Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Peran Iran di Kawasan

June 01, 2015
4258

Serial Jawaban Ulama Al-Jalil Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Laman Facebook Beliau "Politik"

Jawaban Pertanyaan: Peran Iran di Kawasan

Kepada Mais Bader

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Tuanku Syekh yang mulia, semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi Anda. Pertanyaannya: Mengapa Amerika Serikat membiarkan Iran mengalami peningkatan kemampuan militer yang relatif cepat dan beragam, hingga Iran menjadi salah satu negara terpenting di kawasan dalam memainkan peran yang berpengaruh terhadap jalannya peristiwa di Irak, Suriah, Teluk, dan kawasan yang sedang bergejolak secara umum? Dan apa kebijakan Amerika dalam membendung peran yang tampak "liar" ini? Jazaakallahu khairan...

Jawaban:

1- Mengatakan bahwa Iran memiliki peran yang liar (lepas kendali) di kawasan adalah pernyataan yang tidak pada tempatnya. Iran berjalan searah dengan Amerika dalam seluruh isu di kawasan... Iran adalah negara sentral dalam kebijakan Amerika di kawasan, dan Amerika mengandalkannya di Irak, Suriah, Yaman, Afghanistan, Lebanon, dan tempat lainnya... Siapa pun yang memperhatikan tindakan Iran dengan seksama akan menemukan hal ini dengan jelas. Tidak sedikit dari para pemimpin Iran yang menyatakan bahwa kerja sama Iran dengan Amerikalah yang memungkinkannya menjajah Afghanistan dan Irak... Demikian pula dalam isu-isu lainnya.

2- Kami telah mengeluarkan Jawaban Pertanyaan pada 14 Syawal 1434 H bertepatan dengan 21/08/2013 M dengan judul: "Realitas Iran dalam Kebijakan Amerika?" Di dalamnya kami telah menjelaskan secara rinci hakikat hubungan Iran dengan Amerika serta kerja sama Iran dengannya dalam isu-isu di kawasan. Anda dapat merujuk kembali ke sana untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya, dan saya kutipkan untuk Anda bagian berikut:

("- Seluruh aktivitas politik di kawasan yang dilakukan oleh Iran semuanya terjadi dalam kesepakatan dan keharmonisan dengan proyek-proyek Amerika:

  • Di Lebanon, Iran mendirikan sebuah partai dari para pengikut mazhabnya dan mempersenjatainya sehingga menjadi tentara khusus di sana yang terpisah dari tentara resmi Lebanon. Rezim Lebanon pun mengakui partai tersebut beserta senjatanya, padahal diketahui bahwa rezim Lebanon adalah rezim sekuler yang mengikuti kebijakan Amerika. Rezim Lebanon tidak mengizinkan partai lain memegang senjata atau tidak mengakui senjata partai-partai lainnya. Partai Iran di Lebanon ini kemudian mendukung rezim Suriah yang terkait dengan Amerika sebagaimana yang dilakukan Iran. Amerika pun tidak melarang rezim Lebanon untuk membiarkan partai Iran tersebut melakukan intervensi di Suriah guna menyokong rezim sekuler Basyar al-Assad di sana. Bahkan, terdapat persetujuan implisit dari Amerika atas intervensi partai ini di Suriah tanpa dihalangi oleh militer Lebanon.

