Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Seputar Qadha dan Qadar

July 23, 2015
8380

(Seri Jawaban Syekh al-Alim Ata bin Khalil Abu al-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan Para Pengikut di Akun Facebook Beliau "Fiqhi")

Kepada Ahmad Nadhif

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Disebutkan dalam kitab At-Taysir fi Ushul at-Tafsir hal. 44: "...atau secara naqli, yaitu melalui jalur penukilan yang terputus (pasti/qath’i) dari Allah SWT di dalam Kitab-Nya yang Mulia atau dari Rasul-Nya ﷺ dalam hadis mutawatir dari beliau ﷺ, seperti iman kepada perkara gaib, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, para nabi terdahulu, hari akhir, dan al-qadar baik dan buruknya. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 136:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa [4]: 136)

Dan beliau ﷺ bersabda sebagai jawaban atas pertanyaan Jibril AS mengenai iman dalam hadis:

أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره من الله تعالى

"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadar, baik dan buruknya berasal dari Allah Ta'ala." Selesai.

Saya memiliki pertanyaan, mohon penjelasannya. Jika hadis tersebut mutawatir sehingga iman kepada al-qadar dibangun di atasnya, mengapa hadis tersebut tidak disebutkan dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Jilid 1 ketika membahas tentang akidah Islam? Bahkan penulis kitab tersebut (semoga Allah merahmatinya) mengatakan bahwa iman kepada al-qadha' wal-qadar dibangun di atas dalil aqli.

Semoga Allah membalas Anda dengan sebaik-baik balasan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum mulai menjawab, saya ingin menarik perhatian Anda pada dua hal yang nampaknya Anda mengalami kerancuan di dalamnya. Kedua hal itu adalah istilah "al-qadar" yang terdapat dalam ayat-ayat dan hadis-hadis, dengan istilah "al-qadha' wal-qadar". Keduanya adalah dua topik yang berbeda dan bukan satu topik yang sama. Topik al-qadha' wal-qadar yang Anda baca dalam kitab An-Nizham atau Asy-Syakhshiyyah berbeda dengan al-qadar yang disebutkan dalam hadis yang Anda tanyakan.

Berikut adalah jawaban atas pertanyaan Anda:

1- Apa yang tercantum dalam riwayat Muslim tentang sabda Nabi ﷺ menjawab pertanyaan Jibril AS tentang iman:

قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

"Beliau bersabda: 'Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, baik dan buruknya'."

Hadis ini bukanlah hadis mutawatir, melainkan khabar ahad yang sahih. Meskipun demikian, pendalilan dengannya pada posisi yang Anda sebutkan dalam kitab At-Taysir fi Ushul at-Tafsir adalah pendalilan yang benar. Hal itu karena hadis tersebut dijadikan dalil atas "apa yang dituntut untuk diimani" (objek keimanan), bukan dijadikan dalil atas "topik yang dituntut untuk diimani" (pembahasan mendalam akidahnya). Tuntutan untuk beriman kepada Islam bisa dilakukan dengan ayat Al-Qur'an maupun dengan hadis Rasulullah ﷺ, bahkan dengan surat yang beliau ﷺ kirimkan. Rasulullah ﷺ telah mengirimkan surat melalui utusan-utusan yang beliau utus kepada para raja untuk menyeru mereka memeluk Islam...

2- Namun, ketika menegakkan hujah bahwa al-qadar adalah bagian dari akidah dan orang yang mengingkarinya adalah kafir, serta saat membuktikan bahwa hal itu adalah ilmu Allah, di mana segala sesuatu telah tertulis sejak zaman azali di dalam Lauhul Mahfuzh, maka pada saat itulah digunakan dalil-dalil qath'i. Maka disebutkanlah ayat-ayat qath'i tentang al-qadar dalam makna at-taqdir (penentuan) di zaman azali, yakni bahwa tidak ada sesuatupun di bumi maupun di langit melainkan Allah telah mengetahuinya sejak zaman azali, telah menentukannya sejak zaman azali, dan telah tertulis di Lauhul Mahfuzh sejak zaman azali... Di antara ayat-ayat qath'i tersebut adalah:

Firman Allah SWT:

إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ

"Kecuali istrinya; Kami telah menentukan (qaddarna), bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal." (QS. Al-Hijr [15]: 60)

Makna qaddarna dalam ayat ini adalah penentuan di zaman azali.

Firman Allah SWT:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (qadran) bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Makna likulli syai’in qadran adalah bagi setiap sesuatu ada ketentuan dan waktu yang telah ditetapkan, dan yang dimaksud adalah penentuan di zaman azali.

Firman Allah SWT:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"Katakanlah: 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal'." (QS. At-Tawbah [9]: 51)

Maknanya adalah tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagi kami di zaman azali dan apa yang telah Dia tentukan atas kami, dan kami bertawakal kepada Allah.

Firman Allah SWT:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami lupakan sesuatupun di dalam Al-Kitab." (QS. Al-An'am [6]: 38)

Maknanya adalah melainkan umat-umat seperti kalian yang telah tertulis rezekinya, ajalnya, dan amal perbuatannya, sebagaimana telah tertulis rezeki, ajal, dan amal kalian. Kami tidak meninggalkan dan tidak melalaikan sesuatupun di dalam Lauhul Mahfuzh. Kata al-kitab di sini digunakan untuk menyebut Lauhul Mahfuzh, artinya segala sesuatu tertulis di Lauhul Mahfuzh, dan ini merupakan kinayah (kiasan) dari ilmu Allah, artinya tidak ada sesuatu pun melainkan Allah mengetahuinya.

Firman Allah SWT:

عَالِمِ الْغَيْبِ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Saba [34]: 3)

Artinya, melainkan telah tertulis di Lauhul Mahfuzh, yang merupakan kinayah dari ilmu-Nya SWT berdasarkan dalil ayat itu sendiri.

3- Penting untuk dicatat bahwa al-qadar dengan makna ini—yaitu penentuan di zaman azali atau penulisan di Lauhul Mahfuzh atau ilmu Allah SWT bahwa perkara tertentu akan terjadi—tidak berarti bersikap itikal (pasrah/bersandar) pada ilmu Allah atas terjadinya suatu perbuatan dan tidak mengambil sarana-sarana untuk melakukannya, atau tidak mengambil hukum sebab-akibat. Hal itu karena ilmu Allah tidak tersingkap bagi siapapun sehingga dia tahu apakah sesuatu akan terjadi atau tidak. Oleh karena itu, tidak mungkin mengetahui sesuatu akan terjadi atau tidak kecuali setelah mengambil sarana-sarana untuk melakukannya dan mengerjakannya secara langsung. Setelah itu barulah fakta tersingkap dari sisi ada atau tidak adanya perbuatan tersebut. Dari sini, tidak benar jika seseorang bersikap itikal pada ilmu Allah lalu meninggalkan amal. Hal ini pernah menjadi ganjalan bagi para sahabat, maka Rasulullah ﷺ mengingatkan mereka agar tidak bersikap itikal dan memerintahkan mereka untuk beramal. Bukhari telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah:

فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ: أَلاَ نَتَّكِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لاَ، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ، ثُمَّ قَرَأَ: فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى الآيَةَ

"Lalu seorang pria dari kaum itu bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita berserah diri saja (pasrah)?' Beliau menjawab: 'Jangan, beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan (kepada apa yang ia diciptakan untuknya)', kemudian beliau membaca ayat: 'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa...'"

Ini adalah pernyataan tegas bahwa iman kepada al-qadar tidak berarti bersikap itikal (pasrah tanpa amal), karena al-qadar dan penulisan (ketetapan), yakni ilmu Allah, tidaklah tersingkap bagi seorang pun dari makhluk-Nya. Lantas, atas dasar apa dia bersikap itikal?

Karena itulah Rasulullah ﷺ berkata kepada orang yang bertanya kepada beliau "apakah kita tidak bersikap itikal saja?": Beliau menjawab "Jangan", yakni beliau melarang dari sikap pasrah/bersandar tersebut. Beliau tidak cukup dengan itu, melainkan berkata juga: "Beramallah kalian", yakni beliau memerintahkannya untuk bekerja/beramal. Oleh karena itu, iman kepada al-qadar tidaklah berarti tidak beramal.

Semoga jawaban atas pertanyaan Anda mengenai al-qadar ini telah menjadi jelas.

Saudara Kalian, Ata bin Khalil Abu al-Rashtah

Link Jawaban dari Halaman Facebook Amir: Facebook

Link Jawaban dari Situs Web Amir: Situs Web Amir

Link Jawaban dari Halaman Google Plus Amir: Google Plus

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda