Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Apakah Dalil-Dalil yang Dijadikan Sandaran oleh Hizb dalam Thariqah untuk Menegakkan Negara Khilafah Bersifat Qath'i?

July 01, 2018
5973

(Seri Jawaban Al-Alim al-Jalil Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan-Pertanyaan di Laman Facebook Beliau "Fiqhi")

Jawaban Pertanyaan

Apakah Dalil-Dalil yang Dijadikan Sandaran oleh Hizb dalam Thariqah untuk Menegakkan Negara Khilafah Bersifat Qath'i?

Kepada Muhammad Abu al-Asal

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Amir kami, semoga Allah memberkahi waktu, jerih payah, dan ilmu Anda...

Saya memiliki pertanyaan: Apakah dalil-dalil yang dijadikan sandaran oleh Hizb dalam thariqah (metode) untuk menegakkan Negara Khilafah bersifat qath’i (pasti/definitif)?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Sesungguhnya tiga tahapan secara garis besar dalil-dalilnya bersifat qath'i:

  • Rasulullah ﷺ berdakwah secara rahasia pada awal dakwah selama kurang lebih tiga tahun, dan beliau membina kaum Muslim di Darul Arqam bin Abi al-Arqam...
  • Kemudian beliau mengumumkan dakwah dan menyampaikannya secara terang-terangan dengan turunnya firman Allah SWT:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

"Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (QS. Al-Hijr [15]: 94)

Ayat ini bersifat qath'i tsubut (sumbernya pasti) dan qath'i dilalah (maknanya pasti) bahwa Rasulullah ﷺ sebelum turunnya ayat ini berdakwah secara rahasia, dan setelah turunnya ayat ini beliau mengumumkan dakwahnya. Selama masa itu, beliau ﷺ melakukan pergolakan pemikiran (shira’ul fikri) dan perjuangan politik (kifah siyasi), kemudian di akhir masa tersebut beliau melakukan thalabun nushrah (mencari dukungan/pertolongan):

Adapun pergolakan pemikiran (shira’ul fikri), beliau menjelaskan kebatilan penyembahan berhala, dan menegakkan hujah atas kaum kafir... Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak, di antaranya:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (QS. At-Tur [52]: 35)

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ * وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

"Dia (Ibrahim) berkata, 'Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.'" (QS. Ash-Shaffat [37]: 95-96)

وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

"Dan Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.'" (QS. An-Nahl [16]: 51)

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

"Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (lain) bersama-Nya. (Sekiranya ada tuhan lain), niscaya setiap tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu." (QS. Al-Mu'minun [23]: 91)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

"Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.'" (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ * لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ * وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ * وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.'" (QS. Al-Kafirun [109]: 1-6), dan ayat-ayat lainnya.

Adapun perjuangan politik (kifah siyasi), telah turun ayat-ayat yang menghinakan khayalan mereka, kepemimpinan mereka, serta kesesatan mereka. Ayat-ayat mengenai hal ini juga banyak, di antaranya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ * مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ * سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ * وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ * فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah), di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal." (QS. Al-Masad [111]: 1-5)

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا * وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا * وَبَنِينَ شُهُودًا * وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا * ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ * كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا * سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا * إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ * فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ * ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ * ثُمَّ نَظَرَ * ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ * ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ * فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ * إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ * سَأُصْلِيهِ سَقَرَ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ * لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ * لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ * عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

"Biarkanlah Aku (bertindak) terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku berikan baginya harta benda yang melimpah, dan anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku berikan baginya kelapangan (hidup) seluas-luasnya, kemudian dia sangat ingin agar Aku menambahnya. Tidak bisa! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang melelahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memandang, lalu dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur'an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini hanyalah perkataan manusia.' Kelak, Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Ia (Saqar) itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)." (QS. Al-Muddaththir [74]: 11-30)

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ * عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ * أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ * إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ * سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

"Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah lagi hina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi penuh dosa, yang kaku kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai kekayaan dan anak-anak. Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda pada belalai(hidung)nya." (QS. Al-Qalam [68]: 10-16), dan ayat-ayat lainnya.

Adapun permintaan Rasulullah ﷺ akan nushrah kepada ahli kekuatan dan perlindungan (ahlul quwwah wal man’ah), beliau ﷺ telah memintanya dari kabilah-kabilah yang kuat... Beliau juga mengutus Mush’ab radhiyallahu 'anhu ke Madinah, lalu kaum Anshar menyambut seruannya, dan terjadilah Baiat Aqabah Kedua...

  • Setelah itu, beliau ﷺ menegakkan Negara Islam pertama di Madinah al-Munawwarah.

Maka, ketiga tahapan ini dalil-dalilnya bersifat qath’i. Akan tetapi, ada beberapa rincian di dalamnya yang diriwayatkan melalui riwayat-riwayat yang bersifat zhanni, seperti rincian pembinaan secara rahasia... rincian pengumuman dakwah dan beberapa detail dalam pergolakan pemikiran serta perjuangan politik... rincian hijrah dan penegakan negara setelah Baiat Aqabah Kedua... Sebagian rincian ini dalil-dalilnya bersifat zhanni yang sahih. Siapa saja yang menelaah kitab-kitab kami dan dalil-dalil kami, ia akan melihat dengan jelas bahwa ketiga tahapan tersebut dalil-dalilnya bersifat qath’i, sementara beberapa rincian yang dalilnya bersifat zhanni telah dipenuhi secara istinbath (penggalian hukum).

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga gambaran ini telah jelas bagi Anda.

Saudara Anda, Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah

17 Syawal 1439 H 01/07/2018 M

Tautan jawaban dari laman Amir (semoga Allah menjaga beliau) di Facebook: https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192.1073741828.122848424578904/843736222490117/?type=3&theater

Tautan jawaban dari laman Amir (semoga Allah menjaga beliau) di Google Plus: https://plus.google.com/u/0/b/100431756357007517653/100431756357007517653/posts/1uGundYMo8i

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda