinya dan tidak terikat dengan konsekuensi ilmunya, maka ia seolah-olah tidak mengetahui. Orang yang tahu bahwa sihir berakibat buruk namun tetap melakukannya, maka ia seolah-olah tidak tahu. Ini adalah gaya bahasa yang sangat kuat indikasi maknanya. Mahasuci Allah!

Rasulullah ﷺ pun biasa berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat: "Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, dan mata yang tidak menangis" (HR. Ahmad). Penggunaan ini sangatlah kuat sebagaimana kami katakan, dan terdapat dalam kitab Allah di tempat lain, sebagaimana juga digunakan dalam indikasi lainnya: ﴿أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾ (QS. Al-Hajj: 46), ﴿صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ﴾ (QS. Al-Baqarah: 171).

Orang yang tidak mengambil manfaat dari pendengarannya, maka ia seolah tidak mendengar.

Orang yang tidak mengambil manfaat dari penglihatannya, maka ia seolah tidak melihat.

Orang yang tidak mengambil manfaat dari ucapannya, maka ia seolah tidak berbicara.

Orang yang tidak mengambil manfaat dari akalnya, maka ia seolah tidak berakal.

Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya, maka ia seolah tidak mengetahui.

Demikianlah penjelasan ini, semoga mencukupi, insya Allah.

Saudara Kalian, Ata bin Khalil Abu Al-Rashtah

18 Ramadan 1444 H 09 April 2023 M

Link Jawaban dari Halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): Facebook


[1] Dikeluarkan oleh Muslim. Makna yaqrifuna: mereka mencampurkan kebohongan di dalamnya.

[2] Ini adalah penggunaan majas dengan hubungan sebab-akibat (mussabbabiyah), karena sihir adalah penyebab kekafiran.

[3] Tafsir Ath-Thabari: 1/451.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda