Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawaban Pertanyaan: Seputar Detail Situasi Politik dan Fluktuasinya di Asia Tengah

October 11, 2009
3453

Pertanyaan:

Dapat diamati bahwa situasi politik di Turkistan Barat (Asia Tengah: Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenistan) adalah situasi yang fluktuatif. Terkadang kita mendapati penguasa ini berada di bawah jubah Rusia, namun tak lama kemudian kita dapati dia beralih mengejar Amerika... dan seterusnya. Apakah memungkinkan untuk menjelaskan situasi politik saat ini di republik-republik tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Sebelum masuk ke dalam detail situasi politik dan fluktuasinya di Asia Tengah, hal-hal berikut harus dipahami:

  1. Ketika Uni Soviet runtuh pada tahun 1991 dan republik-republiknya memisahkan diri, Rusia menyadari perlunya mempertahankan ikatan yang kuat dengan republik-republik ini karena mereka berada di wilayah "lambung" (soft underbelly) Rusia. Pada awalnya, Rusia mencoba menyatukan mereka dalam apa yang disebut sebagai "Persemakmuran Negara-Negara Merdeka" (Commonwealth of Independent States), namun banyak dari kelompok itu yang terlepas darinya, dan beberapa tidak bergabung sejak awal seperti tiga negara Baltik. Setelah itu, Rusia beralih ke Organisasi Shanghai, kemudian Keamanan Bersama, lalu Keamanan Kolektif, hingga Pasukan Reaksi Cepat...

Rusia juga memanfaatkan pilar-pilar yang dibangunnya di republik-republik ini selama era Uni Soviet, yang paling menonjol adalah:

a. Perubahan demografi yang diciptakan oleh Uni Soviet, khususnya di republik-republik Asia Tengah, dengan memindahkan penduduk etnis Rusia ke sana. Mereka tetap tinggal di republik-republik tersebut sebagai "lengan Rusia".

b. Pangkalan-pangkalan Rusia yang tersebar di republik-republik tersebut dan tidak semuanya ditarik mundur. Sebagian masih ada di republik Asia Tengah sebagai pusat pengaruh (nufuz) dan garis depan pertahanan bagi Rusia.

c. Situs uji coba nuklir dan rudal yang dilakukan di republik-republik tersebut, khususnya Kazakhstan, karena wilayahnya yang luas.

d. Beberapa ikatan ekonomi dengan negara-negara tersebut seperti jalur pipa gas dan minyak.

  1. Meskipun pembubaran Uni Soviet mengakibatkan keruntuhan Partai Komunis dan penyingkirannya dari tampuk kekuasaan, namun di republik-republik Asia Tengah, para mantan pimpinan Partai Komunis tetap menjadi penguasa. Artinya, mereka yang berkuasa di era Uni Soviet terus melanjutkan kepemimpinannya. Hal ini merupakan bagian dari perencanaan jahat agar otoritas di republik-republik ini tetap memerangi Islam dan para pengembannya bahkan setelah Uni Soviet lenyap, karena kekhawatiran akan penyebaran Islam secara efektif di republik-republik tersebut, sehingga mereka bersatu atas dasar Islam, memerintah dengannya, dan berjihad di jalan-Nya.

  2. Runtuhnya Uni Soviet merupakan kesempatan yang tidak dilewatkan oleh Amerika Serikat. Sebab, selain berada di wilayah lambung Rusia, Asia Tengah juga berbatasan luas dengan Tiongkok, menjadikannya kawasan strategis bagi Amerika. Oleh karena itu, Amerika mulai menyebarkan agen-agennya, aparatnya, intelijennya, dan yang lebih penting lagi adalah uangnya untuk menanamkan pengaruh di republik-republik tersebut.

Demikianlah, Asia Tengah adalah kepentingan vital dan kawasan strategis bagi Rusia dan Amerika. Konflik di antara keduanya begitu mereda akan segera bergejolak kembali. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pengaruh dan jenis keterikatan (’umalah) para penguasa di kawasan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kekuatan pengaruh yang digunakan oleh masing-masing pihak:

  • Rusia memiliki pilar-pilar lamanya: perubahan demografi yang dilakukannya sebelumnya (sebut saja komunitas Rusia di republik-republik tersebut), pangkalan-pangkalan militernya, serta hubungan ekonominya.

  • Amerika menggunakan "wortel" yang murah hati berupa bantuan keuangan, serta memberikan kesan kepada mereka bahwa Rusia bukan lagi negara besar yang harus ditakuti, dibarengi janji perlindungan kepada mereka.

  • Ini dari sisi konflik panas antara Rusia dan Amerika di kawasan tersebut.

  • Di sisi lain, ada permusuhan para penguasa terhadap Islam dan pengemban dakwah Islam, dan ini adalah perkara yang disepakati oleh kedua pihak yang berkonflik.

Setelah itu, kita akan meninjau realitas politik dari republik-republik tersebut:

1- Kirgizstan: Kita mengetahui bagaimana Bakiyev berkuasa dengan dukungan Rusia pada tahun 2005, kemudian terpilih kembali dalam pemilu terakhir yang berlangsung pada 23/7/2009. Dukungan Rusia terhadapnya sangat jelas, sementara Amerika tidak senang dengannya. Kedutaan Besar AS di Bishkek mengeluarkan pernyataan yang berbunyi: "Amerika Serikat berbagi keprihatinan yang diungkapkan oleh beberapa pengamat mengenai pemilihan presiden dan hasilnya. Meskipun beberapa aspek tampak positif dalam proses pemungutan suara, Amerika Serikat bersama dengan catatan awal dari tim pengamat independen melihat bahwa sejumlah besar komitmen internasional Republik Kirgizstan tidak terpenuhi dalam pemilihan tersebut." Pernyataan itu menyerukan "penerapan undang-undang pemilu yang ketat selama seluruh proses pemilihan sesuai dengan komitmen internasional Republik Kirgizstan." (Agence France-Presse, 2/8/2009).

Sementara itu, Rusia memberikan selamat atas terpilihnya Bakiyev. Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengunjungi Kirgizstan pada 31/7/2009 dan bertemu dengannya untuk memberikan selamat serta mengumumkan dukungannya sebelum pelantikan resmi untuk masa jabatan baru pada 2/8/2009. Diumumkan bahwa kunjungan Presiden Rusia ke Kirgizstan dilakukan dalam kerangka konferensi Organisasi Keamanan Kolektif di kota Cholpon-Ata, Kirgizstan. Laman Russia Today pada 1/8/2009 menyebutkan bahwa "Presiden Rusia Medvedev hari ini Sabtu 1/8/2009 di kota Cholpon-Ata menandatangani dokumen tentang pengembangan dan perbaikan dasar hubungan kontrak hukum bilateral yang mengatur keberadaan formasi Rusia di wilayah Kirgizstan dan penempatan unit tambahan Rusia di negara ini. Dokumen tersebut juga menetapkan pembentukan pusat pelatihan bersama bagi militer Rusia dan Kirgizstan." Laman tersebut juga menyebutkan: "Kedua presiden sepakat untuk merancang dan menandatangani perjanjian khusus pembentukan pangkalan militer untuk pasukan reaksi cepat di selatan Kirgizstan selama 49 tahun dengan kemungkinan perpanjangan selama 25 tahun lagi." Disebutkan pula bahwa "Bakiyev menunjukkan bahwa perjanjian yang harus ditandatangani sebelum 1 November mendatang akan menentukan seluruh keberadaan militer Rusia di negara tersebut."

Adapun mengenai langkah Bakiyev memperpanjang kontrak sewa pangkalan udara Manas milik Amerika setelah sebelumnya mengancam akan menutupnya, hal itu tidak menunjukkan bahwa ia menjauh dari Rusia dan beralih ke Amerika. Sebaliknya, hal itu dilakukan dengan izin Rusia sebagai bentuk kompensasi kepada Amerika agar tidak menggerakkan para pengikutnya di Kirgizstan melawan kekuasaan secara keseluruhan, karena mereka mampu mengganggu stabilitas kekuasaan dan pada gilirannya mempengaruhi pangkalan-pangkalan Rusia sendiri di Kirgizstan. Untuk memperjelas hal ini, mari kita sebutkan kronologi pangkalan tersebut dari awal:

Bakiyev mencoba menutup pangkalan udara Manas milik Amerika. Pada bulan Februari tahun ini, Presiden Kirgizstan Kurmanbek Bakiyev mengumumkan dari Moskow bahwa ia akan menutup pangkalan Manas (Reuters, 12/2/2009). Ia menjelaskan hal itu lebih lanjut dengan mengatakan: "Selama tiga tahun terakhir, saya secara pribadi mengangkat masalah kenaikan sewa pangkalan dengan pejabat senior AS. Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa kita harus meninjau ketentuan perjanjian kita, harga telah berubah dan Kirgizstan berada dalam posisi keuangan yang sulit." Ia melanjutkan: "Mereka selalu menjawab; baiklah, mereka mengulanginya selama bertahun-tahun, tapi sampai kapan kita bisa menunggu, kita adalah negara berdaulat yang harus memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri." (Reuters, 12/2/2009).

Dapat dipahami dari sini bahwa masalah rezim di Kirgizstan adalah mendapatkan uang. Dapat dipahami juga bahwa orang-orang Amerika tidak mengacuhkannya selama tiga tahun saat ia memohon kepada mereka. Parlemen Kirgizstan, yang berada di bawah kendali partai Bakiyev, mengambil keputusan untuk menutup pangkalan tersebut bagi Amerika. Amerika diberi waktu 180 hari untuk pergi berdasarkan keputusan parlemen ini. Sebelum masa tersebut berakhir, diumumkan pada pertengahan Juli lalu tercapainya kesepakatan antara kedua pihak. Kedutaan Besar AS di Bishkek mengeluarkan pernyataan mengenai kesepakatan ini: "Pemerintah Amerika Serikat dan Republik Kirgizstan mengumumkan keberhasilan negosiasi mereka mengenai kelanjutan penggunaan Pangkalan Udara Manas," (Al Jazeera, 15/7/2009). Disebutkan bahwa sewanya naik menjadi 150 juta dolar per tahun setelah sebelumnya hanya 17 juta! Faktanya adalah bahwa sebelumnya "sewa dasar 17 juta ditambah bantuan 133 juta sehingga totalnya 150 juta dolar per tahun", dan menurut kesepakatan baru menjadi "sewa dasar 60 juta dengan bantuan 90 juta sehingga totalnya tetap 150 juta dolar per tahun". Artinya, tidak ada yang berubah dalam masalah sewa, melainkan bantuan keuangan dan non-keuangan yang diberikan kepada Kirgizstan dicatat sebagai sewa sebagai ganti kata bantuan, demi menjaga muka Kurmanbek sebagai presiden negara yang ingin dihormati dan menunjukkan bahwa negaranya memiliki kedaulatan yang dihormati, seperti yang dikatakannya!

Surat kabar New York Times pada 24/7/2009 menunjukkan apa yang kami katakan sebelumnya mengenai tindakan Bakiyev, dengan menyebutkan bahwa: "Kesepakatan yang ditandatangani baru-baru ini oleh pemerintah Kirgizstan dan Amerika Serikat untuk memperpanjang penggunaan Pangkalan Udara Manas AS hanyalah cara untuk menjaga muka pemerintah Kirgizstan atas pembatalan keputusan sebelumnya untuk menutup pangkalan, di mana sewa tahunan pangkalan tersebut dinaikkan." Rusia berada di balik hal ini, di mana kesepakatan baru diumumkan setelah pertemuan Presiden AS Obama dan Presiden Rusia Medvedev di Rusia pada 6-8/7/2009 dan persetujuan Rusia untuk mengizinkan pasokan AS dan NATO melewati wilayah Rusia dan wilayah sekutunya. Rusia mengkhawatirkan pangkalannya sendiri di Kirgizstan (di Kant). Rusia takut jika tidak menyetujui pangkalan Amerika di sana, maka Amerika akan bertindak memicu kerusuhan dan revolusi warna dalam upaya menggulingkan rezim Bakiyev yang mengamankan kepentingan Rusia di Kirgizstan.

Semua itu menunjukkan loyalitas Bakiyev kepada Rusia. Izin Bakiyev untuk terus menggunakan pangkalan udara Manas bagi operasi AS melawan umat Islam di Afghanistan tidak lain adalah untuk memuaskan Amerika agar mereka tidak bergerak menggulingkannya sebagaimana yang mereka lakukan terhadap pendahulunya, Askar Akayev. Hal ini dilakukan dengan persetujuan Rusia untuk mempertahankan keberadaan dan pengaruh mereka di Kirgizstan karena takut Amerika akan mengguncang dan kemudian menyingkirkannya.

Adapun alasan konflik antara Rusia dan Amerika ini adalah karena lokasi strategis Kirgizstan yang penting di Asia Tengah. Negara ini berbatasan dengan Tiongkok sepanjang 858 km. Jika Amerika berhasil memenangkannya, mereka akan berada tepat di perbatasan Tiongkok. Kirgizstan memiliki kepentingan sangat besar bagi Amerika dalam upayanya melawan Tiongkok dan di seluruh kawasan tersebut. Pangkalannya di Manas merupakan pusat utama dalam perangnya melawan umat Islam di Afghanistan sejak tahun 2001 hingga hari ini, di mana lebih dari 1000 tentara AS berada di sana secara permanen. Pemerintah Kirgizstan tidak mengetahui apa pun tentang apa yang terjadi di pangkalan Manas, karena perjanjian tersebut menyatakan bahwa tidak ada inspektur atau pengamat Kirgizstan atau lainnya yang boleh memasuki pangkalan, dan tidak ada pemeriksaan apa pun terhadap kargo Amerika yang masuk dan keluar pangkalan. Pangkalan itu sepenuhnya berada di luar pengawasan Kirgizstan dan juga Rusia. Laman Russia Today pada 31/7/2009 menyebutkan dalam berita kunjungan Medvedev ke Kirgizstan dan masalah perjanjian militer yang ditandatanganinya dengan Bakiyev bahwa "Kirgizstan memiliki lokasi strategis yang penting dan istimewa di kawasan Asia Tengah dan selama bertahun-tahun menjadi titik temu kepentingan negara-negara Barat dan Rusia." Artinya, ada persaingan antara Rusia dan negara-negara Barat, yang dipimpin oleh Amerika, atas lokasi strategis ini. Baru-baru ini Jenderal AS David Petraeus, komandan Komando Sentral AS, mengunjungi tiga negara Asia Tengah, salah satunya Kirgizstan, dan dua lainnya adalah Turkmenistan dan Uzbekistan. Kantor berita Rusia Novosti melaporkan pada 20/8/2009 bahwa para pengamat menyifatkan kunjungannya sukses, di mana para pejabat di ketiga ibu kota tersebut menegaskan kepada utusan AS bahwa mereka ingin meningkatkan kerja sama dengan Washington. Kunjungan ini merupakan bagian dari aktivitas serius Amerika di negara-negara ini, termasuk Kirgizstan, dalam upaya untuk memenangkan hati mereka dan memperkuat keberadaan Amerika di sana. Meskipun Presiden Kirgizstan Bakiyev tidak bertemu dengan Jenderal AS tersebut, namun Jenderal Petraeus bertemu dengan Menteri Luar Luar Negeri Kirgizstan. Meskipun Bakiyev masih menyadari bahwa Amerika tidak senang dengannya dan meragukan pemilihannya, ia takut karena kekuatan pengikut Amerika di dalam dan luar negeri. Ia ingin menenangkan mereka, oleh karena itu ia menyelesaikan masalah pangkalan Manas dan mengizinkan mereka menggunakannya tanpa perubahan syarat kecuali manipulasi redaksional terkait uang yang dapat menjaga "rasa hormat" dan "kedaulatan" negaranya seperti yang ia klaim!

2- Uzbekistan: Istilah "fluktuatif" paling tepat diterapkan pada Presiden Uzbekistan, "Karimov". Setelah pembubaran Uni Soviet, tampak jelas Karimov menjauh secara bertahap dari Rusia. Rusia membentuk Organisasi Keamanan Bersama pada tahun 1992 untuk mempertahankan keterkaitan bekas republik Uni Soviet atau sebagian dari mereka, kemudian mengubah namanya menjadi Traktat Keamanan Kolektif pada tahun 2002 mengikuti model NATO. Karimov bersikap fluktuatif terhadap organisasi-organisasi ini; ia pernah keluar dari Traktat Keamanan Kolektif dan bergabung dengan organisasi (GUAM) yang terdiri dari negara-negara yang menentang Rusia seperti Georgia, Ukraina, dan Moldova dari blok Uni Soviet yang runtuh. Namun, ia segera meninggalkannya dan kembali ke Traktat Keamanan Kolektif setelah Amerika dan negara-negara Barat meminta pengiriman tim investigasi ke pembantaian Andijan pada Mei 2005, sementara Rusia dan sekutunya mendukungnya dan berdiri di sampingnya dalam pembantaian brutal di Andijan dan tempat lainnya.

Sekarang, setelah Amerika menutup masalah pembantaian tersebut dan masalah hak asasi manusia yang dikaitkan dengan kepentingan Amerika serta mulai menghubunginya dan berusaha menariknya, ia kembali membekukan aktivitasnya dengan Rusia dan bersiap menunjukkan aktivitasnya dengan Amerika. Hal yang paling mencolok adalah ketika Rusia melihat bahwa Traktat Keamanan Kolektif tidak memenuhi kebutuhan keamanan dan ambisi kekuasaannya, Rusia beralih ke apa yang disebut sebagai Pasukan Reaksi Cepat, yaitu respon cepat terhadap ancaman apa pun bagi pengaruh Rusia di kawasan. Uzbekistan menentangnya dan tidak menandatangani perjanjian pendirian "Pasukan Reaksi Cepat" dan penempatannya di wilayah Organisasi Keamanan Kolektif yang mencakup Rusia, Belarusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Armenia, dan Uzbekistan. Para pemimpin negara-negara ini telah memutuskan untuk membentuk pasukan reaksi cepat pada tanggal 4/2/2009. Mereka menandatangani perjanjian ini di Moskow pada 14/6/2009, namun Uzbekistan menolak menandatanganinya. Karimov beralasan: "Perjanjian ini tidak menentukan tugas-tugas yang dibebankan pada pasukan gabungan." Ia mengusulkan agar perjanjian menyatakan: "Bahwa pasukan gabungan dibentuk hanya untuk menghalau agresi eksternal saja, dan bahwa unit masing-masing negara dari pasukan gabungan ditempatkan di wilayah negara tersebut." (Novosti, 26/8/2009). Ini menunjukkan bahwa Karimov menyadari kekuatan ini akan berada di tangan Rusia dan pasukan Rusia akan tersebar di negara-negara Keamanan Kolektif tersebut, termasuk Uzbekistan, dan dapat campur tangan dalam situasi apa pun yang memungkinkan Rusia mengintervensi negara-negara anggota organisasi ini karena tugas-tugasnya tidak ditentukan. Maka ia meminta penentuan tugas hanya jika terjadi serangan eksternal pada negara-negara tersebut saja, dan agar tidak ada pasukan selain pasukan negara peserta yang ditempatkan di wilayah negara tersebut. Artinya, ia menolak masuknya pasukan Rusia ke wilayah Uzbekistan dan menolak tindakan balasan apa pun terhadap ancaman nufuz Rusia di Uzbekistan dan di kawasan.

Demikianlah, Uzbekistan saat ini berlawanan dengan Kirgizstan yang menyetujui perjanjian ini bahkan menambahnya dengan mengizinkan Rusia membangun pangkalan kedua di wilayahnya. Uzbekistan juga tidak berpartisipasi dalam latihan militer yang berlangsung sejak 26 Agustus lalu di wilayah Organisasi Keamanan Kolektif yang berlangsung hingga 15 Oktober mendatang. Tindakan Uzbekistan dianggap sebagai pembekuan keanggotaannya dalam organisasi ini meskipun tidak diumumkan secara resmi. Tidak hanya itu, Uzbekistan juga keberatan dengan pendirian pangkalan kedua Rusia di Kirgizstan karena mengancam eksistensinya, di mana pangkalan ini akan dibangun dekat perbatasan Uzbekistan di wilayah Lembah Fergana. Kantor berita Novosti pada 5/8/2009 melaporkan bahwa Uzbekistan menyatakan, sebagaimana dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita "Jakhon" di bawah Kementerian Luar Negeri Uzbekistan pada 3/8/2009, bahwa mereka tidak melihat perlunya atau kegunaan melaksanakan rencana penempatan pangkalan militer Rusia lainnya selain pangkalan Rusia di Kant di selatan Kirgizstan, dengan menunjukkan bahwa penempatan pangkalan baru dapat menyebabkan ketidakstabilan di kawasan. Pernyataan Kemenlu Uzbekistan menyebutkan: "Bahwa pelaksanaan proyek-proyek semacam itu di wilayah yang kompleks di mana perbatasan tiga negara Asia Tengah bertemu dapat memberikan dorongan bagi percepatan militerisasi kawasan dan memicu berbagai bentuk konflik etnis serta memprovokasi kekuatan radikal ekstrem" (Novosti, 3/9/2009). Semua itu menunjukkan bahwa rezim Karimov di Uzbekistan mulai menjauh dari Rusia baru-baru ini dan mendekat ke Amerika secara jelas, dengan indikator sebagai berikut:

  • Pada 18/8/2009, kepala rezim Uzbekistan, Karimov, menyatakan dalam pertemuannya dengan Jenderal AS David Petraeus di Tashkent: "Bahwa Uzbekistan siap untuk memperluas kerja sama konstruktif dengan Amerika Serikat berdasarkan prinsip saling menghormati dan kemitraan yang setara." (Novosti, 18/8/2009). Sementara Jenderal AS Petraeus membalas dengan: "Memuji upaya yang dilakukan oleh Uzbekistan demi mendukung stabilitas di Afghanistan dan keamanan di kawasan." (Sumber yang sama). Hal ini menunjukkan bahwa Karimov menunjukkan keinginan untuk kembali loyal kepada Amerika dan terikat dengan mereka. Padahal sebelumnya, hubungan antara Karimov dan Amerika sempat rusak akibat penolakannya terhadap permintaan AS agar penyelidik Barat masuk untuk menyelidiki pembantaian di Andijan, sehingga AS menjatuhkan sanksi kepadanya. Saat itu ia berpaling ke Rusia sebagai sandaran alaminya. Namun ketika Amerika mengesampingkan peristiwa Andijan, ia kembali mengejar Amerika. Baru-baru ini Amerika telah mencabut sanksi terhadap rezim Karimov di Uzbekistan.

  • Amerika Serikat yang melihat ketegangan antara Uzbekistan dan Rusia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan berusaha mengembangkan hubungannya dengan Uzbekistan. Amerika menandatangani perjanjian dengan Uzbekistan untuk mengangkut muatan NATO dari Uzbekistan ke Afghanistan. [Sumber: National Strategic Studies Center tanggal 04/04/2009]. Namun hubungan antara administrasi Uzbekistan dan Amerika tidak terbatas pada itu saja, bahkan pemerintah Amerika mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Uzbekistan pada peringatan 18 tahun kemerdekaannya. Kemudian Karimov menerima kunjungan Duta Besar AS untuk Uzbekistan, "Richard Norland". Sebelumnya pada 18 Agustus, Karimov menerima kunjungan Komandan Komando Sentral AS Jenderal "David Howell Petraeus", dan ditandatangani perjanjian kerja sama antara kedua negara yang mencakup program militer, pelatihan, dan pendidikan profesional.

Demikianlah, Karimov bersikap fluktuatif dalam hal ini, dan realitasnya saat ini adalah menjauh dari Rusia dan mendekat ke Amerika.

3- Tajikistan: Situasi politik di Tajikistan hampir serupa dengan situasi politik di Kirgizstan. Rahmonov, Presiden Tajikistan, loyal kepada Rusia dan mengakui jasa mereka dalam melindungi takhtanya. Namun, ia juga mengamankan kepentingan Amerika agar Amerika tidak memicu kerusuhan melawannya. Amerika memiliki banyak pendukung di Tajikistan, tetapi hingga saat ini mereka belum dalam posisi yang memungkinkan mereka mengubah pengaruh Rusia, sehingga Amerika merasa cukup untuk saat ini dengan mewujudkan kepentingannya... setidaknya dalam jangka pendek.

Kekuasaan Presiden saat ini, Emomali Rahmonov, di Tajikistan terkukuh berkat bantuan pasukan Rusia setelah perang saudara yang berlangsung dari 1992 hingga 1997. Ia berhasil mencapai kesepakatan dengan gerakan-gerakan yang memeranginya seperti Gerakan Rakyat dan Partai Kebangkitan Islam, untuk mengadakan pemilu dengan masa jabatan presiden satu periode selama lima tahun, setelah itu diadakan pemilu bebas. Namun Rahmonov memperpanjang masa jabatan pertamanya menjadi tujuh tahun. Kemudian ia mengadakan referendum amandemen konstitusi agar bisa tetap berkuasa hingga tahun 2020. Gangguan pecah pada tahun 2001 menyusul amandemen tersebut, dan Rusia membantunya meredam gangguan itu serta mengamankan kekuasaannya.

Selain itu, Rusia di era Putin telah memperkuat hubungannya dengan Rahmonov. Rusia berhasil membangun pangkalan militer keduanya di Tajikistan pada Agustus 2008 yang berjarak dua puluh km dari ibu kota Dushanbe. Perlu diketahui bahwa Rusia sudah memiliki pangkalan militer besar di Tajikistan yang sejarahnya merentang hingga tahun 1943 yang disebut Pangkalan Nomor 201. Rusia juga memiliki stasiun "Okno" di Tajikistan untuk memantau satelit dan rudal balistik. Tajikistan menyetujui pada Juni 2008 kepemilikannya bagi Rusia selama 49 tahun. Tajikistan sangat penting bagi Rusia dari sisi strategis, sehingga Rusia berpegang teguh padanya dan mencoba mempertahankan keberadaannya di sana. Oleh karena itu, Rusia mendukung Rahmonov dan rezimnya secara terbuka karena ia mengamankan semua fasilitas ini bagi mereka di Tajikistan. Rusia mencoba mengikat Tajikistan secara ekonomi untuk menjaga kendalinya tetap berlangsung di sana. Rahmonov mengakui jasa Rusia yang membantunya berkuasa dan mengukuhkannya. Ia mengikutsertakan negaranya dalam Traktat Keamanan Kolektif yang dikelola Rusia, dan setuju untuk berpartisipasi dalam pasukan reaksi cepat di bawah kepemimpinan Rusia. Banyak orang di Tajikistan bergantung pada kiriman uang dari anak-anak mereka yang bekerja di Rusia, di mana jumlah mereka mencapai setengah juta orang dari negara berpenduduk 7 juta jiwa. Tajikistan juga anggota Organisasi Shanghai yang dikelola Rusia dengan bantuan Tiongkok. Baru-baru ini Rusia dan Tiongkok atas nama Organisasi Shanghai mengadakan latihan perang di Tajikistan pada 18/4/2009.

Meskipun demikian, Rahmonov bertindak seperti Bakiyev dengan persetujuan Rusia untuk tidak memprovokasi Amerika, melainkan mewujudkan kepentingan-kepentingannya agar Amerika diam dari melakukan gerakan melawannya. Karena itu, sebagaimana ia mengizinkan perusahaan-perusahaan Rusia melakukan proyek senilai 2,5 miliar dolar, ia juga mengizinkan perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa, serta mengizinkan Tiongkok melakukan proyek dan kegiatan komersial di Tajikistan. Rahmonov menawarkan penggunaan bandara negaranya kepada Amerika... Ia juga baru-baru ini pada 20/2/2009 mengizinkan pasokan Amerika melewati wilayahnya menuju Afghanistan menggunakan kereta api Tajikistan. Hal ini dinyatakan oleh Wakil Komandan Komando Sentral AS Laksamana Mark Harnitchek yang mengunjungi Tajikistan: "Kami bermaksud mengirimkan antara lima puluh hingga dua ratus kontainer per minggu dari Uzbekistan ke Tajikistan kemudian ke Afghanistan. Tajikistan sangat penting karena merupakan yang terdekat dengan pangkalan-pangkalan kami," (Al Jazeera, 20/2/2009). Semua itu karena Rahmonov menyadari bahwa Amerika memiliki kekuatan di Tajikistan yang dapat mempengaruhi kekuasaannya jika ia tidak meyakinkan Amerika akan kepentingannya, yang kemudian Amerika bisa menggerakkan pengikutnya dengan serius dan efektif.

Penting untuk dicatat bahwa ada semacam tren kerakyatan dan kepartaian di Tajikistan yang menyerukan pemutusan hubungan dengan Rusia. Ada kekuatan di militer dan rezim yang menyerukan hal itu. Rahmonov menyadari hal ini, oleh karena itu sebagaimana ia menenangkan Amerika, ia juga berusaha menyenangkan tren kerakyatan yang anti-Rusia tersebut. Ia melakukan gerakan terbuka yang menunjukkan sedikit jarak dengan Rusia, di mana komandan penjaga perbatasan Tajikistan secara terbuka menyerukan penarikan pasukan Rusia dari negaranya. Mereka juga menghentikan siaran saluran berbahasa Rusia di Tajikistan dan menjadikan bahasa Tajik sebagai bahasa resmi menggantikan bahasa Rusia. Meskipun langkah-langkah ini memicu sensitivitas dengan Rusia, Rahmonov masih tetap lebih dekat ke Rusia sebagaimana telah kami jelaskan.

Tajikistan penting secara strategis karena lokasinya yang berbatasan dengan Afghanistan; pegunungannya di bagian tenggara terhubung langsung dengan pegunungan Afghanistan, dan panjang perbatasannya dengan Afghanistan sekitar 1206 km. Perbatasannya dengan Tiongkok juga mencapai sekitar 414 km. Kepentingannya dari sisi ini seperti kepentingan Kirgizstan yang berbatasan dengan Tiongkok. Oleh karena itu, Amerika tidak akan mengabaikannya, dan diperkirakan akan berusaha memenangkannya di setiap kesempatan yang memungkinkan.

4- Turkmenistan: Pada masa mantan Presiden Saparmurat Niyazov, negara ini loyal kepada Rusia dan condong kepadanya dalam sebagian besar kebijakannya. Namun Presiden saat ini, Gurbanguly Berdimuhamedov, yang mulai berkuasa setelah Niyazov pada Desember 2006, mulai menjalankan kebijakan yang lebih terbuka dan mendekat ke Barat, khususnya ke Amerika. Pada November 2007, ia menjadi tuan rumah KTT yang mempertemukan pejabat Amerika dan Eropa di sektor energi serta manajer perusahaan BP dan Chevron bersama perusahaan-perusahaan Rusia. Ia ingin menyampaikan kepada mereka bahwa ia ingin bekerja sama dengan semua pihak. Hal ini tampak dari perjanjian yang ia buat dengan berbagai pihak:

  • Pada Mei 2007, Rusia menandatangani perjanjian dengan Turkmenistan dan Kazakhstan untuk membangun pipa baru yang memungkinkan pasokan gas dari Asia Tengah tetap berada di bawah kendali perusahaannya, Gazprom, guna memonopoli ekspor sebagian besar gas dari Turkmenistan. Putin menganggap hal itu sebagai kemenangan bagi Rusia: "Perjanjian ini merupakan kemenangan bagi Rusia yang membeli gas dari Turkmenistan dengan harga lebih rendah daripada harga pasar," (BBC, 17/5/2007). Mantan Presiden Turkmenistan Niyazov yang memimpin selama dua dekade membatasi monopoli gas di negaranya hanya untuk Rusia dan melarangnya bagi pihak lain. Oleh karena itu, Rusia saat ini berdasarkan perjanjian sebelumnya membeli 90% gas Turkmenistan, setara dengan sekitar 50 miliar meter kubik per tahun. Rusia membelinya dengan harga 100 dolar per 1000 meter kubik gas dan menjualnya ke Eropa dengan harga mencapai 250 dolar, bahkan lebih dari itu di musim dingin hingga mencapai 345 dolar. Di masa Niyazov, Rusia membelinya dengan harga 35 dolar hingga naik ke 70, lalu ke 100. Rusia meraup keuntungan luar biasa dari gas milik umat Islam di Turkmenistan. Meskipun harganya sudah naik, Rusia tetap meraup untung besar dari kekayaan gas ini.

  • Sebaliknya, Berdimuhamedov secara prinsip setuju untuk membangun pipa gas Laut Kaspia dalam proyek yang didukung Amerika yang bertujuan mengurangi ketergantungan Eropa pada pasokan gas Rusia. Itulah jalur yang baru-baru ini ditandatangani pembangunannya oleh Amerika dan Eropa di Turki dan disebut proyek Nabucco. Jalur ini membentang dari Turkmenistan ke Azerbaijan untuk dialirkan ke pipa Nabucco melalui Turki ke Eropa. Reuters pada 24/4/2009 mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya: "Turkmenistan adalah pemasok besar potensial lainnya untuk proyek Nabucco yang didukung Uni Eropa. Namun mereka menuntut Brussels memberikan proposal konkret mengenai pelaksanaannya."

  • Tiongkok juga memiliki aktivitas di bidang ini. Presiden Tiongkok Hu Jintao mengunjungi Turkmenistan pada April 2006 di masa Niyazov yang memiliki hubungan kuat dan aliansi dengan Rusia dan Tiongkok. Presiden Tiongkok saat itu berjanji untuk membeli 30 miliar meter kubik gas per tahun dari Turkmenistan. Tiongkok membangun pipa gas dari sungai Amu Darya di timur Turkmenistan hingga mencapai Tiongkok. Baru-baru ini, tepatnya pada 30/8/2009, diumumkan bahwa Tiongkok akan mengembangkan ladang gas di Turkmenistan melalui salah satu perusahaannya, PetroChina, senilai 3 miliar dolar. Tiongkok mulai memberikan pinjaman kepada Turkmenistan senilai ratusan juta dolar untuk membantunya mengembangkan industrinya karena ambisinya terhadap kekayaan alam yang besar. Produksi gas Turkmenistan tahun 2006 mencapai 62,2 miliar meter kubik per tahun, dan akan ditingkatkan hingga mencapai 120 miliar meter kubik hingga tahun 2010.

  • Godaan Amerika dan Eropa kepada Turkmenistan bahwa negara itu akan menjual gasnya sendiri secara langsung ke Eropa dengan harga pasar melalui pipa Nabucco yang akan siap digunakan tahun 2014, sehingga keuntungan menjadi miliknya bukan milik Rusia, telah menggoda Turkmenistan untuk tertarik kepada Amerika dan Barat. Karena Turkmenistan adalah negara kecil, ia tidak dapat memeras Eropa atau menekannya seperti yang dilakukan Rusia, melainkan akan berada di bawah belas kasihan Amerika dan Eropa setelah pelaksanaan pipa gas Kaspia. Selain itu, jalur Nabucco akan membawa gas dari beberapa negara, namun Amerika akan memiliki pengaruh besar ketika mengendalikan sumber-sumber gas tersebut. Turkmenistan memiliki cadangan gas besar yang diperkirakan mencapai 100 triliun meter kubik, menjadikannya produsen terpenting dan terbesar di bidang ini di kawasan tersebut, bahkan di tingkat dunia. Turkmenistan juga memiliki cadangan minyak penting yang diperkirakan mencapai 80 miliar barel, meskipun saat ini minyak belum diekstraksi dalam jumlah besar dengan produksi tidak lebih dari 200 ribu barel per hari. Direncanakan produksi akan mencapai 2 juta barel per hari di masa depan.

Bagi Amerika, sebagian pasokan minyak untuk peralatan perangnya di Afghanistan berasal dari Turkmenistan. Selain itu, terdapat pipa gas "Trans-Afghanistan" yang membentang dari Turkmenistan ke Afghanistan yang mengangkut 1,1 miliar meter kubik per tahun ke sana. Dari sisi ini, Turkmenistan juga menjadi penting bagi Amerika. Selain tujuannya untuk menguasai seluruh sumber minyak dan gas di Turkmenistan, bahkan di seluruh dunia, guna mengendalikannya dan mempertahankan hegemoninya agar tetap mempertahankan posisinya sebagai negara adidaya utama, serta mengurangi atau menghilangkan pengaruh negara-negara besar seperti Rusia atau lainnya, di samping meraup keuntungan besar di bidang energi. Oleh karena itu, Amerika berfokus pada Turkmenistan karena ia merupakan salah satu sumber minyak dan gas raksasa yang diandalkan Rusia. Jika Amerika berhasil menguasainya, ia akan mengendalikan pemasok dan importirnya. Amerika sendiri yang akan memasoknya ke Eropa menggantikan Rusia untuk menjaga Eropa di bawah belas kasihan dan hegemoninya, serta memperlemah posisi Rusia dan aliansinya dengan Eropa. Teka-teki Turkmenistan adalah persaingan atas kekayaan gasnya, dan di masa depan minyaknya akan memainkan peran utama dalam konflik.

Meskipun demikian, Turkmenistan masih memiliki ikatan ekonomi besar dengan Rusia dan belum mampu melepaskan diri. Amerika mengintai di sekitarnya untuk memburunya dan mengeluarkannya dari lingkaran pengaruh Rusia. Rusia menyadari hal itu; ketika Turkmenistan meminta kenaikan harga gas, Rusia segera memenuhinya karena takut Turkmenistan akan beralih ke Amerika dan Barat. Proyek Nabucco yang akan mengalihkan banyak gasnya ke Eropa menjauh dari Rusia merupakan sarana untuk mengeluarkan Turkmenistan dari pengaruh Rusia. Perlu dicatat bahwa Turkmenistan bukan anggota Traktat Keamanan Kolektif maupun Pasukan Reaksi Cepat, juga bukan anggota Organisasi Shanghai. Tidak ada pangkalan militer Rusia di sana. Fokus perhatian dari Rusia, Amerika, dan Barat, serta Tiongkok pada tingkat tertentu, terutama adalah dari sisi ekonomi karena kekayaannya yang melimpah dari gas dan minyak.

5- Kazakhstan: Kazakhstan adalah negara dengan wilayah terluas di Asia Tengah, mencapai 2,7 juta km2 dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit dibandingkan luasnya, diperkirakan antara 15 hingga 17 juta jiwa. Negara ini penting bagi Rusia untuk melakukan uji coba nuklir, di mana Rusia melakukan 500 uji coba nuklir di wilayah Semipalatinsk. Presidennya, Nursultan Nazarbayev, pada 29/8/2009 menandatangani penutupan situs uji coba ini. Kazakhstan juga menandatangani larangan uji coba nuklir pada 24/9/2009. Amerika berupaya memperkuat hubungannya karena letak geografis strategis dan kekayaan minyak serta gasnya. Cadangan minyaknya diperkirakan 100 miliar barel, saat ini memproduksi lebih dari satu juta barel dan diperkirakan naik menjadi 2,5 juta barel per hari pada tahun 2015. Cadangan gasnya sekitar 150 triliun m3. Hal ini membuat negara-negara imperialis Barat, dipimpin Amerika, tergiur untuk memperluas pengaruhnya ke negeri Islam yang kaya ini. Hubungannya dengan Amerika menjadi sangat kuat, dan presidennya memberikan konsesi kepada perusahaan-perusahaan Amerika untuk berinvestasi di bidang minyak, gas, dan bidang lainnya, hingga perusahaan-perusahaan Amerika menjadi investor utama dalam industri minyak dan gas di sana. Dick Cheney, yang kemudian menjadi Wakil Presiden, pada pertengahan 1990-an bekerja di dewan penasihat minyak di Kazakhstan dan membuat kesepakatan untuk kepentingan perusahaan-perusahaan AS, termasuk kesepakatan untuk perusahaan Chevron di mana Condoleezza Rice pernah bekerja di jajaran manajemennya. Hubungan AS-Kazakhstan mencapai puncaknya dengan kunjungan Presiden Nazarbayev ke AS pada Juni 2006 dan bertemu dengan Presiden George W. Bush. Dalam pernyataan bersama mereka disebutkan: "Kemitraan antara kedua negara di bidang energi akan membantu perusahaan-perusahaan Amerika dalam mengeksplorasi cadangan besar gas dan minyak di Kazakhstan dan di wilayah sekitar Laut Kaspia," (BBC, 30/6/2006). Kazakhstan pada bulan Februari lalu setuju untuk mengizinkan Amerika mengangkut peralatan dan pasokannya melalui darat melewati wilayahnya untuk mencapai tentara AS dan pasukan NATO yang memerangi umat Islam di Afghanistan. Kepala Staf Rusia Nikolai Makarov pada akhir tahun lalu mengungkapkan: "Rencana Washington mengenai pembangunan pangkalan-pangkalan militer Amerika di Uzbekistan dan Kazakhstan," (Asharq Al-Awsat, 18/12/2009). Kazakhstan memiliki perbatasan yang sangat panjang dengan Rusia sepanjang 6846 km, dan dengan Tiongkok sepanjang 1533 km. Ia juga memiliki garis pantai terpanjang di Laut Kaspia sepanjang 1894 km. Karena itu, Kazakhstan penting bagi Amerika secara strategis dan ekonomi. Ia juga terlibat dalam kemitraan untuk perdamaian (Partnership for Peace) dengan NATO dan dianggap sebagai sekutu terbesar AS di Asia Tengah.

Selain itu, Kazakhstan termasuk negara yang berbatasan dengan Laut Kaspia. Laut ini kaya akan sumber daya perikanan, khususnya ikan kaviar di mana Rusia memproduksi kaviar senilai 400 juta dolar setiap tahunnya. Laut ini mengandung cadangan minyak raksasa sebesar 200 miliar barel dan cadangan gas sebesar 600 triliun meter kubik. Amerika dan negara-negara Barat sangat tergiur. Laut tertutup ini adalah cekungan strategis dan ekonomi yang sangat kaya.

Meskipun demikian, Rusia memiliki pilar pengaruh di Kazakhstan. Di sana masih terdapat stasiun peluncuran wahana antariksa Rusia (Baikonur). Kazakhstan memiliki keterikatan kuat dengan Rusia; Rusia telah menempatkan banyak etnis Rusia di sana hingga persentase etnis Rusia merupakan yang tertinggi di Asia Tengah, berkisar antara 30% hingga 40%, sehingga pengaruh Rusia Ortodoks tetap ada karena ikatan nasionalis dan mazhab dengan tanah air asal mereka, Rusia. Meskipun persentase Muslim adalah yang tertinggi di sana, melebihi 60%.

Baru-baru ini Kazakhstan menunjukkan kedekatan dengan Rusia, di mana Rusia juga memberikannya prioritas besar. Rusia menjadikannya bersama Tiongkok sebagai pendiri Organisasi Shanghai. Ia juga anggota CIS, Traktat Keamanan Kolektif, dan Komunitas Ekonomi Eurasia yang didirikan tahun 2000... Kazakhstan juga menandatangani partisipasi dalam pasukan reaksi cepat bentukan Rusia. Tiongkok pun berupaya memperkuat hubungan dengannya dengan membangun pipa minyak dari Kazakhstan sepanjang 1240 km untuk memasok kebutuhan minyak Tiongkok yang terus meningkat.

Demikianlah Nazarbayev ingin menjaga hubungannya dengan Rusia dan Tiongkok tetap kuat. Ia pernah mengungkapkan kebijakannya: "Jika kita berbicara tentang proyek-proyek di Timur atau Barat, saya menjawab bahwa kami dan Turkmenistan memiliki pendekatan pragmatis," (Interfax, 17/5/2007). Artinya, ia menentukan kebijakannya sesuai dengan realitas dan kepentingan sesaat. Oleh karena itu, meskipun aliansinya dengan Amerika mencapai tingkat loyalitas, dan meskipun ada bocoran bahwa Amerika berencana membangun pangkalan militer di sana, serta pemberian saham terbesar kepada Amerika untuk investasi minyak dan gas... namun Nazarbayev tidak ingin menutup jalan hubungan kuat dengan Rusia agar rezimnya tidak terancam.

Kesimpulannya, Rusia mencoba mempertahankan dan memperkuat pengaruhnya di negara-negara Asia Tengah dengan berbagai cara, baik melalui perjanjian regional seperti CIS, Traktat Keamanan Kolektif, dan pembentukan pasukan reaksi cepat, maupun melalui perjanjian bilateral dan pembangunan pangkalan militer, agar negara-negara ini tidak terlepas dari tangannya. Rusia juga mencoba bersandar pada Tiongkok secara regional dan internasional melalui Organisasi Shanghai yang melibatkan negara-negara Asia Tengah. Selain itu melalui proyek-proyek ekonomi... Rusia memanfaatkan pilar-pilar lamanya yang dibangun di era Uni Soviet.

Demikian pula Amerika, yang menggunakan bantuan keuangan yang menggiurkan serta memberikan tekanan melalui kekuatan para pengikutnya di dalam negeri untuk memicu kekacauan... Artinya Amerika menggunakan metode "wortel dan tongkat". Amerika juga berupaya mengecilkan Rusia di mata negara-negara ini serta negara-negara lain di Kaukasus dan Eropa Timur agar tidak ada yang takut kepada Rusia, dan untuk mendorong mereka berani membangkang serta melepaskan diri dari genggamannya. Wakil Presiden AS Joe Biden setelah kunjungannya ke Georgia dan Ukraina mengatakan: "Rusia tidak lebih dari mitra kecil Amerika Serikat setelah kehilangan peran strategis masa lalunya." Ia juga mengatakan: "Kelemahan ekonomi Rusia akan memaksa Moskow memberikan konsesi kepada Barat, terutama melepaskan upaya hegemoni atas bekas negara-negara Soviet dan menyetujui pengurangan kemampuan nuklirnya." (Wall Street Journal, 26/7/2009). Hal ini menjelaskan sikap rezim-rezim di Asia Tengah; mereka menyadari kelemahan Rusia di hadapan Amerika sehingga mencoba memuaskan Amerika, bahkan mencoba beralih ke arah Amerika.

Sebagai hasil dari konflik yang dinamis ini, realitas politik di Asia Tengah dapat diringkas sebagai berikut:

Di Kirgizstan dan Tajikistan, loyalitas terbesar saat ini adalah kepada Rusia, dengan tetap meyakinkan Amerika akan kepentingannya dan tidak memprovokasi Amerika, demi menjaga stabilitas situasi politik di kedua negara tersebut yang bisa terganggu jika Amerika menggerakkan pengikutnya secara aktif.

Di Uzbekistan, kecenderungan saat ini menguntungkan Amerika, dengan mempertimbangkan suasana hati Karimov yang fluktuatif.

Sedangkan di Turkmenistan dan Kazakhstan, keduanya adalah medan persaingan politik dan ekonomi bagi Amerika dan Rusia, serta Tiongkok dari sisi ekonomi pada tingkat tertentu.

Namun yang sungguh menyakitkan adalah bahwa semua pihak yang bersaing, begitu juga para penguasa lokal, semuanya memerangi Islam dan para pengembannya. Mereka menyia-nyiakan kekayaan kaum Muslim di Asia Tengah sehingga musuh-musuh Islam menjadi kaya darinya, sementara masyarakat umum di Asia Tengah hidup dalam kesempitan.

Sesungguhnya Asia Tengah dengan lokasinya yang penting dan kekayaannya yang melimpah akan kembali ke pangkuan umat Islam dengan izin Allah, ketika Khilafah mereka tegak di tangan para pejuang yang tulus dan ikhlas demi Islam. Hari itu tidaklah jauh insya Allah, dan pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira karena pertolongan Allah.

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda