Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Hakikat Kesepakatan Amerika-Rusia dan Tujuan dari KTT Nuklir

April 10, 2016
5123
استمع للمقال

Pertanyaan:

Sudah menjadi rahasia umum bahwa intervensi udara Rusia di Suriah dilakukan dengan persetujuan Amerika dalam sebuah kesepakatan kotor. Berdasarkan kesepakatan itu, Rusia melayani kepentingan Amerika di Suriah sebagai imbalan atas sikap tutup mata Amerika terhadap pendudukan Rusia di Krimea, serta apa yang terjadi di Ukraina timur... Hal ini dapat dipahami bahwa ada kebijakan kesepakatan (wifaq) antara Rusia dan Amerika. Namun, apa yang terjadi baru-baru ini berupa pengucilan Rusia dari KTT Nuklir yang dikelola oleh Obama, serta konfrontasi militer antara Azerbaijan yang didukung oleh Amerika dan Armenia yang didukung oleh Rusia, membuat kesepakatan ini tampak terganggu... Pertanyaannya adalah, apa penjelasan dari hal tersebut?

Pertanyaan lainnya: Bagaimana KTT Nuklir ini bermula? Apa tujuan dari KTT tersebut? Dan apakah benar KTT ini akan mengarah pada pelucutan senjata nuklir? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Pertama: Kesepakatan Amerika-Rusia yang Bergolak:

1- Putin, yang merupakan mantan direktur KGB di Uni Soviet, sangat merindukan peran internasional yang menonjol sebagaimana Uni Soviet dahulu bersama Amerika. Oleh karena itu, ia setuju untuk menjalankan peran agresi kriminal di Suriah demi kepentingan Amerika, yaitu untuk mengokohkan kekuasaan Bashar hingga Amerika menemukan alternatifnya, setelah rezim tersebut hampir jatuh dan Amerika khawatir kekosongan kekuasaan akan diisi oleh kekuatan Islam yang tulus... Putin mengira bahwa dengan melayani Amerika di Suriah, Amerika akan meredakan masalah di perbatasan selatan Rusia di Ukraina dan sekitarnya. Namun, ini adalah satu hal, dan itu adalah hal lain! Terperosoknya Rusia dalam perang melawan kaum Muslim akan membuat Rusia merasakan penderitaan demi penderitaan dengan izin Allah, yang mana masalah Ukraina dan wilayah sekitarnya hanyalah setitik air di lautan kemarahan kaum Muslim terhadapnya. Dan hari esok itu dekat bagi orang yang menantinya. Ini dari satu sisi...

Di sisi lain, Putin mengira bahwa Amerika akan memberinya imbalan dengan meningkatkan peran internasional Rusia dan menonjolkan Rusia dalam masalah-masalah global! Ini adalah sebuah kebodohan politik, karena negara-negara yang berdiri di atas ideologi (mabda) kapitalis tidak memiliki nilai kecuali kemanfaatan (manfa’ah) dan eksploitasi terhadap pihak lain. Oleh karena itu, negara kapitalis yang lebih kuat akan mengerahkan segala upaya untuk mendominasi negara kapitalis yang lebih lemah... Amerika, Eropa, dan Rusia semuanya mengikuti ideologi kapitalisme, tidak seperti situasi sebelumnya ketika Barat mengikuti ideologi kapitalisme dan Uni Soviet mengikuti ideologi sosialis-komunis, di mana masing-masing ideologi memiliki nilai-nilai yang saling bertabrakan, sehingga mereka bisa bersaing memperebutkan dominasi dan pengaruh dengan posisi yang setara (niddiyyah). Adapun negara-negara besar yang mengadopsi kapitalisme, maka dominasi tetap berada di tangan negara yang paling kuat. Kesepakatannya dengan negara lain yang berideologi sama adalah untuk melayaninya, bukan untuk menjadi tandingannya. Karena itu, Amerika tidak akan menerima Eropa menjadi tandingannya, atau Rusia menjadi tandingannya, kecuali jika negara-negara tersebut mencapai tingkat kekuatan yang mampu menandingi pengaruhnya. Hal ini karena ideologi kapitalisme tegak di atas asas manfaat, dan keuntungan terbesar bagi yang terkuat.

2- Dengan demikian, anggapan Putin bahwa jika ia melayani kepentingan Amerika di Suriah maka Amerika akan meredakan masalah regional dan internasional Rusia adalah anggapan yang salah. Hal ini tampak jelas dalam dua perkara yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu KTT Nuklir dan perang antara Azerbaijan dan Armenia:

a- Adapun KTT Nuklir, Amerika melakukan persiapan dan perencanaan untuk KTT tersebut, termasuk program dan agenda acaranya, dengan mengabaikan Rusia yang merupakan negara nuklir terbesar kedua di dunia... KTT tersebut berlangsung dari 31 Maret 2016 hingga 1 April 2016, di mana Amerika Serikat mencoba membuktikan bahwa ia adalah kekuatan besar dan utama, pemimpin historis yang memimpin seluruh negara di dunia, dan melakukan apa yang disukainya di mana pun dan kapan pun. Bahkan, Amerika tidak mempedulikan Rusia dan tidak melibatkannya dalam persiapan KTT sebagai negara nuklir terbesar kedua: (Kremlin menegaskan bahwa persiapan KTT ini kurang koordinasi dengan Rusia. Studi tentang isu-isu keamanan nuklir memerlukan upaya bersama dan mempertimbangkan kepentingan serta posisi pihak lain. Demikian dikatakan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov. Namun, ia menjelaskan secara langsung bahwa Moskow menghadapi kekurangan kerja sama selama persiapan KTT dalam mempelajari isu-isu dan topik yang tercantum dalam agenda... bersama dengan kampanye media yang provokatif dari pihak Amerika Serikat). (Russia Today, 31/3/2016).

Tindakan Washington selama undangan KTT dan saat penyelenggaraannya menunjukkan apa yang bisa digambarkan sebagai peremehan hingga tingkat penghinaan terhadap Rusia, yang mendorong Putin untuk tidak hadir. Meskipun alasannya adalah pengabaian Amerika terhadap Rusia dalam persiapan dan prosedur konferensi, tanggapan Amerika terhadap ketidakhadiran Putin justru lebih dingin dan meremehkan dibandingkan masa Perang Dingin (Cold War). Wakil Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Ben Rhodes, mengatakan: "Kami meyakini bahwa Rusia dengan keputusannya untuk tidak berpartisipasi dengan delegasi tingkat tinggi dalam KTT Keamanan Nuklir di Washington minggu ini, pada dasarnya telah membuang peluang bagi dirinya sendiri, dan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah mengisolasi diri mereka sendiri dengan tidak berpartisipasi sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya." (Situs Al-Badil, 31/3/2016). Bahkan, Obama telah merendahkan nilai Rusia dengan menempatkannya di kotak yang sama dengan Korea Utara, ia mengatakan pada akhir KTT Nuklir: "Masih banyak pekerjaan yang diperlukan untuk mengurangi persenjataan nuklir Rusia dan Korea Utara," seraya menambahkan, "Pekerjaan kami belum selesai karena masih banyak bahan nuklir yang harus diamankan di tingkat dunia." (Al-Jazeera Net, 2/4/2016). Begitulah tampak jelas sejauh mana peremehan Amerika terhadap Rusia dalam masalah KTT Nuklir!

b- Adapun perang antara Azerbaijan dan Armenia... Pertempuran pecah secara tiba-tiba di sepanjang garis gencatan senjata antara Armenia dan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh pada malam 2/4/2016... Kepemimpinan politik dan militer di Baku, ibu kota Azerbaijan, mengadakan pertemuan mendesak, begitu pula Armenia yang presidennya, Sargsyan, menyatakan: "Ini adalah pertempuran bersenjata yang paling serius sejak gencatan senjata tahun 1994." (Al-Jazeera Net, 3/4/2016). Dapat disimpulkan bahwa pengaruh Rusia sangat stabil di Armenia yang menampung salah satu basis militer Rusia terbesar, yaitu Divisi 102 Angkatan Darat Rusia yang menempatkan sekitar 5.000 tentara Rusia. Rusia memberikan hibah dan pinjaman kepada negara Armenia yang miskin sumber daya, serta memberikan dukungan militer selama masa konflik dengan Azerbaijan atas wilayah Nagorno-Karabakh sebelum dan sesudah runtuhnya Uni Soviet. Rusia adalah mediator yang memaksakan gencatan senjata tahun 1994 antara kedua pihak, yang menguntungkan Armenia karena Armenia dan sekutunya di Nagorno-Karabakh menguasai penuh wilayah Azeri tersebut dan menduduki 9% wilayah Azerbaijan lainnya di barat, selatan, bahkan timur wilayah tersebut. Oleh karena itu, Rusia sangat berkepentingan untuk menghentikan perang terakhir ini... Adapun peran Amerika dalam perang yang berkobar ini... dilakukan dari balik layar bahkan tanpa layar. Situs Al-Masry Al-Youm pada 31/3/2016 melaporkan bahwa (Presiden Azerbaijan pada hari Rabu 30/3/2016 di Washington, di hadapan Menteri Luar Negeri AS Kerry, menuntut agar Armenia "segera" menarik pasukannya dari Nagorno-Karabakh, wilayah yang konfliknya telah coba diselesaikan oleh Washington selama bertahun-tahun. Kerry menerima Presiden Azerbaijan di sela-sela KTT internasional tentang keamanan nuklir yang diselenggarakan oleh Presiden Barack Obama pada hari Kamis dan Jumat. Aliyev mengatakan kepada wartawan di hadapan Kerry, "Kami berterima kasih kepada pemerintah Amerika Serikat atas upayanya dalam menemukan cara untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan antara Armenia dan Azerbaijan." Ia menambahkan bahwa "konflik tersebut harus diselesaikan berdasarkan resolusi Dewan Keamanan yang menuntut penarikan segera dan tanpa syarat pasukan Armenia dari wilayah kami." Sementara itu, Kerry menyerukan "solusi akhir bagi konflik beku di Nagorno-Karabakh yang harus melalui solusi negosiasi").

Jika Azerbaijan dengan minyak dan pipa transportasinya ke Laut Hitam dan Turki telah menarik perhatian besar Amerika sejak kemerdekaannya tahun 1991 karena kepentingannya dalam konflik Rusia-Amerika, maka pernyataan Presiden Azeri tiga hari sebelum pecahnya pertempuran, dari Washington dan didampingi Menteri Luar Negeri Kerry, menunjukkan tanpa keraguan bahwa Amerikalah yang menyulut api perang di halaman belakang Rusia di Kaukasus. Ini adalah ancaman bagi kepentingan Rusia di Armenia dan Kaukasus, wilayah yang sangat sensitif bagi Rusia... Artinya, Amerika dengan meledakkan perang ini bertujuan untuk memberikan tekanan di "perut" Rusia...

Kesimpulannya adalah bahwa merupakan kebodohan politik jika Putin mengira bahwa dengan kesepakatan kriminalnya yang kotor bersama Amerika di Suriah, ia akan mendapatkan simpati Amerika untuk meredakan masalah regional dan internasionalnya. Sebaliknya, batas kesepakatan itu akan tetap terbatas pada masalah Suriah karena Rusia melayani kepentingan Amerika di sana, dan tidak selalu meluas ke masalah internasional lainnya. Hal ini menjelaskan ketegangan hubungan Amerika-Rusia dalam KTT Nuklir dan perang antara Azerbaijan-Armenia meskipun hubungan tampak tenang di Suriah.

Kedua: KTT Nuklir dan Tujuannya:

1- Selama Perang Dingin, senjata nuklir memainkan peran mendasar dalam persaingan kekuatan besar dan dalam menetapkan keamanan negara. Dilema keamanan yang muncul akibat ketidakseimbangan senjata konvensional antar negara mendorong satu sama lain untuk memperoleh lebih banyak senjata konvensional dan nuklir dalam upaya memulihkan keseimbangan. Amerika Serikat adalah negara pertama yang membuat bom nuklir, yang memberinya keunggulan besar atas Rusia. Rusia merasa terancam oleh senjata nuklir sampai ia memilikinya, dan dengan demikian, berhasil memulihkan keseimbangan militer dengan Amerika... Demikian pula, Prancis dan Inggris yang merasa terancam dan takut oleh persenjataan nuklir yang dikuasai Rusia, mencoba dan berusaha memulihkan keseimbangan dengan Rusia. Tiongkok juga yang merasa lemah di hadapan Rusia berusaha dan berhasil memiliki bom nuklir. Perasaan lemah ini juga mendorong India untuk membeli bom nuklir guna menghadapi agresi Tiongkok, yang kemudian diikuti oleh Pakistan dalam upaya mencapai keunggulan militer atas India. Adapun negara-negara yang tidak berambisi memiliki aktivitas nuklir, mereka beraliansi baik dengan Amerika atau Uni Soviet untuk melindungi diri dari senjata nuklir. Perlindungan ini berbentuk payung nuklir (nuclear umbrella), misalnya Amerika menyediakan payung nuklir bagi Eropa dan banyak negara di kawasan Asia-Pasifik untuk melindungi mereka dari Uni Soviet.

2- Pada periode pasca Perang Dingin, pencegahan (deterrence) nuklir membuka jalan bagi gerakan pelucutan senjata nuklir. Banyak yang merasa bahwa setelah runtuhnya Uni Soviet, lingkungan keamanan internasional telah berubah selamanya, dan perdamaian nuklir yang dipaksakan secara palsu setelah Hiroshima dan Nagasaki tidak lagi berlaku. Globalisasi, perubahan iklim, munculnya organisasi dan entitas non-negara, serta munculnya ketegangan etnis di ruang pasca Uni Soviet, semuanya berarti bahwa jika senjata nuklir yang dulunya di tangan Uni Soviet tidak disingkirkan dengan benar, maka senjata tersebut dapat jatuh ke tangan yang salah dan menyebabkan kerusakan besar... Menghadapi situasi ini, negara-negara baru yang memiliki senjata nuklir seperti Ukraina dan Kazakhstan dengan cepat melepaskan senjata nuklir mereka sebagai imbalan atas jaminan regional.

3- Lingkungan keamanan baru ini mendorong dua konsep dasar ke depan, yaitu pelucutan senjata (disarmament) dan non-proliferasi senjata nuklir. Karena Amerika adalah satu-satunya kekuatan adidaya di dunia, orang-orang di seluruh dunia melihat ke arah Amerika dan berharap agar ia mengambil inisiatif dalam bidang pelucutan dan non-proliferasi nuklir. Namun, baik pemerintahan Clinton maupun Bush melakukan sangat sedikit hal dalam hal ini. Pada Januari 2007, mantan pejabat Amerika yaitu Henry Kissinger, George Shultz, Bill Perry, dan Sam Nunn (yang dikenal sebagai "Gang of Four" untuk pencegahan nuklir), mengusulkan agar Amerika Serikat mendedikasikan dirinya untuk melenyapkan senjata nuklir... Namun demikian, pelucutan senjata nuklir tidak ditempatkan di inti agenda nuklir kecuali saat Obama menjabat presiden... Pada tahun 2009, Obama berbicara dari Praha di hadapan kerumunan 20.000 orang bahwa: "Amerika Serikat secara moral bertanggung jawab untuk berupaya membebaskan dunia dari senjata nuklir. Ia mengatakan: 'Keberadaan ribuan senjata nuklir adalah warisan yang lebih berbahaya daripada Perang Dingin. Hari ini Perang Dingin telah hilang, namun ribuan senjata ini belum hilang'." (Situs BBC, 5/4/2009)... Setelah itu, diadakanlah empat KTT Nuklir:

  • KTT Nuklir pertama 12-13/4/2010 di Washington...
  • KTT Nuklir kedua 26-27/3/2012 di Seoul, Korea Selatan...
  • KTT Nuklir ketiga 24-25/3/2014 di Den Haag, Belanda...
  • KTT Nuklir keempat 31/3-1/4/2016 di Washington...

4- Kebijakan Amerika dalam apa yang disebutnya pelucutan senjata nuklir bukanlah bertujuan untuk pelucutan senjata nuklir secara nyata dari seluruh negara sesuai rencananya, melainkan bertujuan untuk melucuti senjata negara-negara lain sementara senjata nuklir tetap berada di tangannya saja. Jika tidak mampu, maka maksimal yang bisa dilakukan menurut rencananya adalah pengurangan persentase tertentu dari stok senjata nuklir negara-negara nuklir, dan Amerikalah yang mengendalikan persentase ini. Karena stok nuklirnya adalah yang tertinggi, maka dengan menetapkan persentase yang diterapkan pada negara-negara nuklir, Amerika akan mengurangi stok negara-negara lain sehingga apa yang mereka miliki menjadi tidak efektif jika diukur dengan stok Amerika. Oleh karena itu, pernyataan penutup dari empat KTT Nuklir adalah pernyataan yang longgar, tidak ada teks yang menunjukkan pelucutan senjata nuklir secara nyata dari dunia. Hal ini tampak jelas dalam pernyataan penutupnya, dan jika kita mengambil pernyataan penutup KTT keempat yang merupakan yang paling menonjol, kita akan mendapati bahwa isinya tidak lebih dari teks umum yang tidak mengikat dan tidak berguna dalam pelucutan senjata nuklir. Pernyataan penutup tersebut menyatakan:

(Negara-negara yang berpartisipasi dalam KTT "Keamanan Nuklir" keempat di Washington menegaskan komitmen mereka terhadap pelucutan senjata nuklir, pembatasan penyebarannya, dan penekanan pada penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai... KTT tersebut memperingatkan dalam pernyataan penutupnya bahwa "ancaman terorisme nuklir dan radiasi masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi keamanan internasional dan bahwa ancaman tersebut terus berkembang"... Para pemimpin dunia menegaskan komitmen mereka untuk mencegah jatuhnya senjata nuklir ke tangan ekstremis, namun mereka memperingatkan bahwa ancaman tersebut "terus berkembang"... Para pemimpin mengatakan dalam pernyataan bersama di KTT Keamanan Nuklir yang diselenggarakan Washington: "Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencegah aktor non-negara memperoleh nuklir dan bahan radioaktif lainnya yang dapat digunakan untuk tujuan jahat"... Para pemimpin menambahkan dalam pernyataannya: "Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap tujuan bersama kami untuk pelucutan senjata nuklir, non-proliferasi nuklir, dan penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai"... Mereka melanjutkan: "Kami berkomitmen untuk memperkuat lingkungan internasional yang damai dan stabil dengan cara mengurangi risiko terorisme nuklir dan memperkuat keamanan nuklir"... KTT Keamanan Nuklir keempat diluncurkan di Washington Kamis lalu untuk membahas cara memperkuat langkah-langkah keamanan bahan nuklir dan mencegah jatuhnya ke tangan teroris dengan partisipasi para pemimpin lebih dari 50 negara dan organisasi). (Situs Al-Youm "WAS-Washington", 2/4/2016) - Selesai.

Dengan merenungkan pernyataan ini, tidak terlihat adanya teks praktis untuk pelucutan senjata global. Bahkan mereka tidak menyebutkan apa pun tentang kepemilikan negara Yahudi atas gudang senjata nuklir di kawasan yang seharusnya bebas dari senjata nuklir. Padahal mereka selalu mengatakan bahwa mewujudkan keamanan nuklir yang sejati dimulai dari kerja serius untuk menciptakan kawasan bebas senjata pemusnah massal! Demikianlah, maksud dari KTT ini bukanlah pelucutan senjata nuklir secara nyata di dunia, melainkan maksudnya adalah kendali nuklir Amerika atas urusan negara-negara lain... Hal ini ditegaskan oleh Obama dalam pernyataannya tentang konferensi tersebut bahwa Amerika ingin mengatur dan mengendalikan senjata nuklir: (Presiden AS Barack Obama: "Masih ada sejumlah besar bahan nuklir dan radioaktif di seluruh dunia yang perlu diamankan. Stok plutonium dunia terus bertambah, persenjataan nuklir meluas di beberapa negara, dan mungkin ada senjata nuklir taktis kecil yang rentan terhadap pencurian." Obama menjelaskan bahwa negaranya akan menjalankan perannya untuk melindungi bahan nuklir sampai negara-negara lain meningkatkan prosedur keamanan dan transparansi). (Situs euronews, 2/4/2016). Demikian pula Obama mengatakan: (Presiden AS Barack Obama dalam konferensi pers setelah berakhirnya KTT pada Sabtu ini mengatakan bahwa ada sejumlah besar bahan nuklir di seluruh dunia yang harus diamankan seiring pertumbuhan stok plutonium dunia... Obama menganggap bahwa masih banyak pekerjaan yang diperlukan untuk mengurangi persenjataan nuklir Rusia dan Korea Utara, seraya mengatakan bahwa Amerika Selatan telah bebas dari bahan nuklir, dan bahwa 14 negara - termasuk Taiwan, Libya, dan Vietnam - telah menyingkirkan uranium dan plutonium yang diperkaya). (Al-Jazeera, 2/4/2016).

Begitulah, Amerika ingin melalui KTT ini untuk memegang kendali atas senjata nuklir agar ia yang mengaturnya. Bahkan konferensi-konferensi yang diadakannya pun berada di bawah kendalinya, ia mengundang siapa yang dikehendaki dan melarang siapa yang dikehendaki, serta memprovokasi atau menghina siapa yang dikehendaki dengan menganggap dirinya sebagai tuan dunia. Hal itu tidak lain karena ia tidak menemukan negara yang berarti yang berani menentangnya!

Keadaan Amerika bersama negara-negara yang tunduk kepadanya akan tetap seperti ini sampai terbitnya fajar Khilafah, di mana saat itu kekuatan Islam akan mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka, dan orang-orang yang berdosa itu akan berbalik ke belakang tanpa mendapatkan kebaikan apa pun.

سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

"Orang-orang yang berdosa itu, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (QS. Al-An'am [6]: 124)

2 Rajab 1437 H 9 April 2016 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda