Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: KTT Turki-Rusia

August 18, 2016
5696

Pertanyaan:

Presiden Turki Erdogan melakukan kunjungan ke Rusia pada 9/8/2016, sementara "getaran" akibat upaya kudeta yang gagal di Turki belum sepenuhnya berakhir. Mengapa kunjungan ini terkesan sangat terburu-buru? Lalu apa tujuannya, terutama karena perwakilan dari kementerian luar negeri, militer, dan intelijen juga turut mengunjungi Rusia? Apakah kunjungan ini terkait dengan krisis Suriah? Ataukah untuk "memperbaiki" hubungan Turki-Rusia setelah krisis jatuhnya pesawat Rusia? Jazakallah khairan.

Jawaban:

Untuk mengetahui alasan ketergesaan dan tujuannya, kita perlu meninjau hal-hal berikut:

  1. Pembicaraan mengenai kunjungan ini sebenarnya sudah ada sebelum upaya kudeta pada 15/7/2016. Awalnya, KTT antara kedua presiden direncanakan berlangsung di sela-sela KTT G20 di Tiongkok pada bulan September 2016. Namun, pertemuan antara Presiden Rusia Putin dan Presiden Turki Erdogan dipercepat menjadi bulan Agustus karena Amerika Serikat berkepentingan untuk segera memasukkan Turki ke dalam garis penyelesaian krisis sebagai alat yang efektif, setelah alat-alat lainnya (Iran, Rusia, dll.) gagal. Menteri Luar Negeri Turki telah mengumumkan percepatan KTT tersebut dan menyatakan bahwa pertemuan mungkin diadakan pada bulan Agustus di Rusia. (Kantor berita Interfax mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Turki bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mungkin bertemu selama bulan Agustus di Sochi... Al-Arabiya.net, 2/7/2016). Topik kunjungan ini dibahas dalam kerangka suasana "rekonsiliasi" agar Turki dapat memainkan peran dalam menyelesaikan krisis Suriah sesuai dengan kebijakan Amerika. Kami telah menjelaskan hal ini dalam Jawab Pertanyaan yang kami rilis pada 14/7/2016, di mana kami katakan: ("Amerika menginginkan peran Turki saat ini untuk menekan kuat oposisi Suriah agar kembali ke proses Jenewa dan solusi damai... serta mengancam akan meninggalkan oposisi Suriah jika mereka menolak bergabung dalam proses negosiasi, melalui penonjolan kerja sama Turki-Rusia: 'Menteri Luar Negeri Rusia mengatakan: Kami berharap ada kontak antara militer Rusia dan Turki mengenai Suriah. Al-Arabiya.net 2/7/2016'... dan bahwa Turki tidak lagi menentang intervensi Rusia di Suriah... Tidak tertutup kemungkinan Turki akan melampaui metode tekanan politik menuju sarana militer dengan dalih memerangi terorisme organisasi tertentu, yang tidak terpisah dan tidak berbeda dari oposisi bersenjata lainnya—dalih yang sama yang digunakan Rusia saat membom oposisi! Pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia tentang kontak antara militer Rusia dan Turki menunjukkan kemungkinan ini...").

    Kami juga menambahkan: ("Obama ingin bertindak seperti pendahulunya dari Demokrat, Clinton, yang mengerahkan segala upaya di tahun terakhir masa jabatannya untuk mengumpulkan organisasi (PLO) dan Yahudi dalam solusi negosiasi yang menentukan bagi masalah Palestina. Meskipun ia gagal, ia berhasil mempertemukan Abu Ammar dan Ehud Barak... Sekarang Obama mengerahkan segala upaya untuk mengumpulkan oposisi dan rezim dalam solusi negosiasi agar dapat dikatakan bahwa ia melakukan sesuatu yang patut dikenang di akhir masa jabatannya. Perbedaan antara upaya Clinton dan Obama adalah bahwa Clinton melakukan upayanya secara terang-terangan di depan para agennya, sementara Obama bekerja melalui para agen dan alat-alatnya... dan upayanya tersembunyi di balik mereka! Amerika di eranya menunjukkan ketergantungan yang lebih besar pada para pengikutnya. Setelah Iran dan sekutunya, lalu Rusia, dan di tengah kebuntuan baru Amerika di Suriah, Amerika menginstruksikan Erdogan untuk berdamai dengan Rusia... Setelah intervensi Iran dan Rusia menemui jalan buntu di Suriah, Amerika bergegas mendorong Turki ke sisi Iran dan Rusia untuk mempertahankan pengaruh Amerika di Suriah dan menghancurkan aspek Islami dari revolusi Suriah... Demikianlah Rusia yang membom Suriah siang dan malam, kini ia dan Turki bekerja sama untuk memerangi 'terorisme' di Suriah, dan pembicaraan di antara mereka berlangsung dalam 'suasana yang sangat bersahabat'. Bahkan Menteri Luar Negeri Rusia meminta adanya kontak antara militer Rusia dan Turki mengenai Suriah!!...") Selesai kutipan dari jawaban kami sebelumnya tertanggal 14/7/2016.

  2. Diperkirakan peran Turki akan segera dimulai, namun upaya kudeta oleh perwira loyalis Inggris (Kemalis) membekukan peran tersebut dan menyibukkan rezim dengan masalah internal. Pembekuan peran ini bisa saja berlanjut sampai Turki selesai menangani dampak "gempa" kudeta yang gagal seperti yang dikatakan Erdogan. Namun, apa yang terjadi di awal Agustus 2016 berupa kampanye para pejuang untuk memutus pengepungan di Aleppo dan keberhasilan mereka sampai batas tertentu, membuat Amerika memanfaatkan kampanye ini untuk mempercepat peran Turki, sehingga dilakukanlah kunjungan ke Rusia dan normalisasi hubungan dengannya untuk memulai solusi politik Amerika melalui peran aktif Turki... Amerika ingin kampanye yang kuat ini kehilangan buahnya; alih-alih menjadi awal kemenangan, Amerika menjadikannya awal negosiasi. Amerika menjadikannya bahan yang dibawa oleh Turki untuk mempromosikan "negosiasi yang seimbang" yang disebutkan oleh Erdogan, dengan asumsi bahwa Turki dengan berbagai sarananya dapat membuat pihak-pihak terkait berkumpul untuk solusi negosiasi Amerika di hari-hari terakhir Obama yang tinggal sedikit, dengan memanfaatkan isu negosiasi yang seimbang!! (Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari ini menyerukan diadakannya pertemuan regional untuk Suriah. Pernyataannya muncul dalam wawancara panjang dengan saluran Al-Jazeera Qatar, yang disiarkan Sabtu malam ini... Erdogan menambahkan bahwa situasi di Aleppo menyedihkan namun oposisi telah mengembalikan keseimbangan baru-baru ini. Souriat Net, Al-Khaleej Al-Jadeed 6/8/2016).

    Begitulah yang terjadi, kunjungan pun dilakukan. Ketergesaan dari Obama kepada Erdogan ini bertujuan untuk segera mulai bekerja mengumpulkan pihak-pihak dalam putaran negosiasi baru "keempat" sebagai penutup masa jabatan Obama. Putaran inilah yang diisyaratkan oleh Menteri Luar Negeri Turki: (Istanbul "Reuters" - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pada hari Jumat bahwa pembicaraan mengenai masa depan Suriah harus dilanjutkan dan menyerukan putaran keempat pembicaraan damai Jenewa. Reuters Arabic 5/8/2016)... Maka terjadilah kunjungan dan KTT tersebut...

  3. KTT ini dianggap sebagai langkah penutup dari proses normalisasi hubungan antara Rusia dan Turki setelah ketegangan besar yang terjadi pasca jatuhnya pesawat tempur Rusia. Proses normalisasi ini dilakukan dengan cara yang memalukan bagi Turki; tunduk pada syarat-syarat Putin, Erdogan meminta maaf atas jatuhnya pesawat Rusia pada 27/6/2016. Erdogan segera menghubungi Presiden Rusia pada 29/6/2016 dalam suasana yang digambarkan bersahabat, disusul oleh Menteri Luar Negerinya yang mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov pada 1/7/2016 di kota Sochi, Rusia. Pertemuan tersebut juga membahas tanggal KTT Putin-Erdogan di St. Petersburg. Kemudian muncul isyarat dari Menteri Luar Negeri Turki tentang kemungkinan memberikan Rusia pangkalan militer di Turki untuk melaksanakan serangan mereka di Suriah. Keruntuhan sikap Turki di hadapan Rusia ini bukan karena Turki menderita akibat sanksi ekonomi yang dijatuhkan Rusia pada Ankara, melainkan semata-mata karena dalamnya kebuntuan Amerika di Suriah. Amerika ingin mendorong Turki untuk berada di samping Rusia dan Iran guna menyelesaikan krisis Suriah. Karena itulah muncul gambaran memalukan dari konsesi Turki di hadapan Rusia, yang berarti hal itu disebabkan oleh keterikatan Turki dengan Amerika dan pelaksanaannya terhadap kebijakan Amerika. Inilah yang mendorong langkah Turki tersebut...

  4. Erdogan bersikeras untuk menyelesaikan kunjungan ke Rusia, yang telah diprogramkan sebelum upaya kudeta gagal pada 15/7/2016, meskipun ia sangat sibuk dengan situasi domestik di Turki, menangani apa yang disebutnya sebagai "gempa" dan kekhawatirannya akan "gempa susulan". Ia meminta massa di Turki saat pertemuan besar di Istanbul pada hari Minggu 7/8/2016 untuk tetap berada di lapangan umum hingga hari Rabu, yaitu setelah kepulangannya dari Rusia, karena khawatir akan pergerakan baru dari militer loyalis Inggris. Ia juga bersikeras meskipun kejahatan brutal Rusia meningkat di Aleppo... Namun meskipun demikian, ia tetap bersikeras mengadakan pertemuan dengan Putin dan tidak menundanya, karena besarnya keinginannya untuk menutup lembaran masa lalu dengan Rusia, serta karena kuatnya dorongan Amerika terhadap Turki ke arah Rusia. Putin menyindir kegigihan ini dengan mengatakan ("Presiden Turki menemukan kesempatan untuk mengunjungi Rusia meskipun situasi sulit di Turki setelah upaya kudeta yang gagal pada malam 15 dan 16 Juli" Russia Today 9/8/2016).

  5. Sangat jelas bahwa krisis Suriah adalah topik krusial dalam KTT Erdogan-Putin. Kedua presiden tidak membahas krisis Suriah selama pembicaraan yang melibatkan anggota delegasi, melainkan menunda pertemuan mengenai Suriah hingga malam hari dengan melibatkan para menteri luar negeri dan perwakilan intelijen untuk membahas cara-cara penyelesaian krisis Suriah. Putin berkomentar tentang pertemuan tersebut: "Kami akan bertukar informasi dan mencari solusi." Penundaan pertemuan mengenai Suriah hingga malam hari, dan menjauhkan anggota delegasi kecuali kementerian luar negeri dan intelijen, menunjukkan kerahasiaan dan urgensi besar yang diberikan kedua pihak pada isu Suriah. Setelah hambatan sebelumnya disingkirkan, Suriah menjadi masalah utama bagi kedua pihak, dan yang diminta oleh Amerika adalah mengumpulkan pihak-pihak, rezim dan oposisi, di meja perundingan sebagai penutup masa jabatan Obama!

  6. Selama dan setelah KTT, peran Turki mulai muncul secara aktif:

    a- (Istanbul (Reuters) - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pada hari Jumat bahwa pembicaraan mengenai masa depan Suriah harus dilanjutkan dan menyerukan putaran keempat pembicaraan damai Jenewa. Reuters Arabic 5/8/2016)

    b- (Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari ini menyerukan diadakannya pertemuan regional untuk Suriah. Pernyataannya muncul dalam wawancara panjang dengan saluran Al-Jazeera Qatar, yang disiarkan Sabtu malam ini... Erdogan menambahkan bahwa situasi di Aleppo menyedihkan namun oposisi telah mengembalikan keseimbangan baru-baru ini. Souriat Net, Al-Khaleej Al-Jadeed 6/8/2016)

    c- (Di sisi lain, kantor berita Rusia kemarin mengutip Duta Besar Turki untuk Rusia, Umit Yardim, yang mengatakan bahwa pemerintah Turki percaya bahwa kepemimpinan Suriah saat ini dapat berpartisipasi dalam pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis di Suriah. Kantor berita TASS mengutip Yardim yang mengatakan bahwa Ankara tidak menentang kepemimpinan Suriah saat ini memainkan peran tertentu dalam proses transisi politik. Ash-Shabah 12/8/2016)

    d- Adapun Perdana Menteri, dialah yang lebih dahulu melontarkan topik solusi politik dengan rezim Suriah sejak dimulainya rekonsiliasi dengan Rusia sesaat sebelum kudeta. Al-Arabiya.net pada 13/7/2016 melaporkan dengan judul: "Kejutan... Turki bicara tentang 'normalisasi' dengan rezim Suriah": Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menyatakan: (Ankara (Turki) - Reuters, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan pada hari Rabu bahwa ia yakin akan pemulihan hubungan normal negaranya dengan Suriah. Al-Arabiya.net, 13/7/2016). Demikian pula dilaporkan oleh BBC: (Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan bahwa Turki berupaya mengembangkan hubungan baik dengan Suriah, dalam tahap terbaru dari upayanya meningkatkan hubungan dengan tetangga-tetangganya. BBC Arabic 13/7/2016).

  7. Demikianlah Turki memasuki kancah krisis Suriah secara aktif, namun bukan untuk menolong rakyat Suriah dan menyelamatkan mereka dari kebiadaban Rusia dan Iran, melainkan untuk menjadi bagian dari tiga serangkai setan bersama Rusia dan Iran yang memudahkan kejahatan mereka dan membantu mereka melaksanakan solusi penyerahan diri ala Amerika melalui negosiasi dengan rezim thaghut Syam... KTT yang mempertemukan Putin dan Erdogan itu sepenuhnya adalah keburukan. Hasilnya adalah Turki secara terbuka menarik diri dari semua klaim dukungannya terhadap revolusi di Suriah. Bahkan penarikan diri itu mencapai tahap di mana Menteri Luar Negeri Turki mengatakan bahwa Rusia meminta Turki memberikan "koordinat" di Suriah, yaitu lokasi para pejuang yang dikumpulkan oleh intelijen Turki agar Rusia dapat mengarahkan serangan kepadanya. Karena desakan Amerika agar memberikan apa yang diinginkan Rusia, diputuskan setelah KTT bahwa delegasi intelijen tingkat tinggi dari Turki akan berangkat ke Moskow keesokan harinya, yakni segera.

    Menteri Luar Negeri Turki telah menyatakan pada 10/8/2016 kepada kantor berita Anadolu (bahwa pandangan antara negaranya dan Rusia selaras mengenai perlunya gencatan senjata di Suriah dan pemberian bantuan kemanusiaan serta menemukan solusi politik, dan bahwa mekanisme kerja sama yang kuat dengan Moskow akan dibangun di Suriah untuk tujuan tersebut. Ia menambahkan bahwa direktur intelijen, perwakilan kementerian luar negeri, dan perwakilan militer Turki akan membahas berkas-berkas ini di St. Petersburg pada malam hari yang sama. Al-Jazeera.net, 11/8/2016).

