Pertanyaan:
Berita-berita melaporkan penurunan harga minyak secara tiba-tiba, terutama minyak Texas (WTI), hingga mencapai sekitar minus 30. Bahkan minyak mentah Brent yang dikenal dengan perdagangannya yang teratur pun turun sekitar 9% menjadi 25 dolar per barel. Penyebabnya beragam, entah karena tangki-tangki penyimpanan minyak yang sudah penuh sesak bahkan hampir meluap, atau karena pengaruh virus Corona yang menyebabkan kelesuan ekonomi dan selanjutnya penurunan permintaan minyak, dan sebagainya. Lantas, apa penyebab krisis minyak ini? Apakah krisis ini akan berlanjut? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi Amerika dan global?
Jawaban:
Untuk memahami realitas krisis minyak secara umum dan minyak Amerika (West Texas Intermediate - WTI) secara khusus, serta dampaknya terhadap ekonomi Amerika dan dunia, maka harus diketahui tiga kondisi ekonomi dan politik serta pengaruh khususnya terhadap minyak Texas, kemudian perluasan pengaruhnya ke minyak Brent, lalu terhadap ekonomi Amerika dan global:
Pertama: Pengaruh virus Corona terhadap konsumsi minyak:
Sejak awal tahun ini, ketika virus Corona menyebar mulai dari Tiongkok kemudian berpindah ke Eropa dan setelahnya ke Amerika, yang disertai dengan penerapan prosedur karantina wilayah (lockdown) dan penghentian banyak sektor ekonomi di setiap negara, serta kelumpuhan yang menimpa pergerakan penerbangan karena larangan perjalanan antar banyak negara utama, khususnya Eropa dan Amerika karena kekhawatiran penularan. Ditambah lagi dengan kekacauan besar dalam perdagangan internasional yang dihasilkan dari penghentian permintaan secara tajam terhadap barang-barang non-pangan dan non-medis, yang selanjutnya memengaruhi pergerakan transportasi. Perlu diketahui bahwa transportasi darat dan transportasi udara mengonsumsi 68% dari pasokan minyak (Independent Arabic, 24/04/2020). Semua ini menyebabkan permintaan minyak global mengalami kemunduran besar karena Corona. Kemunduran ini semakin mendalam seiring dengan meningkatnya wabah dari satu negara ke negara lain, di mana penyebaran wabah disertai dengan kelumpuhan sektor-sektor ekonomi di setiap negara yang tertular.
Namun, keterkaitan hal itu dengan minyak bervariasi. Ketika wabah berpindah ke negara-negara Eropa Barat yang utama, hal itu menyebabkan penurunan tajam dalam permintaan minyak global, mengingat negara-negara ini adalah konsumen minyak yang besar. Ketika wabah berpindah ke Amerika secara akut, yang mana Amerika mengonsumsi 20% minyak dunia, maka krisis harga minyak mulai terlihat jelas secara tajam. Secara angka, permintaan minyak telah runtuh sekitar 30% di dunia yang mengonsumsi hampir 100 juta barel per hari. Kami kutip dua pernyataan saja dari sekian banyak pernyataan yang mengonfirmasi keruntuhan permintaan ini:
- Pernyataan pertama: (Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pada hari Rabu 15/04/2020 bahwa permintaan minyak global akan turun sebesar 29 juta barel per hari secara tahunan pada bulan April, mencatat level yang belum pernah terlihat selama 25 tahun... situs surat kabar Al-Wafd, 15/04/2020).
- Pernyataan kedua: (Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, mengumumkan bahwa permintaan minyak global turun 20-30 juta barel per hari, dengan mengatakan: "Kita telah mencapai dasar penurunan permintaan minyak global sekarang." Al-Arabiya Net, 22/04/2020).
Demikianlah permintaan minyak runtuh dengan rasio yang tidak terbayangkan kecuali dalam kondisi perang dunia! Semua ini terjadi dalam periode 3-4 bulan, yaitu selama krisis Corona, hingga minyak Texas mencapai titik terendah yang sangat dalam yaitu sekitar minus 37 pada 20/04/2020, yang dijuluki sebagai "Black Monday" (Senin Hitam).
Kedua: Kondisi kedua, yaitu kondisi politik:
Mengingat minyak adalah komoditas strategis, maka negara-negara menggunakannya untuk memukul negara lain. Pembahasan di sini adalah mengenai kebijakan Amerika yang mendorong Arab Saudi ke arah perang harga minyak dengan Rusia hanya sebulan sebelumnya, penjelasannya sebagai berikut:
- Amerika memaksa Rusia untuk menurunkan produksi minyaknya guna menjaga harga minyak tetap tinggi agar perusahaan-perusahaan minyak serpih (shale oil) Amerika dapat bersaing di pasar. Sebab, ekstraksi minyak serpih Amerika sangat mahal biayanya. Melalui kebijakan ini, Arab Saudi selama 3 tahun berhasil membawa Rusia untuk ikut serta dengan OPEC dalam menurunkan produksi dalam kelompok baru yang dikenal sebagai "OPEC Plus" sebesar 2,1 juta barel per hari. Kesepakatan Saudi dengan Rusia ini berakhir pada akhir Maret 2020. Itu adalah kesepakatan sebelum penyebaran Corona, dan berakhirnya bertepatan dengan wabah Corona.
- Dengan penyebaran virus Corona di Tiongkok dan awal perpindahannya ke Italia, harga minyak mulai runtuh dan mencapai 45 dolar per barel (Brent). Level harga ini—yang terus menurun—berbahaya bagi produsen minyak Amerika dan mengancam akan mengeluarkan mereka dari pasar, sehingga harga harus dinaikkan. Saat itulah, Amerika mendorong Arab Saudi untuk melakukan tekanan pada Rusia agar lebih menurunkan produksi guna menghadapi penurunan terus-menerus permintaan minyak global akibat virus. Maka terjadilah pertemuan OPEC Plus pada 06/03/2020 saat Rusia menolak penurunan produksi tambahan karena takut Amerika akan mengompensasi pengurangan tersebut dengan minyak serpih (shale oil)!
- Dengan gagalnya pertemuan OPEC Plus tersebut, harga minyak segera runtuh sebesar 10% karena tersebarnya berita perselisihan kelompok OPEC Plus.
- Beberapa hari setelah kegagalan pertemuan itu, Arab Saudi menyulut perang harga melawan Rusia untuk memaksanya melakukan pemotongan baru dengan lima langkah:
- Langkah pertama: Meninggalkan kesepakatan pertama (pemotongan 2,1 juta barel) meskipun Rusia menyatakan komitmennya pada kesepakatan sebelumnya.
- Langkah kedua: Peningkatan besar-besaran dalam produksi minyaknya mulai 1 April (saat berakhirnya kesepakatan pemotongan pertama dengan Rusia) hingga mencapai 12-13 juta barel per hari meskipun ada masalah permintaan minyak global karena Corona.
- Langkah ketiga: Potongan harga bagi pelanggan Asia sebesar 6 dolar per barel, yang merupakan pertama kalinya dalam sejarah dengan tingkat diskon sebesar itu.
- Langkah keempat: Menargetkan diskon lebih lanjut bagi pelanggan yang berhubungan dengan minyak Rusia untuk mengambil pangsa pasar Rusia.
- Langkah kelima: Menyewa kapal tanker minyak raksasa untuk digunakan sebagai tangki terapung (floating storage) di laut guna menambah kelebihan pasokan minyak di pasar.
- Dengan langkah-langkah dari Arab Saudi yang diumumkan dalam beberapa hari setelah 06/03/2020 (pertemuan OPEC Plus yang gagal), harga minyak runtuh sebesar sepertiga nilainya. (Harga minyak kehilangan hingga sepertiga nilainya pada hari Senin dalam kerugian harian terbesar sejak Perang Teluk 1991 setelah Saudi mengisyaratkan akan menaikkan produksi untuk meningkatkan pangsa pasar sementara wabah virus Corona telah menyebabkan surplus pasokan di pasar! Selanjutnya kontrak berjangka minyak mentah Brent merosot 22 persen pada 37,05 dolar per barel setelah sebelumnya turun 31 persen ke 31,02 dolar per barel, yang merupakan level terendah sejak 12 Februari 2016... Reuters 09/03/2020). Perlu diketahui bahwa minyak mentah Brent diekstraksi dari ladang minyak di Laut Utara. Minyak Brent adalah campuran dari minyak mentah Brent, Forties, Oseberg, dan Ekofisk. Ini digunakan sebagai tolok ukur harga dua pertiga produksi minyak dunia, terutama di pasar Eropa dan Afrika. Terkadang diekspor ke Amerika Serikat dan beberapa negara Afrika jika harganya sesuai setelah mempertimbangkan biaya pengiriman. Kontrak berjangka minyak Brent diperdagangkan melalui Intercontinental Exchange (ICE) di London. Artinya, Arab Saudi dengan langkah-langkahnya tersebut telah mendorong harga minyak untuk turun. Setelah 1 April, di mana langkah-langkah Saudi mulai dilaksanakan setelah kesepakatan OPEC Plus dengan Rusia berakhir pada akhir Maret, kelebihan pasokan minyak mulai terlihat di pasar yang mendorong harga minyak (berdasarkan standar Brent) di bawah 30 dolar selama bulan April dan sebelum 20/04/2020.
- Kebijakan Saudi ini sebenarnya adalah kebijakan Amerika untuk menekan Rusia. Namun, itu adalah kebijakan yang dirancang di Washington sekitar dua bulan sebelumnya, yaitu sebelum dimensi baru keruntuhan permintaan minyak akibat terus menyebarnya Corona terlihat dengan jelas, terutama di dalam Amerika. Akibat dari kedua faktor ini (kebijakan Saudi yang didorong Amerika, dan peningkatan tajam keruntuhan permintaan minyak), maka "palu penghancur" yang dibuat oleh pemerintahan Trump untuk memukul Rusia justru mulai memukul ke kanan dan ke kiri tanpa terkecuali terhadap perusahaan minyak serpihnya sendiri! Artinya, apa yang direncanakan Amerika untuk menurunkan harga minyak tidak diharapkan mencapai dasar sedalam ini. Dasar harga ini disebabkan oleh kedua faktor bersamaan: kebijakan Amerika (melalui Saudi) melawan Rusia, serta keruntuhan terus-menerus dalam permintaan minyak global yang tidak terlihat sejauh itu saat kebijakan Amerika tersebut disusun. Tekanan pun mulai menguat di dalam Amerika terhadap perusahaan minyak serpih. Perusahaan Whiting Petroleum pada 2 April mengumumkan kebangkrutan, dan seratus perusahaan minyak serpih lainnya berdiri di ambang kebangkrutan. Hal itu karena harga minyak di pasar lebih rendah dari biaya produksi. (Di mana biaya marginal per barel minyak serpih adalah sekitar 35 dolar per barel. Situs Aswaq Arabia, 11/03/2020). Menurut Independent Arabic 24/04/2020, kontrak berjangka minyak West Texas pada Kamis 23/04 berkisar antara 15 dolar untuk pengiriman Juni, dan sekitar 27 dolar untuk pengiriman September. Seluruh kontrak berjangka hingga akhir 2020 berada di bawah harga 30 dolar, dan ini merupakan tekanan bagi minyak serpih.
- Karena kondisi berbahaya yang dialami industri minyak Amerika akibat wabah Corona, pemerintahan Amerika banyak mengumumkan niatnya untuk melakukan intervensi antara Rusia dan Arab Saudi guna kembali menurunkan produksi. Presiden Amerika melakukan kontak dengan Presiden Rusia yang sangat berhasrat untuk mengembalikan komunikasi dengan Amerika dan berharap ada koordinasi dengannya (bukan dengan Saudi) mengenai harga minyak. Trump juga menghubungi Saudi. Trump berkata, (Kami telah melakukan dialog yang sangat baik dengan Presiden Putin. Kami telah melakukan dialog yang sangat baik dengan Putra Mahkota. Euronews, 01/04/2020). Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Trump telah mensponsori kesepakatan Rusia-Saudi untuk pengurangan produksi minyak terbesar dalam sejarah sekitar 10 juta barel minyak per hari: (Anggota Organisasi Negara-Negara Pengeskpor Minyak (OPEC) dan sekutu mereka mencapai kesepakatan rekor untuk memangkas produksi minyak global sebesar 10 persen setelah penurunan permintaan... Yang telah dikonfirmasi sejauh ini adalah bahwa OPEC dan sekutunya akan memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari. BBC, 12/04/2020). Kesepakatan ini mulai dilaksanakan pada 01/05/2020 dan berlanjut selama dua bulan, setelah itu negara-negara penandatangan akan meninjau kembali realitas permintaan global untuk memutuskan langkah selanjutnya. Jadi, ini adalah kesepakatan jangka pendek selama dua bulan sambil menunggu kenaikan permintaan minyak global pada akhir Juni. Namun, yang terlihat adalah krisis harga minyak telah mencapai kedalaman sedemikian rupa sehingga pasar tidak merespons kesepakatan yang sangat besar ini. Harga hanya naik secara marginal, bahkan harga Brent kembali turun ke bawah 30 dolar. Penjelasannya adalah karena permintaan global telah turun sebesar 30 juta barel per hari, sehingga tidak bisa tertolong oleh pengurangan produksi sebesar 10 juta barel per hari!
Ketiga: Kondisi ketiga, stok minyak Amerika
Ada dua jenis stok minyak di Amerika: pertama, stok strategis milik negara, dan kedua, stok perusahaan. Kondisi ini berkontribusi bersama dua kondisi lainnya dalam memperdalam krisis minyak. Sebagian berkaitan dengan kondisi stok strategis, sementara sebagian lainnya khusus untuk minyak West Texas. Untuk memperjelas hal itu:
- Stok minyak strategis (milik negara) secara umum adalah tangki-tangki di bawah tanah yang sering kali digunakan untuk menyimpan minyak yang diekstraksi untuk digunakan saat krisis. Banyak negara membangun tangki-tangki ini setelah rekomendasi Badan Energi Internasional karena krisis minyak dalam perang tahun 1973. Kemudian setiap negara konsumen utama memiliki tangki minyak yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama 30-90 hari jika terjadi pemutusan pasokan.
- Pada tahun 1975, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mewajibkan pemerintah federal untuk membangun lokasi penyimpanan minyak mentah dalam jumlah yang cukup guna mengamankan permintaan jika terjadi segala jenis risiko akut pada pasokan. Lokasi penyimpanan AS terletak di pesisir negara bagian Texas dan Louisiana. Negara menanggung biaya pengamanan ketat untuk lokasi tersebut. Jumlah maksimum stok strategis di Amerika mencapai 727 juta barel pada tahun 2009. Selain stok federal, perusahaan-perusahaan Amerika yang bergerak di bidang energi juga menyimpan jumlah minyak milik mereka sendiri yang secara total setara dengan jumlah stok federal. Tangki-tangki permukaan milik perusahaan ini banyak terdapat di negara bagian Texas karena merupakan negara bagian terbesar produsen minyak di Amerika sejak lama, yang disebut "West Texas Crude", juga di negara bagian Oklahoma yang bertetangga dengannya, di mana minyak Texas diangkut ke daratan dalam Amerika.
- Dengan runtuhnya harga minyak sebelumnya pada 06/03/2020 dan perang harga yang mengikutinya antara Saudi dan Rusia, banyak negara terutama Amerika dan Tiongkok berupaya mengisi stok strategis mereka dengan minyak. Trump saat itu merasa gembira dengan penurunan harga. Amerika berupaya membeli minyak murah dari Saudi atau lainnya. Sebelum terjadi "Black Monday", tangki-tangki di Texas sudah agak penuh, meskipun belum sepenuhnya. Demikianlah masalah stok minyak telah mencapai tingkat kritis dan jenuh, sehingga mengarahkan lebih banyak minyak yang diekstraksi (jika tidak terjual) ke penyimpanan menjadi masalah yang rumit, dan terkadang tidak tersedia. Artinya, tertutupnya saluran penyimpanan sebagai solusi bagi produsen minyak, khususnya di Texas.
- Dengan demikian, stok minyak strategis Amerika telah terisi dalam persentase besar, dan kapal-kapal tanker minyak beroperasi di laut sebagai fasilitas penyimpanan. Hal ini memperparah masalah penyimpanan hingga menjalar ke fasilitas penyimpanan khusus minyak West Texas di titik penyerahannya di kota Cushing, negara bagian Oklahoma, sebelah utara negara bagian Texas. (Jumlah minyak mentah yang disimpan di Amerika Serikat meningkat, terutama di Cushing, yang merupakan titik penyerahan minyak mentah WTI Amerika di Oklahoma, seiring dengan kilang-kilang yang mengurangi aktivitasnya menghadapi permintaan yang lemah. Al-Jazeera Net, 20/04/2020). Kapasitas penyimpanan maksimum di titik Cushing mencapai 76 juta barel. Biasanya pemilik kontrak minyak dapat menerima fisik minyak di Cushing ketika jatuh tempo kontrak tersebut dan mereka dapat menyimpannya di sana dengan harga normal yang tidak tinggi hingga diangkut ke negara bagian pedalaman. Namun apa yang terjadi: (Di Cushing, negara bagian Oklahoma, khususnya tempat penyimpanan minyak mentah acuan Texas, volume stok meningkat lima juta barel dan hampir mencapai batas maksimum. Stok bahan bakar dan produk olahan AS juga meningkat sementara konsumsi mingguan merosot lebih dari 25 persen selama setahun karena prosedur isolasi. Rai Al-Youm, 25/04/2020). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penurunan permintaan minyak global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diperkirakan mencapai 30% (yaitu sekitar 30 juta barel minyak per hari) adalah penyebab pertama dan utama dari apa yang kita saksikan berupa keruntuhan harga minyak yang berturut-turut. Karena kebijakan Amerika-Saudi untuk menekan Rusia hanya cocok diterapkan pada waktu normal, bukan pada saat krisis permintaan, maka hal itu mengakibatkan masalah harga minyak yang semakin parah secara mencolok!
Keempat:
Semua ini memengaruhi minyak West Texas Intermediate (WTI), di mana fasilitas penyimpanan di Oklahoma telah jenuh dan tidak ada lagi ruang untuk penyimpanan kecuali dengan harga yang sangat mahal. Akibatnya, kontrak-kontrak tersebut harus segera dilepaskan dengan harga berapa pun. Maka terjadilah krisis minyak West Texas atau "Black Monday" pada 20/04/2020 ketika minyak dijual seharga minus 37 dolar per barel, dan para pelaku bursa di Amerika menanggung kerugian besar. Yang membawa keadaan sampai ke titik ini dan semakin memperparahnya adalah apa yang kami sebutkan sebelumnya, yaitu penuhnya tangki-tangki di Cushing. Ketika stok mendekati batas maksimum—sebuah prosedur yang sangat jarang terjadi—maka biaya penyimpanan melonjak. Karena prospek konsumsi minyak akibat terus ditutupnya ekonomi masih tidak jelas dan meragukan, maka biaya penyimpanan di fasilitas Cushing melonjak tajam dan menjadi faktor lain yang menekan pemegang kontrak minyak bulan Mei. Mereka pun mencoba melepaskannya dengan harga berapa pun, sehingga harga kontrak tersebut turun ke 10 dolar, lalu ke lima dolar, kemudian terus turun hingga nol dalam pemandangan dramatis, lalu turun ke bawah nol hingga kontrak terakhir Mei tersebut dijual seharga minus 37,6 dolar di tengah keterkejutan besar para pemegangnya yang menanggung kerugian besar serta keterkejutan para pelaku bursa. Demikianlah krisis "Black Monday" 20/04/2020 terjadi pada minyak West Texas, dan itulah kondisi-kondisinya yang berkumpul menjadi satu untuk menciptakan krisis akut ini. Selanjutnya, kegembiraan Trump atas kesepakatan OPEC Plus antara Saudi dan Rusia pada 12/04/2020 tidak ada gunanya, saat ia berkata ("Ini akan menyelamatkan ratusan ribu pekerjaan energi di Amerika Serikat. Saya ingin berterima kasih dan mengucapkan selamat kepada Presiden Rusia Putin dan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz." CNN Arabic, 21/04/2020). Kegembiraan Trump jauh dari realitas karena jatuhnya harga dengan cara yang mengerikan ini telah menimbulkan ketakutan besar di dunia, bukan hanya di Amerika. Selanjutnya, krisis ekonomi semakin menguat, belum lagi sektor energi karena gelembung-gelembungnya sudah siap meledak!
Sekadar informasi, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diekstraksi dari ladang minyak di Amerika Serikat, terutama dari Texas, Louisiana, dan North Dakota, kemudian diangkut melalui pipa ke Cushing, Oklahoma untuk penyerahan. Kontrak berjangka minyak WTI diperdagangkan melalui Bursa Komoditas New York (NYMEX), yang dimiliki oleh Bursa Komoditas Chicago (CME).
Kelima:
Di sisi lain, Amerika sejak awal krisis Corona telah mengadopsi rencana dukungan, penyelamatan, atau stimulasi. Rencana tersebut dilakukan bertahap, diawali rencana kecil senilai 8,3 miliar dolar pengeluaran darurat untuk mendukung program kesehatan guna menghadapi penyebaran wabah Corona di Amerika. Setelah wabah Corona mulai memukul ekonomi di luar sektor kesehatan, (Amerika Serikat menurunkan suku bunga hingga mendekati nol, dan meluncurkan program stimulasi senilai 700 miliar dolar dalam upaya melindungi ekonomi dari dampak virus Corona. BBC, 16/03/2020). Amerika pun membanjiri pasar dengan likuiditas dolar untuk menghadapi kekurangan likuiditas. Kemudian setelah itu, mengadopsi rencana stimulasi dengan nilai fantastis 2,2 triliun dolar pada 27/03/2020, yang merupakan rencana terbesar dalam sejarah Amerika, sebagian besar dialokasikan untuk membeli utang perusahaan-perusahaan yang berada di ambang kebangkrutan guna mencegah keruntuhannya. Selama itu (Bank Sentral AS, The Fed, sebelumnya telah mengumumkan akan membeli sedikitnya 500 miliar dolar obligasi pemerintah dan sedikitnya 200 miliar dolar sekuritas beragun aset properti. Bank Sentral AS juga mengumumkan pembentukan program baru yang akan menyediakan pembiayaan hingga 300 miliar dolar dalam upaya mendukung aliran kredit bagi pemberi kerja, konsumen, dan perusahaan. Traders Up, 24/03/2020). Selain itu, besarnya pengeluaran kesehatan untuk pasien virus Corona diperkirakan akan menjadi bencana di Amerika dan dapat mendorong perusahaan asuransi menuju kebangkrutan, padahal itu adalah perusahaan-perusahaan yang sangat besar. Amerika juga menderita krisis pengangguran yang parah, di mana sekitar 30 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan akibat dampak virus Corona. Karena perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan mereka berada dalam kondisi keuangan yang menyedihkan, maka kembalinya mereka bekerja tidak akan cepat tahun ini. Angka besar ini tecermin pada anggaran umum dengan besarnya jumlah pemohon bantuan pemerintah yang tercatat lebih dari 22 juta pengangguran Amerika, dan angka ini terus bertambah. Jika negara terus mengadopsi paket penyelamatan besar, maka mata uang Amerika mungkin akan mengalami keruntuhan mengerikan yang dampaknya akan dirasakan oleh Amerika serta seluruh negara dan rakyat yang bertransaksi dengan dolar.
Keenam:
Krisis ini tidak hanya menimpa Amerika—meskipun yang paling parah—tetapi juga menimpa negara-negara lain di dunia:
- Bagi Eropa, kondisinya tidak lebih baik dari Amerika. Dampak wabah Corona telah mengancam struktur politiknya selain dampak ekonomi. Apa yang kita saksikan berupa krisis wabah ini di Italia, Prancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris memiliki indikasi yang jelas. Presiden Prancis Macron telah memperingatkan dalam konferensi pers melalui telepon pada 26/03/2020 "bahwa penyebaran virus Corona mengancam pilar-pilar dasar blok tersebut..." Ia menambahkan, "Proyek Eropa dalam bahaya... Ancaman yang kita hadapi adalah penghapusan zona Schengen." (Russia Today, 26/04/2020). Kanselir Jerman Merkel berkata, ("Dari sudut pandang saya, Uni Eropa menghadapi ujian terbesar sejak pendiriannya... Penting bagi blok tersebut untuk keluar dengan kuat dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh virus"... Reuters, 07/04/2020). Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez berkata pada 05/04/2020, ("Kondisi saat ini sangat luar biasa dan menuntut sikap yang kokoh, entah kita bangkit menghadapi tantangan ini atau kita akan gagal sebagai sebuah uni..." Frankfurter Allgemeine, 05/04/2020). Para pemimpin Uni Eropa dalam pertemuan mereka melalui video pada 23/04/2020 sepakat atas paket penyelamatan segera sekitar 500 miliar euro, namun mereka meninggalkan rincian yang diperselisihkan untuk pendanaan yang lebih besar hingga musim panas. Mereka mendiskusikan pembentukan dana bantuan dan penerbitan "obligasi Corona" bersama. Namun Jerman, Belanda, Austria, dan Finlandia menyatakan penolakan terhadap obligasi ini dan tidak menyetujui ide dana bantuan tersebut. Sementara Prancis, Italia, dan Spanyol mendukung proyek itu karena mereka adalah negara-negara yang paling terdampak. Penolakan Jerman disebabkan karena ia berambisi untuk memberikan pinjaman atas namanya sendiri agar negara-negara ini berutang kepadanya, guna mengendalikan negara-negara Eropa lainnya!
- Mengenai Tiongkok, Bank Dunia telah memperingatkan bahwa dampak ekonomi global dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok hingga mencapai 2,3% tahun ini dibandingkan dengan 6,1% pada tahun 2019 (Al-Hurra, 10/04/2020). Situs tersebut mengutip pejabat Bank Sentral Tiongkok yang mengatakan: "Ia merekomendasikan agar Beijing tidak menetapkan target pertumbuhan tahun ini, mengingat ketidakpastian besar yang dihadapinya." Surat kabar resmi Economic Daily mengutip Ma Jun, anggota komite kebijakan moneter di Bank Rakyat Tiongkok, yang mengatakan "bahwa akan sulit untuk mencapai pertumbuhan sebesar 6%", seraya menambahkan bahwa "menetapkan target dapat membatasi tindakan resmi untuk menangani dampak virus."
- Adapun Rusia, ia bergantung pada ekspor minyak dan gas sebesar 60%. Minyak dianggap sebagai urat nadi ekonomi Rusia, sehingga ia mulai menderita akibat kerugian yang dialaminya. Mata uang Rusia, rubel, berada dalam kondisi terburuk; nilainya turun hingga satu dolar setara dengan sekitar 79 rubel pasca-perang harga minyak. Dalam laporan dari kantor berita Reuters tentang situasi di Rusia, mengutip salah satu bank Rusia yang mengatakan "bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) dapat menyusut sebesar 15% jika harga minyak turun di bawah sepuluh dolar per barel."
Ketujuh:
Sesungguhnya kapitalisme telah memperlihatkan cacatnya secara lebih jelas. Kegagalan dan kebingungannya dalam menangani krisis Corona telah nampak, begitu pula keegoisan di antara negara-negaranya yang terkena pukulan keras hingga tersungkur. Maka tidak ada yang tersisa kecuali mabda Islam yang luhur dan benar. Terbuka peluang bagi kebangkitan umat Islam kembali. Namun, rezim-rezim di negeri-negeri kaum Muslim dan para penguasanya menjadi penghalang bagi pergerakan umat. Para penguasa tersebut bersikeras memusuhi umat dan tetap terikat dengan negara-negara penjajah besar. Umat membutuhkan kepemimpinan yang ikhlas dan jujur yang memimpin mereka sesuai Islam yang lurus. Umat tidak diragukan lagi menyadari bahwa Hizbut Tahrir adalah pemimpin yang tidak akan mendustai kaumnya. Maka hendaklah umat bekerja bersamanya dengan jujur.
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS Al-Hajj [22]: 40)
Saudara-saudara sekalian, peristiwa-peristiwa menunjukkan bahwa posisi internasional setelah Corona tidak akan sama seperti sebelumnya. Negara-negara yang menganggap diri mereka tuhan di bumi, yang membuat syariat dan hukum yang menyalahi apa yang diturunkan Allah Swt. kepada Rasul-Nya saw., yang menjadikan yang batil sebagai hak dan yang hak sebagai batil; negara-negara ini telah terbukti tidak berdaya di hadapan makhluk yang sangat kecil yang hampir tidak terlihat, yang telah menjatuhkan mereka hingga mereka kebingungan bagaimana mengatasinya dan menghadapinya. Mereka masih terus terombang-ambing dalam kegelapan kezaliman mereka sampai firman Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa menampar mereka:
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً
"Dan katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap'. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS Al-Isra' [17]: 81)
Fajar Khilafah akan terbit kembali, menyinari dunia dan menyebarkan kebaikan di seluruh penjuru alam.
وَيَقُولُونَ مَتَى هُوة قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيباً
"Mereka bertanya: 'Kapan itu (akan terjadi)?' Katakanlah: 'Mudah-mudahan waktu itu sudah dekat'." (QS Al-Isra' [17]: 51)
6 Ramadan Mubarak 1441 H 29/04/2020 M