Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: Perkembangan Politik di Kancah Libya

November 07, 2017
4585

Pertanyaan:

Pada tanggal 4/11/2017, harian Asharq Al-Awsat menerbitkan berita: (Pertemuan Kairo berakhir dengan kesepakatan untuk menyatukan institusi militer Libya). Para pejabat militer Libya telah bertemu di Kairo pada tanggal 30/10/2017 di bawah pengumuman pengaturan struktur tentara Libya. Perlu diketahui bahwa Ghassan Salame, utusan PBB untuk Libya, mulai memimpin pembicaraan Libya dengan pemerintahan Serraj dan Dewan Perwakilan Rakyat di Tobruk mengenai roadmap yang ia siapkan untuk solusi sejak 21/9/2017, namun pembicaraan tersebut ditangguhkan sebelum genap sebulan karena masalah Pasal Delapan dalam Perjanjian Skhirat yang ditandatangani pada 17 Desember 2015. Pertanyaannya adalah: Apakah dimulainya pertemuan militer berarti pertemuan politik telah gagal? Dengan kata lain, apakah pembicaraan militer bertujuan untuk menemukan solusi militer bagi Pasal Delapan setelah kegagalan pembicaraan politik? Lalu, apa yang baru terjadi selama dua tahun ini setelah Perjanjian Skhirat, di mana kedua belah pihak menandatanganinya saat itu, namun sekarang mereka berselisih? Terima kasih.

Jawaban:

Sebenarnya tidak ada hal baru yang fundamental. Kedua belah pihak telah menandatangani Perjanjian Skhirat sementara benih-benih perselisihan sudah ada. Penandatanganan oleh masing-masing pihak dilakukan untuk tujuan dan motif yang berbeda. Agar gambaran ini menjadi jelas, mari kita tinjau hal-hal berikut:

  1. Di era Qaddafi, kelas politik (thabaqah siyasiyah) yang aktif adalah mereka yang setia kepada Inggris, sementara pengaruh Amerika tidak efektif di era tersebut. Ketika era Qaddafi berakhir, kelas politik lama kembali memanjat karena akar mereka masih ada dan belum tercabut. Oleh karena itu, politisi yang mendominasi adalah mereka yang berada di bawah pengaruh Inggris, sementara politisi yang setia kepada Amerika tidak memiliki keberadaan yang efektif. Karena itulah, Eropa sangat berkepentingan dengan pemilu untuk membentuk pemerintahan dan dewan perwakilan rakyat secepat mungkin, karena mereka mengharapkan hasilnya akan menguntungkan mereka akibat pengaruh kelas politik lama. Sebaliknya, Amerika berkepentingan untuk menghalangi pemilu apa pun sampai mereka berhasil membentuk kelas politik baru yang mampu menghadapi kelas politik pro-Inggris. Dengan kata lain, yang penting bagi Eropa adalah mempercepat solusi politik, sedangkan bagi Amerika yang penting adalah menunda solusi sampai kelas politik baru terbentuk. Amerika tidak punya pilihan lain untuk membentuk kelas ini kecuali melalui arogansi militer, sesuai dengan kebiasaan Amerika.

  2. Amerika mengirim perwira Libya, Khalifa Haftar, untuk bekerja di Libya demi melayani kepentingannya. Perjalanan hidupnya menunjukkan loyalitasnya kepada Amerika. Ia pernah ditawan di Chad bersama sekitar 300 tentara Libya pada Maret 1987. Setelah itu, Amerika melakukan mediasi dengan Chad, dan CIA bernegosiasi pada tahun 1990 untuk pembebasannya. Pesawat-pesawat Amerika mengangkut Haftar dan kelompoknya ke Zaire, kemudian ke Amerika, dan mereka diberikan suaka politik di Amerika Serikat, di mana ia bergabung dengan gerakan oposisi Libya di luar negeri. Haftar menghabiskan 20 tahun berikutnya di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, di mana ia dilatih dalam perang gerilya oleh CIA. Ia tidak kembali ke Libya kecuali setelah revolusi 17 Februari. Amerika mengirimnya ke Libya untuk mencoba membangun kekuatan militer guna menguasai wilayah-wilayah di Libya dan membentuk kelas politik baru melalui "kemenangan-kemenangan" militer, dengan menyediakannya senjata dan dana secara langsung atau melalui agennya, Al-Sisi di Mesir. Amerika terus menghambat solusi politik apa pun di Libya menunggu Haftar mampu membangun pengaruh yang efektif. Haftar fokus di wilayah Timur karena Tripoli dipenuhi oleh kelas politik yang pro-Eropa, khususnya Inggris. Ia berhasil sampai batas tertentu dalam memantapkan kekuatan di Libya Timur dan mendominasi Dewan Perwakilan Rakyat di Tobruk.

  3. Pada tahun 2015, Eropa berkepentingan untuk tidak menunggu lebih lama lagi dari tahun itu guna mewujudkan solusi politik sebelum realitas kelas politik berubah. Eropa mengerahkan segala upaya untuk mengirim utusan yang setia kepada Eropa ke Libya untuk mempercepat langkah. Mereka berhasil mengirim Bernardino Leon. Leon mulai mempromosikan solusi politik dan berhasil menciptakan suasana yang menekan di Dewan Keamanan, sekaligus menyudutkan Amerika jika menolak solusi politik tersebut. Dari sisi Amerika, mereka melihat masalah ini dari sudut pandang lain. Amerika melihat bahwa menentang solusi politik setelah promosi besar-besaran tersebut tidak menguntungkan baginya. Pada saat yang sama, Amerika merancang rencananya dengan menyetujui Perjanjian Skhirat untuk mendominasinya dengan cara mengubahnya atau menghancurkannya. Demikianlah yang terjadi. Pasal Delapan dalam perjanjian tersebut berkaitan dengan kontrol atas kekuatan militer. Kelompok Eropa menyadari bahwa Haftar adalah agen Amerika, dan Amerika menginginkannya menjadi panglima tentara. Oleh karena itu, mereka membuat pasal ini yang menyatakan bahwa tentara tunduk pada kepemimpinan perdana menteri, di mana Serraj setia kepada mereka. Pasal ini menjadi penghalang besar yang dilihat Amerika sebagai peluang tepat untuk menghambat perjanjian sampai Haftar berhasil menjadi kekuatan efektif dalam tentara dan di lapangan, yang kemudian akan membentuk kelas politik efektif untuk menyaingi kelas politik Eropa di Tripoli dan sekitarnya.

  4. Inilah realitas saat ini, dan tidak banyak berubah sejak Perjanjian Skhirat akhir 2015. Tidak ada hal baru dalam tujuan dan motif politik maupun militer kedua belah pihak. Kami telah menerbitkan beberapa Jawab Pertanyaan seputar masalah Libya sejak Perjanjian Skhirat, di mana kami menjelaskan masalah ini bagi siapa pun yang memiliki hati atau menggunakan pendengarannya dengan saksama:

    • Disebutkan dalam Jawab Pertanyaan tanggal 3/6/2014: "Amerika menyadari bahwa lingkungan politik (al-wasath al-siyasi) di Libya adalah buatan Inggris dengan beberapa pengaruh Prancis yang memperkuat lingkungan politik pro-Inggris di Libya. Ini berarti setiap pemilu mendatang akan memenangkan orang-orang Eropa dengan sedikit sekali 'independen'. Dengan demikian, situasi akan stabil dan ambisi Amerika—yang ingin memanfaatkan pengaruh militer nyatanya dalam mengakhiri kekuasaan Qaddafi agar mendapatkan bagian pengaruh terbesar—akan sirna. Hal ini tidak bisa dicapai Amerika melalui pemilu dalam suasana yang masih didominasi suasana Eropa. Maka Amerika berpikir untuk mengacak-acak kartu secara militer dan menata ulang suasana di Libya guna menciptakan kelas politik baru yang setia kepadanya, baru kemudian menyelenggarakan pemilu. Langkah pertamanya adalah menugaskan seorang militer untuk bergerak melakukan tindakan menyerupai kudeta terhadap situasi yang ada, yang didominasi oleh Kongres Nasional di mana mayoritasnya adalah orang-orang Eropa... tujuannya untuk mengacak-acak kartu dan menunda pemilu hingga kondisi lebih menguntungkan bagi Amerika. Jika tidak bisa dikuasai sepenuhnya, maka setidaknya berbagi dengan Eropa sehingga lapangan tidak kosong baginya. Demikianlah Haftar bergerak, dan perjalanan hidupnya menunjukkan loyalitasnya kepada Amerika..."

    • Disebutkan dalam Jawab Pertanyaan tanggal 11/4/2015: "Eropa menyadari hal ini, bahwa Amerika bekerja untuk menggagalkan negosiasi. Oleh karena itu, mereka memilih utusan yang mereka percayai, yaitu Bernardino Leon, yang asalnya adalah utusan Eropa... Bernardino Leon mulai mempercepat langkah untuk mencapai solusi politik. Fokusnya adalah menyelesaikan tugasnya dalam masa mandat pertamanya yang dijadwalkan berakhir pada akhir Maret 2015, sebelum diperpanjang berdasarkan resolusi Dewan Keamanan No. 2213 hingga 15 September 2015. Ia terburu-buru menyelesaikannya pada masa pertama. 'Negosiasi' dimulai di Jenewa, pindah ke Libya, kemudian ke Maroko dan Aljazair, lalu kembali diadakan di Maroko. Pada putaran negosiasi Maroko hari Kamis, 12/3/2015, anggota parlemen Tobruk meminta penundaan dimulainya kembali konsultasi politik antar pihak Libya selama satu minggu lagi, yaitu hingga Kamis, 19/3/2015 untuk konsultasi lebih lanjut... Leon menekankan pentingnya menghasilkan solusi politik sesegera mungkin... Demikian pula pada 16/3/2015, keluar pernyataan bersama dari Uni Eropa yang memperingatkan kegagalan negosiasi: 'Kegagalan mencapai kesepakatan politik akan membahayakan persatuan Libya.. Segera setelah kesepakatan pembentukan pemerintahan persatuan nasional dan pengaturan keamanan terkait tercapai, Uni Eropa siap untuk memperkuat dukungannya bagi Libya' (Deutsche Presse-Agentur, 16/3/2015)..."

    • Disebutkan dalam Jawab Pertanyaan tanggal 19/1/2016: "Inggris menyadari bahwa sebagian besar lingkungan politik berpihak padanya. Karena itu, ia yakin bahwa pemerintahan transisi sesuai usulan Leon akan berpihak padanya. Maka Inggris berkepentingan untuk mempercepat Perjanjian Skhirat dan pengesahannya di era Leon. Ketika ia tidak mampu dan datanglah Kobler dengan membawa perubahan-perubahan, Inggris menyadari bahwa perubahan ini adalah akibat tekanan Amerika terhadap Kobler sebagai salah satu langkah Amerika lainnya untuk menggagalkan perjanjian secara total sampai Amerika merumuskannya kembali sesuai keinginannya, setelah membentuk kelas politik baru hasil dari aksi militer Haftar yang dibarengi dengan konspirasi politik yang dikelola Amerika. Oleh karena itu, Inggris memandang perlu menyegerakan penandatanganan perjanjian sebelum terjadi hal-hal lain yang tidak terduga. Perjanjian tersebut, bahkan dengan perubahan dari 'Kobler', tetap bisa diterima oleh Inggris. Maka ia menyegerakan segala urusan dan berupaya mengadakan perjanjian final di Skhirat, Maroko pada 17/12/2015. Agar hal itu menjadi legal dan diterima secara internasional, ia beralih ke Dewan Keamanan dan mengajukan draf resolusi 2259 untuk mendukung ketetapan perjanjian final tersebut... Hal yang mendorong Inggris terburu-buru adalah pergerakan Amerika untuk menghambat kesepakatan-kesepakatan tersebut... Hal ini diisyaratkan oleh mantan penasihat Ketua DPR Libya, Issa Abdel Qayyum, pada 13/12/2015 di layar Al-Ghad Al-Arabi ketika ia berkata: '... Pernyataan Kerry, Menteri Luar Negeri Amerika, menjelaskan bahwa Amerika tidak memiliki semangat yang cukup untuk menyelesaikan krisis, berbeda dengan Inggris dan Prancis yang menunjukkan semangat untuk itu...'"

    • Disebutkan dalam Jawab Pertanyaan tanggal 12/3/2016: "Adapun alasan penghambatan 'Amerika' ini adalah karena mayoritas kalangan politik di Libya merupakan sisa-sisa Qaddafi, yakni setia kepada Eropa... Susunan menteri apa pun akan berukuran seperti ini sebagaimana dalam kementerian baru. Sedangkan Amerika bergantung pada Haftar dan sejumlah militer di sekitarnya... Karena itulah Amerika menghambat solusi politik sebisa mungkin melalui intervensi militer darinya, dari Haftar, dan dari pengikut-pengikutnya, sampai ia mampu menjamin kekuasaan yang memberinya bagian terbesar... Ini berbeda dengan Eropa yang bekerja untuk menyukseskan kesepakatan, pembentukan pemerintahan, dan pengesahannya karena mereka masih menguasai kalangan politik. Buktinya banyak, Menlu Inggris Philip Hammond mengunjungi Aljazair dan bertemu dengan Menlunya, Ramtane Lamamra, pada 19/2/2016 dan menegaskan di sana bahwa 'intervensi militer di Libya bukan merupakan solusi paling tepat untuk menyelesaikan krisis yang dialami negara tersebut dan menyerukan solusi politik' (Al-Khabar Al-Jaza'iriyyah, 19/2/2016)."

  5. Oleh karena itu, persoalan ini sudah jelas bagi siapa pun yang memiliki mata sejak penandatanganan Perjanjian Skhirat pada Desember 2015, bahkan sebelumnya, bahwa Eropa terburu-buru mencari solusi karena kelas politik yang ada setia kepadanya, sementara Amerika menghambat solusi sampai ia mampu memegang otoritas militer melalui alatnya, Haftar, dan kemudian membentuk otoritas politik baru. Karena itu pula, negosiasi terus berjalan di tempat, kadang mendekat lalu menjauh kembali, dan seterusnya. Setelah kurang dari sebulan peluncurannya, terjadi penarikan delegasi Tobruk, lalu ditangguhkan... Salame bertemu dengan pihak ini dan itu, mengusulkan saran dari sana-sini, dan membenarkan penarikan mereka serta kembalinya mereka dari Tunisia ke Libya untuk berkonsultasi dengan rujukan mereka... Mungkin ia tahu bahwa kesepakatan kedua belah pihak mengenai solusi final memerlukan persetujuan kekuatan internasional di belakang keduanya, dan hal ini tidak dimiliki oleh Ghassan Salame. Bahkan kedua belah pihak pun tidak memilikinya kecuali jika pihak-pihak di belakang mereka sepakat. Demikianlah penarikan, penangguhan, dan kembalinya delegasi dari Tunisia ke Libya terjadi dengan alasan konsultasi dengan rujukan mereka:

    • ("Koresponden Al-Jazeera mengatakan bahwa delegasi Dewan Perwakilan Rakyat Libya menarik diri dari negosiasi dengan Dewan Tinggi Negara tanpa mengungkapkan alasannya, setelah dua putaran dialog di Tunisia untuk mengubah Perjanjian Skhirat... Namun koresponden melaporkan bahwa alasannya mungkin berkaitan dengan perumusan Pasal Delapan yang disinggung dalam diskusi pada sesi yang panas pagi ini yang membahas masalah Dewan Kepresidenan dan Pemerintah. Al-Jazeera... 16/10/2017)... Dan (seorang sumber mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa sebuah pertemuan diadakan di kantor misi PBB di Tunisia antara utusan PBB untuk Libya Ghassan Salame dan ketua kedua delegasi dialog, Moussa Faraj dan Abdulsalam Nassiyah, untuk mengevaluasi apa yang terjadi kemarin Senin berupa penangguhan sesi antara kedua delegasi... Al-Jazeera 17/10/2017)... Dan (koresponden Al-Jazeera di Tunisia melaporkan bahwa misi PBB di Libya menyerahkan kertas kerja kepada kedua belah pihak dialog Libya yang berisi rumusan poin-poin kesepakatan dan perbedaan di antara mereka untuk dipelajari dalam pertemuan mereka hari ini dan memberikan catatan mereka, masing-masing secara terpisah. Al-Jazeera 18/10/2017)... (Selama konferensi pers yang diadakan Salame di Tunisia, Sabtu 21/10/2017, ia menunjukkan bahwa ada ruang pemahaman dan kesepakatan antara delegasi Dewan Negara dan Dewan Perwakilan Rakyat Libya yang berdialog di Tunisia, yang mengharuskan mereka kembali ke Libya hari Minggu untuk berdiskusi dengan kepemimpinan politik di sana, menunjukkan adanya poin perbedaan termasuk Pasal Delapan yang akan diupayakan oleh misi PBB untuk dihilangkan. Al-Jazeera 24/10/2017)."
  6. Karena itulah Haftar fokus pada aksi militer, dan itu bukan rahasia. Aksi militer Haftar dan pernyataan-pernyataannya selama negosiasi Dewan Kepresidenan dan parlemen Tobruk di bawah naungan Ghassan Salame yang dimulai pada 21/9/2017, selalu berfokus pada aksi militer. Pernyataan-pernyataannya saat itu meragukan efektivitas negosiasi. Al-Jazeera mempublikasikan pada 14/10/2017: (Jenderal purnawirawan Khalifa Haftar meragukan kemungkinan penyelesaian krisis Libya sesuai jalur negosiasi yang disponsori PBB... Haftar mengatakan dalam pidatonya di konferensi keamanan pertama di kota Benghazi bahwa tidak ada indikasi yang menenangkan rakyat bahwa dialog yang sedang berlangsung adalah satu-satunya solusi bagi krisis politik saat ini. Haftar mengisyaratkan alternatif lain selain dialog politik, di antaranya adalah tentara dan seluruh aparat keamanan, "yang akan mematuhi keinginan rakyat"). Haftar juga telah menyatakan pada pertengahan Agustus 2017: "Kami bertekad untuk melanjutkan perjuangan sampai tentara membentangkan kendalinya atas seluruh tanah Libya..." (Asharq Al-Awsat 15/8/2017).

Oleh karena itu, fokus Amerika pada solusi militer untuk memimpin solusi politik merupakan inti dari tindakannya di Libya. Ia menghambat solusi politik sampai Haftar mampu meningkatkan luas kendali militernya, dan kemudian solusi dijalankan dengan pengaruh Amerika yang lebih kuat daripada pengaruh Eropa. Artinya, Amerika fokus pada solusi militer untuk memandu solusi politik, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tepat untuk hal ini. Karena itu, ketika Amerika menemukan kesempatan yang tepat untuk mengadakan pertemuan militer di Kairo guna menjamin pengaruh nyata Haftar dalam tentara, Amerika memerintahkan Haftar untuk melakukannya pada 30/10/2017, maka terjadilah pertemuan faksi-faksi militer Libya di Kairo, yang semuanya mendukung Haftar atau tidak menentangnya... Kemudian pertemuan itu ditutup pada malam 2/11/2017: (Asharq Al-Awsat mengetahui bahwa putaran ketiga negosiasi penyatuan institusi militer Libya yang diadakan di Kairo antara perwira-perwira Libya yang berakhir kegiatannya kemarin malam lusa, mencapai poin kesepakatan hampir final mengenai penyatuan tentara Libya dan hubungannya dengan otoritas sipil di Libya yang menderita kekacauan militer dan keamanan sejak tahun 2011... Asharq Al-Awsat 4 November 2017). Ini menunjukkan bahwa Amerika dan alat-alatnya (Mesir dan Haftar) telah mencapai kemajuan sampai batas tertentu di mana Haftar telah menjadi angka yang sulit yang memiliki kendali atas sebagian besar wilayah, terutama di Timur dan Bulan Sabit Minyak (oil crescent), berhadapan dengan beberapa kelambatan dalam perolehan Eropa (Inggris dan sebagian Prancis serta Italia). Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa konflik telah berakhir. Eropa juga memiliki kekuatannya di Libya, selain fakta bahwa mereka lebih lihai dalam aksi politik daripada Amerika. Dengan demikian, diperkirakan konflik internasional di Libya akan terus berlanjut antara Amerika dan alat-alatnya melawan Eropa dan alat-alatnya... dan rakyat Libyalah yang terpanggang dalam api konflik ini!

  1. Perlu disebutkan bahwa masalah umat Islam diselesaikan oleh tangan umat Islam sendiri, bukan oleh tangan musuh-musuh mereka. Solusinya mudah bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah, senjatanya adalah ikhlas kepada Allah dalam rahasia maupun terang-terangan, dan jujur kepada Rasulullah ﷺ dalam ucapan maupun perbuatan. Saat itulah para perunding akan melihat bahwa mereka berada di depan sebuah negeri Islam yang mulia sejak Penaklukan Islam pada era Khalifah Rasyidah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Seluruh penduduknya adalah Muslim, dan solusi masalahnya ada dalam Kitabullah Subhaanahu wa Ta'ala dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, tanpa ada kaitan apa pun dengan kaum kafir penjajah (al-kaffar al-musta'mirin).

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS. Hud [11]: 113)

Sebagai penutup, kami ulangi apa yang telah kami katakan sebelumnya: Sungguh menyakitkan bahwa negeri-negeri Muslim yang dulunya merupakan pusat penaklukan dan penyebaran Islam yang membawa keadilan dan kebaikan ke seluruh penjuru dunia... kini negeri-negeri ini menjadi medan pertempuran di mana kaum kafir penjajah berlomba-lomba membunuh kita dan menjarah kekayaan kita... Mereka tertawa terbahak-bahak pada setiap tetes darah yang mengalir dari kita, bukan hanya oleh tangan mereka sendiri, tetapi juga oleh tangan agen-agen mereka dari anak bangsa kita sendiri!

Sesungguhnya kaum kafir penjajah adalah musuh kita, maka tidaklah aneh jika mereka mengerahkan segala upaya untuk membunuh kita. Namun, jika faksi-faksi Libya justru berpihak kepada mereka, sebagian setia kepada Amerika dan sebagian lagi setia kepada Eropa, kemudian mereka saling berperang di antara sesama mereka—peperangan yang bukan demi Islam dan meninggikan kalimat Allah, melainkan demi kepentingan kafir penjajah—maka sungguh itu adalah salah satu dosa besar. Saling membunuh antar sesama Muslim adalah kejahatan besar dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

"Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

"Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang laki-laki Muslim." (HR. An-Nasa'i dari Abdullah bin Amr)

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37)

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda