Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Apakah Hizbut Tahrir Dianggap sebagai Asy'ari?

July 27, 2021
7358

Seri Jawaban Al-Alim Al-Jalil Atha bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan di Laman Facebook Beliau "Fikri"

Kepada Riyadh Abu Malik

Pertanyaan:

Semoga Allah memberkati Anda, wahai Syekh, dan membukakan pintu kebaikan bagi Anda. Saya memiliki sebuah pertanyaan: Apakah Hizbut Tahrir dianggap sebagai Asy'ari dalam masalah akidah, ataukah Hizbut Tahrir memiliki pemahamannya sendiri dalam masalah akidah? Terima kasih.

Jawaban:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Sebelum menjawab pertanyaan Anda secara langsung, saya ingin menegaskan beberapa hal berikut:

Pertama: Realitas Hizbut Tahrir:

  1. Hizbut Tahrir telah mendefinisikan dirinya sebagai berikut: (Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang ideologinya adalah Islam. Politik adalah aktivitasnya dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bekerja di tengah-tengah umat dan bersama mereka agar umat menjadikan Islam sebagai urusan utamanya, serta memimpin umat untuk mengembalikan Khilafah dan hukum yang diturunkan Allah ke dalam realitas kehidupan. Hizbut Tahrir adalah sebuah tatanan politik (takatul siyasi), bukan tatanan spiritual, bukan tatanan ilmiah, bukan lembaga pendidikan, dan bukan pula lembaga sosial. Ide pemikiran Islam adalah ruh bagi tubuhnya, intinya, dan rahasia kehidupannya). Berdasarkan definisi ini, Hizbut Tahrir bukanlah sebuah sekolah pemikiran (madrasah fikriyah), bukan aliran kalam (firqah kalamiyah), dan bukan pula madzhab fikih (madzhab fiqhi). Melainkan, ia adalah sebuah partai politik yang mengadopsi persoalan-persoalan umat, membelanya, dan bekerja untuk menegakkan Islam dalam realitas kehidupan serta menjaganya setelah tegak kembali... Hizbut Tahrir beriman kepada akidah Islam dan menganggap setiap orang yang beriman kepada akidah Islam sebagai saudaranya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Hizbut Tahrir mendiskusikan setiap poin perbedaan dengan cara yang baik...

  1. Hizbut Tahrir telah mengadopsi (tabanni) berbagai pemikiran, hukum, dan pendapat yang diperlukan untuk menjalankan aktivitasnya, yang termuat dalam buku-buku dan publikasinya... Namun, Hizbut Tahrir tidak membahas setiap masalah dan setiap pemikiran. Ia tidak melakukan tabanni dalam banyak masalah, khususnya dalam masalah-masalah pembahasan iktikad (keyakinan) dan ibadah, karena hal itu tidak diperlukan dalam aktivitasnya sebagai sebuah partai politik yang berupaya membangkitkan umat dan menegakkan Daulah Khilafah, serta berdiri di atas pemikiran dan perasaan umat... Sebagai contoh, Hizbut Tahrir melakukan tabanni dalam masalah maksumnya para Nabi dan Rasul, serta dalam masalah ijtihad Nabi ﷺ, karena hal itu memiliki pengaruh terhadap pemahaman tasyri' (pensyariatan)... Namun, Hizbut Tahrir tidak melakukan tabanni dalam banyak masalah lain yang menjadi perdebatan para ulama kalam...

  2. Hizbut Tahrir sangat terikat dengan kekuatan dalil (quwwatul dalil). Hal ini nampak jelas dalam kesungguhannya yang terus-menerus untuk meninjau kembali tsaqofah dan adopsinya serta bersandar pada kekuatan dalil... Hizbut Tahrir melakukan koreksi dan modifikasi terhadap buku-bukunya secara progresif berdasarkan hal tersebut. Ia tidak mempertahankan pendapat apa pun yang terbukti lemah dalilnya dan terbukti kuat dalil lainnya. Sebaliknya, ia meninggalkan pendapat yang terbukti lemah dalilnya dan mengambil pendapat yang terbukti memiliki kekuatan dalil. Hal ini jelas terlihat dalam serangkaian koreksi dan modifikasi pada buku-buku Hizbut Tahrir, serta dalam peninjauan menyeluruh terhadap buku-bukunya yang dilakukan dari waktu ke waktu...

Kedua: Sebagian kaum Muslim menyematkan nama-nama khusus pada sekolah-sekolah dan madzhab-madzhab pemikiran yang berbeda pendapat dalam pembahasan yang berkaitan dengan cabang-cabang akidah dan masalah-masalah kalam, seperti Asy'ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Al-Asy'ari rahimahullah, Maturidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Al-Maturidi rahimahullah, Salafiyah, dan lain-lain... Mereka menyematkan istilah akidah pada pendapat-pendapat mereka, sehingga mereka menyebut: Akidah Asy'ariyah, Akidah Maturidiyah, Akidah Salafiyah, dan semacamnya. Bahkan, mereka menyebutkan tentang matan-matan para ulama tertentu dan buku-buku mereka sebagai akidah, seperti: Akidah Thahawiyah yang dinisbatkan kepada Imam At-Thahawi rahimahullah, dan Akidah Wasithiyah yang dinisbatkan kepada risalah yang ditulis oleh Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah untuk penduduk Wasith... dan seterusnya. Faktanya, penggunaan istilah "akidah" untuk itu semua tidaklah akurat, tidak pada tempatnya, serta menimbulkan kerancuan dan perpecahan di antara kaum Muslim. Sebab, sikap madzhab-madzhab terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pembahasan cabang akidah bukanlah "akidah" itu sendiri. Akidah adalah Akidah Islam yang telah ditetapkan dalam syariat dengan dalil-dalil qath'i (pasti), dan dalam hal ini tidak boleh ada perbedaan pendapat... Oleh karena itu, tidak ada yang namanya akidah Asy'ariyah, akidah Salafiyah, atau akidah Thahawiyah. Yang ada hanyalah Akidah Islam yang mempersatukan seluruh kaum Muslim di mana saja dengan segala perbedaan madzhab dan pendapat mereka. Terdapat perbedaan pendapat di antara madzhab dan sekolah pemikiran seperti Asy'ariyah, Maturidiyah, Salafiyah, dan lainnya dalam pembahasan yang berkaitan dengan persoalan cabang, bukan Akidah Islam itu sendiri, dan masing-masing kelompok memiliki pendapatnya yang tidak mengeluarkan mereka dari akidah Islam.

Ketiga: Manhaj yang dijalani oleh Hizbut Tahrir dalam mengadopsi pemikiran, hukum, dan pendapat adalah mengambil pendapat berdasarkan kekuatan dalil, baik dalil itu bersifat aqli (akal) maupun naqli (dalil syarak), tanpa melihat siapa yang mengatakannya. Oleh karena itu, Hizbut Tahrir dalam beberapa masalah cabang iktikad mengadopsi hal-hal yang dikatakan oleh orang-orang Asy'ari, dan mengadopsi hal-hal lain yang dikatakan oleh selain mereka... Dalam masalah-masalah syariat, Hizbut Tahrir mengambil pendapat dari madzhab-madzhab fikih yang masyhur maupun dari selain mereka tanpa terikat pada madzhab tertentu... Oleh karena itu, tidak dikatakan bahwa Hizbut Tahrir itu Syafi'i atau Hanafi misalnya, tidak juga dikatakan bahwa ia itu Asy'ari atau Salafi, Maturidi atau Mu'tazili, dan tidak pula dikatakan bahwa ia berasal dari madrasatur ra'yi atau madrasatul hadits... dan sebagainya. Hizbut Tahrir bukanlah satu pun dari itu semua, melainkan ia adalah sebuah partai politik yang ideologinya adalah Islam, dan ia mengambil pendapat berdasarkan kekuatan dalilnya sesuai dengan manhaj yang kokoh yang telah diadopsinya dalam buku-bukunya tanpa memandang siapa yang mengatakannya. Dalam pendapat-pendapatnya, terdapat sebagian yang dikatakan oleh Asy'ariyah, sebagian yang dikatakan oleh Salafiyah, dan sebagian lagi yang dikatakan oleh sekolah-sekolah lainnya. Semua itu didasarkan pada kekuatan dalil, bukan karena komitmen terhadap pendapat salah satu sekolah tersebut atau mengikuti mereka dalam manhaj, pemikiran, maupun pendapat-pendapatnya. Hizbut Tahrir tidak mengakui perselisihan yang terjadi di antara kaum Muslim di masa lalu. Sebaliknya, ia menganggap kaum Muslim adalah umat yang satu terlepas dari perbedaan madzhab dan kecenderungan mereka, serta menyeru mereka untuk menyambut ajakannya dan bekerja bersamanya untuk menegakkan Islam, mengemban dakwah, dan menyatukan umat di bawah panji Khilafah Islamiyah.

Saya berharap jawaban ini memadai. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saudaramu, Atha bin Khalil Abu al-Rashtah

17 Dzulhijjah 1442 H 27 Juli 2021 M

Link jawaban dari laman Facebook Amir (semoga Allah menjaga beliau): https://web.facebook.com/HT.AtaabuAlrashtah/posts/2980373385541999

Link jawaban dari situs web Amir (semoga Allah menjaga beliau): http://archive.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/4154

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda