Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Apakah Amerika Telah Berlepas Tangan dari Perjanjian Doha Terkait Darfur?

March 26, 2014
2425

Pertanyaan:

Kantor berita Suna pada 23/03/2014 mengutip pernyataan Duta Besar Osman Dirar, pakar nasional di Kepresidenan Republik Sudan: "Posisi Amerika terhadap Dokumen Doha untuk Perdamaian di Darfur bertabrakan langsung dengan posisi dan keinginan para pemangku kepentingan yang sebenarnya di dalam Darfur...". Ia mengomentari pernyataan delegasi Amerika Serikat di Dewan Keamanan, Samantha Power, dalam intervensinya di hadapan pertemuan Dewan Perdamaian Afrika di Addis Ababa pada 10/03/2014, di mana ia mengatakan: "Dokumen Doha sudah usang dan tidak bisa lagi diandalkan, serta menyerukan Dewan untuk mencari forum baru guna menyelesaikan masalah Darfur". Perlu dicatat bahwa Amerika berada di balik penandatanganan dokumen ini di Doha pada 14/07/2011. Apakah ini berarti Amerika telah berlepas tangan dari Perjanjian Doha? Jika tidak, bagaimana memahami pernyataan delegasi AS di Dewan Keamanan, Samantha Power? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

  1. Ya, Amerika adalah pihak yang berada di balik penandatanganan Perjanjian Doha dan telah mengerahkan segala upaya untuk itu. Tujuannya adalah menjauhkan pengaruh Eropa. Amerika berupaya memegang kendali masalah Darfur sendirian, sembari menyingkirkan Prancis dan Inggris serta membiarkan mereka dan agen-agen mereka di Chad dan Qatar terlibat dalam perayaan penandatanganan, menjadi saksi palsu, serta ikut menanggung biaya yang diperlukan dan kompensasi bagi para pengungsi. Khususnya Qatar yang memainkan peran tertentu demi kepentingan Inggris. Peran terbesar yang diberikan Amerika kepada mereka adalah menempatkan mereka dalam komite mekanisme pemantauan pelaksanaan keputusan, yakni sebagai pengamat internasional yang melaksanakan keputusan-keputusan Amerika dalam dokumen terkait Darfur tersebut. Meskipun demikian, Eropa (Prancis dan Inggris) tidak akan menyerah begitu saja membiarkan Amerika memonopoli Darfur sebagaimana ia memonopoli Sudan Selatan. Meski Eropa melunakkan posisinya terhadap perjanjian tersebut, itu tidak lebih dari sekadar "istirahat sang pejuang" hingga Eropa menemukan kesempatan yang tepat untuk menembus perjanjian ini demi merebut kembali kendali di Darfur, meskipun tidak atas seluruh kendali.

  2. Dokumen tersebut sangat penting bagi Amerika, dan Amerika menganggapnya sebagai pencapaian yang berbobot! Amerika tidak menganggap perjanjian ini sebagai hasil akhir, melainkan langkah maju menuju solusi permanen bagi krisis di Darfur. Artinya, Amerika menyatakan bahwa akan ada langkah-langkah selanjutnya yang mungkin tidak cukup hanya dengan wilayah Darfur menikmati otonomi dengan kekuasaan luas, melainkan bisa sampai pada pemisahan Darfur secara permanen dari Sudan dengan menciptakan perjanjian lain yang menyerupai Perjanjian Naivasha, yaitu dengan memberikan hak menentukan nasib sendiri bagi penduduk Darfur hingga tercapai referendum dan kemudian pemisahan diri, sebagaimana terjadi di Sudan Selatan. Oleh karena itu, kecil kemungkinan Amerika melepaskan poin-poin dasar dalam Dokumen Doha karena itu merupakan salah satu langkahnya untuk memonopoli isu Darfur yang akan diikuti oleh langkah-langkah baru.

  3. Namun, ada dua hal yang terjadi yang membuat Amerika mencoba memberi kesan kepada Eropa bahwa Amerika tidak keberatan melibatkan Eropa dalam isu Darfur dan membahas kembali Perjanjian Doha melalui pernyataan-pernyataan yang menipu. Jika Eropa menerimanya, maka akan terjadi tarik-ulur mengenai Perjanjian Doha yang tidak akan mengubah poin-poin dasarnya, melainkan hanya mempercantiknya dengan beberapa polesan untuk memuaskan pihak lain agar kemudian mereka mau menandatanganinya. Adapun kedua hal tersebut adalah:

    Pertama: Gerakan Pembebasan dan Keadilan (Liberation and Justice Movement) yang menandatangani Perjanjian Doha sedang dilanda perselisihan, bahkan tersiar kabar pengunduran diri Wakil Ketua Gerakan urusan Politik, Ahmed Kabar Jibril, yang juga Wakil Gubernur Darfur Timur. Sekretaris Jenderal Gerakan, Bahr Idriss Abu Garda, mengakui perselisihan ini dengan mengatakan: "Situasi di dalam gerakan tidaklah harmonis di tengah tantangan besar yang dihadapi pengaturan keamanan dan pelaksanaan jadwal lainnya." Ia juga mengisyaratkan adanya komunikasi dengan gerakan-gerakan yang belum menandatangani (Dokumen Doha) untuk bergabung dalam proses perdamaian, karena perdamaian tidak akan lengkap kecuali dengan penandatanganan seluruh gerakan bersenjata di Darfur atas dokumen perdamaian (27/02/2014, Akhir Lahzah). Gerakan ini tidak solid, melainkan hanya kumpulan individu untuk memperbanyak jumlah dan mencapai keuntungan tertentu dalam waktu singkat. Gerakan ini sama seperti gerakan pemberontak lainnya di Sudan, semuanya dilanda perpecahan dan perselisihan karena para pemimpinnya memiliki keterkaitan dengan kekuatan luar, mencari harta dan jabatan, serta tidak digerakkan oleh prinsip maupun pemikiran. Mereka mengeksploitasi kondisi buruk masyarakat akibat kezaliman dan buruknya pengurusan negara, bahkan ketidakmampuan negara dalam mengurus dan mengatur urusan rakyat. Begitulah gerakan-gerakan tersebut bertindak dengan bersandar langsung pada negara-negara kolonialis, di mana negara-negara tersebut bekerja mencetak kepemimpinan baru untuk dijadikan agen pengikut dan melaksanakan tujuan-tujuan kolonialnya. Perselisihan internal dalam Gerakan Pembebasan dan Keadilan ini mempengaruhi soliditasnya, padahal gerakan ini dibentuk oleh Amerika dari faksi-faksi yang memisahkan diri dari gerakan pemberontak lain untuk memimpin negosiasi dan menandatangani Dokumen Doha setelah mengisolasi gerakan lain yang mengikuti Eropa seperti Gerakan Keadilan dan Kesetaraan (JEM) dan Gerakan Pembebasan Sudan (SLM).

    Kedua: Gejolak politik yang terus berlanjut terhadap rezim di Khartoum, yang belakangan ini mulai berakselerasi hingga mendorong kepala rezim, Omar al-Bashir, mencari solusi untuk meredam situasi. Ia berada dalam kondisi terguncang yang memaksanya menghubungi tokoh-tokoh loyalis Inggris yang sebelumnya telah ia singkirkan! Hal ini menunjukkan habisnya solusi pada rezim dan bahwa ia berada dalam kondisi kritis serta situasi politik yang bergejolak di hadapannya.

  4. Eropa (Inggris dan Prancis) memanfaatkan dua hal ini dan menganggapnya sebagai kesempatan emas untuk mengompensasi penyingkiran mereka dari isu Sudan Selatan, agar mereka dapat mengendalikan isu Darfur, atau setidaknya memiliki peran penting dalam solusinya. Oleh karena itu, agen-agen mereka bergerak kuat di Sudan Selatan untuk memperlemah pengaruh Amerika di sana dan menyibukkannya, sementara di Darfur mereka memaksakan realitas politik baru yang memaksa Amerika untuk tidak menyingkirkan Eropa dari solusi masalah Darfur, sehingga Eropa memiliki suara yang signifikan dalam solusinya. Detail mengenai hal ini di Sudan Selatan dan Darfur adalah sebagai berikut:

    a- Di Darfur, baru-baru ini terjadi perkembangan yang mencolok di mana beberapa gerakan pemberontak di Darfur meningkatkan eskalasi peristiwa. Gerakan-gerakan ini mulai melancarkan serangan hebat pada awal bulan lalu (Februari 2014) hingga El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara, menjadi tidak aman, demikian pula Nyala, ibu kota Darfur Selatan. Penduduk di kedua kota tersebut diliputi ketakutan dan kecemasan setelah pemberontak menguasai daerah "Tawila" yang berjarak 60 km dari El Fasher. Kelompok bersenjata juga menyerang sekitar 45 desa di daerah yang berjarak 50 km dari Nyala. Berita menyebutkan bahwa Gerakan Pembebasan Sudan sayap Minni Minnawi dan Gerakan Pembebasan dan Keadilan sayap Ali Karbino yang tidak menandatangani Perjanjian Doha melancarkan serangan ke daerah Haskaneita dan Al-Lait "Jar al-Nabi" serta menguasainya. Mereka juga menyerang Mellit dan Al-Tuwayshah, tempat kelahiran Gubernur Osman Kibir. Gubernur Darfur Utara, Osman Yusuf Kibir, bahkan mengalami percobaan pembunuhan yang menewaskan sopir dan salah satu pengawalnya. Militer Sudan mengakui serangan ini dan mengutuknya, serta menuduh tentara bayaran Minni Arko Minnawi, pemimpin gerakan pemberontak di Darfur, melakukan percobaan tersebut untuk mengguncang keamanan dan menakut-nakuti warga di kota Mellit. Sumber terpercaya menyebutkan bahwa Kibir yang mengunjungi daerah Mellit pada Sabtu (15/03/2014) setelah diserang pemberontak, ditolak kedatangannya oleh warga dan konvoinya dijebak dalam penyergapan bersenjata saat kembali dari kota tersebut (Koran Al-Watan Saudi, 18/03/2014). Hal yang menambah panas situasi adalah pasukan penjaga perdamaian yang terdiri dari berbagai negara tidak mampu mencegah serangan ini sebagaimana diisyaratkan oleh delegasi Amerika. Sebab, dalam pasukan tersebut terdapat kekuatan yang mengikuti Eropa dan tidak semuanya murni kekuatan Amerika, hal inilah yang mendorong delegasi Amerika mengkritik peran mereka karena gagal menjalankan tugas mencegah pecahnya peristiwa terbaru yang dipicu oleh gerakan pemberontak pengikut Eropa.

    b- Adapun di Sudan Selatan, peristiwa Darfur bertepatan dengan apa yang terjadi di Sudan Selatan dalam beberapa bulan terakhir berupa pemberontakan Riek Machar, agen Inggris, terhadap Salva Kiir, agen Amerika. Pemberontakan ini masih berlangsung dan mencemaskan Amerika, serta belum mampu dihentikan hingga saat ini.

    Demikianlah Eropa (Inggris dan Prancis) menggerakkan gerakan pemberontak loyalisnya untuk menyulut kembali perang di Darfur setelah sempat tenang sejak penandatanganan Dokumen Doha. Jelas dari pergerakan ini bahwa hal tersebut direncanakan untuk menciptakan realitas politik baru yang memaksakan keterlibatan gerakan-gerakan yang tidak menandatangani Dokumen Doha secara efektif, agar mereka kembali ke kancah politik. Hal yang menegaskan bahwa gerakan pemberontak ini bergerak dengan rencana yang disiapkan oleh Eropa adalah pernyataan Abu Ubaidah Abdullah al-Ta'ishi, asisten ketua Gerakan Tentara Pembebasan Sudan sayap Minnawi untuk urusan media dan hubungan masyarakat, yang mengatakan: "Kemenangan gerakan di wilayah Darfur telah memaksakan realitas politik baru." (Halaman Sudan Tribune, 18/03/2014).

  5. Semua ini mendorong Amerika melalui lisan delegasinya untuk melontarkan pernyataan tersebut guna menipu Eropa bahwa Amerika siap membawa kembali Perjanjian Doha ke meja perundingan, serta memenuhi keinginan gerakan pemberontak yang belum menandatangani untuk memiliki peran "berpengaruh" dengan membatalkan Dokumen Doha atau mengubah poin-poin dasarnya. Padahal, pada kenyataannya Amerika tetap berpegang teguh pada garis besar dasar dalam dokumen tersebut karena menganggapnya sebagai pencapaian penting dan langkah pertama menuju proyek pemisahan Darfur. Pernyataan tersebut dimaksudkan sebagai tipu daya untuk menarik gerakan-gerakan yang belum menandatangani Perjanjian Doha agar mau datang menandatanganinya setelah dimasukkan beberapa "polesan kosmetik". Hal yang menunjukkan bahwa Amerika tidak ingin menggugurkan garis besar Dokumen Doha adalah tidak dicantumkannya kalimat yang diucapkan delegasi Amerika, Power, di hadapan Konferensi Perdamaian dan Keamanan Afrika di Addis Ababa ("Dokumen Doha sudah usang dan tidak bisa lagi diandalkan, serta menyerukan Dewan untuk mencari forum baru guna menyelesaikan masalah Darfur"), ke dalam pernyataan resminya yang dikeluarkan dua hari kemudian yang dipublikasikan di situs IIP Digital (situs resmi Departemen Luar Negeri AS, 14/03/2014). Pidato yang ia sampaikan di konferensi tersebut tidak dipublikasikan di situs resmi Departemen Luar Negeri AS seperti biasanya, melainkan mereka menyusun pernyataan baru yang memuat apa yang ia sebutkan di konferensi tersebut kecuali kalimat tersebut! Ini menunjukkan adanya permainan kata-kata; ia mengucapkannya dalam intervensi, namun tidak mencantumkannya di situs resmi kementerian agar tidak dihitung sebagai pernyataan resmi, karena apa yang dipublikasikan di situs tersebut menjadi khitbah resmi yang mengekspresikan kebijakan pemerintah Amerika. Demikianlah, Dokumen Doha adalah salah satu pencapaian Amerika yang membuatnya memegang kendali isu Darfur sendirian. Ia telah membatalkan perjanjian-perjanjian yang di dalamnya Eropa memiliki andil, seperti Perjanjian Abuja tahun 2006 dan Perjanjian Kerangka Kerja dengan Gerakan Keadilan dan Kesetaraan tahun 2009. Oleh karena itu, sangat mustahil Amerika akan melepaskan poin-poin dasar dalam dokumen ini, yang melalui dokumen tersebut Amerika berencana mengadakan perjanjian perdamaian komprehensif untuk menentukan nasib Darfur sebagaimana Perjanjian Naivasha.

  6. Adapun pernyataan-pernyataan Sudan yang muncul memprotes pernyataan delegasi Amerika, itu tidak lebih dari sekadar menaburkan abu ke mata (tipu daya). Semua itu hanyalah pelengkap dari penipuan yang benangnya ditenun oleh Amerika untuk menunjukkan kepada Eropa bahwa ia sedang menyiapkan rencana yang memuaskan Eropa dan agen-agennya, meskipun tidak memuaskan rezim Sudan! Hal ini dilakukan untuk menciptakan rasa tenang bahwa Amerika jujur dalam seruannya agar Eropa mendorong agen-agennya ikut serta dalam pembicaraan mengenai Dokumen Doha. Amerika menyadari bahwa jika mereka datang ke meja perundingan, mereka akan sibuk dengan polesan pada perjanjian yang memakan waktu lama untuk mengubah bagian ini, tidak mengubah bagian itu, tarik-ulur... Sementara itu, aksi militer pemberontak akan mereda jika tidak benar-benar berhenti, dengan alasan agar tidak memperkeruh suasana perundingan. Hal yang memperjelas bahwa pernyataan rezim di Sudan mengenai kekecewaan mereka terhadap pernyataan delegasi Amerika hanyalah "tong kosong nyaring bunyinya", adalah apa yang diumumkan oleh delegasi itu sendiri dalam pernyataannya tertanggal 14/03/2014, di mana ia menyebutkan kesiapan pemerintah Sudan untuk dialog politik dan menyerukan faksi-faksi bersenjata untuk berpartisipasi dalam dialog politik yang bertujuan mencapai penyelesaian politik damai dan komprehensif. Inilah yang tertuang dalam pernyataan delegasi yang dipublikasikan pada 14/03/2014: "Kami mencatat bahwa pemerintah Sudan menyatakan pada bulan Januari bahwa mereka siap memimpin dialog politik yang mencakup semua aktor politik serta kelompok-kelompok bersenjata yang telah meninggalkan kekerasan... Kami mendesak semua faksi bersenjata termasuk kelompok paramiliter yang didukung pemerintah Sudan untuk mengakhiri semua serangan kekerasan dan berpartisipasi dalam dialog politik yang bertujuan mencapai penyelesaian damai dan komprehensif bagi konflik berdarah di Sudan, termasuk menangani perselisihan yang tersisa terkait Darfur..." (IIP Digital, situs resmi Departemen Luar Negeri AS, 14/03/2014). Hal ini menunjukkan adanya koordinasi penuh antara rezim Sudan dengan Amerika... dan bahwa Amerika ingin menunjukkan dirinya seolah-olah berada di pihak gerakan-gerakan ini melawan rezim Sudan, dan ingin menundukkan rezim terhadap tuntutan gerakan-gerakan ini agar gerakan-gerakan tersebut menghentikan serangannya dan kemudian datang bernegosiasi dengan rezim di bawah pengawasan Amerika.

  7. Kesimpulannya, pernyataan delegasi Amerika menentang Perjanjian Doha adalah bagian dari penipuan untuk memberi kesan kepada Eropa dan agen-agennya bahwa Amerika serius melibatkan mereka dalam solusi masalah Darfur, dan bahwa ia setuju untuk membahas Perjanjian Doha di antara faksi-faksi yang berkumpul guna menemukan solusi bagi Darfur dengan persetujuan semua pihak tanpa menyingkirkan pihak mana pun. Fakta yang sebenarnya adalah Amerika tetap berpegang teguh pada garis besar dasar dalam Perjanjian Doha, dan melalui pernyataannya ia ingin menunjukkan keseriusannya bahwa ia berpihak pada kepentingan Eropa dan gerakan-gerakan yang belum menandatangani perjanjian tersebut. Agar mereka tertipu dengan kredibilitasnya, maka muncullah pernyataan-pernyataan yang menunjukkan perselisihan dengan rezim Sudan! Semua itu, sebagaimana kami katakan, adalah untuk menipu Eropa dan agen-agennya agar mau melakukan negosiasi politik mengenai perjanjian solusi masalah Darfur, sehingga gerakan pemberontak menghentikan aksi bersenjatanya di Darfur dengan alasan tidak ingin memperkeruh suasana negosiasi.

Sungguh menyakitkan melihat masalah umat Islam dikendalikan oleh negara-negara kafir penjajah di depan mata para penguasa zalim yang menjadi agen di negeri-negeri Muslim. Para penjajah itu membuat makar terhadap Islam dan pemeluknya secara terang-terangan, dan tidak ada satu pun penguasa di negeri Muslim yang berani berkata tidak!

ذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ

"Demikianlah (balasan Allah terhadap orang-orang kafir), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir." (QS. Al-Anfal [8]: 18)

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda