Pertanyaan:
Lira Turki anjlok dalam satu hari pada 10/08/2018 sebesar 14%, setelah sebelumnya terus mengalami penurunan lebih dari 21% sejak awal tahun ini... Penurunan tersebut diperparah dengan langkah Amerika yang memberlakukan tarif bea masuk atas baja dan aluminium yang diimpor dari Turki... Selain itu, munculnya isu penahanan pendeta Amerika di Turki sejak tahun 2016 serta tuntutan untuk membebaskannya... Apa penyebab dari semua ini? Lalu, ke mana arah krisis ini? Jazakallahu khairan.
Jawaban: Agar jawaban menjadi jelas, maka perlu merenungkan hal-hal berikut:
Pertama: Krisis Lira dan penurunannya yang terus menerus secara periodik:
Penggunaan Lira dimulai pada tahun 1927 dengan nilai hampir setara satu Dolar, yaitu setelah penghancuran Khilafah dan mata uangnya yang berbasis emas dan perak... Kemudian kisah jatuhnya Lira dimulai sejak tahun 1933, di mana satu Dolar menjadi setara dua Lira... Setelah itu, rangkaian penurunan semakin cepat hingga Dolar setara dengan 1.650.000 Lira pada tahun 2001. Defisit ekonomi Turki mencapai puncaknya bersamaan dengan tekanan dari Dana Moneter Internasional (IMF), dan pemerintahan Ecevit yang pro-Inggris mulai goyah... Maka digelarlah pemilu tahun 2002 yang dimenangkan oleh Erdogan dan partainya, kemudian ia membentuk pemerintahan dengan dukungan Amerika. Pemerintahannya mengambil keputusan untuk menghapus enam angka nol yang disetujui oleh parlemen dan mulai diberlakukan sejak 01/01/2005, sehingga satu Dolar menjadi setara 1,79 Lira. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena sejak tahun 2013 Lira mulai jatuh kembali. Lira mencatat penurunan besar selama sembilan bulan hingga awal tahun 2014, di mana nilainya hilang 30%, dan tidak berhenti hingga hari ini. Pemerintahan Erdogan telah mencoba membatasi penurunan dan menjaga stabilitas, namun tidak mampu. Lira mulai jatuh sejak awal tahun ini secara mencolok, di mana hingga pertengahan tahun 2018 telah kehilangan sekitar 21% nilainya dibandingkan awal tahun, yakni hanya dalam enam bulan...
Setelah itu, pada 26 Juli tahun ini, krisis muncul ke permukaan secara dramatis ketika Trump dan wakilnya Mike Pence mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Turki jika Brunson tidak segera dibebaskan... Kemudian Lira terus mengalami penurunan pada akhir Juli lalu terhadap Dolar menjadi 4,91 Lira dibandingkan 4,76 Lira sebelum keluarnya keputusan Bank Sentral Turki untuk mempertahankan suku bunga riba pada level 17,75% tanpa kenaikan. (Bank Sentral Turki membiarkan suku bunga tidak berubah pada hari Selasa, menyalahi ekspektasi yang memprediksi kenaikan setelah inflasi melonjak ke level tertinggi dalam 14 tahun... Bank mempertahankan suku bunga repo satu minggu pada 17,75%... Lira, yang telah kehilangan sekitar 20% nilainya sejak awal tahun ini, turun menjadi 4,91% terhadap Dolar setelah keputusan tersebut dari 4,7605 sebelumnya... Sumber: Sky News Arabic – Selasa, 24 Juli 2018).
Setelah itu, terjadi pengumuman keputusan sanksi dalam sebuah cuitan Trump di Twitter, yang kemudian mempercepat jatuhnya Lira Turki terhadap Dolar... Untuk meredam krisis dengan Washington, Ankara segera mengirim delegasi yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Turki pada 7 Agustus untuk bernegosiasi dengan mitranya dari Amerika guna membahas krisis Pendeta Brunson. Namun negosiasi antara kedua pihak tidak mencapai hasil. Begitu delegasi Turki memulai perjalanan pulang ke negaranya pada 9 Agustus, Trump justru menyiramkan bensin ke dalam api melalui cuitan di akun media sosialnya "Twitter" pada Jumat, 10 Agustus, dengan menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari Turki, sehingga tarif impor aluminium menjadi 20 persen dan baja 50 persen. Hal ini mendorong Lira jatuh kembali ke level rekor terendah baru di angka 7,24 Lira per Dolar dalam perdagangan pagi di Asia-Pasifik. Mata uang Turki telah kehilangan sekitar 40 persen nilainya sejak awal tahun, di mana selama minggu kedua bulan Agustus saja, Lira kehilangan setara 20 persen nilainya terhadap Dolar. (Trump menambahkan: "Saya baru saja mengeluarkan perintah untuk melipatgandakan tarif baja dan aluminium... 10/08/2018 https://arabi21.com).
Dengan demikian, krisis keuangan antara Amerika dan Turki di permukaan tampak seolah-olah akibat kasus Pendeta Brunson, dan keinginan Presiden Amerika untuk memuaskan sektor Kristen fundamentalis dari basis pemilihnya hanya beberapa bulan sebelum pemilu sela Kongres. Namun kenyataannya, kasus Pendeta Brunson digunakan untuk menutupi alasan sebenarnya di balik runtuhnya Lira Turki, yaitu krisis politik yang dipicu oleh Amerika Serikat untuk memukul Eropa sebagaimana yang akan kami jelaskan... Hal ini karena tanda-tanda krisis sudah ada bahkan sebelum perselisihan Turki dengan Amerika, dan pemerintah Turki mempercepat jadwal pemilu dari November 2019 menjadi Juni tahun ini untuk mengantisipasi memburuknya krisis yang dapat mempengaruhi hasil pemilu... Erdogan sendiri mengakui hal ini dengan mengatakan, "Berkat percepatan tanggal pemilu, kita akan bersiap menghadapi dampak gempa ekonomi yang menghancurkan, jika tidak, kita tidak akan bisa keluar dari periode ini tanpa menderita kerugian." (Halaman Berita Turki, 20/04/2018). Artinya, merosotnya nilai Lira sudah terjadi sebelum masalah pendeta dan sebelum kenaikan tarif... Terlebih lagi, Brunson telah dipenjara sejak tahun 2016, sehingga tidak masuk akal bagi Amerika untuk menggunakan sanksi terhadap Turki saat ini demi Brunson, terutama ketika diketahui betapa rendahnya kepedulian Amerika terhadap agama dan hak asasi manusia...
Adapun alasan-alasan sebenarnya di balik penurunan drastis mata uang Turki adalah karena sejumlah faktor, yang paling menonjol adalah:
a- Besarnya volume pinjaman, terutama untuk sektor swasta, selama sepuluh tahun terakhir... Di mana Departemen Keuangan Turki pada September 2017 mengumumkan bahwa total utang luar negeri Turki mencapai 438 miliar Dolar... Dan direncanakan untuk membayar sekitar 11 miliar untuk cicilan utang yang berjumlah sekitar 43 miliar selama tahun 2018: Departemen Keuangan Turki mengumumkan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada 31/10/2017 bahwa ("berencana membayar 10,92 miliar Dolar sebagai bagian dari jumlah yang mencapai hampir 43,1 miliar Dolar untuk cicilan utang pada tahun 2018"... dan tingkat inflasi baru-baru ini mencapai lebih dari 10%"... Anadolu Agency 31/10/2017). Demikianlah lonceng bahaya mulai berbunyi kencang, hingga baru-baru ini penasihat Departemen Keuangan Turki mengumumkan bahwa ("total utang luar negeri Turki untuk kuartal pertama tahun ini terhitung sejak tanggal 31/03/2018 adalah 466,1 miliar Dolar"... Anadolu Agency 29/06/2018). Di sini perlu dicatat bahwa bagian penting dari utang-utang ini pada dasarnya adalah proyek-proyek pemerintah, namun sektor swasta yang mengambil alih pelaksanaan dan pendanaannya... Karena pemerintahan Presiden Erdogan selama sepuluh tahun terakhir mencoba mengurangi utang pemerintah dengan menawarkan proyek-proyek ini kepada sektor swasta, yang kemudian meminjam dari luar negeri untuk melaksanakannya... Oleh karena itu, sektor swasta hari ini menanggung sebagian dari utang-utang ini, yang merupakan trik politik agar pemerintah selalu dapat membanggakan rendahnya utang luar negeri pemerintah!
b- Defisit perdagangan antara ekspor dan impor meningkat menjadi 37,5% dibandingkan tahun sebelumnya hingga mencapai 77,06 miliar Dolar selama tahun 2017 sebagaimana ditunjukkan oleh data Kementerian Bea Cukai dan Perdagangan Turki pada 02/01/2018. Defisit ini dibayar dengan mata uang keras. Nilai ekspor Turki adalah 157,1 miliar Dolar sedangkan impornya 234 miliar + 156 juta Dolar AS untuk tahun 2017 (Televisi dan Radio Turki 02/01/2018). Selain itu, tingkat inflasi yang diumumkan di Turki dalam angka resmi dari Kantor Statistik Resmi Turki pada 03/08/2018 mengenai tingkat inflasi di negara tersebut mencapai 15,85% (Anadolu Agency 03/08/2018). Angka ini naik untuk pertama kalinya sebesar ini sejak tahun 2003 saat partai Erdogan berkuasa. Perlu diketahui bahwa target Bank Sentral adalah menjadikan tingkat inflasi 5% untuk mencapai standar Eropa... Namun ia gagal karena tidak mampu mencapai persentase tersebut dan berhenti di angka 8%, namun segera naik menjadi 10% tahun lalu dan mencapai angka ini hari ini yaitu sekitar 16%.
c- Penurunan peringkat ekonomi Turki oleh lembaga-lembaga pemeringkat telah memberikan tekanan pada Lira Turki dan memperlemah kepercayaan terhadapnya serta terhadap ekonomi Turki... Lembaga pemeringkat Moody's pada 14/04/2018 telah memperingatkan tentang lemahnya mata uang Turki dan inflasi utang Turki, dengan mengatakan: "Kelemahan kronis pada mata uang Turki berdampak negatif terhadap peringkat utang kedaulatannya dan bermasalah bagi ekonomi" serta menunjukkan "rendahnya cadangan devisa di Turki" (Reuters 14/04/2018). Lembaga ini telah "menurunkan peringkatnya untuk Turki dari (Ba1) menjadi (Ba2) pada 13/03/2018". Erdogan pun marah dengan mengatakan: "Lembaga pemeringkat kredit sibuk berupaya mendorong Turki ke dalam jalan buntu dan pasar keuangan tidak boleh menganggap serius hal itu" (Turk Press 13/03/2018). Langkah ini diikuti oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor's yang pada 02/05/2018 menurunkan peringkat Turki dalam langkah yang tidak terduga... Lembaga ini mengumumkan keputusannya untuk menurunkan peringkat Turki dari (BB) menjadi (BB-). Lembaga tersebut mengatakan: ("Penurunan peringkat ini disebabkan oleh kekhawatiran kami mengenai memburuknya prospek inflasi dan penurunan jangka panjang dalam nilai tukar mata uang Turki serta fluktuasinya"... Reuters 02/05/2018). Hal ini juga diikuti oleh lembaga pemeringkat Fitch... yang dalam pernyataannya mengatakan: ("Peringkat kredit Turki turun dari 'BB+' menjadi 'BB' karena peningkatan inflasi, defisit transaksi berjalan, dan ketidakpastian dalam kebijakan ekonomi Turki"... Turk Press 14/07/2018). Sudah diketahui bahwa lembaga-lembaga pemeringkat kredit ini berperan dalam mempengaruhi situasi ekonomi, di mana mereka bisa menyembunyikan masalah ekonomi suatu negara dan tidak menyorotinya sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Turki selama bertahun-tahun, atau menyingkap dan membesar-besarkannya sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Turki sekarang untuk melayani tujuan politik, sehingga membuat para kreditor merasa cemas untuk memberikan pinjaman kepada Turki... yang kemudian berujung pada penagihan utang... Hal ini meningkatkan permintaan untuk mengumpulkan mata uang keras dari pasar guna membayar utang, sehingga nilai Lira turun.
Kedua: Di sini muncul pertanyaan: Jika krisis Lira sudah ada sejak lama... lantas mengapa tekanan diberikan pada periode ini melalui krisis pendeta dan kenaikan tarif? Serta menonjolkan anjloknya Lira sedemikian cepat seolah-olah terjadi ketegangan antara Turki dan Amerika untuk memukul Lira? Ini adalah perkara berbahaya seperti pernyataan perang, yang minimal mengharuskan pemutusan hubungan atau penarikan diri dari NATO... dsb, namun tidak ada satu pun dari hal itu yang terjadi! Lantas apa hakikat sebenarnya? Agar hakikatnya jelas, kami sebutkan hal-hal berikut:
Pemerintahan Trump selalu mengadopsi retorika Dolar yang kuat di hadapan mata uang dunia yang berpengaruh, terutama Euro. Ia memanfaatkan rendahnya suku bunga di zona Euro dan menaikkan suku bunga di negaranya untuk mendorong perpindahan modal dari Eropa ke Amerika guna mendapatkan bunga yang tinggi... Amerika mengharapkan perpindahan dana tersebut akan menurunkan nilai Euro terhadap Dolar, namun hasilnya tidak seperti yang mereka inginkan. Sebaliknya, Euro terus menguat terhadap Dolar. Hal ini karena Bank Sentral Eropa mulai menjalankan rencana efektif untuk memperketat kebijakan moneternya dan mengurangi atau menghentikan pembelian obligasi dalam apa yang disebut sebagai pelonggaran moneter (quantitative easing), yang menyebabkan perpindahan modal dari Amerika Serikat ke Eropa dan Asia untuk mencari imbal hasil investasi yang lebih baik... Ketika Trump gagal dalam hal ini, ia beralih ke pengurangan impor dan peningkatan ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan demi keuntungannya agar Dolar menguat, maka ia mulai memberlakukan tarif pada beberapa barang impor (oleh karena itu Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengumumkan pada Kamis, 31 Mei 2018 bahwa negaranya akan memberlakukan tarif bea masuk yang tinggi pada baja dan aluminium yang diimpor dari Uni Eropa, Cina, Meksiko, dan Kanada... 31/05/2018 www.dw.com).
Namun semua kebijakan ini tidak berhasil memberikan penguatan Dolar terhadap Euro bagi Trump... Tampaknya ia menemukan sasarannya dengan menonjolkan jatuhnya Lira Turki melalui tekanan yang lebih besar kepadanya, yang kemudian memukul pasar keuangan di Eropa dengan memicu ketakutan di sana karena intensnya hubungan keuangan antara Eropa dan Turki. Mayoritas investasi di Turki adalah milik Eropa, yang meningkat pada tahun 2017 sebesar 42%. Volume perdagangan Turki terbesar adalah dengan Eropa yang mencapai 160 miliar Dolar pada tahun 2017 dan cenderung menguntungkan Eropa. Kedua pihak telah mulai memperbarui perjanjian Serikat Pabean yang ditandatangani tahun 1995 dengan target menaikkan perdagangan menjadi 200 miliar Dolar dalam satu setengah tahun dan mencapai 500 miliar dalam lima tahun sebagaimana diumumkan oleh Menteri Ekonomi Turki Nihat Zeybekci (Asharq Al-Awsat 29/09/2017). Sementara itu, volume perdagangan antara Turki dan Amerika hanya 18,7 miliar Dolar dengan peningkatan ekspor Amerika ke Turki sebesar 7,2% selama 11 bulan di era Trump (Anadolu Agency 21/01/2018). Oleh karena itu, guncangan apa pun pada ekonomi Turki dan selanjutnya Lira Turki akan memicu ketakutan yang kuat pada ekonomi Eropa... Ketakutan finansial ini, sebagaimana yang diharapkan Trump, akan menjadi pukulan yang hampir mematikan bagi Euro...
Pasar Eropa benar-benar terpengaruh oleh penurunan Lira Turki:
a- Bank Sentral Eropa merasa semakin khawatir mengenai keterpaparan bank-bank zona Euro terhadap Turki, terutama bank BNP Paribas (Prancis), bank BBVA (Spanyol), dan bank UniCredit (Italia). Ketiga bank ini memiliki operasi besar di Turki, dan saham ketiga bank tersebut turun sekitar 3%. Maka Eropa mulai terpengaruh oleh apa yang terjadi di Turki karena investasinya di sana, utang-utang yang dimiliki Turki kepada mereka, dan volume perdagangan antara kedua belah pihak.
b- (Berdasarkan angka terbaru dari Bank Sentral Internasional (BIS), utang bank-bank Eropa yang jatuh tempo di Turki mencapai 224 miliar Dolar (sekitar 200 miliar Euro), yang terbanyak adalah bank-bank Spanyol. Bank-bank tersebut khawatir akan keterpaparan mereka terhadap krisis di Turki, dan saham beberapa bank Eropa tersebut mulai turun seiring runtuhnya Lira dengan persentase berkisar antara 10 hingga 20 persen karena utang mereka di Turki) Sky News 31/05/2018.
c- Ada sisi lain yang mengkhawatirkan dari utang Turki, yaitu ketidakmampuan untuk membayar cicilan utang... Para investor Turki berutang kepada bank-bank Spanyol sebesar 82,3 miliar Dolar, kepada bank-bank Prancis sebesar 38,4 miliar Dolar, sementara nilai pinjaman Italia mencapai 17 miliar Dolar dalam campuran mata uang lokal dan asing. Dari sinilah alarm berbunyi di Eropa, di mana bank Spanyol BBVA, bank Italia UniCredit, dan perusahaan BNP Paribas Prancis telah kehilangan nilai saham mereka: https://www.ft.com/content/51311230-9be7-11e8-9702-5946bae86e6d
Demikian pula, penurunan nilai Lira juga memicu kemungkinan gagal bayar Turki atas pinjamannya, yang menyebabkan Eropa terpengaruh secara luas...
d- Laporan menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar Turki yang berutang lebih dari 220 miliar Dolar telah mengajukan permohonan perlindungan dari kreditor kepada pemerintah setelah anjloknya Lira. Di antara perusahaan-perusahaan ini adalah grup "Dogus" yang dikelola oleh miliarder Ferit Sahenk, yang meminta bank untuk merestrukturisasi utang dalam mata uang asing senilai miliaran Dolar. Beberapa perkiraan menyebutkan bahwa total utang yang diminta untuk direstrukturisasi adalah sekitar 20 miliar Dolar...
e- Persatuan Kamar Industri dan Perdagangan di Jerman mengumumkan bahwa sekitar 6.500 perusahaan Jerman di dalam Turki terpengaruh akibat ketidakpastian yang menyelimuti ekonomi Turki, seraya menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Jerman mulai mengurungkan niat untuk menyuntikkan investasi baru di pasar Turki. "13/08/2018 www.lebanon24.com"
Ketiga: Dengan demikian, pemusatan sorotan pada krisis Lira dengan penurunan yang cepat ini sebagai hasil dari tindakan Amerika bertujuan untuk menciptakan guncangan hebat pada ekonomi Eropa dan selanjutnya memukul Euro hingga nilainya turun terhadap Dolar... Meskipun tindakan Amerika yang menekan Lira akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di Turki, namun Trump tidak mempedulikan hal itu... Walaupun seseorang bisa memahami kesombongan Trump untuk memukul mata uang apa pun yang menyaingi Dolar sesuai dengan mentalitas koboi yang mengalir di darahnya, namun yang mengherankan adalah Erdogan tidak menyadari hal itu sehingga ia terkejut dengan apa yang dilakukan Trump dan merasa heran bagaimana Trump bisa melakukan itu terhadap sekutunya demi seorang pendeta?! Ia mengatakan di depan massa di kota Unye yang menghadap ke Laut Hitam ("Adalah kesalahan besar berani mencoba menundukkan Turki melalui ancaman demi seorang pendeta" dan ia menambahkan "Saya menyapa mereka yang di Amerika sekali lagi: Memalukan bagi kalian. Kalian menukar mitra strategis kalian di aliansi Atlantik dengan seorang pendeta" Sumber: situs Al-Anba' hari Minggu, 12/08/2018). Kemudian ia berkata menyapa Trump dengan nada memohon dan sedih bahwa Turki telah memberikan banyak jasa kepada Amerika dan berperang demi kepentingannya! Hal itu tertuang dalam sebuah artikel berjudul "Bagaimana Melihat Krisis dengan Amerika Serikat" yang diterbitkan di surat kabar Amerika New York Times pada 11/08/2018, Erdogan berkata: (... Bahwa Turki dan Amerika adalah mitra strategis dan sekutu di NATO selama 60 tahun dan keduanya telah menghadapi kesulitan bersama pada masa Perang Dingin dan setelahnya... Turki selalu bergegas membantu Amerika Serikat selama bertahun-tahun... Pasukan kami berperang bersama mereka di Korea... Di saat-saat paling gelap krisis rudal dengan Kuba, kami berkontribusi untuk meredakan krisis dengan mengizinkan Amerika Serikat menempatkan rudal Jupiter di wilayah kami. Dan Turki mengirim pasukannya ke Afghanistan demi kesuksesan misi NATO ketika Amerika menunggu teman-teman dan sekutunya untuk membalas mereka yang melakukan serangan teroris 11 September"). Demikianlah Erdogan menunjukkan loyalitasnya (muwali) kepada Amerika musuh Islam dan kaum Muslim, namun Amerika membalasnya dengan ketidakpedulian!
Keempat: Adapun nasib krisis ini antara Amerika dan Turki serta masalah Lira Turki, maka yang kami perkirakan adalah sebagai berikut:
Karena tujuan dari tekanan Amerika terhadap Lira Turki yang menyebabkan percepatan penurunan Lira adalah untuk menciptakan ketakutan di Eropa guna menggoyang ekonomi Eropa dan selanjutnya menurunkan Euro, karena intensnya hubungan keuangan dan ekonomi antara Eropa dan Turki. Dan karena hal ini telah benar-benar menyebabkan penurunan nilai Euro terhadap Dolar: (... Dan Euro sangat terpukul pada hari Jumat setelah surat kabar Financial Times mengutip dua sumber yang mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa khawatir tentang bank-bank Spanyol, Italia, dan Prancis serta keterpaparan mereka terhadap Turki. Hari ini Euro menyentuh 1,13655 Dolar, yang merupakan level terendah terhadap mata uang Amerika sejak Juli 2017, yakni lebih dari setahun... Sumber: Reuters – Senin, 13/08/2018). Oleh karena itu, jika Trump merasa telah berhasil memukul Euro dengan cara yang memuaskan kesombongannya, ia mungkin akan kembali mendukung Lira dengan membalikkan penilaian lembaga-lembaga pemeringkat sebagaimana yang ia lakukan saat kedatangan Erdogan tahun 2003 ketika Lira sedang rendah dan ekonomi sedang kacau di zaman Ecevit, yang kemudian menciptakan gelembung pertumbuhan ekonomi melalui utang yang terus menerus atas pengaruh Amerika dan para pembantunya serta menaikkan peringkat Turki... Setelah itu dilakukan promosi terhadap ekonomi yang tumbuh di Turki padahal ia berdiri di atas utang-utang riba!
Adapun mengenai dampak tarif, sebenarnya tidak memiliki dampak besar, karena ekspor baja Turki ke Amerika hanya sedikit lebih dari satu miliar Dolar (Youm7 02/08/2018), jumlah yang tidak berpengaruh bagi negara yang nilai ekspornya pada tahun 2017 mencapai lebih dari 157 miliar Dolar (Al-Sharq Portal 02/01/2018). Seolah-olah tujuannya adalah untuk menciptakan suasana ketidakstabilan dalam ekonomi Turki dan selanjutnya memberikan citra gelap pada Lira Turki yang memiliki gema atau pengaruh pada ekonomi Eropa dan selanjutnya pada Euro, karena intensnya transaksi ekonomi dan keuangan antara Turki dan Eropa, dan itulah yang terjadi...
Adapun pendeta tersebut, ia telah ditahan selama sekitar dua tahun dan situasi saat itu tenang antara Turki dan Amerika. Sekarang Trump menonjolkannya untuk tujuan pemilu, dan juga untuk menciptakan suasana ketegangan antara Turki dan Amerika guna membantu mempengaruhi pasar keuangan. Ia hanyalah unsur pembantu dalam kegaduhan ini dan bukan faktor utama. Oleh karena itu, ketika Trump sudah merasa cukup dengan apa yang terjadi pada Euro—yang diperkirakan tidak akan lama—maka pendeta tersebut akan diserahkan ke Amerika dengan upaya menjaga muka Erdogan, atau bahkan tanpa menjaga mukanya sama sekali!
Adapun penderitaan rakyat Turki akibat runtuhnya Lira dan selanjutnya kenaikan harga serta kesulitan hidup... hal ini tidak berarti apa-apa bagi Trump, maupun bagi mereka yang berjalan di orbit Trump, tidak pula bagi para agen... Semoga para pengikut dan pendukung itu sadar atau berakal bahwa mereka tidak memiliki bobot maupun nilai di mata para tuan jika kepentingan para tuan itu menuntut untuk melakukan apa saja terhadap mereka, meskipun di dalamnya terdapat penghinaan bagi para pengikut tersebut atau membuat wajah mereka menjadi hitam... Maka barangsiapa yang menghinakan diri, akan mudah baginya menanggung kehinaan...
Kesimpulannya adalah:
Bahwa krisis yang dibuat oleh Trump mulai dari tarif bea masuk, masalah pendeta, penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat terhadap Turki, dan pembongkaran utang-utang Turki... dsb, serta penurunan Lira yang sangat mencolok setelahnya... Krisis ini dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan di Eropa guna menggoyang ekonomi Eropa dan selanjutnya menurunkan nilai Euro, karena intensnya hubungan keuangan dan ekonomi antara Eropa dan Turki. Hal ini telah benar-benar menyebabkan penurunan nilai Euro terhadap Dolar...
Dan karena Erdogan berputar di orbit Amerika, maka krisis ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Sebaliknya, jika Trump sudah merasa cukup dengan penurunan yang terjadi pada Euro meskipun itu bukan pukulan mematikan sebagaimana yang ia harapkan—dan sepertinya hal itu tidak mustahil—maka saat itu juga, sebagaimana Trump memulai krisis, ia akan mengakhirinya dengan sedikit menjaga muka bagi Erdogan atau tanpa itu sama sekali... Setelah itu pendeta akan dibebaskan, tarif akan dibatalkan atau dikurangi, dan lembaga-lembaga pemeringkat akan kembali memperbaiki peringkat Turki setelah penundaan utang dengan pinjaman-pinjaman baru. Kemudian nilai tukar Lira akan membaik meskipun tidak kembali seperti sebelum krisis, dan Trump serta Erdogan akan kembali berbincang ramah seolah-olah tidak terjadi apa-apa!! Begitulah seterusnya... Jika kepentingan para tuan menuntut penghinaan terhadap mereka, para tuan itu akan melakukannya. Bahkan jika kepentingannya menuntut penyingkiran mereka, itu akan terjadi. Hal semacam itu sudah pernah terjadi pada orang-orang seperti mereka sebelumnya, tidakkah mereka mengambil pelajaran?
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS Qaf [50]: 37)
12 Dzulhijjah 1439 H 23/08/2018 M