Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jenis-Jenis Pemikiran

February 16, 2024
2214

Silsilah Jawaban Al-Alim Al-Jalil Atha’ bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengunjung Akun Facebook Beliau

Jawaban Pertanyaan: Jenis-Jenis Pemikiran

Kepada Abu Abdullah Sulaiman

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Disebutkan dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz 1 pada topik "Kebutuhan Umat Saat Ini terhadap Para Mufasir" baris kesembilan dan kesepuluh: (kakitābin fikriyyin ‘amīqi al-fikri mustanīrihi) "sebagai kitab pemikiran yang mendalam pemikirannya lagi cemerlang (mustanir)". Apakah kata mustanir di sana sudah benar?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kata (mustanir) adalah benar. Pemikiran (al-fikr) itu ada tiga jenis:

Dangkal (sathi), mendalam (‘amiq), dan cemerlang (mustanir). Rincian mengenai hal ini dapat Anda temukan dalam kitab At-Tafkir hlm. 86-92, dan saya kutipkan untuk Anda dari sana:

[Berpikir itu adakalanya dangkal (sathiyyan), adakalanya mendalam (‘amiqan), dan adakalanya cemerlang (mustaniran). Berpikir dangkal adalah cara berpikir orang awam pada umumnya. Berpikir mendalam adalah cara berpikir para ilmuwan. Adapun berpikir cemerlang, sering kali merupakan cara berpikir para pemimpin serta para ilmuwan dan orang awam yang tercerahkan. Berpikir dangkal hanyalah sekadar memindahkan fakta ke dalam otak tanpa mengkaji selain fakta tersebut, tanpa mencoba mengindra apa yang berkaitan dengannya, dan hanya mengaitkan pengindraan ini dengan informasi yang terkait dengannya tanpa mencoba mencari informasi lain yang berhubungan dengannya, kemudian menghasilkan kesimpulan yang dangkal. Inilah yang mendominasi kelompok masyarakat, mendominasi orang-orang dengan intelektualitas rendah, serta mendominasi orang-orang cerdas yang tidak terpelajar dan tidak terdidik...

Adapun berpikir mendalam adalah mendalami proses berpikir, yaitu mendalami pengindraan terhadap fakta dan mendalami informasi yang dikaitkan dengan pengindraan tersebut untuk memahami fakta. Ia tidak merasa cukup hanya dengan pengindraan dan informasi awal untuk mengaitkan pengindraan tersebut, sebagaimana dalam berpikir dangkal. Sebaliknya, ia mengulangi pengindraan terhadap fakta tersebut dan mencoba mengindranya lebih dari apa yang ia indra sebelumnya, baik melalui eksperimen maupun pengulangan pengindraan. Ia juga mencari informasi lain di samping informasi awal, serta berulang kali mengaitkan informasi tersebut dengan fakta lebih dari sekadar pengaitan biasa, baik melalui observasi berulang maupun pengaitan kembali. Dari jenis pengindraan dan pengaitan seperti ini, atau jenis informasi seperti ini, ia menghasilkan ide-ide yang mendalam, baik berupa hakikat (fakta pasti) maupun bukan. Dengan pengulangan dan pembiasaan hal tersebut, terwujudlah berpikir mendalam. Jadi, berpikir mendalam adalah tidak merasa cukup dengan pengindraan awal, informasi awal, dan pengaitan awal. Ini adalah langkah kedua setelah berpikir dangkal. Inilah cara berpikir para ilmuwan dan pemikir, meskipun tidak harus menjadi cara berpikir setiap orang yang berpendidikan. Jadi, berpikir mendalam adalah pendalaman dalam pengindraan, informasi, dan pengaitan.

Adapun berpikir cemerlang (al-tafkir al-mustanir) adalah berpikir mendalam itu sendiri ditambah dengan memikirkan apa yang ada di sekitar fakta dan apa yang berkaitan dengannya untuk mencapai kesimpulan yang benar. Artinya, berpikir mendalam adalah pendalaman dalam pemikiran itu sendiri, tetapi berpikir cemerlang adalah di samping adanya pendalaman dalam pemikiran, juga memikirkan apa yang ada di sekitarnya dan apa yang berkaitan dengannya, demi tujuan tertentu yaitu mencapai hasil-hasil yang benar. Oleh karena itu, setiap pemikiran cemerlang adalah pemikiran mendalam, dan tidak mungkin pemikiran cemerlang lahir dari pemikiran dangkal. Namun, tidak setiap pemikiran mendalam itu merupakan pemikiran cemerlang. Sebagai contoh, seorang ahli atom ketika meneliti pembelahan atom, seorang ahli kimia ketika meneliti struktur benda-benda, dan seorang faqih (ahli fikih) ketika meneliti penggalian hukum (istinbath) serta penyusunan undang-undang; mereka dan orang-orang yang sepadan dengannya ketika meneliti berbagai perkara, mereka menelitinya dengan mendalam. Jika bukan karena kedalaman tersebut, niscaya mereka tidak akan mencapai hasil-hasil yang memukau itu. Namun, mereka bukanlah para pemikir cemerlang, dan cara berpikir mereka tidak dianggap sebagai pemikiran cemerlang. Oleh karena itu, jangan heran jika Anda mendapati seorang ahli atom menyembah sepotong kayu, yakni salib, padahal kecemerlangan berpikir yang paling sederhana saja akan memperlihatkan bahwa kayu ini tidak memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya, serta bukan merupakan sesuatu yang layak disembah. Jangan heran pula jika Anda mendapati seorang pakar hukum yang piawai mempercayai keberadaan orang-orang suci (santo), dan menyerahkan dirinya kepada sesama manusia agar dosa-dosanya diampuni. Sebab, ahli atom, pakar hukum, dan yang semisal mereka, berpikir secara mendalam tetapi tidak cemerlang. Seandainya cara berpikir mereka cemerlang, niscaya mereka tidak akan sampai menyembah kayu, tidak akan percaya pada keberadaan orang suci, dan tidak akan meminta ampunan kepada sesama manusia. Memang benar bahwa seorang pemikir mendalam hanya mendalam pada apa yang ia pikirkan saja, bukan pada hal lainnya. Ia mungkin mendalam saat memikirkan pembelahan atom atau penyusunan undang-undang, tetapi ia bisa menjadi konyol pada hal lain jika ia memikirkannya. Ini benar, namun terbiasanya seorang pemikir dengan cara berpikir mendalam membuatnya mendalami sebagian besar apa yang ia pikirkan, terutama hal-hal yang berkaitan dengan simpul besar (al-’uqdah al-kubra) atau sudut pandang dalam kehidupan (wajhatun nazhar fil hayah). Namun, ketiadaan kecemerlangan dalam berpikirnya membuat ia terbiasa berpikir mendalam sekaligus terbiasa berpikir dangkal, bahkan berpikir konyol. Oleh karena itu, berpikir mendalam saja tidak cukup untuk membangkitkan manusia dan meningkatkan taraf berpikirnya. Namun, agar hal itu terjadi, harus ada kecemerlangan dalam berpikir sehingga terwujud ketinggian dalam berpikir...].

Jika Anda menginginkan penjelasan lebih lanjut, silakan merujuk kembali ke kitab tersebut. Semoga Allah menyertai Anda.

Saudara Anda, Atha’ bin Khalil Abu al-Rashtah

05 Sya’ban 1445 H 15 Februari 2024 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaganya): Facebook

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda