Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Al-Qadha wal Qadar

August 22, 2022
2800

Seri Jawaban Syekh yang Mulia Ata bin Khalil Abu al-Rashta, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau "Fikri"

Jawaban Pertanyaan

Al-Qadha wal Qadar

Kepada Muhammad Tahir Hamidi

Pertanyaan:

Bismillahirrahmanirrahim

Dari Afghanistan untuk Amir kami yang mulia!

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Saya memohon kepada Allah SWT semoga Anda berada dalam kesehatan dan keselamatan, dan kami memohon kepada-Nya agar menyegerakan pembukaan (al-fath), kemenangan, dan kekuasaan (at-tamkin) bagi kita. Amir kami yang mulia! Akhir-akhir ini saya sedang membaca kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, lalu saya menemukan pendapat dalam masalah al-Qadar yang berbeda dengan apa yang saya temukan dalam kitab Nizham al-Islam. Saya kutipkan dua pernyataan dari kedua kitab tersebut agar Anda dapat menjelaskan kepada kami sebab perbedaannya, jika memang terdapat perbedaan menurut pemahaman saya.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam kitab Nizham al-Islam pada halaman 19 (cetakan keenam) setelah memaparkan tentang kekhasan (khawash) manusia: "Khasiat-khasiat tertentu yang diciptakan Allah SWT dalam benda-benda, naluri (al-ghara'iz), dan kebutuhan jasmani (al-hajat al-udhuwiyyah) yang ada pada manusia inilah yang disebut al-Qadar. Sebab, hanya Allah semata yang menciptakan benda-benda, naluri-naluri, dan kebutuhan-kebutuhan jasmani tersebut, serta telah menetapkan ukuran (qaddara) khasiat-khasiat di dalamnya. Khasiat-khasiat tersebut bukanlah berasal dari benda itu sendiri, dan manusia sama sekali tidak memiliki peran atau pengaruh di dalamnya."

Kemudian beliau mendefinisikan al-Qadar dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I, halaman 31 (cetakan keenam), di mana beliau berkata: "Al-Qadar adalah khasiat yang dimunculkan (yuhditsuha) manusia pada suatu benda, seperti sifat membakar pada api dan sifat memotong pada pisau."

Bukankah terdapat perbedaan dalam dua pernyataan ini mengenai siapa yang mewujudkan dan memunculkan khasiat dalam benda-benda dan manusia? Apa yang dimaksud dengan apa yang tercantum dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah? Apakah yang dimaksud dengan kata kerja (yuhditsu) adalah sesuatu yang lain selain penciptaan (al-khalq) dan perwujudan (al-ijad)? Jika Anda memberikan penjelasan mengenai apa yang kami lihat sebagai pertentangan dan kontradiksi ini, niscaya Anda akan menghilangkan keganjalan di hati kami.

Semoga Allah membalas Anda dengan balasan terbaik dan melindungi Anda dari segala keburukan serta hal yang tidak menyenangkan.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pertama: Tercantum dalam Nizham al-Islam – Bab Al-Qadha wal Qadar hal. 18-19:

"Adapun al-Qadar, maka sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang terjadi, baik dalam lingkaran yang menguasai manusia maupun lingkaran yang dikuasai manusia, terjadi dari benda-benda dan terhadap benda-benda yang berasal dari materi alam semesta, manusia, dan kehidupan. Allah telah menciptakan khasiat-khasiat tertentu bagi benda-benda ini. Allah menciptakan khasiat membakar pada api, khasiat terbakar pada kayu, khasiat memotong pada pisau, dan menjadikannya sebagai sifat yang melekat sesuai sistem keberadaan (nizham al-wujud) yang tidak akan menyimpang. Ketika tampak bahwa khasiat tersebut menyimpang, berarti Allah telah mencabut khasiat tersebut, dan itu merupakan perkara yang luar biasa (khariqul ‘adah). Hal ini terjadi pada para nabi dan menjadi mukjizat bagi mereka. Sebagaimana Allah menciptakan khasiat pada benda-benda, Dia juga menciptakan naluri-naluri (al-ghara’iz) dan kebutuhan jasmani (al-hajat al-udhuwiyyah) pada manusia, serta menjadikan di dalamnya khasiat-khasiat tertentu seperti khasiat pada benda-benda. Allah menciptakan khasiat kecenderungan seksual pada naluri melestarikan keturunan (gharizah an-naw’), dan pada kebutuhan jasmani menciptakan khasiat seperti rasa lapar, haus, dan sebagainya, serta menjadikannya melekat padanya sesuai sunnatullah dalam kehidupan. Khasiat-khasiat tertentu yang diciptakan Allah SWT dalam benda-benda, naluri-naluri, dan kebutuhan jasmani yang ada pada manusia inilah yang disebut al-Qadar. Sebab, hanya Allah semata yang menciptakan benda-benda, naluri-naluri, dan kebutuhan jasmani tersebut, serta menetapkan ukuran (qaddara) khasiat-khasiat di dalamnya. Khasiat-khasiat tersebut bukan berasal dari benda-benda itu sendiri, dan manusia sama sekali tidak memiliki peran atau pengaruh di dalamnya. Manusia wajib mengimani bahwa yang menetapkan ukuran (qaddara) khasiat-khasiat dalam benda-benda ini adalah Allah SWT. Khasiat-khasiat ini memiliki potensi bagi manusia untuk melakukan suatu perbuatan melalui perantaraan khasiat tersebut, baik perbuatan yang sesuai perintah Allah sehingga menjadi kebaikan, atau menyalahi perintah Allah sehingga menjadi keburukan, baik dalam penggunaan benda-benda dengan khasiatnya, maupun dalam memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan jasmaninya; disebut baik jika sesuai dengan perintah dan larangan Allah, dan disebut buruk jika menyalahi perintah dan larangan Allah.

Dari sinilah, perbuatan-perbuatan yang terjadi dalam lingkaran yang menguasai manusia berasal dari Allah, baik yang baik maupun yang buruk. Demikian pula khasiat-khasiat yang ada dalam benda-benda, naluri-naluri, dan kebutuhan jasmani berasal dari Allah, baik menghasilkan kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk beriman kepada al-Qadha, baik yang baik maupun yang buruk, bahwa itu berasal dari Allah SWT, artinya meyakini bahwa perbuatan-perbuatan yang berada di luar jangkauannya berasal dari Allah SWT. Dan wajib beriman kepada al-Qadar, baik yang baik maupun yang buruk, bahwa itu berasal dari Allah SWT, artinya meyakini bahwa khasiat-khasiat benda yang ada dalam tabiatnya berasal dari Allah SWT, baik yang menghasilkan kebaikan maupun keburukan, dan manusia sebagai makhluk tidak memiliki pengaruh apa pun di dalamnya. Maka, ajal manusia, rezekinya, dan jiwanya, semuanya berasal dari Allah. Sebagaimana kecenderungan seksual dan kecenderungan memiliki yang ada pada naluri melestarikan keturunan dan naluri mempertahankan diri, serta rasa lapar dan haus yang ada pada kebutuhan jasmani, semuanya berasal dari Allah SWT..."

Artinya, al-Qadar dalam istilah (al-Qadha wal Qadar) adalah khasiat benda-benda yang Allah ciptakan di dalamnya...

Kedua: Telah tercantum pula dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I – Bab Akidah Islam hal. 32-33:

"...Adapun al-Qadha wal Qadar, maka dalilnya adalah akli (akal). Sebab, al-Qadha berkaitan dengan dua perkara: Pertama, apa yang dituntut oleh sistem keberadaan (nizham al-wujud), dan ini dalilnya akli karena berkaitan dengan Sang Pencipta (al-Khaliq). Perkara kedua adalah perbuatan manusia yang terjadi dari dirinya atau menimpa dirinya secara terpaksa, dan itu adalah sesuatu yang terindera yang dapat dijangkau oleh indera, maka dalilnya akli. Sedangkan al-Qadar adalah khasiat yang dimunculkan (yuhditsuha) manusia pada suatu benda, seperti sifat membakar pada api dan sifat memotong pada pisau. Khasiat ini adalah sesuatu yang terindera yang dapat dijangkau oleh indera, maka dalil al-Qadar dengan demikian adalah akli..."

Artinya, al-Qadar dalam istilah (al-Qadha wal Qadar) adalah khasiat benda-benda yang dimunculkan manusia di dalamnya...

Ketiga: Demikian pula tercantum dalam kitab yang sama, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I – Bab Al-Qadha wal Qadar hal. 94-99:

"Makna al-Qadha wal Qadar, atau dengan ungkapan lain masalah al-Qadha wal Qadar, adalah perbuatan-perbuatan hamba dan khasiat-khasiat benda. Hal itu karena masalah yang dikemukakan adalah perbuatan hamba dan hasil dari perbuatan-perbuatan tersebut, yakni khasiat-khasiat yang dimunculkan hamba pada benda-benda; apakah semua itu ciptaan Allah, Dialah yang menciptakan dan mewujudkannya? Ataukah itu berasal dari hamba, yakni hambalah yang menciptakan dan mewujudkannya?...

Adapun al-Qadar adalah bahwa perbuatan-perbuatan yang terjadi, baik dalam lingkaran yang dikuasai manusia maupun lingkaran yang menguasainya, terjadi dari benda-benda dan terhadap benda-benda dari materi alam semesta, manusia, dan kehidupan. Maka perbuatan ini menimbulkan suatu pengaruh (atsar), yakni perbuatan tersebut mengakibatkan adanya suatu perkara.

Maka apakah perkara yang dimunculkan manusia pada benda-benda yang berupa khasiat-khasiat itu diciptakan oleh manusia di dalamnya, ataukah diciptakan oleh Allah SWT dalam benda-benda tersebut sebagaimana Dia menciptakan benda-benda itu sendiri?

Orang yang meneliti dengan saksama akan mendapati bahwa perkara-perkara yang terjadi pada benda-benda ini berasal dari khasiat benda-benda tersebut, bukan dari perbuatan manusia. Buktinya, manusia tidak mampu mewujudkannya kecuali pada benda-benda yang memang memiliki khasiat tersebut. Adapun benda-benda yang tidak memiliki khasiat tersebut, maka manusia tidak mungkin bisa mewujudkan apa yang diinginkannya pada benda itu. Oleh karena itu, perkara-perkara ini bukan termasuk perbuatan manusia, melainkan termasuk khasiat benda-benda. Allah Ta'ala telah menciptakan benda-benda dan menetapkan ukuran (qaddara) khasiat-khasiat di dalamnya sedemikian rupa sehingga tidak dihasilkan darinya selain apa yang telah Dia tentukan ukurannya...

Sebagaimana Allah menciptakan khasiat pada benda-benda, Dia juga menciptakan naluri-naluri dan kebutuhan jasmani pada manusia, serta menjadikan di dalamnya khasiat-khasiat tertentu seperti khasiat benda-benda. Allah menciptakan pada naluri melestarikan keturunan khasiat kecenderungan seksual misalnya, menciptakan pada naluri mempertahankan diri khasiat kepemilikan misalnya, dan pada kebutuhan jasmani khasiat rasa lapar misalnya, serta menjadikan khasiat-khasiat ini melekat padanya sesuai sunnatullah. Khasiat-khasiat tertentu yang diciptakan Allah SWT dalam benda-benda, naluri-naluri, dan kebutuhan jasmani yang ada pada manusia inilah yang disebut al-Qadar. Karena Allah semata yang menciptakan benda-benda, naluri-naluri, dan kebutuhan jasmani, serta menetapkan ukuran (qaddara) khasiat-khasiat di dalamnya...

Artinya, Allah menciptakannya dan menciptakan di dalamnya khasiat-khasiat tertentu, maka ia berasal dari Allah Ta’ala, dan bukan dari hamba. Hamba sama sekali tidak memiliki urusan maupun pengaruh di dalamnya. Inilah al-Qadar. Maka saat itu dikatakan bahwa al-Qadar dalam pembahasan (al-Qadha wal Qadar) adalah khasiat benda-benda yang dimunculkan manusia di dalamnya, dan manusia wajib mengimani bahwa yang menetapkan ukuran (qaddara) khasiat pada benda-benda ini adalah Allah SWT..."

Sebagaimana yang Anda lihat, telah disebutkan dalam kitab yang sama bahwa al-Qadar dalam pembahasan (al-Qadha wal Qadar) adalah (khasiat benda-benda yang dimunculkan manusia di dalamnya...). Kemudian dijelaskan perbedaan antara perbuatan manusia dalam memunculkannya dengan penciptaan Allah terhadapnya, beliau berkata: (Khasiat-khasiat yang dimunculkan hamba pada benda-benda; apakah semua itu ciptaan Allah, Dialah yang menciptakan dan mewujudkannya? Ataukah itu berasal dari hamba, yakni hambalah yang menciptakan dan mewujudkannya?) Kemudian beliau memberikan penjelasan tambahan: (Artinya, Allah menciptakannya dan menciptakan di dalamnya khasiat-khasiat tertentu, maka ia berasal dari Allah Ta’ala, dan bukan dari hamba. Hamba sama sekali tidak memiliki urusan maupun pengaruh di dalamnya. Inilah al-Qadar. Maka saat itu dikatakan bahwa al-Qadar dalam pembahasan "al-Qadha wal Qadar" adalah khasiat benda-benda yang dimunculkan manusia di dalamnya, dan manusia wajib mengimani bahwa yang menetapkan ukuran khasiat pada benda-benda ini adalah Allah SWT...)

Jadi, manusia dengan perbuatannya melalui eksperimen terhadap benda-benda telah menampakkan sifat-sifat dan khasiat benda-benda yang telah Allah ciptakan di dalamnya. Artinya, dialah yang menyingkapnya jika khasiat-khasiat tersebut memang telah Allah ciptakan pada benda tersebut. Adapun jika khasiat tersebut tidak diciptakan pada benda itu, maka manusia tidak akan mampu memunculkannya, menampakkannya, atau menyingkapnya. Apa yang kami kutip dari kitab di atas menjelaskan hal tersebut dengan gamblang, yaitu bahwa makna (dimunculkan oleh manusia) adalah bahwa dialah yang menyingkapnya atau menampakkannya jika khasiat itu memang telah diciptakan pada benda tersebut.

Saya berharap penjelasan ini mencukupi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saudara Anda, Ata bin Khalil Abu al-Rashta

24 Muharram Al-Haram 1444 H Bertepatan dengan 22/08/2022 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah melindunginya): Facebook

Link jawaban dari situs web Amir (semoga Allah melindunginya): Web

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda