Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Isu

Jawab Soal: Serangan-Serangan Drone dan Perkembangan Perang di Sudan

May 26, 2025
2642

Jawab Soal

Pertanyaan:

Beberapa hari terakhir ini terlihat perkembangan perang yang menarik perhatian, di mana drone-drone menyerang kota Port Sudan, ibu kota administratif, selama enam hari berturut-turut. Serangan tersebut menghantam bandara sipil, pangkalan udara, dan gudang bahan bakar yang menyebabkan krisis bahan bakar di tingkat nasional Sudan. Drone juga menyerang kota Kassala di perbatasan Eritrea di timur, serta kota-kota lainnya. Semua ini memaksa pasukan tentara yang sedang bergerak menuju Al-Fashir untuk kembali dan fokus pada perlindungan Sudan Timur, sebagaimana disebutkan oleh BBC pada tanggal 10/05/2025. Apakah ini berarti serangan terhadap Sudan Timur bertujuan untuk menjauhkan tentara dari Darfur agar wilayah tersebut tetap murni bagi Pasukan Dukungan Cepat (RSF)? Lalu, apakah peristiwa ini merupakan pendahuluan bagi konferensi negosiasi Jeddah? Ataukah ada tujuan lain? Terima kasih.

Jawaban:

Untuk mengungkap motif serangan pesawat tanpa awak (drone) terhadap target-target vital di Sudan Timur, kami jelaskan hal-hal berikut:

Pertama: Perkembangan yang mendahului serangan kuat di Sudan Timur, khususnya di Port Sudan:

  1. Tentara Sudan telah meraih kesuksesan besar dengan mengusir Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dari kota-kota penting di wilayah tengah, yaitu Khartoum, Bahri, dan Omdurman. Kemenangan besar ini meningkatkan moral tentara Sudan yang mulai bersiap untuk mengejar RSF di Darfur. Peningkatan semangat tentara untuk memburu RSF ini dianggap wajar setelah keberhasilan tersebut. Tren ini memaksa para pemimpin untuk mengikuti realitas baru di bawah tekanan rakyat dan tekanan dari perwira militer berpangkat menengah ke bawah—yakni mereka yang tidak mengetahui penggerak eksternal. (Ketua Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, pada hari Kamis menegaskan tekad tentara untuk membebaskan negara dari "tentara bayaran dan agen, serta melenyapkan RSF". Kantor Berita Anadolu, 13/03/2025). Pernyataan ini merupakan upaya mengikuti realitas baru tersebut. Karena realitas ini memiliki dampak besar bagi rakyat dan di dalam internal tentara, sektor-sektor tentara mulai bentrok dengan RSF di beberapa wilayah Darfur. Pasukan tentara berjuang mati-matian mempertahankan kota Al-Fashir, satu-satunya dari lima ibu kota Darfur yang masih berada di bawah kendali tentara. Tentara Sudan pun mulai bergerak menuju Darfur:

    (Perkembangan lapangan terbaru menunjukkan kemajuan pergerakan besar-besaran tentara dan Pasukan Gabungan dari kota Al-Dabbah di utara negara itu untuk mematahkan pengepungan kota Al-Fashir, sementara pasukan lain yang berafiliasi dengan pihak yang sama bergerak di negara bagian Kordofan dan meraih kemenangan signifikan dalam perjalanan mereka menuju kota dari poros lain. Al-Quds Al-Arabi, 19/04/2025). Arah pergerakan yang didorong oleh rakyat setelah kemenangan Khartoum dan mendapat gema kuat di internal tentara ini bukanlah keinginan Amerika. Oleh karena itu, Al-Burhan mencoba membatasi kecenderungan ini: (Al-Burhan memperingatkan kampanye disinformasi yang mempromosikan ide bahwa perang menargetkan etnis tertentu, menegaskan bahwa "perang kami adalah melawan siapa pun yang mengangkat senjata melawan negara, bukan melawan suku mana pun," menganggap bahwa rumor ini bertujuan untuk "memobilisasi orang dan menyeret mereka ke dalam pembunuhan." Dia menjelaskan bahwa "pemberontakan kepala suku tidak berarti pemberontakan seluruh suku," RT, 29/04/2025). Seolah-olah dia ingin menghentikan laju desakan tentara menuju Darfur dengan alasan bahwa beberapa suku di sana menganggap tentara memusuhi mereka, seakan-akan dia meminta untuk memperlambat langkah.

  2. Setelah kekalahan pahit yang dialami RSF di wilayah tengah dan hilangnya posisi-posisi besar mereka di Khartoum, Bahri, dan Omdurman, serta kehilangan banyak pejuang dan komandan lapangan, mereka tampak lemah dan kalah. Mereka kemudian bergerak menuju basis pertahanan mereka di Darfur yang sebagian besarnya telah mereka kuasai, dan mengepung kota Al-Fashir. Pengumpulan pasukan RSF ini sejalan dengan arahan Amerika untuk Sudan. Wajar dalam kondisi seperti ini, sebagian pengikut RSF memisahkan diri dan mereka mengalami kesulitan merekrut dari suku-suku yang loyal karena dianggap sedang menjalani pertempuran yang kalah melawan musuh yang kuat, yaitu tentara Sudan. Artinya, moral RSF sedang jatuh. Oleh karena itu, pasukan tentara di dalam Al-Fashir sudah cukup untuk mematahkan serangan berulang mereka, yang berarti serangan mereka terhadap Al-Fashir telah kehilangan momentum. Maka, diperlukan sebuah aksi besar yang dapat memulihkan moral pasukan Hemedti dan menunjukkan "tangan panjang" serta kekuatan mereka, bahwa mereka mampu menyerang dan mengancam daerah-daerah yang jauh dan aman bagi tentara Sudan seperti Sudan Timur.

  3. Meskipun para penguasanya adalah agen Inggris, negara Uni Emirat Arab (UEA) tidak berhenti memberikan dukungan kepada agen Amerika sekaligus pemimpin RSF, Muhammad Hamdan Dagalo (Hemedti), dengan harapan memiliki pengaruh atas dirinya dan pengikutnya. Tindakan ini serupa dengan apa yang mereka lakukan di Libya dengan mendukung agen Amerika, Haftar. Sudan telah berulang kali menyatakan kekesalannya terhadap UEA dan menuduhnya memberikan bantuan militer besar kepada RSF. Di tengah tuduhan ini, UEA menutup kedutaan besarnya di Sudan dan tidak memindahkannya ke kota Port Sudan seperti yang dilakukan negara-negara lain setelah pecahnya perang di Khartoum pada April 2023. Namun, Sudan tetap mempertahankan kedutaan dan konsulatnya di UEA. Di tengah kemarahan yang memuncak ini, Sudan mengajukan gugatan ke Mahkamah Internasional (ICJ) terhadap UEA atas tuduhan berpartisipasi dalam genosida yang dilakukan oleh RSF di Sudan, namun Mahkamah menolak permohonan tersebut: (Mahkamah mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka tidak dapat mempertimbangkan gugatan yang diajukan terhadap UEA, dan menolak permintaan Sudan untuk mengeluarkan perintah tindakan mendesak serta memerintahkan penghapusan kasus tersebut dari agendanya. Reuters, 06/05/2025). Kemudian Sudan mengambil tindakan keras lainnya terhadap UEA, yaitu memutuskan hubungan diplomatik dan menarik kedutaan serta konsulat Sudan. Kemudian peristiwa yang berkaitan dengan UEA terus berlanjut (Tentara Sudan mengumumkan pada hari Minggu tentang penghancuran pesawat kargo UEA dan pasokan militer untuk RSF... dan menyatakan bahwa pesawat tersebut membawa pasokan militer... selain suicide drone dan drone strategis. Sudan Tribune, 04/05/2025).

Kedua: Motif dari perkembangan ini dan dampaknya:

  1. Dengan memuncaknya bentrokan di Khartoum sejak 2023, Dewan Kedaulatan terpaksa memindahkan ibu kota sementara ke kota Port Sudan sebagai wilayah yang paling aman. Bersama anggota Dewan Kedaulatan, misi diplomatik asing dan organisasi bantuan internasional pun pindah, serta banyak penduduk yang melarikan diri dari wilayah tengah untuk mengamankan diri dan menjadi pengungsi. Wilayah ini merupakan "paru-paru" tempat Sudan bernapas selama perang. Di sana terdapat pelabuhan yang menyuplai barang-barang dari luar negeri, dan satu-satunya bandara internasional yang masih beroperasi, sementara bandara Khartoum masih lumpuh hingga saat ini meskipun tentara sudah menguasainya. Karena perannya sebagai paru-paru Sudan dan markas pemerintah sementara, serangan drone yang terus-menerus selama beberapa hari telah menimbulkan guncangan besar bagi rakyat Sudan dan pihak tentara. Serangan ini menunjukkan bahwa RSF adalah kekuatan yang belum patah sebagaimana anggapan sebagian orang, melainkan memiliki kemampuan besar yang belum ditunjukkan sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa tentara tidak seharusnya mencerai-beraikan kekuatannya di gurun Darfur, melainkan harus membentengi fasilitas vital ini dan melindunginya, seperti pelabuhan, bandara, dan gudang bahan bakar. Selain itu, kebakaran hebat yang terjadi di gudang bahan bakar memberi kesan kepada tentara tentang kerusakan layanan logistik yang diperlukan untuk perang di Darfur, sehingga tentara harus memperlambat langkah dan memperbaikinya sebelum bergerak ke Darfur.

  2. Serangan yang menimpa fasilitas kota Port Sudan, bandara Kassala, dan pelabuhan "Flamingo" menggunakan drone berat buatan Tiongkok menurut analisis berbagai sumber termasuk BBC pada 10/05/2025. Satu unit drone tersebut dapat membawa 40 kg dan yang lainnya 200 kg bahan peledak serta rudal kendali. RSF belum pernah menggunakan jenis seperti ini sebelumnya. Drone serupa juga terpantau di bandara kota Nyala yang dikuasai RSF, bandara yang sama di mana tentara menyatakan telah menghancurkan pesawat kargo UEA.

  3. UEA termasuk negara pertama di kawasan ini yang memperoleh drone Tiongkok sejak bertahun-tahun lalu. Situs Defence News pada 02/05/2019 pernah menyebutkan penggunaan drone ini oleh UEA untuk mendukung Khalifa Haftar dalam menyerang Tripoli, Libya. Situs Times Aerospace juga menyebutkan penggunaan drone Tiongkok oleh UEA untuk menyerang posisi gerakan jihad di Irak dan Afghanistan pada tahun 2014. Ini berarti UEA telah dipersenjatai selama bertahun-tahun dengan berbagai jenis drone berat asal Tiongkok. Kemungkinan besar UEA-lah yang berada di balik serangan-serangan di Sudan Timur ini, baik secara langsung dari laut atau melalui penyediaan senjata tersebut kepada RSF. UEA merasa marah karena pemerintah Al-Burhan mempermalukan mereka di Mahkamah Internasional, memutuskan hubungan diplomatik, dan menghancurkan pesawat kargo miliknya.

  4. Fokus serangan adalah pada bandara, pelabuhan, dan pangkalan angkatan laut "Flamingo". Seringkali terjadi kebakaran yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk dikendalikan, yang menunjukkan targetnya adalah depot minyak. Menteri Energi dan Minyak Sudan, Mohiuddin Muhammad Naeem, mengungkapkan terbakarnya lima depot penyimpanan minyak utama akibat serangan drone pada hari pertama kampanye tersebut (Sawt as-Sudan, 06/05/2025). Karena penargetan fasilitas energi terus berlanjut, menteri tersebut memerintahkan penutupan pipa yang mengangkut minyak Sudan Selatan akibat pengeboman drone terhadap stasiun pompa minyak ini di timur Atbara (Al-Jazeera Net, 11/05/2025).

  5. Target serangan difokuskan pada bahan bakar, yaitu untuk menghalangi tentara Sudan mendapatkannya, yang kemudian mencegah mereka meluncurkan operasi besar di Darfur, khususnya di kota Al-Fashir. Selain itu, hal ini untuk menunjukkan pemerintah dalam posisi lemah yang tidak mampu mengamankan markasnya serta mengamankan bahan bakar dan listrik untuk kebutuhan seluruh Sudan. (Perusahaan Listrik Sudan mengumumkan "kerusakan pembangkit listrik Sudan akibat serangan drone dan terputusnya aliran listrik". Anadolu, 08/05/2025).

  6. Jelas dari semua ini bahwa serangan besar di Sudan Timur, khususnya terhadap fasilitas strategis kota Port Sudan, terkait dengan perang di Darfur. Serangan itu bertujuan memaksa tentara menjauh dari menyerang Al-Fashir dan menuju ke timur untuk mempertahankan Port Sudan. BBC pada 10/05/2025 melaporkan bahwa pasukan tentara yang bergerak menuju Al-Fashir terpaksa kembali dan fokus pada perlindungan Sudan Timur akibat serangan tersebut.

Ketiga: Kesimpulan dari peristiwa-peristiwa ini:

  1. Kemungkinan besar tentara Sudan setelah serangan berat ini mulai merasa khawatir terhadap kemampuan baru RSF, dan kehilangan kemampuan untuk mengakses bahan bakar yang diperlukan guna mengoperasikan kendaraan tempurnya dalam perang yang direncanakan di Al-Fashir dan seluruh Darfur. Selain itu, muncul kebutuhan mendesak untuk membentengi Sudan Timur karena khawatir akan gelombang serangan lainnya. Akibatnya, tekanan tentara terhadap Darfur berkurang karena kesibukan mereka di front timur.

  2. Dari sisi RSF, pasukan mereka akan mendapatkan momentum dan berada dalam kondisi moral yang lebih baik untuk mencapai hasil di Al-Fashir. Semua ini terjadi berkat dukungan UEA dan penyediaan drone berat buatan Tiongkok.

  3. Diperkirakan serangan terhadap kota Al-Fashir akan semakin intensif, dan sektor-sektor tentara yang tadinya sedang dalam perjalanan untuk menolong Al-Fashir akan mundur. Dewan Kedaulatan akan membutuhkan waktu untuk memperbaiki kerusakan di Sudan Timur. Negosiasi Jeddah kemungkinan besar tidak akan dimulai kembali sebelum RSF menguasai Al-Fashir atau memiliki pengaruh kuat di sana. Al-Fashir adalah kota penting di Darfur. Saat itulah Amerika akan menciptakan keseimbangan kekuatan dan kendali antara kedua kekuatan Sudan (Tentara dan RSF). Sehingga ketika negosiasi Jeddah dilanjutkan, RSF telah melepaskan "jubah kekalahan" dan berdiri tegak dengan keyakinan akan kekuatan serta kendalinya yang stabil, setelah membangun pemerintahan de facto di Darfur. Artinya, menciptakan kondisi yang tepat untuk mematangkan pemisahan wilayah dan menjadikannya realitas yang harus diterima.

Keempat: Sungguh menyakitkan bahwa Amerika yang kafir penjajah mampu mengelola peperangan yang merenggut nyawa di Sudan dan mengerahkan para agennya untuk melaksanakan hal itu secara terang-terangan, bukan rahasia lagi. Al-Burhan dan Hemedti bertikai dengan darah rakyat Sudan tidak lain hanyalah untuk melayani kepentingan Amerika. Amerika ingin mengulang pembagian Sudan sebagaimana yang dilakukannya saat memisahkan wilayah Selatan dari Sudan. Sekarang Amerika sedang mengerahkan segala upaya untuk memisahkan Darfur dari wilayah Sudan yang tersisa. Oleh karena itu, tentara memfokuskan perhatiannya pada wilayah Sudan lainnya, sementara RSF memfokuskan perhatiannya pada Darfur. Jika orang-orang yang ikhlas di dalam tentara aktif untuk merebut kembali kendali atas Darfur, maka RSF akan memindahkan pertempuran ke daerah lain di Sudan untuk menyibukkan tentara, sehingga pasukannya ditarik dari Darfur menuju Sudan Timur yang diserang secara intensif oleh RSF dengan drone... hal itu demi memungkinkan RSF menguasai Darfur secara penuh!

Sebagai penutup, kami menyeru Anda sekalian sebagaimana seruan kami dalam jawaban sebelumnya tertanggal 19/12/2023:

Wahai keluarga kami di Sudan Islam yang agung... Sudan dengan Masjid Dongola, masjid pertama yang dibangun oleh kaum Muslim terdahulu di Sudan... Sudan dengan Penaklukan Islam (Al-Fathul Islamy) yang besar di masa Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu ketika beliau memerintahkan Gubernur Mesir untuk memasukkan cahaya Islam ke Sudan, lalu mengirim tentara Islam di bawah pimpinan Abdullah bin Abi Sarh, maka terjadilah penaklukan pada tahun 31 H... Demikianlah Islam tersebar dengan cepat berkat karunia Allah SWT hingga memenuhi seluruh Sudan, dari utara hingga selatan dan dari timur hingga barat... Kemudian berlanjut di masa para Khalifah Muslim...

Wahai keluarga kami di Sudan yang berjihad melawan Inggris sejak tahun 1896 hingga pertengahan Perang Dunia Pertama 1916 ketika pahlawan yang bertakwa dan kuat "Ali bin Dinar" wali Darfur gugur syahid—seorang ulama mujahid yang berjasa memperbaiki miqat penduduk Madinah dan penduduk Syam "Dzul Hulaifah" serta membangun sumur-sumur untuk memberi minum jamaah haji yang dinamakan dengan namanya hingga hari ini "Abyar Ali"...

Wahai keluarga kami di Sudan... Sesungguhnya kami menyeru Anda sekalian, maka cegahlah perkara ini sebelum penyesalan datang, padahal saat itu bukanlah waktu untuk menyesal... Peganglah leher kedua belah pihak yang bertikai dan paksa keduanya agar tunduk pada kebenaran... Serta tolonglah Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, karena di dalamnya terdapat kemuliaan Islam dan kaum Muslim serta kehinaan bagi kekufuran dan kaum kafir... Dan keridhaan dari Allah adalah yang paling besar...

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS Qaf [50]: 37)

23 Dzulqa'dah 1446 H 21/05/2025 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda