Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Apakah Basmalah Bagian dari Surah al-Fatihah?

June 25, 2022
3122

Seri Jawaban Ulama Al-Jalil Ata bin Khalil Abu Al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Halaman Facebook Beliau "Fiqhi"

Jawaban Pertanyaan

Kepada Bakr Sa'id

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh wa maghfiratuhu. Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada Anda dalam setiap kebaikan, sesungguhnya Dia-lah pelindung hal tersebut.

Pertanyaan saya adalah: Jika para ulama telah bersepakat bahwa siapa saja yang mengingkari Basmalah sebagai ayat dari Al-Fatihah tidaklah kafir karena ketetapannya bersifat ahad, bukan mutawatir... maka mengapa Basmalah diberi nomor dalam sebagian mushaf di awal Al-Fatihah saat ini?! Dan kapan ia masuk sebagai ayat dalam Al-Fatihah?! Apakah Al-Fatihah itu terdiri dari 7 ayat atau 6 ayat tanpa Basmalah, sebab mushaf-mushaf berbeda dalam penomoran Al-Fatihah?! Apakah hal ini bertentangan dengan penjagaan Allah terhadap Al-Qur'anul Karim?! Serta bagaimana sikap Negara Islam yang akan datang, insya Allah, terhadap keberadaan hal-hal yang tidak mutawatir di dalam mushaf seperti Basmalah dan doa di akhir mushaf?!

Barakallahu fikum.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Kami telah menjawab pertanyaan seputar Basmalah sebelumnya pada tanggal 21 Rabiul Akhir 1432 H - 26 Maret 2011 M, yang di dalamnya disebutkan sebagai berikut:

[Mengenai Basmalah, ia adalah bagian dari Al-Qur'anul Karim sebagai potongan dari ayat dalam surah An-Naml:

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

"Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'." (QS. An-Naml [27]: 30)

Adapun di awal Al-Fatihah atau awal surah-surah lainnya, terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah ia merupakan ayat dari surah tersebut atau sekadar pemisah antar surah... Perbedaan ini tidaklah membahayakan karena kedua belah pihak mengakui bahwa Basmalah adalah bagian dari Al-Qur'an dalam surah An-Naml. Perbedaannya terletak pada penempatannya di awal surah-surah selain surah At-Taubah; apakah ia merupakan ayat di awal surah-surah tersebut atau ayat di awal Al-Fatihah, ataukah ia bukan merupakan ayat baik di awal surah-surah maupun di awal Al-Fatihah... Selama semua pihak mengakui bahwa ia adalah ayat Al-Qur'an dalam surah An-Naml, maka perbedaan mengenai keberadaannya di awal surah-surah tidak berpengaruh kecuali pada hukum membacanya di dalam shalat saat mengawali Al-Fatihah atau surah-surah lainnya, apakah dibaca keras (jahr), pelan (sirr), atau tidak dibaca, sesuai dengan hukum-hukum syara yang digali oleh para mujtahid.] Selesai.

Sebagai tambahan penjelasan dan untuk menjawab hal-hal lain dalam pertanyaan Anda, saya sampaikan poin-poin berikut:

1- Disebutkan dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I halaman 159-160: [Jibril membacakan seluruh wahyu Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ satu kali setiap tahun. Pada tahun wafatnya Rasulullah, Jibril membacakan seluruh Al-Qur'an kepada Rasulullah sebanyak dua kali. Dari Aisyah ra., dari Fatimah as.:

أَسَرَّ إِلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي الْقُرْآنَ كُلَّ سَنَةٍ مَرَّةً وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الْعَامَ مَرَّتَيْنِ وَلَا أُرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِي

"Nabi ﷺ membisikkan kepadaku: 'Sesungguhnya Jibril biasanya memeriksa bacaan Al-Qur'anku sekali setiap tahun, dan sesungguhnya tahun ini dia memeriksanya dua kali. Tidaklah aku melihat hal itu melainkan bahwa ajalku telah dekat'." (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah, ia berkata:

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ

"Jibril menyodorkan (bacaan) Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ setiap tahun sekali, lalu ia menyodorkannya dua kali pada tahun beliau wafat." (HR. Bukhari).

Penyodoran Al-Qur'an oleh Jibril kepada Rasulullah setiap tahun sekali maknanya adalah menyodorkan susunan ayat-ayatnya satu sama lain, serta susunan ayat-ayat di dalam surahnya. Sebab menyodorkan sebuah kitab maknanya adalah menyodorkan kalimat-kalimatnya, kata-katanya, dan susunannya. Penyodoran dua kali pada tahun wafatnya Rasulullah juga bermakna menyodorkan susunan ayat-ayatnya satu sama lain serta susunan ayat-ayat di dalam surahnya. Hadits tersebut juga dapat dipahami sebagai penyodoran susunan surah-surahnya satu sama lain. Namun, terdapat hadits-hadits shahih lainnya yang tegas mengenai susunan ayat; hadits-hadits tersebut menetapkan susunan ayat-ayat satu sama lain dan susunan ayat-ayat di dalam surahnya:

ضَعُوا هَذِهِ الآيَاتِ فِي سُورَةِ كَذَا بَعْدَ آيَةِ كَذَا

"Letakkanlah ayat-ayat ini di dalam surat anu setelah ayat anu."

ضَعُوا هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ فِي السُّورَةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا

"Letakkanlah ayat-ayat ini di dalam surat yang disebutkan di dalamnya hal anu dan anu."

Sebuah surah ditutup dan surah lain dimulai berdasarkan petunjuk (tauqifi) dari Allah melalui perantara Jibril. Dari Ibnu Abbas, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَعْلَمُ خَتْمَ السُّورَةِ حَتَّى يَنْزِلَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

"Nabi ﷺ tidak mengetahui akhir suatu surat hingga turunnya Bismillâhirrahmânirrahîm." (HR. Al-Baihaqi dan Abu Dawud).

Dalam sebuah riwayat:

فَإِذَا نَزَلَتْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ عَلِمُوا أَنَّ السُّورَةَ قَدِ انْقَضَتْ

"Apabila telah turun Bismillâhirrahmânirrahîm, maka mereka mengetahui bahwa surat tersebut telah selesai." (HR. Al-Baihaqi dan Abu Dawud).

Semua ini menunjukkan secara pasti bahwa susunan ayat di dalam surah-surahnya serta bentuk surah dengan jumlah ayat dan penempatannya, seluruhnya bersifat tauqifi dari Allah SWT. Atas dasar itulah umat menukilnya dari Nabi mereka ﷺ dan hal itu telah tetap secara mutawatir......]

2- Ketika para Sahabat ra. menetapkan Mushaf Utsmani, mereka mencantumkan Basmalah di awal Al-Fatihah dan di awal seluruh surah kecuali surah Bara'ah (At-Taubah). Namun, tidak dijelaskan secara eksplisit apakah hal itu berarti Basmalah adalah bagian ayat dari setiap surah yang mereka cantumkan Basmalah di awalnya, yakni Al-Fatihah dan seluruh surah selain Bara'ah, ataukah Basmalah itu untuk memisahkan antar surah. Oleh karena itu, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai status Basmalah sebagai ayat dari Al-Fatihah dan statusnya sebagai ayat dari surah-surah lainnya... Meskipun terdapat perbedaan pendapat ini, mereka semua mengakui bahwa Basmalah tercantum secara tertulis di dalam Mushaf yang telah disepakati oleh para Sahabat yang mulia di awal Al-Fatihah dan di awal surah lainnya kecuali surah Bara'ah. Jadi, kaum Muslimin tidak memasukkan Basmalah belakangan ke dalam awal surah-surah maupun awal Al-Fatihah, melainkan ia sudah tetap ada di dalam Mushaf Utsmani di awal Al-Fatihah dan awal surah-surah selain Bara'ah berdasarkan ijmak dan kesepakatan para Sahabat ra. seluruhnya.

3- Disebutkan dalam kitab As-Suyuthi (Al-Itqan fi 'Ulumil Qur'an 1/234):

[Al-Fatihah: Mayoritas (ulama berpendapat) ada tujuh ayat. Ulama Kufah dan Makkah menghitung Basmalah (sebagai ayat) dan tidak menghitung

أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Sedangkan ulama lainnya berpendapat sebaliknya. Al-Hasan berkata: ada delapan ayat, maka ia menghitung keduanya. Sebagian berpendapat enam ayat sehingga tidak menghitung keduanya. Yang lain berpendapat sembilan ayat dengan menghitung keduanya serta menghitung:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Pendapat pertama dikuatkan oleh riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Ad-Daraquthni, dan lainnya dari Ummu Salamah bahwa Nabi ﷺ pernah membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Beliau memutusnya ayat demi ayat dan menghitungnya sebagaimana hitungan orang Arab, beliau menghitung Bismillâhirrahmânirrahîm sebagai satu ayat dan tidak menghitung 'alaihim. Ad-Daraquthni mengeluarkan riwayat dengan sanad shahih dari Abdu Khair, ia berkata: Ali ditanya tentang As-Sab'ul Matsani (tujuh yang berulang-ulang), lalu beliau menjawab: Alhamdulillâhi Rabbil 'âlamîn. Lalu dikatakan kepadanya bahwa itu hanya enam ayat, maka beliau menjawab: Bismillâhirrahmânirrahîm adalah satu ayat.] Selesai.

Ini berarti bahwa perbedaan pendapat dalam masalah Basmalah ditinjau dari statusnya sebagai ayat... dan seterusnya, masuk ke dalam bab ijtihad dengan dalil-dalil yang shahih di sisi para mujtahid serta para pengikut mujtahid yang muktabar, dan hal itu merupakan perkara yang disyariatkan...

4- Sesungguhnya apa yang dimasukkan ke dalam mushaf berupa pemberian titik, harakat, penempatan tanda waqaf, serta hukum-hukum tartil... dan sebagainya, atau apa yang diletakkan di sebagian mushaf pada bagian akhirnya berupa doa-doa atau pada bagian pinggir (margin) berupa tafsir dan penjelasan... semua itu tidak berpengaruh pada tercampurnya Al-Qur'an dengan yang lain. Kaum Muslimin telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap Al-Qur'an dan jutaan orang telah menghafalnya. Teks-teksnya telah mutawatir, sehingga tidak mungkin Al-Qur'an akan tercampur dengan yang lain atau menjadi samar bagi manusia. Oleh karena itu, kaum Muslimin sejak ratusan tahun yang lalu telah memasukkan beberapa hal ke dalam mushaf yang membantu dalam membaca Al-Qur'an seperti titik, harakat, dan lain-lain, dan itu tidak memengaruhi teks Al-Qur'anul Karim sedikit pun... Karena itu, Negara Khilafah tidak melarang keberadaan harakat, tanda waqaf, dan sebagainya ini di dalam mushaf.

Kesimpulannya: Adanya perbedaan ijtihad mengenai Basmalah sebagai ayat dari Al-Fatihah atau bukan, atau apakah jumlah ayat Al-Fatihah itu 6 atau 7... atau apakah ia dibaca secara pelan atau keras... semua itu tidak memengaruhi penjagaan Allah SWT terhadap Al-Qur'anul Karim. Basmalah adalah ayat Al-Qur'an di dalam surah An-Naml, dan Al-Qur'an telah terkumpul dalam satu mushaf sejak zaman Khulafaur Rasyidin ra. sebagaimana yang ditulis di hadapan Rasulullah ﷺ dan sebagaimana yang mereka baca dari Rasulullah ﷺ. Benarlah firman Allah Yang Maha Agung:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Semoga penjelasan ini mencukupi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saudara Anda, Ata bin Khalil Abu Al-Rashtah

26 Dzulqa’dah 1443 H 25 Juni 2022 M

Link jawaban dari halaman Facebook Amir (semoga Allah menjaga beliau): Facebook

Link jawaban dari situs web Amir (semoga Allah menjaga beliau): Web

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda