Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: At-Tha’ifah az-Zhahirah (Kelompok yang Menang)

October 21, 2004
3139

Pertanyaan:

Telah warid beberapa hadits shahih seputar At-Tha’ifah az-Zhahirah (Kelompok yang Menang), maka apa penjelasan atas hadits-hadits ini? Apakah hal itu berlaku bagi para ulama ushul atau ulama hadits sebagaimana terdapat dalam sebagian pendapat? Kemudian, terkadang kita mendengar kelompok ini atau itu mengatakan bahwa merekalah At-Tha’ifah az-Zhahirah, lantas bagaimana kita menjelaskannya? Semoga Allah memberkahi Anda.

Jawaban:

Jawaban atas pertanyaan Anda terdiri dari dua bagian:

Pertama: Penjelasan hadits-hadits tentang At-Tha’ifah az-Zhahirah.

Kedua: Sikap dalam berinteraksi dengan hadits-hadits ini.

Adapun yang pertama, telah warid beberapa hadits mengenai At-Tha’ifah az-Zhahirah:

  • Al-Bukhari mengeluarkan dari jalan Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang hingga datang kepada mereka ketentuan Allah dan mereka dalam keadaan menang."

  • Muslim mengeluarkan dari jalan Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga datang ketentuan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian."

  • Muslim mengeluarkan dari jalan Jabir bin Abdillah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang hingga hari kiamat. Beliau bersabda: Lalu Isa putra Maryam shallallahu 'alaihi wa sallam turun, maka pemimpin mereka berkata: 'Kemarilah, shalatlah (menjadi imam) bagi kami.' Maka Isa menjawab: 'Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain sebagai kemuliaan dari Allah bagi umat ini'."

  • Muslim mengeluarkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    وَلَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

    "Dan akan senantiasa ada sekelompok kaum Muslim yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang atas orang-orang yang memusuhi mereka hingga hari kiamat."

  • Muslim mengeluarkan dari jalan Uqbah bin Amir, ia berkata: Adapun aku, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas urusan (agama) Allah dalam keadaan menundukkan musuh mereka, tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang kiamat kepada mereka dan mereka tetap dalam keadaan demikian."

  • Muslim mengeluarkan dari jalan Muawiyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak melaksanakan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka atau menyelisihi mereka hingga datang ketentuan Allah dan mereka menang atas manusia."

  • At-Tirmidzi mengeluarkan dari jalan Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ يَخْذُلُهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran dalam keadaan menang, tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga datang ketentuan Allah."

  • Abu Dawud mengeluarkan dari jalan Imran bin Hushain, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ حَتَّى يُقَاتِلَ آخِرُهُمُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang atas orang-orang yang memusuhi mereka hingga orang terakhir dari mereka memerangi Al-Masih Ad-Dajjal."

  • Imam Ahmad mengeluarkan dari jalan Jabir bin Abdillah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang hingga hari kiamat."

  • Ahmad mengeluarkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran dalam keadaan menang, menundukkan musuh mereka, tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka kecuali kesulitan yang menimpa mereka hingga datang kepada mereka ketentuan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian. Mereka bertanya: 'Ya Rasulullah, di mana mereka?' Beliau bersabda: 'Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis'."

  • At-Thabrani (dalam Al-Kabir):

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ يَغْزُوهُمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ نَاوَأَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ

    "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran dalam keadaan menang atas orang yang memerangi mereka, mereka menundukkan musuh, tidak membahayakan mereka orang yang memusuhi mereka hingga datang ketentuan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian. Ditanyakan: 'Ya Rasulullah, di mana mereka?' Beliau bersabda: 'Di Baitul Maqdis'."

  • Dan terdapat dalam hadits Abu Umamah riwayat Ahmad bahwa mereka berada di Baitul Maqdis, dan ia menyandarkan kata Bait kepada Al-Maqdis. At-Thabrani juga meriwayatkan hadits dari An-Nahdi yang semakna dengan itu. Dalam hadits Abu Hurairah dalam Al-Awsath karya At-Thabrani disebutkan: "Mereka berperang di pintu-pintu Damaskus dan sekitarnya, serta di pintu-pintu Baitul Maqdis dan sekitarnya, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka dalam keadaan menang hingga hari kiamat." (Dari Fathul Bari).

  • "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku berperang di pintu-pintu Damaskus dan sekitarnya serta di pintu-pintu Baitul Maqdis dan sekitarnya, tidak membahayakan mereka pengabaian orang yang mengabaikan mereka dalam keadaan menang di atas kebenaran sampai hari kiamat terjadi." (Kanzul Ummal - karya Al-Muttaqi Al-Hindi).

Dengan mentadabburi hadits-hadits ini dan menggabungkannya, maka jelaslah hal-hal berikut mengenai kelompok ini:

1 - Kelompok ini adalah bagian dari kaum Muslim, bukan seluruh kaum Muslim, karena kata at-tha'ifah secara bahasa berarti potongan atau bagian dari sesuatu. Setiap potongan dari sesuatu adalah tha'ifah darinya. Disebutkan dalam Al-Qamus: "At-tha'ifah dari sesuatu adalah potongan darinya."

2 - Kelompok ini istiqamah di atas kebenaran, yaitu Islam: "Tegak melaksanakan perintah Allah."

3 - Kelompok ini berperang di atas kebenaran, yaitu di jalan-Nya: "Berperang di atas kebenaran," "Berperang di atas perintah Allah."

4 - Kelompok ini memiliki kekuatan dan syaukah (kekuatan militer) yang memerangi tentara musuh, lalu menundukkan dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang telak serta meraih kemenangan yang nyata dan disaksikan: "Berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang atas orang yang memusuhi mereka," "Berperang di atas perintah Allah dalam keadaan menundukkan musuh mereka."

5 - Bahwa kelompok ini "berperang di pintu-pintu Damaskus dan sekitarnya serta di pintu-pintu Baitul Maqdis dan sekitarnya," maka mereka memerangi musuh dan menang atas musuh di wilayah-wilayah negeri Syam dan sekitarnya.

Sifat-sifat ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut tegak di atas Islam, berperang di jalan-Nya, dan memiliki kekuatan yang memungkinkannya untuk mengalahkan musuh dengan kekalahan yang telak, nyata, dan disaksikan. Musuh-musuh tersebut adalah negara dan tentara, maka kelompok yang menundukkan mereka haruslah berupa tentara Muslim yang kuat dalam sebuah Daulah Islamiyah, yang dipimpin oleh Khalifah atau panglima tentara, memerangi musuh dan mengalahkannya dengan kekalahan yang mengerikan, menang atas mereka, menundukkan, dan mengungguli mereka. Kelompok ini berangkat dari negeri Syam dan sekitarnya, mendirikan negara dan tentara, serta memerangi musuh, mengalahkannya, dan unggul atasnya. Artinya, kelompok ini adakalanya merupakan pemilik negara dan tentara yang menang atas musuh, menundukkan, dan unggul atasnya, atau kelompok yang bekerja untuk mewujudkan negara dan tentara kemudian menang atas musuh, menundukkan, dan unggul atasnya.

Saya berpandangan bahwa hal ini berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dalam memerangi musuh dan unggul atas mereka.

Saya juga berpandangan hal ini berlaku pada awal Islam dalam memerangi musuh dan unggul atas mereka, serta pada setiap Khalifah dan panglima tentara dalam Daulah Islamiyah yang memerangi musuh, menang atas mereka, menundukkan, dan unggul atas mereka.

Saya berpandangan bahwa hal ini berlaku pada Shalahuddin dan tentaranya dalam mengalahkan tentara Salib, begitu juga pada Quthuz dan Baibars beserta tentaranya dalam mengalahkan Tartar.

Saya juga berpandangan hal ini berlaku pada kita karena kita bekerja untuk mewujudkan Daulah Islamiyah yang kuat—Khilafah Rasyidah—yang memerangi musuh kafir, mengalahkannya, unggul atasnya, dan meraih kemenangan yang disaksikan. Lalu melenyapkan entitas Yahudi dan membebaskan Roma sebagaimana kabar gembira dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita.

Inilah yang saya pandang dan saya kuatkan (tarjih).

Namun, sifat kelompok ini tidak berlaku bagi jamaah manapun yang bukan Daulah Islamiyah dan bukan tentara dalam Daulah Islamiyah. Karena jika tanpa negara dan tentara, mereka tidak akan mampu menundukkan musuh dan unggul atas mereka dengan keunggulan yang nyata disaksikan. Tanpa negara atau tentara dalam sebuah negara, mereka tidak akan mampu melenyapkan entitas Yahudi atau mengalahkan Amerika atau Inggris...

Oleh karena itu, hal ini tidak berlaku bagi jamaah-jamaah yang berperang melawan musuh tanpa adanya negara atau tentara negara, karena sifat At-Tha’ifah az-Zhahirah bukan sekadar berperang, melainkan peperangan yang menundukkan musuh, mengalahkannya, dan unggul atasnya. Sedangkan musuh adalah negara dan tentara, dan ia tidak akan bisa ditundukkan, dikalahkan, serta diungguli oleh jamaah tanpa negara dan tentara. Begitu juga hal ini tidak berlaku pada jamaah manapun yang tidak bekerja untuk mewujudkan Daulah Islamiyah (Khilafah), karena jika tidak demikian, mereka tidak akan bisa menundukkan negara-negara dan tentara-tentara. Maka peperangan dan keunggulan atas musuh, baik yang sedang berlangsung secara nyata maupun sedang dipersiapkan perwujudannya, adalah sifat mendasar bagi kelompok ini.

Berdasarkan hal tersebut, sifat ini tidak berlaku bagi para ulama hadits atau ulama ushul, kecuali jika mereka bekerja untuk mewujudkan sebuah negara yang berperang dan unggul atas musuh, menundukkan, serta menang atas mereka.

Adapun apa yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:

(Bab sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, mereka berperang dan mereka adalah ahli ilmu"), maka lafadz (وهم أهل العلم) adalah dari perkataan penyusun (mushannif) dan bukan dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan bab tersebut menurut Al-Asqalani dalam Fathul Bari:

... (perkataannya (وهم أهل العلم) adalah dari perkataan penyusun).

Penting untuk dicatat bahwa kelompok mana pun yang memerangi musuh dengan ikhlas akan mendapatkan pahala meskipun tidak mampu unggul atas musuh, menundukkan, dan menang atasnya. Bahkan peperangan individu melawan musuh dengan ikhlas pun ada pahalanya. Dan kelompok mana pun yang melakukan amal apa pun dari jalan-jalan kebaikan akan mendapatkan pahala, meskipun itu amal individu. Begitu pula kelompok mana pun yang menyibukkan diri dalam ilmu-ilmu Islam, baik dalam ilmu ushul maupun ilmu hadits, akan mendapatkan pahala meskipun itu amal individu dalam urusan-urusan tersebut.

Tetapi persoalannya bukan di sini, melainkan pada penyifatan kelompok ini atau itu sebagai At-Tha’ifah az-Zhahirah.

Penyifatannya sebagai At-Tha’ifah az-Zhahirah harus memenuhi apa yang disebutkan mengenainya dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tafsir atas hadits-hadits ini setelah dikumpulkan dan ditadabburi bersama adalah apa yang saya sebutkan sebelumnya. Inilah yang saya kuatkan dan saya pandang sebagai kebenaran.

Adapun lafadz (لا يزال) yang berarti "senantiasa", ia tidak berarti tanpa terputus, melainkan bermakna bahwa keunggulan atas musuh akan terjadi berurutan pada periode-periode waktu tertentu hingga hari kiamat. Artinya, kemenangan atas musuh tidak terjadi sekali saja kemudian musuh kembali mengalahkan kita selamanya, melainkan kemenangan kita akan berurutan pada berbagai periode hingga hari kiamat. Inilah yang telah terjadi, kita telah unggul atas kaum kafir dan menang atas mereka pada awal Islam, kemudian berlanjut setelahnya kita kalah dan menang {Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia}. Dahulu ada tentara Salib kemudian mereka dikalahkan, ada Tartar kemudian mereka dikalahkan, kemudian kita melemah, lalu kita kembali dan membebaskan Konstantinopel dan ia pun menjadi (Islambol), ... Khilafah telah dihancurkan kemudian ia akan kembali dengan izin Allah dan akan melenyapkan entitas Yahudi yang menjajah Palestina, dan akan membebaskan Roma dengan izin Allah. Kelompok dengan sifat tersebut akan tetap berperang di atas kebenaran hingga orang terakhir dari mereka memerangi Al-Masih Ad-Dajjal. Salah satu hal yang menarik perhatian dalam hadits tersebut adalah bahwa Isa 'alaihissalam ketika turun menjelang hari kiamat, ia mendapati kaum Muslim memiliki negara dan pemimpin (amir), dan dari sanalah muncul kemenangan atas musuh dan keunggulan atas mereka dengan keunggulan yang nyata disaksikan.

Demikianlah, (لا يزال) tidak berarti tanpa terputus, melainkan berarti bahwa dunia ini tidak akan kosong dari periode-periode di mana kaum Muslim menang atas musuh dengan kemenangan yang gemilang dan disaksikan hingga hari kiamat.

Hal ini serupa dengan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

لَنْ يَزَالُ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُسْتَقِيماً حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

"Urusan umat ini akan senantiasa istiqamah (lurus) hingga hari kiamat terjadi."

Ini tidak berarti bahwa istiqamahnya umat akan terus berlanjut tanpa henti, sebab istiqamahnya urusan umat telah terputus pada beberapa periode, khususnya setelah runtuhnya Khilafah.

Melainkan maknanya adalah dunia ini tidak akan kosong dari istiqamahnya urusan umat ini hingga hari kiamat. Urusannya tidak akan "bengkok" lalu tidak kembali istiqamah, dan Khilafahnya tidak akan pergi lalu urusannya tidak kembali, melainkan ia akan kembali. Setiap kali bengkok maka ia akan kembali (istiqamah). Jadi, istiqamah bagi umat itu terjadi berurutan pada berbagai periode hingga hari kiamat.

Ini adalah bagian pertama dari jawaban, dan inilah yang saya kuatkan dalam masalah ini, namun saya tidak memastikan bahwa tidak ada tafsir selainnya, akan tetapi saya menguatkan bahwa inilah yang benar.

Adapun yang kedua, sikap dalam berinteraksi dengan hadits-hadits ini:

Wajib berinteraksi secara praktis sebagaimana para sahabat radhiyallahu 'anhum dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik berinteraksi dengan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang memberikan kabar gembira dan menginformasikan perkara-perkara yang mengandung kebaikan bagi kaum Muslim. Ketika mereka mendengar dan membaca hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang pembukaan Konstantinopel dan Roma, setiap orang dari mereka sangat bersemangat agar kabar gembira ini terwujud di tangannya, hingga Allah berkehendak bahwa Muhammad Al-Fatih rahimahullah meraih kemuliaan pembukaan yang pertama (Konstantinopel) yang kemudian menjadi (Islambol). Mereka mendengar hadits tersebut lalu segera bekerja dengan sungguh-sungguh agar terwujud di tangan mereka sehingga mereka meraih kebaikan yang disifatkan Allah bagi sang penakluk: "Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya." Maka banyak Khalifah yang mengirimkan pasukan untuk membebaskan Konstantinopel, dan banyak sahabat bahkan yang sudah tua di antara mereka seperti Abu Ayyub radhiyallahu 'anhu, ikut serta dalam pasukan tersebut untuk meraih kemuliaan yang agung ini.

Demikian pula hadits At-Tha’ifah az-Zhahirah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita sifat-sifatnya dan menjelaskan keutamaannya, bahwa mereka akan memerangi musuh dan menang atasnya serta menundukkannya dan unggul atasnya dengan keunggulan yang nyata disaksikan. Hal ini tidak akan terjadi kecuali dengan adanya Daulah Islamiyah dan tentara Muslim yang mengalahkan negara-negara kafir dan tentara-tentaranya. Maka mari kita menyingsingkan lengan baju, mengencangkan ikat pinggang, dan mempercepat langkah untuk mendirikan Daulah Islam, Khilafah Rasyidah, dan menjadi bagian dari tentaranya yang memerangi musuh, menundukkannya, menang atasnya, dan unggul atasnya dengan keunggulan yang nyata disaksikan. Dengan itu kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita termasuk dalam kelompok tersebut yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya yang mulia.

Kemudian ada perkara yang sangat penting, yaitu bahwa persoalannya bukanlah jamaah ini atau jamaah itu yang mengklaim sebagai At-Tha’ifah az-Zhahirah, melainkan siapa pun yang ingin menjadi At-Tha’ifah az-Zhahirah maka hendaklah ia mewujudkan sifat-sifat yang telah disebutkan. Hendaklah ia bekerja untuk mewujudkan Daulah Islamiyah dan tentara Islam yang memerangi musuh kafir seperti Amerika, Inggris, Yahudi, dan lain-lain, serta menundukkannya, menang atasnya, dan unggul atasnya. Pada saat itulah ia akan ditunjuk dengan jari sebagai bagian dari At-Tha’ifah az-Zhahirah. Barang siapa yang ingin menjadi bagian dari At-Tha’ifah az-Zhahirah, hendaklah ia melakukan amal yang menyampaikannya—dengan izin Allah—pada terwujudnya sifat-sifat tersebut berupa menundukkan musuh, memenanginya, dan mengunggulinya.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita termasuk di dalamnya dan agar kita menyaksikan berdirinya Daulah Islamiyah, Khilafah Rasyidah, serta menjadi bagian dari tentara Islam yang mengalahkan musuh, menundukkannya, memenanginya, dan mengunggulinya.

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah penolong bagi siapa saja yang menolong-Nya, dan Dia Subhanahu wa Ta'ala Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

7 Ramadhan 1425 H 21 Oktober 2004 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda