Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Apakah Iman Bertambah dan Berkurang?

July 02, 2013
8219

Seri Jawaban Al-Alim Al-Atha' bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Halaman Facebook Beliau

Jawaban Pertanyaan: Kepada Al-Watsiq bi Nashrillah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh... Saya mohon jawaban Anda atas pertanyaan saya, yaitu "Apakah iman bertambah dan berkurang?" Dan saya ingin menambahkan pertanyaan lain yang berkaitan dengannya, yaitu: "Apakah iman itu bertingkat-tingkat antara satu mukmin dengan mukmin lainnya?"

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

  1. Iman adalah pembenaran yang pasti (at-tashdiq al-jazim) yang sesuai dengan fakta (al-muthabiq lil waqi') berdasarkan dalil. Pembenaran yang pasti (tashdiq jazim) berarti keyakinan qath'i yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Ini adalah makna linguistik dari iman itu sendiri, yaitu pembenaran yang pasti. "Sesuai dengan fakta" berarti fakta-fakta yang terindera membenarkannya dan tidak menyalahinya. Agar menjadi pembenaran yang pasti dan sesuai dengan fakta, maka harus didasarkan pada dalil yang pasti (qath'i) kebenarannya, baik dalil tersebut bersifat: Aqli (rasional), yaitu hasil pembahasan akal terhadap fakta-fakta terindera seperti pembahasan terhadap makhluk-makhluk terindera untuk membuktikan keberadaan Allah SWT sebagai Penciptanya, atau pembahasan terhadap Kalam Allah yang diturunkan—Al-Qur'an al-Karim—untuk membuktikan bahwa ia adalah Kalam Allah SWT dan bukan perkataan manusia, yang kemudian membuktikan bahwa Muhammad yang membawa Kalam Allah tersebut adalah Rasul dari sisi Allah. Ataupun bersifat Naqli (transmisional), yaitu melalui penukilan yang pasti (qath'i) dari Allah SWT dalam Kitab-Nya yang mulia atau dari Rasul-Nya ﷺ dalam hadits mutawatir dari beliau ﷺ, seperti iman kepada perkara gaib, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, para nabi terdahulu, hari akhir, dan qadar, baik dan buruknya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa [4]: 136)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Muslim dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Ayahku, Umar bin al-Khaththab, menceritakan kepadaku: "Suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam... ia berkata: Wahai Muhammad... beritahukanlah kepadaku tentang iman. Beliau bersabda: 'Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk'... kemudian beliau bertanya kepadaku: 'Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?' Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian'."

  1. Inilah iman, dan dalam pengertian ini iman adalah lawan dari kekafiran. Maka orang yang tidak beriman sudah pasti kafir, dan tidak ada istilah setengah mukmin atau setengah kafir.

Allah SWT berfirman dalam mempertentangkan antara iman dan kekafiran:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا

"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: 'Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'." (QS. Al-Baqarah [2]: 26)

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَنْ يَضْرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekafiran dengan keimanan, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka azab yang pedih." (QS. Ali 'Imran [3]: 177)

Allah SWT berfirman:

وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ

"Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir." (QS. Al-Baqarah [2]: 253)

Serta banyak ayat lainnya yang mempertentangkan antara iman dan kekafiran.

  1. Iman dengan pengertian yang telah kami sebutkan (at-tashdiq al-jazim al-muthabiq lil waqi' 'an dalil) tidaklah bertambah dan tidak berkurang, karena ia adalah pembenaran yang pasti (jazim). Kepastian (al-jazmu) itu tidak ada kecuali harus sempurna. Maka tidak ada iman yang rasionya 90% kemudian bertambah menjadi 95% atau 100%. Tidak ada pula iman yang 100% kemudian berkurang menjadi 95% atau 90%, karena pengurangan ini berarti ketiadaan kepastian, alias mengandung keraguan dan kebimbangan, dan saat itu ia bukan lagi iman melainkan kekafiran.

  2. Agar gambaran ini menjadi jelas, kami katakan:

Bahwa bertambah (az-ziyadah) dan berkurang (an-nuqshan) termasuk lafaz musytarak (bermakna ganda) dalam bahasa. Ia bisa bermakna penambahan batas (ziyadah haddiyah) dan pengurangan batas, yakni dalam hal luas dan volume. Ia juga bisa bermakna kekuatan (al-quwwah) dan kelemahan (adh-dhu'fu). Qarinah (indikator)-lah yang menentukan makna mana yang dimaksud. Jika "bertambah" dan "berkurang" disandarkan pada iman, maka penunjukannya adalah dari sisi kekuatan dan kelemahan, karena pembenaran yang pasti tidak mungkin menerima penambahan batas atau pengurangan batas. Dengan cara pandang inilah ayat-ayat berikut dipahami:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung'." (QS. Ali 'Imran [3]: 173)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al-Anfal [8]: 2)

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita'. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan." (QS. Al-Ahzab [33]: 22)

Artinya, kaum mukmin itu telah kuat dan kokoh imannya disebabkan perkara-perkara yang telah Allah SWT jelaskan dalam ayat-ayat di atas. Yakni bahwa iman bertambah dan berkurang melalui ketaatan, keterikatan pada hukum-hukum syara', rasa takut kepada Allah, jihad di jalan-Nya, dan sebagainya. Hal ini karena iman dalam pengertian yang telah kami jelaskan (tashdiq jazim al-muthabiq lil waqi' 'an dalil) tidak sah menerima penambahan atau pengurangan dalam makna batas (al-ma'na al-haddi), jika tidak demikian maka ia menjadi tidak pasti dan berubah menjadi keraguan dan kebimbangan yang merupakan kekafiran.

Perlu dicatat bahwa "iman" jika disebutkan tanpa adanya qarinah (indikator), maka maksudnya adalah pengertian yang disebutkan di atas. Namun jika disebutkan dengan makna lain, maka qarinah-lah yang menjelaskannya. Contohnya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

"Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Maksudnya adalah shalat kalian, karena ketika arah kiblat kaum Muslim dipindahkan, turunlah ayat:

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi panutanmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelah diri. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Ayat ini untuk menenangkan kaum Muslim bahwa shalat mereka sebelumnya ke arah kiblat pertama (Baitul Maqdis) adalah diterima dan mereka mendapatkan pahalanya.

Contoh lainnya adalah hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَفْضَلُهَا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

"Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan."

Telah maklum bahwa tidak menyingkirkan gangguan dari jalan tidak membuat seseorang menjadi kafir, oleh karena itu "iman" di sini bermakna ketaatan-ketaatan kepada Allah secara umum.

Kami memohon kepada-Nya SWT agar hati kita tenang dengan keimanan, dan agar dalam perkataan serta perbuatan kita senantiasa terikat dengan hukum-hukum Islam, dan agar Allah SWT mengumpulkan kita bersama orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih; mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Saudara Kalian, Atha' bin Khalil Abu al-Rashtah

Link Jawaban dari halaman Facebook Amir: Facebook

Link Jawaban dari situs web Amir: Situs Web Amir

Link Jawaban dari halaman Google Plus Amir: Google Plus

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda