Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Realitas Internasional Terkait Ukraina

June 26, 2013
2488

Pertanyaan:

Sudah diketahui bahwa Yanukovych adalah orang Rusia di Ukraina dan saat ini menjabat sebagai Presiden Ukraina. Secara wajar, haluannya seharusnya condong ke Rusia. Namun, terlihat bahwa sikapnya melunak terhadap Eropa dan Amerika. Apakah ini berarti dia mulai beralih ke Barat dan menjauh dari Rusia, ataukah hal ini merupakan kesepakatan dengan Rusia untuk menjaga kekuasaannya menghadapi intervensi dan tekanan yang dialami Yanukovych?

Jawaban:

Agar jawaban ini dapat dipahami, maka harus diketahui realitas internasional terkait Ukraina... Ukraina merupakan pusat konflik lama antara Rusia dan Eropa, kemudian Amerika Serikat ikut masuk ke gelanggang konflik di era modern. Konflik ini, khususnya antara Rusia dan Eropa, telah meninggalkan pengaruh mendalam pada rakyat Ukraina dan pandangan mereka terhadap Barat dan Rusia. Orang-orang yang tinggal di bagian timur negara tersebut setia kepada Rusia, sementara orang-orang yang tinggal di bagian barat terpengaruh oleh Eropa dan Amerika. Akibatnya, negara tersebut secara efektif terbagi menjadi dua bagian. Selain itu, elit politik di Ukraina selama bertahun-tahun telah berupaya menyeimbangkan hubungan antara kekuatan Eropa dan Rusia, atau berpihak pada kekuatan yang mendominasi, baik itu Eropa maupun Rusia.

Oleh karena itu, Ukraina sangat penting bagi negara-negara berikut:

1- Bagi Rusia, Ukraina adalah salah satu negara yang paling penting. Jika Rusia kehilangan Ukraina, maka Barat akan berada langsung di perbatasannya. Ukraina berfungsi sebagai perisai pelindung bagi Rusia dari arah Eropa, selain kepentingan ekonominya di mana pipa-pipa gas Rusia menuju Barat melintasi wilayah tersebut. Perlu diketahui bahwa Rusia bersikeras untuk memulihkan hegemoninya di wilayah Uni Soviet, yang di dalamnya termasuk Ukraina. Namun, ketika meletus apa yang disebut dengan Orange Revolution (Revolusi Oranye) dan keberhasilan Yushchenko meraih kekuasaan dalam pemilu tahun 2005, pengaruh Rusia di Ukraina melemah. Yushchenko adalah antek Amerika, dan Amerika memanfaatkan masa pemerintahannya untuk mempercepat integrasi antara Ukraina dengan Barat. Selama masa jabatannya, Yushchenko mengancam akan mengusir armada Laut Hitam Rusia dari Sevastopol saat kontrak sewa militer Rusia berakhir di sana pada tahun 2017. Yushchenko tidak menyembunyikan keinginannya untuk mengintegrasikan Ukraina sepenuhnya ke dalam institusi Barat seperti Uni Eropa dan organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kyiv pun melakukan negosiasi mengenai Association Agreement (Perjanjian Kemitraan) dengan Uni Eropa dan menuntut Membership Action Plan untuk keanggotaan di NATO... Dengan demikian, pengaruh Rusia berada dalam kesulitan. Namun, pada Februari 2010, Rusia berhasil mengembalikan orangnya di Ukraina, Viktor Yanukovych, ke tampuk kekuasaan. Ia adalah presiden keempat negara tersebut dan pendukung kuat Rusia. Sejak saat itu, pengaruh Amerika mulai surut, dan Ukraina bergerak menuju normalisasi hubungan dengan Rusia.

Presiden Yanukovych bertemu dengan Presiden Rusia Medvedev di Kharkiv kurang dari dua bulan setelah menjabat pada 21/4/2010. Dalam pertemuan tersebut, ia setuju untuk memperpanjang kontrak sewa armada Laut Hitam selama 25 tahun tambahan, yang akan berakhir pada tahun 2042. Sebagai imbalannya, perusahaan Gazprom Rusia setuju untuk menurunkan harga gas alam menjadi 100 dolar per 1.000 m3 untuk sisa periode kontrak gas yang telah ditandatangani pada tahun 2009. Mantan Perdana Menteri Ukraina, Yulia Tymoshenko, keberatan dengan perjanjian tersebut dan menyatakan bahwa hal itu bertentangan dengan konstitusi. Karena penentangannya yang keras, ia dijebloskan ke penjara.

Meskipun Ukraina di bawah kepemimpinan Yanukovych menunjukkan keinginan untuk mempertahankan hubungan kerja sama dengan organisasi NATO, namun pemerintahan Yanukovych tidak menuntut keanggotaan NATO atau rencana aksi untuk mencapai keanggotaan tersebut. Dengan kebijakan-kebijakan ini, agenda bilateral antara Kyiv dan Moskow menjadi menguntungkan bagi Rusia.

Di front domestik, kebijakan Yanukovych menjadi semakin otoriter. Pada 30 September 2010, Mahkamah Konstitusi Ukraina membatalkan amandemen konstitusi yang telah disetujui oleh parlemen Ukraina pada Desember 2004. Hal ini terjadi setelah hakim-hakim yang menentang keputusan tersebut diberhentikan dan diganti dengan empat hakim baru yang mendukungnya. Ini memungkinkan Yanukovych untuk kembali ke masa sebelum Orange Revolution, memberikan presiden kekuatan pengaruh yang besar, dan melemahkan otoritas parlemen.

2- Adapun Eropa, mereka menyadari bahwa Rusia memanfaatkan kartu gas dan pasokannya ke Barat melalui Ukraina sebagai alat tekan dan iming-iming agar Ukraina tetap berada di bawah pengaruh Rusia, atau setidaknya tidak memihak Barat dengan mengorbankan Rusia. Oleh karena itu, Eropa mencoba menggoda Ukraina dengan uang dan solusi alternatif dari ketergantungan penuh pada gas Rusia. Uni Eropa menawarkan uang kepada Ukraina untuk meningkatkan infrastruktur gas dan teknologi, serta berpartisipasi dalam eksploitasi shale gas (gas serpih). Mulai ada pembicaraan untuk menjadikan gas sebagai poros energi. Berdasarkan latar belakang ini, Ukraina dan Uni Eropa menandatangani protokol bergabung dengan perjanjian energi pada September 2010, yang mulai berlaku pada Februari 2011. Awal tahun ini, Ukraina juga menandatangani kontrak senilai 10 miliar dolar dengan perusahaan Shell untuk mengeksploitasi cadangan shale gas di Ukraina, yang menjadi salah satu kemitraan terbesar di Eropa. Diyakini bahwa ini akan menjadi salah satu kontrak terbesar untuk ekstraksi gas alam bawah tanah dari serpihan batu selama lima puluh tahun ke depan di Eropa.

Saat ini Ukraina sedang bernegosiasi dengan Uni Eropa terkait integrasi dengannya, namun Partai Regional (partai Yanukovych) menghambat upaya tersebut. Kepala delegasi Uni Eropa untuk Ukraina, Jan Tombinski, mendesak anggota Partai Regional untuk menghentikan penghambatan kerja komite parlemen untuk integrasi Eropa. Perkembangan semacam ini mengganggu Rusia. Untuk menandingi insentif ekonomi Uni Eropa sebagai bagian dari pembicaraan integrasi, Rusia menawarkan Ukraina untuk menjadi anggota Customs Union (Uni Bea Cukai). Akibat tekanan Rusia dan loyalitas Yanukovych kepada Rusia, parlemen Ukraina pada 30-7-2012 mengesahkan perjanjian kawasan perdagangan bebas (Rusia), menjadikan Ukraina negara ketiga setelah Rusia dan Belarusia yang mengesahkan perjanjian yang dibentuk pada 18/10/2011 ini. Perjanjian tersebut awalnya ditandatangani oleh delapan negara dari Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) yang dipimpin oleh Rusia bersama Belarusia, Ukraina, Armenia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Moldova, dan Tajikistan. Rusia dan Belarusia telah mengesahkannya, diikuti oleh Ukraina, sementara pengesahan dari negara-negara lain menyusul.

Meskipun demikian, sebagaimana Yanukovych menghadapi tekanan Rusia, ia juga menghadapi tekanan dari Uni Eropa yang menolak Ukraina bergabung ke dalam Customs Union dengan Rusia dan integrasi lebih lanjut dengan Rusia. Oleh karena itu, Uni Eropa memberitahu Ukraina dalam KTT yang mempertemukan keduanya baru-baru ini pada 25-3-2013 di Brussels bahwa tidak mungkin menggabungkan keanggotaan Uni Eropa dan Customs Union. Uni Eropa sebelumnya telah memfasilitasi Ukraina untuk bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Peter Mandelson, Komisaris Perdagangan Uni Eropa, mengatakan pada 14/1/2013: "Uni Eropa adalah pendukung kuat keanggotaan Ukraina di WTO, dan ini adalah langkah pertama menuju integrasi Ukraina yang lebih besar dengan ekonomi global dan Eropa."

Dengan demikian, tampak jelas bahwa Yanukovych, di saat ia setia kepada Rusia, ia juga mencoba mendekati Uni Eropa. Artinya, ia sedang memainkan irama keseimbangan antara kepentingan Rusia dan Eropa di Ukraina.

3- Adapun Amerika, runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 menciptakan peluang baru bagi kekuatan Eropa lama, serta bagi Amerika sebagai kekuatan superdunia, untuk menjalankan pengaruh lebih besar di panggung politik Ukraina. Karena Eropa sibuk dengan penyatuan kembali Jerman, penyatuan mata uang di Eropa, dan kesibukan dalam perselisihan antarnegara Eropa, peluang terbuka bagi Amerika untuk memanfaatkan situasi tersebut semaksimal mungkin. Rusia sama sekali tidak mampu menghentikan Amerika, karena ia sedang benar-benar runtuh bersamaan dengan runtuhnya Uni Soviet dan transisi menuju kapitalisme. Amerika memanfaatkan kelemahan Rusia, sehingga mantan Presiden George H.W. Bush pada 24 Oktober 1992 menandatangani Freedom for Russia and Emerging Eurasian Democracies and Open Markets Support Act—yang juga dikenal sebagai Freedom Support Act (FSA)—untuk memungkinkan pendekatan Amerika yang terpadu dalam memberikan bantuan kepada negara-negara Eurasia setelah runtuhnya Uni Soviet. Tugas mengoordinasi dan mengelola program bantuan luar negeri yang diamanatkan oleh Freedom Support Act dipercayakan kepada kantor koordinator bantuan AS untuk Eropa dan Eurasia di Departemen Luar Negeri (EUR/ACE).

Dalam kerangka Freedom Support Act, pemerintahan Amerika berturut-turut berusaha meningkatkan pengaruhnya di Ukraina. Sebagai contoh, setelah kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet pada tahun 1991, Amerika mampu menggunakan presiden pertama Ukraina, Leonid Kravchuk, dalam memulai proses trilateral tahun 1994 untuk menghapuskan senjata nuklir di wilayah Ukraina. Amerika juga mampu membangun kemitraan strategis dengan Ukraina melalui presiden kedua, Leonid Kuchma, pada tahun 1994. Kuchma juga menyepakati perjanjian kemitraan dan kerja sama dengan Uni Eropa dan menyetujui kemitraan istimewa dengan NATO. Amerika bahkan mampu memengaruhi perjanjian bilateral antara Rusia dan Ukraina pada Mei 1997 dalam masalah hak-hak armada Laut Hitam Rusia di semenanjung Krimea. Amerika lebih sukses lagi di Ukraina ketika Presiden Viktor Yushchenko berhasil berkuasa dalam pemilu tahun 2005 setelah Orange Revolution. Yushchenko adalah antek Amerika, maka Amerika memanfaatkan masa pemerintahannya untuk mempercepat integrasi Ukraina dengan Barat. Selama masa jabatannya, Yushchenko mengancam akan mengusir armada Laut Hitam Rusia dari Sevastopol setelah berakhirnya kontrak sewa militer Rusia di sana pada tahun 2017. Yushchenko tidak menyembunyikan keinginannya untuk mengintegrasikan Ukraina sepenuhnya ke dalam institusi seperti Uni Eropa dan NATO. Kyiv pun melakukan negosiasi mengenai perjanjian kemitraan dengan Uni Eropa dan menuntut rencana aksi keanggotaan di NATO, namun upaya ini gagal ketika orang Rusia, Yanukovych, naik ke tampuk kekuasaan.

Meskipun demikian, Amerika terus menekan Ukraina agar tidak bergabung dengan Customs Union Rusia dan mendorongnya untuk bergabung dengan Uni Eropa, karena hal itu akan memasukkannya ke dalam lingkaran Barat dan membuka jalan di masa depan untuk memasukkan Ukraina ke dalam NATO. Dengan demikian, hal ini akan membuka jalan bagi hegemoni Amerika atasnya, membatasi pengaruh Rusia di sana, bahkan menciptakan pengepungan terhadap Rusia dari arah Eropa Timur.

Amerika fokus dalam memenangkan Ukraina di bidang militer dengan melibatkannya dalam latihan militer, dengan tujuan akhir memasukkannya ke dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Latihan NATO telah dilakukan di Laut Hitam pada 14/7/2010 dan berlanjut hingga 26-7-2010, yang melibatkan Ukraina. Hal itu terjadi hanya beberapa bulan setelah pemilihan Yanukovych dan di puncak hubungan baiknya dengan Rusia. Meskipun Rusia memprotes hal itu melalui Kementerian Luar Negerinya dalam sebuah pernyataan yang dirilis dengan mengatakan: "Karakter latihan tersebut dan upaya untuk menyajikannya sebagai anti-Rusia serta partisipasi negara-negara di luar kawasan menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran. Begitu pula kebijakan Ukraina yang bertujuan mempercepat bergabungnya dengan aliansi Atlantik tidak berkontribusi pada penguatan hubungan bertetangga yang baik." (Situs Radio Iran, 19-7-2010). Demikian pula latihan angkatan laut gabungan Amerika-Ukraina berlangsung pada 13-6-2011 untuk pasukan angkatan laut Ukraina di Laut Hitam, dan "Rusia menyatakan ketidaksenangannya dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri Rusia dan menganggap langkah ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya." (Al-Arabiya, 12-6-2011).

4- Kita memahami dari semua itu bahwa Yanukovych tidak memutuskan hubungannya dengan Rusia dan loyalitasnya kepadanya, namun ia tidak dapat memenuhi semua permintaan Rusia karena tekanan internal dan eksternal serta keinginannya untuk berhasil dalam pemilu 2015. Rusia menyadari hal itu, maka lebih baik baginya Yanukovych tetap bertahan daripada datang orang-orang yang loyal kepada Barat yang akan bekerja menjauh dari Rusia menuju Barat, sehingga membahayakan kepentingan Rusia. Namun, Yanukovych tidak akan melangkah terlalu jauh dalam hubungannya dengan Barat hingga mengakhiri loyalitasnya kepada Rusia, apalagi basis massa Yanukovych adalah para pendukung haluan menuju Rusia, sehingga ia tidak bisa mengabaikan hal itu. Namun, ia akan tetap bekerja untuk menyenangkan Barat, terbuka kepadanya, dan mewujudkan kepentingannya bersamanya. Rusia memahami hal itu, sehingga mereka tidak memperketat cengkeramannya terlalu kuat pada Yanukovych, namun juga tidak mengulurkan tali kendali kepadanya hingga ia lepas dari tangan mereka.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda