Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Pertanyaan: Hakikat Sikap Internasional dan Regional Terkait Pertempuran Idlib

September 23, 2018
4852

Pertanyaan:

Rezim Suriah telah memobilisasi pasukannya di selatan provinsi Idlib, dan Rusia mengumumkan kesiapannya untuk melakukan pertempuran Idlib—"pertempuran besar terakhir!" di Suriah. Rusia juga mengadakan manuver militer terbesar dalam sejarah modernnya di Mediterania timur. Banyak pihak memperkirakan pertempuran akan dimulai setelah KTT Rusia, Turki, dan Iran yang diadakan di Teheran pada 7 September 2018. Namun, muncul penolakan dari Presiden Turki Erdogan terhadap serangan militer ke Idlib, dan serangan tersebut digantikan oleh kesepakatan zona demiliterisasi antara Erdogan dan Putin pada 17 September 2018. Apa penyebab perubahan ini? Kemudian Amerika mengancam akan memberikan balasan keras jika senjata kimia digunakan, yang diikuti oleh beberapa negara Eropa. Lantas, apa hakikat sikap internasional dan regional seputar pertempuran Idlib?

Jawaban:

Untuk memperjelas sikap internasional terhadap pertempuran Idlib, kita harus meninjau fakta-fakta berikut:

  1. Pada awalnya, kami katakan bahwa Amerika tidak jujur dalam memperlihatkan dukungannya kepada oposisi. Amerika berada di balik rezim Turki dan Saudi untuk menipu faksi-faksi Suriah dengan kebijakan carrot and stick (wortel dan tongkat), menyeret mereka ke arah rekonsiliasi dan gencatan senjata dengan rezim, serta menyerahkan wilayah-wilayah kepada rezim. Bahkan, pesan Amerika kepada oposisi Suriah di Selatan sangat jelas dan tegas, bahwa mereka tidak boleh mengharapkan dukungan Amerika untuk menghalau serangan tentara Suriah. Dalam masalah Idlib, delegasi Amerika di PBB, Nikki Haley, dalam konferensi pers mengatakan, ("Ini adalah posisi yang tragis dan jika mereka ingin melanjutkan jalan untuk mengendalikan Suriah, mereka bisa melakukannya"—merujuk pada pemerintah Suriah dan sekutunya Rusia dan Iran. Ia menambahkan, "Tetapi mereka tidak akan bisa melakukannya dengan senjata kimia..." Reuters, 4/9/2018). Jadi, penolakan Amerika yang diumumkan adalah terhadap penggunaan senjata kimia, bukan terhadap penguasaan rezim atas Suriah. Demikian pula apa yang diminta oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Joseph Dunford, untuk (melakukan lebih banyak pembicaraan antara Turki, Suriah, dan Rusia mengenai operasi counter-terrorism yang lebih akurat akan menjadi pendekatan yang tepat, berbeda dengan operasi konvensional skala besar. Ia mengatakan, "Saya menyarankan pelaksanaan operasi counter-terrorism dengan cara yang mengurangi risiko hilangnya nyawa orang-orang yang tidak bersalah"... Reuters, 4/9/2018). Amerika memunculkan isu senjata kimia kapan pun ia mau, dan meminta rezim melakukannya agar menjadi dalih baginya untuk melaksanakan kebijakannya. Rezim merasa sangat tenang dengan dukungan Amerika; sebab jika bukan karena itu, Iran dan Rusia tidak akan datang, dan jika bukan karena itu pula, Turki dan Arab Saudi tidak akan menekan faksi-faksi bersenjata untuk menandatangani gencatan senjata dan menarik diri dari wilayah-wilayah agar dikuasai oleh rezim Suriah. Jika bukan karena itu pula, rezim thaghut tidak akan kembali ke komunitas internasional, termasuk perundingan Jenewa, untuk mendapatkan kembali legitimasi yang hilang pada tahun-tahun pertama revolusi.

  2. Amerika mengizinkan intervensi militer Rusia untuk mendukung rezim. Rusia, Iran, dan milisi-milisinya telah melaksanakan tugas penting tersebut sehingga rezim kini menguasai banyak wilayah Suriah, dan wilayah signifikan yang tersisa adalah Idlib. Adapun Rusia, ia sedang menderita di "rawa Suriah" dan ingin menyerbu Idlib agar kebuntuan militernya berakhir dan ia bisa beralih ke urusan politik. Sedangkan Amerika, ia ingin mengatur solusi politik sebelum mengakhiri masalah Idlib, dan memanfaatkan isu Idlib untuk memeras Rusia dengan memperpanjang atau memperpendek kebuntuan militernya sesuai dengan persetujuan Rusia terhadap rencana solusi Amerika untuk Suriah. Solusi ini mencakup penghapusan pangkalan militer Rusia sebagai syarat solusi politik yang dirancang Amerika, di mana Amerika membuat oposisi bersikeras menuntut keluarnya pangkalan tersebut sebagai syarat solusi; artinya Rusia hanya mendapatkan "kepulangan" sebagai bagian dari rampasan perang! Begitulah penolakan Turki terhadap aksi militer Rusia yang telah disiapkan untuk menyerang Idlib, yang dilakukan atas dorongan Amerika.

  3. Rusia terus melaksanakan misi militernya di Suriah tanpa ufuk misi politik apa pun setelah datangnya pemerintahan Trump. Maka, penguasaan atas Ghoutah terjadi dengan kerja sama besar dari Turki, yang berarti atas restu Amerika. Dalam konteks yang sama, terjadi pula penguasaan atas wilayah Selatan. Pada saat yang sama, Amerika menolak melakukan negosiasi dengan Rusia mengenai Suriah, mengisyaratkan bahwa pemerintahan Trump tidak melihat peran politik bagi Rusia, setidaknya sebelum Rusia menyelesaikan misi militernya! Ketika revolusi bersenjata Suriah terpojok di Idlib, dan Rusia ingin melanjutkan aksi militernya, Rusia memobilisasi pasukan, mengancam, dan melakukan manuver di Mediterania dengan kapal-kapal perang besar dan pesawat pembom strategis, serta menutup ruang udara di Mediterania timur untuk pertama kalinya dalam sejarahnya. Namun, Rusia mendapati dirinya dalam kebuntuan besar karena menyaksikan hal-hal yang tidak diperhitungkannya, di antaranya:

    a. Penolakan Turki terhadap operasi menyeluruh di Idlib: Turki tidak setuju dengan perang menyeluruh di Idlib. (Menteri Turki menganggap bahwa seharusnya "teroris" diidentifikasi dan diperangi, dan tidak benar melakukan perang menyeluruh di Idlib serta membombardirnya secara membabi buta. Enab Baladi, 14/8/2018). Penolakan Turki terhadap perang terlihat jelas dalam konferensi Teheran antara presiden Rusia, Turki, dan Iran. Turki memperlihatkan kekhawatirannya akan perang di Idlib dan aliran pengungsi ke wilayahnya, yang mengejutkan Rusia. Turki menyudutkan Rusia dengan menganggap perang sebagai alat untuk menghancurkan solusi politik di Suriah. (Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan hari Jumat ini bahwa berlanjutnya serangan terhadap provinsi Idlib yang dikuasai oposisi akan menyebabkan runtuhnya proses politik di Suriah... Youm7, 7/9/2018). Kemudian, dengan meningkatnya nada Amerika menentang upaya Rusia untuk berperang di Idlib, Turki mulai memperkuat titik-titik pemantauannya di Idlib dengan senjata. Titik-titik tersebut didirikan berdasarkan perjanjian de-eskalasi yang disepakati dengan Rusia dan Iran. (Sumber lapangan dan saksi mata mengatakan kepada Sky News Arabia, Ahad, bahwa konvoi militer Turki menuju ke kota Idlib... Konvoi tersebut mencakup tank, peralatan militer, dan membawa amunisi... Sky News Arabia, 9/9/2018). Dengan demikian, Turki menjadi penghalang bagi ambisi Rusia untuk menghancurkan faksi-faksi militer di Idlib. Karena itulah, diperlukan pertemuan kedua antara Erdogan dan Putin pada 16/9/2018 di Sochi, hanya sembilan hari setelah pertemuan mereka di Teheran.

    b. Indikasi perubahan sikap Iran: Adapun Iran, ia menunjukkan perbedaan yang tidak biasa dalam KTT Teheran 7/9/2018 antara faksi bersenjata moderat dan faksi "teroris" lainnya di Idlib, seolah-olah mendukung sikap Presiden Turki Erdogan yang menolak perang melawan sikap Rusia. Kemudian sikap Iran mulai menjadi lebih jelas (Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengungkapkan hari Sabtu ini dalam pernyataan pers tentang keyakinan negaranya bahwa solusi di Suriah adalah politik dan bukan militer. Zarif mengatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Jerman Der Spiegel bahwa Iran sedang mencoba menghindarkan Idlib dari apa yang ia sebut sebagai "pertumpahan darah", mengisyaratkan penolakan negaranya terhadap serangan militer apa pun di wilayah tersebut... Surat kabar Turki Zaman, 15/9/2018). Sikap Iran ini, jika sempurna, maka Rusia mungkin akan mendapati dirinya sendirian dalam perang Idlib jika tetap bersikeras melanjutkannya, padahal ia tidak mampu melakukannya sendirian.

    c. Sikap Amerika yang mungkin paling berbahaya: Amerika bergegas menabuh genderang serangan militer jika senjata kimia digunakan di Idlib. Rusia tahu bahwa Amerika, melalui rezim, adalah pihak yang memegang dan mengendalikan serangan kimia tersebut. Oleh karena itu, Rusia segera menuduh oposisi bersenjata sedang mempersiapkan serangan kimia terhadap diri mereka sendiri untuk membenarkan serangan Amerika. Bahkan, Rusia menuduh Inggris terlibat dalam apa yang disebutnya sebagai "konspirasi kimia". Serangan Amerika secara umum di Suriah sangat menyudutkan Rusia, bahkan serangan Amerika kali ini mungkin akan lebih keras dan luas! (Bolton mengatakan... "Kami telah berusaha menyampaikan pesan dalam beberapa hari terakhir bahwa jika senjata kimia digunakan untuk ketiga kalinya, balasannya akan jauh lebih kuat." Ia menambahkan: "Saya dapat katakan bahwa kami telah berkonsultasi dengan Inggris dan Prancis... dan mereka setuju dengan kami bahwa penggunaan senjata kimia sekali lagi akan menyebabkan balasan yang jauh lebih kuat.") Arabi 21, 10/9/2018. Rusia tidak hanya takut akan serangan Amerika-Barat yang akan mempermalukannya di Suriah, tetapi juga serangan yang dapat mengenai pasukannya di sana.

    d. Serangan militer entitas Yahudi: Serangan pada 4/9/2018 di Wadi al-Uyun dekat Masyaf, sebelah barat Hama dan Baniyas di pinggiran Tartus—semuanya berada di dekat pangkalan militer Rusia (50 km dari pangkalan Hmeimim Rusia)—dan dilakukan dari atas pangkalan Rusia di Tartus selama manuver besar yang diadakan Rusia di Mediterania pada 1-8/9/2018. Manuver tersebut dipromosikan Rusia sebagai manuver Rusia terbesar dalam sejarah modern di Laut Mediterania. Serangan dari entitas Yahudi ini membawa tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Rusia. (Kantor berita SANA milik rezim Suriah melaporkan bahwa pertahanan udara rezim Assad mencegat beberapa rudal yang diluncurkan oleh pesawat-pesawat Israel... Al-Arabiya.net, 4/9/2018). Serangan militer yang dekat dengan pangkalan Rusia seperti ini tidak akan berani dilakukan oleh entitas Yahudi tanpa koordinasi dengan Amerika. Mungkin di dalamnya terdapat pesan bahwa teknologi Amerika tidak dapat dihambat oleh pertahanan udara Rusia (S-400), sehingga Rusia mulai merasa khawatir jika pengeboman Barat nantinya akan mengenai pangkalan-pangkalannya di Suriah atau pesawat-pesawatnya...

    e. Jatuhnya pesawat Rusia: Hal ini benar-benar terjadi dengan jatuhnya pesawat Rusia di pinggiran Idlib yang membuat Rusia dalam kebuntuan nyata: (Juru bicara resmi Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, mengatakan bahwa pilot-pilot Israel sengaja berlindung di balik pesawat Rusia, menjadikannya sasaran tembak pertahanan Suriah yang menyebabkannya jatuh... Pesawat tersebut, model Il-20 dengan 15 personel militer di dalamnya, jatuh saat dalam perjalanan kembali ke pangkalan udara Hmeimim... Sky News Arabia, siang Selasa 18/9/2018)... (Konashenkov mengatakan: "Israel tidak memberi tahu pimpinan kelompok pasukan Rusia di Suriah tentang operasi yang direncanakan. Pemberitahuan datang melalui 'jalur panas' kurang dari satu menit sebelum serangan dilakukan, yang tidak memungkinkan pesawat Rusia ditarik ke zona aman." ... Ia menambahkan bahwa tindakan yang tidak bertanggung jawab itu mengakibatkan kematian 15 personel militer Rusia, dan itu tidak sesuai dengan semangat kemitraan Rusia-Israel... Sputnik Arabic News, 18/9/2018).

Semua bukti ini membuat Rusia tidak mampu menyelesaikan masalah Idlib secara militer untuk keluar dari kebuntuannya, dan ia juga tidak mampu menanggung provokasi entitas Yahudi atas dorongan Amerika!

  1. Begitulah, Amerika ingin Rusia tetap terjebak di Suriah, tidak dapat keluar darinya sampai Amerika selesai melaksanakan solusi politik sesuai rencananya. Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, mengumumkan pada Rabu dalam wawancara khusus dengan kantor berita Reuters ("bahwa Rusia terjebak di Suriah dan ia sedang mencari siapa yang juga bisa mendanainya untuk rekonstruksi pasca-perang, mengisyaratkan bahwa hal ini memberi Washington alat dalam negosiasi dengan Moskow... Bolton berkata: 'Saya tidak berpikir mereka ingin tinggal di sana'..." Sumber: Sputnik News Arabic, 22/8/2018). Rusia mulai menyadari kebijakan Amerika ini, dan mungkin menyadari jebakan Amerika di Suriah. Rusia benar-benar terjebak dan tidak bisa keluar kecuali dengan izin Amerika yang memiliki segala instrumen pengaruh di Suriah. Oleh karena itu, Rusia tidak dapat menyelesaikan serangannya yang telah dipersiapkan untuk mengakhiri krisis di Idlib dengan caranya sendiri, karena Turki atas dorongan Amerika menolak, dan Iran terdiam... Begitulah pertemuan Iran 7/9/2018 gagal mengesahkan rencana Rusia untuk menyerang Idlib. Hanya berselang beberapa hari, diadakan pertemuan Erdogan-Putin dan serangan tersebut digantikan oleh pembentukan zona demiliterisasi! Hal itu dilakukan dengan restu Amerika. Kantor berita Novosti pada 18/9/2018 mengutip seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri AS yang mengatakan: "Kami menyambut dan mendorong Rusia dan Turki untuk mengambil langkah-langkah praktis guna mencegah serangan militer dari pemerintah Assad dan sekutunya terhadap provinsi Idlib..."

    Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan pada hari Senin tentang kesepakatan dengan rekannya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk (mendirikan "zona demiliterisasi" di wilayah provinsi Idlib pada 15 Oktober, yang akan berada di bawah pengawasan kedua negara mereka... Putin menganggap kesepakatan ini mewakili "solusi serius"... Di sisi lain, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyatakan... bahwa kesepakatan ini akan mencegah serangan yang telah dinanti-nantikan... France24 / AFP, 17/09/2018). Begitulah Rusia menghentikan pengebomannya di Idlib dan menarik kembali kapal-kapalnya yang melakukan manuver di Laut Mediterania. Rusia masih terus memohon kepada Amerika secara langsung atau melalui Turki untuk menyelesaikan masalah Idlib secara militer sebelum solusi politik... Namun Amerika menginginkan solusi politik sebelum penyelesaian militer apa pun di Idlib untuk menggunakannya sebagai kartu tekanan guna memeras Rusia mengenai pangkalan militernya di Suriah, dan kemudian membuat oposisi mengajukan isu pangkalan tersebut dalam solusi politik. Artinya, perhatian Turki dan Amerika di belakangnya untuk mencegah serangan Rusia ke Idlib pada derajat pertama adalah untuk kepentingan Amerika, bukan untuk mencegah rezim mencapai Idlib atau untuk melindungi warga sipil. Sebaliknya, pada saat Amerika telah mengukuhkan solusi yang diinginkannya dan Rusia tunduk padanya, saat itulah darah di Idlib menjadi tidak berharga bagi mereka, baik warga sipil maupun bukan, baik di zona demiliterisasi maupun bukan... Rekam jejak mereka menunjukkan hal itu di berbagai wilayah Suriah, dan kejahatan mereka mendahului mereka dari segala sisi...

  2. Inilah hakikat sikap-sikap yang berpengaruh dalam masalah perang di Idlib, secara internasional maupun regional... Namun ada satu perkara yang dengan izin Allah dapat membalikkan keadaan terhadap sikap internasional dan regional tersebut, yaitu dengan memperbaiki dan menyempurnakan peran faksi-faksi di Idlib, serta mengaktifkan peran tersebut dengan kejujuran dan keikhlasan kepada Allah SWT. Faksi-faksi ini terbagi menjadi dua jenis:

    Pertama: Faksi-faksi militer yang berafiliasi dengan Turki, yaitu mereka yang telah melakukan penarikan diri dan pengkhianatan di berbagai wilayah, serta yang menyebarkan ide-ide rekonsiliasi dan gencatan senjata akibat tekanan Turki yang intens disertai dengan "pembelian loyalitas" para pemimpin faksi tersebut dan membanjirinya dengan uang Saudi. Inilah faksi-faksi yang diseret oleh Turki ke perundingan Astana yang menghasilkan wilayah-wilayah de-eskalasi, yang berarti penguasaan rezim dan penyerahan wilayah kepadanya. Faksi-faksi ini hari ini berdiri di hadapan kenyataan bahwa mereka telah menjadi alat untuk memperlemah revolusi Suriah dan hilangnya banyak wilayah akibat janji-janji Turki yang ternyata palsu... Karena barisan faksi-faksi ini tidak kosong dari individu-individu yang ikhlas, maka bisikan yang nyata mulai mendekati suara yang terdengar di kalangan faksi-faksi tersebut mengenai penipuan Turki terhadap mereka. Erdogan telah menyadari hal ini, sebagaimana yang ia ungkapkan dalam KTT Teheran... bahwa (Oposisi merasa ditipu setelah perkembangan yang terjadi pasca pembentukan wilayah-wilayah de-eskalasi tersebut... Al-Jazeera.net, 7/9/2018). Erdogan mengakui bahwa rencananya untuk menipu faksi-faksi Suriah telah terungkap bagi mereka, dan inilah yang dikhawatirkan Erdogan. Faksi-faksi ini hingga sekarang belum bergerak untuk memerangi faksi-faksi yang menolak solusi damai sesuai rencana Turki... Terungkapnya penipuan Turki ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong faksi-faksi ini bertempur dengan sengit jika mereka diserang...

    Kedua: Faksi-faksi lain yang sering dijuluki oleh media sebagai "teroris". Kekuatan ini telah bertambah dengan dideportasinya banyak pejuang dari berbagai wilayah di Suriah seperti Ghoutah, Selatan, Homs, kota Aleppo timur, dan lain-lain. Kekuatan ini menguasai bagian-bagian penting dari wilayah tersebut. Meskipun ada perbedaan dalam jumlah dan tingkat persenjataannya, namun sumber ketakutan terhadap mereka dapat diringkas dalam apa yang disebutkan oleh laporan-laporan Amerika sebelumnya tentang Suriah, yang menyatakan bahwa kekuatan "ekstremis" dalam oposisi Suriah, meskipun bukan yang terbanyak jumlahnya, namun merekalah yang memimpin pertempuran-pertempuran utama yang besar di kancah Suriah. Artinya, mereka adalah kekuatan yang solid yang tidak mudah dikalahkan... Terutama karena wilayah Idlib dianggap sebagai wilayah terakhir milik para pejuang, maka pertempuran di sana secara umum akan berlangsung sengit karena para pejuang terkepung di dalamnya dan tidak ada jalan keluar lain. Karena itu semua, pertempuran dari sisi militer tidak serta-merta akan dimenangkan oleh rezim meskipun ada mobilisasi militer besar yang disiapkan Rusia untuk itu. Sebaliknya, lamanya pertempuran di Idlib dan konsentrasi kekuatan lokal rezim serta para pengikutnya di sana dapat membuka pintu lebar-lebar bagi lepasnya wilayah-wilayah lain yang sebelumnya telah dikuasai rezim.

Oleh karena itu, faksi-faksi ini dengan segala jenisnya, jika mereka mengikhlaskan agamanya hanya untuk Allah, memanfaatkan kebuntuan Rusia akibat tekanan Amerika untuk memerasnya, serta melepaskan diri dari tipuan Turki dan harta Saudi... dan sebelum itu semua, selalu mengingat firman-Nya SWT:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ

"Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah." (QS al-Baqarah [2]: 249)

Maka mereka tidak akan tunduk dan tidak akan menyerah, serta menolong agama Allah dengan kejujuran dan keikhlasan. Maka dengan izin Allah, mereka akan menggagalkan rencana musuh-musuh Islam dan kaum Muslim serta akan memukul mundur mereka dari Idlib dalam keadaan merugi.

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS al-Hajj [22]: 40)

12 Muharram 1440 H 22 September 2018 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda