Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Realitas dan Penyebab Krisis Ekonomi di Mesir

May 04, 2022
2854

Pertanyaan:

Pasar Mesir sedang mengalami kenaikan harga yang sangat besar, dan Bank Sentral telah mendevaluasi nilai Pound. Kemudian negara mengumumkan niatnya untuk mengadakan dialog nasional dengan semua partai, serta membebaskan tiga ribu tahanan. Lantas, apa realitas dan penyebab krisis ekonomi di Mesir ini?

Jawaban:

Ya, berbagai faktor dan kondisi internasional telah bersatu membentuk "awan hitam" besar bagi ekonomi Mesir, dan awan hitam ini telah mencapai skala bencana. Beberapa berita menunjukkan bahwa rezim dan pihak-pihak di belakangnya kini berada dalam keadaan panik dan waswas menunggu apa yang akan terjadi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pertama: Mesir mengimpor 85% kebutuhan gandumnya dari Rusia dan Ukraina (Al-Araby, 27/02/2022). Dengan meletusnya perang Rusia melawan Ukraina, Mesir menjadi salah satu korban tidak langsung terbesar dari perang ini. Hal ini mengancam ketersediaan dan harga roti bagi rakyat Mesir. Meskipun para pejabat di Mesir menyatakan bahwa stok gandum aman hingga akhir tahun ini, harga gandum melonjak drastis akibat perang di Ukraina dan terganggunya ekspor dari Rusia serta Ukraina. (Bloomberg mengungkapkan bahwa pembelian terbaru yang dilakukan oleh Mesir sebagai pembeli gandum terbesar di dunia, menunjukkan lonjakan besar dalam biaya pembelian dibandingkan harga sebelum invasi Rusia ke Ukraina... Bloomberg menambahkan bahwa dalam tender hari Rabu lalu, pembeli yang dikelola negara mendapatkan 350.000 ton dengan rata-rata harga 490 dolar per ton setelah memperhitungkan biaya pengapalan. Ini merupakan kenaikan besar sebesar 44% dari harga yang dibayarkan pada pertengahan Februari, tepat sebelum perang pecah, dan merupakan yang tertinggi dalam setidaknya enam tahun terakhir... Arabi 21, 19/04/2022). Kenaikan harga gandum adalah awan hitam pertama!

Kemudian, sanksi Barat terhadap Rusia karena perang di Ukraina juga menyebabkan kenaikan harga pengiriman dan minyak. Ini membentuk awan hitam kedua di Mesir dan semakin membebani anggaran negara yang sudah terbebani oleh korupsi pemerintah yang sangat besar. Awan hitam ketiga adalah kenaikan tajam harga pakan unggas dan ternak serta pupuk secara global setelah terhentinya pasokan dari Rusia atau karena produksi globalnya, terutama di Eropa, bergantung pada gas dari Rusia. (Dr. Mona Mehrez, Wakil Menteri Pertanian, menegaskan bahwa Mesir mengimpor 95% pakan untuk sektor perunggasan. Sada El-Balad, 12/05/2018). Persentase yang tinggi ini menunjukkan bahwa rezim telah meletakkan ketahanan pangan negara di tangan pihak asing.

Kedua: Selama beberapa tahun terakhir, Mesir telah menjadi produsen gas besar dari ladang-ladang di Laut Mediterania. Dengan latar belakang perang di Ukraina dan upaya Amerika untuk menyediakan gas alam bagi negara-negara Eropa dari berbagai negara sebagai alternatif gas Rusia, jelas bahwa pemerintah Mesir bekerja sama dengan Amerika dalam menyalurkan gas alam cair (liquefied natural gas) Mesir ke Eropa untuk melaksanakan rencana Amerika. Hal ini menyebabkan kenaikan harga gas yang besar di Mesir; harga tabung gas untuk memasak rumah tangga naik untuk kedua kalinya di Mesir sebesar 7% (CNN Arabic, 21/03/2022). Selain membebani warga biasa yang sebelumnya mengira bisa bernapas lega setelah penemuan gas Mesir di Laut Mediterania dan transformasi Mesir menjadi pusat regional pencairan gas, kenaikan ini juga memukul seluruh sektor produktif, termasuk sektor yang sangat vital bagi konsumsi warga seperti unggas yang peternakannya bergantung pada pemanas (Independent Arabia, 10/04/2022). Dengan demikian, jelas bahwa ketundukan rezim Mesir terhadap kebijakan internasional Amerika telah memukul kekuatan rakyat Mesir, belum lagi kehidupan ekonomi mereka secara umum. Kenaikan harga gas adalah awan hitam lain yang diciptakan oleh rezim demi menyenangkan Amerika!

Ketiga: Setelah Mesir—seperti halnya negara yang disebut Barat sebagai pasar berkembang (emerging markets)—mendapatkan keuntungan dari hot money (dana panas) Amerika dan internasional selama periode virus Corona, di mana miliaran dolar dana panas masuk ke pasar Mesir selama 2020 dan 2021—yaitu periode suku bunga nol di Amerika dan banyak negara kapitalis—namun Amerika, karena alasan situasi ekonomi dan politik internalnya, mulai menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga di Amerika secara tidak sengaja membentuk awan hitam besar bagi ekonomi Mesir, di mana sekitar 15 miliar dolar AS dari total sekitar 25 miliar dolar dana panas di pasar Mesir mulai mengalir keluar menuju pasar Amerika: (Bursa efek Mesir kehilangan sekitar 4 miliar dolar dari nilai pasarnya selama kuartal pertama tahun 2022, didorong oleh gelombang penjualan terus-menerus oleh investor asing sejak awal tahun. Arabi 21, 27/04/2022). (Disebutkan pula bahwa investasi asing tidak langsung "dana panas" mencapai level tertingginya pada September lalu ketika mencapai sekitar 25 miliar dolar. Independent Arabia, 08/04/2022). Dana panas ini, selama berada di Mesir, menjadi semacam pelindung yang mendukung Pound yang tampak stabil pada tahun 2020 dan 2021. Dengan hilangnya dana ini, Bank Sentral Mesir terpaksa menaikkan suku bunga dan mendevaluasi nilai Pound, sebagai indikator krisis keuangan besar yang diderita negara di Mesir: (Menurut kantor berita Bloomberg Amerika, keputusan terbaru Bank Sentral Mesir untuk menaikkan suku bunga dan mendevaluasi Pound terjadi setelah penarikan dana mencapai 15 miliar dolar dari pasar utang lokal dalam tiga minggu terakhir... Al Jazeera, 24/03/2022). (Bank Sentral Mesir, pada 21 Maret lalu, mendevaluasi nilai tukar Pound terhadap dolar AS sekitar 14 persen, setelah penurunan tajam likuiditas mata uang asing akibat keluarnya investor asing dari investasi instrumen utang pemerintah, setelah The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 0,5 persen, yang merupakan kenaikan pertama sejak 2018. Hal ini mendorong Bank Sentral Mesir untuk menaikkan suku bunga simpanan dan pinjaman sebesar 100 basis poin (satu persen), yang kemudian diikuti dengan devaluasi nilai Pound. Independent Arabia, 08/04/2022).

Keempat: Dengan keputusan mendevaluasi Pound ini, secara otomatis harga semua jenis barang impor dari luar negeri naik drastis, dan jumlahnya sangat banyak. Rezim telah membentuk awan hitam besar yang menyelimuti ekonomi Mesir, namun bukannya membawa hujan, ia justru membawa racun yang membebani kehidupan rakyat Mesir. Harga sebagian besar barang di pasar Mesir melonjak, dan mata uang asing yang diperlukan untuk mengimpor gandum, minyak, dan komoditas pangan lainnya serta input produksinya menjadi langka, belum lagi barang-barang industri. Hal ini diperparah setelah negara, melalui kebijakan pertanian yang gagal selama beberapa dekade, mengubah lahan pertanian subur di lembah Nil dari menanam gandum dan elemen ketahanan pangan lainnya menjadi menanam kapas atas arahan Amerika untuk memastikan kontrol terhadap negara dan rakyat Mesir. Pastinya, karena khawatir akan stabilitas rezim Sisi di balik layar dan di bawah tekanan semua awan hitam ini—yang berkumpul secara tak terduga pada saat yang sama sehingga menimbulkan bahaya serius bagi rezim Mesir—pemerintah mulai meminta bantuan! Maka datanglah Arab Saudi dengan simpanannya dan negara-negara Teluk lainnya. (Menurut kantor berita Saudi SPA, yang menyebutkan bahwa atas arahan Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, Riyadh menyetorkan 5 miliar dolar ke Bank Sentral Mesir... Bank Sentral Mesir juga telah memperpanjang jatuh tempo dua deposito Saudi senilai 2,3 miliar dolar dari pembayaran pada April 2022 menjadi Oktober 2026, selain memperpanjang jatuh tempo deposito Kuwait senilai dua miliar dolar dari pembayaran pada April mendatang menjadi September 2022, menurut data resmi. Independent Arabia, 08/04/2022).

Kelima: Barangkali yang menunjukkan parahnya krisis keuangan dan ekonomi di Mesir adalah bahwa rezim yang gagal ini mengandalkan utang sebagai pilar utama untuk menyuntikkan dana ke dalam ekonomi. Permohonan bantuan dan deposito Teluk tidaklah mencukupi karena besarnya kebutuhan akan dana. (Pemerintah Mesir bermaksud meminjam 634 miliar pound Mesir "34,6 miliar dolar AS" pada kuartal keempat tahun fiskal 2021/2022, yaitu sebelum akhir Juni mendatang, menurut surat kabar Daily News Egypt yang berbahasa Inggris. Arabi 21, 10/04/2022). Pinjaman yang masuk ke Mesir rentan terhadap korupsi pemerintah yang besar, di mana para pejabat rezim menjarah dana tersebut, lalu membiarkan negara untuk melunasinya, padahal negara saat ini tidak mampu melakukannya. Yang menunjukkan bahwa negara tidak mendapat manfaat dari kebijakan utang tersebut, dan volumenya selama beberapa dekade korupsi negara telah mencapai jumlah yang sangat besar, adalah fakta bahwa bunga "riba" atas pinjaman tersebut mulai memakan lebih dari separuh pendapatan negara dari pajak: (Di tingkat parlemen, anggota parlemen Diaa al-Din Daoud mengkritik defisit anggaran yang terus berlanjut dan ekspansi utang. Ia mengatakan bahwa "Mesir menghadapi krisis pendanaan yang sangat besar," mencatat bahwa "angka utang publik meningkat sebesar 16,8 persen per tahun, yang berarti rakyat Mesir hidup dalam utang saat ini." Ia menyatakan dalam pidatonya di parlemen Mesir saat membahas laporan akhir anggaran 2020-2021 bahwa "ada cicilan utang yang memakan 51 persen dari pengeluaran anggaran, yang berarti Mesir sedang menghadapi bencana yang tidak bisa dihindari." Arabi 21, 22/04/2022). Begitulah, rezim di Mesir tidak menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah ekonomi kecuali dengan melipatgandakan masalah melalui lebih banyak utang dan tunduk pada syarat-syarat Dana Moneter Internasional (IMF)!

Keenam: Kegagalan rezim telah mencapai puncaknya hingga presidennya mengaitkan kelemahan ekonomi ini dengan pertumbuhan penduduk. Padahal pertumbuhan penduduk, jika diurus dengan baik, akan membantu pertumbuhan ekonomi dan bukan memperlemahnya. Negara-negara di Eropa dan Jepang bahkan mengimpor tenaga kerja dan imigran untuk mengompensasi lemahnya pertumbuhan penduduk demi mengembangkan ekonomi mereka. Namun, Presiden Mesir justru memberikan alasan-alasan yang menyimpang (Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengatakan bahwa "tantangan di Mesir lebih besar daripada pemerintah mana pun, dan kami sedang mengerjakan rencana di mana kita semua berkontribusi." Sisi menambahkan: besarnya pertumbuhan ekonomi di Mesir tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan penduduk, oleh karena itu kami berusaha memperkecil kesenjangan antara pertumbuhan negara dan pertumbuhan penduduk. Jika kita tidak bekerja untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, kita tidak akan merasakan perbaikan ekonomi apa pun... Presiden juga menekankan bahwa tantangan ini lebih besar daripada presiden atau pemerintah mana pun, tetapi tidak lebih besar dari rakyat Mesir... Sisi juga menegaskan bahwa jika bukan karena reformasi ekonomi, situasinya akan jauh lebih sulit selama krisis Corona. RT, 21/04/2022).

Ketujuh: Salah satu hal yang paling ditakuti oleh rezim Mesir adalah bahwa kondisi ini memaksanya untuk memangkas "suap" kecil yang diberikan kepada kelompok-kelompok pendukungnya melalui "kartu jatah pangan" (tamween) yang dikeluarkan oleh Kementerian Suplai. Kartu-kartu itu dulunya dimanfaatkan oleh para pengikutnya untuk mendapatkan beberapa komoditas dengan harga bersubsidi. Namun hari ini, kelompok-kelompok ini menyusut dengan cepat, yang berarti hilangnya basis dukungan rakyat dari bawah kaki rezim dan membuatnya rentan jatuh ketika protes rakyat dimulai: (Beberapa hari lalu, Kementerian Suplai mengumumkan revisi baru pada sistem kartu subsidi setelah mengumumkan pengecualian delapan kategori dari sistem tersebut mulai Mei mendatang... Subsidi komoditas dalam anggaran tahun fiskal 2021-2022 mencapai sekitar 108 miliar Pound (5,8 miliar dolar), terbagi antara 87 miliar Pound (4,6 miliar dolar) untuk subsidi komoditas pangan, 18 miliar Pound (969 juta dolar) untuk bahan bakar, 665 juta Pound (36 juta dolar) untuk petani, dan 2,5 miliar Pound (135 juta dolar) untuk subsidi obat-obatan dan susu formula bayi, sementara pemerintah telah menghapus subsidi listrik dan air sejak dua tahun lalu hingga menjadi nol. Negara telah memangkas subsidi komoditas sekitar 54 persen dalam lima tahun. Independent Arabia, 25/04/2022).

Kedelapan: Hal lain yang menunjukkan besarnya kekhawatiran rezim di Mesir terhadap konsekuensi dari krisis yang nyaris tiba-tiba ini—yang menjadikan Mesir sebagai salah satu korban tidak langsung pertama dari perang di Ukraina dan keputusan internal Amerika (kenaikan suku bunga), di atas krisis yang diciptakan rezim bagi rakyatnya—adalah langkah rezim Mesir untuk membebaskan narapidana dan menyerukan dialog. (Kementerian Dalam Negeri Mesir mengumumkan pada hari Rabu bahwa Presiden Abdel Fattah al-Sisi mengeluarkan pengampunan yang mencakup 3.273 narapidana yang dihukum dalam kasus kriminal. RT, 27/04/2022). Hal ini terjadi setelah persiapan cepat dalam beberapa hari terakhir untuk mengaktifkan komite pengampunan tanpa mengungkapkan alasan mengapa tidak diaktifkan dalam waktu lama sebelum krisis ekonomi ini. Sisi pun mendadak menjadi "merpati perdamaian" yang menyerukan dialog dengan semua pihak: (Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, pada hari Selasa, menginstruksikan untuk mengadakan "dialog nasional" dengan semua kekuatan politik tanpa "diskriminasi atau pengecualian". Hal itu disampaikan saat partisipasinya dalam acara tahunan "Iftar Keluarga Mesir"... Surat kabar Al-Ahram melaporkan bahwa Sisi "menugaskan manajemen Konferensi Pemuda Nasional untuk berkoordinasi dengan semua aliran politik kepartaian dan pemuda guna mengelola dialog politik tentang prioritas kerja nasional pada tahap saat ini." Ia meminta agar "hasil dialog ini diserahkan kepadanya secara pribadi, dengan janji akan menghadiri tahap akhirnya." Anadolu Agency, 26/04/2022).

Kesembilan: Dengan semua ini, menjadi jelaslah realitas krisis keuangan dan ekonomi di Mesir. Ini adalah krisis kronis yang dihasilkan dari kebijakan pemerasan ekonomi terhadap rakyat agar mereka tetap tunduk kepada rezim pengkhianat ini. Namun, banyak "awan hitam" yang berkumpul secara tiba-tiba karena perang di Ukraina dan keputusan-keputusan Amerika terkait situasi internalnya setelah "Corona" (dan dalam rangka memperkuat peluang Partai Demokrat untuk memenangkan pemilihan paruh waktu Kongres AS mendatang pada November 2022). Semua realitas ekonomi ini, baik yang lama maupun yang baru, telah menyalakan lonceng bahaya di koridor rezim Mesir. Negara-negara Teluk dan entitas Yahudi pun bergegas mencoba menyelamatkan rezim di Mesir. Namun, tampak jelas bahwa krisis ini sangat berat dan besar, yang dihasilkan dari kebijakan ekonomi destruktif yang diikuti oleh negara selama beberapa dekade atas arahan Amerika untuk memastikan rakyat Mesir berlutut. Hari ini, di bawah tekanan awan hitam yang tiba-tiba ini, kebijakan tersebut justru berbalik menyerang rezim, yang terpaksa menghentikan dukungan bagi kelompok-kelompok yang dulunya mendukungnya. Hal ini akan menghilangkan dukungan rakyat, sehingga rezim menjadi terbuka dan rentan terhadap guncangan hebat, yang bisa berkembang menjadi guncangan mematikan jika rakyat bersikeras mencabut rezim hingga ke akar-akarnya.

Semoga dalam krisis dan penderitaan yang dialami rakyat Mesir ini terdapat peluang bagi orang-orang yang ikhlas di umat ini untuk mendukung para pemuda Hizbut Tahrir yang berjuang untuk mengubah rezim yang rusak ini, dan menegakkan Khilafah berdasarkan metode kenabian, sehingga pertanian dan peternakan akan hidup makmur, serta Islam dan kaum Muslim menjadi mulia.

وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قريبًا

"Dan mereka bertanya: 'Kapan itu (akan terjadi)?' Katakanlah: 'Mudah-mudahan waktu itu dekat.'" (QS. Al-Isra' [17]: 51)

3 Syawal 1443 H 03/05/2022 M

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda