Jawab Pertanyaan
Pertanyaan:
Diumumkan kemarin, 2 Juni 2014, bahwa Perdana Menteri yang legalitasnya sedang dipersengketakan, Ahmed Maiteeq, berhasil memasuki kantor kepresidenan menteri di ibu kota Tripoli, di tengah pengawalan militer ketat dari Perisai Wilayah Tengah "Misrata". Sebelumnya, Kongres Nasional Umum (GNC) telah mengadakan sidang di Tripoli pada 25 Mei 2014 dan memberikan mosi percaya kepada Perdana Menteri baru Ahmed Maiteeq. Sementara itu, Abdullah al-Thani, Perdana Menteri sebelumnya, menolak menyerahkan pemerintahan kepada yang baru. Pada 29 Mei 2014, al-Thani mengadakan rapat kabinet di kantornya, sedangkan Maiteeq mengadakan rapat kabinet di salah satu hotel. Jadwal pemilihan parlemen juga telah diumumkan pada 25 Juni 2014. Di sisi lain, perwira purnawirawan Khalifa Haftar pada 16 Mei 2014 mengumumkan pembangkangannya terhadap Kongres, menolak pemerintah, serta menuntut pembubaran parlemen dan penundaan pemilu. Teramati pula adanya pergerakan Amerika dan Eropa terkait apa yang terjadi di kancah Libya. Apa hubungan pergerakan ini dengan apa yang terjadi di sana? Apa hubungannya dengan pembangkangan perwira purnawirawan tersebut dan apa tujuannya?
Jawaban:
Diketahui bahwa Libya adalah negeri Islam yang bersejarah sejak Penaklukan Islam pada masa Khalifah Rasyidah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Seluruh penduduknya adalah Muslim, dan tetap menikmati keamanan, kenyamanan, kemakmuran, serta stabilitas di bawah naungan Khilafah dan hukum Islam selama 13 abad, hingga penjajah Italia datang pada tahun 1912 dan menanamkan pengaruhnya di sana, yang kemudian dilawan oleh penduduk Muslim yang berjihad. Setelah kekalahan Italia pada Perang Dunia II, Inggris masuk dan menguasainya, lalu mendirikan sistem monarki pada akhir tahun 1951 ketika memberikan kemerdekaan formalitas. Saat Inggris melihat bahwa pengaruhnya (nifuz) di Libya terancam oleh Amerika melalui Abdul Nasser di Mesir, Inggris menginstruksikan agennya, Gaddafi, bersama sekelompok perwira untuk melakukan kudeta pada tahun 1969 dengan bersembunyi di balik tabir Nasserisme. Hal ini dilakukan untuk menipu rakyat dan berlindung dari dominasi Amerika terhadap rezim yang berafiliasi dengan Inggris di Libya. Dengan demikian, Inggris berhasil mempertahankan pengaruhnya di Libya.
Selama beberapa dekade, Amerika mencoba mendapatkan pengaruh di Libya namun tidak berhasil karena Gaddafi sangat loyal kepada Inggris dan berusaha menjaga keberlangsungan pengaruh Inggris di sana. Inggris telah mengenalnya sejak ia menjadi mahasiswa di Sandhurst, kemudian mengasuh dan melindunginya selama beberapa dekade, sementara ia terus menjaga kepentingan Inggris di Afrika.
Begitulah, hingga terjadinya intifadah di Libya pada tahun 2011, Amerika Serikat tidak memiliki pengaruh apa pun di Libya, dan Gaddafi tetap menjadi antek setia Inggris. Dengan datangnya Arab Spring serta jatuhnya Hosni Mubarak dan Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, intifadah meluas dengan cepat melintasi perbatasan ke Libya. Merasakan akhir dari Gaddafi karena umat menginginkan perubahan, Inggris memutuskan untuk melepaskannya dan menyiapkan alternatif. Inggris bersama Prancis mulai membentuk kepemimpinan politik baru. Mereka mendirikan Dewan Nasional Transisi (NTC) pada Februari 2011. Pada 5 Maret 2011, Mustafa Abdul Jalil, mantan Menteri Kehakiman yang membelot dari rezim Gaddafi, dipilih sebagai ketua dewan ini. Kepemimpinan pemerintahan kemudian diteruskan oleh Mahmoud Jibril, lalu Abdurrahim al-Keib. Dewan tersebut berlanjut hingga terbentuknya Kongres Nasional Umum pada Juli 2012 dan secara resmi menerima tugas dari Dewan Nasional pada 8 Agustus 2012. Kemudian Ali Zeidan terpilih sebagai Perdana Menteri hingga akhirnya dipecat oleh Kongres yang dipimpin oleh Nuri Abu Sahmain. Kongres menunjuk Abdullah al-Thani sebagai Perdana Menteri sementara, lalu memecatnya dan memilih Maiteeq. Hingga saat ini, status resmi antara al-Thani dan Maiteeq belum tuntas. Para pejuang Libya dan faksi-faksi bersenjata yang tersebar di seluruh negeri memiliki pengaruh dalam dewan-dewan, kongres, dan pemerintahan tersebut, sehingga satu dewan lenyap dan digantikan dewan lain, satu pemerintahan jatuh dan digantikan pemerintahan lainnya.
Pembentukan Kongres Nasional bertujuan untuk menyusun konstitusi dan mempersiapkan pemilihan umum dalam waktu 18 bulan. Jika dihitung sejak Dewan menerima tugasnya pada 8 Agustus 2012, maka masa jabatan Kongres seharusnya berakhir pada 7 Februari 2014. Namun, Kongres memperpanjang masa jabatannya hingga 24 Desember 2014, yang memicu keterbelahan masyarakat antara yang setuju dan yang menentang perpanjangan tersebut. Akhirnya terbentuk pemerintahan sementara untuk menjalankan urusan, dan komisi pemilihan memutuskan untuk mengadakan pemilihan umum pada 25 Juni 2014 guna menciptakan legitimasi bagi situasi baru: kepresidenan, parlemen, dan pemerintahan.
Amerika menyadari bahwa lingkungan politik di Libya adalah buatan Inggris dengan beberapa sentuhan Prancis yang memperkuat kelas politik pro-Inggris di sana. Ini berarti bahwa pemilihan mendatang kemungkinan besar akan memenangkan orang-orang Eropa dengan sedikit "independen". Dengan demikian, situasi akan stabil dan ambisi Amerika—yang ingin memanfaatkan pengaruh militer nyatanya dalam mengakhiri kekuasaan Gaddafi agar mendapatkan porsi pengaruh yang lebih besar—akan sirna. Hal ini tidak akan tercapai melalui pemilu dalam atmosfer yang masih didominasi Eropa. Oleh karena itu, Amerika berpikir untuk mengacak-acak kartu secara militer dan mengatur ulang suasana di Libya guna menciptakan lapisan politik baru yang loyal kepadanya, barulah setelah itu mengadakan pemilihan. Langkah pertamanya adalah menugaskan seorang militer untuk bergerak melakukan tindakan menyerupai kudeta terhadap status quo yang didominasi oleh Kongres Nasional, di mana mayoritas anggotanya adalah orang-orang Eropa. Tujuannya adalah untuk mengacaukan situasi dan menunda pemilihan hingga kondisi lebih menguntungkan bagi Amerika. Jika tidak bisa dikuasai sepenuhnya, setidaknya Amerika bisa berbagi dengan Eropa agar kancah tersebut tidak tertutup baginya. Maka bergerakkah Haftar, yang rekam jejak hidupnya menunjukkan loyalitasnya kepada Amerika. Setelah Gaddafi membiarkannya kalah dalam perang Chad dan tidak mengakuinya, Haftar ditawan bersama sekitar 300 tentara Libya pada Maret 1987. Setelah itu, Amerika melakukan mediasi dengan Chad, dan CIA bernegosiasi pada tahun 1990 untuk membebaskannya. Pesawat Amerika mengangkut Haftar dan kelompoknya ke Zaire lalu ke Amerika, di mana mereka diberikan suaka politik. Di sana ia bergabung dengan gerakan oposisi Libya di luar negeri. Haftar menghabiskan 20 tahun berikutnya di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, di mana ia dilatih perang gerilya oleh CIA. Ia tidak kembali ke Libya kecuali setelah revolusi 17 Februari 2011, di mana ia memainkan peran, khususnya di kota Benghazi. Pada akhir 2011, para pemimpin militer baru di Libya sepakat memilih Haftar sebagai kepala staf tentara nasional baru yang didirikan untuk menggantikan tentara rezim lama. Namun, setelah kritik dari banyak oposisi yang meragukan partisipasinya karena sejarahnya di Chad dan hubungannya dengan Amerika, ia disingkirkan dari tentara tersebut dan posisi kepala staf diserahkan kepada mantan Menteri Dalam Negeri, Abdul Fatah Younis al-Abidi.
Haftar bergerak pada 14 Februari 2014, mengumumkan kendali pasukannya atas situs-situs militer dan vital di Libya. Dalam pernyataannya, ia mengumumkan pembekuan Kongres Nasional (Parlemen) dan pemerintah, serta meluncurkan apa yang disebutnya sebagai peta jalan masa depan politik Libya. Ia berkata: "Apa yang kami lakukan bukanlah kudeta dan kami tidak mencari kekuasaan militer, melainkan selaras dengan tuntutan rakyat yang keluar menuntut pembubaran Kongres Umum." Ini adalah upaya pertama Haftar untuk melakukan penekanan terhadap kekuasaan di Libya guna mencapai ambisi politiknya sesuai peta jalan yang dirancang hingga ia meraih kekuasaan atau menjatuhkan rezim yang ada. Kemudian Haftar melanjutkan gerakannya pada 16 Mei 2014 dengan melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang ia deskripsikan sebagai teroris di Benghazi, dalam operasi militer yang dinamakan Karama Libya (Martabat Libya). Operasi tersebut kemudian berpindah ke ibu kota Tripoli. Ia mempresentasikan dirinya sebagai panglima tentara nasional dan penyelamat Libya dari kelompok teroris. Pasukannya menyerbu parlemen pada 17 Mei 2014 dan menguasai sekitarnya dalam waktu singkat sebelum akhirnya menarik diri. Mohamed Hegazi, juru bicara tentara nasional pimpinan Haftar, mengatakan kepada Reuters bahwa "mereka yang melakukan serangan berafiliasi dengan tentara nasional yang melancarkan serangan terhadap kelompok yang mereka sebut teroris". Dengan mendekatnya jadwal pemilu baru pada 25 Juni 2014, Libya jatuh ke dalam kekacauan lebih lanjut ketika Khalifa Haftar dan pasukannya menyerang Tripoli dan parlemen. Seminggu sebelumnya, ia melakukan operasi terhadap pangkalan Brigade Syuhada 17 Februari di Benghazi. Brigade ini loyal kepada pemerintah dan merupakan salah satu kelompok bersenjata terbesar serta terbaik di Libya. Kemudian para pemimpin pangkalan udara Libya Timur di Tobruk mengumumkan dukungan mereka kepada Haftar pada 19 Mei. Segera setelah itu, sekelompok pembelot tentara dan tokoh polisi nasional menyatakan kesetiaan kepadanya. Akibatnya, sebagian pasukan Haftar dapat memanfaatkan kekuatan udara negara tersebut dengan menggunakan pesawat dan helikopter dalam upayanya membangun eksistensi di Benghazi. Kelompok bersenjata Zintan sekarang juga telah beraliansi dengan Haftar; sehingga kekuatannya tumbuh sampai batas tertentu.
Haftar ingin meniru apa yang terjadi di Mesir dengan berfokus pada memerangi Ikhwanul Muslimin dan terorisme. Pada 20 Mei 2014, surat kabar Asharq Al-Awsat menerbitkan wawancara dengannya yang menunjukkan pengaruh gaya Amerika di Mesir, ia berkata: "Kami terpengaruh oleh apa yang terjadi di Mesir." Ia menyatakan telah mengambil mandat dari rakyat seperti yang dilakukan Sisi di Mesir. Kolonel Mohamed Hegazi, juru bicara resmi Haftar, menyatakan: "Haftar akan mengikuti jejak Sisi jika rakyat Libya memintanya mencalonkan diri, terutama karena Sisi berhasil dalam misi sulit yang serupa, yaitu merebut kembali Mesir dari Ikhwanul Muslimin." (Anadolu Agency, 30 Mei 2014).
- Segera setelah itu, Kongres Nasional Umum Libya mengadakan pertemuan pada Minggu, 25 Mei 2014, meskipun ada ancaman dari Khalifa Haftar. Parlemen memberikan mosi percaya kepada pemerintahan Perdana Menteri baru Ahmed Maiteeq dengan suara mayoritas 83 dari 94 anggota yang hadir. Tekad untuk mengadakan sidang tersebut sangat jelas; pimpinan Kongres telah mendesak para anggota melalui pesan singkat untuk hadir, menyebutkan bahwa sidang ini mungkin menjadi yang "terakhir". Sidang yang seharusnya dimulai pukul 11.00 tertunda hingga malam hari karena tidak tercapainya kuorum. Tekad tersebut juga terlihat dari tempat pertemuan para anggota di Istana Putra Mahkota di Tripoli (istana dari era kerajaan), karena gedung Kongres ditutup setelah serangan milisi pro-Haftar. Tentara dari salah satu batalion Tripoli ditugaskan menjaga istana tersebut.
Namun, Haftar mengumumkan penolakannya atas pelantikan Perdana Menteri baru tersebut dan menyerukan penundaan pemilu. Ia berkata, "Perdana Menteri baru tidak akan mampu mengembalikan stabilitas ke negara ini dan menyerukan penundaan pemilihan parlemen yang dijadwalkan Juni." (AFP, 26 Mei 2014). Pada 21 Mei 2014, Haftar menuntut "Dewan Yudisial Agung" atas nama "Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata" untuk menugaskan "Dewan Tertinggi Kepresidenan Negara yang bersifat sipil yang tugasnya menunjuk pemerintahan darurat dan mengawasi pemilihan parlemen mendatang. Dewan Kepresidenan tersebut akan menyerahkan kekuasaan kepada parlemen terpilih." Ia menambahkan, "Tentara mengambil keputusan ini setelah penolakan Kongres Nasional Umum untuk membekukan kegiatannya sesuai tuntutan rakyat." Ia juga menyatakan, "Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata akan mengurusi keamanan selama masa transisi dan setelahnya." (AFP, 22 Mei 2014). Dewan Yudisial Agung menanggapi hal tersebut pada 26 Mei 2014 dengan mengumumkan "pembentukan komite sosial yang bertujuan mencapai kesepakatan di antara semua pihak, yang terdiri dari ketua badan konstituante, ketua persatuan ulama, ketua badan pencari fakta dan rekonsiliasi, ketua komite peninjauan legislasi, ketua Dewan Nasional Transisi, ketua dewan tetua dan syura, serta ketua komite Februari. Tugas komite ini adalah menghubungi seluruh pihak." (Al Jazeera, 26 Mei 2014). Ketua dewan ini tidak menjelaskan apakah inisiatif pembentukan komite tersebut merupakan penolakan terhadap inisiatif terbaru Haftar ketika ditanya oleh Al Jazeera. Namun, tampak bahwa Dewan Yudisial Agung tidak merespons seruan Haftar dan tidak menolaknya secara langsung, melainkan mengumumkan pembentukan komite rekonsiliasi. Ini berarti Haftar tidak mendapatkan dukungan dari lembaga peradilan.
- Adapun posisi Amerika, sangat jelas bahwa dialah yang berada di balik apa yang dilakukan Haftar, dan Amerika adalah penggeraknya. Selain rekam jejak Haftar sejak dipindahkan oleh Amerika dari penjara Chad dan diasuh selama sekitar dua puluh tahun di Virginia, terdapat indikasi lain yang menunjukkan hal tersebut:
A- Pernyataan para pejabat Amerika yang menunjukkan hal itu baik secara tersurat maupun tersirat, di antaranya:
Selama peristiwa ini, di antara awal aksi militer Haftar pada 14 Februari 2014 dan kelanjutannya pada 16 Mei 2014, Amerika mengirim Wakil Menteri Luar Negeri William Burns ke Libya. Dalam kunjungannya ia menyatakan: "Meningkatnya ekstremisme yang disertai kekerasan merupakan tantangan besar bagi Libya terutama, dan juga bagi mitra internasional." Ia menambahkan: "Membangun kembali keamanan adalah hal vital bagi kesuksesan Libya," dan berjanji untuk meningkatkan bantuan Amerika dalam menghadapi kekerasan ekstremis. Ia berkata: "Amerika Serikat akan terus bersama mitra lainnya melatih tentara dan pasukan keamanan." (Reuters, 24 April 2014). Artinya, Amerika akan menggunakan kartu memerangi ekstremisme dan terorisme untuk memperkuat kendalinya atas Libya. Oleh karena itu, anteknya Khalifa Haftar menggunakan kartu ini setelah disodorkan oleh orang-orang Amerika.
Amerika tidak membantah hubungannya dengan Haftar. Juru bicara Departemen Luar Negeri Jennifer Psaki dalam konferensi pers pada 20 Mei 2014 menyatakan: "Kami tidak melakukan kontak dengan Khalifa Haftar baru-baru ini, sudah lebih dari tiga minggu, kami tidak mengutuk dan tidak mendukung pergerakan di Libya di lapangan..." Ia juga menolak menyebut operasi Haftar sebagai kudeta militer ketika ditanya. Juru bicara tersebut juga menyinggung tentang "kembalinya mantan duta besar David Satterfield dari Libya baru-baru ini, dan bahwa negaranya memantau peristiwa Libya dengan saksama dalam dua hari terakhir." Ia tidak membantah kontak dengannya, melainkan hanya membantah "baru-baru ini". Perkataannya seolah mengonfirmasi adanya keterlibatan! Menariknya, surat kabar Al-Hayat menyebutkan pada Sabtu, 24 Mei 2014, bahwa Duta Besar AS untuk Libya, Deborah Jones, berkata: "Jenderal Purnawirawan Haftar sedang memerangi kelompok-kelompok yang terlarang bagi kami."
B- Wawancara dengannya mengandung indikasi dukungan dan persetujuan Amerika. Washington Post melakukan wawancara dengan Haftar pada 20 Mei 2014, di mana ia berkata: "Kami telah memulai serangan untuk melenyapkan gerakan teroris di Libya, kami mulai sekitar seminggu lalu dengan seluruh unit tentara reguler, dan kami sekarang melangkah maju dengan misi ini karena kami melihat konfrontasi adalah solusinya. Adapun koordinasi dengan Zintan? Saya katakan kepada Anda, kami adalah satu kesatuan."
C- Pengumuman berulang tentang pemindahan pasukan Amerika ke Sisilia juga bertujuan untuk menakut-nakuti pihak internal di Libya dan untuk mendukung agennya, Haftar, dengan memperkuat moralnya serta menunjukkan kesiapan untuk membantunya:
Juru bicara Pentagon John Kirby mengumumkan pada Selasa, 20 Mei 2014, penempatan pasukan Marinir AS di pulau Sisilia. Kirby beralasan hal ini untuk tugas lain seperti evakuasi warga Amerika dan staf kedutaan di Tripoli.
Asharq Al-Awsat melaporkan pada 21 Mei 2014: "Seorang pejabat senior Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi adanya pesawat di Italia yang siap sedia mengevakuasi warga Amerika dari kedutaan di Tripoli seiring meningkatnya kerusuhan di Libya, pejabat Pentagon memantau situasi menit demi menit dan jam demi jam." Surat kabar tersebut juga mengutip pejabat AS: "Amerika Serikat meningkatkan jumlah Marinir dan pesawat yang bersiaga di Sisilia... sekitar 60 tentara Marinir tambahan dan empat pesawat Osprey V-22 dikirim ke pangkalan udara angkatan laut Sigonella di Sisilia dari pangkalan mereka di Spanyol... total Marinir di Sisilia mencapai sekitar 250 personel. Kehadiran mereka di Italia membuat mereka dekat dengan Libya dan membantu mempercepat respons."
AFP mengutip pejabat AS pada 27 Mei 2014: "Sebuah kapal serbu amfibi Amerika akan tiba dalam beberapa hari ke pesisir Libya dengan membawa seribu tentara Marinir untuk berpartisipasi dalam evakuasi staf kedutaan yang diperkirakan akan dilakukan." Departemen Luar Negeri AS meminta warga Amerika di Libya untuk segera meninggalkan negara itu: "Departemen Luar Negeri memperingatkan warga Amerika untuk tidak bepergian sama sekali ke Libya dan merekomendasikan warga yang ada di sana untuk segera pergi," seraya menambahkan, "situasi keamanan di Libya tetap tidak terduga dan tidak stabil." (Reuters, 28 Mei 2014).
- Begitulah, Amerika berupaya menunda pemilihan di Libya melalui gerakan Haftar. Amerika ingin menduplikasi pengalamannya di Mali meskipun gagal di sana, di mana mereka memimpin kudeta melalui salah satu perwira pada 22 Maret 2012, sekitar sebulan sebelum jadwal pemilu karena khawatir kelas politik pro-Prancis akan menang. Amerika tidak ingin pemilihan diadakan dalam atmosfer tersebut sebelum mengubahnya melalui kudeta. Namun mereka gagal mempertahankannya; Prancis berhasil mengakhiri kudeta dan mengadakan pemilihan kurang dari satu setengah tahun kemudian, yang menghasilkan presiden baru Mali dari pengikut Prancis "Ibrahim Boubacar Keita" yang dilantik pada 19 September 2013. Sepertinya Amerika berharap keberuntungannya di Libya lebih baik daripada di Mali!
Amerika juga mencoba meniru pengalaman Sisi, namun kenyataannya berbeda antara kasus di Mesir dan Libya. Sisi adalah panglima militer, sehingga kekuatan militer berada di pihaknya. Sementara Haftar, kekuatannya lebih mirip dengan faksi militer biasa seperti faksi lainnya di Libya, meskipun mungkin sedikit lebih kuat dengan tambahan pendukungnya, namun perbedaannya tidak signifikan. Kondisinya berbeda total dengan militer Mesir di bawah kepemimpinan Sisi saat itu. Kekuatan bersenjata di Libya terbagi antara Haftar dan Kongres Nasional. Misalnya: Brigade Zintan "Al-Sawa'iq dan Al-Qa'qa'" mengumumkan bergabung dengan upaya Haftar, sementara Perisai Wilayah Tengah "Misrata" lebih dekat ke Kongres Nasional menentang Haftar. Begitu pula dengan unit-unit militer lainnya yang orientasinya berbeda-beda. Oleh karena itu, peniruan Haftar terhadap Sisi tidaklah sepadan karena realitas militernya berbeda. Sisi adalah panglima militer dengan kekuatan efektif, ia membekukan parlemen, menggulingkan presiden dan pemerintah karena posisinya yang kuat sebagai panglima. Sedangkan Haftar adalah militer purnawirawan yang memimpin pemberontakan dengan dukungan Amerika; ia belum mampu menggulingkan pemerintah, membubarkan parlemen, maupun melumpuhkan institusi negara, karena ada kekuatan yang tidak sepele yang menghadapinya. Itulah sebabnya Haftar, yang mengancam akan menangkap Maiteeq jika ia mengadakan rapat kabinet, gagal mencegah rapat tersebut. Pasukan militer dari Perisai Wilayah Tengah "Misrata" mengawal direktur kantor Maiteeq dan menyerbu kantor kepresidenan menteri serta mengambil dokumen-dokumen.
Pada malam 2 Juni 2014, Ahmed Maiteeq berhasil memasuki kantor kepresidenan menteri di Tripoli dengan pengawalan militer ketat dari Perisai Wilayah Tengah "Misrata". Ia masuk sebelum serah terima tugas dari Perdana Menteri sementara Abdullah al-Thani, tanpa memedulikan ancaman Haftar! Jika pemilihan diadakan sesuai jadwal, kecil kemungkinan agen-agen Amerika akan menang. Taruhan Amerika tetap pada penciptaan kekacauan dan kerusuhan melalui Haftar dan lainnya dengan dalih memerangi terorisme. Mungkin juga mereka akan melancarkan serangan udara tertentu terhadap gerakan Islam bersenjata untuk meningkatkan kekacauan sehingga mereka dapat membatalkan atau menunda pemilu guna mencari kesempatan lain memperkuat agen-agennya. Oleh karena itu, diperkirakan Amerika akan terus mendukung operasi Haftar hingga tujuannya tercapai. Jika ia melihat hal itu tidak membuahkan hasil dan pemilihan tetap berlangsung, ia akan mencoba bersepakat dengan negara-negara Eropa yang memiliki pengaruh lebih kuat di sana untuk mencapai formula tertentu.
Dari sisi kekuatan militer dan sisi lainnya, situasi di Libya berbeda dengan Mesir. Orang-orang Eropa, khususnya Inggris, memiliki akar di Libya dan menjadi pemilik pengaruh (nifuz) sejak Perang Dunia II hingga jatuhnya Gaddafi. Mereka mampu menumbuhkan agen-agen dan memegang kendali urusan dengan bantuan Prancis serta negara Eropa lainnya, ditambah rezim-rezim kaki tangan mereka di kawasan tersebut. Sedangkan di Mesir, Amerika telah menancapkan akarnya sejak kudeta 23 Juli 1952 melalui Abdul Nasser dan perwira lainnya, sehingga Amerika tetap menguasai panggung Mesir hingga hari ini. Jadi realitasnya berbeda; pengaruh Eropa adalah yang terkuat di lingkungan politik Libya. Diperkirakan Inggris akan mengerahkan upaya dengan dukungan Prancis, Jerman, Italia, dan lainnya, serta memanfaatkan agen mereka di Qatar dan negara tetangga di Afrika Utara untuk mempertahankan pengaruh ini. Terutama karena posisi Libya yang menjadi titik tolak apa yang disebut migrasi ilegal yang ditakuti Eropa, sehingga mereka tidak ingin pengaruh di Libya jatuh ke tangan pihak lain. Mereka akan mempertahankan ini hingga titik darah penghabisan, didorong oleh fakta bahwa lingkungan politik masih didominasi oleh loyalitas kepada Eropa (Inggris). Amerika menyadari hal ini dan menyadari kegigihan Eropa, khususnya Inggris. Oleh karena itu, Amerika bertindak dengan "jalan kembali" (regressive step), yakni tanpa memutus hubungan dengan Eropa dalam isu Libya. Di saat ia menggerakkan Haftar untuk menimbulkan kekacauan melalui aksi militer, ia juga bergabung dengan Eropa dalam memberikan perhatian pada Libya. Negara-negara Eropa bersama Amerika mengeluarkan pernyataan bersama pada 23 Mei 2014 (Reuters) terkait situasi di Libya yang berbunyi: "Uni Eropa, Prancis, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat merasa sangat prihatin dengan aksi kekerasan yang terus berlangsung dan menyerukan kepada semua pihak untuk tidak menggunakan kekuatan serta menyelesaikan perselisihan melalui jalur politik." Pernyataan itu menambahkan: "Proses yang menuju pada transisi kekuasaan secara damai harus didasarkan pada konsensus yang luas dan menghindari tindakan apa pun yang bertujuan merusak proses ini." Reuters mengomentari: "Kekuatan Barat khawatir kampanye yang dipimpin Haftar dapat memecah belah tentara Libya dan menimbulkan kekacauan lebih lanjut." Ini mencerminkan besarnya pengaruh negara-negara Eropa di Libya, jika tidak, Amerika tidak akan ikut serta mengeluarkan pernyataan bersama tersebut.
Dengan demikian, Amerika dan alatnya, Haftar, tidak diperkirakan akan berhasil menghapus pengaruh Eropa di Libya dalam waktu dekat, namun mereka akan menciptakan kecemasan dan kekacauan. Mereka mengirim pesan kuat kepada lingkungan politik Eropa, khususnya Inggris, bahwa masa monopoli Inggris atas Libya telah berakhir, dan Amerika harus ada dalam gambaran tersebut dengan kuat. Meski demikian, api konflik akan terus mudah menyala selama persaingan Eropa dan Amerika memasuki rumah tangga Libya melalui tangan-tangan orang Libya sendiri. Kaum kafir penjajah (musta'mir) tidak peduli jika pembunuhan terhadap kaum Muslim meningkat dan darah mereka tertumpah, bahkan hal ini menyenangkan dan menyegarkan bagi mereka. Menanamkan pengaruh adalah tujuan negara-negara Barat, dan minyak Libya adalah sasaran mereka. Mereka berselisih karena perbedaan kepentingan, namun mereka bersatu dalam permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim.
Begitulah Libya terjebak dalam pusaran konflik internasional, dan negara-negara ini menjadikan Libya sebagai arena pertarungan untuk menanamkan pengaruh dan meraup porsi jarahan terbesar. Oleh karena itu, situasi tidak kunjung tenang dan rakyat belum mencapai tujuan revolusi mereka karena intervensi internasional dan ketidakjelasan visi dari banyak pihak yang terlibat, yang bangkit melawan Gaddafi—yang sebelumnya mewakili kepentingan Barat, khususnya Eropa—dengan mengorbankan rakyat. Bagaimana mungkin rakyat terjatuh lagi ke dalam jeratan negara-negara Barat dan menjadi alat pertarungan di antara kekuatan Barat tersebut?!
- Ringkasan dari apa yang terjadi di dalam Libya adalah bahwa Inggris dan Eropa di belakangnya berusaha keras untuk mendahului peristiwa. Mereka berlomba dengan waktu untuk keluar dari kebuntuan saat ini dengan meletakkan dasar bagi pemerintahan terpilih yang memberikan corak legalitas melalui pemilu sesegera mungkin. Dengan begitu, mereka memproduksi ulang sistem politik lama namun dengan wajah baru dari orang-orang yang loyal kepada mereka, sehingga Libya tidak keluar dari lingkaran pengaruhnya. Karena itu, mereka mengupayakan pemilihan secepat mungkin; komisi pemilihan Libya telah menetapkan 25 Juni sebagai tanggal pemilihan parlemen baru untuk menggantikan Kongres Nasional Umum yang semakin diperdebatkan, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Libya.
Amerika dan para pengikutnya menyadari hal ini dan mencoba menghalanginya, serta mencegah pembentukan pemerintahan baru yang mengawasi tahap saat ini untuk menyelenggarakan pemilihan sesuai jadwal 25 Juni. Haftar adalah alat Amerika untuk itu; ia mengumumkan pada Minggu, 25 Mei 2014, dalam pernyataan yang dibacakan juru bicara tentara nasional pimpinannya bahwa "setiap pertemuan Kongres Nasional Umum akan menjadi target pelarangan dan penangkapan," serta menganggap "setiap pertemuan Kongres di mana pun sebagai tindakan ilegal dan dapat dituntut secara hukum." Ia menambahkan pada malam Sabtu, 24 Mei 2014, bahwa jika anggota parlemen ingin bertemu besok, mereka akan menjadi target sah untuk ditangkap. Tujuan Amerika di balik itu adalah untuk mempertahankan kondisi konflik dan instabilitas, yang nantinya akan memungkinkannya memaksakan agen-agennya ke dalam peta politik Libya dan lingkungan politik yang efektif, jika berhasil, atau setidaknya menjadi mitra aktif di Libya bersama Eropa, khususnya Inggris.
Maka, Inggris dengan dukungan Eropa mengerahkan segala upaya untuk mempertahankan pengaruhnya di Libya melalui pemilu di bawah lingkungan politik saat ini yang loyal kepada mereka. Sementara Amerika ingin menunda pemilu untuk menyusup ke barisan lingkungan politik saat ini guna mengubahnya demi kepentingannya, atau setidaknya menyisipkan orang-orangnya, barulah setelah itu pemilu diadakan. Tujuannya adalah agar ia mendapatkan porsi pengaruh yang "melimpah" di Libya.
- Sebagai penutup, sungguh menyakitkan bahwa negeri-negeri Muslim yang dahulu menjadi pusat penaklukan dan penyebaran Islam yang membawa keadilan dan kebaikan bagi seluruh penjuru dunia, kini menjadi medan pertempuran di mana kaum kafir penjajah berlomba membunuh kita dan merampok kekayaan kita. Mereka tertawa terbahak-bahak pada setiap tetes darah kita yang mengalir, bukan hanya oleh tangan mereka, tetapi juga oleh tangan agen-agen mereka dari putra-putra bangsa kita sendiri!
Kaum kafir penjajah adalah musuh-musuh kita, maka tidak aneh jika mereka mengerahkan upaya untuk membunuh kita. Namun, yang menjadi bencana besar adalah ketika faksi-faksi Libya berpihak kepada mereka; sebagian loyal kepada Amerika, sebagian lainnya loyal kepada Eropa, lalu mereka saling membunuh satu sama lain. Peperangan itu bukan demi Islam dan menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan demi kepentingan kafir penjajah. Saling membunuh antar sesama Muslim adalah dosa besar dalam Islam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah:
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ
"Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR Muslim)
Dan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam thawaf di Ka'bah dan bersabda:
مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ، مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ، مَالِهِ، وَدَمِهِ، وَأَنْ نَظُنَّ بِهِ إِلَّا خَيْرًا
"Betapa harumnya engkau dan betapa harum aromamu, betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin lebih agung di sisi Allah daripada engkau; baik hartanya, darahnya, dan agar kami tidak berprasangka kepadanya kecuali kebaikan." (HR Ibnu Majah)
Serta dalam hadits yang diriwayatkan An-Nasa'i dari Abdullah bin 'Amru, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
"Sungguh, hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang laki-laki Muslim." (HR An-Nasa'i)
Sebagai penutup akhir, Libya tidaklah kosong dari kelompok ketiga, yang jujur dan ikhlas, yang cita-citanya adalah mengembalikan kebaikan dan keadilan ke Libya dengan menerapkan Islam dalam kehidupan, negara, dan masyarakat. Kami berharap kelompok ini berdiri tegak menghadapi para pengikut Eropa dan Amerika, mengembalikan mereka ke jalan yang benar, menghentikan pertikaian di antara mereka, serta mengarahkan senjata mereka bersama-sama ke leher musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Dengan begitu, Libya akan bersih dari setiap kafir penjajah dan setiap pengkhianat antek... dan Libya kembali ke asal serta jati dirinya: basis para penakluk, dan negeri para penghafal Al-Qur'an... benteng Islam yang dijaga oleh Islam, serta penjaga baginya dengan daya dan kekuatan Allah.
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya." (QS Yusuf [12]: 21)