  • Ketika Amerika menjajah Irak, mereka menghadapi perlawanan yang tidak mereka duga. Maka Amerika memasukkan Iran ke Irak untuk membantunya dengan memberikan pengaruh pada penganut mazhabnya guna mencegah mereka bergerak melawan penjajah. Bahkan, Iran membuat mereka berdiri melawan gerakan perlawanan (muqawamah) dan memberikan legitimasi kepada penjajah serta rezim yang didirikannya di sana. Terutama setelah tahun 2005 ketika Amerika mengizinkan koalisi partai-partai pendukung Iran berkuasa di bawah kepemimpinan Ibrahim al-Ja'fari dan kemudian Al-Maliki. Pemerintahan-pemerintahan ini didirikan oleh Amerika dan terikat dengannya. Pemerintahan Al-Maliki yang didukung Iran telah menandatangani kesepakatan keamanan dan strategis dengan Amerika untuk menjaga pengaruhnya setelah penjajahan di Irak berakhir secara resmi. Hal ini menunjukkan keridaan Amerika atas peran Iran, di mana para pejabat Iran pun mengakui kerja sama dengan Amerika dalam penjajahan Irak dan dalam upaya mengamankan stabilitas pengaruh Amerika di sana. Iran langsung membuka kedutaannya di Irak segera setelah penjajahan. Begitu Al-Ja'fari terpilih, Menteri Luar Negeri Iran saat itu, Kamal Kharrazi, langsung mengunjungi Baghdad pada tahun 2005 di saat puncak penjajahan. Kedua belah pihak mengutuk aksi-aksi perlawanan terhadap penjajah dengan dalih mengutuk terorisme di Irak. Kunjungan Al-Ja'fari ke Iran juga menghasilkan penandatanganan berbagai kesepakatan, di antaranya kesepakatan kerja sama di bidang intelijen antara keduanya untuk membangun keamanan, mengawasi perbatasan, menghubungkan Basra dengan jaringan listrik Iran, serta pembangunan pipa minyak antara Basra dan Abadan...

  • Adapun hubungan Iran dengan rezim Suriah sudah terjalin lama sejak pecahnya intifadah pertama pada awal 1980-an. Saat itu Iran mendukung rezim Suriah dalam menindas kaum Muslim Suriah demi mempertahankannya dalam kerangka proyek Amerika yang mendukung rezim di bawah kepemimpinan agennya, keluarga al-Assad. Iran tahu bahwa itu adalah rezim sekuler Ba'ats-nasionalis yang merupakan saudara kembar rezim Saddam yang dulu mereka perangi, dan tidak ada hubungannya dengan Islam, bahkan memerangi Islam dan pemeluknya. Iran menyadari rezim itu terikat dengan Amerika, namun Iran tidak membela hak-hak umat Islam. Sebaliknya, Iran justru memerangi mereka dan menolong rezim kufur yang kriminal, dan masih terus melakukannya hingga sekarang. Rezim Iran memelihara hubungan erat dengan kepemimpinan Suriah, yang mencakup hubungan militer, ekonomi, dan politik. Iran telah mengirimkan banyak senjata untuk mendukung rezim Assad dan memberinya minyak serta gas dengan harga murah karena ketiadaan cadangan energi di Suriah. Hubungan politik dapat terlihat jelas dalam intervensi Iran saat intifadah Suriah ketika rezim Assad hampir runtuh. Jika bukan karena intervensi Iran melalui pengiriman pasukan Garda Revolusi, pasukan Partai Iran (Hizbullah), dan milisi Al-Maliki yang berafiliasi dengan Iran, niscaya Basyar dan rezimnya sudah runtuh. Pembantaian di Qushair, Homs, dan hari ini pembantaian kimia di Ghouta serta lainnya adalah saksi atas intervensi tersebut.

  • Di Afghanistan, Iran mendukung penjajahan Amerika, mendukung konstitusi yang disusunnya, serta pemerintahan yang dibentuknya di bawah kepemimpinan Karzai demi melayani Amerika. Iran telah mengamankan wilayah utara negara tersebut ketika Amerika gagal mengalahkan Taliban. Mantan Presiden Iran, Rafsanjani, pernah menyatakan: "Jika pasukan kami tidak membantu dalam memerangi Taliban, niscaya Amerika akan tenggelam dalam lumpur Afghanistan." (Surat Kabar Asharq Al-Awsat, 09/02/2002). Mohammad Ali Abtahi, mantan Wakil Presiden Iran bidang Hukum dan Parlemen, menyatakan dalam konferensi Teluk dan Tantangan Masa Depan yang diadakan di Abu Dhabi pada malam 13/01/2004: "Tanpa kerja sama Iran, niscaya Kabul dan Baghdad tidak akan jatuh dengan semudah ini. Namun kami justru mendapatkan imbalan dan dimasukkan dalam poros setan!" (Islam Online Net, 13/01/2004). Presiden Ahmadinejad juga mengulang hal serupa saat kunjungannya ke New York untuk menghadiri pertemuan PBB dalam wawancara dengan surat kabar New York Times pada 26/09/2008, di mana ia berkata: "Iran telah memberikan bantuan kepada Amerika Serikat terkait Afghanistan, dan hasil dari bantuan ini adalah ancaman langsung dari Presiden AS untuk melancarkan serangan militer terhadap kami. Negara kami juga telah memberikan bantuan kepada Amerika dalam memulihkan ketenangan dan stabilitas di Irak.") Selesai.

3- Apa yang telah disebutkan di atas diperkuat oleh penyelesaian negosiasi nuklir dan kegigihan Amerika untuk menutup berkas ini guna memperbaiki hubungan terbuka dengan Iran. Hal ini dilakukan agar Iran dapat melaksanakan peran yang telah dirancang Amerika untuknya di kawasan dengan dalih "kepentingan bersama" tanpa perlu lagi bersembunyi di balik tabir tipis seperti sebelumnya! Presiden Amerika telah menyampaikan pidato di depan Gedung Putih yang dikhususkan untuk berbicara tentang kesepakatan nuklir terbaru dengan Iran. Ia menyifatkan kesepakatan tersebut sebagai "kesepakatan baik yang memenuhi tujuan dasar kami" dan mengatakan "bagi rakyat Iran, kami siap bekerja sama demi kepentingan bersama" (Radio Sawa Amerika, 02/04/2015)... Pernyataan Presiden Amerika tersebut sangat jelas menunjukkan keinginannya untuk bekerja sama dengan Iran di bawah nama kepentingan bersama! Dan kepentingan bersama apa yang ada dengan Setan Besar kecuali mewujudkan proyek-proyek Amerika di kawasan?!

4- Kemudian, apa yang telah dan sedang terjadi berupa rencana-rencana yang harmonis antara Amerika, Iran, dan Houthi dalam peristiwa di Yaman! Mengenai hubungan Houthi dengan Iran, hal itu tidak butuh bukti lagi karena sudah sangat masyhur... Adapun dukungan Amerika kepada Houthi, setiap orang yang memiliki mata hati pasti menyadarinya. Amerika bertindak di Yaman dengan keangkuhannya yang khas, yaitu dengan kekuatan senjata dan penindasan. Houthi menduduki Sana'a dan wilayah lainnya, serta melakukan penangkapan dan pembunuhan dengan dalih "revolusi rakyat dan komite rakyat...". Amerika mendukung gerakan Houthi ini secara politik dan keamanan: Secara politik, Amerika tidak menganggap Houthi sebagai teroris seperti Al-Qaeda, melainkan sebagai gerakan politik. Duta Besar AS, Matthew Tueller, dalam konferensi persnya pada 18/09/2014 mengatakan: "Kami membedakan kelompok-kelompok yang berpartisipasi dalam proses politik. Gerakan Houthi berpartisipasi dalam konferensi dialog nasional yang menghasilkan banyak hasil positif dan mereka memiliki posisi politik serta aspirasi yang sah... Oleh karena itu, kami mendukung Houthi dan gerakannya untuk melakukan praktik yang sama sebagaimana kelompok dan partai politik lainnya," (situs Moraqebon Press). Secara keamanan, ketika Houthi memasuki Sana'a, tentara dan polisi melawan mereka sehingga tujuh orang Houthi tewas pada 09/09/2014. Hampir saja keadaan berpihak pada Hadi, namun Amerika bergegas mengirim Benomar (utusan PBB, atau sebenarnya utusan Amerika). Ia menekan Hadi, mengaburkan persoalan dengan seruan negosiasi, dan memberikan lampu hijau kepada Houthi untuk meningkatkan pergerakan di tengah suasana negosiasi yang didukung oleh tekanan Amerika melalui sosok Benomar terhadap Hadi.

5- Selain itu, peristiwa-peristiwa terakhir menegaskan dukungan ini. Saya kutipkan untuk Anda sebagian dari Jawaban Pertanyaan tertanggal 27/03/2015 mengenai masalah ini: (...Amerika telah menyokong Houthi melalui Iran dengan berbagai jenis senjata dan peralatan agar mereka mampu mendominasi Yaman dengan kekuatan, karena Amerika menyadari bahwa mayoritas kalangan politik di sana adalah antek-antek Inggris... Begitulah, Houthi menyangka mereka memiliki kekuatan untuk mendominasi Yaman. Mereka mengepung Presiden untuk mengambil apa yang mereka inginkan melalui undang-undang yang dikeluarkannya. Presiden awalnya setuju namun kemudian menunda-nunda pelaksanaan hingga mereka memberlakukan tahanan rumah padanya, namun ia berhasil lolos dan pergi ke Aden. Mereka mengejarnya namun ia berhasil lolos lagi... Amerika menyadari bahwa pengikutnya, yaitu Houthi, telah berada dalam kesulitan besar; mereka tersebar di berbagai penjuru negeri namun tidak mampu mendominasi sepenuhnya dan tidak mampu kembali ke kekuatan semula di tempat asal mereka. Maka Amerika berpandangan untuk menyelamatkan mereka dengan aksi militer terbatas guna memukul dua burung dengan satu batu: menampakkan mereka sebagai pihak yang dizalimi setelah sebelumnya di benak masyarakat mereka adalah penyerang, serta menciptakan suasana negosiasi yang menekan guna mendapatkan solusi jalan tengah, sebagaimana kebiasaan Amerika terhadap apa yang tidak bisa ia ambil sendiri... Hal ini tampak jelas dari pengamatan terhadap apa yang telah dan sedang terjadi. Arab Saudi telah berkonsultasi dengan Amerika sebelum aksi militer, dan pihak-pihak yang memainkan peran militer aktif adalah antek-antek Amerika, khususnya Salman Raja Saudi dan As-Sisi Presiden Mesir. Adapun negara-negara Teluk lainnya, Yordania, dan Maroko, mereka lebih dekat pada peran politik sebagaimana kebiasaan Inggris dalam mengikuti langkah Amerika agar tetap dianggap ada dan mendapatkan bagian dalam negosiasi yang direncanakan, serta untuk berbagi kue pengaruh... Meskipun aksi militer yang menekan terkadang berhasil membuka pintu negosiasi, namun terkadang juga gagal, sehingga keadaan kembali kacau, dan Yaman yang dulu bahagia menjadi menderita oleh api konflik... tepat di saat wilayahnya yang suci tidak lagi diinjak oleh para antek dan penjajah kafir.) Selesai.

Dengan merenungkan apa yang terjadi dan hasilnya, tampak jelas bahwa Amerikalah yang mengendalikan jalannya peristiwa. Fokus serangan Saudi ditujukan pada senjata yang dibayar dengan harta kaum Muslim, dan mayoritas korbannya adalah warga sipil, sementara hanya sedikit dari pihak Houthi... Iran sendiri tidak melakukan intervensi, melainkan hanya mengamati dari jauh meskipun suara-suara gaduh menyerukan "Badai Penghancur" (Ashifatul Hazm) yang jatuh di atas kepala Houthi!

Hal ini menunjukkan bahwa "dirigen" pergerakan ini sedang mengatur irama untuk mencapai solusi yang menyelamatkan Houthi bukannya membinasakan mereka, serta memberi mereka bagian yang signifikan bukannya menyingkirkan mereka... Arab Saudi menyadari hal itu dan menjalankan "Badai Penghancur" serta harapannya sesuai dengan irama ini... Demikian pula Iran menyadari hal itu dan hanya mengamati tanpa intervensi militer sesuai irama tersebut...! Bahkan Iran setuju kapal-kapalnya yang membawa bantuan ke Yaman diperiksa sebelum mencapai pelabuhan Yaman, karena Amerika menginginkan hal itu, sehingga Iran pun tunduk...! Begitulah, sebagaimana Arab Saudi disiplin dalam ketegasan dan harapannya sesuai arahan Amerika, demikian pula dengan Iran. Keduanya menyadari tujuan dari aksi-aksi panas ini sebagaimana yang telah kami jelaskan. Sekarang mereka sedang menuju pada "pendinginan suasana" sebelum solusi-solusi dingin diterapkan!

6- Kesimpulannya adalah bahwa Iran tidak "liar" (lepas kendali) dari kebijakan Amerika, bahkan tidak keluar darinya. Semua itu dilakukan dengan dalih kepentingan bersama dengan Setan Besar!

Saudara Anda, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda