Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: "An-Nu'man Pelita Umatku" adalah Hadits Maudu'

August 02, 2017
6750

(Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Laman Facebook Beliau "Faghi")

Jawaban Pertanyaan

Kepada Abdul Wakil Siraji

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ya Amir, saya dari Afghanistan. Saya ingin bertanya kepada Anda tentang keabsahan hadits ini; Rasulullah ﷺ bersabda: "An-Nu'man siraju ummati" (An-Nu'man adalah pelita umatku). Apakah hadits ini berkaitan dengan keutamaan Abu Hanifah rahimahullah?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pada abad keempat dan kelima Hijriah, setelah perdebatan dan perselisihan antar mazhab menjadi masyhur, terkadang hal itu keluar dari batas kewajaran sehingga muncul riwayat-riwayat maudu’ (palsu) yang memuji seorang mujtahid tertentu dan merendahkan kedudukan mujtahid lainnya dari para imam mazhab. Sebagai contoh, sebagian pengikut Syafi'i mengangkat kedudukan beliau di atas kedudukan Abu Hanifah, dan sebagian pengikut Abu Hanifah mengangkat kedudukan beliau di atas kedudukan Syafi'i, demikian pula yang dilakukan sebagian pengikut mazhab lainnya.

Dalam suasana seperti inilah muncul orang-orang yang memiliki tujuan tertentu, lalu mereka meriwayatkan hadits-hadits maudu’ tanpa rasa takut kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ﷺ, dengan klaim ingin membela mazhab mereka. Padahal sebenarnya mereka tidak sedang membela mazhabnya, melainkan justru melakukan pencemaran. Di antara deretan hadits-hadits maudu’ tersebut adalah apa yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda: "An-Nu'man siraju ummati". Berikut akan saya sebutkan beberapa keterangan yang diriwayatkan mengenainya:

  1. Disebutkan dalam kitab Tarikh Baghdad karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi al-Khatib al-Baghdadi (wafat: 463 H), hadits nomor 4545: (Al-Qadhi Abu al-Ala' Muhammad bin Ali al-Wasithi, dan Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad bin Ali al-Qashri, keduanya memberi tahu aku, mereka berkata: Abu Zaid al-Husain bin al-Husain bin Ali bin Amir al-Kindi memberi tahu kami di Kufah, ia berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Buraqi al-Marwazi memberi tahu kami, ia berkata: Sulaiman bin Jabir bin Sulaiman bin Yasir bin Jabir menceritakan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl bin Musa as-Sinani memberi tahu kami, dari Muhammad bin Amr, dari Abi Salamah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya di tengah umatku ada seorang laki-laki," dan dalam hadits al-Qashri:

    يَكُونُ فِي أُمَّتِي رَجُلٌ اسْمُهُ النُّعْمَانُ، وَكُنْيَتُهُ أَبُو حَنِيفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِي، هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِي، هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِي

    "Akan ada di tengah umatku seorang laki-laki yang namanya An-Nu'man, dan kunyahnya Abu Hanifah; dia adalah pelita umatku, dia adalah pelita umatku, dia adalah pelita umatku."

    Abu al-Ala' al-Wasithi berkata kepadaku: Al-Qadhi Abu Abdillah ash-Shaimari menulis hadits ini dariku). Al-Khatib al-Baghdadi mengomentarinya dengan mengatakan: "Ini adalah hadits maudu' (palsu), yang riwayatnya hanya menyendiri pada al-Buraqi.") Selesai.

  2. Disebutkan dalam al-Musnad al-Mustakhraj 'ala Shahih Muslim karya Abu Nu'aim Ahmad bin Abdillah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mihran al-Ashbahani (wafat: 430 H) di bawah nomor 248: ("Ma'mun bin Ahmad as-Sulami dari penduduk Herat adalah orang yang buruk dan pendusta (wadha’), ia meriwayatkan hadits-hadits maudu’ dari para perawi tsiqah seperti Hisyam bin Ammar dan Duhaim. Di antara yang ia ceritakan dari Ahmad al-Juibari sang pembohong, dari Abdullah bin Ma'dan al-Azdi, dari Anas secara musnad:

    يَكُونُ فِي أُمَّتِي رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ أَضَرَّ عَلَى أُمَّتِي مِنْ إِبْلِيسَ وَيَكُونُ فِي أُمَّتِي رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو حَنِيفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِي

    "Akan ada di tengah umatku seorang laki-laki yang dipanggil Muhammad bin Idris, ia lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis; dan akan ada di tengah umatku seorang laki-laki yang dipanggil Abu Hanifah, dia adalah pelita umatku.")

    Beliau (Abu Nu'aim) mengomentarinya dengan mengatakan: Perawi hadits ini layak mendapatkan laknat dari Allah Ta'ala, dari Rasul-Nya, dan dari kaum Muslim.

  3. Disebutkan dalam kitab at-Ta'yin fi Syarh al-Arba'in karya Sulaiman bin Abdul Qawi bin Abdul Karim at-Tufi ash-Syarshari, Abu ar-Rabi', Najmuddin (wafat: 716 H): (Adapun hadits "huwa siraju ummati", maka Ibnu al-Jauzi memasukkannya dalam kitab al-Maudu'at (Hadits-hadits Palsu), dan beliau menyebutkan bahwa ketika mazhab Syafi'i menjadi masyhur, kalangan Hanafi (yang fanatik) ingin memadamkannya, lalu mereka berbicara dengan Ma'mun bin Ahmad as-Sulami dan Ahmad bin Abdillah al-Juibari, yang keduanya adalah para pendusta).

  4. Disebutkan dalam kitab Kasyf al-Khafa' wa Muzil al-Ilbas karya Ismail bin Muhammad bin Abdul Hadi al-Jarrah al-Ajluni ad-Dimasyqi, Abu al-Fida' (wafat: 1162 H): ("Abu Hanifah siraju ummati", Al-Qari berkata dalam kitab al-Maudu'at al-Kubra miliknya: Hadits ini adalah maudu' (palsu) berdasarkan kesepakatan para ahli hadits).

Demikianlah, maka ungkapan "An-Nu'man siraju ummati" adalah hadits maudu'.

Saudaramu, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

09 Dzulqa'dah 1438 H 01/08/2017 M

Link Jawaban dari Laman Facebook Amir: Facebook

Link Jawaban dari Laman Google Plus Amir: Google Plus

Link Jawaban dari Laman Twitter Amir: Twitter

Link Jawaban dari Situs Web Amir: Web

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda