Pertanyaan:
Pada 20/2/2014, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menuntut pengiriman pasukan militer tambahan secara cepat ke Afrika Tengah untuk mencegah memburuknya situasi keamanan. Perlu diketahui bahwa Prancis telah mengirimkan 2.000 tentara di samping pasukan Afrika yang jumlahnya melebihi 5.000 personel setelah Dewan Keamanan mengeluarkan resolusi pada 5/12/2013 untuk melakukan intervensi militer di Afrika Tengah. Milisi-milisi Kristen telah melakukan tindakan biadab dan keji terhadap umat Islam, mulai dari pembunuhan, pembakaran, memakan daging manusia, penghancuran rumah, penjarahan harta benda, hingga pengusiran. Michel Djotodia, presiden pertama dari latar belakang Muslim di Republik Afrika Tengah, mengundurkan diri pada 10/1/2014, dan pemilihan Catherine Samba-Panza sebagai presiden republik ini diumumkan pada 20/1/2014. Amerika Serikat telah mengumumkan dukungannya terhadap pasukan Afrika dan menyerukan penyelenggaraan pemilu sebelum Februari 2015. Lantas, apa hakikat konflik di sana? Bagaimana situasi tersebut meledak? Apa penyebab krisis di sana dan ke mana arahnya?
Jawaban:
Untuk menjawab hal tersebut, pertama-tama kita harus meninjau kondisi umat Islam di Afrika Tengah, serta memaparkan sejarah kudeta dan kaitannya dengan konflik internasional serta dampak yang ditimbulkannya:
Persentase umat Islam di Afrika Tengah diperkirakan antara 15% hingga 20% dari total populasi yang berjumlah sekitar 5 juta jiwa. Namun, persentase ini diragukan jika melihat luasnya sebaran umat Islam di negara tersebut. Statistik ini dianggap tidak netral dan tidak jujur karena selalu ada upaya untuk meminimalisir persentase umat Islam karena beberapa faktor... Oleh karena itu, kemungkinan besar persentase umat Islam melebihi perkiraan tersebut... Sisanya terbagi antara penganut Kristen dan animisme... Umat Islam tersebar di ibu kota Bangui, di mana mereka membangun banyak masjid dan sekolah Al-Qur'an. Mereka juga tersebar di banyak kota dan provinsi utama lainnya, khususnya di bagian utara negara itu, di mana sebuah kesultanan Islam berdiri pada akhir abad ke-17 ketika sejumlah sultan dari Kesultanan Islam Baguirmi di Chad selatan pindah ke sana setelah jatuhnya kesultanan mereka, lalu mereka bermigrasi ke Afrika Tengah bagian utara. Melalui tangan mereka, banyak penganut animisme masuk Islam, sebagaimana banyak pula yang masuk Islam di tangan mereka di Chad selatan. Perlu diketahui bahwa Islam masuk ke wilayah utara Afrika Tengah pada abad ke-13 Masehi dan beberapa suku masuk Islam, seperti suku Runga yang berpusat di wilayah Ndélé, ibu kota bagian utara, serta suku Vakaga yang berpusat di kota Birao, ibu kota bagian timur laut, yang merupakan salah satu daerah terkaya akan emas, berlian, dan uranium. Ada pula kelompok-kelompok Muslim yang datang ke wilayah ini pada abad ke-18 dan ke-19 karena berbagai alasan dan berkontribusi bersama saudara-saudara mereka dalam upaya mengusir penjajah Prancis dari negara tersebut. Demikian pula umat Islam dari Afrika Barat dari suku Hausa dan Fulani yang membentuk persentase tertinggi di wilayah barat daya yang berbatasan dengan Kamerun. Rezim penguasa dan Prancis di belakangnya, khususnya rezim Patassé, berupaya mengisolasi umat Islam dari penganut animisme karena takut akan penyebaran Islam di antara mereka. Bahkan, dilakukan proses penyingkiran umat Islam dari pemerintahan dan jabatan publik, sehingga umat Islam beralih ke sektor perdagangan. Akibatnya, setelah terjadinya pembantaian terhadap para pedagang Muslim, aktivitas perdagangan terhenti dan terjadi kekurangan bahan pangan yang parah bagi penduduk ibu kota Bangui.
Penjajahan Prancis mulai memasuki Afrika Tengah pada tahun 1885, dan Prancis mendirikan pangkalannya di Bangui. Wilayah tersebut secara resmi menjadi koloni Prancis pada tahun 1894. Ketika Prancis memberikan kemerdekaan formal pada tahun 1960, mereka menyerahkan kekuasaan negara kepada kaum Kristen. Pengaruh dan penjajahan Prancis tetap bertahan seperti sebelumnya; mereka menunjuk penguasa dari kalangan Kristen, baik melalui kudeta maupun melalui apa yang disebut sebagai pemilu... Prancis menunjuk David Dacko sebagai presiden pertama saat memberikan kemerdekaan formal kepada Afrika Tengah. Namun, baru dua tahun memerintah, ia mulai menunjukkan sikap otoriter dan melakukan kampanye penindasan terhadap lawan-lawannya. Situasi ini dimanfaatkan oleh Amerika yang mulai merambah ke Afrika. Saat itu, Uni Soviet juga sedang berupaya melawan kolonialisme lama setelah adanya kesepakatan dengan Amerika pada tahun 1961. Kedua negara yang mengumumkan kebijakan detente (peredaan ketegangan) ini memiliki pengaruh dalam memprovokasi rakyat Afrika melawan penjajah lama. Prancis pun merasa khawatir akan pengaruhnya di negara tersebut, sehingga mereka mendorong Kepala Staf Angkatan Darat Jean-Bédel Bokassa pada tahun 1966 untuk melakukan kudeta dan memperkuat cengkeraman kekuasaannya. Ia kemudian menunjuk mantan Presiden David Dacko sebagai penasihatnya, yang menunjukkan bahwa kudeta tersebut hanyalah pengaturan Prancis untuk menghadapi serangan Amerika-Soviet, yaitu dengan menunjuk seorang militer otoriter untuk menindak siapa pun yang menentang pengaruh Prancis. Bokassa terus bertindak otoriter dan memperkuat rezimnya untuk melindungi kepentingan Prancis hingga ia memproklamasikan dirinya sebagai Kaisar pada tahun 1976! Ia sangat mengagungkan orang Prancis sampai-sampai menjuluki De Gaulle, Presiden Prancis saat itu, sebagai "Papa" dan menjadikan negaranya sebagai tempat bermain bagi orang-orang Prancis. Banyak rumor tersebar mengenai Bokassa, termasuk kanibalisme dan pembunuhan anak-anak, yang memicu opini publik internasional menentangnya. Prancis kemudian turun tangan dengan pasukan yang bermarkas di sana untuk menggulingkannya dan menunjuk kembali David Dacko sebagai presiden pada tahun 1979. Kemudian tentara yang dipimpin oleh Jenderal André Kolingba melakukan kudeta pada bulan September 1981 dan menggulingkan Dacko dari kekuasaan. Setelah Prancis berhasil menggulingkan Habré yang pro-Amerika di Chad dan mendatangkan agennya, Idriss Déby, pada tahun 1990, posisi Prancis di Afrika Tengah semakin kuat karena Chad dianggap sebagai pilar pendukung pengaruh Prancis di Afrika Tengah... Demikianlah Prancis melihat pengaruhnya telah terkonsentrasi di Afrika Tengah, sehingga mereka ingin memberi corak demokratis pada pemerintahan di negara tersebut! Prancis memutuskan untuk menjauhkan militer dari kekuasaan dan mengadakan pemilu kembali. Pemilihan presiden diadakan pada tahun 1993 dan diumumkan kemenangan Félix Patassé yang terikat dengan Prancis, yang sebelumnya memimpin oposisi. Langkah Prancis ini bertujuan untuk meredam pengaruh seruan demokrasi yang ditekankan Amerika di Afrika untuk meruntuhkan kolonialisme lama dan menggantikannya. Maka, Prancis membentuk pemerintahan melalui pemilu dan oposisi di bawah pimpinan Pendeta François Bozizé yang terdiri dari berbagai kelompok etnis termasuk umat Islam. Oposisi tersebut membenci korupsi Patassé dan penindasannya terhadap oposisi, khususnya umat Islam, sehingga oposisi berubah menjadi pemberontakan bersenjata... Prancis kemudian memutuskan untuk mengganti Patassé dan membawa pemimpin oposisi, Pendeta Bozizé, sebagai Presiden Republik pada 15/3/2003, dengan bantuan umat Islam untuk mencapai kekuasaan... Namun, Bozizé mengkhianati pihak-pihak yang mendukungnya, baik dari kalangan Muslim maupun oposisi yang bersamanya. Ia tidak mempedulikan mereka, bahkan menganggap mereka sebagai musuh! Ia menyerahkan pengamanannya kepada perusahaan keamanan Prancis yang dipimpin oleh pensiunan jenderal Prancis, Jean-Pierre Pérez, kemudian mengadakan pemilu 2005 dan 2011, serta mengumumkan kemenangannya di setiap pemilu tersebut... Selama periode ini, muncul pemberontakan baru terhadapnya, dan muncul gerakan Séléka (yang berarti aliansi atau kesepakatan antara lima organisasi yang para pemimpinnya adalah Muslim, yang terbesar dipimpin oleh Djotodia...). Meskipun Bozizé melakukan pemilu sandiwara, situasi di negara itu tidak stabil dan kezaliman Bozizé meningkat, khususnya terhadap umat Islam, di mana rezim Bozizé mengerahkan pasukannya untuk merampas harta benda umat Islam, sehingga jatuhlah ratusan korban saat mereka membela diri dan harta benda mereka...
Sebagai akibat dari hal tersebut, pada 11/1/2013 diadakan konferensi di Libreville, ibu kota Gabon, yang dihadiri oleh Presiden Bozizé dan gerakan Séléka untuk mencapai solusi... Konferensi tersebut mengungkap betapa besarnya kezaliman yang dialami umat Islam di Afrika Tengah di mana hak-hak dasar mereka pun dirampas... Oleh karena itu, mereka menuntut hak-hak tersebut, yang sebenarnya adalah tuntutan sederhana: pengakuan terhadap Islam sebagaimana agama lainnya, perayaan resmi Idul Fitri dan Idul Adha, serta penghentian penindasan terhadap umat Islam... Namun, Bozizé sangat mahir dalam mengulur waktu. Setelah ia menyetujui beberapa tuntutan umat Islam dan Séléka, serta kesepakatan bahwa agen Prancis ini akan tetap berkuasa hingga 2016—meskipun kesepakatan tersebut menjamin kelangsungan kekuasaan Bozizé meski ia telah melakukan pembantaian... dan meskipun Amerika mendukung kesepakatan tersebut sebagaimana diberitakan kantor berita AFP... meskipun semua itu terjadi, Prancis dan Bozizé tetap mengulur-ulur implementasi hak-hak sederhana tersebut, bahkan mengkhianatinya dan melanjutkan tindakan biadab mereka terhadap umat Islam. Maka Séléka bergerak menuju istana dan menguasainya pada 24/3/2013 di bawah pimpinan Michel Djotodia yang kemudian menjadi presiden... Di sinilah Prancis berteriak dan meratap karena Djotodia berasal dari latar belakang Muslim. Meskipun ia mencoba memuaskan Barat sejak memegang kekuasaan sebagaimana tertuang dalam pernyataannya saat ia menyatakan diri sebagai presiden sementara: "Afrika Tengah adalah negara sekuler di mana umat Kristen dan Muslim hidup dalam negara sekuler. Benar bahwa saya seorang Muslim, tetapi kewajiban saya adalah melayani tanah air saya dan seluruh warga negara Afrika Tengah." (31/3/2013, Al-Khaleej). Semua itu dilakukan untuk menyenangkan Barat, khususnya Prancis dan kaum Kristen, bahkan ia tidak melucuti senjata milisi Kristen dan membiarkan mereka tetap beroperasi. Namun, Prancis tetap tidak mengakui presiden baru tersebut, begitu pula para agennya... Prancis mulai bekerja melawannya dengan keras karena ia berasal dari latar belakang Muslim, diikuti oleh para agennya. Kemudian Prancis menggerakkan para pemimpin Afrika Tengah untuk mengadakan konferensi di N'Djamena, ibu kota Chad, pada 3/4/2013. Idriss Déby, agen terkemuka Prancis, berpidato di hadapan mereka dengan mengatakan: "Tampaknya mustahil bagi kita untuk mengakui seseorang yang menunjuk dirinya sendiri." (5/4/2013, Al-Wasat). Meskipun Dewan Transisi telah mengumumkan pada 13/4/2013 tentang pemilihan Michel Djotodia sebagai presiden negara tersebut, semua ini tidak menolongnya hanya karena ia berasal dari latar belakang Muslim. Prancis pun menghentikan pemberian dukungan kepada pemerintahan ini, meskipun mereka merampok kekayaan negara berupa uranium, emas, dan berlian, namun mereka seolah-olah berbaik hati memberi bantuan kepada pemerintah Afrika Tengah dan memutusnya kapan pun mereka mau, menganggap kekayaan tersebut sebagai milik mereka!
Prancis mulai mempersiapkan suasana untuk intervensi dan menciptakan masalah demi membenarkannya. Mereka berhasil mengeluarkan resolusi Dewan Keamanan pada 5/12/2013 yang memberi mandat untuk intervensi militer di Afrika Tengah, maka intervensi pun dilakukan pada 8/12/2013. Presiden Prancis François Hollande menyerukan pengunduran diri Michel Djotodia dan penyelenggaraan pemilu dini. Oleh karena itu, Prancis mengadakan KTT regional Afrika di ibu kota Chad, N'Djamena, pada 10/1/2014 dan melakukan tekanan melalui KTT ini untuk memaksa Djotodia mengundurkan diri, sehingga ia mengumumkan pengunduran dirinya dalam KTT tersebut. Lalu diumumkan pemilihan Samba-Panza, wali kota Bangui, sebagai presiden sementara negara tersebut pada 20/1/2014. Hal ini diikuti oleh tindakan biadab yang dilakukan oleh milisi Kristen di depan mata pasukan Prancis, yang telah melucuti senjata lebih dari 7.000 pejuang gerakan Séléka dengan dalih menjaga keamanan, namun mereka tidak melucuti senjata milisi Kristen, khususnya yang disebut "Anti-Balaka", bahkan justru mendukungnya! Kemudian, setelah jatuhnya Presiden Djotodia, milisi-milisi ini melakukan tindakan keji yang lebih mengerikan daripada binatang buas; mulai dari pembunuhan, pembakaran umat Islam, memakan daging mereka, penghancuran rumah, masjid, sekolah, dan institusi mereka, serta penjarahan harta benda di bawah pengawasan pasukan Prancis dan Afrika. Bahkan laporan PBB menuduh Prancis mendukung milisi Kristen melawan umat Islam yang tidak bersenjata setelah Prancis melucuti senjata apa pun yang bisa mereka gunakan untuk membela diri... Karena sangat mengerikannya kejahatan-kejahatan ini, presiden baru pun mengakuinya dengan mengatakan: "Anti-Balaka telah kehilangan makna misi mereka, hari ini merekalah yang menjadi pembunuh." Ia menambahkan: "Mereka mengira saya lemah karena saya seorang wanita, tetapi mulai sekarang gerakan Anti-Balaka yang ingin membunuh akan dikejar." (Radio BBC, 12/2/2014). Radio tersebut menambahkan: "Puluhan ribu umat Islam melarikan diri dari Afrika Tengah ke Kamerun dan Chad, sementara sebagian lainnya mengungsi ke kamp-kamp di dalam negeri. Amnesti Internasional menyebutkan bahwa serangan milisi telah menyebabkan eksodus massal umat Islam dalam skala bersejarah. Mereka menggambarkan situasi di Afrika Tengah sebagai pembersihan etnis (ethnic cleansing)." Meskipun demikian, presiden negara tersebut menolak deskripsi ini, bahkan mengklaim bahwa "apa yang terjadi di negara ini hanyalah masalah keamanan"!
Amerika berusaha mengambil keuntungan dari pembantaian yang dilakukan Prancis dan para agennya di Afrika Tengah. Amerika berupaya memperkuat pasukan Afrika di Afrika Tengah agar setara dengan pasukan Prancis, sehingga dominasi tunggal Prancis hilang sebagai persiapan untuk menyingkirkannya dan menggantikannya dengan Amerika, atau setidaknya berbagi peran... Masyarakat mulai menuduh pasukan Prancis berkolaborasi dengan milisi Kristen kriminal, dan tuntutan agar pasukan Afrika yang menangani—bukan Prancis—semakin meningkat. Tuntutan ini didukung oleh sumber-sumber Amerika serta sumber-sumber PBB yang dipengaruhi secara efektif oleh Amerika... Christopher Coons, Ketua Komite Urusan Afrika di Komisi Luar Negeri Kongres AS, menyatakan: "Komite mengadakan sesi dengar pendapat untuk menentukan apa yang bisa dilakukan Amerika Serikat guna mendukung upaya multilateral demi memastikan bahwa pasukan Uni Afrika memiliki kemampuan yang diperlukan untuk memperkuat keamanan dan mengakhiri kekerasan." (IIP Digital, situs milik Departemen Luar Negeri AS, 23/12/2013). Perwakilan Tetap AS di PBB, Samantha Power, dan Asisten Sekretaris Negara AS untuk Urusan Afrika, Linda Thomas-Greenfield, mengunjungi Bangui pada 19/12/2013 untuk bertemu dengan para pejabat transisi di sana. Greenfield berkata: "Kami percaya bahwa mandat yang kuat bagi misi Uni Afrika untuk memantapkan stabilitas adalah hal yang diperlukan sekarang untuk menghadapi kelompok dan faksi bersenjata serta melucuti senjata mereka." (Sumber yang sama). Sebaliknya, Prancis berupaya memperkuat pasukan internasional dengan pasukan dari negara-negara Eropa untuk menandingi pasukan Afrika yang jumlahnya mencapai 4.400 personel dan akan ditambah 850 tentara dari Rwanda. Karena alasan inilah, "Kepresidenan Prancis pada 14/2/2014 memutuskan untuk mengirimkan tambahan 400 tentara ke Afrika Tengah guna memperkuat pasukannya di sana sehingga jumlahnya mencapai 2.000 personel. Pernyataan Kepresidenan Prancis menyebutkan: Upaya tambahan 400 tentara ini mencakup pengerahan dini pasukan tempur Prancis yang nantinya akan berpartisipasi dalam operasi militer Uni Eropa segera setelah dikerahkan. Ditambahkan pula dalam pernyataannya: Prancis menyerukan kepada Uni Eropa untuk mempercepat pengerahan pasukan EUFOR, termasuk pasukan gendarmerie Eropa. Sumber-sumber diplomatik melaporkan bahwa partisipasi Uni Eropa bisa mencapai 900 tentara, lebih banyak dari 500 tentara yang diperkirakan sebelumnya." (AFP, 14/2/2014). Amerika memutuskan untuk mendanai pasukan Afrika; Marie Harf, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, menyatakan: "Kami merasa sangat prihatin atas meningkatnya aksi kekerasan di Republik Afrika Tengah yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang terus berkembang dan meningkatnya risiko terjadinya kekejaman massal."
"Dan kemarin kami memberikan suara mendukung resolusi bersama yang kuat di Dewan Keamanan yang memberikan otoritas kepada pasukan Uni Afrika dan pasukan Prancis yang mendukung pasukan Uni Afrika di bawah Bab VII untuk memulihkan keamanan dan mewujudkan perdamaian bagi rakyat yang telah menderita terlalu lama. Kami berniat memberikan bantuan sebesar 40 juta dolar dalam bentuk peralatan, pelatihan, atau dukungan logistik bagi pasukan Uni Afrika dan sekutu Prancis kami selama bantuan itu diperlukan." (IIP Digital, 6/12/2013). Sangat jelas dari perilaku pasukan ini, baik yang berasal dari negara-negara Afrika yang dipengaruhi Amerika, maupun pasukan Prancis yang dibantu pasukan Eropa yang setia kepadanya, jelas bahwa perilaku pasukan yang berjumlah sekitar 8.000 personel ini bukan untuk menjaga keamanan di Republik Afrika Tengah. Mereka tidak melakukan apa pun untuk mencegah tindakan biadab dan pembantaian mengerikan terhadap umat Islam, padahal jika mereka sungguh-sungguh, mereka pasti mampu karena jumlah penduduk negara itu kecil... Pasukan tersebut hanyalah bagian dari persaingan antara pengaruh Prancis dan pengaruh Amerika yang berupaya keras mengetuk pintu untuk memasukkan pengaruhnya... Maka jadilah darah umat Islam yang ditumpahkan dan daging mereka yang dimakan... sebagai arena pertarungan di mana Prancis dan Amerika berdansa di atas tanahnya sementara kaki mereka terbenam dalam darah umat Islam.
Berdasarkan hal tersebut, Amerika berupaya memperkuat pengaruhnya di Afrika Tengah dengan cara memperkuat pasukan Afrika dan memperkuat misi pasukan ini. Karena alasan tersebut, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, yang berjalan sesuai kebijakan Amerika, meminta kepada Dewan Keamanan: "Agar mengerahkan secara cepat tambahan 3.000 tentara untuk memaksakan keamanan dan melindungi warga sipil..." (AFP, 20/2/2014). Sudah maklum bahwa pasukan tersebut akan berasal dari pasukan Afrika... Tampaknya Amerika pada akhirnya menginginkan proses politik kemudian pemilu, di mana mereka memanfaatkan darah umat Islam untuk berbagi pengaruh dengan Prancis di Afrika Tengah! Diperkirakan pula bahwa Prancis akan mengikuti langkah Amerika dalam solusi politik agar tidak kehilangan segalanya, karena kali ini tekanan terhadap Prancis lebih berat dibandingkan masa-masa sebelumnya, dan kemudian Prancis akan berupaya menyukseskan para agennya untuk mencapai kekuasaan melalui jalan pemilu juga.
Sebagai penutup, sesungguhnya darah umat Islam telah menjadi medan konflik antara Amerika dan Prancis demi merebut pengaruh... Mereka tidak peduli atau merasa keberatan jika darah umat Islam mengalir seperti sungai, atau jika para orang tua, anak-anak, dan wanita disiksa, bahkan dimakan hidup-hidup... Yang penting bagi negara-negara kafir penjajah ini adalah siapa yang pada akhirnya berdiri bertepuk tangan di atas tumpukan mayat dan potongan tubuh tersebut... Kaum kafir penjajah itu adalah satu millah, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan orang mukmin dan tidak pula mengindahkan perjanjian... Oleh karena itu, kedua belah pihak fokus pada pembunuhan umat Islam betapapun berbeda metode dan tujuannya, namun mereka membiarkan milisi Kristen bebas berkeliaran menumpahkan darah umat Islam...
Namun yang menyakitkan dan menyedihkan adalah bahwa umat Islam tidak memiliki pembela. Darah mereka ditumpahkan dengan kejam di Palestina, Burma, Kashmir, Chechnya, Tatarstan, Suriah, dan kini di Afrika Tengah... dst. Para penguasa di negeri-negeri Muslim melayani kepentingan Barat, bukan kepentingan umat Islam. Mereka memandang pembantaian tersebut seolah-olah terjadi di negeri Waq-Waq atau di dunia lain yang bukan dunia mereka, padahal pembantaian tersebut tidak jauh dari wilayah kekuasaan para penguasa itu barang sejengkal atau sehasta pun... Maka celakalah mereka atas apa yang mereka perbuat.
Dan sebagai penutup dari segala penutup, sesungguhnya umat Islam kehilangan junnah (perisai) yang dapat menghalangi para penyerang. Mereka kehilangan Khalifah yang menjadi perisai dan pelindung.
وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra.)...
وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا
"Dan mereka bertanya: 'Kapan itu (akan terjadi)?' Katakanlah: 'Mudah-mudahan waktu itu sudah dekat'." (QS. Al-Isra' [17]: 51)