Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Opini Umum yang Lahir dari Kesadaran Umum

October 06, 2021
3780

Silsilah Jawaban Syekh Alim yang Mulia Atha’ bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau "Fikri"

Jawaban Pertanyaan

Kepada Mohamed Ali Bouazizi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,

Bismillahirrahmanirrahim.

Beberapa waktu lalu, saya membaca artikel dari salah seorang syabab luar biasa yang saya anggap sebagai salah satu pilar tokoh partai, di mana ia mengatakan: "...Dan pada saat kita mampu mewujudkan opini umum yang cukup terhadap proyek politik Islam yang terejawantah dalam Daulah Islamiyah dan sistem politiknya yang unik, setidaknya di salah satu negeri, disertai dengan kesiapan yang cukup dari pemilik kekuatan dan pertolongan (ahlun nushrah) yang akan merebut kekuasaan dari para agen perampasnya, maka Daulah Islamiyah akan berdiri tegak untuk mengubah wajah sejarah."

Ketika saya mengonfirmasi artikel ini kepadanya, jawabannya adalah: "Opini umum belum memberikan kepemimpinannya kepada kita, meskipun kita memiliki simpanan rasa hormat dan kepercayaan di beberapa negeri. Selain itu, ahlun nushrah pada umumnya tidak memberikan kepemimpinan mereka kepada pihak yang tidak memiliki popularitas yang berbobot di tengah masyarakat."

Saya merasa kecewa setelah mendengar pendapat ini, saya dan sekumpulan syabab di sekitar saya, karena kami hidup dengan pemikiran bahwa opini umum itu sudah ada.

Berdasarkan lingkungan tempat saya tinggal dan kontak saya serta sekumpulan syabab di sekitar saya dengan beberapa pengacara, saya dapat mengatakan dengan penuh percaya diri dan tenang bahwa opini umum itu ada di tengah umat mengenai keniscayaan perubahan atas dasar Islam.

Kita sebagai partai menginginkan opini umum yang disertai dengan kesadaran umum terhadap Islam yang kita tawarkan, dan kita ingin membawa umat ke tingkat tertinggi jika memungkinkan. Namun, menurut pendapat saya, hal itu bukan merupakan syarat untuk memulai proses thalabun nushrah. Sebab, umat selalu memilih Islam secara emosional dan tidak menyelidiki Islam yang ditawarkan oleh Partai An-Nour, An-Nahdhah Tunisia, Ikhwanul Muslimin, atau Erdogan ketika umat memilih mereka. Seandainya mereka menemukan kita berada di arena dan terlibat dalam sistem internasional, niscaya mereka akan memilih kita sebelum memilih mereka, karena umat percaya kepada kita bahkan mendorong kita untuk berpartisipasi dalam pemilu agar mereka bisa memilih kita. Sebab, Islam akan kembali asing sebagaimana ia bermula. Pernyataan bahwa jika kita mengambil kekuasaan sebelum umat memahami Islam yang kita tawarkan, maka umat akan berpaling dari kita atau berkata: "Bukan Islam ini yang saya inginkan," adalah pernyataan yang tidak akurat. Hal itu tidak akan terjadi karena umat pernah menerima pemikiran-pemikiran yang bukan dari Islam pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah atas dasar bahwa itu adalah bagian dari Islam, hanya karena dikatakan oleh para "ulama" atau Syaikhul Islam tanpa menyelidiki kebenarannya. Umat bahkan sampai sekarang menerima apa yang dikatakan oleh para syekh yang diorbitkan di saluran-saluran satelit. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan mengambil kekuasaan, opini umum berada pada Islam meskipun tasyri' (pensyariatan) belum sempurna.

Ketika Taliban berkuasa saat ini, beberapa topik diangkat di kanal Al-Waqiyah mengenai Taliban; apakah kita meminta mereka memproklamirkan Khilafah? Dan kita menasihati mereka agar referensi mereka adalah Islam dan tidak terlibat dalam sistem internasional dan seterusnya... Tiba-tiba pemuda yang sama yang saya kutip pendapatnya tentang opini umum berkata: "Taliban harus menjadikan Islam sebagai referensinya, menjadikan umat sebagai sandarannya, dan memiliki kedalaman di sekitarnya sehingga tidak menganggap ada perbatasan di antara negeri-negeri kaum Muslim." Ini adalah perkataan yang benar dan bagus, namun ia tidak memperhitungkan opini umum sebagaimana yang ia lihat sendiri.

Apakah disyaratkan opini umum tertentu jika partai mengambil kekuasaan, sementara hal itu tidak disyaratkan jika Khilafah diproklamirkan oleh pihak lain?

Mohon penjelasannya, semoga Allah merahmati Anda.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,

Semoga Allah memberkahi Anda atas doa baiknya untuk kami, dan kami pun mendoakan kebaikan untuk Anda.

Adapun jawaban atas pertanyaan Anda, sesungguhnya opini umum yang lahir dari kesadaran umum adalah syarat untuk thalabun nushrah (mencari pertolongan). Di negeri mana pun syarat ini terpenuhi, maka nushrah dicari di sana, dengan catatan negeri tersebut memiliki unsur-unsur kelayakan negara (muqawwimat ad-dawlah). Jika opini umum terwujud di negeri mana pun di wilayah dakwah (al-majal), maka nushrah dicari di sana dan di negeri lain mana pun yang memiliki unsur-unsur kelayakan negara. Artinya, jika opini umum terwujud di salah satu negeri di wilayah dakwah dengan cara tersebut, maka mencari nushrah menjadi wajib di setiap negeri yang memiliki unsur-unsur kelayakan negara, baik negeri itu akan menjadi titik tolak (nuqthah al-irtikaz) maupun untuk digabungkan ke negeri lain.

Opini umum ini telah tercapai pada pertengahan tahun enam puluhan pada abad yang lalu, dan sejak saat itu partai mulai mencari nushrah di seluruh wilayah dakwahnya sesuai dengan kondisi negara-negara tersebut dan sesuai dengan apa yang dipandang oleh kepemimpinan partai. Di bawah ini saya sebutkan beberapa hal yang berkaitan:

1- Kami telah menyebutkan dalam jawaban pertanyaan tertanggal 5 Rabiul Akhir 1389 H yang bertepatan dengan 20/06/1969 M sebagai berikut:

[... Pada awal tahun 1964 M, telah ditemukan sambutan umat terhadap partai di Yordania, yakni di salah satu wilayahnya (dan dipastikan bergabungnya negeri tetangga, artinya telah terwujud opini umum yang lahir dari kesadaran umum serta adanya unsur-unsur kelayakan negara). Dengan demikian, sambutan terhadap partai telah terjadi secara keseluruhan, seolah-olah terjadi di seluruh wilayah dakwahnya. Oleh karena itu, aktivitas mencari nushrah dibatasi pada salah satu dari dua tujuan (pertama, memungkinkannya mengemban dakwah; kedua, menyampaikannya ke kekuasaan). Aktivitas itu dibatasi pada mencari nushrah untuk mengambil kekuasaan. Sejak saat itu hingga sekarang, partai bekerja mencari nushrah untuk mengambil kekuasaan. Mencari nushrah untuk mengambil kekuasaan adalah metode (thariqah) dan bukan teknis (uslub), artinya ia adalah hukum syara' yang wajib diikuti dan bukan salah satu aktivitas yang dituntut oleh realitas. Karena itu, partai terikat dengan aktivitas mencari nushrah. Namun, aktivitas mencari nushrah adalah aktivitas yang besar dan berbahaya, sehingga tidak setiap syabab mampu melakukannya, dan tidak benar bagi partai untuk menyerahkannya kepada sembarang syabab. Oleh karena itu, tidak mungkin menyerahkannya kepada seluruh syabab... Rasulullah ﷺ mencari nushrah dari para pemimpin kabilah atau kepala negara, mencari nushrah dari delegasi-delegasi yang datang ke Mekah, dan dari orang-orang kuat yang mengunjungi Baitullah, artinya beliau mencari nushrah dari kelompok kuat yang layak dimintai pertolongan; Mush'ab bin Umair mencari nushrah dari para pemimpin Madinah, mencari nushrah dari orang-orang kuat kemudian mengumpulkan mereka satu per satu dan membawa mereka sebagai satu kesatuan kepada Rasulullah ﷺ agar mereka benar-benar memberikan pertolongan kepadanya, menyerahkan kekuasaan Madinah, membela dakwah, dan mati demi melindunginya.

Realitas ini adalah realitas yang sama yang dijalani partai dalam mencari nushrah. Partai mencarinya sebagaimana Rasulullah ﷺ mencarinya dan sebagaimana Mush'ab mencarinya, baik dengan cara Rasulullah dalam mencari nushrah dari satu kelompok sekaligus, maupun dengan cara Mush'ab yang disetujui oleh Rasulullah ﷺ, yaitu mencari nushrah dari individu-individu kuat satu per satu kemudian mengumpulkan mereka menjadi satu kelompok agar mereka benar-benar memberikan pertolongan...]

2- Kami telah menyebutkan dalam jawaban pertanyaan tertanggal 12 Muharram 1390 H yang bertepatan dengan 20/03/1970 M sebagai berikut:

(Titik tolak (nuqthah al-irtikaz) adalah tempat di mana negara ditegakkan, yakni tempat di mana partai menerima kekuasaan... Artinya, jika di tempat tersebut tidak tersedia seluruh unsur kelayakan negara, maka ia tidak layak menjadi titik tolak kecuali... jika ada tempat lain atau entitas lain yang dipastikan akan menyambutnya jika negara berdiri di sana, dan seluruh unsur kelayakan negara dapat terpenuhi dari keduanya secara bersama-sama atau dari salah satunya...

... Yordania telah menyambut dengan sendirinya tanpa upaya (khusus) dari partai, maka partai wajib bekerja untuk mengambil kekuasaan di Yordania. Partai pun mulai bekerja di Yordania dan di luar Yordania untuk mewujudkan kekuatan fisik yang cukup dan mampu mengambil kekuasaan melalui jalan mencari nushrah, terutama setelah sambutan tersebut dipastikan oleh entitas lain. Dengan demikian, Yordania memungkinkan untuk menjadi titik tolak, dan memungkinkan untuk mengambil kekuasaan di sana, karena syarat-syarat titik tolak telah terpenuhi di dalamnya.

... Madinah layak menjadi titik tolak karena tersedia unsur-unsur kelayakan negara dibandingkan dengan negara-negara di Jazirah Arab, bahkan Thaif pun layak menjadi titik tolak karena tersedia unsur-unsur kelayakan negara dibandingkan dengan negara-negara di Jazirah...

Maka mencari nushrah adalah perkara yang sangat sulit dan sangat berbahaya. Ia membutuhkan kejantanan dan keberanian yang luar biasa, membutuhkan ketekunan dan teknis-teknis yang luar biasa, serta membutuhkan kesabaran, ketenangan, dan penilaian yang tepat...)

3- Adapun kepemimpinan riil (al-qiyadah al-fi'liyah), maka hal ini sulit terwujud dalam kondisi saat ini sebelum berdirinya negara, karena opini umum mewujudkan kepemimpinan intelektual (al-qiyadah al-fikriyah) dan tidak disertai dengan kepemimpinan riil kecuali jika umat memerintah dirinya sendiri sebagaimana pada zaman Rasulullah ﷺ. Adapun saat ini, negeri-negeri kaum Muslim dikuasai oleh kafir penjajah secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, opini umum yang lahir dari kesadaran umum, yakni kepemimpinan intelektual, jika telah terwujud di bagian mana pun dari wilayah dakwah dan unsur-unsur kelayakan negara terpenuhi di sana, maka mencari nushrah menjadi wajib. Sedangkan kepemimpinan riil, ia akan terwujud saat berdirinya negara dalam situasi seperti yang kita alami saat ini.

4- Kami telah mengeluarkan penjelasan mengenai hal-hal ini dalam jawaban pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan Anda, dan jawaban tersebut kami keluarkan pada 20/09/2011, yang di dalamnya disebutkan:

[- Kesadaran Umum (Al-Wa'yu al-Aam):

* Kesadaran berasal dari kata wa'a (وعي). Secara bahasa: (وعي: الوَعْيُ: حِفْظ القلبِ الشيءَ. وعَى الشَّيْءَ وَالْحَدِيثَ يَعِيه وَعْياً وأَوْعاه: حَفِظَه وفَهِمَه وقَبِلَه، فَهُوَ واعٍ، وَفُلَانٌ أَوْعَى مِنْ فُلَانٍ أَي أَحْفَظُ وأَفْهَمُ. وَفِي الْحَدِيثِ: نَضَّر اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقالَتي فوَعاها، فرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعى مِنْ سامِعٍ) [Lisan al-Arab].

* Umum berarti pemahaman ini mencakup hal-hal yang paling menonjol dalam suatu masalah. Misalnya, kesadaran tentang Khilafah, bukan sekadar pengetahuan parsial tentang kata Khilafah, tetapi juga beberapa hukum yang menonjol di dalamnya; bahwa ia adalah fardu, hanya ada satu khalifah, baiat dilakukan atas dasar keridaan dan pilihan... serta mengetahui beberapa wewenang khalifah yang menonjol seperti pengaturan urusan dalam dan luar negeri... Kita katakan "beberapa", karena kesadaran umum tidak berarti mengetahui seluruh rincian, tetapi cukup secara garis besar agar seseorang dikatakan sadar tentang Khilafah dengan kesadaran umum... demikian pula hal lainnya.

  • Kesadaran umum telah benar-benar terwujud di bagian-bagian wilayah dakwah, dan sebagaimana diketahui, jika ia terwujud di salah satu wilayah, maka tahapan-tahapan amal berjalan beriringan di wilayah lainnya untuk menyusul bagian-bagian yang telah mencapainya... hingga terwujud di seluruh sisi umat dengan izin Allah.

  • Terwujudnya kesadaran umum adalah syarat untuk mulai mencari nushrah... namun tidak disyaratkan harus terwujud di seluruh wilayah dakwah. Kesadaran umum ini telah terwujud di lebih dari satu wilayah sejak awal tahun enam puluhan, sehingga partai mulai mencari nushrah. Setiap negeri yang diputuskan untuk dicari nushrah-nya, maka partai mengintensifkan aktivitasnya dalam opini umum yang lahir dari kesadaran umum agar kedua perkara tersebut terwujud dalam dua garis yang sejajar.

  • Terwujudnya kesadaran umum di suatu tempat, bukan berarti ia tidak akan goyah atau terganggu oleh kekuatan lokal dan internasional, dan tidak berarti kekuatan-kekuatan tersebut tidak mampu menyebarkan penyesatan dan kebatilan...

  • Kami telah menyebutkan di banyak tempat istilah "opini umum yang lahir dari kesadaran umum"... Jika terkadang kami menyebutkan "opini umum" saja, atau "kesadaran umum" saja, maka itu benar karena opini umum yang dituntut adalah yang lahir dari kesadaran umum. Keduanya berada dalam satu rangkaian, dan menyebutkan sebagian rangkaian tanpa menyebutkan bagian lainnya adalah benar...

  • Partai telah mengambil kepemimpinan intelektual umat di lebih dari satu tempat... Namun, mengingat umat tidak memerintah dirinya sendiri, dan tidak mengambil keputusannya sendiri, melainkan keputusan ada di tangan tuan-tuan dari penguasa mereka yang merupakan agen bagi para tuan tersebut... maka kepemimpinan intelektual tidak harus selalu disertai dengan kepemimpinan riil. Seandainya umat memerintah dirinya sendiri, dan penguasanya berasal dari pilihannya, saat itulah kepemimpinan riil menyertai kepemimpinan intelektual. Jika umat menyambutmu secara intelektual, maka kepemimpinan riil mereka akan menjadi milikmu...

Adapun dalam realitas hari ini, kepemimpinan riil mungkin terwujud di sisi tertentu, tetapi kemungkinan besarnya adalah kepemimpinan riil secara umum baru akan benar-benar terwujud setelah menerima kekuasaan, insya Allah.] Selesai.

Sebagaimana yang Anda lihat dalam jawaban sebelumnya, apa yang Anda sampaikan dan apa yang disampaikan oleh saudara yang "luar biasa" tersebut adalah benar dan tidak ada pertentangan di antara kalian berdua, karena:

  • Saudara tersebut tampaknya berbicara sesuai dengan apa yang Anda kutip tentang pengambilan kepemimpinan riil rakyat, di mana ia berkata: (Opini umum belum memberikan kepemimpinannya kepada kita). Ia berbicara tentang opini umum yang mencapai derajat di mana rakyat memberikan kepemimpinan riil mereka kepada kita... dan hal ini belum terwujud dengan cara seperti itu... Padahal terwujudnya kepemimpinan riil bukan syarat untuk mencari nushrah, melainkan cukup dengan opini umum yang lahir dari kesadaran umum, artinya ide-ide kita memiliki rasa hormat dari banyak orang, setidaknya di satu wilayah sebagaimana kami jelaskan di atas. Demikian pula Khilafah yang kita perjuangkan, telah memiliki opini umum, dan itu sudah cukup bagi kewajiban mencari nushrah.

  • Sedangkan Anda berbicara tentang opini umum yang lahir dari kesadaran umum yang membuat partai mencari nushrah dari pemilik kekuatan dan pertahanan (ahlul quwwah wal man’ah), dan hal ini telah terjadi, tidak diragukan lagi...

Semoga jawaban ini mencukupi.

Saudara Anda, Atha’ bin Khalil Abu al-Rashtah

29 Safar al-Khair 1443 H Bertepatan dengan 06/10/2021 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda