Beranda Tentang Artikel Tanya Syekh
Tanya Jawab

Jawab Soal: Seputar Pemikiran Rasulullah saw. untuk Hijrah ke Madinah

March 05, 2014
3923

** (Silsilah Jawaban Al-Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, atas Pertanyaan para Pengikut di Laman Facebook-nya)**

Kepada Ayman Alfjjary

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, pertanyaan untuk Amir kami sekarang dan Khalifah kami segera, insya Allah:

Disebutkan dalam buku Ad-Dawlah al-Islamiyyah (Negara Islam) mengenai topik Bay'atul ‘Aqabah Kedua dan setelahnya tentang Rasulullah saw., bahwa beliau (berpikir) di lebih dari satu tempat. Padahal, tempat tersebut seharusnya berdasarkan wahyu dari Allah dan bukan sekadar pemikiran dari Rasulullah saw., seperti: beliau berpikir untuk hijrah, padahal hijrah adalah wahyu dari Allah.

Mohon penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan "berpikir" di sini, semoga Allah memberkati Anda.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sebelum menjawab langsung mengenai pemikiran Rasulullah saw. untuk hijrah, saya akan membawa Anda kembali ke awal mula pencarian nusrah (thalabun nusrah) hingga Bay'atul ‘Aqabah Kedua kemudian hijrah, agar jawabannya menjadi jelas dengan izin Allah:

1- Khadijah ra. wafat tiga tahun sebelum hijrah, dan pada tahun yang sama Abu Thalib juga wafat. Sebagaimana disebutkan dalam Uyun al-Atsar:

(...Dari Qatadah, ia berkata: "Khadijah wafat di Mekah tiga tahun sebelum hijrah, dan dialah orang pertama yang beriman kepada Nabi saw." Ia berkata... "Kemudian Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama. Maka dua musibah berturut-turut menimpa Rasulullah saw.: wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Khadijah adalah pendamping yang jujur dalam Islam, dan Rasulullah saw. merasa tenang bersamanya." Ia berkata: "Ziyad al-Buka'i meriwayatkan dari Ibnu Ishaq: 'Sesungguhnya Khadijah dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama, yaitu setelah sepuluh tahun kenabian Rasulullah saw., tiga tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah.' Ibnu Qutaibah menyebutkan bahwa Khadijah wafat tiga hari setelah Abu Thalib. Al-Baihaqi pun menyebutkan hal yang serupa.") Selesai.

2- Dari al-Waqidi: ("Khadijah wafat tiga puluh lima malam sebelum Abu Thalib, ada pula yang berpendapat selain itu. Ketika Abu Thalib wafat, Quraisy menimpakan gangguan kepada Rasulullah saw. yang tidak berani mereka lakukan selama Abu Thalib masih hidup. Hingga seorang yang bodoh dari kaum Quraisy menghadang beliau dan menaburkan tanah ke atas kepala beliau. Rasulullah saw. masuk ke rumahnya dengan tanah di atas kepalanya. Maka salah seorang putri beliau berdiri membasuh tanah tersebut sambil menangis, sementara Rasulullah saw. bersabda:

لا تبك يَا بُنَيَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ مَانِعٌ أَبَاكِ

'Janganlah menangis wahai putriku, karena sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.'

Beliau juga bersabda di sela-sela itu:

مَا نَالَتْ مِنِّي قُرَيْشٌ شَيْئًا أَكْرَهُهُ حَتَّى مَاتَ أَبُو طَالِبٍ

'Orang-orang Quraisy tidak pernah menimpakan sesuatu yang aku benci kepadaku sampai Abu Thalib meninggal.'")

3- Dalam kondisi sulit ini, Allah memuliakan Rasul-Nya saw. dengan dua peristiwa besar, yaitu Isra Mi'raj, dan izin bagi Rasulullah saw. untuk mencari nusrah (thalabun nusrah) dari para pemilik kekuatan (ahlul quwwah) di antara kabilah-kabilah guna melindungi dakwah dan mendirikan negara... Topik Isra Mi'raj bukan di sini tempat pembahasannya. Adapun mengenai thalabun nusrah, penulis Uyun al-Atsar dan pakar sirah lainnya berkata:

("Rasulullah saw. pergi ke Thaif pada akhir bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian. Beliau pergi ke Thaif sendirian—Ibnu Sa’ad berkata: bersama Zaid bin Haritsah—untuk mencari nusrah dari kabilah Thaqif serta perlindungan dari kaumnya melalui mereka, dengan harapan mereka menerima apa yang beliau bawa dari Allah. Ketika sampai di Thaif, beliau menemui sekelompok orang dari Thaqif yang saat itu merupakan para pemimpin dan bangsawan Thaqif. Mereka adalah tiga bersaudara: Abdu Yalail, Mas'ud, dan Habib, putra-putra Amru bin Umair... Namun mereka tidak menyambutnya... bahkan mereka menghasut orang-orang bodoh di antara mereka untuk mengganggu beliau...") Selesai.

4- Setelah itu, pencarian nusrah berlanjut. Rasulullah saw. menawarkan dirinya pada musim-musim haji kepada kabilah-kabilah Arab, mengajak mereka kepada Allah, memberitahu bahwa beliau adalah nabi yang diutus, dan meminta mereka untuk membenarkannya serta melindunginya agar beliau bisa menjelaskan apa yang Allah utus kepadanya... Maka beliau saw. mendatangi kabilah Kinda di tempat tinggal mereka, yang di dalamnya terdapat seorang pemimpin bernama Mulaih. Beliau mengajak mereka kepada Allah Azza wa Jalla dan menawarkan dirinya, namun mereka menolak... Beliau juga mendatangi kabilah Kalb di tempat mereka kepada salah satu cabangnya yang disebut Bani Abdullah. Beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan dirinya, hingga beliau bersabda:

يَا بَنِي عَبْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ قدْ أَحْسَنَ اسْمَ أَبِيكُمْ

"Wahai Bani Abdullah, sesungguhnya Allah telah membaguskan nama ayah kalian."

Namun mereka tidak menerima apa yang beliau tawarkan... Beliau juga mendatangi Bani Hanifa di tempat tinggal mereka, mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan dirinya, namun tidak ada satu pun orang Arab yang penolakannya lebih buruk daripada mereka... Beliau mendatangi Bani Amir bin Sha'sha'ah, mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan dirinya. Mereka mensyaratkan agar kekuasaan ada di tangan mereka setelah Rasulullah saw. wafat. Maka Rasulullah saw. bersabda:

الأمر لله يضعه حيث يشاء

"Urusan itu milik Allah, Dia meletakkannya di mana saja yang Dia kehendaki."

Maka mereka menolak dan berkata kami tidak butuh urusanmu... Kemudian Rasulullah saw. keluar bersama Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib ra... Ali berkata: "Abu Bakar selalu terdepan dalam setiap kebaikan." Abu Bakar bertanya: "Dari kabilah manakah kalian?" Mereka menjawab: "Dari Syaiban bin Tsa'labah." Abu Bakar menoleh kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Demi ayah dan ibuku, mereka adalah pemuka di kaumnya dan di antara mereka ada Mafruq bin Amru..." Mafruq bertanya: "Mungkin engkau adalah saudara dari Quraisy?" Abu Bakar menjawab: "Apakah telah sampai berita kepada kalian bahwa beliau adalah Rasulullah, dan inilah beliau?" Mafruq berkata: "Telah sampai berita kepada kami bahwa beliau menyebutkan hal itu. Lalu kepada apa engkau menyeru wahai saudara Quraisy?" Maka Rasulullah saw. maju dan bersabda:

أدعو إلى شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأني رسول الله وأن تؤووني وتنصروني فإن قريشا قد تظاهرت على أمر الله وكذبت رسله واستغنت بالباطل عن الحق والله هو الغنى الحميد

"Aku menyeru kepada kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Serta agar kalian melindungiku dan menolongku, karena sesungguhnya Quraisy telah bersekongkol melawan urusan Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya, dan merasa cukup dengan kebatilan daripada kebenaran, padahal Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji..."

Maka kaum tersebut berkata... "Sesungguhnya kami telah menetap berdasarkan perjanjian yang diambil Kisra atas kami, agar kami tidak membuat perkara baru dan tidak melindungi orang yang membawa perkara baru. Dan aku melihat urusan yang engkau serukan ini termasuk hal yang dibenci oleh para raja. Jika engkau setuju kami melindungimu dan menolongmu dari arah wilayah perairan Arab, maka kami akan melakukannya." Maka Rasulullah saw. bersabda:

مَا أَسَأْتُمْ فِي الرَّدِّ إِذْ فَصَحْتُمْ فِي الصِّدْقِ وَإِنَّ دِينَ اللَّهِ لَنْ يَنْصُرَهُ إِلَّا مَنْ حَاطَهُ مِنْ جَمِيعِ جَوَانِبِهِ

"Kalian tidak berbuat buruk dalam menolak saat kalian berterus terang dalam kejujuran. Sesungguhnya agama Allah ini tidak akan ada yang mampu menolongnya kecuali orang yang menjaganya dari segala sisi."

5- Kemudian disebutkan dalam Uyun al-Atsar dan kitab sirah lainnya:

(Ibnu Ishaq berkata: "Ketika Allah berkehendak untuk memenangkan agama-Nya, memuliakan Nabi-Nya, dan menunaikan janji-Nya kepada beliau, Rasulullah saw. keluar pada musim haji di mana beliau bertemu dengan sekelompok orang dari Ansar, serombongan dari kabilah Khazraj." Maka Rasulullah saw. bersabda kepada mereka:

أَفَلا تَجْلِسُونَ أُكَلِّمُكُمْ؟

"Tidakkah kalian duduk agar aku bisa berbicara dengan kalian?"

Mereka menjawab: "Tentu." Maka mereka duduk bersama beliau. Beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan Islam kepada mereka... Ketika Rasulullah saw. berbicara dengan sekelompok orang tersebut dan mengajak mereka kepada Allah, sebagian dari mereka berkata kepada yang lain: "Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya dialah Nabi yang diancamkan Yahudi kepada kalian, maka jangan sampai mereka mendahului kalian untuk mengikutinya." Maka mereka menyambut seruan beliau dengan membenarkannya dan menerima Islam yang beliau tawarkan. Mereka berkata kepada beliau: "Sesungguhnya kami telah meninggalkan kaum kami, padahal tidak ada kaum yang permusuhan dan kejahatannya sebesar di antara mereka. Semoga Allah menyatukan mereka melalui engkau, maka tidak akan ada orang yang lebih mulia darimu." Kemudian mereka pulang kembali ke negeri mereka dalam keadaan beriman dan membenarkan...") Selesai.

Ketika tahun telah berganti dan bulan-bulan haram telah kembali serta datang waktu haji ke Mekah, datanglah pada musim tahun kedua belas kenabian, dua belas pria dari penduduk Yatsrib. Mereka bertemu dengan Nabi di 'Aqabah, lalu mereka membaiat beliau dengan Bay'atul 'Aqabah Pertama. Disebutkan dalam Hada'iq al-Anwar wa Mathali' al-Asrar fi Sirah an-Nabi al-Mukhtar: ("Pada musim tahun kedua belas: dua belas pria dari Ansar menemui beliau, lalu mereka membaiat beliau di ('Aqabah) dengan baiat wanita...")

Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ubadah bin as-Samit, ia berkata: "Aku termasuk orang yang hadir dalam 'Aqabah pertama. Kami berjumlah dua belas orang, lalu kami membaiat Rasulullah saw. dengan baiat wanita. Hal itu terjadi sebelum perang diwajibkan, atas dasar:

أَنْ لَا نُشْرِكَ بِاللهِ شَيْئًا، وَلَا نَسْرِقَ، وَلَا نَزْنِيَ، وَلَا نَقْتُلَ أَوْلَادَنَا، وَلَا نَأْتِيَ بِبُهْتَانٍ نَفْتَرِيهِ بَيْنَ أَيْدِينَا وَأَرْجُلِنَا، وَلَا نَعْصِيَهُ فِي مَعْرُوفٍ، فَإِنْ وَفَّيْتُمْ فَلَكُمُ الْجَنَّةُ، وَإِنْ غَشِيتُمْ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، فَأَمْرُكُمْ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ عَذَّبَكُمْ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَكُمْ

'Bahwa kami tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak kami, tidak akan berbuat dusta yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak akan mendurhakai beliau dalam urusan yang makruf. Jika kalian menepatinya, maka bagi kalian surga. Namun jika kalian melanggar sesuatu dari hal itu, maka urusan kalian terserah kepada Allah; jika Dia berkehendak, Dia akan menyiksa kalian, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuni kalian.'"

6- Ketika mereka pulang, Rasulullah saw. mengutus Mus'ab bin Umayr bersama mereka sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Hisyam dan kitab sirah lainnya:

(Ibnu Ishaq berkata: "Ketika kaum itu pulang, Rasulullah saw. mengutus Mus'ab bin Umayr bersama mereka. Ia tinggal di rumah As'ad bin Zurarah bin Udas, Abu Umamah... Ibnu Ishaq berkata: Ubaidullah bin al-Mughirah bin Mu'aiqib dan Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm menceritakan kepadaku: Bahwa As'ad bin Zurarah keluar membawa Mus'ab bin Umayr menuju perkampungan Bani Abdul Ashhal dan perkampungan Bani Zhafar. Sa'ad bin Mu'adz adalah sepupu As'ad bin Zurarah dari pihak ibu. Ia lalu masuk ke sebuah kebun milik Bani Zhafar... Keduanya duduk di kebun itu, dan berkumpullah para pria yang telah masuk Islam. Saat itu Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair adalah dua pemimpin kaumnya dari Bani Abdul Ashhal... Namun Allah melapangkan dada keduanya untuk memeluk Islam... Maka mereka berdua masuk Islam. Sa'ad kemudian pergi menuju tempat perkumpulan kaumnya diikuti oleh Usaid bin Hudhair... Ketika ia berdiri di hadapan mereka, ia bertanya: 'Wahai Bani Abdul Ashhal, bagaimana kalian menilai posisiku di antara kalian?' Mereka menjawab: 'Engkau adalah pemimpin kami, yang paling menyambung silaturahmi, yang paling utama pendapatnya, dan yang paling diberkati urusannya.' Sa'ad berkata: 'Maka haram bagiku berbicara dengan laki-laki dan perempuan kalian sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Keduanya berkata: 'Maka demi Allah, tidaklah sore itu tiba di perkampungan Bani Abdul Ashhal melainkan setiap laki-laki dan perempuan telah menjadi muslim dan muslimah. As'ad dan Mus'ab kembali ke rumah As'ad bin Zurarah, dan ia menetap di sana untuk mengajak manusia kepada Islam...'")

7- Disebutkan dalam Sirah Ibnu Hisyam dan Hada'iq al-Anwar serta kitab sirah lainnya: ("Kemudian Mus'ab bin Umayr kembali ke Mekah. Lalu berangkatlah orang-orang Ansar yang telah muslim ke musim haji tahun ketiga belas kenabian bersama jamaah haji kaum mereka yang masih musyrik, hingga mereka tiba di Mekah. Mereka menjanjikan pertemuan dengan Rasulullah saw. di 'Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyrik, ketika Allah menghendaki bagi mereka kemuliaan, pertolongan bagi Nabi-Nya, kejayaan bagi Islam dan pemeluknya, serta kehinaan bagi kesyirikan dan pengikutnya... Ka'ab berkata: 'Kemudian kami keluar untuk haji, dan kami menjanjikan pertemuan dengan Rasulullah saw. di 'Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyrik.' Ia berkata: 'Setelah kami selesai melaksanakan haji, dan tibalah malam yang kami janjikan kepada Rasulullah saw. itu...' Ia berkata: 'Kami tidur malam itu bersama kaum kami di perkemahan kami. Hingga ketika telah berlalu sepertiga malam, kami keluar dari perkemahan menuju janji temu dengan Rasulullah saw., kami menyelinap seperti sembunyi-sembunyinya burung Qata agar tidak ketahuan, hingga kami berkumpul di syi’ab (lembah kecil) dekat 'Aqabah. Kami berjumlah tujuh puluh tiga laki-laki dan dua orang wanita...' Ia berkata: 'Maka kami berkumpul di lembah menunggu Rasulullah saw....' Ia berkata: 'Lalu Rasulullah saw. berbicara, beliau membaca Al-Qur'an, mengajak kepada Allah, dan memberikan motivasi kepada Islam. Kemudian beliau bersabda: Aku membaiat kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi wanita dan anak-anak kalian.' Ia berkata: 'Maka al-Bara' bin Ma'rur memegang tangan beliau dan berkata: Benar, demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran (sebagai Nabi), kami benar-benar akan melindungimu sebagaimana kami melindungi kain sarung kami (diri/keluarga kami). Maka baiatlah kami wahai Rasulullah, demi Allah kami adalah putra-putra peperangan dan ahli senjata, kami mewarisinya turun-temurun.' Ia berkata: 'Ketika al-Bara' sedang berbicara dengan Rasulullah saw., Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan menyela pembicaraan dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara kami dan orang-orang itu (Yahudi) ada tali perjanjian, dan kami akan memutusnya. Maka apakah mungkin jika kami telah melakukannya kemudian Allah memenangkanmu, lalu engkau kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?'. Ia berkata: 'Maka Rasulullah saw. tersenyum kemudian bersabda:

بَلْ الدَّمَ الدَّمَ، وَالْهَدْمَ الْهَدْمَ، أَنَا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مِنِّي، أُحَارِبُ مَنْ حَارَبْتُمْ، وَأُسَالِمُ مَنْ سَالَمْتُمْ

'Bahkan, darah dibalas darah, kehancuran dibalas kehancuran. Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dariku. Aku akan memerangi orang yang kalian perangi, dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak damai.'

...Ibnu Ishaq berkata: Ubadah bin al-Walid bin Ubadah bin as-Samit menceritakan kepadaku, dari ayahnya al-Walid, dari kakeknya Ubadah bin as-Samit—ia adalah salah satu Nuqaba’ (pemimpin kelompok)—ia berkata: 'Kami membaiat Rasulullah saw. dengan baiat perang—dan Ubadah termasuk dari dua belas orang yang membaiat beliau di 'Aqabah pertama dengan baiat wanita—atas dasar mendengar dan taat, dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan semangat maupun terpaksa, meskipun hak kami diambil, dan agar kami tidak merebut urusan (kekuasaan) dari pemiliknya, serta agar kami mengatakan kebenaran di mana pun kami berada tanpa takut akan celaan orang yang mencela karena Allah...'") Selesai.

8- Demikianlah Bay'atul 'Aqabah Kedua terlaksana, yaitu baiat untuk memberikan nusrah (pertolongan/perlindungan) setelah Islam tersebar luas di Madinah, kemudian diikuti dengan hijrah dan berdirinya negara. Terlihat dari semua itu bahwa Rasulullah saw. telah diperintahkan untuk melakukan thalabun nusrah sejak tahun kesepuluh kenabian, yaitu sekitar tiga tahun sebelum Baiat Aqabah, karena Baiat Aqabah Kedua terjadi pada musim tahun ketiga belas kenabian. Artinya, Rasulullah saw. telah mendapatkan wahyu untuk melakukan aktivitas thalabun nusrah, sehingga beliau mencari pemilik kekuatan dari kabilah-kabilah dan meminta nusrah mereka. Ketika sampai kepada beliau kabar tentang Madinah dari Mus’ab bin Umayr, kemudian datang tujuh puluh tiga pria dan dua wanita membaiat Rasulullah saw. dengan Bay'atul 'Aqabah Kedua, Rasulullah saw. melihat bahwa Madinah telah siap untuk memberikan nusrah kepada beliau guna mendirikan negara dan memuliakan Islam serta kaum muslimin. Beliau pun berpikir untuk hijrah ke sana karena beliau saw. memang tengah mencari pemilik kekuatan untuk memberikan nusrah kepadanya sehingga beliau bisa pergi kepada mereka dan menegakkan hukum Islam. Jadi, pemikiran untuk hijrah tersebut merupakan konsekuensi dari aktivitas thalabun nusrah itu sendiri. Sebagaimana Rasulullah saw. pergi ke sebuah kabilah dan meminta nusrah-nya, maka demikian pula halnya ketika beliau mengetahui bahwa Madinah Munawwarah telah siap memberikan nusrah dan negara dapat didirikan di sana. Oleh karena itu, pemikiran beliau saw. untuk hijrah ke Madinah tidaklah keluar dari konsekuensi thalabun nusrah yang telah Allah wahyukan kepada beliau sejak tiga tahun sebelum Bay'atul 'Aqabah Kedua. Meskipun demikian, Rasulullah saw. tidak berhijrah ke Madinah kecuali setelah Allah Swt. memperlihatkan kepada beliau darul hijrah (negeri tempat hijrah) dan mengizinkan beliau saw. untuk berhijrah sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari:

(Ibnu Syihab berkata: Urwah bin az-Zubair memberitahuku bahwa Aisyah ra., istri Nabi saw., berkata: "Aku tidak pernah mengenal kedua orang tuaku kecuali keduanya telah memeluk agama (Islam). Tidaklah satu hari berlalu melainkan Rasulullah saw. mendatangi kami pada kedua ujung siang, pagi dan petang... Maka Nabi saw. bersabda kepada kaum muslimin:

إِنِّي أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ، ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لاَبَتَيْنِ

'Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku tempat hijrah kalian, yaitu daerah yang memiliki pepohonan kurma di antara dua bukit berbatu yang hitam.'

Maka berhijrahlah orang-orang yang berhijrah ke arah Madinah, dan sebagian besar orang yang tadinya berhijrah ke tanah Habasyah kembali menuju Madinah. Abu Bakar pun bersiap-siap menuju Madinah, lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya:

عَلَى رِسْلِكَ، فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي

'Tunggulah sebentar, karena sesungguhnya aku berharap agar aku segera diberi izin.'

Abu Bakar bertanya: 'Apakah engkau mengharapkan hal itu demi ayahku (sebagai tebusan)?' Beliau menjawab: 'Ya.' ...Ibnu Syihab berkata: Urwah berkata bahwa Aisyah bercerita: 'Ketika kami suatu hari sedang duduk di rumah Abu Bakar di tengah siang yang terik, seseorang berkata kepada Abu Bakar: Ini Rasulullah saw. datang dengan menutup kepalanya, pada waktu yang biasanya beliau tidak mendatangi kami. Abu Bakar berkata: Tebusannya ayah dan ibuku, demi Allah tidaklah beliau datang pada jam seperti ini melainkan karena ada suatu urusan.' Aisyah berkata: 'Maka Rasulullah saw. datang lalu meminta izin, setelah diizinkan beliau masuk. Nabi saw. bersabda kepada Abu Bakar: Keluarkanlah orang-orang yang ada di sisimu.' Abu Bakar menjawab: 'Mereka hanyalah keluargamu, demi ayahku wahai Rasulullah.' Beliau bersabda:

فَإِنِّي قَدْ أُذِنَ لِي فِي الخُرُوجِ

'Sesungguhnya aku telah diberi izin untuk keluar (hijrah).'

Abu Bakar bertanya: 'Apakah aku akan menemanimu (bersahabat), demi ayahku wahai Rasulullah?' Rasulullah saw. menjawab: 'Ya.'...")

9- Dengan demikian, pemikiran untuk hijrah ke Madinah setelah sampainya berita-berita tentang Madinah kepada beliau saw. merupakan bagian dari konsekuensi thalabun nusrah yang telah Allah izinkan bagi beliau sejak tahun kesepuluh kenabian. Hal itu sama seperti perginya Rasulullah saw. ke Thaif, Bani Syaiban, dan Bani Amir... Namun Rasulullah saw. tidak mengubah pemikiran tersebut menjadi amal (perbuatan) kecuali setelah Allah Swt. memperlihatkan kepada beliau darul hijrah dan memberikan izin kepada beliau saw. untuk keluar: "Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku tempat hijrah kalian, yaitu daerah yang memiliki pepohonan kurma di antara dua bukit berbatu yang hitam" dan "Sesungguhnya aku telah diberi izin untuk keluar (hijrah)" sebagaimana diriwayatkan dalam Bukhari dari Aisyah Ummul Mukminin ra.

Semoga masalah ini telah menjadi jelas bagi Anda, dan Allah Swt. adalah pemberi taufik.

Saudara kalian, Atha’ bin Khalil Abu ar-Rashtah

Link jawaban dari laman Facebook Amir: Facebook

Link jawaban dari situs web Amir: Situs Amir

Link jawaban dari laman Google Plus Amir: Google Plus

Bagikan Artikel

Bagikan artikel ini dengan jaringan Anda