Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Konflik di Nigeria dan Kenya

September 08, 2012
3703

Pertanyaan:

Beberapa situasi, peristiwa, kondisi, dan konflik di Nigeria dan Kenya belakangan ini telah menarik perhatian para pengamat... Apakah ini berarti Amerika Serikat, Inggris, atau kekuatan lain telah mengadopsi kebijakan baru untuk mendorong perang saudara yang sedang berlangsung di seluruh Afrika—saat ini di Nigeria, dan di Kenya setelah pemilihan umum tahun 2007—atau apakah peristiwa-peristiwa ini bersifat internal?

Jawaban:

Pertama: Konflik yang sedang berlangsung di Kenya dan ketegangan yang terus berlanjut di antara berbagai suku merupakan hasil dari persaingan antara Amerika Serikat dan Inggris menjelang pemilihan presiden mendatang, yang dijadwalkan pada Maret 2013. Konflik Anglo-Amerika ini berpusat di antara Presiden saat ini, Kibaki, dan rekannya sesama kandidat presiden, Uhuru Kenyatta, yang keduanya loyal kepada Inggris, di satu sisi. Di sisi lain, terdapat Perdana Menteri Raila Odinga, kandidat presiden yang loyal kepada Amerika. Konflik ini berakar pada hasil pemilihan presiden tahun 2007, yang dipersengketakan secara luas antara Odinga dan pendukung Amerika-nya dengan Kibaki dan pendukung Inggris-nya.

Kibaki dan Kenyatta berasal dari kelompok etnis yang sama, yaitu Kikuyu, yang merupakan kelompok etnis terbesar di Kenya. Sementara Raila Odinga berasal dari kelompok Luo, kelompok etnis terbesar ketiga di Kenya. Perebutan kekuasaan antara Amerika Serikat dan Inggris sering kali diterjemahkan menjadi konflik antara Kibaki dan Odinga, serta antara suku dan klan masing-masing serta mereka yang bersekutu dengan keduanya.

Menjelang pemilihan presiden, ketegangan antar berbagai faksi meningkat untuk memperkuat posisi mereka sebelum pemilu. Tidak ada kesengajaan dari Amerika Serikat dan Inggris untuk menciptakan perang saudara demi memicu konflik dan menjaga situasi tetap tegang serta tidak stabil. Sebaliknya, arah yang diharapkan adalah untuk mendapatkan keuntungan politik sebelum pemilihan presiden, atau kecenderungan untuk menunda pemilihan jika salah satu pihak yang bertikai (Amerika dan Inggris) melihat bahwa kondisi konflik tidak menjamin kemenangan kandidat mereka. Karena alasan inilah Amerika menekankan perlunya Kibaki menyelenggarakan pemilu yang transparan, bebas, dan adil, guna memberikan peluang lebih besar bagi Odinga untuk menang atas Kenyatta.

Intervensi Amerika Serikat bahkan mencapai tingkat intervensi langsung. Menteri Luar Negeri AS, Clinton, saat kunjungannya ke Kenya awal bulan ini mengatakan, "Amerika Serikat telah berjanji untuk memberikan bantuan kepada pemerintah Kenya guna memastikan bahwa pemilu mendatang berlangsung bebas, adil, dan transparan, dan kami mendesak persiapan pemilu yang akan menjadi model nyata bagi seluruh dunia." Namun, ia juga mengakui bahwa itu bukan tugas yang mudah karena banyak pekerjaan persiapan yang perlu dilakukan, di mana ia mengatakan, "Tetapi kami sangat menyadari bahwa ada banyak hal yang harus diputuskan dan banyak undang-undang yang harus disahkan" (Clinton pledges US support to avoid bloodshed in Kenyan elections – Guardian Online, 4 Agustus 2012).

Jelas bahwa Amerika masih merasa khawatir tentang kemungkinan kemenangan Odinga dalam pemilu dan ingin mengintervensi proses pemilihan. Hal inilah yang meningkatkan ketegangan Inggris melalui Kibaki, Kenyatta, elit pengikut mereka, dan kelompok suku Kikuyu dalam upaya menghalangi intervensi Amerika.

Meskipun demikian, ada masalah yang menambah "bumbu" pada ketegangan yang ada, yaitu pengumuman Kibaki pada Maret 2012 tentang penemuan minyak di Kenya (Kenya joins African oil boom with latest discovery/ Christian Science Monitor Online, 9 Mei 2012). Tentu saja, hal ini meningkatkan ketegangan antara Inggris dan Amerika Serikat karena keduanya bersaing untuk mengamankan minyak Kenya bagi perusahaan-perusahaan multinasional mereka. Penemuan ini juga terjadi di saat kedua negara tersebut mengalami krisis ekonomi yang parah.

Kedua: Adapun mengenai Nigeria, menyusul penyakit yang menyebabkan kematian Presiden Nigeria Umaru Musa Yar'Adua, Presiden Goodluck Jonathan dilantik sebagai Presiden Nigeria pada tanggal 5 Februari 2010. Sebelum diangkat menjadi presiden, Goodluck Jonathan menjabat sebagai Wakil Presiden di masa Yar'Adua, dan kedua pria tersebut berasal dari People's Democratic Party (PDP). Dapat dikatakan bahwa baik Yar'Adua maupun Jonathan berutang budi atas kenaikan politik mereka kepada Obasanjo, pemimpin kuat PDP.

Obasanjo adalah agen utama Amerika di negara tersebut, yang ditugaskan untuk memastikan berlanjutnya hegemoni Amerika di Nigeria dan meminggirkan pengaruh Inggris. Obasanjo-lah yang memilih Jonathan untuk menduduki jabatan Wakil Presiden Yar'Adua dalam pemilihan presiden 2007. Dalam profil Goodluck Jonathan yang dilansir oleh BBC: "Mr. Jonathan menjabat sebagai gubernur dan dua tahun kemudian dipilih oleh Olusegun Obasanjo untuk menjadi wakil presiden Nigeria dalam pemilihan presiden 2007" (Goodluck Jonathan Profile: Nigeria, BBC News Online, 18 April 2011). Kemudian, Obasanjo mengatur akses Jonathan ke kursi kepresidenan. Menurut surat kabar Vanguard, Obasanjo memiliki peran fundamental dalam kenaikan Jonathan ke kursi kepresidenan. Surat kabar tersebut menyatakan: "Ketika Yar'Adua sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh setelah sekitar dua tahun dari masa jabatan empat tahunnya, Obasanjo pertama kali mengunjungi presiden yang sakit di rumah sakit Saudi dan kembali untuk memimpin kampanye pelantikan Goodluck Jonathan, sang Wakil Presiden, untuk mengambil sumpah jabatan sebagai Pelaksana Tugas Presiden Yar'Adua karena jabatan tersebut tidak diserahkan kepadanya sebelum presiden pergi ke luar negeri" (Clifford: Obasanjo's Resignation: What next for PDP, Jonathan? Vanguard Online, 4 April 2012).

Dengan demikian, Amerika berhasil mendapatkan mandat yang luas bagi Jonathan dalam pemilihan kembali presiden pada tahun 2011. Jonathan menggunakan perangkat media sosial untuk menjangkau masyarakat Nigeria dan mengamankan 77,7% suara. Hasil ini jauh lebih maju dibandingkan dengan perolehan suara pada masa jabatan Umaru Yar'Adua.

Namun, setelah pengangkatan Jonathan sebagai presiden, muncul kelemahan politik yang lebih besar dibandingkan pada masa Yar'Adua, meskipun Obasanjo adalah penasihat Jonathan saat ia menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat PDP. Masa pemerintahan Jonathan diwarnai oleh banyak isu yang merusak kemampuannya untuk mengendalikan lembaga-lembaga sipil dan kehidupan politik di Nigeria. Isu-isu ini dapat diringkas sebagai berikut:

1- Korupsi Politik:

Korupsi politik di Nigeria memiliki dimensi yang sangat mendasar. Di bawah kekuasaan Jonathan, upaya yang dilakukan untuk mengurangi korupsi pemerintah sangatlah minim. Bahkan Amerika, pendukung Goodluck Jonathan, merasa jengah dengan gerakan anti-korupsi dan mengkritik pemerintah Nigeria secara terbuka. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, dalam laporannya tahun 2011 kepada Kongres mengenai praktik hak asasi manusia, menyatakan, "Korupsi di Nigeria terjadi secara luas, merambah di semua tingkat pemerintahan dan pasukan keamanan." Selain itu, pemerintahan Jonathan telah mengabaikan pembangunan di negara Nigeria dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini kemudian memicu kebencian lapisan penduduk terhadap pemerintahan Jonathan dan menyebabkan kekerasan, terutama di bagian utara negara itu.

2- Pencabutan Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM):

Tampaknya Goodluck Jonathan tidak menyadari dampak dari pencabutan subsidi BBM dan gagal mengelola krisis tersebut secara keseluruhan. Setelah beberapa hari kerusuhan meletus pada Januari 2012, pemerintahan Jonathan akhirnya tunduk dan memberikan beberapa subsidi untuk BBM, tetapi itu sudah terlambat. Reputasi pemerintahannya telah rusak parah, dan kelas menengah di Nigeria, yang sebelumnya mendukung Jonathan, berbalik menentangnya.

3- Meningkatnya Diskriminasi Rasial terhadap Penduduk Muslim:

Hubungan antara pemerintah dan penduduk Muslim memburuk di bawah pemerintahan Goodluck Jonathan. Jonathan meninggalkan kebijakan "mengambil hati umat Islam" yang dirancang oleh Obasanjo, dan kemudian meningkatkan taktik kekerasan untuk menekan tuntutan umat Islam. Alih-alih memberikan hak-hak politik yang lebih baik, menyediakan lapangan kerja, dan memperbaiki kondisi sosial, pasukan keamanan justru mengintensifkan kezaliman mereka terhadap umat Islam, terutama di bagian utara negara tersebut. Hal ini menciptakan reaksi besar di kalangan umat Islam terhadap pemerintahan Jonathan, dan mendorong beberapa kelompok Islam seperti Boko Haram menjadi kelompok yang menempuh jalan kekerasan terhadap pemerintah sebagai bentuk reaksi atas penindasan brutal yang dilakukan oleh pemerintahan Jonathan terhadap umat Islam.

Jika kita mencermati isu-isu yang mengepung pemerintahan Jonathan dan kekerasan di negara tersebut, jelas bahwa isu-isu ini "diciptakan" oleh Amerika bekerja sama dengan Goodluck Jonathan, untuk memungkinkan Amerika meningkatkan intervensinya lebih dalam di Nigeria dengan tujuan tunggal, yaitu mengamankan kekayaan minyak di negara tersebut.

Untuk memperjelas "rekayasa" Amerika ini, kami sampaikan poin-poin berikut:

Mengenai korupsi politik, meskipun ada kemuakan publik terhadap korupsi politik di Nigeria, Amerika justru mendorongnya secara rahasia. Amerika membiarkan negara tersebut mengisi kantongnya lebih banyak dari sebelumnya dengan bantuan dan dukungan AS. Ini adalah cara yang membuat para agen Amerika menjadi lebih kaya saat mereka melayani tuan mereka. Ini juga memungkinkan Amerika untuk mengejar para politisi yang menghalangi jalannya dan yang loyal kepada kekuatan asing lainnya, terutama Inggris. Lebih jauh lagi, "uang korupsi" adalah senjata bermata dua bagi para agen Amerika: di satu sisi, itu adalah pemikat (targhib) berupa uang agar para agen tetap setia kepada Amerika; di sisi lain, itu adalah ancaman (tarhib) karena membuat mereka lebih bergantung pada tuannya, sebab mereka tahu betul bahwa jika mereka mendurhakai Amerika, korupsi tersebut dapat dengan mudah digunakan sebagai sarana untuk menghukum dan menyingkirkan mereka dari kekuasaan.

Adapun mengenai pencabutan subsidi BBM, hal itu dilakukan atas permintaan dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang dikendalikan oleh Amerika. BBC melaporkan: "IMF telah lama mendesak pemerintah Nigeria untuk menghapus subsidi, yang menurut laporan tersebut akan menghemat $8 miliar per tahun" (Nigeria angers over doubling of fuel prices after subsidy ends, BBC News Online, 2 Januari 2012). Tujuan Amerika di balik langkah ini adalah untuk menindas rakyat secara ekonomi dan menyibukkan mereka dengan beban berat yang timbul akibat pencabutan subsidi BBM, sehingga pikiran mereka teralihkan dari upaya perusahaan-perusahaan minyak Amerika yang merampok kekayaan minyak negara tersebut.

Adapun mengenai kezaliman Jonathan terhadap umat Islam, khususnya terhadap Boko Haram, tujuannya adalah untuk memperluas pengawasan Amerika atas aparat keamanan di Nigeria guna melindungi minyak dengan dalih membantu pejabat keamanan Nigeria dalam memerangi militan Islam. Selama kunjungan Clinton ke Nigeria pada 9 Agustus 2012, seorang asisten keamanan senior mengatakan, "Washington akan memberikan bantuan forensik kepada Nigeria untuk melacak para tersangka dan 'mengintegrasikan' jalur-jalur yang berbeda dari polisi dan intelijen militer..." Pejabat tersebut menambahkan, "Washington juga akan bersedia membantu Nigeria mengembangkan pusat koordinasi intelijen yang dapat membantu mengintegrasikan informasi" (AFP Online, 9 Agustus 2012).

Meskipun demikian, rekayasa Amerika atas isu-isu yang menegangkan ini dimaksudkan agar tetap berada dalam batas-batas yang memberikan pembenaran bagi intervensi Amerika guna mengamankan kekayaan, namun tanpa sampai memicu perang saudara yang dapat melumpuhkan aktivitas pengamanan kekayaan minyak tersebut, setidaknya dalam jangka pendek.

Adapun konflik politik di Nigeria berbeda dengan di Kenya. Di Kenya, baik Amerika maupun Inggris memiliki kelas politik yang sebanding yang melayani kepentingan mereka. Namun di Nigeria, sejak masa jabatan Obasanjo pada 29 Mei 1999, kelas politik yang efektif telah menjadi pro-Amerika, sementara para loyalis Inggris secara bertahap melemah. Meskipun mereka tetap ada dengan efektivitas yang lebih kecil dan dianggap berada di barisan belakang dibandingkan dengan para loyalis Amerika, Inggris masih mencoba mengeksploitasi ketegangan yang meningkat untuk kembali ke pengaruh masa lalunya...

Sebagai penutup, sungguh menyakitkan melihat negara-negara kafir berebut pengaruh di negeri-negeri yang dahulunya Islam memiliki kedudukan yang agung di sana... Hari ini, urusan-urusannya berada di tangan musuh-musuhnya dari kaum kafir penjajah. Meskipun demikian, umat Islam tidak akan tetap diam. Sebaliknya, dengan izin Allah, umat sedang bergerak maju menantikan terbitnya fajar hari baru yang akan mengembalikan kemuliaan dan statusnya sebagai sebaik-baik umat sebagaimana yang disifatkan oleh Allah SWT:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran [3]: 110)

Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda