Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: China dan Proposal Perdamaian di Ukraina

March 01, 2023
2404

Pertanyaan:

Situs Al-Arabiya pada 27/2/2023 melansir: (Kremlin: Kami menyambut baik rencana perdamaian China, namun penyelesaian masih jauh). Begitu juga situs saluran Al-Yaum pada 27/2/2023 menyebutkan: (Kremlin mengatakan bahwa Rusia mencermati rencana perdamaian China di Ukraina dengan penuh perhatian, seraya menunjukkan bahwa rincian usulan tersebut memerlukan analisis dan perhitungan yang akurat, sebagaimana deskripsinya). Sebelumnya, pada 21/2/2023, Putin mengumumkan: ("Bahwa Rusia menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian New START yang ditandatangati dengan Amerika Serikat"... Anadolu, 21/2/2023). Pernyataan-pernyataan ini muncul setelah kunjungan Biden ke Kyiv pada 20/2/2023 dan pertemuannya dengan Presiden Ukraina Zelensky, di mana Biden mengatakan: (Bahwa Ukraina akan mendapatkan paket bantuan militer baru senilai 500 juta dolar yang akan diumumkan pada hari Selasa... Sky News Arab, 20/2/2023). Pernyataan-pernyataan ini didahului oleh pengumuman Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam Konferensi Keamanan Munchen bahwa China memiliki inisiatif perdamaian di Ukraina, dan dia berkata: ("Perang ini tidak boleh terus berkobar"... CNN Arab, 18/2/2023).

Pertanyaannya: Apakah China mampu menghentikan perang di Ukraina? Mengapa China mengajukan inisiatif ini setelah setahun pecahnya perang? Lalu mengapa Rusia menyambut baik rencana tersebut namun kemudian mengatakan penyelesaian masih jauh? Dan apa peluang keberhasilannya?

Jawaban:

Agar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi jelas, kita akan meninjau hal-hal berikut:

Pertama: Negara-negara yang berpengaruh terhadap perang Rusia-Ukraina:

1- Amerika: Amerika di bawah kepemimpinan Presiden Biden telah berhasil menghilangkan keraguan Eropa terhadap kepemimpinan Amerika atas dunia Barat. Pemerintahan Biden menyatukan upaya Barat untuk memberikan bantuan militer dan non-militer kepada Ukraina agar dapat bertahan menghadapi serangan Rusia. Amerika menyatukan Barat dalam menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia, dan berhasil memutus jalur energi Rusia ke Eropa. Bahkan, Amerika merangkul negara-negara yang jauh dari Eropa ke dalam sanksi yang dijatuhkannya terhadap Rusia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Amerika juga menghidupkan kembali pakta NATO setelah sempat diragukan pada masa pemerintahan Trump sebelumnya. Pemerintahan Biden terus meningkatkan pasokan senjata ke Ukraina dan menyatakan bahwa tujuannya adalah mengalahkan Rusia di Ukraina.

2- Negara-negara besar di Eropa: Di saat posisi Inggris tidak lagi dapat dibedakan dengan posisi Amerika melawan Rusia, Jerman dan Prancis akhirnya mengikuti langkah tersebut. Dengan setiap pemutusan jalur energi Rusia ke Eropa, Jerman semakin meningkatkan sikap penentangannya terhadap Rusia. Bahkan Menteri Luar Negeri Jerman, Baerbock, dalam upayanya menyatukan sikap Eropa terkait pasokan tank ke Ukraina, mengatakan: (Kami sedang berperang melawan Rusia dan bukan melawan satu sama lain... Al-Shorouk, 24/1/2023). Mantan Presiden Rusia, Medvedev, menjulukinya sebagai "useful idiot" (Anadolu, 29/1/2023), yang berarti dia mengakui bahwa Eropa adalah pihak dalam konflik Ukraina. Adapun Prancis, yang sebelumnya menghadapi kritik dari sekutunya karena komunikasi presidennya dengan Presiden Rusia, akhirnya menaiki kereta yang sama dengan negara-negara Eropa lainnya di belakang lokomotif Amerika melawan Rusia. Presiden Macron saat kembali dari konferensi Munchen, menurut Sky News Arab, 19/2/2023, mengatakan: (Saya ingin Rusia dikalahkan di Ukraina dan saya ingin Ukraina mampu mempertahankan posisinya).

3- Rusia: Setelah aura kekuatan yang menyelimuti tentara Rusia secara internasional, perang di Ukraina telah menyingkap kelemahan-kelemahan serius yang menurunkan derajat tentara Rusia yang kalah di sekitar Kyiv, di Kharkiv, dan terakhir di Kherson. Setelah sebelumnya tentara Rusia menjadi pilar keagungan Rusia, kini yang tersisa hanyalah kekuatan nuklir Rusia sebagai satu-satunya tumpuan internasional bagi keagungannya. Adapun ekonomi Rusia pada dasarnya lemah. Secara politik, Amerika dan Eropa telah berhasil dalam skala besar dalam memaksakan isolasi internasional terhadap Rusia. Selain itu, Rusia kekurangan konsensus internal mengenai perang tersebut; ketika Rusia memberlakukan wajib militer, banyak warga Rusia yang melarikan diri ke luar negeri!

Kedua: Pengaruh dari semua variabel internasional ini terhadap China:

1- China menyadari bahwa dirinya berada di puncak daftar prioritas Amerika, bahkan sebelum Rusia. Amerika menantang China terkait Taiwan dan mempermalukannya. Amerika menantang China melalui latihan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Korea Selatan. Amerika menantang China jika berani mengganti kerugian Rusia akibat sanksi yang dijatuhkan pada Moskow, atau jika berani memberikan dukungan militer mematikan kepada Rusia. Kemudian Amerika mengepung ekonominya secara terselubung seperti dalam perang ekonomi yang dilancarkan Amerika terhadap perusahaan China, Huawei, dan perusahaan teknologi lainnya. Bahkan Amerika melakukannya secara terang-terangan ketika memutus pasokan cip elektronik dengan alasan penggunaan militer dan bahwa China mengancam keamanan nasional Amerika. China juga melihat Amerika mempersenjatai Jepang dan menjadikannya duri dalam daging bagi China—jika Amerika tidak mengembangkannya untuk menjadi serangan langsung ke jantung China. Begitu juga dengan aliansi militer lainnya yang dibentuk Amerika di Asia seperti AUKUS dan QUAD. Semua ini membebankan tantangan besar bagi China dan tentaranya.

2- Adapun negara-negara Eropa yang merupakan mitra ekonomi besar bagi China, sama halnya dengan Amerika, mereka telah tunduk pada keinginan Washington untuk melakukan koordinasi bersama. Koordinasi bersama ini hidup kembali setelah Rusia menyulut perang di Ukraina dan munculnya kebutuhan mendesak Eropa akan payung keamanan Amerika untuk melindungi benua tersebut dari ancaman Rusia. China telah menyaksikan bahwa kepemimpinan Amerika atas negara-negara Eropa yang dihidupkan kembali akibat perang Rusia di Ukraina, telah mulai menyeret negara-negara Eropa untuk mengadopsi sikap Amerika melawan China. Muncul istilah negara-negara "think-alike countries" (yang berpikiran serupa) sebagai rujukan bagi negara-negara kapitalis dan para pengikutnya yang "terbaratkan" di Asia Timur. Bahkan muncul pembicaraan tentang peran pakta NATO di Asia Timur. Ini adalah ancaman berbahaya bagi China bahwa Amerika mampu menyeret banyak negara untuk melawan Beijing.

3- Adapun Rusia, kelemahannya menuntunnya untuk menjadi mitra yang lebih kecil (junior partner) bagi China, terutama karena ruang internasional semakin menyempit baginya dari waktu ke waktu. Eropa telah meninggalkan minyak dan gasnya, dan yang tersisa hanya sedikit setelah sebelumnya Rusia memegang urat nadi energi di Eropa. Di saat Eropa dan Amerika menutup pintu bagi Rusia, mereka juga memburunya di depan pintu negara-negara lain dengan menuntut negara-negara tersebut mematuhi batas harga minyak yang dikenakan pada Rusia. Semua ini membuat Rusia memandang China sebagai hampir satu-satunya pintu untuk memasarkan sumber energi dan bahan mentahnya. Inilah yang disebut oleh Barat sebagai "pengemisan perdagangan Rusia di depan China". Kondisi ini menimbulkan kecanggungan bagi China terhadap Amerika dan Eropa yang merupakan tujuan terpenting bagi perdagangannya.

4- China sendiri, meskipun terus menyamarkan sikap resminya terhadap perang di Ukraina, pasti melihat bahwa hasil dari perang tersebut tidak menyenangkan hatinya. China telah menandatangani dokumen "aliansi tanpa batas" dengan Rusia sesaat sebelum Rusia menyulut perang di Ukraina. Ketika Amerika dan negara-negara Eropa menuntut China untuk mengambil sikap menentang agresi Rusia terhadap Ukraina, sikap China tampak ambigu. Di satu sisi, China tidak menyatakan dukungannya terhadap perang Rusia dan tidak menyatakan pemberian dukungan kepada sekutunya, Rusia. China hanya merasa cukup dengan menyalahkan Amerika atas meletusnya perang karena tidak setuju memberikan jaminan keamanan kepada Rusia. Seolah-olah China menunggu Rusia untuk memaksakan fakta baru di lapangan di Ukraina, dan keamanan menjadi stabil di dalam Ukraina, sehingga memaksa negara-negara Barat untuk mengakui status internasional baru bagi Rusia. Hal ini mungkin akan menggelitik perasaan orang-orang China bahwa secara implisit ini berarti status internasional yang lebih baik bagi China, terutama di Taiwan. Namun, dengan munculnya kelemahan tentara Rusia dan kekalahan yang dialaminya di garis depan pertempuran di Ukraina, sikap China diliputi oleh keadaan fluktuatif, seolah-olah sedang menarik diri dari aliansinya dengan Rusia.

5- Semua sikap Barat yang berbau permusuhan terhadap China ini tidak mendorong China untuk mengadopsi sikap serupa terhadap Amerika dan negara-negara Eropa. China juga tidak menunjukkan dukungannya kepada Rusia. Hal itu karena kebangkitan China dan status barunya semuanya bergantung pada perdagangan luar negerinya, di mana pasar Amerika dan negara-negara Eropa merupakan urat nadi utama bagi keagungan China. Ini berbeda dengan Rusia, di mana warisan militernya dari Uni Soviet, bukan ekonomi dan perdagangan internasional, yang menjadi dasar status internasionalnya. Namun, dari sisi lain, China tetap melakukan latihan militer bersama dengan Rusia di laut lepas di Asia dan di luar Asia. Mungkin China ingin berada di tengah-tengah; tidak ingin kehilangan Rusia yang dibutuhkannya jika terjadi konflik antara dirinya dan Amerika, dan tidak ingin kehilangan negara-negara Barat yang perdagangannya merupakan urat nadi ekonominya.

Ketiga: Dengan demikian, sikap-sikap ini membuat China berpikir untuk menjadi semacam mediator yang membawa inisiatif untuk menyelesaikan krisis antara kedua belah pihak, meskipun hubungan China dengan kedua belah pihak tidak seimbang. Arti dari semua itu adalah bahwa China melihat banyak awan hitam yang berkumpul di langitnya setelah Rusia menyulut perang di Ukraina. Awan hitam ini merupakan bagian pertama, atau bagian China dari inisiatif perdamaian China di Ukraina. Namun, bagian ini tidak akan membuahkan inisiatif serius apa pun kecuali jika bergabung dengan bagian kedua, yaitu bagian Rusia. Dengan mencermati bagian ini, kita menemukan:

1- Bahwa Rusia, meskipun telah mengumumkan mobilisasi dan merekrut sekitar setengah juta tentara baru, dan juga meskipun telah kembali menyerang seperti yang terjadi hari ini di sekitar kota Bakhmut di Donbas, Rusia mulai menyadari mustahilnya memenangkan perang tersebut. Hal itu karena Rusia tidak hanya berhadapan dengan tentara Ukraina saja, tetapi menurut istilahnya "berhadapan dengan kemampuan pakta NATO" yang secara eksplisit memasok Ukraina dengan dukungan militer yang mematikan dan dengan tujuan yang jelas yaitu mengalahkan Rusia di Ukraina. Tampaknya Rusia telah menyadari bahwa ia berhadapan dengan keinginan Amerika yang keras untuk mengalahkannya di Ukraina, bahkan secara internasional. Finlandia dan Swedia sudah di ambang menjadi anggota baru pakta NATO, padahal keduanya adalah negara yang secara geografis paling dekat dengan Rusia. Jerman, musuh bebuyutan Rusia sepanjang sejarah, telah melakukan militerisasi secara cepat. Di Timur, tentara Jepang bisa segera menjadi ancaman besar bagi Rusia, terutama karena Jepang menuntut Rusia mengembalikan Kepulauan Kuril yang diduduki Rusia pada Perang Dunia II. Semua perkembangan di Ukraina dan internasional ini membebankan beban keamanan yang besar bagi Rusia dan semakin menyingkap kelemahannya, terutama karena adanya sanksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

2- Isyarat kelemahan Rusia ini, yang merupakan pengakuan baru Rusia atas arah perang di Ukraina, dan pencarian jalan untuk menghentikan kemerosotan tentara dan ekonominya serta menghentikan kemerosotan kondisi internasional di sekitarnya, semua itu adalah bagian kedua (pihak Rusia) yang tidak kalah pentingnya dari bagian pertama (pihak China) bagi inisiatif perdamaian China. Artinya, Rusia ingin menghentikan perang di Ukraina namun ingin harga dirinya tetap terjaga.

Oleh karena itu, bertemunya dua bagian tersebut (dampak negatif internasional dari perang terhadap China, dan keputusasaan Rusia untuk menang di Ukraina) adalah apa yang membuahkan inisiatif perdamaian China di Ukraina ini. Kondisi ini tidak ada setahun yang lalu pada awal perang. Tampaknya China sebelumnya memperkirakan bahwa Rusia akan menyelesaikan perang untuk kepentingannya dengan cepat, karena itu China menunggu di awal perang untuk menawarkan inisiatif. Namun sekarang, setelah Rusia hampir putus asa untuk menang dan munculnya kecenderungan Rusia untuk bernegosiasi dengan tetap menjaga harga diri, setelah itulah China melakukan inisiatif ini.

Inilah hakikat inisiatif China untuk perdamaian di Ukraina, dan inilah yang menjelaskan waktunya. Terutama apa yang tampak dalam inisiatif tersebut berupa penegasan tentang penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara untuk menarik minat Barat dan Ukraina. Menteri Luar Negeri China telah mengumumkan dukungannya terhadap kedaulatan Ukraina dalam inisiatif tersebut, dia berkata: (Bahwa integritas wilayah dan kedaulatan semua negara akan dihormati dalam usulan China. CNN Arab, 18/2/2023), hal itu sebagai pintu masuk yang menarik bagi Barat dalam negosiasi.

Keempat: Adapun pertanyaan tentang peluang keberhasilan inisiatif China ini, yaitu mengakhiri perang di Ukraina, maka hal ini bergantung pada beberapa faktor yang berpengaruh:

1- Hal ini sangat bergantung pada sikap Amerika yang kemudian diikuti oleh sikap negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina. Sikap-sikap tersebut tercermin dalam sikap keras yang keluar dari ibu kota Ukraina, Kyiv, dan dari Presiden Ukraina Zelensky. Sikap Ukraina dan Barat ini menyimpulkan keharusan penarikan tentara Rusia dari seluruh wilayah yang diduduki di Ukraina termasuk Semenanjung Krimea sebagai syarat negosiasi perdamaian. Artinya, negosiasi dengan Rusia bukan lagi tentang wilayah, melainkan tentang kompensasi dan penyerahan penjahat perang ke pengadilan internasional. Syarat-syarat ini ditolak oleh Rusia yang mengisyaratkan fakta di lapangan, yaitu gencatan senjata di garis depan saat ini, baru kemudian negosiasi. Tentu saja Rusia ingin memberikan konsesi setelah gencatan senjata dengan cara yang menjaga harga dirinya di satu sisi, dan di sisi lain memberinya beberapa keuntungan wilayah meskipun simbolis, selain pencabutan sanksi dan pelepasan dana-dananya yang ditahan.

2- Tampak hari ini bahwa negara-negara Barat tidak tertarik dengan inisiatif China dan bahwa mereka merencanakan serta menunggu kekalahan total Rusia di Ukraina. Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan: (Kami butuh lebih banyak bukti bahwa China tidak bekerja sama dengan Rusia, dan kami tidak melihat itu sekarang. CNN Arab, 18/2/2023). Menteri Luar Negeri Amerika menuduh China mendukung Rusia: (Blinken mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Minggu bahwa China "berpikir keras" untuk mengirimkan amunisi dan senjata ke Rusia saat perangnya di Ukraina mencapai satu tahun. Al-Quds Al-Arabi, 20/2/2023). Ini adalah isyarat yang cukup bahwa Barat terus maju dalam mendukung Ukraina demi mengalahkan Rusia.

3- Karena semua itu, inisiatif perdamaian China di Ukraina—meskipun menyiratkan penghormatan terhadap integritas wilayah negara-negara, yang berarti Rusia bisa saja mundur—namun inisiatif ini menurut kondisi hari ini tidak dapat diterima oleh Amerika dan para pengikutnya di Eropa, begitu juga bagi Ukraina yang tidak memiliki otoritas atas urusannya sendiri. Hal itu karena Amerika mendukung Ukraina secara tetap, meningkat, dan bertahap dalam jenis senjata yang diberikan, serta mengumumkan melalui lisan presidennya, Biden, bahwa Presiden Rusia tidak akan menang di Ukraina. Keinginan Amerika yang keras ini diikuti oleh keinginan serupa di Inggris serta negara-negara bagian timur benua Eropa seperti Polandia dan negara-negara Baltik yang menyimpan kebencian mendalam terhadap Rusia. Artinya, inisiatif perdamaian China tidak mendapat penerimaan maupun sambutan di sisi Amerika. Tampaknya sikap-sikap ini membuat Rusia canggung, sehingga pernyataannya mengenai inisiatif tersebut mulai terselubung dengan penerimaan tanpa menunjukkannya secara terang-terangan, yaitu seperti melangkah maju satu kaki dan menarik kaki lainnya. Sky News Arab pada 27/2/2023 melansir di situs beritanya: [Kremlin mengatakan mengenai inisiatif China: (Bahwa kondisinya tidak kondusif untuk perdamaian di Ukraina) namun ia kembali mengatakan: (Rusia menyatakan penghargaannya terhadap rencana perdamaian China...)] Begitu juga yang ada di situs saluran Al-Yaum 27/2/2023 (Kremlin mengatakan bahwa Rusia mencermati rencana perdamaian China di Ukraina dengan penuh perhatian, seraya menunjukkan bahwa rincian usulan tersebut memerlukan analisis dan perhitungan yang akurat, sebagaimana deskripsinya). Seolah-olah Rusia sedang menyiapkan jalan untuk mundur.

Kelima: Kesimpulannya adalah bahwa periode mendatang akan menyaksikan perkembangan baru yang bertajuk inisiatif China untuk mengakhiri perang di Ukraina. Upaya-upaya China ini, setelah setahun pecahnya perang tersebut, telah menjadi harapan bagi Rusia untuk keluar dari kubangan Ukraina yang sangat berbahaya bagi status internasionalnya. Selain itu, upaya-upaya tersebut pada dasarnya adalah demi kepentingan China. Namun, Amerika, Eropa, pakta NATO, dan juga Ukraina menolak inisiatif ini dan meragukannya. Oleh karena itu, peluang keberhasilan inisiatif ini tampaknya berada pada tingkat terendah, kecuali jika kondisi internasional berubah atau Rusia membuktikan bahwa ia mampu melancarkan serangan besar dan berpengaruh di Ukraina, suatu hal yang kecil kemungkinannya dalam waktu dekat di tengah pengintaian Amerika dan negara-negara pakta NATO terhadap Rusia, serta kesiapan negara-negara tersebut untuk memasok Ukraina dengan segala urat nadi pertempuran guna mencegah kemenangan Rusia.

Sebagai penutup, sesungguhnya negara-negara kafir penjajah yang disebut sebagai negara besar di dunia hari ini, mereka saling bertikai di antara sesama mereka bukan untuk kebaikan dunia, melainkan untuk keburukan dan bahaya. Rusia menyerang Ukraina untuk membunuh setiap orang Ukraina yang bergerak, sementara Amerika dan Barat melawan agresi tersebut dengan mengorbankan setiap orang Ukraina dan bukan dengan tentara mereka! Kedua belah pihak bertikai di Ukraina untuk membunuh setiap orang Ukraina. Begitulah negara-negara ini yang menginginkan kerusakan di bumi; mereka tidak menghargai banyaknya darah yang tertumpah selama hal itu mewujudkan kepentingan mereka, bahkan meskipun hanya sebagian kecil dari kepentingan mereka. Seolah sejarah berulang kembali ketika negara Persia dan Romawi saling bertikai, yang satu menang dan yang lain kalah, dan begitulah seterusnya. Masing-masing bertindak seperti mesin yang menghisap darah manusia untuk mewujudkan kepentingannya sendiri. Hal itu terus berlangsung sampai Allah memuliakan ahlul haq wal 'adl, umat Islam, dengan kemenangan dan penaklukan yang nyata (fathun mubin). Maka Islam dan kaum Muslim menjadi mulia, sementara kekufuran dan orang-orang kafir menjadi hina. Sesungguhnya hal ini pasti akan terjadi kembali dengan izin Allah.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS Ar-Rum [30]: 4-5)

9 Sya'ban 1444 H 1 Maret 2023 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda