Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Seputar Makna Hakiki Demokrasi

October 02, 2011
2350

Pertanyaan:

Terdapat ungkapan dalam buku Al-Ajhizah (Struktur Negara Khilafah) halaman 16 yang berbunyi: "Sistem pemerintahan dalam Islam bukanlah demokrasi dalam makna hakiki demokrasi." Ungkapan tersebut seolah-olah mengandung ambiguitas... Lantas, apa faedah dari penyebutan "makna hakiki" tersebut? Mohon penjelasannya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Apa yang tertuang dalam buku Al-Ajhizah halaman 16 adalah sebagai berikut:

"Dan sistem pemerintahan dalam Islam bukanlah demokrasi dalam makna hakiki demokrasi, ditinjau dari sisi bahwa wewenang tasyri' (legislasi) ada pada rakyat; rakyatlah yang menghalalkan dan mengharamkan, serta menetapkan terpuji (husn) dan tercela (qubh). Juga ditinjau dari sisi tidak terikatnya dengan hukum-hukum syarak atas nama kebebasan. Orang-orang kafir menyadari bahwa kaum Muslim tidak akan menerima demokrasi dengan makna hakikinya ini. Oleh karena itu, negara-negara kafir penjajah (terutama Amerika saat ini) mencoba memasarkannya di negeri-negeri kaum Muslim dengan cara menyesatkan mereka, seolah-olah demokrasi hanyalah mekanisme pemilihan penguasa... Mereka memutarbalikkan bagian paling mendasar di dalamnya, yaitu bahwa tasyri', penghalalan, dan pengharaman menjadi milik manusia, bukan milik Tuhan manusia... Mereka menjauhkan dari makna hakiki yang diletakkan oleh para pencetusnya, yakni bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, di mana rakyat berhak menetapkan hukum apa pun yang mereka kehendaki berdasarkan pendapat mayoritas; menghalalkan dan mengharamkan, menetapkan terpuji dan tercela. Selain itu, individu dianggap 'bebas' dalam perilakunya, ia boleh melakukan apa saja yang ia inginkan; meminum khamar, berzina, murtad, serta menghina dan mencaci hal-hal yang disucikan, semua itu di bawah nama demokrasi dan kebebasannya. Inilah demokrasi, dan inilah realitas, makna, serta hakikatnya. Maka bagaimana mungkin seorang Muslim yang beriman kepada Islam berani mengatakan bahwa demokrasi itu boleh, atau bahwa demokrasi adalah bagian dari Islam?!

Adapun mengenai masalah umat memilih penguasa, yakni memilih Khalifah, maka hal itu adalah perkara yang telah ada nas-nya..." Selesai.

Sudah jelas dari kutipan tersebut bahwa penyebutan "makna hakiki" bertujuan untuk membedakan antara demokrasi berdasarkan makna istilahnya yang sebenarnya dengan makna yang mereka pasarkan untuk demokrasi bahwa ia hanyalah sebuah pemilihan... Hal itu dikarenakan sebagian orang menyangka bahwa demokrasi hanyalah proses pemilihan, padahal ini bukanlah makna hakiki dari demokrasi.

Adapun pemilihan penguasa dan pembaiatannya, hal ini telah ada dalam Islam berabad-abad sebelum Barat mengenalnya...

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda