Pertanyaan:
Krisis dolar masih terus berlanjut; nilainya mengalami penurunan yang sangat mencolok. Hal ini diikuti oleh kenaikan harga minyak, emas, dan logam lainnya, kemudian disusul pula dengan kenaikan harga bahan pangan. Semua ini terjadi dalam sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal durasi dan intensitasnya, serta fakta bahwa fenomena ini mencakup beberapa krisis sekaligus...
Apakah krisis ini merupakan hasil dari masalah ekonomi yang nyata, ataukah ada tangan-tangan politik Amerika yang menggerakkan dan meningkatkannya?
Mohon penjelasannya, dan semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawaban:
Masalah ini memiliki sisi ekonomi yang nyata, namun tangan-tangan politik telah masuk ke dalam lini ini untuk memperburuk masalah, memperluas jalurnya, dan menjadikannya sebesar yang kita lihat sekarang.
Agar gambaran ini menjadi jelas sepenuhnya, kami akan menjelaskan bagaimana krisis ini bermula, bagaimana permainan politik masuk ke dalamnya, kemudian bagaimana pengaruhnya terhadap kenaikan harga minyak, emas, logam, hingga munculnya krisis pangan.
Pertama: Ada krisis nyata dalam ekonomi Amerika yang memengaruhi efektivitas dan kekuatan dolar, sehingga menyebabkan penurunan yang drastis. Krisis ini muncul karena faktor-faktor berikut:
Defisit Perdagangan Amerika
Amerika mengimpor barang dan jasa lebih banyak daripada yang diekspornya. Selera konsumen Amerika sangat terbuka untuk impor. Sebagai contoh, pada tahun 2003, Amerika mengimpor barang dan jasa senilai $1.652 miliar, sementara ekspornya setara dengan $1.203 miliar, yang berarti defisit perdagangannya mencapai $449 miliar. Defisit ini terus meningkat hingga mencapai $816 miliar. Selisih antara impor dan ekspor ini dibayar dengan lembaran kertas cetakan (dollar) Amerika atau obligasi pemerintah Amerika. Hal ini secara alami menyebabkan penurunan nilai riil dolar, meskipun tidak diumumkan secara resmi.
Amerika belum pernah mengalami defisit perdagangan seperti ini sebelumnya. Sebaliknya, Amerika pernah mengalami surplus perdagangan selama beberapa dekade, terutama setelah Perang Dunia II. Namun, surplus ini mulai berkurang... khususnya karena persaingan dari negara-negara Eropa dan Asia yang memproduksi barang dengan harga lebih rendah. Hal ini meningkatkan impor konsumen Amerika atas barang dan jasa dari negara-negara tersebut. Fenomena ini kemudian berbarengan dengan besarnya pengeluaran militer untuk Perang Vietnam, yang menyebabkan pembengkakan tagihan pembayaran. Akibatnya, pada tahun 1971, Amerika terpaksa membatalkan dukungan emas terhadap dolar (gold standard), yang menjadi guncangan pertama. Pada tahun 80-an, ketika perdagangan dunia tumbuh dan pabrik-pabrik pindah dari Amerika ke negara-negara dengan tenaga kerja murah, defisit ekonomi semakin terlihat. Impor dari negara-negara pengekspor barang murah seperti Meksiko, Cina, dan Malaysia secara konsisten menyebabkan kesenjangan perdagangan semakin lebar.
Dengan demikian, defisit neraca perdagangan dan neraca pembayaran telah menciptakan keraguan dan ketidakpercayaan investor terhadap ekonomi Amerika, yang kemudian menyebabkan jatuhnya nilai dolar.
Utang: Statistik Departemen Keuangan AS menunjukkan kenaikan utang pemerintah (pusat dan daerah) dari $4,3 triliun pada tahun 1990 menjadi $8,4 triliun pada tahun 2003, dan menjadi $8,9 triliun pada tahun 2007. Utang publik ini mencakup 64% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan demikian, Amerika Serikat dapat diklasifikasikan sebagai negara yang sangat menderita akibat utang publiknya. Beban utang Amerika tidak hanya terbatas pada pemerintah, tetapi juga mencakup individu dan perusahaan. Utang individu baru-baru ini mencapai $6,6 triliun. Adapun utang perusahaan menempati urutan pertama dengan jumlah mencapai $18,4 triliun. Dengan demikian, total keseluruhan utang adalah sekitar $34 triliun, atau tiga kali lipat dari PDB. Utang ini sendiri merupakan krisis ekonomi yang sangat serius.
Kenaikan Euro:
Sejak Euro dicetak, mata uang ini menjadi cadangan global kedua setelah dolar. Euro mewarisi posisi ini dari Deutsche Mark Jerman, bahkan melampaui posisinya, dan itu terjadi dengan mengorbankan dolar. Kepercayaan terhadap Euro semakin meningkat, sementara terhadap dolar semakin menurun. Semua ini memengaruhi permintaan terhadap dolar sehingga nilainya turun. Karena dolar kehilangan nilainya, banyak investor beralih menggunakan Euro dalam investasi mereka sebagai pengganti dolar.
Selain itu, Amerika juga menderita masalah ekonomi lainnya, terutama inflasi yang melampaui 4%, pengangguran sebesar 5%, industri yang mengalami kemunduran, kemiskinan, serta buruknya layanan pendidikan...
Semua faktor ini menyebabkan penurunan nilai dolar.
Penurunan ini mendorong beberapa bank sentral untuk mengurangi cadangan dolar mereka.
Paul Mackel, seorang ahli strategi mata uang di bank HSBC, menyatakan bahwa bank-bank sentral "telah menyadari sejak lama bahwa mereka tidak ingin menambah kepemilikan dolar secara berlebihan. Total kepemilikan bank sentral di seluruh dunia dalam bentuk dolar telah menurun dari 73 persen menjadi 64 persen."
Inilah basis ekonomi nyata dari krisis dolar.
Kedua: Setelah itu, tangan-tangan politik Amerika masuk untuk menggerakkan krisis guna melayani kepentingannya, dan memindahkan krisis dari krisis lokal Amerika menjadi krisis internasional... Hal itu dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Penurunan nilai mata uang negara pengekspor akan meningkatkan ekspornya karena harga barang menjadi relatif murah. Para importir akan membayar nilai moneter yang lebih sedikit karena harga barang-barang tersebut dalam mata uang negaranya menjadi lebih murah akibat penurunan mata uang tersebut. Sebagai contoh, jika seorang importir membayar $1000 untuk sebuah barang dan nilainya setara dengan 1000 Euro, kemudian dolar turun 10%, maka importir tersebut cukup membayar 900 Euro sebagai pengganti $1000 sebelumnya. Oleh karena itu, para pedagang cenderung mengimpor barang dari negara tersebut karena penurunan nilai mata uangnya.
Namun, hal ini hanya berdampak baik jika penurunan tidak melebihi 5%, dan masih dapat diterima hingga 10%. Jika lebih dari itu, maka akan menjadi beban bagi pabrik-pabrik produsen karena inflasi yang dihasilkan dari devaluasi tersebut, yaitu kenaikan harga bahan-bahan di negara tersebut akibat penurunan nilai mata uangnya karena daya belinya yang menurun.
Karena inflasi ini, biaya produksi pabrik meningkat, sehingga harga produk ekspornya juga naik. Artinya, harga barang tidak akan tetap $1000, melainkan akan bertambah. Jadi, jika penurunan mata uang melampaui batas yang wajar, biaya produksi akan meningkat dan harga barang akan naik, sehingga jumlah ekspor justru berkurang akibat inflasi yang dihasilkan dari penurunan tersebut. Dalam kasus Amerika, penurunan dolar telah melampaui batas wajar. Sebagai contoh, Euro menjadi lebih dari $1,6 setelah sebelumnya pada tahun 2000 setara dengan sekitar $0,8. Artinya, penurunan dolar telah melampaui batas ekonomi maksimum hingga lebih dari lima kali lipat...
Oleh karena itu, ekspor Amerika akibat penurunan ini tidak meningkat kecuali dalam jumlah yang sangat kecil. Artinya, defisit perdagangan, meskipun sedikit berkurang, tetap ada.
Meskipun demikian, Amerika tidak mengambil langkah untuk mengoreksi defisit ini. Amerika tidak mengeluarkan sebagian cadangan minyaknya untuk digunakan guna menurunkan harga energi bagi pabrik-pabrik sehingga biaya produksi turun dan ekspor meningkat. Sebaliknya, pemerintahan Bush menolak mengeluarkan sebagian cadangan minyaknya untuk menurunkan harga energi yang melonjak drastis. Artinya, Amerika tidak menangani masalah defisit perdagangan secara ekonomi.
Begitu pula dengan utang, Amerika tidak menyelesaikannya melainkan justru menambahnya karena kelanjutan agresi kriminalnya di Afghanistan dan Irak yang menelan biaya lebih dari $2 triliun. Selain itu, pemerintahan Bush memberikan pinjaman kepada para kapitalis kaya Amerika sekitar $1 triliun melalui pemotongan pajak demi motif politik dan elektoral... yang membuat utang tetap pada kondisinya bahkan meningkat.
Demikianlah, Amerika membiarkan penurunan dolar dan tidak mengambil langkah ekonomi apa pun untuk mengoreksinya. Kemudian, Amerika menggunakan penurunan ini secara politik untuk memeras negara-negara yang memiliki cadangan dolar besar, seperti Cina yang memiliki cadangan dolar sekitar $1000 miliar, sehingga Cina mengalami kerugian besar akibat penurunan tersebut. Kemudian India, negara-negara Eropa, dan negara-negara penghasil minyak... yang memaksa negara-negara tersebut untuk mencoba menyokong dolar dengan mengambangkan sebagian mata uang mereka dan membeli dolar (meningkatkan permintaan), guna sedikit mengurangi penurunannya...
- Langkah politik Amerika selanjutnya adalah menghadapi keruntuhan saham perusahaan subprime mortgage (pinjaman properti), di mana melalui krisis ini Amerika berhasil memindahkan krisis dari krisis Amerika menjadi krisis internasional!
Negara memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada perusahaan-perusahaan perumahan, terutama perusahaan subprime mortgage yang menjual rumah dengan jaminan gadai hingga cicilannya lunas. Akibatnya, likuiditas tersedia dalam jumlah besar pada perusahaan-perusahaan ini, yang mendorong mereka untuk mempermudah syarat penjualan rumah... dengan harga yang ringan bahkan murah karena likuiditas pada perusahaan perumahan dan gadai tersebut tersedia berkat pinjaman negara dengan bunga rendah... Masyarakat di Amerika pun berbondong-bondong membeli rumah... dan terbuka bagi mereka jalan untuk membayar uang muka dari pinjaman lunak yang mereka ambil dari bank-bank Amerika yang mulai memberikan pinjaman kepada pemilik rumah dengan bunga yang sesuai. Bahkan bank-bank tersebut memberikan pinjaman perumahan sebesar harga penuh rumah yang digadaikan, tidak seperti bank-bank Eropa yang hanya memberikan pinjaman sekitar 60% dari harga properti. Semua itu karena negara memberikan pinjaman kepada perusahaan dan bank dengan bunga rendah, yang membuat sektor properti berkembang pesat.
Karena kebijakan globalisasi dan keterbukaan perusahaan satu sama lain, setiap kali ada pertumbuhan dan keuntungan, perusahaan-perusahaan global, bank swasta, bank sentral, serta individu berbondong-bondong membeli saham di perusahaan subprime mortgage Amerika untuk mencari keuntungan... Nilai properti dan saham perusahaan properti yang tercatat di bursa pun terus meningkat di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat, hingga pembelian properti dianggap sebagai jenis investasi terbaik, sementara aktivitas lain termasuk teknologi modern rentan terhadap kerugian. Sebagaimana yang terjadi sebelumnya ketika ada minat besar untuk berinvestasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Warga Amerika, baik individu maupun perusahaan, berbondong-bondong membeli properti untuk tujuan tempat tinggal, investasi jangka panjang, atau spekulasi. Kemudahan kredit properti meluas hingga bank memberikan pinjaman bahkan kepada individu yang tidak mampu membayar utang karena pendapatan mereka yang rendah.
Hal ini terus berlangsung tanpa masalah hingga tahun lalu, khususnya ketika beban utang negara meningkat. Amerika pun berhenti memberikan pinjaman lunak kepada perusahaan gadai dan bank, bahkan menuntut pembayaran pinjaman yang telah diambil sebelumnya saat jatuh tempo... Perusahaan gadai dan bank mulai menagih pemilik rumah. Namun, karena pengangguran, inflasi, dan kondisi ekonomi yang buruk di Amerika, pemilik rumah tidak mampu membayar harga penjualan maupun cicilan pinjaman yang diambil dari bank... Nilai properti pun jatuh dan individu tidak lagi mampu membayar utang mereka bahkan setelah menjual properti yang digadaikan. Rumah yang dulunya bernilai setengah juta dolar harganya menjadi $200 ribu dan tidak ada pembelinya, sebagaimana diberitakan. Lebih dari dua juta warga Amerika kehilangan kepemilikan properti mereka dan terbelit kewajiban finansial sepanjang hidup mereka. Akibat bank-bank pemberi pinjaman menderita karena debitur tidak membayar pinjaman, nilai saham mereka di bursa jatuh. Perusahaan gadai menderita kerugian besar yang diperkirakan mencapai $2000 miliar, dan banyak perusahaan properti mengumumkan kebangkrutan.
Akibatnya, banyak utang yang menjadi macet dan tidak dapat ditagih kembali.
Dalam tinjauan terhadap bank-bank besar yang baru-baru ini terkena guncangan hebat di sektor subprime mortgage AS, majalah berkala Souq yang diterbitkan oleh Kamar Dagang dan Industri Arab-Jerman di Berlin merujuk pada Citigroup Amerika yang mengungkapkan pada awal tahun baru tentang kerugiannya di kuartal terakhir tahun lalu sebesar $9,83 miliar (6,6 miliar Euro saat itu). Kerugian bank tersebut di sektor properti sejauh ini meningkat menjadi lebih dari $18,1 miliar.
Perkembangan negatif yang sama juga terjadi pada bank Merrill Lynch Amerika yang mengumumkan penghapusan aset sebesar $14,1 miliar, yang berarti kerugiannya pada kuartal terakhir 2007 mencapai $9,8 miliar, kerugian terbesar dalam sejarahnya.
Hal yang sama terjadi pada bank UBS Swiss yang sangat besar, yang harus mendapatkan miliaran dolar dari dana kelolaan Singapura (GIC) untuk menghindari kebangkrutan.
Demikianlah saham perusahaan properti di bursa runtuh, yang kemudian menjatuhkan saham perusahaan dan bank di banyak negara dunia yang memiliki keterkaitan investasi atau saham di perusahaan properti Amerika atau bisnis langsung di sektor properti Amerika. Bahkan dampaknya menular ke sektor-sektor yang tidak berhubungan dengan aktivitas properti, namun karena globalisasi dan keterkaitan aktivitas antar sektor ekonomi, pengaruh tersebut tetap terjadi.
Begitu nilai saham di Wall Street Amerika turun, indeks harga umum turun sebesar 7,1% di Frankfurt, 6,8% di Paris, 5,4% di London, 7,5% di Madrid, 3,8% di Tokyo, 5,1% di Shanghai, 6% di Sao Paulo, 9,8% di Riyadh, 9,4% di Dubai, 3% di Beirut, dan 4,2% di Kairo.
Karena besarnya kerugian dan volume utang macet, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dalam pertemuan mereka pada 27/03/2008 mendesak bank-bank untuk melakukan pengungkapan penuh dan segera terhadap utang macet yang mereka miliki. Brown mengatakan pada Januari lalu bahwa Inggris menghadapi ujian berat dengan ekonomi global dalam situasi sulit dan berbahaya akibat krisis kredit yang dipicu oleh krisis pinjaman properti Amerika. Hal ini terjadi setelah Northern Rock —lembaga perbankan kelima terbesar di Inggris di sektor kredit perumahan— mengalami kerusakan parah akibat dampak krisis subprime mortgage di Amerika Serikat.
Demikianlah Amerika memindahkan krisis perusahaan gadai dari krisis Amerika menjadi krisis internasional, sampai-sampai bank-bank sentral di Eropa menyuntikkan lebih dari $150 miliar tahun lalu untuk menyokong perusahaan gadai agar tidak terkena dampak buruk dan meruntuhkan bursa-bursa di dunia, termasuk Eropa, karena penyebaran perusahaan global di semua negara dan keterkaitannya satu sama lain akibat sistem globalisasi. Dengan cara ini, Amerika memeras Eropa dan menyokong perusahaan-perusahaannya, yaitu perusahaan gadai Amerika, dengan sarana ini.
Kesimpulannya, krisis Amerika memiliki beberapa dimensi ekonomi dan politik; Amerika sedang mengalami krisis nyata yang menyebabkan jatuhnya nilai dolar, maka ia melakukan manuver atau (konspirasi) politik untuk membuat seluruh dunia ikut menanggung krisisnya, jika tidak, seluruh dunia akan tenggelam bersamanya. Terutama setelah meluasnya globalisasi dan keterbukaan pasar satu sama lain dengan nama ekonomi pasar serta penyebaran perusahaan ke seluruh dunia yang saling terkait satu sama lain. Maka sebagian besar negara di dunia dengan pasarnya menjadi terbuka satu sama lain.
Demikianlah Amerika memanfaatkan penurunan dolarnya akibat krisis ekonomi untuk meringankan defisit perdagangannya dan untuk pemerasan politik, khususnya terhadap negara-negara yang memiliki cadangan dolar besar. Begitu pula Amerika berhasil memindahkan krisis perusahaan gadai menjadi krisis internasional, di mana ia tidak lepas dari krisis ini.
Meskipun demikian, semua tindakan politik Amerika ini tidak akan mengembalikan kemakmuran ekonomi Amerika, melainkan hanya menghentikan keruntuhannya. Jika bukan karena kebijakan globalisasi dan pasar terbuka, dan jika bukan karena sistem ekonomi kapitalis yang mengendalikan ekonomi dunia... serta jika bukan karena negara-negara yang masih menjadikan dolar sebagai cadangan devisa, niscaya ekonomi Amerika tidak akan tetap berdiri tegak hingga sekarang.
Ketiga: Adapun penyebab kenaikan harga produk logam seperti minyak, emas, besi... adalah karena setelah runtuhnya perusahaan gadai, jatuhnya pasar saham dan obligasi, serta turunnya indeks bursa, kepercayaan investor terhadap sarana investasi yang tidak memiliki nilai intrinsik (seperti obligasi, saham, dan bursa) menjadi berkurang. Para investor pun beralih ke sarana investasi yang memiliki nilai intrinsik (zatiyyul qimah), seperti emas dan logam penting lainnya. Inilah yang meningkatkan permintaan terhadap emas, sehingga harganya melonjak drastis mencapai $1000, dan diperkirakan akan naik menuju $1500 atau lebih sesuai kondisi yang ada...
Pihak yang paling dirugikan dari kenaikan harga emas adalah Amerika Serikat. Jika hal ini terus berlanjut, dolar akan kembali ke nilai yang tidak lebih dari sekadar harga kertas dan tinta di atasnya. Oleh karena itu, kemungkinan besar Amerika akan melakukan pengendalian harga emas di masa mendatang. Isyarat tersebut mulai muncul, di mana Dana Moneter Internasional (IMF) mengambil keputusan untuk menjual 403 ton emas karena defisit anggaran, namun IMF menyatakan akan melakukan penjualan tersebut dalam jangka waktu yang lama dan berjeda. Pengumuman ini adalah pengumuman "spekulasi" yang bertujuan untuk menurunkan harga emas. Ada kemungkinan emas tersebut dijual kepada bank-bank sentral, yang mungkin menyebabkan bank sentral menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya akan menaikkan nilai tukar. Sekali lagi, pernyataan IMF pada 9 April 2008 bahwa krisis keuangan akan menelan biaya satu triliun dolar, lebih dari sekadar menjelaskan realitas secara jujur, itu adalah bentuk spekulasi untuk mengubah arah jalannya ekonomi dan keuangan. Sebagaimana komentar surat kabar Inggris The Telegraph, IMF adalah alamat terakhir yang bisa dikunjungi untuk keluar dari krisis keuangan yang ada. Jadi, pernyataan ini adalah bentuk persiapan untuk itu.
Demikianlah jatuhnya nilai dolar dan krisis hilangnya kepercayaan investor di pasar aset Amerika mendorong banyak investor untuk tidak berinvestasi dalam uang kertas kredit. Penilaian rasionalnya adalah bahwa uang kertas saat ini tidak didukung sepenuhnya oleh aset fisik. Artinya, dalam suasana ini, perpindahan krisis kepercayaan menyebar dengan cepat ke mata uang lainnya. Karena alasan ini, beberapa bank sentral seperti Bank Sentral Cina mulai membeli emas, yang menyebabkan harga emas melonjak ke level tertingginya. Ini juga alasan yang sama bagi kenaikan harga beberapa logam seperti perak dan platinum.
Selain itu, peningkatan permintaan dari India dan Cina terhadap tembaga, seng, aluminium, dan nikel telah menyebabkan kenaikan harganya. Permintaan terhadap logam-logam ini oleh India dan Cina disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi kedua negara yang sangat cepat. Permintaan terhadap logam ini telah berlangsung selama 12 tahun oleh Cina dan 4 tahun terakhir oleh India. Cina telah menghabiskan $1 triliun untuk infrastruktur, dan akan menghabiskan tambahan $50 miliar setiap tahun untuk lima belas tahun ke depan. India juga telah mulai membangun kembali infrastrukturnya sejak enam tahun lalu. Awalnya investasi tersebut kecil, namun volume investasi dalam empat tahun terakhir mencapai $50 miliar. Rencana telah disusun untuk menginvestasikan antara $30 - $40 miliar per tahun untuk sepuluh tahun ke depan. Namun, tidak ada logam yang cukup untuk menutupi rencana ini. Ditambah lagi, kenaikan harga minyak meningkatkan biaya produksi yang secara umum meningkatkan harga-harga.
Penyebab kenaikan harga minyak adalah jatuhnya nilai dolar, dan meningkatnya daya beli minyak oleh negara-negara seperti Uni Eropa, Cina, dan India untuk memenuhi peningkatan permintaan guna mencukupi kebutuhan negara-negara tersebut akan minyak. Namun, penyebab penting yang menyebabkan kenaikan harga minyak adalah spekulasi. Spekulasi Amerika terhadap minyak menyebabkan kenaikan harganya, dengan tujuan untuk mengumpulkan dolar yang ada di pasar dari mereka yang membeli minyak, sehingga Amerika dapat menghindari keruntuhan mata uangnya. Inilah alasan ketidakkonsistenan informasi mengenai cadangan minyak Amerika.
Spekulasi berperan dalam menaikkan harga; misalnya, spekulasi meningkat dalam kontrak berjangka minyak. Begitu pula spekulasi dalam harga logam, terutama emas. Kenaikan harga emas dikaitkan dengan minat negara-negara seperti Cina, Rusia, dan beberapa negara Asia untuk membeli emas guna melepaskan diri dari jumlah dolar yang sangat besar yang mereka miliki. Negara-negara tersebut tidak lagi mempercayai dolar, dan penurunannya menyebabkan kerugian besar bagi mereka. Demikian pula minat Cina untuk membeli besi dan logam lainnya yang diperlukan untuk industri sehingga meningkatkan harga besi dan logam lainnya. Di sini, di Jerman misalnya, terjadi minat besar terhadap besi tua, dan harganya melonjak, bahkan berlipat ganda karena banyak darinya diekspor ke Cina.
Telah diketahui bahwa setiap kali dolar turun, harga minyak akan naik dalam hubungan terbalik yang sudah dikenal sejak lama. Inilah kenyataan saat ini; pada 17/04/2008 harga minyak mencatat level yang melewati ambang batas $115 per barel, kemudian terus naik hingga melewati angka $120 pada hari ini 5/5/2008.
Demikianlah harga minyak telah naik lebih dari empat kali lipat sejak tahun 2002, seiring meningkatnya permintaan terutama di Cina dan ekonomi berkembang lainnya. Perkiraan menunjukkan bahwa harga akan mencapai $130 pada akhir Desember mendatang.
Keempat: Adapun krisis pangan global, di tengah memburuknya krisis ekonomi global yang dipicu oleh krisis subprime mortgage Amerika, telah muncul krisis lain yang lebih berbahaya yang mengancam keamanan pangan dunia. Di berbagai penjuru dunia, harga pangan mulai dari roti hingga susu telah melonjak.
Krisis ini muncul akhir-akhir ini setelah kenaikan harga gandum, jagung, beras, dan bahan pangan pokok lainnya dalam beberapa tahun terakhir, dan meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada 6/12/2008, majalah Inggris The Economist menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa harga biji-bijian melonjak secara tidak terduga sejak indeks harga pangan The Economist didirikan pada tahun 1945. Kenaikan tersebut menurut The Economist mencapai 75%. Adapun bursa Chicago Board of Trade yang merupakan barometer dunia utama terkait harga biji-bijian dunia menyebutkan bahwa gandum naik harganya sebesar 90%, kedelai 80%, dan jagung 20%. Harga-harga terus naik sejak tanggal tersebut hingga hari ini.
Adapun penyebab kenaikan harga, dan konsekuensinya krisis pangan, yang paling menonjol adalah:
- Kenaikan harga minyak dan penurunan nilai dolar:
Kenaikan harga minyak menyebabkan kenaikan harga sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, pestisida, mesin, dan transportasi. Kenaikan biaya produksi dan transportasi memengaruhi kenaikan harga bahan pangan, terutama gandum, beras, dan jagung. Sebagai contoh, harga beras di Filipina naik 70% selama setahun terakhir.
Di satu sisi, dan di sisi lain, harga bahan pangan seringkali ditetapkan dalam dolar. Ketika nilai dolar turun, harga-harga otomatis naik.
Graziano berkata, "Hilangnya kepercayaan terhadap dolar membuat dana investasi mencari imbal hasil yang lebih tinggi pada komoditas primer... pertama pada logam kemudian pada pangan." Banyak spekulan dalam lima tahun terakhir memindahkan dana mereka ke pasar komoditas primer untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi daripada yang mereka peroleh dari pasar saham dan obligasi.
- Kondisi Iklim: Yang memengaruhi penurunan produksi pertanian seperti banjir, badai, kemudian kekeringan. Sebagai contoh, salah satu pengekspor biji-bijian terbesar yaitu Australia menghadapi kondisi kekeringan paling serius dalam sejarahnya... Kondisi iklim ini dalam beberapa tahun terakhir dibarengi dengan lonjakan ekonomi di beberapa negara seperti Cina, India, dan Brasil yang menyebabkan peningkatan konsumsi daging.
Diketahui bahwa untuk memproduksi sepotong daging yang mengandung seratus kalori, hewan penghasil daging tersebut harus diberi makan 700 kalori biji-bijian. Dari 2,13 miliar ton biji-bijian, hanya 1,01 miliar ton yang dikhususkan untuk makanan manusia menurut statistik FAO. Oleh karena itu, peternakan meningkatkan kenaikan harga global.
- Produksi Biofuel dari biji-bijian:
Jean Ziegler, pelapor khusus PBB untuk hak atas pangan, dalam pernyataan kepada radio Jerman menganggap bahwa produksi masif biofuel hari ini mewakili "kejahatan terhadap kemanusiaan" karena dampaknya terhadap kenaikan harga bahan pangan di dunia.
Biofuel berbasis pada produk pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara industri menggunakan hasil pertanian dan lahan pertanian untuk memproduksi biofuel guna mengurangi ketergantungan pada minyak yang harganya melonjak ke angka rekor. Hal ini menyebabkan peningkatan permintaan terhadap biofuel, yang pada gilirannya menaikkan harga biji-bijian.
Di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Brasil, lahan pertanian beralih ke penanaman jagung dan kedelai untuk produksi ethanol. Sejak tahun 2001, jumlah jagung yang digunakan dalam produksi bio-ethanol di Amerika Serikat meningkat sebesar 300%. Amerika juga berupaya memproduksi 35 miliar galon (133 miliar liter) ethanol pada tahun 2017. Kongres AS dalam dokumen energi tahun 2005 telah menyetujui peningkatan produksi ethanol yang diekstrak dari jagung dari 4 miliar galon pada tahun 2006 menjadi 7,5 miliar galon pada tahun 2012.
Pada Maret 2007, Presiden AS George Bush bertemu dengan mitranya dari Brasil Luiz Inacio Lula da Silva untuk menandatangani perjanjian antara kedua negara, "Perjanjian Ethanol", untuk kerja sama bersama dalam melakukan penelitian dan pengembangan generasi masa depan produksi biofuel, serta membentuk aliansi perdagangan biofuel terutama di negara-negara Asia Tengah. Perjanjian ethanol antara kedua presiden tersebut menjadi awal pertumbuhan fenomena penanaman biji-bijian untuk digunakan dalam produksi biofuel. Perkebunan tebu, kelapa sawit, dan kedelai yang dikhususkan untuk produksi biofuel telah menggusur lahan rumput dan hutan di Brasil, Argentina, Kolombia, Ekuador, dan Uruguay. Perkebunan kedelai di Brasil telah menempati 21 juta hektar lahan hutan, dan 14 juta hektar di Argentina. Fenomena ini tampaknya tidak akan mereda selama harga biji-bijian terus naik. Sebanyak 100 juta ton biji-bijian dari total 2,13 miliar ton akan dipotong untuk ekstraksi biofuel pada tahun 2008. Dengan kata lain, berton-ton biji-bijian ini akan digunakan untuk "memberi makan" mobil.
- Kegagalan Administratif dan Politik:
Adapun mengenai produksi gandum yang dianggap sebagai produk strategis, Uni Eropa memproduksi 122 juta ton, Cina 106 juta ton, India 75 juta ton, Amerika Serikat 56 juta ton, dan Rusia 48 juta ton. Amerika Serikat mengekspor 32 juta ton, Kanada 15 juta ton, Uni Eropa 10 juta ton, dan Argentina 10 juta ton.
Adapun negara-negara Arab, semuanya kecuali Suriah adalah pengimpor gandum. Yang terdepan adalah Mesir, negeri Sungai Nil, sebagai pengimpor gandum terbesar di dunia dengan 7 juta ton; Aljazair, negeri pegunungan Atlas dan perkebunan yang dulunya terkenal di era Prancis, mengimpor 5 juta ton; Irak, negeri Sungai Tigris dan Efrat, mengimpor 3 juta ton; Maroko 3 juta ton; Yaman mengimpor hampir 3 juta ton; Tunisia 0,1 juta ton; dan Yordania 500 ribu ton.
Di tengah penurunan dolar dan kenaikan harga minyak, biaya impor gandum akan semakin meningkat, yang akan membebani anggaran negara-negara tersebut dengan dana yang sangat besar meskipun mereka mendapatkan gandum dan biji-bijian dengan harga preferensial.
Padahal negara-negara ini memiliki sumber daya air dan lahan yang subur! Bukankah sangat memprihatinkan bahwa negeri Nil, dua sungai (an-nahrain), dan pegunungan Atlas menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia!!!
Mungkin apa yang tertuang dalam rekomendasi baru-baru ini dalam laporan Bank Dunia tentang sumber daya air di Timur Tengah dan Afrika Utara menunjukkan bagaimana kebijakan jahat digambarkan untuk negara-negara Arab! Laporan tersebut menyimpulkan bahwa untuk menghemat air, harus diadopsi kebijakan pertanian yang mengurangi konsumsi air, sehingga merekomendasikan penanaman tomat dan semangka... dan melarang penanaman gandum! Secara alami, rekomendasi Bank Dunia yang menurut Pier Francesco Mantovani, ahli air di Bank Dunia, bukan tentang prosedur teknis yang diputuskan oleh insinyur, melainkan tentang reformasi politik yang mendalam!
Perlu diketahui bahwa banyak negara memiliki kemampuan untuk menanam gandum, namun kebijakan kolonial yang diikuti oleh IMF menghalangi hal tersebut. IMF mendorong penanaman tembakau dan kapas di negara-negara yang mengikuti kebijakannya, serta memberikan pinjaman dan bantuan untuk menanam keduanya, sementara melarang pinjaman dan bantuan untuk menanam gandum. Hal ini bertujuan untuk memasok pabrik-pabrik Barat dengan kedua bahan tersebut.
Sesungguhnya negeri-negeri kaum Muslim telah dikaruniai Allah dengan tanah yang subur dan air yang melimpah. Jika dimanfaatkan dengan baik, niscaya kaum Muslim akan hidup dalam kemakmuran. Namun, ini membutuhkan sistem yang benar dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, yaitu Sistem Islam, Khilafah Rasyidah, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebaikan. Semoga hal itu segera terwujud dengan izin Allah.
1 Jumadil Ula 1429 H Bertepatan dengan 05/05/2008 M