    Apa yang termuat dalam pernyataan Menteri Luar Negeri Turki (gencatan senjata di Suriah, pemberian bantuan kemanusiaan, dan menemukan solusi politik) adalah posisi Amerika itu sendiri, yang juga diserukan oleh Rusia dan menjadi alasan Rusia berperang. Kecepatan pengiriman pejabat intelijen, militer, dan luar negeri ke Moskow segera setelah keberangkatan Erdogan menunjukkan bahwa Turki telah melengkapi sisi-sisi segitiga Rusia-Iran-Turki! Wakil Menteri Luar Negeri Iran telah menegaskan "bahwa kawasan membutuhkan hubungan baik antara negaranya, Rusia, dan Turki. Ibrahim Rahimpur meminta kerja sama baru di bawah formula 'Turki-Rusia-Iran' dan menegaskan bahwa negaranya siap untuk melangkah ke arah ini." Al-Jazeera.net, 8/8/2016). Pada Jumat 12/8/2016, Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, bertemu di Ankara dengan para pejabat Turki yang menegaskan kesepakatan untuk mengintensifkan upaya bersama dengan Iran mengenai krisis Suriah. Erdogan menerima Menteri Iran Javad Zarif di istana kepresidenan dalam pertemuan tertutup selama tiga jam tanpa pengumuman apa pun setelahnya, yang menunjukkan ketergesaan dan urgensi pengaturan Amerika untuk memasukkan Turki ke panggung Suriah dan membantu Rusia serta Iran dalam melaksanakan tugas-tugas Amerika.

  8. Dari semua itu tampak jelas bahwa Turki telah masuk dengan kuat dalam mengupayakan solusi politik di Suriah dengan cara Amerika dengan ketergesaan yang mencolok mata, meskipun Turki sendiri belum tenang kondisi internalnya pasca upaya kudeta. Semua ini menunjukkan kuatnya desakan dari Washington. Tampaknya Turki akan berjalan sesuai rencana Amerika ini bersama Iran dan Rusia dengan cara sebagai berikut:

    • Secara Politik: Akan tampak jelas bagi para pejuang bahwa Turki telah mengubah kebijakannya, dan mulai condong kepada rezim Suriah, Iran, dan Rusia. Turki akan menyerukan kepada para pejuang dan menekan mereka agar menerima formula solusi Amerika di Jenewa, yaitu bernegosiasi dengan rezim dan bersepakat dengannya mengenai masa depan Suriah, serta masuk ke dalam pemerintahan bersama antara pejuang dan rezim. Turki juga akan menekan pejuang dengan dalih aspek kemanusiaan untuk mencegah pengepungan pejuang terhadap wilayah rezim di Aleppo, dan mempromosikan "keseimbangan negosiasi" dengan anggapan bahwa pejuang telah meraih kemenangan di Aleppo yang membuat negosiasi mereka dari posisi kuat. Hal ini dicampur dengan metode tekanan dan kemudian gencatan senjata yang mendahului pengelolaan proses politik demi mencapai semacam "kemenangan" bagi Obama sebelum masa jabatannya berakhir pada akhir Januari tahun depan. Mungkin inilah yang diisyaratkan oleh Perdana Menteri Turki mengenai enam bulan ke depan dalam pernyataannya (Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan pada hari Jumat bahwa diharapkan akan terjadi perkembangan yang sangat penting di Suriah selama enam bulan ke depan. Pernyataan Yildirim ini muncul setelah konferensi pers bersama kemarin antara Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan rekannya dari Iran, Mohammad Javad Zarif. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa negaranya senang dengan pendekatan Rusia-Turki, menekankan bahwa penyelesaian perselisihan dengan Turki mengenai Suriah dimungkinkan melalui intensifikasi dialog. Ia menunjukkan bahwa kerja sama Iran dan Turki di Suriah akan mendukung kuat peluang solusi damai. Al-Arabiya.net, 13/8/2016).

    • Secara Militer: Di bawah bendera memerangi ISIS (daesh), Turki akan memasuki pertempuran di Suriah dalam aliansi dengan Rusia, yang akan segera berubah menjadi kekuatan bersama untuk memaksakan gencatan senjata. Ini mencakup pemberian segala fasilitas kepada Rusia untuk membom para pejuang berdasarkan "koordinat lokasi" yang tidak diketahui Rusia namun dimiliki oleh intelijen Turki. Turki mungkin akan memberikan pangkalan militer kepada Rusia untuk memudahkan misi kriminalnya menyembelih kaum Muslim di Suriah.

    Hal yang sama dilakukan oleh Iran dengan memberikan pangkalan kepada Rusia untuk memudahkan tujuan ini, dan koordinasi antara negara-negara ini telah benar-benar dimulai:

    (Cavusoglu juga mengatakan bahwa pesawat-pesawat Turki akan bergabung dalam operasi melawan organisasi ISIS, menambahkan "Kami akan mempelajari semua detailnya. Kami selalu menyerukan Rusia untuk melakukan operasi bersama melawan organisasi tersebut." Al-Jazeera.net, 1/8/2016). Tentu saja, sebagaimana dalih Rusia, ini akan mencakup semua perlawanan karena lokasi mereka tidak terpisah!

    Hari ini muncul dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia "bahwa pesawat pengebom jarak jauh tipe 'Tu-22M3' dan pengebom tipe 'Su-34' lepas landas pada Minggu 16 Agustus dari bandara Hamedan, Iran, dan melancarkan serangan intensif ke posisi organisasi 'ISIS' dan 'Jazirah Al-Nusra' di provinsi Aleppo, Deir ez-Zor, dan Idlib di Suriah"... Sebelumnya media mengungkapkan bahwa pesawat pengebom tipe 'Tu-22M3' milik angkatan udara Rusia tiba di bandara Hamedan, Iran, untuk berpartisipasi dalam melancarkan serangan ke posisi organisasi teroris 'ISIS' di Suriah. Russia Today 16/8/2016).

  9. Inilah yang direncanakan Amerika untuk dilaksanakan oleh alat-alatnya di Suriah... Inilah makar mereka,

    وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ

    "Dan rencana jahat mereka itu akan hancur." (QS Fatir [35]: 10)

    Sebab, di Syam ada laki-laki yang perniagaan dan jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah. Mereka berada di atas bashirah (pandangan yang terang) dalam urusan mereka. Mereka tidak akan membiarkan—dengan izin Allah—orang-orang jahat itu menjadikan kemenangan para pejuang sebagai jalan menuju negosiasi. Tiga serangkai yang tenggelam dalam kejahatannya itu tidak akan berhasil—dengan izin Allah—begitu pula manajemen dari Washington, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari tanah Syam. Sebagaimana alat-alat Amerika sebelumnya telah gagal, maka alat-alat berikutnya pun akan gagal dengan izin Allah... Para thaghut telah mengetahui selama lima tahun terakhir bahwa di Syam ada kumpulan orang-orang yang ikhlas dan jujur yang tekadnya tidak pernah goyah oleh pengerahan pasukan Amerika, Iran, Rusia, sekutu, dan pengikutnya, bahkan tidak pula oleh orang-orang yang menelantarkan kumpulan jujur itu di tanah Syam. Syam akan tetap tegak—dengan izin Allah—kokoh dan tidak akan membungkuk. Mereka akan menegakkan syariat Allah, Khilafah Rasyidah, yang ikhlas karena Allah SWT dan jujur kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Khilafah itu akan membersihkan negeri-negeri Islam dari semua musuh Islam, dan Allah akan mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.

    وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

    "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS al-Hajj [22]: 40)

13 Dzulqa’dah 1437 H 16/8/2016 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda