Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Penarikan Diri Trump dari Perjanjian Nuklir

May 13, 2018
4829

Pertanyaan:

Kita mengetahui bahwa Amerika adalah negara institusi dan bahwa garis besar politik internasional Amerika dikendalikan oleh institusi-institusi pemerintahan di Amerika, bukan hanya oleh pribadi presiden saja. Lantas, bagaimana kita menjelaskan bahwa Amerika mengadakan perjanjian nuklir dengan Iran dan menganggap penandatanganannya sebagai sebuah kemenangan, namun sekarang Trump datang dan menarik diri darinya serta menganggap penarikan dirinya sebagai sebuah kemenangan? Mohon penjelasan mengenai masalah ini, terima kasih dan apresiasi kami sampaikan.

Jawaban:

Benar bahwa garis besar politik internasional Amerika dikendalikan oleh institusi-institusi dan bukan hanya pribadi presiden, meskipun gaya presiden tampak menonjol dalam mengeluarkan keputusan. Namun, hal yang tidak disebutkan dalam pertanyaan adalah landasan yang menjadi pijakan bagi garis-garis besar ini, yang mana itu merupakan penentu dalam jawaban tersebut. Landasan pada negara institusi tersebut adalah kepentingan Amerika. Jika kepentingan tersebut dalam kondisi tertentu mengharuskan penandatanganan suatu perjanjian, maka institusi-institusi akan menyetujuinya dan presiden akan menyetujuinya. Jika kepentingan Amerika mengharuskan pembatalan perjanjian tersebut, maka institusi-institusi akan menyetujui pembatalan tersebut dan presiden pun menyetujui pembatalan tersebut. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1- Iran sangat penting untuk mempertahankan rezim thaghut Bashar, agen Amerika, sampai Amerika menemukan penggantinya. Amerika merasa khawatir terhadap gerakan rakyat di Suriah yang membawa slogan-slogan Islam dan hukum Islam. Amerika takut mereka akan menjatuhkan sang thaghut dan menegakkan hukum Islam di Suriah, sehingga pengaruh Amerika akan hilang dari kawasan tersebut, terutama ketika gelombang gerakan rakyat selama tahun 2015 terus meningkat dan bergerak maju dari satu tempat ke tempat lain... Oleh karena itu, Amerika ingin menonjolkan peran Iran dan mencabut sanksi-sanksinya agar Iran mampu menjalankan peran yang ditugaskan kepadanya. Maka, kepentingan Amerika mengharuskan penandatanganan perjanjian tersebut untuk menghilangkan hambatan bagi Iran. Perjanjian tersebut, menurut standar apa pun, sangat menghinakan dan memalukan bagi Iran... Hal ini sangat jelas terlihat dari pernyataan Presiden Amerika saat itu. Segera setelah penandatanganan perjanjian pada 14 Juli 2015, Presiden Amerika Obama menyampaikan pidato televisi yang mengatakan: ("Kesepakatan ini menutup jalan bagi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir... Perjanjian tersebut menetapkan penghapusan dua pertiga perangkat sentrifugal yang dipasang di Iran dan menyimpannya di bawah pengawasan internasional, memusnahkan 98% uranium yang diperkaya yang mereka miliki, menerima kembalinya sanksi dengan cepat jika terjadi pelanggaran terhadap perjanjian tersebut, dan memberikan akses permanen kepada Badan Energi Atom Internasional untuk menginspeksi situs-situs di mana pun dan kapan pun diperlukan." BBC 14/7/2015).

Kami telah menjelaskan tujuan Amerika dari perjanjian nuklir dengan Iran dalam Jawaban Pertanyaan pada 22 Juli 2015 setelah Dewan Keamanan mensahkan perjanjian tersebut pada 20 Juli 2015, di mana kami katakan: (... Semua itu menunjukkan bahwa tujuan Amerika di balik perjanjian ini adalah untuk memudahkan urusan bagi Iran dengan mencabut sanksi dan menjalin hubungan terbuka dengannya, sehingga Iran dapat terus memainkan peran yang akan memudahkan pekerjaan Amerika, meringankan bebannya, dan menutupi tipu muslihatnya terhadap negara-negara dan rakyat di kawasan tersebut. Maka, Iran benar-benar melaksanakan kebijakan Amerika seperti yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman. Namun, alih-alih pelaksanaannya dilakukan dari balik tirai yang menghalangi pandangan seperti sebelumnya, hal itu kini dilakukan dari balik tirai yang transparan atau tanpa tirai sama sekali!). Dan memang itulah yang terjadi, Iran memainkan peran yang kotor dan kriminal demi kepentingan Amerika di negeri-negeri ini; Suriah, Irak, dan Yaman, di mana peran tersebut sangat menonjol dan terbuka dengan nama perlawanan (al-muqawamah) dan penentangan (al-mumana'ah) yang dusta serta di bawah sentimen sektarian yang menjijikkan.

Dengan demikian, sudah menjadi kepentingan Amerika saat itu untuk menandatangani perjanjian tersebut guna memudahkan kondisi ekonomi Iran dan memungkinkannya melaksanakan rencana-rencana Amerika di kawasan dengan aktif sembari merasa tenang karena sanksi-sanksinya dicabut. Terutama karena situasi di Suriah saat itu hampir keluar dari pengaruh Amerika akibat lemahnya rezim thaghut Bashar, maka peran yang dituntut adalah Iran harus aktif membelanya dengan rasa tenang karena sanksi-sanksinya telah dicabut. Kondisi Bashar pada tahun 2015 adalah kondisi yang rapuh dan hampir runtuh. Oleh karena itu, Amerika mengadakan perjanjian nuklir dengan Iran untuk mengaktifkan perannya di Suriah pada 14 Juli 2015, kemudian tidak cukup sampai di situ, Amerika juga memasukkan Rusia secara militer setelah pertemuan Obama dengan Putin pada 30 September 2015 dan memberikan izin kepada Rusia untuk melakukan intervensi guna mencegah jatuhnya rezim Bashar sampai ditemukan agen Amerika sebagai penggantinya.

2- Namun, pandangan Amerika saat ini telah berubah setelah posisi Bashar berada di atas angin. Hal ini memunculkan pandangan lain bagi pemerintahan Trump, terutama apa yang telah dicapai Amerika secara langsung maupun tidak langsung di Irak dan Suriah melawan penduduk kedua negara tersebut yang berupaya melakukan pembebasan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk memberikan peran utama secara langsung kepada Iran, sehingga keadaan saat ini telah berubah. Hal ini sudah dimulai pada akhir masa jabatan Obama setelah ia mulai memberikan peran langsung kepada rezim di Turki dan Arab Saudi, di mana konspirasi keduanya terhadap revolusi Suriah lebih hebat dan lebih berbahaya daripada senjata Rusia, Iran, partainya, serta rezim Suriah yang tidak mampu melemahkan tekad para pejuang. Namun, rezim Turki dan Saudi mampu memberikan kemenangan bagi rezim Bashar dengan cara-cara yang licik, yang membuat peran Iran bergeser dari peran alami yang sebelumnya mengelola situasi sendirian di depan Turki dan Saudi... Maka dari itu, Amerika memutuskan untuk menjadikan peran Iran sebagai peran pelengkap dan tidak lagi berada di barisan terdepan sendirian. Hal ini jelas terlihat dalam perjanjian Astana, dan kemudian Amerika berhasil menghentikan revolusi Suriah dengan dalih de-eskalasi (stop escalation).

Inilah salah satu alasan pengumuman penarikan diri Amerika saat ini dari perjanjian nuklir dengan Iran, di mana kepentingan Amerika mengharuskan penarikan diri dari perjanjian tersebut sebagai persiapan bagi syarat-syarat baru yang akan mengurangi peran Iran di kawasan. Hal itu mengharuskan Trump untuk mendramatisir manfaat perjanjian nuklir bagi Iran demi menunjukkan bahwa ia ingin menarik diri karena perjanjian ini, menurut klaimnya, membantu Iran mendapatkan senjata nuklir. Oleh karena itu, Trump mengklaim pada 8 Mei 2018 saat mengumumkan penarikan diri dari perjanjian nuklir dengan Iran dalam pidato televisi bahwa ("Kelanjutan perjanjian tersebut akan segera memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah" dan bahwa "Iran tidak melakukan apa pun yang lebih berbahaya daripada memiliki senjata nuklir." Ia melanjutkan, "Perjanjian tersebut seharusnya melindungi Amerika dan sekutunya, namun justru memungkinkan Iran untuk terus memperkaya uranium." Ia menambahkan dengan berkata: "Bahwa dia siap dan mampu merundingkan perjanjian baru dengannya, ketika Iran sudah siap." Ia juga berkata, "Setelah berkonsultasi dengan para pemimpin kawasan dan dunia, saya menyimpulkan bahwa kita tidak bisa melalui perjanjian ini mencegah Iran mendapatkan bom nuklir. Saya mengumumkan penarikan diri saya dari perjanjian nuklir... Perjanjian tersebut tidak melakukan apa pun untuk mencegah aktivitas Iran yang merusak di kawasan. Dalam beberapa menit, saya akan menandatangani memo untuk memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran." Lalu ia berdiri dan menandatanganinya. Ia menambahkan, "Perjanjian nuklir Iran dinegosiasikan dengan buruk. Perjanjian tersebut penuh cacat dan kita harus melakukan sesuatu terhadapnya, dan syarat-syarat yang ditetapkan tidak dapat diterima. Dengan keluarnya kita dari perjanjian, kita akan mencari solusi permanen yang berkelanjutan dan komprehensif." "Perjanjian ini sangat buruk, memberikan jutaan dolar kepada rezim teroris Iran." Sputnik dan Al-Jazeera 8/5/2018).

Di sini tampak sangat jelas bahwa Trump sengaja mengatakan hal-hal yang tidak benar secara berlebihan dan mendramatisir kemampuan Iran guna membenarkan penarikan diri dari perjanjian nuklir tersebut, tanpa mengungkapkan alasan yang sebenarnya, yaitu bahwa kepentingan Amerika saat ini mengharuskan pembatasan peran Iran dan pengurangan perannya di kawasan, namun Iran tetap harus siap untuk melaksanakan apa yang diminta oleh Amerika... Hal seperti ini berulang kali terjadi dalam politik Amerika; ia mengubah dan mengganti kebijakannya sesuai kepentingannya. Hal seperti ini juga terjadi pada Rusia; setelah pertemuan Obama dengan Putin pada 30 September 2015 dan menugaskannya untuk masuk ke Suriah guna membantu Iran dalam misi mempertahankan peran Bashar, serta kesiapan Rusia untuk peran ini, Amerika pun mengizinkan Rusia untuk masuk... Namun ketika Rusia mencoba memanfaatkan perannya agar tampak seolah-olah bertindak sendiri terlepas dari Amerika, maka kepentingan Amerika mengharuskan untuk (menghukum) Rusia agar ia menyadari ukurannya, maka terjadilah serangan militer tersebut! Sebagaimana yang kami jelaskan dalam Jawaban Pertanyaan pada 14 April 2018 (... Bahwa serangan Amerika adalah hukuman bagi Rusia lebih dari sekadar serangan terhadap senjata kimia Suriah. Sekitar sepuluh situs diserang tadi pagi, namun beberapa komentar dari pakar militer di media massa pagi ini menyebutkan bahwa hanya sedikit dari situs-situs tersebut yang merupakan pabrik kimia atau pusat penelitian, sementara sebagian besarnya adalah situs militer). Dengan demikian, perubahan kebijakan Amerika berdasarkan kepentingannya adalah hal yang sudah masyhur.

3- Kemudian ada hal lain yang menjadi kepentingan Amerika, yaitu Amerika ingin memalingkan pandangan dari agresi Yahudi dalam pendudukan Palestina dan Al-Quds (Yerusalem). Sejak lama Amerika sudah mempersiapkan secara awal untuk memindahkan kedutaannya ke Al-Quds, namun karena menunggu solusi dua negara dan pembagian Al-Quds, Amerika menunda pemindahan kedutaan tersebut. Sekarang Amerika melihat perlunya beralih ke solusi politik lain selain dua negara dengan memasukkan perubahan, polesan, dan solusi lain yang disebutnya sebagai Deal of the Century (Kesepakatan Abad Ini). Hal ini mengharuskan pelaksanaan apa yang telah ditetapkan Amerika sebelumnya, yaitu memindahkan kedutaannya ke Al-Quds. Masalah ini ingin dikurangi sensitivitasnya oleh Amerika, maka ia fokus pada Iran dan mendramatisir perannya. Konferensi dengan para penguasa ruwaibidhah pada 21 Mei 2017 adalah buktinya, ketika Trump berpidato di hadapan para pemimpin dan perwakilan dari 55 negara di dunia Islam guna membenarkan pembuatan perjanjian perdamaian antara entitas Yahudi dengan rezim Saudi dan rezim lainnya, serta menuju penerapan solusi tertentu untuk masalah Palestina yang belum diumumkan oleh Amerika. Rezim Saudi sendiri bertugas mempromosikannya dan menekan Otoritas Palestina agar menyetujuinya. Artinya, Trump berupaya memfokuskan permusuhan kepada Iran alih-alih kepada entitas Yahudi yang merampas Palestina, tanah Isra' dan Mi'raj. Arab Saudi pun berjalan di belakang Trump, mendukung apa yang ia katakan dan mempromosikannya... Oleh karena itu, kepentingan Amerika mengharuskan pendramatisiran masalah perjanjian nuklir seolah-olah itu bukan perjanjian penghinaan bagi Iran, melainkan perjanjian yang memberikan kekuatan bagi Iran, padahal apa yang termaktub di dalamnya sangat sulit bagi Trump atau siapa pun untuk menemukan perjanjian yang lebih menghinakan Iran daripada itu...

Telah diamati bahwa Amerika fokus menjadikan Iran sebagai musuh di kawasan alih-alih entitas Yahudi. Sebagai contoh, ketika terjadi demonstrasi baru-baru ini di Iran, Amerika juga fokus padanya dan menunggangi gelombang tersebut, padahal peran Iran di kawasan adalah kebijakan Amerika yang dirancang dengan sangat matang. Amerika menunggangi gelombang demonstrasi protes di Iran bukan dimaksudkan untuk mengubah rezim, melainkan untuk tujuan-tujuan lain yang telah kami jelaskan dalam Jawaban Pertanyaan pada 11 Januari 2018 di mana disebutkan: (... Jadi mengapa Amerika menunggangi gelombang tersebut dan menjadikannya kesempatan emas? Hal itu karena dua hal penting: Pertama, memalingkan pandangan dari Palestina dan pernyataan Trump tentang Al-Quds serta menyibukkan kawasan dengan masalah Iran, sehingga Iran menjadi musuh nomor satu di kawasan. Dengan demikian, fokus akan tertuju pada Iran dan berkurang atau memudar dari entitas Yahudi yang merampas Palestina... Kedua, menciptakan pembenaran bagi bertahannya para agen Amerika di kawasan untuk tetap mengekor kepada Amerika dengan dalih bahwa Amerika berdiri menentang Iran dan melindungi mereka dari bahaya Iran. Pernyataan Trump tentang Al-Quds sebagai ibu kota entitas Yahudi—orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman—pernyataan itu... menampar wajah para agen Amerika... Karena Al-Quds ada di dalam hati dan pikiran kaum Muslim, dan diamnya para agen tersebut atas pernyataan Trump serta bertahannya mereka sebagai agen Amerika yang loyal dan bersahabat dengannya adalah aib besar bagi mereka... Maka pernyataan Trump yang meningkat melawan Iran adalah sedotan tempat mereka bergantung untuk membenarkan kesetiaan mereka kepada Amerika sebagai agen-agennya meskipun ada pernyataan Trump tentang Al-Quds... yaitu dengan mengatakan bahwa Trump berdiri menghadapi Iran musuh bebuyutan! Itu adalah alasan yang lebih buruk daripada dosanya sendiri.)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji." (QS. Al-Ma'idah [5]: 1)

4- Dalam perjanjian nuklir tersebut, Amerika adalah faktor penentunya (the fulcrum). Eropa menerima draf Amerika untuk perjanjian tersebut dan merasa cukup dengan menjadi penandatangan atau pihak di dalamnya, seolah-olah merasa puas hanya dengan bisa kembali membawa pulang rampasan perang!... Kami telah menjelaskan posisi Eropa selama negosiasi perjanjian nuklir dalam Jawaban Pertanyaan pada 22 Juli 2015, kemudian kami katakan setelah penjelasan tersebut: (... Dengan demikian, tidak ada lagi pilihan bagi orang-orang Eropa—setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat mencegah perjanjian nuklir Amerika-Iran atau memengaruhi dominasi Amerika—kecuali bergerak menuju Iran untuk mendapatkan keuntungan dengan memenangkan investasi dan proyek-proyek di sana karena mereka sedang mengalami krisis keuangan. Melalui itu pula, mereka dapat bekerja di dalam Iran dalam jangka panjang untuk mengembalikan pengaruh Eropa atau sebagian darinya di sana bersandingan dengan pengaruh Amerika...). Begitulah, Eropa memanfaatkan penandatanganan perjanjian tersebut dan membuka diri terhadap Iran secara komersial, sehingga neraca perdagangan antara Eropa dan Iran meningkat, sementara transaksi perdagangan dengan Amerika relatif menurun sebelum perjanjian dan selama pemberlakuan sanksi. Inilah alasan ketiga yang membuat Trump menyegerakan pembatalan perjanjian sebagai pukulan yang ditujukan kepada Eropa, terutama dari sisi komersial... Trump mengumumkan pada 7 Mei 2018 dalam cuitannya di Twitter tentang percepatan keputusannya mengenai perjanjian nuklir Iran dari tanggal 12 Mei menjadi 8 Mei. Terlihat bahwa percepatan ini terjadi karena pergerakan Eropa yang dilakukan dalam upaya membujuknya agar tidak menarik diri dari perjanjian nuklir tersebut. Situs Al-Araby Al-Jadeed mengutip dari situs Axios bahwa Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo memberitahu rekan-rekannya dari Prancis, Inggris, dan Jerman pada Jumat 4 Mei 2018 tentang niat Presiden Trump untuk mengumumkan penarikan negaranya dari perjanjian nuklir, dan bahwa ia menolak kesepahaman yang telah disusun bersama para negosiator Amerika selama beberapa bulan terakhir terkait kemungkinan amandemen perjanjian tersebut. Maka, Amerika tidak mau mengerti dan bekerja sama dengan orang-orang Eropa, serta tidak memedulikan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika memiliki perhitungan lain dan ingin menyingkirkan orang-orang Eropa, bukan bekerja sama dengan mereka dalam masalah ini.

5- Eropa menyadari bahwa pembatalan perjanjian akan menimbulkan kerugian komersial yang signifikan bagi mereka sebagai pendahuluan dari kerugian politik. Oleh karena itu, mereka mengerahkan segala upaya dalam pertemuan dengan Trump untuk membujuknya agar tidak menarik diri. Macron pergi ke Amerika dan mencoba membujuk Presiden Amerika dari niatnya menarik diri dari perjanjian itu, namun ia gagal. Langkah ini diikuti oleh Kanselir Jerman Merkel, dan keduanya telah memberikan konsesi kepada Amerika, namun Amerika tidak menerimanya. Maka posisi Eropa tampak lemah. Kemudian Inggris bergerak dengan menghubungi Macron dan Merkel, lalu mereka menyatakan tetap teguh pada perjanjian nuklir Iran. Selanjutnya Menteri Luar Negeri Inggris Johnson mengunjungi Amerika dan menyatakan bahwa dunia lebih aman dengan adanya perjanjian daripada tanpa perjanjian, dan Inggris mulai bergerak dengan kuat. Melihat hal itu, Trump memutuskan untuk memajukan jadwal pengumuman posisinya terhadap perjanjian dari 12 Mei menjadi 8 Mei guna menutup jalan bagi pergerakan Eropa, lalu ia mengumumkan apa yang ia umumkan. Ia sama sekali tidak memedulikan orang-orang Eropa karena institusi-institusi Amerika melihat bahwa dalam ketiga alasan tersebut terdapat kepentingan yang mendorong Amerika untuk membatalkan perjanjian.

6- Adapun reaksi-reaksinya adalah sebagai berikut:

a- Eropa merasa sedih, penuh penyesalan, dan kekhawatiran! Kanselir Jerman Merkel mengatakan: ("Keputusan Presiden Amerika Trump terkait perjanjian tersebut sangat fatal dan menimbulkan penyesalan serta kekhawatiran," dan ia berkata, "Kami akan tetap berkomitmen pada perjanjian ini dan kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk memastikan kepatuhan Iran terhadapnya, dan bahwa Jerman mengambil keputusan ini bekerja sama dengan Inggris dan Prancis." Ia menambahkan bahwa "jalan keluar harus melalui dialog bersama" dan bahwa "Eropa harus memikul tanggung jawab lebih besar dalam kebijakan luar negeri dan keamanan." Ia menegaskan bahwa Jerman "akan mengerahkan segala kemampuannya demi memastikan Teheran tetap memegang tanggung jawab yang dibebankan kepadanya berdasarkan perjanjian nuklir dan ia menunjukkan bahwa Teheran hingga saat ini telah memenuhinya, serta mengatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak boleh diragukan melainkan harus dirundingkan perjanjian yang lebih luas atas dasar tersebut." DPA, Reuters 9/5/2018). Ia menyatakan kekecewaan Eropa atas kegagalannya di hadapan Amerika dan kekhawatirannya akan hasil dari proses penarikan diri Amerika dari perjanjian tersebut. Orang-orang Eropa, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, telah bergerak di tingkat tertinggi menuju Amerika untuk membujuk Trump agar tidak menarik diri dan mencoba mengakomodasi Trump melalui usulan negosiasi ulang dengan Iran, namun ia tidak menanggapi mereka, bahkan mengejutkan mereka dengan memajukan jadwal pengumuman posisinya terhadap perjanjian. Begitulah, orang-orang Eropa menunjukkan kelemahan dalam menghadapi Amerika.

Kemudian selama minggu kedua bulan Mei 2018, muncul pernyataan-pernyataan Eropa yang kontradiktif yang mencerminkan keguncangan dan kebingungan mereka atas penarikan diri Amerika. Di satu sisi, beberapa pernyataan menunjukkan tantangan, di mana Koordinator Urusan Luar Negeri dan Keamanan Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan "Saya sangat khawatir dengan pengumuman malam ini (pengumuman Trump) tentang pengenaan sanksi baru," dan ia berkata "Uni Eropa bertekad untuk menjaganya (perjanjian tersebut). Kami akan menjaga perjanjian nuklir ini bekerja sama dengan seluruh komunitas internasional." (Reuters 8/5/2018). Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian berkomentar tentang keputusan Trump "Bahwa perjanjian tersebut belum mati dan bahwa menteri luar negeri Inggris, Prancis, Jerman, dan Iran akan mengadakan pertemuan pada Senin depan (14/5/2018) untuk membahas perkembangan terakhir... Program rudal balistik Iran dan masalah lainnya harus dibahas. Namun pada saat yang sama, perjanjian nuklir harus dipertahankan, sembari menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional bersaksi atas kepatuhan Iran terhadap perjanjian tersebut." (Al-Jazeera 9/5/2018). Inggris, Prancis, dan Jerman mengumumkan posisi bersatu mereka dalam pernyataan bersama dengan mengatakan "Kami berkomitmen untuk menjamin pelaksanaan perjanjian dan kami akan bekerja dengan semua pihak terkait lainnya sehingga masalah ini tetap seperti itu, yang mencakup jaminan kelanjutan manfaat ekonomi yang terkait dengan perjanjian bagi rakyat Iran." (Al-Jazeera 9/5/2018). Johnson mengatakan di hadapan parlemen negaranya "Keputusan Washington untuk menarik diri dari perjanjian nuklir tidak mengubah posisi kami. Dan kami tidak memiliki niat untuk menarik diri," dan ia berkata "Saya mendesak Amerika Serikat untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat menghalangi pihak lain untuk terus melanjutkan penerapan perjanjian demi kepentingan keamanan kolektif kita." (The Guardian 9/5/2018). Ini adalah sikap-sikap yang menunjukkan bahwa Eropa akan menantang dan bertahan!

Di sisi lain, beberapa pernyataan Eropa menunjukkan kemunduran, kelunakan, dan ketakutan terhadap perusahaan-perusahaan mereka. Norbert Röttgen, ketua komite kebijakan internasional di partai Merkel mengatakan: "Bahwa akan sulit untuk mematuhi perjanjian nuklir tanpa Amerika mengingat perusahaan-perusahaan Eropa yang terus melakukan transaksi komersial dengan pihak Iran dapat terkena sanksi Amerika yang berat, dan harga itu tidak dapat dikompensasi." Ia memperingatkan dengan berkata: "Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan yang terdampak kemungkinan besar akan segera menarik investasi mereka atau menarik diri dari negara tersebut sepenuhnya." (Der Spiegel Jerman 9/5/2018). Menteri Luar Negeri Prancis Le Drian mengatakan pada 9/5/2018 di saluran RTL "Bahwa Iran sebelumnya telah setuju untuk memberlakukan pembatasan pada aktivitas nuklirnya dengan imbalan keuntungan ekonomi yang akan coba dipertahankan oleh orang-orang Eropa... Dan bahwa otoritas akan bertemu dengan perusahaan-perusahaan Prancis yang beroperasi di Iran dalam beberapa hari ke depan untuk membahas bagaimana kita dapat membantu operasi mereka di Iran guna mencoba melindunginya sebisa mungkin dari tindakan Amerika." Demikianlah, orang-orang Eropa menunjukkan kekhawatiran mereka atas nasib keuntungan ekonomi mereka.

b- Adapun posisi Iran, terlihat di dalamnya ketenangan yang relatif sampai batas tertentu, serta tidak condong kepada Eropa. Presiden Iran Hassan Rouhani mendeskripsikan keputusan Trump sebagai "perang psikologis dan tekanan ekonomi." Ia berkata "Kami tidak akan membiarkan Trump menang dalam perang psikologis dan tekanan ekonomi terhadap rakyat Iran," dan ia berkata "Negaranya akan tetap berkomitmen pada perjanjian nuklir tanpa Amerika dengan syarat Iran dalam beberapa minggu ke depan memastikan bahwa ia akan mendapatkan hak istimewa perjanjian secara penuh dengan jaminan pihak-pihak yang tersisa. Kami akan menunggu beberapa minggu sebelum menerapkan keputusan ini. Kami akan berdialog dengan teman-teman dan sekutu kami serta dengan pihak-pihak lain dalam perjanjian nuklir yang sedang kami ajak bicara. Masalahnya sepenuhnya bergantung pada terjaminnya kepentingan kami. Jika terjamin, kami akan terus berjalan dengan perjanjian tersebut. Namun jika perjanjian itu hanyalah selembar kertas yang tidak menjamin kepentingan rakyat Iran, maka saat itu akan ada jalan yang jelas di depan kami." (Televisi Resmi Iran 9/5/2018). Ketua Majelis Syura Iran Ali Larijani mengatakan: "Eropa sebelumnya telah tunduk pada tekanan-tekanan Amerika yang menyebabkan penarikan banyak perusahaannya dari Iran berdasarkan sanksi internasional sebelumnya antara tahun 2012 dan 2015... Kita tidak bisa menaruh banyak kepercayaan pada pernyataan mereka tentang mempertahankan perjanjian, namun masalah ini layak untuk diuji selama beberapa minggu agar menjadi jelas bagi dunia bahwa Iran telah mencoba segala cara untuk mencapai solusi politik yang damai." (Deutsche Welle 9/5/2018). Jadi, Iran tidak percaya pada posisi orang-orang Eropa dan keteguhan mereka, serta ia merasa khawatir terhadap kepentingan-kepentingannya, dan jika sanksi diterapkan maka ia akan menderita kerugian.

c- Adapun Rusia, ia tidak menyatukan posisi penentangannya terhadap Trump dengan posisi Eropa, melainkan mengumumkan posisinya sendiri. Menteri Luar Negeri Lavrov menyatakan: "Rusia merasa sangat kecewa atas keputusan Trump... Tidak ada dan tidak mungkin ada alasan untuk membatalkan perjanjian yang telah menunjukkan efektivitas penuhnya... Dan bahwa Moskow siap untuk terus bekerja sama dengan pihak-pihak lain dalam perjanjian nuklir sebagaimana ia akan terus mengembangkan hubungannya dengan Iran." (Al-Jazeera 9/5/2018). Ia berbicara dengan malu-malu tentang kerja sama dengan pihak-pihak lain, yakni pihak Eropa, dan tidak melakukan kontak dengan mereka, sementara pihak Eropa telah memutuskan untuk bertemu dan bernegosiasi dengan Iran tanpa melibatkan Rusia. Maka posisi Rusia berada dalam kondisi yang sulit; ia tidak bisa berjalan bersama Amerika dalam masalah ini karena hal itu bertentangan dengan kepentingan dan kebijakannya terhadap Iran, namun ia juga tidak bisa berjalan bersama orang-orang Eropa yang berupaya merenggangkan hubungan dengan Rusia agar tidak digunakan oleh Amerika melawan mereka guna mengisolasi mereka.

d- Sedangkan posisi Tiongkok, utusan khususnya untuk Timur Tengah Gong Xiaosheng mengatakan bahwa "semua pihak yang berpartisipasi dalam perjanjian nuklir dengan Iran harus mematuhinya dan menggunakan dialog serta negosiasi untuk menyelesaikan perselisihan, dan bahwa negaranya siap untuk memperkuat kerja sama antara semua negara penandatangan perjanjian." (Xinhua 9/5/2018). Ini adalah pernyataan umum yang cair. Tiongkok tidak memihak negara-negara Eropa yang menentang penarikan diri dari perjanjian tersebut, melainkan menyetarakan antara posisi Amerika dan Eropa dengan pernyataan ini. Tiongkok tidak dapat diandalkan karena lemahnya posisi internasionalnya terhadap Amerika, dan ia hanya memikirkan hubungan perdagangannya dengan Amerika semata.

Kesimpulannya: Trump tidak mengumumkan penarikan dirinya dari perjanjian karena perjanjian nuklir itu merupakan kemenangan bagi Iran, demi kepentingan Iran, atau untuk mengangkat derajat Iran. Namun, hakikat perjanjian tersebut sebagaimana pada masa Obama adalah penghinaan bagi Iran dan konsesi yang memalukan baginya dalam proyek nuklirnya. Akan tetapi, Trump mengumumkan penarikan diri dari perjanjian tersebut karena kepentingan Amerika saat ini menuntut hal itu berdasarkan tiga faktor yang disebutkan di atas:

a- Kebutuhan akan peran Iran, terutama pada tahun 2015, tidak lagi ada sekarang sebagaimana pada tahun 2015...

b- Mendramatisir permusuhan Amerika terhadap Iran, terutama di hadapan Arab Saudi dan sekutunya, agar permusuhan dengan Iran ini menggantikan status permusuhan dengan entitas Yahudi...

c- Menghukum Eropa, terutama dari sisi komersial, di mana mereka memanfaatkan perjanjian tersebut dengan pembukaan perdagangan terhadap Iran dan mengurangi hubungan komersial mereka dengan Amerika...

Sesungguhnya Amerika dan Barat, sebagaimana pendahulu mereka dari kalangan orang-orang kafir dan musyrik, tidak menjaga janji dan tidak memelihara akad. Sebaliknya, mereka melanggar janji dan kesepakatan setiap saat dan mereka tidak bertakwa. Maka di manakah mereka dari nilai-nilai Islam dan hukum-hukumnya yang mewajibkan penunaian akad dan janji? Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji." (QS. Al-Ma'idah [5]: 1)

Sungguh, betapa butuhnya umat manusia hari ini—setelah orang-orang kafir memperbanyak kerusakan di muka bumi, menzalimi hamba-hamba Allah, serta menghancurkan tanaman dan keturunan—betapa butuhnya mereka kepada Negara Islam "Khilafah Islamiyah" yang Rasyidah, yang menunaikan akad, menjaga janji, serta menyebarkan keadilan, keamanan, dan keselamatan di tengah manusia... Maka marilah wahai kaum Muslim menuju penegakannya, karena di dalamnya terdapat kemuliaan, kepemimpinan, dan keagungan. Sungguh benar Rasulullah ﷺ ketika menyifatkan khalifah sebagai perisai bagi umat dari segala keburukan, kelemahan, dan kehinaan:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

"Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.)

27 Sya'ban 1439 H 13 Mei 2018 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda