Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Merosotnya Lira Turki ke Level Terendah dan Dampaknya terhadap Pemilihan Presiden Tahun 2023

December 12, 2021
3002

Jawaban Pertanyaan

Pertanyaan:

Lira Turki merosot ke level terendah dalam waktu singkat, kehilangan lebih dari 30% nilainya dalam kurang dari dua bulan, dan kehilangan lebih dari 45% nilainya sejak awal tahun ini. Inflasi meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 21% dan harga-harga melonjak secara signifikan. Perlu dicatat bahwa Lira terus merosot sejak tahun 2013. Apa penyebab hal ini? Bagaimana krisis ini dapat diatasi dan penurunan tersebut dihentikan? Serta apa dampaknya terhadap pemilihan umum tahun 2023?

Jawaban:

Untuk mengetahui penyebab dan dampaknya, kita akan menelaah hal-hal berikut:

1- Benar bahwa mata uang tersebut telah kehilangan sekitar 45% nilainya terhadap dolar sejak awal tahun, dan sekitar 30% sejak akhir Oktober. Semua ini disebabkan oleh tingginya utang, jatuh tempo utang segera, dan ketidakmampuan untuk membayar utang saat jatuh tempo; hal-hal ini memiliki peran penting dalam penurunan nilai mata uang. Utang luar negeri menurut pengumuman Kementerian Keuangan Turki pada 31 Maret 2021 mencapai sekitar 448,4 miliar dolar, di mana utang pokoknya adalah 262,1 miliar dolar yang kemudian berlipat ganda karena riba (bunga) di samping pembayaran premi asuransi utang. Utang segera yang harus dibayar Turki dalam satu tahun mencapai sekitar 168,7 miliar dolar. Untuk membayar utang, Turki perlu meminjam dari pihak lain, sehingga terus berputar dalam lingkaran setan pembayaran utang. Terlihat ada ketidakmampuan untuk membayar utang segera ini, yang sebagaimana diketahui harus dibayar dengan mata uang asing keras. Penjadwalan pembayaran utang ini menekan ekonomi Turki. Defisit pembayaran meningkat pada bulan Oktober lalu dari 3,7 miliar dolar menjadi 12 miliar dolar pada bulan November lalu. Diperkirakan defisit pada bulan Desember ini sekitar 10,4 miliar dolar. Diperkirakan pula defisit hingga bulan-bulan musim panas mendatang rata-rata mencapai 9 miliar dolar per bulan, menurut prediksi beberapa ekonom Turki yang bekerja di bank-bank. Erdogan mencoba menyalahkan pihak-pihak yang tidak dikenal yang membeli mata uang asing dan menariknya dari pasar sehingga tidak sampai ke Bank Sentral. Erdogan ("menugaskan Dewan Pengawas Pemerintah untuk mengidentifikasi lembaga-lembaga yang membeli mata uang asing dalam jumlah besar dan menentukan apakah telah terjadi manipulasi." Ia berkata, "Negara kita sedang menjalani perang kemerdekaan ekonomi dan tidak akan tunduk pada tekanan untuk mengubah arah. Kita menyaksikan manipulasi nilai tukar, suku bunga, dan kenaikan harga oleh mereka yang ingin mengeluarkan Turki dari persamaan"... Asharq Al-Awsat, 27/11/2021). Semua perkataan ini hanyalah upaya melarikan diri dari tanggung jawab dan menutupi fakta. Defisit itu nyata, dan pintu telah dibuka lebar-lebar bagi berbagai pihak untuk berutang ke luar negeri dengan riba, baik pihak tersebut adalah negara, perusahaan, maupun individu melalui kartu kredit. Utang-utang tersebut dibayar dengan mata uang asing, dan semua itu menyebabkan krisis nyata, sehingga nilai mata uang turun dan kemiskinan meningkat. Bank-bank dan lembaga keuangan kreditor akan mengisi pundi-pundinya, sementara negara-negara mereka, terutama negara penjajah, akan meningkatkan campur tangan dalam urusan dalam negeri dan memaksakan lebih banyak dominasi atasnya.

2- Akibat hal tersebut, harga-harga melonjak secara mencolok. Badan Statistik Turki mengumumkan pada 3/12/2021 (bahwa tingkat inflasi di negara itu secara tahunan mencapai 21,31% selama bulan November"... Anadolu, 3/12/2021). Hal ini menyebabkan kontraksi ekonomi, dan persentase ini empat kali lebih tinggi dari target yang ditetapkan oleh pemerintahan Erdogan, yang membuat biaya hidup menjadi sangat mahal bagi banyak keluarga, serta ketidakmampuan banyak orang untuk membayar utang mereka. Kepresidenan Anggaran dan Strategi Kepresidenan Republik Turki mengumumkan dalam laporan yang diterbitkan pada 2/12/2021 (bahwa jumlah konsumen yang tidak mampu membayar utang ribawi mereka meningkat tahun ini menjadi 127,2% dibandingkan tahun lalu. Perlu diketahui bahwa jumlah pengguna kartu kredit atau pinjaman riba di Turki, yakni mereka yang berutang secara ribawi, sekitar 35 juta orang. Menteri Perbendaharaan dan Keuangan Lutfi Elvan menyatakan "bahwa jumlah pengguna kartu kredit mencapai 34.119.250 orang. Mereka memiliki utang sebesar 874,3 miliar lira Turki"... BBC Turk, 14/9/2021).

3- Negara, presidennya, dan lembaga-lembaganya mendorong masyarakat untuk konsumsi agar terjadi pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengajak mereka untuk berutang yang tidak lain kecuali dengan riba yang membahayakan dan diharamkan. Tidak mengubah keadaan tersebut meskipun Bank Sentral, atas permintaan Erdogan, menurunkan nilai ribawi dari 24% menjadi 19%, kemudian turun dalam beberapa bulan terakhir menjadi 15%. Presiden mencoba memanfaatkan perasaan kaum Muslim dengan perkataannya di depan kelompok parlementer partainya pada 17/11/2021: ("Sesungguhnya riba adalah penyebab dan inflasi adalah akibat, oleh karena itu kami akan memerangi inflasi dan kami tidak akan membiarkan riba menghancurkan rakyat kami"...). Tidak ada perbedaan dalam riba antara 24%, 19%, atau 15%. Riba, baik sedikit maupun banyak, adalah haram. Barang siapa yang memakannya, melegalkannya, dan mendorongnya, maka ia telah mengumumkan perang dari Allah dan Rasul-Nya. Ia telah menjerumuskan mayoritas orang ke dalam riba selama 19 tahun pemerintahannya dan partainya sejak 2002, atas dasar bahwa ia adalah Islami! Ia mendorong pinjaman ribawi agar roda ekonomi bergerak dan meningkatkan pertumbuhan, yang berarti peningkatan aktivitas pasar dalam hal jual beli, investasi, dan pengurangan pengangguran. Namun, semua itu berbalik menyerang rakyat Turki ketika mereka melakukan konsumsi melalui utang ribawi. Kemiskinan dan penderitaan mereka bertambah, sementara para pemilik modal semakin kaya raya. Orang-orang mulai mengeluh, suara-suara mulai meninggi menentangnya, dan popularitasnya mulai turun ke level rendah, sementara pemilihan presiden sudah di depan mata yang dijadwalkan akan berlangsung pada 18/6/2023. Sistem demokrasi sekuler kapitalistik yang diterapkan saat ini di Turki adalah pendorong utama maraknya riba karena ia adalah salah satu pilar sistem ini.

4- Presiden telah mencopot Gubernur Bank Sentral sebelumnya, Naci Agbal pada 19/3/2021, yang membela kebijakan suku bunga tinggi, dan menunjuk Kavcioglu sebagai penggantinya dengan tugas menurunkan suku bunga ribawi dan bekerja memulihkan stabilitas harga sambil terus menjaga vitalitas ekonomi sebelum pemilihan parlemen dan presiden mendatang. Gubernur Bank Sentral Turki, Sahap Kavcioglu, mengatakan ("Tujuan intervensi Bank Sentral di pasar mata uang adalah untuk menghilangkan fluktuasi yang terjadi di pasar. Dampak akumulatif dari sikap kebijakan moneter kita saat ini akan terlihat pada paruh pertama tahun 2022"... Anadolu, 2/12/2021). Erdogan juga mencopot Menteri Perbendaharaan dan Keuangan Lutfi Elvan dan menunjuk Nureddin Nebati sebagai penggantinya, yang diumumkan dalam Lembaran Negara Turki pada 2/12/2021. Padahal ia baru menunjuk Elvan satu tahun sebelumnya setelah mencopot menantunya, Berat Albayrak, pada 9/11/2020. Hal ini menunjukkan kegoncangan dalam perjalanan dan ketidakteraturan dalam kebijakan serta pemberian solusi, serta upaya untuk menimpakan kegagalan kepada orang lain yang telah ia tunjuk sendiri.

5- Erdogan masih melayani kebijakan Amerika di kawasan dan merealisasikan kepentingannya, ia berjalan sepenuhnya dalam orbit Amerika. Sebagai imbalannya, Amerika bekerja mendukungnya dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, perusahaan pemeringkat kredit internasional yang merupakan perusahaan-perusahaan Amerika, menerbitkan laporan positif untuk kepentingan Erdogan. Lembaga pemeringkat kredit Amerika, S&P Global Ratings, pada 1/12/2021 menerbitkan ekspektasinya mengenai pertumbuhan ekonomi Turki (dengan menaikkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Turki tahun ini sebesar 1,2 poin menjadi 9,8%, sementara meningkatkan ekspektasi pertumbuhan pada tahun 2022 sebesar 0,4 poin menjadi 3,7%. Sebelumnya mereka telah menerbitkan ekspektasi pada bulan September lalu untuk pertumbuhan ekonomi Turki tahun 2021 sebesar 8,6%... Anadolu, 1/12/2021). Diikuti oleh lembaga pemeringkat kredit Amerika, Fitch Ratings, pada 2/12/2021 di mana mereka menerbitkan pernyataan yang mengulas penilaian mengenai ekonomi Turki secara positif. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa ekonomi Turki diharapkan tumbuh tahun ini sebesar 10,5%, bukan 9,2% seperti yang diumumkan lembaga tersebut pada September lalu. Mereka juga menaikkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Turki selama tahun 2022 dari 3,5% menjadi 3,6%. Mereka tetap mempertahankan peringkat kredit Turki pada (BB-). Pernyataan lembaga tersebut menunjukkan (bahwa pertumbuhan ekonomi Turki kuat dibandingkan rekan-rekannya, tetapi pendapatan per kapita cenderung menurun sejak 2013 dalam nilai dolar"... Anadolu, 3/12/2021). Lembaga pemeringkat kredit internasional Amerika, Moody's, pada 3/12/2021 tetap mempertahankan peringkatnya pada tingkat B2 dengan prospek negatif, dan lembaga tersebut menunjukkan (bahwa risiko kerentanan eksternal utama Turki telah menurun karena defisit transaksi berjalan, yang mendukung restrukturisasi bertahap cadangan devisa secara bruto dan neto, terlepas dari kelemahan mata uang lokal Lira saat ini... dan bahwa Turki menikmati ekonomi yang besar dan beragam, serta diharapkan ekonomi negara itu tumbuh sebesar 11% tahun ini dan 4% selama tahun 2022 "lembaga tersebut sebelumnya memperkirakan dalam laporannya yang diterbitkan November lalu bahwa ekonomi Turki akan tumbuh 9,2% tahun ini"... Anadolu, 4/12/2021). Laporan-laporan dari perusahaan pemeringkat Amerika internasional ini dianggap sebagai dukungan bagi Erdogan. Ini berarti Amerika menginginkannya sukses dalam pemilu mendatang, karena ia memberikan layanan kepadanya dan belum muncul alternatif kuat baginya di kancah politik hingga saat ini.

6- Presiden Turki mencoba mendukung ekonomi dan menjaga nilai mata uang dengan mendatangkan investasi asing dan mencari investasi Turki di luar negeri, dan ia sekarang mengarah ke negara-negara Teluk. Oleh karena itu, ia "menggoda" UEA yang selama ini sering saling serang dengannya. Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed, tiba di Turki pada 24/11/2021 dalam kunjungan resmi atas undangan dari Presiden Turki Erdogan. Perlu diketahui bahwa keduanya telah melakukan kontak telepon pada 31/8/2021 untuk membahas hubungan bilateral dan isu-isu regional. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengisyaratkan bahwa suasana positif menyelimuti hubungan Turki-UEA akhir-akhir ini. Dalam kunjungan ini, Turki dan UEA menandatangani 10 perjanjian di berbagai bidang dengan dihadiri oleh Erdogan dan Bin Zayed. Setelah itu, Bin Zayed menulis di akun Twitter-nya: "Hari ini di Ankara saya bertemu Presiden Turki Erdogan dan kami melakukan pembicaraan yang bermanfaat. Pembicaraan tersebut berfokus pada peluang penguatan hubungan ekonomi kita," sementara Ketua Dewan Direksi Abu Dhabi Development Holding Company, Mohamed Hassan Al Suwaidi, mengatakan: ("Bahwa UEA memutuskan untuk mengalokasikan 10 miliar dolar untuk investasi di Turki." Menteri Luar Negeri Turki mengumumkan bahwa ia akan melakukan kunjungan ke Abu Dhabi bulan depan... Anadolu, 24/11/2021). Setelah itu, Lira Turki naik sedikit terhadap dolar, lalu kembali merosot. Sejak setahun lebih, Erdogan bekerja melakukan rekonsiliasi dengan rezim-rezim yang sebelumnya berselisih dengannya di kawasan; karena perselisihannya bukanlah prinsipil melainkan berkaitan dengan kepentingan dan kebijakan yang terkait dengan Amerika di mana ia berjalan dalam orbitnya. UEA telah melakukan normalisasi dengan entitas Yahudi, sebagaimana Erdogan juga melakukan normalisasi dan menegaskan normalisasi tersebut. Mereka berdua dan rezim-rezim kawasan lainnya berkomplot melawan Palestina dan diam terhadap perampasan Yahudi atasnya.

7- Presiden Turki menuju Qatar pada 6/12/2021, meskipun kunjungan tersebut datang atas undangan Emir Qatar untuk berpartisipasi dalam pertemuan ketujuh Komite Strategis Tingkat Tinggi antara kedua negara. Erdogan mengatakan dalam konferensi pers sebelum keberangkatannya ke Qatar: ("Bahwa volume proyek yang dilaksanakan oleh pengusaha Turki di Qatar mencapai sekitar 15 miliar dolar." Ia berkata: "Kedua negara telah memperkuat kemitraan mereka atas dasar keuntungan bersama di banyak bidang dari ekonomi hingga pertahanan, dan dari perdagangan hingga investasi." Ia berkata: "Kami akan terus mengembangkan hubungan kami dengan saudara-saudara kami di Teluk tanpa diskriminasi dalam kerangka kepentingan bersama dan rasa hormat yang timbal balik"... Anadolu, 6/12/2021). Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan dalam konferensi pers dengan rekannya dari Turki Mevlut Cavusoglu ("Bahwa diharapkan penandatanganan 12 perjanjian antara Turki dan Qatar selama pertemuan sesi ketujuh Komite Strategis" menjelang kunjungan Erdogan ke Doha... Anadolu, 6/12/2021). Kemudian ditandatangani 14 perjanjian kerja sama antara Qatar dan Turki: (Qatar dan Turki menandatangani 14 perjanjian dan Erdogan menegaskan keinginan Ankara untuk bekerja sama dengan negara-negara Teluk... pekerjaan sesi ketujuh diadakan di bawah kepemimpinan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Erdogan yang mengunjungi ibu kota Qatar, Doha. Kedua belah pihak menandatangani 14 perjanjian kerja sama di berbagai bidang seperti ekonomi, investasi, industri, pertahanan, keamanan, wakaf, media, budaya, dan olahraga... Al Jazeera + Anadolu, 7/12/2021). Ini adalah upaya-upaya dari Erdogan untuk mendukung ekonomi Turki dan upaya untuk mencegah kemerosotan Lira Turki.

8- Tidak mungkin menghentikan keruntuhan mata uang dalam waktu dekat, karena telah dan sedang dilakukan upaya-upaya untuk menghentikan keruntuhannya, namun tanpa hasil karena landasan yang mendasari upaya-upaya ini adalah rusak dan batil. Lira sebelumnya pernah runtuh ke level 1.797.000 lira pada akhir tahun 2004, lalu diambil keputusan untuk menghapus enam nol mulai 1/1/2005 sehingga satu dolar menjadi setara 1,79 lira, namun tidak stabil lama. Sejak tahun 2013, nilai Lira mulai jatuh, dan semakin cepat jatuhnya. Merosotnya Lira berkaitan dengan memburuknya kondisi ekonomi Turki. Penyebab memburuknya kondisi ekonomi Turki pada dasarnya kembali kepada landasan yang mendasarinya dan kebijakan yang diterapkan berdasarkan hal tersebut. Jika landasan ini tidak diperbaiki, masyarakat akan terus terbakar oleh api sistem ekonomi ini dan menderita. Sistem ini berpijak pada landasan kapitalis yang batil. Ia mengandalkan peningkatan produksi, pertumbuhan, dan dorongan konsumsi. Untuk tujuan itu, Erdogan dan sistem sekulernya membuka pintu utang dan mengambil pinjaman ribawi padahal itu diharamkan dengan sangat keras dalam Islam. Ia juga membuka pintu investasi asing sehingga perusahaan-perusahaan ini membangun proyek-proyek publik seperti jembatan, jalan, terowongan, metro, dan bandara, lalu perusahaan-perusahaan swasta ini—termasuk perusahaan asing—memungut harta dari masyarakat umum dan memanen keuntungan dari mereka. Padahal ini termasuk fasilitas umum yang wajib bagi negara untuk menyediakannya secara gratis bagi seluruh rakyat sebagaimana diperintahkan oleh Islam. Solusi masalah ekonomi terletak pada distribusi harta kekayaan publik dan manfaat kepada seluruh individu rakyat serta memampukan mereka untuk memanfaatkannya. Negara harus menjamin pemenuhan seluruh kebutuhan pokok bagi setiap individu masyarakat satu per satu secara menyeluruh, serta menjamin kemampuan setiap individu untuk memenuhi kebutuhan pelengkap (kamaliyat) pada tingkat tertinggi sebagaimana ditegaskan dalam pasal-pasal Konstitusi Islam yang digali dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Pada saat yang sama, keterikatan Lira Turki dengan dolar harus diputus, dan emas serta perak harus dijadikan sebagai basisnya sesuai dengan hukum syara'. Demikian pula, mengaitkan ekonomi dengan luar negeri dan utang adalah perkara yang berbahaya dan membinasakan, terlebih lagi jika dengan riba. Allah telah mengancam para pelaku riba dengan perang dari-Nya dan dari Rasul-Nya ﷺ, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah [2]: 278-279)

Allah SWT juga menjanjikan kebahagiaan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya, dan kesengsaraan bagi siapa saja yang berpaling dari petunjuk tersebut, Dia berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى * وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً

"Lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (QS. Thaha [20]: 123-124)

Sebagai penutup:

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

"Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas bagi semua manusia, serta petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali 'Imran [3]: 138)

7 Jumadil Ula 1443 H 11/12/2021 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda